Selasa, 16 April 2013

Missunderstand (Part 3)


“Dicky? ngapain lo disini?” tanya Reina bingung. baru saja ia keluar dari kelasnya, ia langsung melihat Dicky yang berdiri di depan kelasnya seperti sedang menunggu seseorang.
“gue mau...” Dicky langsung tersenyum begitu melihat seseorang di belakang Reina. Dicky menghampirinya dan meninggalkan Reina yang kebingungan.
Dengan penasaran Reina menoleh ke belakang. Terlihat Dicky tersenyum senang begitu melihat Tamara. Reina tersenyum kecut.
“lo udah nunggu lama?” tanya Tamara berbasa-basi.
“gak kok. Yaudah langsung cabut yuk! Biar urusannya cepat selesai” ucap Dicky menggenggam tangan Tamara.
“tapi kita mau kemana?”
“udah bahasnya di mobil aja. ayo buruan!” Dicky menarik Tamara dengan lembut. Ketika melewati Reina, Dicky tersenyum kecil. “duluan ya, na”
Reina hanya mengangguk kecil. Mulutnya sudah tidak sanggup lagi untuk berkata-kata. Sakit melihat Dicky menggenggam tangan Tamara. Tapi lebih sakit lagi melihat Tamara tersenyum sinis begitu melewatinya.
“Reina...” ucap Bisma pelan. Ia bingung melihat Reina yang menangis di tengah koridor.
Reina sedikit mengangkat kepalanya. Tapi ia hanya diam tidak menanggapi sapaan Bisma.
Bisma yang mengerti langsung menarik Reina ke dalam pelukannya. “ayo ikut gue! Gue mau ngajakin lo ke suatu tempat” bisik Bisma.
***
Reina memandang Bisma dengan bingung. “atap sekolah?” ucapnya heran.
Bisma tersenyum mengangguk. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “gue ngerasa nyaman di sini. Disini gak terdengar suara ribut dari bawah. Kalo butuh tempat tenang, gue suka kesini”
Bisma duduk di pinggiran atap gedung. Dengan takut-takut Reina duduk disebelah Bisma. Ia mendongak ke bawah dan terlihatlah murid-murid sekolah mereka yang sedang sibuk dengan kelompok masing-masing. Terlihat begitu jauh. Reina sampai merinding karena takut terjatuh dari atap ini.
“jangan liat ke bawah. Ntar jatuh beneran” ucap Bisma menarik tangan Reina yang otomatis menarik badan Reina untuk sedikit menjauh dari pinggir atap gedung sekolah.
Mereka saling diam. Reina sibuk memikirkan sikap Tamara yang menjauh darinya. Ia juga memikirkan Dicky yang terlihat sangat tertarik dengan Tamara. Lagi-lagi ia menangis. Ia kesal. Ia marah. ia tidak terima kalau Tamara dekat dengan Dicky. Ia tidak mau kalau Dicky sampai jatuh cinta pada Tamara. Ia hanya ingin Dicky menjadi miliknya. Bukan milik orang lain.
“kalo butuh tempat curhat, lo bisa cerita ke gue” ucap Bisma ramah.
Reina memandang Bisma dan tersenyum. “makasih. Tapi gue belum siap cerita” ucapnya pelan. Ia mengelap air matanya.
“oke. Kalo lo butuh gue, lo bisa panggil nama gue 3 kali” ucap Bisma tersenyum kecil.
Reina terkikik geli. “Bisma garing”
“garing tapi ketawa. Gak jelas”
“habis cara ngomongnya aneh sih. Buat geli aja”
“ya berarti gak garing dong”
“iya iya Bisma gak garing. Bisma cocok jadi pelawak”
Bisma merangkul Reina lalu mengacak-acak rambut Reina dengan gemas. Ia tertawa kecil saat Reina berusaha menjauhkan kepalanya dari tangan Bisma yang terus menerus mengacak-acak rambutnya.
Reina membereskan rambutnya yang berantakan dengan wajah cemberut. Lagi-lagi Bisma tertawa. Dengan gemas ia mencubit pipi Reina. Reina langsung berteriak kesal.
***
Tamara berdiri di sebelah Dicky dengan jenuh. Sudah banyak toko yang mereka masuki namun Dicky belum juga bisa menentukan pilihannya. Padahal dari tadi Tamara sudah menunjukkan beberapa barang yang menurutnya cocok untuk kakaknya Dicky seperti apa yang sudah diceritakan Dicky soal kakaknya tersebut.
“ky, sampe kapan kita disini?” ucap Tamara sudah tidak tahan untuk memprotes.
Dicky menoleh ke arah Tamara. “lo udah bosan ya?”
Tamara tidak menjawab pertanyaan Dicky. Ia jadi merasa tidak enak.
“tunggu bentar ya! Gue belum bisa nentuin apa yang mau gue beli. Menurut lo ini bagus gak?” ucapnya mengambil sebuah jam meja berwarna biru.
“bagus kok. Ambil itu aja” jawab Tamara kesal.
“tapi kayaknya kakak gue gak suka warna biru deh” ucap Dicky meletakkan jam itu ke tempatnya semula.
Dengan kesal Tamara menghentakkan kakinya membuat Dicky menoleh kaget. “sebenernya lo butuh pendapat gue gak sih? Dari tadi gue kasih saran, gak ada yang lo terima. Kalo gitu lebih baik lo gak usah ajak gue kesini” ucapnya marah.
Dicky meringis merasa bersalah. “maaf, raa. Yaudah yuk kita ke sana!” ucap Dicky menarik Tamara dengan lembut.
“terus gimana sama kado kakak lo?”
“udah. Gue bisa cari besok. Sekarang lo mau apa? es krim?” tanya Dicky begitu mereka sampai di toko ice cream Fountain.
Tamara mengangguk dengan ragu.
“udah gak usah malu-malu. Lo mau rasa apa? terserah”
“gue rasa coklat sama vanila aja deh” jawab Tamara.
“oke” ucap Dicky tersenyum. “mbak, minta rasa coklat vanilanya dua yah” ucapnya kepada petugas yang berjualan.
Dengan cekatan petugas itu mengambilkan apa yang di minta Dicky. Dan secepat itu pula Dicky membayarnya. Tamara tersenyum senang begitu ia menyendokkan sesendok ice cream ke dalam mulutnya. Sepertinya apa yang dikatakan orang-orang memang benar. Cokelat bisa membuat perasaan kita lebih baik.
“gimana? Lo masih bete sama gue?” tanya Dicky tersenyum geli.
“thanks yah, ky. Sorry tadi gue marah ke lo. mood emang lagi gak stabil” jawab Tamara cengengesan.
“no problem, ra. Gue emang salah sih dari tadi gak jelas mau beli apa. jadinya buat lo gak nyaman deh”
“jadi habis ini kita mau ke mana, ky? Pulang?”
“terserah lo sih. Tapi gue masih pengen nyari kado nih”
“Dicky...” ucap Tamara mulai kesal.
Dicky tertawa geli. “bercanda, raa. Kayaknya jadi sensitif banget nih haha”
“dasar lo. bercanda lo gak lucu” saut Tamara mencolekkan es krimnya ke wajah Dicky. melihat wajah Dicky yang terkena es krimnya, ia tertawa senang.
“gue bales nih!” saut Dicky ikut mencolekkan es krimnya ke hidung Tamara. “lo kaya badut, haha”
Tamara hanya mendengus kesal sambil mengelap es krim yang ada di hidungnya itu.
“ra, ada photobox tuh. Ke sana yuk! Gue gak pernah foto di sana. penasaran gue” saut Dicky menunjuk sesuatu.
