Jumat, 17 Mei 2013

Missunderstand (Part 5)

Sore menjelang malam. Langit berubah menjadi gelap. Reina telah tertidur dengan lelap. Mungkin ia lelah menunggu. Bisma masih terjaga dan melihat daerah sekelilingnya, takut ada orang yang berniat jahat pada mereka. Ia ingin segera pergi dari tempat ini. Namun ia takut mereka akan lebih tersesat daripada sebelumnya.
Bisma mencari sesuatu dikantong joknya. Sebuah jaket. Ia menutupi tubuh Reina dengan jaket itu lalu memandangi wajah gadis itu dengan lembut. Tiba-tiba saja hatinya merasa perih mengingat Reina menyukai Dicky, bukan dirinya.
“Maybe I annoy you with my choices. Well, you annoy me sometimes too with your voice. But that ain't enough for me to move out and move on. I'm just gonna love you like the woman I love~” Bisma melantunkan sebuah lagu kesukaannya dengan pelan sambil menatap Reina.
“We don't have to hurry. You can take as long as you want. I'm holdin' steady. My heart's at home. With my hand behind you. I will catch you if you fall. Yeah I'm gonna love you like the woman I love~” tangan Bisma mulai menyentuh rambut Reina dengan lembut.
“Sometimes the world can make you feel. You're not welcome anymore. And you beat yourself up. You let yourself get mad. And in those times when you stop lovin'. That woman I adore. You can relax. Because, babe, I got your back. Uh, I got you. Uh, Yeah~” Bisma tersenyum kecil.
“I don't wish to change you. You've got it under control. You wake up each day different. Another reason for me to keep holdin' on. I'm not attached to any way you're showing up. I'm just gonna love you like the woman I love. Yeah I'm gonna love you. Oh, Yeah I'm gonna love you 'cause you're the woman I love~” Bisma mengakhiri lagunya dengan sebuah kecupan di kening yang sangat lama dan tersirat ketulusan.
Bukkk!! Terdengar suara benda yang dipukul-pukul berkali-kali dengan kuat dari berbagai arah. Bisma menjauhkan diri dari Reina dan menatap ke sekelilingnya. Terlihat wajah-wajah penuh kemarahan dari Reza dan Ilham. Reina terbangun. Dengan segera Bisma keluar dari mobil.
“lo mau ngapain adek gue?!” saut Reza langsung emosi menarik kerah seragam yang dipakai Bisma.
Dengan terburu-buru Reina keluar dari mobil. Ia langsung disambut dengan tatapan tajam dari Tamara. Tapi ia tidak memperdulikan hal itu. ia segera menuju ke arah Reza dan Bisma. “kak! Ada apa ini?” saut Reina berusaha menjauhkan Reza dari Bisma.
“na, lo gak sadar kan sama apa yang udah dia lakuin? Dia mau melecehkan lo” saut Ilham menarik Reina menjauh dari Reza dan Bisma.
Reina memandang Bisma dengan tidak percaya. “Bis, itu gak bener, kan?” tanya Reina dengan ragu.
“gak, na. Gue gak ada niat buat melecehkan lo” jawab Bisma meyakinkan Reina.
Bugh!!! Reza meninju pipi Bisma dengan kuat. Sudut bibir Bisma langsung mengeluarkan darah.
“kak! Gue percaya sama Bisma. Lepasin dia!” saut Reina melepaskan tangan Ilham dari tangannya lalu menarik Reza menjauh dari Bisma.
“bisa-bisanya lo percaya sama dia. Lo gak liat. Kita yang ngeliat!” saut Reza emosi.
“kalian mungkin salah paham. Bisma baik sama gue dan gue percaya sama dia!” saut Reina ikutan emosi.
“lo lebih percaya sama dia daripada kakak lo sendiri?!” teriak Reza semakin emosi.
