Sore menjelang malam. Langit
berubah menjadi gelap. Reina telah tertidur dengan lelap. Mungkin ia lelah
menunggu. Bisma masih terjaga dan melihat daerah sekelilingnya, takut ada orang
yang berniat jahat pada mereka. Ia ingin segera pergi dari tempat ini. Namun ia
takut mereka akan lebih tersesat daripada sebelumnya.
Bisma mencari sesuatu dikantong
joknya. Sebuah jaket. Ia menutupi tubuh Reina dengan jaket itu lalu memandangi
wajah gadis itu dengan lembut. Tiba-tiba saja hatinya merasa perih mengingat
Reina menyukai Dicky, bukan dirinya.
“Maybe I annoy you with my
choices. Well, you annoy me sometimes too with your voice. But that ain't
enough for me to move out and move on. I'm just gonna love you like the woman I
love~” Bisma melantunkan sebuah lagu kesukaannya dengan pelan sambil menatap
Reina.
“We don't have to hurry. You
can take as long as you want. I'm holdin' steady. My heart's at home. With my
hand behind you. I will catch you if you fall. Yeah I'm gonna love you like the
woman I love~” tangan Bisma mulai menyentuh rambut Reina dengan lembut.
“Sometimes the world can make
you feel. You're not welcome anymore. And you beat yourself up. You let
yourself get mad. And in those times when you stop lovin'. That woman I adore. You
can relax. Because, babe, I got your back. Uh, I got you. Uh, Yeah~” Bisma
tersenyum kecil.
“I don't wish to change you. You've
got it under control. You wake up each day different. Another reason for me to
keep holdin' on. I'm not attached to any way you're showing up. I'm just gonna
love you like the woman I love. Yeah I'm gonna love you. Oh, Yeah I'm gonna
love you 'cause you're the woman I love~” Bisma mengakhiri lagunya dengan
sebuah kecupan di kening yang sangat lama dan tersirat ketulusan.
Bukkk!! Terdengar suara benda yang dipukul-pukul berkali-kali
dengan kuat dari berbagai arah. Bisma menjauhkan diri dari Reina dan menatap ke
sekelilingnya. Terlihat wajah-wajah penuh kemarahan dari Reza dan Ilham. Reina
terbangun. Dengan segera Bisma keluar dari mobil.
“lo mau ngapain adek gue?!” saut
Reza langsung emosi menarik kerah seragam yang dipakai Bisma.
Dengan terburu-buru Reina keluar
dari mobil. Ia langsung disambut dengan tatapan tajam dari Tamara. Tapi ia
tidak memperdulikan hal itu. ia segera menuju ke arah Reza dan Bisma. “kak! Ada
apa ini?” saut Reina berusaha menjauhkan Reza dari Bisma.
“na, lo gak sadar kan sama apa
yang udah dia lakuin? Dia mau melecehkan lo” saut Ilham menarik Reina menjauh
dari Reza dan Bisma.
Reina memandang Bisma dengan
tidak percaya. “Bis, itu gak bener, kan?” tanya Reina dengan ragu.
“gak, na. Gue gak ada niat buat
melecehkan lo” jawab Bisma meyakinkan Reina.
Bugh!!! Reza meninju pipi Bisma dengan kuat. Sudut bibir Bisma
langsung mengeluarkan darah.
“kak! Gue percaya sama Bisma.
Lepasin dia!” saut Reina melepaskan tangan Ilham dari tangannya lalu menarik
Reza menjauh dari Bisma.
“bisa-bisanya lo percaya sama
dia. Lo gak liat. Kita yang ngeliat!” saut Reza emosi.
“kalian mungkin salah paham.
Bisma baik sama gue dan gue percaya sama dia!” saut Reina ikutan emosi.
“lo lebih percaya sama dia
daripada kakak lo sendiri?!” teriak Reza semakin emosi.