Tamara menoleh ke arah yang dimaksud Dicky. “gue gak mau deh. Lo aja sendiri yang ke sana. kan lo yang penasaran, bukan gue”
“ayolah temanin gue. Yang masuk ke dalam sana selalu lebih dari satu orang. Kan gak lucu gue masuk sendirian” ucap Dicky dengan memelas.
Tamara menghela nafas. “yaudah deh” jawabnya pasrah.
Dicky langsung tersenyum senang lalu menarik Tamara dengan lembut ke photobox tersebut. Mereka masuk dengan hati-hati. Ini yang pertama kalinya mereka berdua masuk ke photobox ini. Jadi mereka berdua benar-benar tidak tahu apa-apa.
Dicky menatap tombol-tombol yang ada dihadapannya. Terdapat juga sebuah layar monitor yang menampakkan wajahnya dengan wajah Tamara. Ia melihat sebuah tombol bertuliskan angka 4. Dengan iseng ia menekan tombol tersebut.
“lo barusan nekan apaan?” tanya Tamara penasaran.
“gak tau. gue Cuma iseng aja tadi” jawab Dicky mengangkat bahunya. Ia masih sibuk melihat-lihat tombol yang kini ada dihadapannya. Matanya tertuju pada sebuah tombol bertuliskan, OK. Dengan hati-hati ia menekan tombol tersebut.
Cekrek... Tiba-tiba saja terdengar suara itu berulang-ulang hingga empat kali. Tamara langsung menyikut Dicky dengan wajah bingung. Dicky juga memandang Tamara dengan wajah bingung. sekarang terdengar suara mesin yang mencetak sesuatu. Begitu selesai mencetak, Dicky mengambil kertas tebal itu. Ternyata itu adalah hasil jepretan foto mereka!
Mesin itu kembali mencetak sesuatu. Begitu selesai, dengan penasaran Tamara mengambilnya. Dan ternyata sama. Kertas itu juga berisi hasil dari jepretan foto mereka yang tidak sengaja di ambil itu.
Tamara memandang foto itu dengan geli. Terlihat di foto pertama ia sedang melihat sekeliling sedangkan Dicky tersenyum jahil. Di foto kedua, Tamara dan Dicky menatap kamera dengan kaget. Dan di foto ketiga dan keempat, Tamara dan Dicky memasang wajah bingung yang terlihat begitu lucu.
“berasa di candid seseorang yah” ucap Dicky yang ternyata juga sedang tertawa geli.
Tamara hanya mengangguk sekilas. Ia masih tersenyum-senyum.
“gimana kalo kita foto beneran? Biar bagus gitu” usul Dicky.
Tamara terihat berfikir. Namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya tanda ia setuju.
Dicky kembali menekan tombol angka 4. Lalu tangannya ia arahkan ke tombol OK. Ia menoleh ke arah Tamara. “siap?”
Tamara tersenyum geli lalu mengangguk. Dicky langsung menekan tombol OK tersebut. Cekrek... Tamara dan Dicky mengangkat dua jarinya dan tersenyum lebar. Cekrek... Dicky dan Tamara meletakkan kedua telunjuknya di pipinya masing-masing. Cekrek... Dicky merangkul Tamara hingga membuat mereka terlihat akrab. Cekrek... Terlihat Tamara menoleh ke arah Dicky dengan wajah marah sementara Dicky memeletkan lidah ke Tamara.
***
Tamara duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia merenggangkan tangan dan kakinya untuk melepaskan rasa lelah. Kemudian ia merogoh tasnya dan menemukan dua buah foto yang membuatnya tersenyum kecil. Foto dirinya dengan Dicky saat jalan-jalan tadi. Entah kenapa ia merasa senang melihat foto itu.
Tamara memasukkannya ke dalam selipan dompetnya. Lalu ia berjalan ke lemarinya dan mengambil baju tidurnya. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan rutinitasnya yang seperti biasa sebelum ia tidur.
***
“ra, gue mau minta maaf” ucap Reina menghampiri Tamara yang sedang duduk di bangku taman.
“gak ada yang perlu di maafin atau minta maaf” jawab Tamara dingin.
“kalo emang gak ada, kenapa kita harus perang dingin gini? Gue mau kita kayak dulu lagi, ra. Kita sahabatan lagi” ucap Reina memelas.
“gue lagi badmood. Sorry” ucap Tamara langsung pergi meninggalkan Reina.
Reina memandang punggung Tamara yang menjauh dengan lesu. Perlahan ia jatuh terduduk tepat di tempat yang tadi Tamara duduki. Ia memegang kepalanya seperti orang yang sedang sakit kepala. Ia sudah tidak bisa merasakan nada bersahabat dari temannya itu. Apa persahabatan mereka harus berakhir hanya karena kesalah pahaman?
Reina memandang ke rerumputan dan heran begitu matanya menangkap sebuah dompet jatuh di sana. dengan penasaran ia mengambilnya dan membukanya. Mungkin ia bisa tahu siapa pemilik dompet ini dari fotonya. Begitu ia membuka dompet tersebut, jantungnya berdebar keras. Matanya terasa panas. Ia mulai emosi.
Terengah-engah Reina berlari mengejar Tamara. Begitu sudah melihat orang itu, dengan kasar ia membalikkan badan orang tersebut. “apa maksud ini semua?!” teriak Reina melemparkan foto beserta dompetnya ke badan Tamara.
Tamara menatap foto yang jatuh di tanah itu. lalu ia memandang Reina dengan datar. “perlu gue jelasin?”
Reina terengah-engah karena emosi. Air matanya sudah tumpah. “lo tau kan kalo gue suka sama dia?! Terus kenapa lo ngelakuin ini?! Lo mau nusuk gue dari belakang?!”
“ngaca! Lo juga ngelakuin hal yang sama ke gue!” teriak Tamara mulai emosi.
“tapi gue gak ada hubungan apapun sama Bisma! Dan gue gak pernah foto mesra sama dia sampe gue simpan di dompet! Keterlaluan lo, ra!” Reina menangis terisak-isak sambil memukuli Tamara. Setelah puas, ia berlari menuju atap sekolah.
“Gue benci Tamara! Gue gak akan pernah mau berteman sama dia! Najis!” teriak Reina begitu ia sudah sampai di atap sekolah. Ia menangis terus menerus. Ia menjatuhkan dirinya hingga terduduk. Ia merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
***
“Tamara, Reina di mana? Gue ada perlu sama dia” tanya Dicky menghampiri Tamara yang sedang melamun di depan kelasnya.
Tamara melirik Dicky lalu mengangkat bahunya. “mungkin Bisma tau”
“kalian berantem ya?” tanya Dicky ingin tahu.
“itu bukan urusan lo”jawab Tamara ketus.
“yaudah sih gak usah marah. gue Cuma nanya doang. Yaudah gue mau cari Bisma. Mana tau dia tau Reina di mana” saut Dicky berjalan menjauhi Tamara.
Tamara kembali memandang kosong. perasaannya diliputi rasa bersalah. Tapi ia tetap keras kepala. “bukan gue yang salah. Dia yang salah, karena udah buat gue sakit hati. Gue harus balas rasa sakit hati yang gue rasain ke dia. Bahkan harus lebih sakit dari ini” desisnya.
***
“Reina...” desis Bisma yang saat ini sedang di kantin. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Reina. Kakinya membawanya ke atap sekolah dengan cepat. Hati-hati Bisma mendekati sesosok gadis yang sedang meringkuk. Kepala gadis itu diletakkan di sela lutut kanan dan kirinya sendiri.