“kak, liat ke belakang! Lo pernah mukulin anak orang karena dia nolongin gue pas kepleset dan hampir jatuh. Lo malah ngira dia meluk gue. Lo pernah buat orang masuk rumah sakit karena lo ngira dia mau macem-macem sama gue padahal dia cuma mau bantuin gue mungutin buku. Lo terlalu khawatir sama gue! Terlalu berlebihan, kak” saut Reina.
Semuanya terdiam. Reina mendekati Bisma dan menyentuh luka di sudut bibir cowok itu dengan pelan. Bisma sedikit meringis. “di mobil lo ada kotak P3K?” tanya Reina.
“ada di jok belakang” jawab Bisma pelan. Reina segera mengambil kotak itu dan mengobati luka Bisma dengan lembut. Sesekali terdengar suara Bisma yang meringis kesakitan. Yang lain hanya bisa menatap kejadian itu dalam diam.
Dicky dan Tamara menatap Reina dan Bisma dengan hati panas. Tamara tidak suka melihat Reina yang dengan romantisnya mengobati luka Bisma. Sementara Dicky tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak melihat adegan di depannya ini.
“udah. Biar cewek itu aja yang ngobatin luka Bisma. Lo pulang sama gue” ucap Reza dengan tenang menarik Reina mendekat kearahnya.
Tamara tersenyum tipis lalu mengambil kapas yang dipegang Reina dan menghampiri Bisma untuk mengobati lukanya. Bisma hanya bisa pasrah.
“tapi nanti Bisma nyasar lagi kalo gak bareng kita” saut Reina.
“tadi cewek itu yang nunjukin jalan kesini, jadi pasti mereka berdua aman tanpa kita. Reza juga udah hapal jalan buat balik ke rumah” saut Ilham.
Dengan pasrah Reina masuk ke dalam mobil Reza.
“za, gue masih ikut sama lo, kan? tadi berangkatnya bareng” saut Dicky akhirnya bersuara.
“iya. Cepetan naik!” saut Reza mulai sedikit melunak pada Dicky. mungkin karena Dicky sudah membantunya mencari Reina.
Dengan sigap Dicky naik ke dalam mobil dan duduk di sebelah Reina. “lo gak kenapa-napa, kan?” tanya Dicky.
Reina menoleh ke Dicky. “iya. Gue gak papa. Cuma capek aja nunggu 3 jam lebih terus dibuat emosi” jawab Reina tersenyum tipis.
Dicky melirik Reza dan Ilham yang masih di luar mobil. “emang dulu kakak lo pernah buat orang masuk rumah sakit?” bisik Dicky.
“ya gitu. Dia negative thinking terus. Jadinya kalo ada cowok yang deket sama gue, pasti dia bonyokin. Gue juga heran” jawab Reina berbisik juga.
“ambil positivenya aja. tandanya kakak lo sayang banget sama lo. Cuma ya caranya aja yang salah” ucap Dicky tersenyum kecil.
“iya gue tau. Thanks. Pasti karena lo gue jadi bisa pulang gini” ucap Reina dengan tulus.
“bisa aja lo” saut Dicky tertawa sambil mengacak-acak rambut Reina dengan lembut.
“uhuk!” Ilham terbatuk-batuk dengan sengaja menghentikan kegiatan Dicky dengan seketika. Tangan Dicky yang awalnya ada di kepala Reina, langsung ia tarik menjauh.
Dicky dan Reina saling melirik ketakutan. Lalu tiba-tiba saja mereka tertawa pelan bersama-sama menertawakan wajah ketakutan mereka berdua.
***
“awas ya kalo lo berani kabur dari kita. Kemarin lo dapet karma makanya jadi nyasar” saut Reza berjalan di kanan Reina.
“kalo lo kabur lagi, bukan sekedar nyasar lagi. mungkin lebih parah dari itu. mending cari amannya aja deh, yaitu pulang bareng kita berdua” saut Ilham yang ada di kiri Reina.
