Jumat, 17 Mei 2013

Missunderstand (Part 5)

Sore menjelang malam. Langit berubah menjadi gelap. Reina telah tertidur dengan lelap. Mungkin ia lelah menunggu. Bisma masih terjaga dan melihat daerah sekelilingnya, takut ada orang yang berniat jahat pada mereka. Ia ingin segera pergi dari tempat ini. Namun ia takut mereka akan lebih tersesat daripada sebelumnya.
Bisma mencari sesuatu dikantong joknya. Sebuah jaket. Ia menutupi tubuh Reina dengan jaket itu lalu memandangi wajah gadis itu dengan lembut. Tiba-tiba saja hatinya merasa perih mengingat Reina menyukai Dicky, bukan dirinya.
“Maybe I annoy you with my choices. Well, you annoy me sometimes too with your voice. But that ain't enough for me to move out and move on. I'm just gonna love you like the woman I love~” Bisma melantunkan sebuah lagu kesukaannya dengan pelan sambil menatap Reina.
“We don't have to hurry. You can take as long as you want. I'm holdin' steady. My heart's at home. With my hand behind you. I will catch you if you fall. Yeah I'm gonna love you like the woman I love~” tangan Bisma mulai menyentuh rambut Reina dengan lembut.
“Sometimes the world can make you feel. You're not welcome anymore. And you beat yourself up. You let yourself get mad. And in those times when you stop lovin'. That woman I adore. You can relax. Because, babe, I got your back. Uh, I got you. Uh, Yeah~” Bisma tersenyum kecil.
“I don't wish to change you. You've got it under control. You wake up each day different. Another reason for me to keep holdin' on. I'm not attached to any way you're showing up. I'm just gonna love you like the woman I love. Yeah I'm gonna love you. Oh, Yeah I'm gonna love you 'cause you're the woman I love~” Bisma mengakhiri lagunya dengan sebuah kecupan di kening yang sangat lama dan tersirat ketulusan.
Bukkk!! Terdengar suara benda yang dipukul-pukul berkali-kali dengan kuat dari berbagai arah. Bisma menjauhkan diri dari Reina dan menatap ke sekelilingnya. Terlihat wajah-wajah penuh kemarahan dari Reza dan Ilham. Reina terbangun. Dengan segera Bisma keluar dari mobil.
“lo mau ngapain adek gue?!” saut Reza langsung emosi menarik kerah seragam yang dipakai Bisma.
Dengan terburu-buru Reina keluar dari mobil. Ia langsung disambut dengan tatapan tajam dari Tamara. Tapi ia tidak memperdulikan hal itu. ia segera menuju ke arah Reza dan Bisma. “kak! Ada apa ini?” saut Reina berusaha menjauhkan Reza dari Bisma.
“na, lo gak sadar kan sama apa yang udah dia lakuin? Dia mau melecehkan lo” saut Ilham menarik Reina menjauh dari Reza dan Bisma.
Reina memandang Bisma dengan tidak percaya. “Bis, itu gak bener, kan?” tanya Reina dengan ragu.
“gak, na. Gue gak ada niat buat melecehkan lo” jawab Bisma meyakinkan Reina.
Bugh!!! Reza meninju pipi Bisma dengan kuat. Sudut bibir Bisma langsung mengeluarkan darah.
“kak! Gue percaya sama Bisma. Lepasin dia!” saut Reina melepaskan tangan Ilham dari tangannya lalu menarik Reza menjauh dari Bisma.
“bisa-bisanya lo percaya sama dia. Lo gak liat. Kita yang ngeliat!” saut Reza emosi.
“kalian mungkin salah paham. Bisma baik sama gue dan gue percaya sama dia!” saut Reina ikutan emosi.
“lo lebih percaya sama dia daripada kakak lo sendiri?!” teriak Reza semakin emosi.
“kak, liat ke belakang! Lo pernah mukulin anak orang karena dia nolongin gue pas kepleset dan hampir jatuh. Lo malah ngira dia meluk gue. Lo pernah buat orang masuk rumah sakit karena lo ngira dia mau macem-macem sama gue padahal dia cuma mau bantuin gue mungutin buku. Lo terlalu khawatir sama gue! Terlalu berlebihan, kak” saut Reina.
Semuanya terdiam. Reina mendekati Bisma dan menyentuh luka di sudut bibir cowok itu dengan pelan. Bisma sedikit meringis. “di mobil lo ada kotak P3K?” tanya Reina.
“ada di jok belakang” jawab Bisma pelan. Reina segera mengambil kotak itu dan mengobati luka Bisma dengan lembut. Sesekali terdengar suara Bisma yang meringis kesakitan. Yang lain hanya bisa menatap kejadian itu dalam diam.
Dicky dan Tamara menatap Reina dan Bisma dengan hati panas. Tamara tidak suka melihat Reina yang dengan romantisnya mengobati luka Bisma. Sementara Dicky tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak melihat adegan di depannya ini.
“udah. Biar cewek itu aja yang ngobatin luka Bisma. Lo pulang sama gue” ucap Reza dengan tenang menarik Reina mendekat kearahnya.
Tamara tersenyum tipis lalu mengambil kapas yang dipegang Reina dan menghampiri Bisma untuk mengobati lukanya. Bisma hanya bisa pasrah.
“tapi nanti Bisma nyasar lagi kalo gak bareng kita” saut Reina.
“tadi cewek itu yang nunjukin jalan kesini, jadi pasti mereka berdua aman tanpa kita. Reza juga udah hapal jalan buat balik ke rumah” saut Ilham.
Dengan pasrah Reina masuk ke dalam mobil Reza.
“za, gue masih ikut sama lo, kan? tadi berangkatnya bareng” saut Dicky akhirnya bersuara.
“iya. Cepetan naik!” saut Reza mulai sedikit melunak pada Dicky. mungkin karena Dicky sudah membantunya mencari Reina.
Dengan sigap Dicky naik ke dalam mobil dan duduk di sebelah Reina. “lo gak kenapa-napa, kan?” tanya Dicky.
Reina menoleh ke Dicky. “iya. Gue gak papa. Cuma capek aja nunggu 3 jam lebih terus dibuat emosi” jawab Reina tersenyum tipis.
Dicky melirik Reza dan Ilham yang masih di luar mobil. “emang dulu kakak lo pernah buat orang masuk rumah sakit?” bisik Dicky.
“ya gitu. Dia negative thinking terus. Jadinya kalo ada cowok yang deket sama gue, pasti dia bonyokin. Gue juga heran” jawab Reina berbisik juga.
“ambil positivenya aja. tandanya kakak lo sayang banget sama lo. Cuma ya caranya aja yang salah” ucap Dicky tersenyum kecil.
“iya gue tau. Thanks. Pasti karena lo gue jadi bisa pulang gini” ucap Reina dengan tulus.
“bisa aja lo” saut Dicky tertawa sambil mengacak-acak rambut Reina dengan lembut.
“uhuk!” Ilham terbatuk-batuk dengan sengaja menghentikan kegiatan Dicky dengan seketika. Tangan Dicky yang awalnya ada di kepala Reina, langsung ia tarik menjauh.
Dicky dan Reina saling melirik ketakutan. Lalu tiba-tiba saja mereka tertawa pelan bersama-sama menertawakan wajah ketakutan mereka berdua.
***
“awas ya kalo lo berani kabur dari kita. Kemarin lo dapet karma makanya jadi nyasar” saut Reza berjalan di kanan Reina.