Bisma menyentuh pundak gadis itu. dengan perlahan gadis itu, yang ternyata Reina, mengangkat kepalanya. Wajahnya terlihat lusuh. Rambutnya begitu berantakan. Matanya mulai membengkak. Rok dan bajunya basah terkena air matanya.
“na, lo kenapa? Kok berantakan gini?” tanya Bisma khawatir. Ia merogoh sakunya untuk mengambil saputangan. Lalu ia memegang wajah Reina dan mengelap wajah Reina dengan lembut. Sesekali ia merapikan rambut gadis itu dengan penuh perhatian.
“Bisma.. gue sendirian. Sahabat gue khianatin gue, Bis” ucap Reina pelan kemudian menangis lagi.
Bisma langsung memeluk Reina dengan erat. Dengan penuh kasih sayang ia mengelus-elus punggung Reina untuk menenangkannya. “gue ada di sini untuk lo. lo ingat apa kata gue kemarin, kan? itu masih berlaku” bisik Bisma pelan.
Reina menangis di dalam pelukan Bisma. Ia memeluk Bisma dengan erat seakan tidak mau kehilangan cowok ini. “Tamara, Bis. Dia ja-jalan sama cowok yang aku su-suka. Dan me-mereka foto bareng dan mesra banget. Pa-padahal dia tau kalo gue suka co-cowok itu, Bis” cerita Reina masih terisak-isak.
Bisma tertegun. Reina sedang suka dengan cowok lain? Rasanya ingin ia melepaskan pelukannya dari tubuh Reina. Tapi ia sadar, Reina sedang sangat sedih. Tidak mungkin ia melepaskannya ataupun meninggalkannya. Ia sudah berjanji untuk terus di samping gadis ini. Apapun yang terjadi.
“yaudah lo tenang dulu. Mungkin lo Cuma salah paham” ucap Bisma mengelus rambut Reina.
Reina menarik diri dari pelukan Bisma. “salah paham apanya, Bis? Secara gak langsung dia bilang kalo dia punya hubungan khusus sama cowok yang gue suka ini. Lo bayangin deh. Apa bisa dua orang lawan jenis yang tidak saling kenal bisa foto mesra berdua? Gak kan?”
“sekarang lo mau gimana? Cowok yang lo suka itu tau gak kalo lo suka dia?”
Reina menggeleng pelan.
“nah. Berarti dia berhak jalan sama siapapun, na. Foto sama siapapun. Lo gak berhak marah-marah cemburu kaya gini” jelas Bisma pelan.
“gue gak marah ke cowok itu. gue marah ke Tamara. Jelas-jelas dia suka sama orang lain dan dia juga tau kalo gue ngejar cowok itu. tapi dia malah tetep jalan sama cowok itu, ky. Lo bisa jadi gue, hah?”
Bisma duduk lalu mengajak Reina duduk juga. Dengan gusar Reina duduk di sebelah Bisma. “gue juga lagi suka sama cewek. Awalnya gue ngerasa kalo dia juga suka sama gue. Gak taunya gue salah. Dia suka sama orang lain. Tapi gue gak langsung marah kaya lo. gue coba ngerti kalo semua orang bebas suka sama siapa aja. kalau kita suka tapi dia sukanya sama orang lain, buat apa kita paksain? Asal dia bahagia, kita juga bisa bahagia” cerita Bisma dengan suara lemah.
Reina menatap Bisma. “gue gak bisa kaya lo, Bis. Persoalan kita beda. Gue gak bisa liat orang yang gue sukai dekat sama sahabat gue yang Cuma manfaatin dia demi balas dendam ke gue. Gue gak terima”
“balas dendam ke lo? maksudnya?” tanya Bisma bingung.
“dia salah paham sama hubungan gue dengan orang yang disukainya itu. dia ngira gue punya hubungan spesial sama orang yang disukainya, padahal gue gak ada apa-apa sama si cowok. Emang sih kita dekat, tapi ya cuma temanan aja. Dan Tamara gak percaya. Terus kayanya dia deketin cowok yang gue suka biar gue bisa ngerasain gimana rasa cemburu dia ke gue yang selalu dekat-dekat sama si cowok yang disukainya itu”
“kayaknya? Berarti lo cuma nebak doang?”
“tapi gue yakin, Bis. Dari kata-katanya tadi seakan bilang ‘gue juga bisa buat lo ngerasain apa yang gue rasain”
“nanti kalian sama-sama salah paham? Mending pada maafan deh. Gak baik punya musuh” nasihat Bisma.
“gue gak mau. Gue udah terlanjur sakit hati sama dia. Berkali-kali gue minta maaf, berkali-kali juga gue ditolak mentah-mentah. Dikira dia, dia yang paling benar sampe gak mau maafin orang lain? Udah males gue berteman sama orang kaya gitu” omel Reina.
Bisma menggeleng-gelengkan kepalanya. “kita liat aja. seberapa lama sih kalian tahan musuhan gini? Gue yakin pasti gak lama kalian berteman lagi”
“gak akan. Percaya sama gue” jawab Reina yakin.
***
“astaga. Bisma kemana sih? Reina juga. Kenapa pada ngilang semua? Heran gue” saut Dicky berbicara sendiri. di tangannya ada kertas-kertas yang harus di fotocopy lagi. Tiba-tiba saja ia ditabrak oleh seseorang. Kertasnya langsung berserakan.
“aduh, sorry. Gue yang salah, karena gue tadi jalannya sambil nunduk” ucap gadis itu membereskan kertas-kertasnya. Gerakan gadis itu tiba-tiba saja terhenti. Ia membaca tulisan di kertas yang sedang dibereskannya itu. “loh? bukannya ini yang di ketik ka Manda ya? Kok bisa di sini? Bukannya hari ini mau di sebar luaskan ke murid-murid?” gumam gadis itu pelan.
“akhirnya gue nemuin lo juga! Gue nyariin lo kemana-mana. Dari mana aja sih lo?” ucap Dicky langsung mengomel.
Gadis itu mengangkat kepalanya lalu tersenyum salah tingkah. “eh, Dicky. hehe”
“haha.. hehe.. lo dari mana aja, Reina?” saut Dicky kesal.
“tadi gue ada masalah gitu. Jadi harus diselesaikan secepatnya” jawab Reina memberikan kertas-kertas yang sudah dikumpulkannya itu pada Dicky. “emang kenapa lo nyariin gue?”
“lo lupa kalo ini kertas mau di sebar luaskan ke anak-anak? Ini masih kurang. Jadi mau di fotocopy lagi. gue mau nyuruh lo ke tukang fotocopy buat fotocopy ini semua. Oke, na?” ucap Dicky tersenyum tipis sambil memberikan Reina kertas-kertas itu.
“kenapa gue sih? Anggota lo kan ada banyak” protes Reina. Masalahnya ia sedang dalam kondisi tidak enak. Ia sedang tidak ingin melakukan apa-apa.
“tapi anggota gue semuanya udah dapet kerjaan. Lo doang yang gak punya. Masih bagus gue suruh lo fotocopy. Daripada gue suruh lo ngepel lantai ruang diskusi kita?” saut Dicky.
“oke-oke gue mau. Duitnya mana?”
“pake duit lo. Ini sebagai hukuman karena lo udah ngilang gak jelas”
“tega ya lo. gue lagi krisis nih”
“itu mah derita lo. Lagian gak akan lebih dari lima ribu. Kalo hemat jangan parah banget. Dadah, Reina” saut Dicky tertawa meninggalkan Reina yang bersungut-sungut kesal.