“oke.. gue pulang bareng kalian. Tapi di sekolah, gue gak mau dibuntutin kalian terus. Kalian kaya gak ada kerjaan aja” saut Reina. “janji ya? Kalo gak, gue gak mau pulang bareng kalian” lanjut Reina sebelum masuk ke dalam kelasnya.
Dengan pasrah Reza dan Ilham mengangguk setuju. Ilham berjalan menuju kelasnya.
“na, gue mau tanya sesuatu sama lo” ucap Reza masih belum pergi untuk masuk ke dalam kelas.
“nanya apaan?” tanya Reina penasaran.
“lo suka Dicky atau Bisma? Jujur sama gue. Gue gak akan berbuat apa-apa sama kedua cowok itu kok” ucap Reza.
Hanna tersentak kaget. “buat apa nanya gitu? Penting buat lo?” tanya Reina dengan takut.
“na, jangan takut. Gue kakak lo. gue Cuma mau tau apa yang ada di dalam hati lo. itu aja”
“gue...” Reina memandang Reza dengan ragu. “gue suka sama Dicky, kak”
Reza mengangguk tanda mengerti. “semoga lo pilih keputusan yang tepat. Jangan sampe ada satupun yang tersakiti. Gue ngerasa lo mulai ragu sama perasaan lo. Lo udah mulai tertarik sama orang lain, kan?”
Reina memandang kakaknya dengan heran. “maksud lo apa?”
“nantinya lo juga tau. sekarang pastiin perasaan lo gimana. Gue gak mau lo sampe stres cuma karena cowok” ucap Reza lalu mencium puncak kepala Reina dengan cepat. Lalu ia pergi diiringi tawa kecil, karena melihat wajah Reina yang lucu saat terkesiap kaget.
“dasar. Kok bisa gue punya kakak kaya gitu. Mana omongannya aneh lagi” gumam Reina menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran. Saat ia ingin masuk, tiba-tiba saja ada yang menyentuh pundaknya dan menahannya untuk masuk ke dalam kelas.
“mau ngapain lo megang-megang gue?” saut Reina dengan sinis begitu melihat orang yang menahannya itu.
“gue ada urusan sama lo” saut Tamara langsung menarik Reina dengan sedikit memaksa tidak membiarkan Reina meletakkan tasnya terlebih dahulu.
“seberapa penting sih? Gue mau masuk kelas” saut Reina menghentakkan tangannya agar terlepas dari pegangan Tamara.
“jangan pernah lo deketin Bisma lagi. apa gak cukup lo deket sama Diki? Apa gak cukup dua kakak lo yang sayang sama lo?” saut Tamara emosi.
“terserah gue dong. Apa salah gue nyari banyak temen?” balas Reina.
“lo itu serakah! Lo selalu liat diri lo sendiri. lo gak pernah ngerasain jadi orang yang gak diperduliin! Lo hidup dengan semua kemewahan yang gue mau! Apa lo gak bisa peka sama keadaan orang lain? Lo orang paling egois yang pernah gue kenal dan gue nyesel kenal sama lo!” teriak Tamara dengan mata berkaca-kaca. Dengan gusar ia meninggalkan Reina di tengah koridor sendirian. Beberapa orang yang lewat langsung berbisik-bisik begitu melihat keributan antara Tamara dan Reina.
“dia nangis?” gumam Reina pelan. Tiba-tiba saja terbesit rasa penyesalan dalam dirinya.
***
Reina berjalan keluar gerbang dengan perasaan hampa. Di kedua sisinya ada Reza dan Ilham yang terus saja bergantian menceritakan apa yang mereka lakukan hari ini pada Reina. Namun Reina sama sekali tidak mendengarnya.
“Reina!” panggil Reza membuat Reina terkejut.
“apa?”
“kenapa sih lo? ngelamun gak jelas gitu” saut Ilham penasaran.
“gue lagi mikirin kata-kata temen gue kak. Apa gue gak peka sama keadaan orang lain? Apa gue serakah? Apa gue egois?” ucap Reina memandang kedua kakaknya itu.