“kak, liat ke belakang! Lo
pernah mukulin anak orang karena dia nolongin gue pas kepleset dan hampir
jatuh. Lo malah ngira dia meluk gue. Lo pernah buat orang masuk rumah sakit
karena lo ngira dia mau macem-macem sama gue padahal dia cuma mau bantuin gue
mungutin buku. Lo terlalu khawatir sama gue! Terlalu berlebihan, kak” saut
Reina.
Semuanya terdiam. Reina
mendekati Bisma dan menyentuh luka di sudut bibir cowok itu dengan pelan. Bisma
sedikit meringis. “di mobil lo ada kotak P3K?” tanya Reina.
“ada di jok belakang” jawab
Bisma pelan. Reina segera mengambil kotak itu dan mengobati luka Bisma dengan
lembut. Sesekali terdengar suara Bisma yang meringis kesakitan. Yang lain hanya
bisa menatap kejadian itu dalam diam.
Dicky dan Tamara menatap Reina
dan Bisma dengan hati panas. Tamara tidak suka melihat Reina yang dengan
romantisnya mengobati luka Bisma. Sementara Dicky tidak tahu kenapa dadanya
terasa sesak melihat adegan di depannya ini.
“udah. Biar cewek itu aja yang
ngobatin luka Bisma. Lo pulang sama gue” ucap Reza dengan tenang menarik Reina
mendekat kearahnya.
Tamara tersenyum tipis lalu
mengambil kapas yang dipegang Reina dan menghampiri Bisma untuk mengobati
lukanya. Bisma hanya bisa pasrah.
“tapi nanti Bisma nyasar lagi
kalo gak bareng kita” saut Reina.
“tadi cewek itu yang nunjukin
jalan kesini, jadi pasti mereka berdua aman tanpa kita. Reza juga udah hapal
jalan buat balik ke rumah” saut Ilham.
Dengan pasrah Reina masuk ke
dalam mobil Reza.
“za, gue masih ikut sama lo,
kan? tadi berangkatnya bareng” saut Dicky akhirnya bersuara.
“iya. Cepetan naik!” saut Reza
mulai sedikit melunak pada Dicky. mungkin karena Dicky sudah membantunya
mencari Reina.
Dengan sigap Dicky naik ke dalam
mobil dan duduk di sebelah Reina. “lo gak kenapa-napa, kan?” tanya Dicky.
Reina menoleh ke Dicky. “iya.
Gue gak papa. Cuma capek aja nunggu 3 jam lebih terus dibuat emosi” jawab Reina
tersenyum tipis.
Dicky melirik Reza dan Ilham
yang masih di luar mobil. “emang dulu kakak lo pernah buat orang masuk rumah
sakit?” bisik Dicky.
“ya gitu. Dia negative thinking
terus. Jadinya kalo ada cowok yang deket sama gue, pasti dia bonyokin. Gue juga
heran” jawab Reina berbisik juga.
“ambil positivenya aja. tandanya
kakak lo sayang banget sama lo. Cuma ya caranya aja yang salah” ucap Dicky
tersenyum kecil.
“iya gue tau. Thanks. Pasti
karena lo gue jadi bisa pulang gini” ucap Reina dengan tulus.
“bisa aja lo” saut Dicky tertawa
sambil mengacak-acak rambut Reina dengan lembut.
“uhuk!” Ilham terbatuk-batuk
dengan sengaja menghentikan kegiatan Dicky dengan seketika. Tangan Dicky yang
awalnya ada di kepala Reina, langsung ia tarik menjauh.
Dicky dan Reina saling melirik
ketakutan. Lalu tiba-tiba saja mereka tertawa pelan bersama-sama menertawakan
wajah ketakutan mereka berdua.
***
“awas ya kalo lo berani kabur
dari kita. Kemarin lo dapet karma makanya jadi nyasar” saut Reza berjalan di
kanan Reina.
“kalo lo kabur lagi, bukan
sekedar nyasar lagi. mungkin lebih parah dari itu. mending cari amannya aja
deh, yaitu pulang bareng kita berdua” saut Ilham yang ada di kiri Reina.
“oke.. gue pulang bareng kalian.