***
Tamara menatap Reina yang baru saja masuk ke dalam kelas dengan sinis. Ia bangkit dari duduknya, mengambil tasnya lalu duduk di tempat kosong lainnya. Ia tidak mau lagi duduk sebangku dengan Reina.
Reina duduk dengan santai dibangkunya. Ia tidak melihat Tamara sama sekali. Sepertinya ia juga tidak ingin duduk dengan Tamara lagi.
Seisi kelas langsung berbisik-bisik. Beberapa hari ini mereka kebingungan melihat Reina dan Tamara. Itu karena biasanya Reina dan Tamara bagaikan perangko dan amplop. Susah dipisahkan. Tapi belakangan ini mereka berdua seperti sedang perang dingin dan perang panas.  Hal itu semakin jelas karena kemarin anak-anak melihat keributan besar antara Reina dan Tamara.
“na, lo lagi berantem sama Tamara ya?” tanya Tania penasaran. Ia memajukan wajahnya ke depan untuk bisa berbisik dengan Reina, karena ia duduk di belakang gadis itu.
“gak tau” jawab Reina acuh tak acuh. Ia langsung memasang headset ke telinganya lalu menghidupkan musiknya kuat-kuat.
“ketus banget sih. Gue nanyanya baik-baik kali” omel Tania yang tentu saja tidak didengar sama sekali oleh Reina.
Beberapa menit kemudian Tania menepuk-nepuk pundak Reina. Dengan kesal Reina melepas headsetnya dan menoleh. “apaan sih?”
“itu ya yang buat lo sama Tamara berantem?” tunjuk Tania ke luar kelas. Reina menoleh sekilas. Terlihat di sana ada Dicky yang sedang berbicara dengan Tamara. “gue tau lo suka sama dia” lanjut Tania.
Reina meremas buku yang ada di mejanya. Kesal rasanya melihat Tamara tertawa bersama Dicky di depan matanya. Apa maksud Tamara? Ingin membuatnya cemburu? Ia bisa membuat Tamara cemburu juga. Lihat saja nanti.
“gue gak nyangka Tamara yang baik gitu malah nusuk sahabatnya sendiri dari belakang. Tega banget. Sekarang dia mulai berani nusuk lo dari depan, na. Lo harus hati-hati sama dia” ucap Tania memanas-manasi Reina.
“bukan urusan lo” ucap Reina lagi-lagi ketus. Ia menggebrak meja dengan keras lalu dengan gusar bangkit dari duduknya. Ia melangkah keluar kelas dan dengan sengaja menabrak Tamara dengan keras. Ia tersenyum ramah pada Dicky. tapi begitu ia menoleh ke Tamara, senyuman itu berubah menjadi senyuman licik.
Tamara yang kaget karena tiba-tiba ditabrak, langsung melemparkan tatapan kebencian ke Reina. Agaknya kedua orang ini akan mengalami keadaan buruk di masa-masa persahabatan. Dan mungkin akan sangat parah.
***
“lo udah saling sharing sama Tamara?” tanya Bisma memandang ke depan. Terlihat awan-awan bergumpal dengan sangat indah di atap sekolah mereka ini.
“kan udah gue bilang, gue gak mau berteman sama dia lagi. ngomong secuil pun gue gak sudi” jawab Reina cuek.
“tapi dia itu...”
“udah lah Bis. Gue gak mau bahas dia” potong Reina. Ia bangkit berdiri dari duduknya.
“lo mau kemana?” tanya Bisma ikut berdiri.
“gue mau ke toilet. Lo mau ikut?” saut Reina tersenyum geli.
“boleh deh. Gue juga mau ke toilet” ucap Bisma menjulurkan lidahnya. Tanpa sadar Bisma menggandeng Reina saat mereka menuruni tangga menuju toilet. Dan sepertinya Reina juga tidak menyadarinya. Beberapa orang melihat Bisma dan Reina dengan heran.
“Lo mau ngikutin gue ke toilet cowok nih? Tunggu di rumah aja kalo mau gitu. gak sabar banget” ucap Bisma menggoda Reina saat Reina akan ikut masuk ke dalam toilet cowok.
“gak! Gue gak sadar kalo udah sampe toilet!” sanggah Reina dengan wajah memerah.
“haha. Yaudah sana lo ke toilet. Ntar keburu bocor tuh” tawa Bisma.
“apa sih? Gue kan pake cat tembok anti bocor” saut Reina berusaha menghilangkan malunya.
“garing woo” saut Bisma mengacak-acak rambut Reina dengan gemas.
“biasa dong broo” saut Reina balas mengacak-acak rambut Bisma.
“uhuk!” saut seseorang batuk-batuk dari belakang Bisma dan Reina. “jangan mesra-mesraan di sini. Selain gak enak diliatin orang, kalian menghalangi fasilitas sekolah ini”
Bisma dan Reina berpaling. Lalu dengan berbarengan mereka tersenyum salah tingkah. “eh, bapak. Hehe”
“silahkan pak masuk duluan. Saya bisa belakangan” ucap Bisma lagi menggeser dirinya dan Reina untuk memberikan jalan pada gurunya, Pak Andi.
“dasar anak muda” gumam pak Andi sambil membuka pintu toilet dan masuk ke dalamnya.
“lo sih, Bis. Pake nahan-nahan gue segala” saut Reina malu.
“salah lo lah. Lo yang memperpanjang masalah sampe merembet ke cat tembok segala” saut Bisma tidak mau kalah.
“yaudah salah kita berdua” saut Reina malas. “tapi bisa kali lepasin gandengannya. Gue udah kebelet” lanjut Reina melirik sekilas ke tangan kanannya.
Bisma melirik tangan kirinya yang menggandeng Reina. “gue mau lepas kalo pak Andi udah keluar dari dalam. Biar gue gak nunggu sendirian di sini”
“haduh gak masuk akal banget sih alasannya. Di sini banyak orang. Bilang aja lo mau gandeng gue lama-lama” cibir Reina.
“pede deh lo” saut Bisma tidak terima. Tapi sebenarnya apa yang dikatakan Reina sangat tepat.
“yaudah lepas deh. Gue beneran udah kebelet parah” saut Reina sedikit mundur ke belakang. Tiba-tiba saja ia merasa menabrak seseorang. Reina menoleh diikuti Bisma.
“loh? Bisma, Reina? Kalian ngapain gandengan di depan toilet cowok?” tanya Dicky heran.
Bisma meringis. “lo sendiri ngapain ke toilet gandengan sama Tamara? Mau ke toilet bareng-bareng?”
Reina melepas paksa genggaman tangan Bisma. Ia tersenyum sinis menatap Tamara. “wah, udah makin parah nih”
Tamara balas tersenyum sinis. Ia semakin mempererat genggaman tangannya dengan Dicky. Dicky sedikit terlihat bingung.
Tubuh Reina bergetar menahan emosi. Matanya mulai berkaca-kaca. “permisi” ucap Reina kasar lalu pergi meninggalkan Dicky, Bisma, dan Tamara.
“Reina! Lo mau kemana? Tadi katanya mau ke toilet?” teriak Bisma heran. “gue cabut ya” saut Bisma mengejar Reina.
Dicky mengikuti Bisma, namun Tamara menahan tangannya. “ayo ke kantin” ucap Tamara sambil tersenyum.
Tanpa komentar Dicky mengikuti Tamara walaupun dalam hatinya ia merasa heran. Ia tadi sempat melihat wajah Reina yang seperti ingin menangis. Dia kenapa? Apa Bisma yang membuatnya menangis? Tapi tadi ia melihat kalau Reina dan Bisma bercanda-canda. Reina tidak terlihat sedih sama sekali. Ada apa dengannya?