Reza merangkul Hanna dengan lembut. “lo itu bukannya gak peka, egois, ataupun serakah. Tapi lo belum sadar atau lo belum merhatiin lingkungan di sekitar lo. Gak semuanya punya apa yang lo punya. Gak semua orang punya pikiran yang sama kaya pikiran lo. Jadi lo harus bisa menyesuaikan diri di antara orang-orang yang gak sama kaya lo”
“mungkin mereka yang bilang lo serakah, egois, atau yang lain itu karena dia iri sama lo yang punya semua yang dia mau. Dia pengen jadi lo. tapi mungkin lo gak sadar. Jadi dia mikir kalo lo sengaja nunjukin ke dia kalo lo itu punya apa yang dia mau. Jadi dia benci sama lo karena ngira lo sombong” lanjut Ilham.
“kalo gitu, kenapa kalian gak bisa menyesuaikan diri sama lingkungan? Kalian selalu overprotektif ke gue. Harusnya kalian sadar gue gak nyaman digituin” ucap Reina polos.
Reza dan Ilham tertawa kecil. “bukannya gak bisa, tapi belum bisa. Kita berdua tau banget kalo lo gak suka tanpa lo bilang. Tapi gue sama Reza kaya gini karena kita takut lo kenapa-kenapa. Kita pernah hampir kehilangan lo karena kesalahan kita berdua. Makanya mulai dari waktu itu, kita bertekad buat jagain lo mati-matian. Apapun yang terjadi” ucap Reza disetujui oleh Ilham.
Reina mengerutkan keningnya. “hampir kehilangan gue?”
Dengan pelan Reza mengangguk. “waktu itu, umur lo masih 4 tahun. Gue udah 6 tahun, sedangkan Ilham 5 tahun. Papa mama sibuk buat acara syukuran untuk hari ultah lo. gue disuruh jagain lo sama Ilham. Tapi gue yang masih kecil ngerasa kesel karena mau main gak dibolehin sama mama papa. Gue sama Ilham belum ngerti kalo lo adik kita berdua. Akhirnya gue ninggalin lo dan main berdua sama Ilham. Lo yang gak tau apa-apa nyoba jalan ketengah jalan raya. Disitu gue sama Ilham belum sadar. Tapi tiba-tiba aja mama teriak dan langsung lari ke tengah jalan buat nyelamatin lo yang udah tergeletak karena ditabrak mobil. Papa marah besar sama kita berdua. Tapi mama belain kita karena emang mama sadar kalau dia yang salah nyuruh kita yang masih kecil buat jagain lo” cerita Reza.
“kita disuruh ngelupain kejadian ini. Tapi kita berdua tetep gak bisa lupain semuanya. Masih teringat jelas tubuh lo yang kecil dulu bersimbah darah karena kita gak mau jagain lo. coba lo raba-raba kepala lo yang dekat telinga kanan. Botak gak?” ucap Ilham.
Reina meraba bagian kepalanya yang dekat dengan telinga kanannya. “iya. Gue ngerasa gak ada rambut yang tumbuh di sini” ucap Reina.
“itu bekas jahitan karena tabrakan itu. untung rambut lo tebal, jadi botaknya itu ketutupan” jelas Ilham.
“kita berdua selalu ingat kejadian itu. dan itu yang buat kita protektif banget sama lo. kita gak mau kejadian itu terulang lagi. Mau itu karena gue, Ilham, ataupun orang lain” ucap Reza tersenyum tipis.
Reina memandang keduanya dengan terharu. “maaf kalo gue ngerasa gak nyaman sama niat baik kalian. Ternyata kalian sayang banget sama gue”
“mana mungkin seorang kakak gak sayang sama adiknya sendiri” ucap Ilham mengacak-acak rambut Reina.
“kalian so sweet banget. Jadi terharu” ucap Reina langsung memeluk kedua kakaknya itu dengan erat.