“kalo lo kabur lagi, bukan sekedar nyasar lagi. mungkin lebih parah dari itu. mending cari amannya aja deh, yaitu pulang bareng kita berdua” saut Ilham yang ada di kiri Reina.
“oke.. gue pulang bareng kalian. Tapi di sekolah, gue gak mau dibuntutin kalian terus. Kalian kaya gak ada kerjaan aja” saut Reina. “janji ya? Kalo gak, gue gak mau pulang bareng kalian” lanjut Reina sebelum masuk ke dalam kelasnya.
Dengan pasrah Reza dan Ilham mengangguk setuju. Ilham berjalan menuju kelasnya.
“na, gue mau tanya sesuatu sama lo” ucap Reza masih belum pergi untuk masuk ke dalam kelas.
“nanya apaan?” tanya Reina penasaran.
“lo suka Dicky atau Bisma? Jujur sama gue. Gue gak akan berbuat apa-apa sama kedua cowok itu kok” ucap Reza.
Hanna tersentak kaget. “buat apa nanya gitu? Penting buat lo?” tanya Reina dengan takut.
“na, jangan takut. Gue kakak lo. gue Cuma mau tau apa yang ada di dalam hati lo. itu aja”
“gue...” Reina memandang Reza dengan ragu. “gue suka sama Dicky, kak”
Reza mengangguk tanda mengerti. “semoga lo pilih keputusan yang tepat. Jangan sampe ada satupun yang tersakiti. Gue ngerasa lo mulai ragu sama perasaan lo. Lo udah mulai tertarik sama orang lain, kan?”
Reina memandang kakaknya dengan heran. “maksud lo apa?”
“nantinya lo juga tau. sekarang pastiin perasaan lo gimana. Gue gak mau lo sampe stres cuma karena cowok” ucap Reza lalu mencium puncak kepala Reina dengan cepat. Lalu ia pergi diiringi tawa kecil, karena melihat wajah Reina yang lucu saat terkesiap kaget.
“dasar. Kok bisa gue punya kakak kaya gitu. Mana omongannya aneh lagi” gumam Reina menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran. Saat ia ingin masuk, tiba-tiba saja ada yang menyentuh pundaknya dan menahannya untuk masuk ke dalam kelas.
“mau ngapain lo megang-megang gue?” saut Reina dengan sinis begitu melihat orang yang menahannya itu.
“gue ada urusan sama lo” saut Tamara langsung menarik Reina dengan sedikit memaksa tidak membiarkan Reina meletakkan tasnya terlebih dahulu.
“seberapa penting sih? Gue mau masuk kelas” saut Reina menghentakkan tangannya agar terlepas dari pegangan Tamara.
“jangan pernah lo deketin Bisma lagi. apa gak cukup lo deket sama Diki? Apa gak cukup dua kakak lo yang sayang sama lo?” saut Tamara emosi.
“terserah gue dong. Apa salah gue nyari banyak temen?” balas Reina.
“lo itu serakah! Lo selalu liat diri lo sendiri. lo gak pernah ngerasain jadi orang yang gak diperduliin! Lo hidup dengan semua kemewahan yang gue mau! Apa lo gak bisa peka sama keadaan orang lain? Lo orang paling egois yang pernah gue kenal dan gue nyesel kenal sama lo!” teriak Tamara dengan mata berkaca-kaca. Dengan gusar ia meninggalkan Reina di tengah koridor sendirian. Beberapa orang yang lewat langsung berbisik-bisik begitu melihat keributan antara Tamara dan Reina.
“dia nangis?” gumam Reina pelan. Tiba-tiba saja terbesit rasa penyesalan dalam dirinya.
***
Reina berjalan keluar gerbang dengan perasaan hampa. Di kedua sisinya ada Reza dan Ilham yang terus saja bergantian menceritakan apa yang mereka lakukan hari ini pada Reina. Namun Reina sama sekali tidak mendengarnya.
“Reina!” panggil Reza membuat Reina terkejut.
“apa?”
“kenapa sih lo? ngelamun gak jelas gitu” saut Ilham penasaran.
“gue lagi mikirin kata-kata temen gue kak. Apa gue gak peka sama keadaan orang lain? Apa gue serakah? Apa gue egois?” ucap Reina memandang kedua kakaknya itu.
Reza merangkul Hanna dengan lembut. “lo itu bukannya gak peka, egois, ataupun serakah. Tapi lo belum sadar atau lo belum merhatiin lingkungan di sekitar lo. Gak semuanya punya apa yang lo punya. Gak semua orang punya pikiran yang sama kaya pikiran lo. Jadi lo harus bisa menyesuaikan diri di antara orang-orang yang gak sama kaya lo”
“mungkin mereka yang bilang lo serakah, egois, atau yang lain itu karena dia iri sama lo yang punya semua yang dia mau. Dia pengen jadi lo. tapi mungkin lo gak sadar. Jadi dia mikir kalo lo sengaja nunjukin ke dia kalo lo itu punya apa yang dia mau. Jadi dia benci sama lo karena ngira lo sombong” lanjut Ilham.
“kalo gitu, kenapa kalian gak bisa menyesuaikan diri sama lingkungan? Kalian selalu overprotektif ke gue. Harusnya kalian sadar gue gak nyaman digituin” ucap Reina polos.
Reza dan Ilham tertawa kecil. “bukannya gak bisa, tapi belum bisa. Kita berdua tau banget kalo lo gak suka tanpa lo bilang. Tapi gue sama Reza kaya gini karena kita takut lo kenapa-kenapa. Kita pernah hampir kehilangan lo karena kesalahan kita berdua. Makanya mulai dari waktu itu, kita bertekad buat jagain lo mati-matian. Apapun yang terjadi” ucap Reza disetujui oleh Ilham.
Reina mengerutkan keningnya. “hampir kehilangan gue?”
Dengan pelan Reza mengangguk. “waktu itu, umur lo masih 4 tahun. Gue udah 6 tahun, sedangkan Ilham 5 tahun. Papa mama sibuk buat acara syukuran untuk hari ultah lo. gue disuruh jagain lo sama Ilham. Tapi gue yang masih kecil ngerasa kesel karena mau main gak dibolehin sama mama papa. Gue sama Ilham belum ngerti kalo lo adik kita berdua. Akhirnya gue ninggalin lo dan main berdua sama Ilham. Lo yang gak tau apa-apa nyoba jalan ketengah jalan raya. Disitu gue sama Ilham belum sadar. Tapi tiba-tiba aja mama teriak dan langsung lari ke tengah jalan buat nyelamatin lo yang udah tergeletak karena ditabrak mobil. Papa marah besar sama kita berdua. Tapi mama belain kita karena emang mama sadar kalau dia yang salah nyuruh kita yang masih kecil buat jagain lo” cerita Reza.
“kita disuruh ngelupain kejadian ini. Tapi kita berdua tetep gak bisa lupain semuanya. Masih teringat jelas tubuh lo yang kecil dulu bersimbah darah karena kita gak mau jagain lo. coba lo raba-raba kepala lo yang dekat telinga kanan. Botak gak?” ucap Ilham.
Reina meraba bagian kepalanya yang dekat dengan telinga kanannya. “iya. Gue ngerasa gak ada rambut yang tumbuh di sini” ucap Reina.
“itu bekas jahitan karena tabrakan itu. untung rambut lo tebal, jadi botaknya itu ketutupan” jelas Ilham.
“kita berdua selalu ingat kejadian itu. dan itu yang buat kita protektif banget sama lo. kita gak mau kejadian itu terulang lagi. Mau itu karena gue, Ilham, ataupun orang lain” ucap Reza tersenyum tipis.
Reina memandang keduanya dengan terharu. “maaf kalo gue ngerasa gak nyaman sama niat baik kalian. Ternyata kalian sayang banget sama gue”
“mana mungkin seorang kakak gak sayang sama adiknya sendiri” ucap Ilham mengacak-acak rambut Reina.
“kalian so sweet banget. Jadi terharu” ucap Reina langsung memeluk kedua kakaknya itu dengan erat.
Reza dan Ilham saling memandang. Ada sepotong cerita lagi yang belum mereka katakan. Dan jika sepotong cerita itu kembali pada gadis itu, kehidupan Reina pasti akan berubah drastis.
***
Reina berjalan sepanjang koridor dengan wajah ceria. Ia sudah merubah sudut pandangnya terhadap kedua kakaknya dengan baik. Sekarang semuanya berubah. Ia merasa senang jika Reza dan Ilham ada di sampingnya. Tidak lagi merasa harus kabur dari kedua orang itu.
Ketika Reina sedang berjalan di lapangan upacara menuju kantin, tiba-tiba saja ada yang mendorong Reina hingga kepalanya terbentur tiang bendera di hadapannya. Samar-sama ia melihat seorang perempuan yang sekarang berada di depannya. Kepalanya serasa berputar-putar karena terbentur cukup keras. Lalu ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tidak sadarkan diri.
Tamara tersenyum kecil menatap Reina yang tergeletak pingsan. Kepala Reina sedikit berdarah ditempat ia terbentur tadi. Ternyata Tamara yang telah sengaja mendorongnya hingga kepala Reina membentur tiang bendera dengan sangat kuat. Dengan terburu-buru Tamara meninggalkan Reina sendirian di tengah lapangan yang sangat panas itu.
***
Reina membuka matanya dengan perlahan. Ia sedikit mengerjap membiasakan matanya dengan cahaya lampu yang terang. Lama-lama ia bisa melihat orang yang sedang menatapnya dengan cemas.
“Reina! Lo gak papa kan?” tanya seseorang itu yang ternyata adalah Dicky.
Reina meringis pelan sambil memegang kepalanya yang sudah diperban. “iya, gue gak papa ky. Cuma sedikit pusing aja” jawab Reina.
“lo sih aneh. Bisa-bisanya tergeletak di tengah lapangan gitu dengan kepala berdarah” saut Dicky.
Reina mengingat-ingat. “seingat gue, gue ada didorong sama cewek. Cuma gue gak tau siapa” ucap Reina lirih.
“lo gak usah mikirin itu dulu deh. Lo istirahat aja disini” ucap Dicky mengelus rambut Reina dengan lembut.
Reina tersenyum tipis.
“yaudah, gue balik ke kelas yaa.. baik-baik lo disini” ucap Dicky tertawa geli dengan ucapannya sendiri.
“gue sebenarnya masih pengen disini. Lumayan bisa bolos pelajaran pak Ron yang gak jelas itu”
Reina memandang punggung Dicky yang hendak keluar dari ruang UKS. “yaudah kalo lo masih mau disini” ucap Reina.
Dicky menoleh memasang wajah kaget. “hah?” tanyanya dengan wajah heran.
“Gak suka pelajarannya pak Ron, kan?” tanya Reina membuat Dicky semakin heran.
“kok lo tau?”
“lah? kan tadi lo sendiri yang bilang ke gue. aneh deh lo” saut Reina ikutan bingung.
“gue gak ada ngomong apa-apa. tapi emang itu yang gue pikirin” jawab Dicky membuat Reina ketakutan.
“serius lo? jangan buat gue takut deh, ky” desis Reina.
“lo yang buat gue takut, na” balas Dicky kesal.
Reina terdiam. Pikirannya berkecamuk karena kebingungan.
***
“pagi ini gue belum sarapan. Apa suara perut gue yang kelaperan kedengaran sama orang-orang ya?”
“nanti ada ulangan matematika. Si Erisa gak datang. Mampus gue. Gue gak tau harus ngapain!”
“aduh, gue kok makin gendut sih? Gue gak mau gendut! Gue capek dihina terus-terusan sama teman-teman yang lain”
“rambut gue makin tipis aja. gue gak mau botak!”
“besok pertandingan basket. Apa Reina mau nonton pertandingan itu ya? Gue kan bisa jadi semangat kalo ada dia”
“dasar sok cantik! Ngapain lewat di koridor lama-lama gitu? Apa biar semua orang liat dia? Tukang cari perhatian!”
“kenapa sih dia masih muncul disini? Apa kurang gue dorong dia kemarin? Apa belum cukup buat dia sengsara?”
Reina menoleh kesana kemari dengan heran. Ia tidak melihat orang-orang yang sedang mengobrol. Tapi ia mendengar suara-suara keluhan dari orang-orang ini. Begitu berisik.  Semua saling berteriak. Reina menutup telinganya dengan frustasi.
“Reina! lo baik-baik aja?” terdengar suara khawatir dari Reza.
Reina masih menutup telinganya. Namun suara-suara itu tidak juga menghilang. Reina berteriak sambil menangis. Telinganya terasa sakit. Ia merasa telinganya ditusuk oleh suara teriakan-teriakan yang ada disekelilingnya.
“za, gawat za! Kemampuan Reina yang hilang udah balik! Cepat izin ke guru piket! Gue yang gendong dia ke mobil” teriak Ilham membuat Reza memucat.
Ilham menahan tubuh Reina agar tidak jatuh. Dengan cepat Reza berlari meminta izin pada guru untuk memulangkan Reina. ilham mencoba menggendong Reina, namun begitu susah karena Reina terus bergerak kesakitan.
Bisma menghampiri Ilham dengan takut. Dari kejauhan ia bisa melihat Reina yang begitu tersiksa. “Reina kenapa?!”
“gak usah banyak tanya. Cepat bantu gue bawa Reina ke mobil!” teriak Ilham emosi.
Dengan gesit Bisma membantu Ilham menggendong Reina ke mobil Reza. Tepat saat itu juga Reza sampai di mobil lalu ia langsung menyalakan mesin dan menancap gas pergi meninggalkan Bisma.
Bisma terdiam kebingungan. Ia sempat melihat dan mendengar Reina yang berteriak sambil menutup kedua telinganya. Ia seperti sedang tersiksa. Apa yang terjadi dengannya?
***
Reina mulai bernafas lega saat suara-suara itu berhenti. Ia mengedarkan pandangannya dan merasa kaget begitu menyadari kalau ia sudah ada di dalam kamarnya. Reza dan Ilham juga sudah ada di hadapannya sekarang.
“kok gue ada di rumah? Bukannya tadi kita udah di sekolah?” tanya Reina bingung.
“na, apa yang lo rasain tadi?” ucap Reza mengacuhkan pertanyaan Reina.
Reina terdiam kebingungan. “tadi gue ngerasa semua orang teriak di dekat telinga gue. berebutan cerita ini-itu ke gue dengan suara keras. Gue takut. Telinga gue jadi sakit” cerita Reina akhirnya.
Reza dan Ilham menghela nafas secara bersamaan membuat Reina heran. “kalian tau apa arti yang gue alami tadi?”
Ilham memandang Reina dengan lembut. “ada sepotong cerita yang belum kita kasih tau ke lo waktu kemarin soal masa kecil kita”
“sepotong cerita? Emang cerita apaan?” tanya Reina penasaran.
“waktu sebelum kecelakaan itu, lo punya kemampuan khusus seperti kita. Tapi setelah kecelakaan, kemampuan itu menghilang gitu aja. dan sekarang kemampuan itu balik lagi ke lo. mungkin karena benturan kuat yang lo alami kemarin” cerita Reza.
“kemampuan khusus? Jangan basa-basi deh ka” saut Reina kesal.
“lo bisa baca pikiran orang-orang. Seperti kita berdua” ucap Ilham singkat. Wajahnya memperlihatkan keseriusan membuat Reina menganga tidak percaya.
“haha. Lo lucu ya, Ham. Baca pikiran? Emang gue cenayang?” ucap Reina memaksakan untuk tertawa.
“gue serius, dodol. Dari nenek moyang mama, sampe ke generasi kita bisa baca pikiran. Kita diwariskan kemampuan itu, na. Apa lo inget dulu waktu kita masih di Bandung mama sering bilang hal yang sama kaya yang lagi kita pikirkan, kan? mama selalu tau kalo kita bohong, kan? itu artinya mama baca pikiran kita kalo kita itu lagi bohong” jelas Ilham.
“gue yakin, waktu lo baru sadar kemarin, lo bisa baca pikiran orang yang lagi sama lo waktu itu” ucap Reza.
Reina terdiam. Dalam hati ia percaya dengan kata-kata kedua kakaknya. “kemarin gue denger Dicky gak mau masuk kelas karena gak suka pelajarannya. Tapi begitu gue bilang, dia gak ngaku kalo udah bilang gitu ke gue...”
“nah! Itu udah buktinya, na!” saut Reza.
“tapi... gue masih belum percaya. Bisa aja Dicky mau bercanda sama gue” bantah Reina.
“inget kejadian barusan? Lo pasti dengar suara teriakan-teriakan orang ngeluh, kan? itu suara-suara pikiran orang-orang yang ada disana. Mereka gak ada yang bersuara, tapi mereka terus berfikir membuat suara-suara itu terdengar keras ditelinga lo” jelas Ilham.
Reina berfikir. Ia mengingatnya. Ia bisa melihat kalau orang-orang yang ada disana hanya diam membaca buku atau melamun. Tidak ada yang sedang berbicara. Apa yang dikatakan kedua kakaknya itu memang benar?
“oke.. gue anggap kalo gue bisa baca pikiran. Tapi kenapa gue gak bisa baca pikiran kalian berdua? Kenapa sekarang semuanya sunyi?” tanya Reina.
“kita berdua udah lama punya kemampuan ini. Jadi kita bisa menutup pikiran kita supaya gak ada yang bisa baca. Lama-lama lo bakal bisa ngelakuin kaya kita” jelas Reza.
“jadi kalian selalu dengar teriakan-teriakan gak jelas setiap hari?  Apa kalian gak ngerasa gila? Gue baru sehari ngerasainnya udah hampir mati”
“lo harus belajar ikhlas. Ikhlas karena udah dapat kemampuan ini. Lama-lama suara-suara itu akan berkurang. Hanya tertinggal suara-suara yang penting untuk diketahui. Dan lo harus ngebantu orang yang sedang kesusahan itu” jelas Ilham.
“astaga. Membantu diri sendiri aja belum tentu bisa. Tapi gue malah disuruh bantuin orang lain?” saut Reina.
“lo harus yakin kalo lo bisa. Gak ada kata gak bisa” tegas Reza.
“iyaa.. iyaa” saut Reina tidak ingin membantah lagi. Tiba-tiba terbesit pikiran kalau ia akan membaca pikiran Dicky untuk mengetahui apakah cowok itu memiliki rasa untuknya. Reina tersenyum senang.
“dan satu lagi. Lo gak boleh pakai kemampuan ini untuk kepentingan pribadi. Contohnya kaya lo coba baca pikiran Dicky. Cari tau kalo Dicky suka sama lo atau gak. Itu gak boleh sama sekali!” ucap Reza dengan tatapan tajam.
Reina tersenyum geli. “iya gue janji. Tau aja lo apa yang gue pikirin. Pasti lo baca pikiran gue”
“udah deh. Kasian si Reina. Pasti lo ngerasa capek. Sekarang lo istirahat. Besok izin gak masuk aja” lanjut Ilham.
“oke.. gue juga besok males masuk” jawab Reina setuju.
“kalo gitu kita keluar. Tidur nyenyak yah” ucap Reza mencium puncak kepala Reina dengan lembut diikuti oleh Ilham.
Reina tersenyum tipis memandang Reza dan Ilham keluar dari kamarnya. Setelah pintu tertutup, Reina bangkit dari tidurnya dan memegang lukanya yang masih diperban. “apa bener gue bisa baca pikiran? Apa sanggup gue tiap hari dengar semua keluh kesah orang-orang yang ada di sekeliling gue?” batin Reina dalam hati.
TO BE CONTINUED

Minggu, 05 Mei 2013

Missunderstand (Part 4)

Reina masuk ke dalam kelas. Ia membuangi semua benda yang ada di atas mejanya. Prang!!! terdengar suara botol minum terjatuh hingga pecah. Semau orang yang ada di dalam kelas tersentak kaget. Reina terisak-isak. Ia menjatuhkan kursi dan mejanya dengan kasar. Ia ingin melampiaskan semua emosinya.
Tiba-tiba saja ada perasaan hangat mejalar di tubuhnya. Perasaan sedikit tenang menyergap dirinya. Ternyata Bisma memeluknya dari belakang. Dengan cepat ia membalikkan badannya dan membalas pelukan Bisma. Ia menumpahkan semua air matanya di dada Bisma. Ia menangis hingga menjerit di dada Bisma. Ya, yang ia perlukan saat ini adalah sebuah pelukan.
Beberapa menit Bisma memeluk Reina dengan erat. Ia biarkan bajunya basah terkena air mata Reina. Tanpa diberitahu, Bisma tahu siapa yang disukai Reina. Orang itu adalah Dicky. Selama ini ia ternyata salah paham. Ia mengira Reina memerhatikannya. Ternyata Reina memerhatikan orang di sebelahnya, yaitu Dicky. Reina selama ini hanya memandang Dicky, tidak pernah menyadari keberadaannya. Ia yang terlalu percaya diri menganggap Reina menyukainya. Lagi-lagi salah paham. Missunderstand...
Bisma kembali mengingat kata-kata Reina. ‘dia salah paham sama hubungan gue dengan orang yang disukainya itu. dia ngira gue punya hubungan spesial sama orang yang disukainya, padahal gue gak ada apa-apa sama si cowok. Emang sih kita dekat, tapi ya cuma temanan aja. Dan Tamara gak percaya. Terus kayanya dia deketin cowok yang gue suka biar gue bisa ngerasain gimana rasa cemburu dia ke gue yang selalu dekat-dekat sama si cowok yang disukainya itu’.
Sekarang ia tahu siapa cowok yang disukai Reina dan Tamara terlihat dekat dengan cowok itu, yaitu Dicky. Sedangkan selama ini Reina tidak terlihat dekat dengan cowok lain selain Dicky dan dirinya sendiri. Dan sepertinya dirinya yang lebih dekat dengan Reina daripada Dicky. Apa berarti Tamara menyukainya? Apa Tamara cemburu melihatnya dekat dengan Reina? Apa itu artinya ia yang membuat Reina dan Tamara berkelahi seperti ini? Jika itu benar, berarti ia yang telah membuat Reina menangis seperti ini.
Perlahan Bisma menarik Reina untuk keluar dari dalam kelas. Ia mulai merasa tidak nyaman dipandangi oleh teman-teman sekelas Reina. Ia menarik Reina untuk duduk di pinggir lapangan basket. Di bawah pohon yang cukup rindang.
Reina masih menyembunyikan wajahnya di pundak Bisma. Masih terdengar juga suara isakan kecil tangisnya yang belum selesai. Walaupun begitu, perasaannya sudah cukup lega karena ada Bisma di sampingnya.
Dengan sedikit ragu Bisma mengelus-elus rambut Reina. perlahan ia memegang kepala Reina untuk menjauhkannya dari pundaknya. Ia menyentuh kedua pipi Reina dengan lembut dan menghapus air mata gadis itu dengan lembut juga. Ia tersenyum kecil dengan maksud untuk menguatkan perasaan gadis di depannya ini.
Reina memandang Bisma dengan sedih. Digenggamnya dengan erat tangan Bisma yang sedang memegang kedua pipinya. Dari kedua tangan itu, muncul perasaan yang membuatnya hangat dan nyaman. Dengan pelan ia berkata, “terima kasih”
Bisma mengangguk dan tersenyum tipis. Ditariknya gadis itu lagi ke dalam pelukannya. Lalu ia mengusap pundak gadis itu untuk membuatnya lebih tenang. “kalo lo butuh pundak, pakai aja pundak gue. Pundak gue khusus buat lo” bisik Bisma tepat di telinga Reina.
Reina memeluk Bisma dengan erat. Ia kembali menangis. Namun kali ini ia menangis karena terharu. “Thanks. Lo sangat berarti buat gue, Bisma”
***
“Reina!” teriak Dicky menghampiri Reina yang sedang berjalan keluar gerbang sekolah.
Reina memberhentikan langkahnya lalu berpaling menatap Dicky yang sedang berlari mendekatinya. Dipasangnya wajah tersenyum. Ia tidak berhak membenci Dicky hanya karena dia dekat dengan Tamara. Dia tidak tahu apa-apa. Sebaiknya ia tetap bersikap normal dengan Dicky.
“tadi pas kita ketemu di depan toilet, kenapa lo mendadak pergi?” ucap Dicky penasaran. Rasanya lucu ia berteriak memanggil-manggil nama Reina hanya untuk menanyakan soal ini. Tapi ia sudah sangat penasaran.
Reina memasang wajah bingung. “tadi gue ngerasa malu ada di depan toilet cowok sama Bisma. Gandengan pula lagi. Dan tadi udah ditegur sama pak Andi. Makanya gue kabur deh, hehe” jawab Reina berbohong.
“serius? Bukan karena gue, kan?” tanya Dicky sekali lagi.
“kenapa harus karena lo? emang lo punya salah apa sama gue sampe lo ngerasa yang jadi penyebab gue pergi tadi?” jawab Reina tersenyum.
Dicky tersenyum salah tingkah. “iya juga yah. Kenapa gue tadi ngerasa bersalah sama lo, ya?”
Reina terkikik geli. “woles aja. lo gak ada salah apapun kok sama gue”
“kalo gitu kita pulang bareng yuk! Kebetulan gue bawa motor sendiri. lagi males nebeng sama Bisma” tawar Dicky.
“gak usah deh. Nanti ada yang marah lagi” ucap Reina ragu-ragu. “lagian gue lagi nunggu angkot kok” lanjutnya.
“ada yang marah? siapa? Tamara? Emang dia siapanya gue? Lo ngada-ngada deh. Nunggu angkot tuh lama. Panas lagi. Bagusan sama gue. Terjamin lo pulang sampe rumah dengan selamat” ucap Dicky.
Reina terlihat berpikir sedikit. Ini tawaran yang selalu dimimpi-mimpikannya. Kenapa ia malah merasa ragu? Ada apa dengannya?
“jadi gimana?” tanya Dicky lagi.
“okelah, gue mau. Lo nawarin pulang bareng aja udah kaya lagi jualan obat, jelasinnya lengkap sampe ke khasiatnya” jawab Reina tertawa.
Dicky ikut tertawa tapi tidak membalas perkataan Reina. Ia menarik Reina ke parkiran motor. Ia mengambil motor CBRnya dan lalu menyuruh Reina untuk naik. Reina naik dengan hati-hati. “lo bisa bawa motor, kan?” tanya Reina bercanda.
“baru belajar. Jadi biar lo selamat, lo pegangan kuat-kuat” jawab Dicky menghidupkan mesinnya.
“lo serius, ky?” saut Reina mendadak takut.
“udah intinya lo pegangan” jawabnya memberikan sebuah helm ke Reina. Ia juga memakai helmnya. “siap yaa” ia menggas motornya lalu menjalankan motornya dengan kencang.
“Dicky!! Lo gila!” teriak Reina di antara keributan deru suara mesin motornya Dicky. Sekarang ia memeluk pinggang Dicky dengan sangat erat karena takut terjatuh.
Tamara menatap Dicky dan Reina dengan muak. “sial! Kenapa Dicky ngajak Reina pulang bareng? Kalo kaya gini percuma gue deketin Dicky” gerutu Tamara.
Tiba-tiba saja ada yang mencengkeram lengan Tamara dengan kuat. Dengan kaget gadis itu menoleh.
“gue mau bicara sama lo. Penting!” ucap Bisma dingin. Ditariknya Tamara kuat namun masih lumayan lembut. Ia mendengar apa yang dikatakan gadis itu barusan. Ternyata benar seperti apa yang dipikirkan Reina, Tamara ingin membalas dendam.
***
“Dicky! gue gak mau diajak pulang bareng lagi sama lo kalo lo bawa motornya kaya orang kesurupan gini” omel Reina begitu sampai di depan rumahnya. Ia turun dari motor Dicky dengan tampang kecut.
Dicky tertawa. “yang penting lo selamat sampe rumah, kan? Sesuai sama janji gue, kan?”
“iya selamat. Tapi jantung gue hampir copot pas tadi di jalan. Bisa-bisa gue ngeregang nyawa diatas motor lo” saut Reina.
“gak usah lebay deh. Buktinya lo masih hidup sampe sekarang” saut Dicky mengacak-acak rambut Reina dengan gemas.
“ehem!” Terdengar seseorang terbatuk-batuk yang sepertinya sengaja. Dicky dan Reina langsung menoleh ke balik pagar rumah Reina.
“kak Reza!” teriak Reina kaget. “kok ke rumah sih? Aku belum liburan kenapa kaka udah?” lanjutnya lagi langsung memeluk cowok itu.
Dicky sedikit terheran melihat Reina yang langsung menerjang tubuh cowok itu. Terbesit rasa sakit di dadanya. Tapi dengan cepat rasa itu langsung hilang. Ia juga bingung rasa apa yang barusan hampir di dadanya.
“itu bisa dibahas di dalam” jawab Reza balas memeluk Reina. “tapi cowok yang nganterin lo ini siapa?” lanjutnya sambil melirik Dicky.
Reina langsung melepaskan pelukannya. “Oh iya sampe lupa. Ini Dicky. Dia kakak kelas sekaligus ketua di bidang kegiatan tempat gue di OSIS” ucap Reina memperkenalkan Dicky. “Dicky, ini kakak gue, namanya Reza. Harusnya dia sekolah di Bandung, tapi ini gue juga bingung kenapa dia ada disini” lanjutnya memperkenalkan Reza.
“Siang. Salam kenal” ucap Dicky mengulurkan tangan sambil tersenyum kecil.
“iya” jawab Reza terkesan acuh tak acuh dan tidak balas mengulurkan tangannya.
Reina mendelik kesal ke arah kakaknya. Dicky tersenyum kecut. “yaudah, gue pamit. Na, gue balik ya”
“hati-hati, ky. Kalo lo bawa motornya kaya tadi, bisa gak selamat lo” saut Reina bercanda.
“sip, bos. Haha” saut Dicky lalu memacu motornya menjauhi rumah Reina.
“ayo masuk” ajak Reza menggenggam tangan Reina dan menarik Reina dengan lembut untuk masuk ke dalam rumah.
“kakak kok jutek gitu sih sama Dicky?” protes Reina.
“gue gak suka liat dia lancang banget megang-megang lo. Udah gue duga, gak aman lo gue tinggal sendiri di sini. Makanya gue mutusin buat pindah ke sini lagi. Karena mama papa gak setuju, gue buat onar di Bandung dan akhirnya gue disuruh ke Jakarta lagi” jelas Reza.
“itu biasa loh ka. Gue juga udah deket sama dia. Kaka baru ketemu sekali, gak bisa langsung ngecap dia jelek” saut Reina.
“kalo gue gak suka, tandanya lo harus nurutin gue. Gue mau yang terbaik buat lo, na” saut Reza menatap adiknya dengan penuh kasih sayang.
“dasar sister complex. Udah bagus lo di Bandung, malah ikutan ke sini” gumam Reina kesal. Reza ini memang sayang sekali sama Reina. Tapi caranya salah. Ia terlalu mengkekang Reina. Terlalu khawatir dengan keadaan Reina padahal Reina baik-baik saja.
“lo kan udah kelas 12. Apa bisa lo pindah? Kan nama lo udah ke daftar jadi murid di sana” lanjut Reina penasaran.
“papa udah daftarin kita ke sekolahan lo dan urus semuanya. Dikasih duit juga semuanya jadi beres. Besok kita berangkat bareng” ucap Reza tidak mendengar gumaman Reina.
Reina menatap Reza dengan bingung. “Kita?” Tiba-tiba saja ada satu nama yang terlintas di otaknya. “Jangan bilang kalo...”
“iya. Gue juga pindah ke sini!” teriak seorang cowok membuka pintu depan dengan wajah gembira. Dan kebetulan Reza dan Reina sudah berdiri di depan pintu.
“Ilham?! Astagaaa” teriak Reina kesal tapi terdengar pasrah.
***
Setiap Reina lewat, orang-orang pasti akan memerhatikannya. Bahkan tidak jarang ada yang sampai berbisik-bisik setelah Reina melewatinya. Reina memasang wajah cemberut dan berusaha berjalan lebih cepat agar ia bisa segera menyelesaikan tugasnya ini.
Setelah sampai di kantor kepala sekolah, Reina mengetuk pintunya. Terdengar suara seorang lelaki tua menyahut dan Reina masuk ke dalam kantor tersebut. “Pak, ini kakak-kakak saya sudah saya antar ke sini” ucap Reina sopan.
“terima kasih, Reina. kamu bisa masuk ke kelas. Jam pelajaran akan di mulai” ucap Pak Raldo dengan berwibawa.
Reina mengangguk sekilas lalu meninggalkan ruangan ini dan kedua kakaknya yang terlihat santai.
Reina berjalan sambil bersungut-sungut. Ia bisa mengetahui apa yang akan terjadi setelah Reza dan Ilham akan satu sekolah dengannya. Ia bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi saat ia masih duduk di bangku SD dan SMP. Ia selalu satu sekolah dengan kedua kakaknya ini. Dan parahnya, kedua kakaknya ini terlalu over protective terhadapnya. Kemana-mana mereka selalu mengawalnya.
Saat baru masuk SMA, Reina merengek kepada kedua orang tuanya agar tidak bersekolah di tempat yang sama dengan kedua kakaknya dan pindah dari Bandung. Kedua orang tuanya pun mengerti dan mengirim Reina ke Jakarta agar lebih mandiri. Reina pun dititipkan kepada tantenya yang ada di Jakarta, yaitu tempat tinggalnya sekarang. Setiap liburan, kedua orang tua Reina dan kedua kakaknya menjenguknya ke Jakarta.
Dan tiba-tiba saja ditengah semester, kedua kakaknya pindah ke Jakarta dan tinggal bersamanya. Bisa dipastikan kejadian sewaktu SD dan SMP akan terulang kembali. Reina langsung menelpon kedua orang tuanya dan memprotes keputusan papanya yang memindahkan Reza dan Ilham ke Jakarta. Papa menjelaskan kalau ia memindahkan Reza ke Jakarta karena ia sudah terkenal badung di Bandung. Dan ia juga memindahkan Ilham karena ia merasa kalau lebih baik Reza, Ilham, dan Reina kembali bersama.
Reina mendecak kesal begitu mendengar alasan papanya. Lebih baik bersama-sama? Apa mereka tidak melihat bagaimana tersiksanya Reina yang selalu dikekang kedua kakaknya itu? Reina benar-benar tidak habis pikir dengan alasan itu.
***
Begitu istirahat, Dicky langsung menghampiri kelas Reina dengan terburu-buru. Begitu sampai, ia memunculkan wajahnya di depan pintu.
Tamara langsung menghampirinya. “ky, kantin bareng yuk!” ajak Tamara.
“sorry, ra. Gue ada urusan sama Reina. Bisa panggilin dia gak?” ucap Dicky sedikit tidak enak.
“Reina! Lo dipanggil” panggil Tamara terdengar malas.
Reina menatap sinis ke arah Tamara. Ia berjalan ke pintu dan melihat ada Dicky disana. Ia langsung tersenyum manis. “lo manggil gue? Ada apa, ky?”
“sok manis” desis Tamara sinis yang hanya didengar oleh Reina. Reina hanya memasang wajah acuh tak acuh. Tamara masuk kembali ke dalam kelas dengan wajah kesal. Tiba-tiba saja ia teringat kata-kata Bisma kemarin. Sial! Pasti Reina sudah menceritakan semuanya sampai Bisma tau kalau ia menyukai cowok itu. Bahkan cowok itu juga membahas tentang perang dingin antaranya dengan Reina. Setelah ia ditegur Bisma, bukannya dia ingin berbaikan dengan Reina. Perasaan bencinya semakin parah. Lagi-lagi Tamara salah paham. Missunderstand...
“Na, tadi gue ngeliat kakak lo masuk ke kelas Bisma. Dia daftar sekolah disini?” tanya Dicky semangat.
Reina langsung memasang wajah kesal. “gue kira apaan. Gak taunya lo bahas dia”
“kenapa sih? Dia kan kakak lo. Kemarin lo juga keliatan senang begitu liat dia. Emang ada apa sih?” tanya Dicky mengeluarkan jurus ingin tahunya.
“dia over protektif banget ke gue. Kemana-mana gue harus sama dia. Gak boleh ini-itu yang gak disukai dia. Dan kakak gue gak cuma satu yang kaya gitu. Gimana gue gak kesel?” cerita Reina.
“gak cuma satu? Maksudnya?” tanya Dicky heran.
“Reina! Ternyata kelas lo di sini. Hebat juga ya lo. Gue tanyain anak-anak di sini dimana kelas lo, mereka pada tau. Lo anak eksis ya? Nurun dari gue dong” saut Ilham menghampiri Reina dengan wajah gembiranya.
“lo lagi?” seru Reza terlihat kesal begitu melihat Dicky ada di sana.
“tuh kan. baru diomongin langsung muncul” desis Reina pada Dicky. Dicky hanya meringis kecil.
“eh, Reza. Hehe” ucap Dicky tersenyum kecil.
“loh? lo kenal dia, za? Kenal dimana?” saut Ilham bingung.
“kemarin dia nganterin Reina pulang. Dan mereka keliatan mesra” ucap Reza datar.
Reina melotot ke arah Reza. “ka, gue gak keliatan mesra sama Dicky!” saut Reina marah.
“diliat dari mata gue, kalian mesra” jawab Reza.
“oh lo sekarang udah berani ya pacaran. Kan udah kita bilang, lebih baik lo belajar dulu, baru mikir gituan. Lo masih kecil, na” saut Ilham menasehati Reina.
“gue gak pacaran dan gue udah besar. Kalian jangan lebay gini deh. Ini urusan gue” saut Reina.
“sejak kapan lo berani nentang kita? Diajari cowok ini?” tanya Reza melirik sinis ke arah Dicky.
Dicky hanya bisa diam. Entah kenapa ia sedikit tidak berani menentang. Sudah terlihat jelas kalau Reza dan Ilham terlalu menyayangi Reina sampai benar-benar ingin melindunginya. Ia tidak mungkin menentang kedua orang itu. bisa habis ia dipukuli mereka berdua.
“udah ya, ka. Gue gak diajari siapa-siapa. Gue emang kaya gini. Please, kalian ngertiin gue” ucap Reina memelas kepada kedua kakaknya.
“lebih baik lo pergi aja deh. Ngerusak lo!” usir Ilham pada Dicky.
“permisi” ucap Dicky pelan lalu pergi menjauh.
“ky, nanti kita pulang bareng!” teriak Reina.
“gak! Lo pulang bareng kita” saut Reza menatap Reina dengan tajam. Dicky yang mendengar itu langsung tersenyum pada Reina dan mulutnya bergerak seperti mengatakan, ‘lo bareng kakak lo aja’. Setelah memastikan kalau Reina melihat gerak mulutnya, ia berjalan mnjauh.
“sampe kapan kalian ngejagain gue kaya gini? Gue udah besar. Gue gak perlu kemana-mana selalu bareng kalian. Gue risih” saut Reina marah.
“kita sayang sama lo dan kita gak mau lo kenapa-napa. Jadi lo harus nurutin kita” saut Ilham menggenggam tangan kanan Reina dengan lembut. Ia juga tersenyum tipis.
“sekarang kita ke kantin” ajak Reza ikut menggenggam tangan kiri Reina. Suaranya sudah lebih tenang dari sebelumnya. Wajahnya juga sudah menunjukkan kalau ia benar-benar menyayangi adik perempuannya itu.
Reina menghela nafas dengan pasrah. Dibiarkannya kedua kakaknya itu menariknya ke kantin. Sepertinya Reza dan Ilham sudah diajak berkeliling oleh seseorang dan sudah mengetahui seluruh isi sekolah barunya itu.
Tamara keluar dari kelasnya sambil tersenyum tipis. Ia bisa mendengar semua percakapan itu dari dalam kelas dan ia pun tersenyum puas. Rasanya ia tidak perlu melakukan apapun untuk memisahkan Reina dengan Dicky ataupun dengan Bisma. Karena Reza dan Ilham akan melakukan itu semua.
***
“Bisma!” teriak Reina begitu melihat sosok Bisma.
Bisma menoleh kebingungan mencari siapa yang memanggilnya. Reina yang menyadari itu langsung memunculkan sedikit wajahnya dari balik pohon dan mendesis kembali memanggil nama Bisma.
“Reina? ngapain lo dibalik pohon gitu?” saut Bisma ketika sudah melihat Reina.
“mana mobil lo? cepet gak pake banyak omong bawa kesini! Gue mau numpang” desis Reina dengan terburu-buru.
Bisma ingin bertanya lebih jauh, tapi tiba-tiba saja ia langsung berlari menuju parkiran dan membawa mobilnya ke tempat Reina bersembunyi. Dengan gesit Reina masuk ke dalam mobil. Ntah karena apa, Bisma langsung menjalankan mobilnya dengan terburu-buru seakan mengerti apa yang akan dikatakan Reina.
Reina menghela nafas lega. Memang dari tadi ia merasa seperti sedang menahan nafas karena terlalu tegang.
“sekarang lo mau cerita?” ucap Bisma menoleh sekilas ke Reina lalu kembali fokus menyetir.
“tadi gue lagi kabur dari kakak-kakak gue yang protektif banget ke gue” jelas Reina singkat. Ia sedang tidak ingin membahas kedua kakaknya itu.
“kakak-kakak lo? Lo punya kakak? Lebih dari satu?” tanya Bisma sedikit kaget.
“ya begitulah. Kata Dicky, kakak gue ada sekelas sama lo” jawab Reina.
“sekelas sama gue...” Bisma terlihat sedikit mengingat. “oh! Reza anak baru itu? dia kakak lo?”
“iya. Kenapa? Tingkahnya memalukan yah? Wajar” saut Reina malas.
“bukan. Dia asik diajak ngobrol. Gue sempet ngajak dia keliling sekolah sebelum bel masuk” saut Bisma dengan semangat.
Reina menganga tidak percaya. “dia a-s-i-k?”
“iya. Kenapa lo kabur dari dia? Harusnya lo seneng punya kakak kaya dia” saut Bisma
“seneng apanya! Dia protektif banget ke gue. Apalagi kalo udah gabung sama Ilham. Aduh, mampus gue. Kemana-mana harus bertiga. Kalo gue lagi jalan sama temen, pasti dibuntutin” sungut Reina.
“Ilham? Kakak lo juga ya? Kelas berapa? Masa sih sampe segitunya?”
“iya. Dia kelas 11. Lo sih gak tau gimana kronologisnya. Tanya Dicky aja deh. Gue udah cerita semuanya ke dia tadi waktu istirahat. Males gue ceritain 2 orang itu terus”
Bisma hanya diam. Terbesit perasaan kecewa dalam hatinya. Ia mencoba untuk mengerti kalau Reina memang meyukai Dicky, bukan dirinya. Pasti Reina sudah menceritakan semua tentang dirinya pada Dicky. Untuk apa menceritakannya pada Bisma? Bukannya ia tidak berguna untuk gadis itu?
“Bis, kanan!” perintah Reina tiba-tiba saja.
Dengan spontan Bisma membelokkan mobil ke arah kanan. “rumah lo kan lurus. Ngapain belok ke kanan?”
“gue males cepet-cepet pulang. Pasti tuh 2 orang udah pada di rumah terus nanya macam-macam ke gue dan juga ke lo begitu nanti kita sampe. Jadi kita mampir dulu ke taman yang waktu itu. masih ingat jalannya kan?” jelas Reina.
Bisma mengangguk kecil. Ia memfokuskan diri untuk menyetir, sementara Reina sibuk dengan handphonenya. Ntah apa yang dilakukan gadis itu tapi benar-benar terlihat sibuk.
Setelah beberapa menit, Reina berhenti melakukan kegiatannya dengan handphonenya itu, karena batrainya sudah habis. Ia menatap jalan di depannya dengan bingung. “Bis, kok lama sih sampenya? Perasaan tadi harusnya dkit lagi sampe”
“na, kayanya kita salah jalan deh” ucap Bisma pelan.
“salah jalan?! Pantes gue gak pernah liat jalan ini. Jadi gimana dong?” tanya Reina dengan panik.
“udah jangan panik. Kita pake gps. Hp lo bisa kan?” saut Bisma menepikan mobilnya dipinggir jalan.
“barusan aja mati. Batrenya udah habis” jawab Reina dengan lemah.
“Hp gue gak ada pulsa. Batrenya juga udah tinggal dikit banget. Udah pasti gak sanggup buat gps lagi” saut Bisma.
“coba kartu gue pindah ketempat lo. Coba telpon siapa pun dan minta tolong sama mereka buat jemput kita kesini. Mungkin batrenya masih cukup” saran Reina sambil memberikan SIM Cardnya pada Bisma.
Setelah dipasang, Bisma menekan beberapa tombol lalu meletakkan handphone itu ditelinganya. Terdengar suara sambungan yang tak lama kemudian diangkat oleh seseorang di seberang sana.
“Dicky, tolongin gue! Gue sama Reina nyasar di jalan kearah taman waktu itu. si Reina suntuk terus ngajakin ke sana. Kayanya gue salah belok. Disini sepi banget. Gak ada mobil lewat. Tolong susul kita” saut Bisma yang ternyata menelpon Dicky.
“...............”
“tandanya? Disini ada banyak...” Bisma diam sebentar lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, diikuti dengan Reina. “ada banyak pohon-pohonan gitu. Kaya mau masuk ke hutan. Cuma jalannya diaspal. Pokoknya tadi kita tujuannya ke taman yang waktu itu, cuma gue salah arah.” Jelas Bisma.
“...............”
“tanda yang lain? Ada...” tiba-tiba saja sambungan telepon terputus. Bisma mengecek handphonenya lalu merutuki diri. “sial! Batrenya habis, na”
“terus gimana ini, Bis? Apa kita bisa pulang ke rumah masing-masing? Gue takut” ucap Reina pelan.
Bisma menatap Reina dengan penuh penyesalan. “maaf, na. Gak seharusnya gue sok tau soal jalannya tadi. Gue gak enak mau nanya ke lo, habis lo keliatan sibuk banget sama hp lo itu” ucap Bisma menyesal.
Reina hanya mengangguk kecil. “sepenuhnya bukan salah lo. Ini salah gue juga gak mau liatin jalan dari tadi”
“yaudah, sekarang kita tunggu Dicky dateng ke sini. Gue yakin dia pasti bisa nemuin kita disini. Kita berdoa aja” ucap Bisma mengelus rambut Reina dengan lembut.
“amin” ucap Reina pelan lalu tersenyum kecil membalas senyuman Bisma.
***
Dicky terus mencari informasi tentang jalan-jalan yang ada di sekitar taman tersebut. Seharian ia kesana kemari mencari informasi, namun ia belum mendapatkan informasi apapun. Ia terus mencoba menghubungi nomor Bisma maupun Reina, tapi tidak mendapatkan hasil apa-apa. Ia juga terus mencoba mengingat jalan menuju taman itu, tapi ia tidak mengingatnya sama sekali.
Dengan sedikit ragu Dicky mendatangi rumah Reina. Saat ini sudah sore. Lebih dari 3 jam yang lalu saat Bisma meneleponnya tadi. Ia berniat untuk memberitahu kedua kakak Reina bagaimana kondisi adiknya itu sekarang. Ia tahu pasti kalau Reza dan Ilham sedang khawatir menunggu Reina pulang ke rumah.
Dicky menekan bel rumah Reina. Beberapa saat kemudian pintu dibuka dan muncul wajah Ilham dibaliknya. Awalnya Ilham merasa senang karena mengira yang datang adalah Reina. ia langsung memasang wajah kecut begitu melihat wajah Dicky.
“Mana Reina? Dia belum pulang dari tadi. Pasti sama lo, kan?” saut Ilham ketus.
“itu yang buat gue dateng kesini. Tadi gue dapat telpon dari Bisma, orang yang bareng Reina sekarang, kalau mereka nyasar di sekitar taman tempat biasa Reina nongkrong. Katanya jalanan disana sepi banget. Cuma ada pohon-pohonan aja” cerita Dicky.
Ilham terdiam sebentar mencoba menatap mata Dicky. Lalu tiba-tiba saja ia masuk ke dalam rumah membuat Dicky kebingungan. Namun beberapa menit kemudian Ilham muncul kembali bersama Reza dan ditangannya ia memegang kunci mobil.
“jadi, lo tau soal taman itu?” tanya Reza yang sepertinya sudah tau apa yang Dicky ceritakan tadi pada Ilham.
“gue tau. Cuma gue lupa jalan ke sananya. Gue cuma sekali diajak ke sana sama Reina” jawab Dicky.
“apa gak ada orang lain yang pernah ke taman itu selain lo dan Reina?” tanya Ilham.
“Bisma pernah. Tapi dia nyasar bareng Reina” jawab Dicky. Ia terlihat mengingat perkataan Reina saat mereka berada di taman itu. “oh ya! Ada sahabatnya yang sering ke sana bareng Reina. Namanya Tamara” lanjutnya.
“lo tau rumah dia di mana?” tanya Reza sedikit berharap. Perasaannya sudah tidak karuan. Ia merasa khawatir dengan keadaan Reina sekarang.
“iya, gue tau” jawab Dicky dengan singkat.
“sekarang anter gue ke sana. Cepat!” saut Reza merebut kunci mobil yang ada ditangan Ilham. Dicky dan Ilham langsung mengikuti Reza dan naik ke mobil yang meluncur menuju rumah Tamara.
***
“ke taman tempat gue nongkrong sama Reina? Ngapain?” tanya Tamara mengernyit bingung. Ia sedikit heran melihat Dicky dan kedua kakak Reina tiba-tiba saja menghampiri rumahnya. Dan ia semakin heran melihat kedua kakak Reina tidak memasang wajah kesal kepada Dicky.
“Reina nyasar waktu dia mau ke taman itu” jawab Dicky.
“dia nyasar? Mana mungkin. Dia yang paling tau jalan ke sana” saut Tamara.
“tapi dia bareng Bisma. Bisma salah belok. Dan mungkin Reina gak liat jalan, jadi gak tau kalo Bisma salah jalan” saut Dicky tidak sabar. “sekarang anterin kita ke sana. Gue yakin lo pasti tau jalan-jalan di daerah sana”
Begitu mendengar nama Bisma, Tamara langsung memanas. “oke, gue tau jalan-jalan di daerah sana. ayo berangkat!” saut Tamara.
Reza langsung menghidupkan mesin mobilnya dan menunggu semuanya naik ke dalam mobilnya. Dengan arahan Tamara, mereka semua sampai di taman. Mereka terus menyusuri jalanan disekitar taman itu yang mungkin bisa membuat orang tersesat. Dan mereka menemukan sebuah mobil terparkir di pinggir jalan.
TO BE CONTINUED