TO BE CONTINUED

Kamis, 11 April 2013

Missunderstand (Part 2)


Reina duduk dipojokan ruangan tempat ia rapat siang ini. Ia mengedarkan pandangan seakan mencari seseorang. Ruangan ini sudah ramai. Seluruh fungsionaris dari OSIS hadir disini. Sepertinya kali ini ada rapat besar. Mungkin.
Reina langsung tersenyum kecil begitu matanya menangkap sosok Dicky yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Entah matanya salah atau tidak, sekilas ia melihat Dicky tersenyum kecil padanya. Rasanya Reina sudah ingin melompat-lompat kegirangan sekarang juga. Namun ia masih sadar di mana sekarang ia berada. Sekarang ia hanya bisa menahan gejolak hatinya yang akan meledak karena terlalu gembira.
“hei!” sapa Bisma menghampiri Reina.
Reina tersadar dari lamunannya. “loh? kok lo kesini? Gak didepan sama Dicky?” tanya Reina bingung.
“gak. Itu yang didepan ketua semua. Males gue. Mending gue nemenin lo disini. Sendirian kan?” jelas Bisma tersenyum.
Reina terpaku sebentar seakan terbius dengan senyuman Bisma. “tau aja lo kalo gue ngerasa asing disini” ucap Reina balas tersenyum setelah sadar dari biusan Bisma.
“jadi gimana menurut lo OSIS disini?” tanya Bisma sekedar menghabiskan waktu.
“ya gak gimana-gimana. Gue belum tau apa-apa” jawab Reina jujur.
Bisma tertawa kecil. “iya juga yah. Ketahuan banget dong kalo gue basa basi doang, haha”
Reina ikut tertawa kecil. Ia menahan tawanya karena takut dimarahi Ketua OSIS yang sedang berbicara, karena sebenarnya rapat sudah dimulai dari 5 menit yang lalu.
“na, mau ikutan hangout bareng gue sama Dicky gak? Rencananya kita berdua mau refreshing gitu. Tapi belum tau kemana. Mana tau lo mau ikut terus bisa kasih saran tempat bagus dimana” ucap Bisma terdengar semangat.
“ini bukan sekedar basa basi doang, kan?” saut Reina bercanda.
Bisma tersenyum geli. “kali ini seriusan. Lo mau ikutan kan?”
Reina terlihat berpikir sebentar. sebenarnya sejak awal ia sudah langsung mengiyakan dalam hatinya. Kucing mana yang tidak mau dikasih ikan asin? Gak ada. Tapi ia sebagai wanita harus menjaga diri agar tidak terlihat memalukan di hadapan pria.
“boleh sih. Siang ini, kan?” balas Reina tersenyum kecil.
Bisma mengangguk dan balas tersenyum. “jadi?”
“deal” ucap Reina tertawa kecil.
***
“jadi, kita mau kemana?” tanya Bisma yang memegang kemudi.
“gak tau. lo ada ide, na?” tanya Dicky ke Reina yang duduk di belakang.
Reina gelagapan. “e-eh. Ki-kita ke taman aja yuk. Gue tau tempatnya” jawab Reina gugup.
“lo bisa tunjukin jalannya, kan?” tanya Bisma ramah. Ia melirik Reina dari kaca spion atas.
Reina mengangguk. Setelah itu Bisma menghidupkan mesin dan melaju keluar dari gerbang sekolah. Dengan gesit Dicky memasukkan sebuah CD ke dalam player yang ada di mobil Bisma dan melantunlah lagu-lagu dari 2NE1. Sesekali Bisma dan Dicky melantunkan lirik lagu itu. Sepertinya mereka hapal dengan lagu itu.
Reina tenggelam dalam pikirannya. Ia merasa sedikit menyesal. Dengan bodoh ia langsung mengiyakan ajakan Bisma di ruang rapat tadi. Sejujurnya ia juga ingin pergi dengan Dicky. tapi ia tidak pernah terpikir kalau ia hanya satu-satunya perempuan diantara dua laki-laki. Harusnya ia mengajak Tamara yang menyukai Bisma, agar suasana tidak secanggung ini. Bagaimanapun juga ia tidak kenal dekat dengan kedua lelaki ini. Bisa saja mereka berbuat sesuatu kepadanya.
“Reina!” panggil Dicky sambil menoleh menatap Reina.
Reina terkejut. Ia langsung menatap mata Dicky. Dengan cepat ia mengalihkan matanya untuk menetralkan detak jantungnya yang berdegup semakin kencang. “a-ada a-apa?” tanya Reina pelan.
“itu dari tadi Bisma nanya, arahnya kemana? Kita bener-bener gak tau. Kan cuma lo yang tau jalan ke taman yang lo maksud itu” jelas Dicky kembali menatap ke depan.
“o-oh iya” ucap Reina tersadar. Namun kegugupannya belum juga hilang. Ia mengedarkan pandangan melihat keberadaan mereka sekarang ada dimana. Mendadak saja Reina berseru. “belok kiri!!”
Bisma yang kaget langsung mengerem mendadak. Dicky sedikit terbentur dasbor. Reina terbentur bangku yang diduduki Dicky. Dicky meringis kesakitan.
“kenapa tiba-tiba sih?” saut Dicky kesal.
“sorry. Habis gue kaget sama teriakan Reina” jawab Bisma pelan. Sepertinya ia sedang mengontrol detak jantungnya.
“aduh, maaf ya. Gue tadi maksudnya mau nyuruh Bisma buat belok kiri. Takut kelewatan. Maaf ya” ucap Reina takut.
“iya...” belum sempat Bisma meyelesaikan omongannya, Dicky langsung memotong.
“lo gimana sih? Ngasih taunya kan bisa santai aja. gak usah buat kaget gini. Kalo tadi Bisma sampe nabrak orang, gimana? Kalo gue sama Bisma kenapa-napa, gimana? Untung kita berdua pake seatbelt. Kalo gak memar kening kita”
“ma-maaf, ky. Gue gak ma-maksud” ucap Reina ketakutan. Matanya mulai berkaca-kaca.
“yaudah lah, ky. Toh kita sekarang juga gak apa-apa kan? dia juga gak sengaja. Semua orang bisa ngelakuin kesalahan lah. Gak usah diperpanjang” ucap Bisma tenang. Bisma berpaling ke Reina dan tersenyum ramah. “jadi, tadi lo bilang belok kiri. Udah lewat belum?”
Reina tertegun mendengar suara ramah Bisma. Pelan ia mengangkat kepalanya sampai ia melihat senyum lembut Bisma. “belum. Itu di depan ada belokan, kita belok disana” jelas Reina pelan. Ia masih takut walaupun mulai merasa tenang karena perlakuan Bisma yang ramah padanya.
“oke. Kita berangkat lagi, ya?” ucap Bisma kembali menginjak gas.
“pelan-pelan aja. gue gak mau sampe kepentok lagi” ucap Dicky datar.
Reina langsung menciut. Dicky terdengar seperti menyindirnya. Pikiran Reina sudah melayang entah kemana. Ia takut. Takut kesempatannya dekat dengan Dicky akan menghilang begitu saja karena kebodohan yang ia lakukan.
***
Reina berjalan pelan di belakang Dicky dan Bisma. Ia lalu duduk di bawah pohon yang cukup rindang di taman ini. Ia memandangi Dicky yang sibuk melihat-lihat pemandangan taman ini yang memang sedikit lain dari taman-taman biasanya.