Reza dan Ilham saling memandang. Ada sepotong cerita lagi yang belum mereka katakan. Dan jika sepotong cerita itu kembali pada gadis itu, kehidupan Reina pasti akan berubah drastis.
***
Reina berjalan sepanjang koridor dengan wajah ceria. Ia sudah merubah sudut pandangnya terhadap kedua kakaknya dengan baik. Sekarang semuanya berubah. Ia merasa senang jika Reza dan Ilham ada di sampingnya. Tidak lagi merasa harus kabur dari kedua orang itu.
Ketika Reina sedang berjalan di lapangan upacara menuju kantin, tiba-tiba saja ada yang mendorong Reina hingga kepalanya terbentur tiang bendera di hadapannya. Samar-sama ia melihat seorang perempuan yang sekarang berada di depannya. Kepalanya serasa berputar-putar karena terbentur cukup keras. Lalu ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tidak sadarkan diri.
Tamara tersenyum kecil menatap Reina yang tergeletak pingsan. Kepala Reina sedikit berdarah ditempat ia terbentur tadi. Ternyata Tamara yang telah sengaja mendorongnya hingga kepala Reina membentur tiang bendera dengan sangat kuat. Dengan terburu-buru Tamara meninggalkan Reina sendirian di tengah lapangan yang sangat panas itu.
***
Reina membuka matanya dengan perlahan. Ia sedikit mengerjap membiasakan matanya dengan cahaya lampu yang terang. Lama-lama ia bisa melihat orang yang sedang menatapnya dengan cemas.
“Reina! Lo gak papa kan?” tanya seseorang itu yang ternyata adalah Dicky.
Reina meringis pelan sambil memegang kepalanya yang sudah diperban. “iya, gue gak papa ky. Cuma sedikit pusing aja” jawab Reina.
“lo sih aneh. Bisa-bisanya tergeletak di tengah lapangan gitu dengan kepala berdarah” saut Dicky.
Reina mengingat-ingat. “seingat gue, gue ada didorong sama cewek. Cuma gue gak tau siapa” ucap Reina lirih.
“lo gak usah mikirin itu dulu deh. Lo istirahat aja disini” ucap Dicky mengelus rambut Reina dengan lembut.
Reina tersenyum tipis.
“yaudah, gue balik ke kelas yaa.. baik-baik lo disini” ucap Dicky tertawa geli dengan ucapannya sendiri.
“gue sebenarnya masih pengen disini. Lumayan bisa bolos pelajaran pak Ron yang gak jelas itu”
Reina memandang punggung Dicky yang hendak keluar dari ruang UKS. “yaudah kalo lo masih mau disini” ucap Reina.
Dicky menoleh memasang wajah kaget. “hah?” tanyanya dengan wajah heran.
“Gak suka pelajarannya pak Ron, kan?” tanya Reina membuat Dicky semakin heran.
“kok lo tau?”
“lah? kan tadi lo sendiri yang bilang ke gue. aneh deh lo” saut Reina ikutan bingung.
“gue gak ada ngomong apa-apa. tapi emang itu yang gue pikirin” jawab Dicky membuat Reina ketakutan.
“serius lo? jangan buat gue takut deh, ky” desis Reina.
“lo yang buat gue takut, na” balas Dicky kesal.
Reina terdiam. Pikirannya berkecamuk karena kebingungan.
***
“pagi ini gue belum sarapan. Apa suara perut gue yang kelaperan kedengaran sama orang-orang ya?”
“nanti ada ulangan matematika. Si Erisa gak datang. Mampus gue. Gue gak tau harus ngapain!”
“aduh, gue kok makin gendut sih? Gue gak mau gendut! Gue capek dihina terus-terusan sama teman-teman yang lain”
“rambut gue makin tipis aja. gue gak mau botak!”
“besok pertandingan basket. Apa Reina mau nonton pertandingan itu ya? Gue kan bisa jadi semangat kalo ada dia”
“dasar sok cantik! Ngapain lewat di koridor lama-lama gitu? Apa biar semua orang liat dia? Tukang cari perhatian!”