Tapi di sekolah, gue gak mau dibuntutin kalian terus. Kalian kaya gak ada
kerjaan aja” saut Reina. “janji ya? Kalo gak, gue gak mau pulang bareng kalian”
lanjut Reina sebelum masuk ke dalam kelasnya.
Dengan pasrah Reza dan Ilham
mengangguk setuju. Ilham berjalan menuju kelasnya.
“na, gue mau tanya sesuatu sama
lo” ucap Reza masih belum pergi untuk masuk ke dalam kelas.
“nanya apaan?” tanya Reina
penasaran.
“lo suka Dicky atau Bisma? Jujur
sama gue. Gue gak akan berbuat apa-apa sama kedua cowok itu kok” ucap Reza.
Hanna tersentak kaget. “buat apa
nanya gitu? Penting buat lo?” tanya Reina dengan takut.
“na, jangan takut. Gue kakak lo.
gue Cuma mau tau apa yang ada di dalam hati lo. itu aja”
“gue...” Reina memandang Reza
dengan ragu. “gue suka sama Dicky, kak”
Reza mengangguk tanda mengerti.
“semoga lo pilih keputusan yang tepat. Jangan sampe ada satupun yang tersakiti.
Gue ngerasa lo mulai ragu sama perasaan lo. Lo udah mulai tertarik sama orang
lain, kan?”
Reina memandang kakaknya dengan
heran. “maksud lo apa?”
“nantinya lo juga tau. sekarang
pastiin perasaan lo gimana. Gue gak mau lo sampe stres cuma karena cowok” ucap Reza
lalu mencium puncak kepala Reina dengan cepat. Lalu ia pergi diiringi tawa
kecil, karena melihat wajah Reina yang lucu saat terkesiap kaget.
“dasar. Kok bisa gue punya kakak
kaya gitu. Mana omongannya aneh lagi” gumam Reina menggeleng-gelengkan kepalanya
dengan heran. Saat ia ingin masuk, tiba-tiba saja ada yang menyentuh pundaknya
dan menahannya untuk masuk ke dalam kelas.
“mau ngapain lo megang-megang
gue?” saut Reina dengan sinis begitu melihat orang yang menahannya itu.
“gue ada urusan sama lo” saut
Tamara langsung menarik Reina dengan sedikit memaksa tidak membiarkan Reina
meletakkan tasnya terlebih dahulu.
“seberapa penting sih? Gue mau
masuk kelas” saut Reina menghentakkan tangannya agar terlepas dari pegangan
Tamara.
“jangan pernah lo deketin Bisma
lagi. apa gak cukup lo deket sama Diki? Apa gak cukup dua kakak lo yang sayang
sama lo?” saut Tamara emosi.
“terserah gue dong. Apa salah
gue nyari banyak temen?” balas Reina.
“lo itu serakah! Lo selalu liat
diri lo sendiri. lo gak pernah ngerasain jadi orang yang gak diperduliin! Lo
hidup dengan semua kemewahan yang gue mau! Apa lo gak bisa peka sama keadaan
orang lain? Lo orang paling egois yang pernah gue kenal dan gue nyesel kenal
sama lo!” teriak Tamara dengan mata berkaca-kaca. Dengan gusar ia meninggalkan
Reina di tengah koridor sendirian. Beberapa orang yang lewat langsung
berbisik-bisik begitu melihat keributan antara Tamara dan Reina.
“dia nangis?” gumam Reina pelan.
Tiba-tiba saja terbesit rasa penyesalan dalam dirinya.
***
Reina berjalan keluar gerbang
dengan perasaan hampa. Di kedua sisinya ada Reza dan Ilham yang terus saja
bergantian menceritakan apa yang mereka lakukan hari ini pada Reina. Namun
Reina sama sekali tidak mendengarnya.
“Reina!” panggil Reza membuat
Reina terkejut.
“apa?”
“kenapa sih lo? ngelamun gak
jelas gitu” saut Ilham penasaran.
“gue lagi mikirin kata-kata
temen gue kak. Apa gue gak peka sama keadaan orang lain? Apa gue serakah? Apa
gue egois?” ucap Reina memandang kedua kakaknya itu.
Reza merangkul Hanna dengan
lembut. “lo itu bukannya gak peka, egois, ataupun serakah. Tapi lo belum sadar
atau lo belum merhatiin lingkungan di sekitar lo. Gak semuanya punya apa yang
lo punya. Gak semua orang punya pikiran yang sama kaya pikiran lo. Jadi lo
harus bisa menyesuaikan diri di antara orang-orang yang gak sama kaya lo”
“mungkin mereka yang bilang lo
serakah, egois, atau yang lain itu karena dia iri sama lo yang punya semua yang
dia mau. Dia pengen jadi lo. tapi mungkin lo gak sadar. Jadi dia mikir kalo lo
sengaja nunjukin ke dia kalo lo itu punya apa yang dia mau. Jadi dia benci sama
lo karena ngira lo sombong” lanjut Ilham.
“kalo gitu, kenapa kalian gak
bisa menyesuaikan diri sama lingkungan? Kalian selalu overprotektif ke gue.
Harusnya kalian sadar gue gak nyaman digituin” ucap Reina polos.
Reza dan Ilham tertawa kecil. “bukannya
gak bisa, tapi belum bisa. Kita berdua tau banget kalo lo gak suka tanpa lo
bilang. Tapi gue sama Reza kaya gini karena kita takut lo kenapa-kenapa. Kita
pernah hampir kehilangan lo karena kesalahan kita berdua. Makanya mulai dari
waktu itu, kita bertekad buat jagain lo mati-matian. Apapun yang terjadi” ucap
Reza disetujui oleh Ilham.
Reina mengerutkan keningnya.
“hampir kehilangan gue?”
Dengan pelan Reza mengangguk.
“waktu itu, umur lo masih 4 tahun. Gue udah 6 tahun, sedangkan Ilham 5 tahun.
Papa mama sibuk buat acara syukuran untuk hari ultah lo. gue disuruh jagain lo
sama Ilham. Tapi gue yang masih kecil ngerasa kesel karena mau main gak
dibolehin sama mama papa. Gue sama Ilham belum ngerti kalo lo adik kita berdua.
Akhirnya gue ninggalin lo dan main berdua sama Ilham. Lo yang gak tau apa-apa
nyoba jalan ketengah jalan raya. Disitu gue sama Ilham belum sadar. Tapi
tiba-tiba aja mama teriak dan langsung lari ke tengah jalan buat nyelamatin lo
yang udah tergeletak karena ditabrak mobil. Papa marah besar sama kita berdua.
Tapi mama belain kita karena emang mama sadar kalau dia yang salah nyuruh kita
yang masih kecil buat jagain lo” cerita Reza.
“kita disuruh ngelupain kejadian
ini. Tapi kita berdua tetep gak bisa lupain semuanya. Masih teringat jelas
tubuh lo yang kecil dulu bersimbah darah karena kita gak mau jagain lo. coba lo
raba-raba kepala lo yang dekat telinga kanan. Botak gak?” ucap Ilham.
Reina meraba bagian kepalanya
yang dekat dengan telinga kanannya. “iya. Gue ngerasa gak ada rambut yang
tumbuh di sini” ucap Reina.
“itu bekas jahitan karena
tabrakan itu. untung rambut lo tebal, jadi botaknya itu ketutupan” jelas Ilham.
“kita berdua selalu ingat
kejadian itu. dan itu yang buat kita protektif banget sama lo. kita gak mau
kejadian itu terulang lagi. Mau itu karena gue, Ilham, ataupun orang lain” ucap
Reza tersenyum tipis.
Reina memandang keduanya dengan
terharu. “maaf kalo gue ngerasa gak nyaman sama niat baik kalian. Ternyata
kalian sayang banget sama gue”
“mana mungkin seorang kakak gak
sayang sama adiknya sendiri” ucap Ilham mengacak-acak rambut Reina.
“kalian so sweet banget. Jadi
terharu” ucap Reina langsung memeluk kedua kakaknya itu dengan erat.
Reza dan Ilham saling memandang.
Ada sepotong cerita lagi yang belum mereka katakan. Dan jika sepotong cerita
itu kembali pada gadis itu, kehidupan Reina pasti akan berubah drastis.
***
Reina berjalan sepanjang koridor
dengan wajah ceria. Ia sudah merubah sudut pandangnya terhadap kedua kakaknya
dengan baik. Sekarang semuanya berubah. Ia merasa senang jika Reza dan Ilham
ada di sampingnya. Tidak lagi merasa harus kabur dari kedua orang itu.
Ketika Reina sedang berjalan di
lapangan upacara menuju kantin, tiba-tiba saja ada yang mendorong Reina hingga
kepalanya terbentur tiang bendera di hadapannya. Samar-sama ia melihat seorang
perempuan yang sekarang berada di depannya. Kepalanya serasa berputar-putar
karena terbentur cukup keras. Lalu ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tidak
sadarkan diri.
Tamara tersenyum kecil menatap
Reina yang tergeletak pingsan. Kepala Reina sedikit berdarah ditempat ia
terbentur tadi. Ternyata Tamara yang telah sengaja mendorongnya hingga kepala
Reina membentur tiang bendera dengan sangat kuat. Dengan terburu-buru Tamara
meninggalkan Reina sendirian di tengah lapangan yang sangat panas itu.
***
Reina membuka matanya dengan
perlahan. Ia sedikit mengerjap membiasakan matanya dengan cahaya lampu yang
terang. Lama-lama ia bisa melihat orang yang sedang menatapnya dengan cemas.
“Reina! Lo gak papa kan?” tanya
seseorang itu yang ternyata adalah Dicky.
Reina meringis pelan sambil
memegang kepalanya yang sudah diperban. “iya, gue gak papa ky. Cuma sedikit
pusing aja” jawab Reina.
“lo sih aneh. Bisa-bisanya
tergeletak di tengah lapangan gitu dengan kepala berdarah” saut Dicky.
Reina mengingat-ingat. “seingat
gue, gue ada didorong sama cewek. Cuma gue gak tau siapa” ucap Reina lirih.
“lo gak usah mikirin itu dulu
deh. Lo istirahat aja disini” ucap Dicky mengelus rambut Reina dengan lembut.
Reina tersenyum tipis.
“yaudah, gue balik ke kelas
yaa.. baik-baik lo disini” ucap Dicky tertawa geli dengan ucapannya sendiri.
“gue sebenarnya masih pengen disini. Lumayan bisa bolos pelajaran pak
Ron yang gak jelas itu”
Reina memandang punggung Dicky
yang hendak keluar dari ruang UKS. “yaudah kalo lo masih mau disini” ucap
Reina.
Dicky menoleh memasang wajah
kaget. “hah?” tanyanya dengan wajah heran.
“Gak suka pelajarannya pak Ron,
kan?” tanya Reina membuat Dicky semakin heran.
“kok lo tau?”
“lah? kan tadi lo sendiri yang
bilang ke gue. aneh deh lo” saut Reina ikutan bingung.
“gue gak ada ngomong apa-apa.
tapi emang itu yang gue pikirin” jawab Dicky membuat Reina ketakutan.
“serius lo? jangan buat gue
takut deh, ky” desis Reina.
“lo yang buat gue takut, na” balas
Dicky kesal.
Reina terdiam. Pikirannya
berkecamuk karena kebingungan.
***
“pagi ini gue belum sarapan. Apa suara perut gue yang kelaperan
kedengaran sama orang-orang ya?”
“nanti ada ulangan matematika. Si Erisa gak datang. Mampus gue. Gue gak
tau harus ngapain!”
“aduh, gue kok makin gendut sih? Gue gak mau gendut! Gue capek dihina
terus-terusan sama teman-teman yang lain”
“rambut gue makin tipis aja. gue gak mau botak!”
“besok pertandingan basket. Apa Reina mau nonton pertandingan itu ya?
Gue kan bisa jadi semangat kalo ada dia”
“dasar sok cantik! Ngapain lewat di koridor lama-lama gitu? Apa biar
semua orang liat dia? Tukang cari perhatian!”
“kenapa sih dia masih muncul disini? Apa kurang gue dorong dia kemarin?
Apa belum cukup buat dia sengsara?”
Reina menoleh kesana kemari
dengan heran. Ia tidak melihat orang-orang yang sedang mengobrol. Tapi ia
mendengar suara-suara keluhan dari orang-orang ini. Begitu berisik. Semua saling berteriak. Reina menutup
telinganya dengan frustasi.
“Reina! lo baik-baik aja?”
terdengar suara khawatir dari Reza.
Reina masih menutup telinganya.
Namun suara-suara itu tidak juga menghilang. Reina berteriak sambil menangis.
Telinganya terasa sakit. Ia merasa telinganya ditusuk oleh suara
teriakan-teriakan yang ada disekelilingnya.
“za, gawat za! Kemampuan Reina
yang hilang udah balik! Cepat izin ke guru piket! Gue yang gendong dia ke
mobil” teriak Ilham membuat Reza memucat.
Ilham menahan tubuh Reina agar
tidak jatuh. Dengan cepat Reza berlari meminta izin pada guru untuk memulangkan
Reina. ilham mencoba menggendong Reina, namun begitu susah karena Reina terus
bergerak kesakitan.
Bisma menghampiri Ilham dengan
takut. Dari kejauhan ia bisa melihat Reina yang begitu tersiksa. “Reina
kenapa?!”
“gak usah banyak tanya. Cepat
bantu gue bawa Reina ke mobil!” teriak Ilham emosi.
Dengan gesit Bisma membantu
Ilham menggendong Reina ke mobil Reza. Tepat saat itu juga Reza sampai di mobil
lalu ia langsung menyalakan mesin dan menancap gas pergi meninggalkan Bisma.
Bisma terdiam kebingungan. Ia
sempat melihat dan mendengar Reina yang berteriak sambil menutup kedua
telinganya. Ia seperti sedang tersiksa. Apa yang terjadi dengannya?
***
Reina mulai bernafas lega saat
suara-suara itu berhenti. Ia mengedarkan pandangannya dan merasa kaget begitu
menyadari kalau ia sudah ada di dalam kamarnya. Reza dan Ilham juga sudah ada
di hadapannya sekarang.
“kok gue ada di rumah? Bukannya
tadi kita udah di sekolah?” tanya Reina bingung.
“na, apa yang lo rasain tadi?”
ucap Reza mengacuhkan pertanyaan Reina.
Reina terdiam kebingungan. “tadi
gue ngerasa semua orang teriak di dekat telinga gue. berebutan cerita ini-itu
ke gue dengan suara keras. Gue takut. Telinga gue jadi sakit” cerita Reina
akhirnya.
Reza dan Ilham menghela nafas
secara bersamaan membuat Reina heran. “kalian tau apa arti yang gue alami
tadi?”
Ilham memandang Reina dengan
lembut. “ada sepotong cerita yang belum kita kasih tau ke lo waktu kemarin soal
masa kecil kita”
“sepotong cerita? Emang cerita
apaan?” tanya Reina penasaran.
“waktu sebelum kecelakaan itu,
lo punya kemampuan khusus seperti kita. Tapi setelah kecelakaan, kemampuan itu
menghilang gitu aja. dan sekarang kemampuan itu balik lagi ke lo. mungkin
karena benturan kuat yang lo alami kemarin” cerita Reza.
“kemampuan khusus? Jangan
basa-basi deh ka” saut Reina kesal.
“lo bisa baca pikiran
orang-orang. Seperti kita berdua” ucap Ilham singkat. Wajahnya memperlihatkan
keseriusan membuat Reina menganga tidak percaya.
“haha. Lo lucu ya, Ham. Baca
pikiran? Emang gue cenayang?” ucap Reina memaksakan untuk tertawa.
“gue serius, dodol. Dari nenek
moyang mama, sampe ke generasi kita bisa baca pikiran. Kita diwariskan
kemampuan itu, na. Apa lo inget dulu waktu kita masih di Bandung mama sering
bilang hal yang sama kaya yang lagi kita pikirkan, kan? mama selalu tau kalo
kita bohong, kan? itu artinya mama baca pikiran kita kalo kita itu lagi bohong”
jelas Ilham.
“gue yakin, waktu lo baru sadar
kemarin, lo bisa baca pikiran orang yang lagi sama lo waktu itu” ucap Reza.
Reina terdiam. Dalam hati ia
percaya dengan kata-kata kedua kakaknya. “kemarin gue denger Dicky gak mau
masuk kelas karena gak suka pelajarannya. Tapi begitu gue bilang, dia gak ngaku
kalo udah bilang gitu ke gue...”
“nah! Itu udah buktinya, na!”
saut Reza.
“tapi... gue masih belum
percaya. Bisa aja Dicky mau bercanda sama gue” bantah Reina.
“inget kejadian barusan? Lo
pasti dengar suara teriakan-teriakan orang ngeluh, kan? itu suara-suara pikiran
orang-orang yang ada disana. Mereka gak ada yang bersuara, tapi mereka terus
berfikir membuat suara-suara itu terdengar keras ditelinga lo” jelas Ilham.
Reina berfikir. Ia mengingatnya.
Ia bisa melihat kalau orang-orang yang ada disana hanya diam membaca buku atau
melamun. Tidak ada yang sedang berbicara. Apa yang dikatakan kedua kakaknya itu
memang benar?
“oke.. gue anggap kalo gue bisa
baca pikiran. Tapi kenapa gue gak bisa baca pikiran kalian berdua? Kenapa
sekarang semuanya sunyi?” tanya Reina.
“kita berdua udah lama punya
kemampuan ini. Jadi kita bisa menutup pikiran kita supaya gak ada yang bisa
baca. Lama-lama lo bakal bisa ngelakuin kaya kita” jelas Reza.
“jadi kalian selalu dengar
teriakan-teriakan gak jelas setiap hari?
Apa kalian gak ngerasa gila? Gue baru sehari ngerasainnya udah hampir
mati”
“lo harus belajar ikhlas. Ikhlas
karena udah dapat kemampuan ini. Lama-lama suara-suara itu akan berkurang.
Hanya tertinggal suara-suara yang penting untuk diketahui. Dan lo harus
ngebantu orang yang sedang kesusahan itu” jelas Ilham.
“astaga. Membantu diri sendiri
aja belum tentu bisa. Tapi gue malah disuruh bantuin orang lain?” saut Reina.
“lo harus yakin kalo lo bisa.
Gak ada kata gak bisa” tegas Reza.
“iyaa.. iyaa” saut Reina tidak
ingin membantah lagi. Tiba-tiba terbesit pikiran kalau ia akan membaca pikiran
Dicky untuk mengetahui apakah cowok itu memiliki rasa untuknya. Reina tersenyum
senang.
“dan satu lagi. Lo gak boleh
pakai kemampuan ini untuk kepentingan pribadi. Contohnya kaya lo coba baca
pikiran Dicky. Cari tau kalo Dicky suka sama lo atau gak. Itu gak boleh sama
sekali!” ucap Reza dengan tatapan tajam.
Reina tersenyum geli. “iya gue
janji. Tau aja lo apa yang gue pikirin. Pasti lo baca pikiran gue”
“udah deh. Kasian si Reina. Pasti
lo ngerasa capek. Sekarang lo istirahat. Besok izin gak masuk aja” lanjut
Ilham.
“oke.. gue juga besok males masuk”
jawab Reina setuju.
“kalo gitu kita keluar. Tidur
nyenyak yah” ucap Reza mencium puncak kepala Reina dengan lembut diikuti oleh
Ilham.
Reina tersenyum tipis memandang
Reza dan Ilham keluar dari kamarnya. Setelah pintu tertutup, Reina bangkit dari
tidurnya dan memegang lukanya yang masih diperban. “apa bener gue bisa baca
pikiran? Apa sanggup gue tiap hari dengar semua keluh kesah orang-orang yang
ada di sekeliling gue?” batin Reina dalam hati.
TO BE CONTINUED