“lo tau dari mana tempat kaya gini?” tanya Dicky tiba-tiba.
Reina diam dalam lamunannya. Ia tidak menyadari kalau Dicky bertanya padanya.
“woy! Lo tuli atau gimana?” saut Dicky mulai emosi.
Bisma menghalangi Dicky yang akan menghampiri Reina. “lo jangan gampang emosi. Dia cewek, ky. Lembut dikit” ucap Bisma tenang.
Dicky menarik nafas panjang lalu membuangnya. “gak tau nih. Hari ini gue uring-uringan banget”
“ya tapi lo jangan jadiin Reina jadi tempat lo ngebuang uring-uringan lo. Kasian dia. Dari tadi gue ngerasa kayanya dia mulai gak nyaman jalan sama kita” jelas Bisma.
Dicky terlihat berfikir. Akhirnya ia berjalan menghampiri Reina. Namun kali ini Bisma tidak menahannya lagi.
Reina sedikit terkejut melihat Dicky sudah duduk di sebelahnya. “a-ada apa?” tanya Reina dengan gugup.
“gue... gue mau minta maaf sama lo” ucap Dicky ramah.
Reina sedikit bingung. “maaf? U-untuk apa?”
“soal yang di mobil tadi. Gak seharusnya gue ngebentak lo tadi. Maaf ya”
Reina tersenyum kecil. “gak masalah kok. Gue emang salah. Maaf ya udah buat lo sama Bisma kaget”
Dicky hanya tersenyum. Mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Reina terlihat kikuk mencabut-cabuti rumput yang ada di sebelahnya. Sementara Dicky memejamkan matanya berusaha menikmati suasana taman ini.
Dari kejauhan Bisma tersenyum tipis. Ia sedikit kesal karena Dicky hanya diam disebelah Reina. Ia ingin ikut ke sana. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Entah kenapa ia bisa melihat sesuatu di antara Dicky dan Reina. Tapi ia sendiri juga tidak tahu wujud sesuatu itu. ia hanya merasa tidak enak menjadi orang ketiga diantara mereka.
***
Cekrek... Reina langsung menoleh begitu mendengar suara. Dengan marah ia berusaha merebut kamera yang dipegang Bisma. Bisma tertawa geli sambil mengangkat tinggi-tinggi kameranya agar tidak bisa diambil oleh Reina. Ia tadi sengaja meng-candid Reina yang sedang melamun.
Dicky merebut kamera dari tangan Bisma. Dicky terkikik geli melihat foto Reina. Sebenarnya disana Reina tidak jelek, justru terlihat sangat casual. Dicky tertawa hanya untuk membuat Reina semakin marah.
Dan benar saja. Wajah Reina menjadi panas karena menahan malu. Dan ia juga semakin gencar untuk berusaha merebut kamera itu dari tangan Dicky. Tapi dengan licik Dicky memberikan kamera itu kepada Bisma. Mereka saling mengoper dan Reina yang kelelahan.
Akhirnya Reina duduk dengan kesal. Ia menatap tajam ke arah Dicky dan Bisma. Sebenarnya ia hanya pura-pura untuk membuat Dicky dan Bisma lengah dan ia bisa merebut kamera itu dengan mudah.
Namun kenyataan berkata lain. Dicky dan Bisma menyadari kelicikan di dalam otak Reina. Dicky yang sekarang sedang memegang kamera, berbisik ke Bisma. Bisma mengangguk sambil tersenyum setuju. Dicky berjalan perlahan ke tempat Reina duduk.
Reina yang merasa rencananya berhasil, diam sok jual mahal. Saat Dicky benar-benar sudah ada di depannya, ia dengan cepat merebut kamera itu. Tapi karena Dicky sudah menyusun rencana sebelumnya di dalam otaknya, saat Reina merebut kamera itu, timer untuk memfoto secara otomatis langsung berhenti. Terdengar suara memotret saat kamera berada di dekat wajah Reina.
Dengan gesit Dicky kembali merebut kamera itu. ia berjalan ke arah Bisma dan menunjukkan hasil ­candidnya. Mereka berdua terkikik geli. Terlihat wajah Reina yang seakan terzoom. Disana hanya hidung dan mulut Reina saja yang terfoto. Dan saat itu mulut Reina sedang terbuka karena tertawa senang mengira telah berhasil merebut kameranya.
Reina masih terdiam bingung. Setelah tersadar kalau ia kembali dicandid kedua laki-laki itu, Reina langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka berdua. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Reina berteriak marah saat Dicky kembali menertawakan fotonya yang ada di dalam kamera. Bisma tersenyum geli melihat Reina marah-marah. Diam-diam ia merekam Reina yang sedang marah dengan handphonenya. Reina terlihat begitu lucu.
Reina kembali duduk. Kali ini ia benar-benar kesal. Ia sudah tidak perduli lagi berapa kali Dicky dan Bisma terus memfotonya.
“Reina... kita minta maaf ya” ucap Dicky seperti anak kecil. Ia berjongkok di hadapan Reina.
Bisma mengikuti Dicky dengan berjongkok di sebelah Reina. “iya, Reina. Kita kan Cuma bercanda”
Reina tersenyum geli. Namun ia berusaha menahannya. “sok imut” ucapnya berusaha terdengar datar.
“Reina jangan suka nahan-nahan gitu dong. Ntar perutnya sakit” ucap Dicky dengan wajah polosnya.
Bisma langsung tertawa geli. Ia sedikit terbatuk-batuk karena tertawa terlalu keras.
Reina memukul lengan Dicky dengan geli. “lo kira gue lagi nahan kentut?”
“emang cuma nahan kentut doang yang buat perut sakit? Nahan ketawa juga loh. sekarang artinya apa? lo lagi nahan kentut ya? Ketahuan dong” saut Dicky tertawa meledek.
Reina tertawa. Ia baru menyadari kalau perkataan Dicky memang benar. Kenapa ia harus memikirkan kentut?
***
Reina masuk ke dalam kelas dengan ceria. Ia masih mengingat acara jalan-jalannya dengan Dicky dan Bisma kemarin. Walaupun awalnya tidak mengenakkan, tapi akhirnya begitu seru. Apalagi ia sudah mulai merasa canggung lagi ketika berada di dekat Dicky.
“lo kenapa? Tumben banget masuk kelas mukanya bersinar-sinar gitu. Abis ketemu Dicky ya?” tebak Tamara heran.
Reina menggeleng dengan semangat. Wajahnya masih dihiasi senyuman. “lebih dahsyat dari itu”
Tamara mengangkat bahu tanda ia malas untuk menebaknya.
Reina tertawa. “gue kemarin diajak jalan sama Bisma. Dicky juga ikut. Awalnya emang ngeselin sih karena gue ngelakuin tindakan bodoh. Tapi akhirnya, gue jadi dekat sama Dicky! gue gak gugup lagi tiap dekat dia, raa. Dia ramah banget”
Ekspresi Tamara langsung berubah begitu mendengar Reina mengucapkan nama Bisma. “apa? bisma ngajak lo jalan?” ucap Tamara pelan ingin memastikan.
Dengan bodohnya Reina menyahut dengan bahagia. “iya. Pas rapat dia ngajak hangout bareng. Apalagi dia bilang kalo Dicky ikut. Langsung gue terima deh. Gue ajak aja mereka ke taman yang biasa kita datangin. Tau kan taman yang ada kolamnya itu?”