“kenapa sih dia masih muncul disini? Apa kurang gue dorong dia kemarin? Apa belum cukup buat dia sengsara?”
Reina menoleh kesana kemari dengan heran. Ia tidak melihat orang-orang yang sedang mengobrol. Tapi ia mendengar suara-suara keluhan dari orang-orang ini. Begitu berisik.  Semua saling berteriak. Reina menutup telinganya dengan frustasi.
“Reina! lo baik-baik aja?” terdengar suara khawatir dari Reza.
Reina masih menutup telinganya. Namun suara-suara itu tidak juga menghilang. Reina berteriak sambil menangis. Telinganya terasa sakit. Ia merasa telinganya ditusuk oleh suara teriakan-teriakan yang ada disekelilingnya.
“za, gawat za! Kemampuan Reina yang hilang udah balik! Cepat izin ke guru piket! Gue yang gendong dia ke mobil” teriak Ilham membuat Reza memucat.
Ilham menahan tubuh Reina agar tidak jatuh. Dengan cepat Reza berlari meminta izin pada guru untuk memulangkan Reina. ilham mencoba menggendong Reina, namun begitu susah karena Reina terus bergerak kesakitan.
Bisma menghampiri Ilham dengan takut. Dari kejauhan ia bisa melihat Reina yang begitu tersiksa. “Reina kenapa?!”
“gak usah banyak tanya. Cepat bantu gue bawa Reina ke mobil!” teriak Ilham emosi.
Dengan gesit Bisma membantu Ilham menggendong Reina ke mobil Reza. Tepat saat itu juga Reza sampai di mobil lalu ia langsung menyalakan mesin dan menancap gas pergi meninggalkan Bisma.
Bisma terdiam kebingungan. Ia sempat melihat dan mendengar Reina yang berteriak sambil menutup kedua telinganya. Ia seperti sedang tersiksa. Apa yang terjadi dengannya?
***
Reina mulai bernafas lega saat suara-suara itu berhenti. Ia mengedarkan pandangannya dan merasa kaget begitu menyadari kalau ia sudah ada di dalam kamarnya. Reza dan Ilham juga sudah ada di hadapannya sekarang.
“kok gue ada di rumah? Bukannya tadi kita udah di sekolah?” tanya Reina bingung.
“na, apa yang lo rasain tadi?” ucap Reza mengacuhkan pertanyaan Reina.
Reina terdiam kebingungan. “tadi gue ngerasa semua orang teriak di dekat telinga gue. berebutan cerita ini-itu ke gue dengan suara keras. Gue takut. Telinga gue jadi sakit” cerita Reina akhirnya.
Reza dan Ilham menghela nafas secara bersamaan membuat Reina heran. “kalian tau apa arti yang gue alami tadi?”
Ilham memandang Reina dengan lembut. “ada sepotong cerita yang belum kita kasih tau ke lo waktu kemarin soal masa kecil kita”
“sepotong cerita? Emang cerita apaan?” tanya Reina penasaran.
“waktu sebelum kecelakaan itu, lo punya kemampuan khusus seperti kita. Tapi setelah kecelakaan, kemampuan itu menghilang gitu aja. dan sekarang kemampuan itu balik lagi ke lo. mungkin karena benturan kuat yang lo alami kemarin” cerita Reza.
“kemampuan khusus? Jangan basa-basi deh ka” saut Reina kesal.
“lo bisa baca pikiran orang-orang. Seperti kita berdua” ucap Ilham singkat. Wajahnya memperlihatkan keseriusan membuat Reina menganga tidak percaya.
“haha. Lo lucu ya, Ham. Baca pikiran? Emang gue cenayang?” ucap Reina memaksakan untuk tertawa.
“gue serius, dodol. Dari nenek moyang mama, sampe ke generasi kita bisa baca pikiran. Kita diwariskan kemampuan itu, na. Apa lo inget dulu waktu kita masih di Bandung mama sering bilang hal yang sama kaya yang lagi kita pikirkan, kan? mama selalu tau kalo kita bohong, kan? itu artinya mama baca pikiran kita kalo kita itu lagi bohong” jelas Ilham.