Tamara hanya mengangguk pelan. Ia sedikit lemas. Ia merasa sedikit kecewa karena Reina pergi tanpa mengajaknya. Terlebih lagi Reina pergi dengan Bisma, cowok yang disukainya. Rasanya ia ingin berteriak marah di depan wajah Reina. Tapi ia rasa itu tidak mungkin. Bagamanapun Reina adalah sahabatnya. Dan Reina memang begitu polos. Mungkin dia tidak sadar kalau dia sudah sedikit menyakiti hati Tamara.
Gantian Reina yang terlihat bingung. “lo kenapa mendadak lemas, ra?”
Tamara hanya menggeleng dan tersenyum samar. Ia tidak sanggup membuka mulutnya. Ia takut kalau ia kelepasan dan berteriak memarahi Reina yang begitu bodoh dan naif. Untuk menghilangkan perasaan kecewanya, Tamara bangkit dari duduknya lalu berjalan cepat menuju keluar kelas. Ia tidak memperdulikan panggilan-panggilan dari Reina yang terdengar cemas.
Bruk.. Tidak sengaja Tamara menabrak seorang cowok yang sedang membawa puluhan buku besar. Tamara dan cowok itu sama-sama meringis karena buku-buku itu jatuh menimpa kaki mereka berdua.
“loh? Dicky?” saut Tamara kaget begitu melihat wajah orang yang ditabraknya.
“lo kenal gue?” tanya Dicky bingung. ia merasa pernah melihat wajah Tamara, tapi ia tidak tau dimana.
Dengan cepat Tamara membantu Dicky membereskan buku-bukunya. “gue teman sebangku Reina. Anggota lo, kan?”
“oh iyaa. Gue pernah liat lo di kantin. Tapi gue lupa kapan kejadiannya” ucap Dicky sibuk dengan buku-bukunya. “nama lo siapa?”
“Tamara” jawab Tamara singkat. Namun terdengar begitu ramah ditambah dengan senyumannya yang manis pula.
Dicky balas tersenyum. “oke Tamara. Gue duluan yah. Harus buru-buru bawa buku ini ke kantor guru. Nanti bu Afni marah-marah gak jelas”
Tamara tersenyum geli. “perlu bantuan? Kayanya lo ribet banget deh”
“kenapa gak dari tadi? Dengan senang hati gue kasih sebagian buku-buku ini ke lo” ucap Dicky langsung memberikan sebagian tumpukan buku itu ke tangan Tamara.
Tamara tersenyum. Ia berjalan duluan ke kantor guru, disusul Dicky. setelah meletakkan buku-buku itu di atas meja bu Afni, mereka berdua keluar dengan wajah lega. Buku-buku yang mereka bawa itu memang cukup berat.
“thanks ya udah mau bantuin gue” ucap Dicky tulus.
Tamara mengangguk kecil. “gak masalah. Kan lo kakak kelas gue juga”
Dicky tertawa kecil. “kalo gitu lo gue traktir minum deh sebagai ucapan terima kasih” ucapnya. “gak pake nolak” lanjutnya lagi ketika melihat Tamara akan memprotes.
Tamara hanya mengangguk pasrah. “oke. Cukup minum”
Dicky tersenyum. “sampai jumpa istirahat nanti”
***
“lo dari mana, ra?” tanya Reina begitu melihat Tamara masuk ke dalam kelas tepat saat bel masuk sekolah berbunyi.
Tamara tampak berpikir. Apa ia harus memberitahu Reina kalau ia tadi membantu Dicky? Dan apa ia juga harus memberitahu Reina soal janji Dicky dengannya nanti saat istirahat? Tapi untuk apa Reina ia beri tahu? Reina bukan siapa-siapa, kan?
“habis dari toilet” jawab Tamara singkat.
“dari toilet? Pagi-pagi gini lo udah ke toilet? Apa di rumah lo gak sempat ke toilet?” cerocos Reina.
Tamara melirik Reina sekilas. “masalah kalo gue ke toilet? Suka-suka gue dong” jawab Tamara sedikit ketus.
“maaf. Gue kan Cuma bercanda” jawab Reina pelan. “kayanya Tamara lagi PMS berat” gumam Reina sangat pelan.
***
Tamara bergegas menuju kantin. Saat ia melihat Dicky disalah satu meja, ia segera menghampirinya. “sorry lama. Biasa, bu Afni kalo ngajar gak bisa liat waktu” ucap Tamara berbasa-basi.
“gak lama kok. Gue juga baru keluar” Dicky tersenyum. “jadi lo mau minum apa? biar gue yang traktir” lanjutnya seraya bangkit dari duduknya.
Tamara terlihat berpikir. “yaudah fruitea botol yah. Rasa blackcurrent” jawabnya sambil tersenyum kecil.
“oke deh. Lo duduk aja kali. Gak usah ngerasa sungkan sama gue. Anggap aja kita seumuran dan udah berteman lama” ucap Dicky tertawa geli. Setelah melihat Tamara duduk, ia melangkahkan kakinya menuju kantin untuk membeli minum untuk Tamara dan dirinya sendiri.
Tamara mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba saja matanya tertuju pada seorang cowok  yang sedang bercanda tawa dengan seseorang. Dengan penasaran ia mencoba memperjelas penglihatannya.
“Reina? Ngapain dia sama Bisma? Pake ketawa-ketawa lagi. Apa ada yang lucu?” gumam Tamara kesal.
Tiba-tiba saja pipi Tamara terasa dingin. Tamara langsung menjauhkan pipinya dan melihat pelakunya. Ternyata ada Dicky yang sedang tertawa geli.
“lo ngapain ngomel-ngomel sendiri?” ucap Dicky sambil memberikan minuman yang dipesan Tamara tadi lalu ia duduk di depan Tamara.
“gak ada sih. Gue tadi cuma nyanyi aja” jawab Tamara bohong. Ia langsung menegak minumannya dengan terburu-buru karena merasa kesal. Dan ia langsung terbatuk-batuk.
“lo sih minumnya kaya orang kalap gitu. Jadi keselek, kan. Emang lo haus banget ya?” saut Dicky memberikan saputangannya pada Tamara. Itu karena di sudut bibir Tamara ada air tumpahan minumannya karena terbatuk-batuk tadi.
Tamara mengelap mulutnya dengan saputangan Dicky. rasanya ia sudah ingin membentak untuk melampiaskan perasaan kesalnya. Tapi ia tidak mungkin membentak Dicky. Dicky sudah baik padanya. Dan dia juga tidak punya salah apapun padanya. Tidak pantas ia memarahinya hanya karena ia sedang kesal.
“thanks yah ky buat traktirannya. Gue cabut ke kelas dulu” ucap Tamara terkesan datar. Ia sedang menahan luapan emosinya.
Dicky menahan lengan Tamara. “bagi pin dong. Lo pake bb kan?”
“tanya Reina aja ya. Gue buru-buru” ucap Tamara melepaskan tangan Dicky dari lengannya. Ia tersenyum sekilas lalu pergi menuju kelasnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“misterius” gumam Dicky lalu menegak minumannya hingga habis.
***
Reina menunggu Tamara di kelas dengan perasaan kesal. Saat ia berjalan menuju kantin, matanya tidak sengaja melihat Tamara yang sedang berduaan dengan Dicky. ia kesal karena Tamara tidak cerita kalau ia dekat dengan Dicky. Apalagi saat Dicky menggoda Tamara dengan mendekatkan minuman dingin ke pipi Tamara. Apa maksudnya?
Saat melihat Tamara masuk ke dalam kelas, Reina langsung menghampirinya. “ra, lo kok gak cerita sih sama gue kalo lo udah kenalan sama Dicky? terus kenapa tadi lo berduaan sama dia di kantin?” sautnya.
Tamara menatap Reina dengan tajam. “apa semua yang gue lakuin harus lapor ke lo?” desisnya.
“bukan gitu. Harusnya lo cerita dong. Apalagi udah menyangkut soal Dicky. gue kan gak mau salah paham. Dan gue gak suka lo bareng Dicky tanpa sepengetahuan gue” jawab Reina.
“emangnya lo kemarin ngajak gue waktu lo jalan bareng Bisma? Apa lo kepikiran sama gue waktu lagi asik jalan sama dia? Lo kira gue ngerasa apa waktu lo cerita kalo lo kemarin jalan sama mereka? Gue fine aja gitu? Gak! Siapa yang tadi sibuk ketawa bareng di taman dekat kantin? Lo kira gue gak liat, hah?!” teriak Tamara emosi.
Reina terdiam. “waktu itu gue ingat lo, ra”
“halah. Lo kira gue bakal percaya? Sampe kapan lo gini? Gak peka sama perasaan orang lain. Terus mikirin diri lo sendiri. gue capek terus nahan perasaan gue. Gue juga akan balas dengan hal yang sama kaya yang lo lakuin ke gue” saut Tamara langsung duduk di tempat duduknya.
Reina mendekati Tamara. “tapi ra, gue gak ada apa-apa sama Bisma. Gue Cuma tertarik sama Dicky”
Tamara dengan acuh tak acuh langsung memasang headset dan menyalakan musik dengan kencang. Ia sudah tidak mau mendengar apa-apa dari mulut Reina. Bisa-bisanya dia menyalahkannya yang Cuma berduaan dengan Dicky hanya 5 menit. Sedangkan Tamara berusaha mengerti Reina yang selalu ada di dekat Bisma. Itu tidak adil, bukan?
***
“ra, pulang bareng yuk” ajak Reina.
Tamara hanya melirik sekilas lalu berjalan keluar kelas tanpa memerdulikan panggilan Reina. Reina berusaha menghalangi jalannya, namun Tamara mencari jalan lain.
Tiba-tiba saja Bisma muncul di hadapan Reina dan Tamara. “na, bareng yuk! Dicky lagi ada urusan OSIS. Jadi gue gak ada teman pulang. Gimana kalo lo aja yang jadi teman gue di mobil?”
Tamara tersenyum sinis. “ada yang ngajakin bareng tuh. Gue duluan ya”
Reina memandang Tamara dengan perasaan bersalah. Sepertinya ia sudah kehilangan kesempatan untuk meminta maaf pada Tamara dan membuktikan bahwa ia tidak ada apa-apa dengan Bisma. Bisma muncul di saat yang tidak tepat. Semuanya sudah hancur.
“na, ayo jalan!” ucap Bisma sedikit menarik Reina.
Reina menarik tangannya dari genggaman Bisma. “sorry, Bis. Gue gak bisa pulang bareng lo. gue udah dijemput di parkiran”
Bisma menatap Reina. “okelah kalo gitu. Gue duluan ya” ucapnya sambil melambaikan tangan dan tersenyum lembut pada Reina.
Reina hanya mengangguk lemah. Ia bingung. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya mengembalikan persahabatannya dengan Tamara. Hanya Tamara yang mengerti dirinya. Hanya dia yang bisa mengerti semua keegoisannya. Dan sekarang semua itu sudah hancur hanya karena kesalah pahaman. Missunderstand...
***
“ra... gue mau jelasin semuanya!” saut Reina menghalangi langkah Tamara yang menuju ke kantin.
“apa lagi yang mau dijelasin? Lo gak konsisten. Katanya masuk OSIS buat ngejar Dicky. gak taunya malah nyamber Bisma” saut Tamara dengan nada sinis.
Reina menarik tangan Tamara. “asal lo tau, ra. Gue gak tertarik sama Bisma. Gue suka Dicky. sumpah demi apapun gue gak suka Bisma”
Tamara menghentakkan tangannya dengan keras seolah jijik tangannya dipegang oleh Reina. “lo gak suka Bisma, tapi Bisma yang suka sama lo. Dasar bodoh!”
Reina memandang punggung Tamara yang menjauh dengan bingung. apa maksudnya? Bisma menyukainya? Lelucon yang aneh. Apa cemburu bisa membuat kita berpikir yang jauh dari kenyataan? Mungkin begitu.
“Reina!” seseorang menepuk pundak Reina.
“Bisma?” Reina langsung menoleh.
“sorry, gue Dicky. bukan Bisma. Apa kita mirip? Jelas gue lebih imut dari dia” cerocos Dicky dengan PeDenya.
Reina tertawa kecil. “iya, Dicky jauh lebih imut dari Bisma”
“lo orang yang ke...” Dicky terlihat sedang menghitung. “duh, banyak banget. Gue sampe gak sanggup ngitungnya” ucapnya sambil menggaruk kepalanya karena bingung.
“percaya aja deh” Reina terkikik geli. “kenapa tadi lo manggil gue, ky?”
“oh iya! Gue mau minta pin teman lo itu. namanya Tamara. Katanya teman sebangku lo”
Reina mengerutkan keningnya. “pin Tamara? Buat apaan?”
“lo mau tau aja sih. Ini urusan pribadi” ucap Dicky setengah meledek.
“okelah, oke.” Reina mengeluarkan handphonenya. “pinnya 27FC25D3”
Dicky langsung mengetik di handphonenya. “makasih, na! Gue cabut yah. Daah” ucap Dicky dengan wajah berseri-seri.
Reina mengangguk sambil tersenyum. Walaupun tidak diucapkan, orang-orang pasti bisa mengetahui bagaimana perasaannya sekarang. Kecewa dan sedih. Terlihat dari sorot matanya yang menatap Dicky. tapi sepertinya Dicky tidak menyadarinya. Reina sendiri juga tidak tahu kenapa ia merasa sedih. Semuanya terasa begitu membingungkan.
***
Tamara memandangi handphonenya dengan bingung. Terlihat nama Dicky di BBMnya di tempat yang akan di accept. Ia bingung. entah kenapa ia merasa tidak enak dengan Reina. Tapi akhirnya ia mengklik tanda accept. Beberapa detik kemudian Dicky meng-greetnya.

Dicky Prasetya: halo, ra
Tamara Rahmani: halo, ky. Ada apa?
Dicky Prasetya: nanti sore lo ada urusan gak?
Tamara Rahmani: gak ada sih. Mau ngapain?
Dicky Prasetya: kakak gue seminggu lagi ultah. Gue mau beliin dia kado. Tapi gue gak tau selera dia gimana. Jadi gue mau ajak lo. Mana tau lo tau apa yang dia suka. Kan kalian sama-sama cewek
Tamara Rahmani: liat nanti deh ya. Tergantung mood gue
Dicky Prasetya: oke. Lo kelas berapa?
Tamara Rahmani: kelas X-2. Kenapa?
Dicky Prasetya: waktu pulang nanti gue tunggu lo di depan kelas lo. Gue harap lo terima ajakan gue
Tamara Rahmani: jangan! Gue aja yang ke kelas lo

BBM Tamara yang terakhir hanya di read oleh Dicky. Tamara kebingungan. Apa yang akan dikatakan Reina kalau dia tahu Dicky menunggunya di depan kelas? Tapi untuk apa ia memikirkan itu? Bukannya Bisma sering menunggu Reina di depan kelas? Memangnya ia tidak bisa melakukan hal yang sama seperti Reina? Ia bisa.

TO BE CONTINUED