“gue yakin, waktu lo baru sadar kemarin, lo bisa baca pikiran orang yang lagi sama lo waktu itu” ucap Reza.
Reina terdiam. Dalam hati ia percaya dengan kata-kata kedua kakaknya. “kemarin gue denger Dicky gak mau masuk kelas karena gak suka pelajarannya. Tapi begitu gue bilang, dia gak ngaku kalo udah bilang gitu ke gue...”
“nah! Itu udah buktinya, na!” saut Reza.
“tapi... gue masih belum percaya. Bisa aja Dicky mau bercanda sama gue” bantah Reina.
“inget kejadian barusan? Lo pasti dengar suara teriakan-teriakan orang ngeluh, kan? itu suara-suara pikiran orang-orang yang ada disana. Mereka gak ada yang bersuara, tapi mereka terus berfikir membuat suara-suara itu terdengar keras ditelinga lo” jelas Ilham.
Reina berfikir. Ia mengingatnya. Ia bisa melihat kalau orang-orang yang ada disana hanya diam membaca buku atau melamun. Tidak ada yang sedang berbicara. Apa yang dikatakan kedua kakaknya itu memang benar?
“oke.. gue anggap kalo gue bisa baca pikiran. Tapi kenapa gue gak bisa baca pikiran kalian berdua? Kenapa sekarang semuanya sunyi?” tanya Reina.
“kita berdua udah lama punya kemampuan ini. Jadi kita bisa menutup pikiran kita supaya gak ada yang bisa baca. Lama-lama lo bakal bisa ngelakuin kaya kita” jelas Reza.
“jadi kalian selalu dengar teriakan-teriakan gak jelas setiap hari?  Apa kalian gak ngerasa gila? Gue baru sehari ngerasainnya udah hampir mati”
“lo harus belajar ikhlas. Ikhlas karena udah dapat kemampuan ini. Lama-lama suara-suara itu akan berkurang. Hanya tertinggal suara-suara yang penting untuk diketahui. Dan lo harus ngebantu orang yang sedang kesusahan itu” jelas Ilham.
“astaga. Membantu diri sendiri aja belum tentu bisa. Tapi gue malah disuruh bantuin orang lain?” saut Reina.
“lo harus yakin kalo lo bisa. Gak ada kata gak bisa” tegas Reza.
“iyaa.. iyaa” saut Reina tidak ingin membantah lagi. Tiba-tiba terbesit pikiran kalau ia akan membaca pikiran Dicky untuk mengetahui apakah cowok itu memiliki rasa untuknya. Reina tersenyum senang.
“dan satu lagi. Lo gak boleh pakai kemampuan ini untuk kepentingan pribadi. Contohnya kaya lo coba baca pikiran Dicky. Cari tau kalo Dicky suka sama lo atau gak. Itu gak boleh sama sekali!” ucap Reza dengan tatapan tajam.
Reina tersenyum geli. “iya gue janji. Tau aja lo apa yang gue pikirin. Pasti lo baca pikiran gue”
“udah deh. Kasian si Reina. Pasti lo ngerasa capek. Sekarang lo istirahat. Besok izin gak masuk aja” lanjut Ilham.
“oke.. gue juga besok males masuk” jawab Reina setuju.
“kalo gitu kita keluar. Tidur nyenyak yah” ucap Reza mencium puncak kepala Reina dengan lembut diikuti oleh Ilham.
Reina tersenyum tipis memandang Reza dan Ilham keluar dari kamarnya. Setelah pintu tertutup, Reina bangkit dari tidurnya dan memegang lukanya yang masih diperban. “apa bener gue bisa baca pikiran? Apa sanggup gue tiap hari dengar semua keluh kesah orang-orang yang ada di sekeliling gue?” batin Reina dalam hati.
TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar