Reina masuk ke dalam kelas. Ia
membuangi semua benda yang ada di atas mejanya. Prang!!! terdengar suara botol minum terjatuh hingga pecah. Semau
orang yang ada di dalam kelas tersentak kaget. Reina terisak-isak. Ia
menjatuhkan kursi dan mejanya dengan kasar. Ia ingin melampiaskan semua
emosinya.
Tiba-tiba saja ada perasaan
hangat mejalar di tubuhnya. Perasaan sedikit tenang menyergap dirinya. Ternyata
Bisma memeluknya dari belakang. Dengan cepat ia membalikkan badannya dan
membalas pelukan Bisma. Ia menumpahkan semua air matanya di dada Bisma. Ia
menangis hingga menjerit di dada Bisma. Ya, yang ia perlukan saat ini adalah
sebuah pelukan.
Beberapa menit Bisma memeluk
Reina dengan erat. Ia biarkan bajunya basah terkena air mata Reina. Tanpa
diberitahu, Bisma tahu siapa yang disukai Reina. Orang itu adalah Dicky. Selama
ini ia ternyata salah paham. Ia mengira Reina memerhatikannya. Ternyata Reina
memerhatikan orang di sebelahnya, yaitu Dicky. Reina selama ini hanya memandang
Dicky, tidak pernah menyadari keberadaannya. Ia yang terlalu percaya diri
menganggap Reina menyukainya. Lagi-lagi salah paham. Missunderstand...
Bisma kembali mengingat
kata-kata Reina. ‘dia salah paham sama
hubungan gue dengan orang yang disukainya itu. dia ngira gue punya hubungan
spesial sama orang yang disukainya, padahal gue gak ada apa-apa sama si cowok.
Emang sih kita dekat, tapi ya cuma temanan aja. Dan Tamara gak percaya. Terus
kayanya dia deketin cowok yang gue suka biar gue bisa ngerasain gimana rasa
cemburu dia ke gue yang selalu dekat-dekat sama si cowok yang disukainya itu’.
Sekarang ia tahu siapa cowok yang
disukai Reina dan Tamara terlihat dekat dengan cowok itu, yaitu Dicky.
Sedangkan selama ini Reina tidak terlihat dekat dengan cowok lain selain Dicky
dan dirinya sendiri. Dan sepertinya dirinya yang lebih dekat dengan Reina
daripada Dicky. Apa berarti Tamara menyukainya? Apa Tamara cemburu melihatnya
dekat dengan Reina? Apa itu artinya ia yang membuat Reina dan Tamara berkelahi
seperti ini? Jika itu benar, berarti ia yang telah membuat Reina menangis
seperti ini.
Perlahan Bisma menarik Reina
untuk keluar dari dalam kelas. Ia mulai merasa tidak nyaman dipandangi oleh
teman-teman sekelas Reina. Ia menarik Reina untuk duduk di pinggir lapangan
basket. Di bawah pohon yang cukup rindang.
Reina masih menyembunyikan
wajahnya di pundak Bisma. Masih terdengar juga suara isakan kecil tangisnya
yang belum selesai. Walaupun begitu, perasaannya sudah cukup lega karena ada
Bisma di sampingnya.
Dengan sedikit ragu Bisma
mengelus-elus rambut Reina. perlahan ia memegang kepala Reina untuk
menjauhkannya dari pundaknya. Ia menyentuh kedua pipi Reina dengan lembut dan
menghapus air mata gadis itu dengan lembut juga. Ia tersenyum kecil dengan
maksud untuk menguatkan perasaan gadis di depannya ini.
Reina memandang Bisma dengan
sedih. Digenggamnya dengan erat tangan Bisma yang sedang memegang kedua
pipinya. Dari kedua tangan itu, muncul perasaan yang membuatnya hangat dan
nyaman. Dengan pelan ia berkata, “terima kasih”
Bisma mengangguk dan tersenyum
tipis. Ditariknya gadis itu lagi ke dalam pelukannya. Lalu ia mengusap pundak
gadis itu untuk membuatnya lebih tenang. “kalo lo butuh pundak, pakai aja
pundak gue. Pundak gue khusus buat lo” bisik Bisma tepat di telinga Reina.
Reina memeluk Bisma dengan
erat. Ia kembali menangis. Namun kali ini ia menangis karena terharu. “Thanks.
Lo sangat berarti buat gue, Bisma”
***
“Reina!” teriak Dicky
menghampiri Reina yang sedang berjalan keluar gerbang sekolah.
Reina memberhentikan langkahnya
lalu berpaling menatap Dicky yang sedang berlari mendekatinya. Dipasangnya
wajah tersenyum. Ia tidak berhak membenci Dicky hanya karena dia dekat dengan
Tamara. Dia tidak tahu apa-apa. Sebaiknya ia tetap bersikap normal dengan
Dicky.
“tadi pas kita ketemu di depan
toilet, kenapa lo mendadak pergi?” ucap Dicky penasaran. Rasanya lucu ia
berteriak memanggil-manggil nama Reina hanya untuk menanyakan soal ini. Tapi ia
sudah sangat penasaran.
Reina memasang wajah bingung.
“tadi gue ngerasa malu ada di depan toilet cowok sama Bisma. Gandengan pula
lagi. Dan tadi udah ditegur sama pak Andi. Makanya gue kabur deh, hehe” jawab
Reina berbohong.
“serius? Bukan karena gue,
kan?” tanya Dicky sekali lagi.
“kenapa harus karena lo? emang
lo punya salah apa sama gue sampe lo ngerasa yang jadi penyebab gue pergi tadi?”
jawab Reina tersenyum.
Dicky tersenyum salah tingkah.
“iya juga yah. Kenapa gue tadi ngerasa bersalah sama lo, ya?”
Reina terkikik geli. “woles
aja. lo gak ada salah apapun kok sama gue”
“kalo gitu kita pulang bareng
yuk! Kebetulan gue bawa motor sendiri. lagi males nebeng sama Bisma” tawar
Dicky.
“gak usah deh. Nanti ada yang
marah lagi” ucap Reina ragu-ragu. “lagian gue lagi nunggu angkot kok”
lanjutnya.
“ada yang marah? siapa? Tamara?
Emang dia siapanya gue? Lo ngada-ngada deh. Nunggu angkot tuh lama. Panas lagi.
Bagusan sama gue. Terjamin lo pulang sampe rumah dengan selamat” ucap Dicky.
Reina terlihat berpikir
sedikit. Ini tawaran yang selalu dimimpi-mimpikannya. Kenapa ia malah merasa
ragu? Ada apa dengannya?
“jadi gimana?” tanya Dicky
lagi.
“okelah, gue mau. Lo nawarin
pulang bareng aja udah kaya lagi jualan obat, jelasinnya lengkap sampe ke
khasiatnya” jawab Reina tertawa.
Dicky ikut tertawa tapi tidak
membalas perkataan Reina. Ia menarik Reina ke parkiran motor. Ia mengambil
motor CBRnya dan lalu menyuruh Reina untuk naik. Reina naik dengan hati-hati.
“lo bisa bawa motor, kan?” tanya Reina bercanda.
“baru belajar. Jadi biar lo
selamat, lo pegangan kuat-kuat” jawab Dicky menghidupkan mesinnya.
“lo serius, ky?” saut Reina
mendadak takut.
“udah intinya lo pegangan”
jawabnya memberikan sebuah helm ke Reina. Ia juga memakai helmnya. “siap yaa”
ia menggas motornya lalu menjalankan motornya dengan kencang.
“Dicky!! Lo gila!” teriak Reina
di antara keributan deru suara mesin motornya Dicky. Sekarang ia memeluk
pinggang Dicky dengan sangat erat karena takut terjatuh.
Tamara menatap Dicky dan Reina
dengan muak. “sial! Kenapa Dicky ngajak Reina pulang bareng? Kalo kaya gini percuma
gue deketin Dicky” gerutu Tamara.
Tiba-tiba saja ada yang mencengkeram
lengan Tamara dengan kuat. Dengan kaget gadis itu menoleh.
“gue mau bicara sama lo. Penting!”
ucap Bisma dingin. Ditariknya Tamara kuat namun masih lumayan lembut. Ia
mendengar apa yang dikatakan gadis itu barusan. Ternyata benar seperti apa yang
dipikirkan Reina, Tamara ingin membalas dendam.
***
“Dicky! gue gak mau diajak pulang
bareng lagi sama lo kalo lo bawa motornya kaya orang kesurupan gini” omel Reina
begitu sampai di depan rumahnya. Ia turun dari motor Dicky dengan tampang
kecut.
Dicky tertawa. “yang penting lo
selamat sampe rumah, kan? Sesuai sama janji gue, kan?”
“iya selamat. Tapi jantung gue
hampir copot pas tadi di jalan. Bisa-bisa gue ngeregang nyawa diatas motor lo”
saut Reina.
“gak usah lebay deh. Buktinya
lo masih hidup sampe sekarang” saut Dicky mengacak-acak rambut Reina dengan
gemas.
“ehem!” Terdengar seseorang
terbatuk-batuk yang sepertinya sengaja. Dicky dan Reina langsung menoleh ke
balik pagar rumah Reina.
“kak Reza!” teriak Reina kaget.
“kok ke rumah sih? Aku belum liburan kenapa kaka udah?” lanjutnya lagi langsung
memeluk cowok itu.
Dicky sedikit terheran melihat
Reina yang langsung menerjang tubuh cowok itu. Terbesit rasa sakit di dadanya.
Tapi dengan cepat rasa itu langsung hilang. Ia juga bingung rasa apa yang
barusan hampir di dadanya.
“itu bisa dibahas di dalam”
jawab Reza balas memeluk Reina. “tapi cowok yang nganterin lo ini siapa?”
lanjutnya sambil melirik Dicky.
Reina langsung melepaskan
pelukannya. “Oh iya sampe lupa. Ini Dicky. Dia kakak kelas sekaligus ketua di
bidang kegiatan tempat gue di OSIS” ucap Reina memperkenalkan Dicky. “Dicky,
ini kakak gue, namanya Reza. Harusnya dia sekolah di Bandung, tapi ini gue juga
bingung kenapa dia ada disini” lanjutnya memperkenalkan Reza.
“Siang. Salam kenal” ucap Dicky
mengulurkan tangan sambil tersenyum kecil.
“iya” jawab Reza terkesan acuh
tak acuh dan tidak balas mengulurkan tangannya.
Reina mendelik kesal ke arah
kakaknya. Dicky tersenyum kecut. “yaudah, gue pamit. Na, gue balik ya”
“hati-hati, ky. Kalo lo bawa
motornya kaya tadi, bisa gak selamat lo” saut Reina bercanda.
“sip, bos. Haha” saut Dicky
lalu memacu motornya menjauhi rumah Reina.
“ayo masuk” ajak Reza
menggenggam tangan Reina dan menarik Reina dengan lembut untuk masuk ke dalam
rumah.
“kakak kok jutek gitu sih sama
Dicky?” protes Reina.
“gue gak suka liat dia lancang
banget megang-megang lo. Udah gue duga, gak aman lo gue tinggal sendiri di
sini. Makanya gue mutusin buat pindah ke sini lagi. Karena mama papa gak
setuju, gue buat onar di Bandung dan akhirnya gue disuruh ke Jakarta lagi”
jelas Reza.
“itu biasa loh ka. Gue juga
udah deket sama dia. Kaka baru ketemu sekali, gak bisa langsung ngecap dia
jelek” saut Reina.
“kalo gue gak suka, tandanya lo
harus nurutin gue. Gue mau yang terbaik buat lo, na” saut Reza menatap adiknya
dengan penuh kasih sayang.
“dasar sister complex. Udah bagus
lo di Bandung, malah ikutan ke sini” gumam Reina kesal. Reza ini memang sayang
sekali sama Reina. Tapi caranya salah. Ia terlalu mengkekang Reina. Terlalu
khawatir dengan keadaan Reina padahal Reina baik-baik saja.
“lo kan udah kelas 12. Apa bisa
lo pindah? Kan nama lo udah ke daftar jadi murid di sana” lanjut Reina
penasaran.
“papa udah daftarin kita ke
sekolahan lo dan urus semuanya. Dikasih duit juga semuanya jadi beres. Besok
kita berangkat bareng” ucap Reza tidak mendengar gumaman Reina.
Reina menatap Reza dengan
bingung. “Kita?” Tiba-tiba saja ada satu nama yang terlintas di otaknya.
“Jangan bilang kalo...”
“iya. Gue juga pindah ke sini!”
teriak seorang cowok membuka pintu depan dengan wajah gembira. Dan kebetulan
Reza dan Reina sudah berdiri di depan pintu.
“Ilham?! Astagaaa” teriak Reina
kesal tapi terdengar pasrah.
***
Setiap Reina lewat, orang-orang
pasti akan memerhatikannya. Bahkan tidak jarang ada yang sampai berbisik-bisik setelah
Reina melewatinya. Reina memasang wajah cemberut dan berusaha berjalan lebih
cepat agar ia bisa segera menyelesaikan tugasnya ini.
Setelah sampai di kantor kepala
sekolah, Reina mengetuk pintunya. Terdengar suara seorang lelaki tua menyahut
dan Reina masuk ke dalam kantor tersebut. “Pak, ini kakak-kakak saya sudah saya
antar ke sini” ucap Reina sopan.
“terima kasih, Reina. kamu bisa
masuk ke kelas. Jam pelajaran akan di mulai” ucap Pak Raldo dengan berwibawa.
Reina mengangguk sekilas lalu
meninggalkan ruangan ini dan kedua kakaknya yang terlihat santai.
Reina berjalan sambil bersungut-sungut.
Ia bisa mengetahui apa yang akan terjadi setelah Reza dan Ilham akan satu
sekolah dengannya. Ia bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi saat ia
masih duduk di bangku SD dan SMP. Ia selalu satu sekolah dengan kedua kakaknya
ini. Dan parahnya, kedua kakaknya ini terlalu over protective terhadapnya. Kemana-mana mereka selalu mengawalnya.
Saat baru masuk SMA, Reina
merengek kepada kedua orang tuanya agar tidak bersekolah di tempat yang sama
dengan kedua kakaknya dan pindah dari Bandung. Kedua orang tuanya pun mengerti
dan mengirim Reina ke Jakarta agar lebih mandiri. Reina pun dititipkan kepada
tantenya yang ada di Jakarta, yaitu tempat tinggalnya sekarang. Setiap liburan,
kedua orang tua Reina dan kedua kakaknya menjenguknya ke Jakarta.
Dan tiba-tiba saja ditengah
semester, kedua kakaknya pindah ke Jakarta dan tinggal bersamanya. Bisa
dipastikan kejadian sewaktu SD dan SMP akan terulang kembali. Reina langsung
menelpon kedua orang tuanya dan memprotes keputusan papanya yang memindahkan
Reza dan Ilham ke Jakarta. Papa menjelaskan kalau ia memindahkan Reza ke
Jakarta karena ia sudah terkenal badung di Bandung. Dan ia juga memindahkan
Ilham karena ia merasa kalau lebih baik Reza, Ilham, dan Reina kembali bersama.
Reina mendecak kesal begitu
mendengar alasan papanya. Lebih baik bersama-sama? Apa mereka
tidak melihat bagaimana tersiksanya Reina yang selalu dikekang kedua kakaknya
itu? Reina benar-benar tidak habis pikir dengan alasan itu.
***
Begitu istirahat, Dicky
langsung menghampiri kelas Reina dengan terburu-buru. Begitu sampai, ia
memunculkan wajahnya di depan pintu.
Tamara langsung menghampirinya.
“ky, kantin bareng yuk!” ajak Tamara.
“sorry, ra. Gue ada urusan sama
Reina. Bisa panggilin dia gak?” ucap Dicky sedikit tidak enak.
“Reina! Lo dipanggil” panggil
Tamara terdengar malas.
Reina menatap sinis ke arah
Tamara. Ia berjalan ke pintu dan melihat ada Dicky disana. Ia langsung
tersenyum manis. “lo manggil gue? Ada apa, ky?”
“sok manis” desis Tamara sinis
yang hanya didengar oleh Reina. Reina hanya memasang wajah acuh tak acuh.
Tamara masuk kembali ke dalam kelas dengan wajah kesal. Tiba-tiba saja ia
teringat kata-kata Bisma kemarin. Sial! Pasti Reina sudah menceritakan semuanya
sampai Bisma tau kalau ia menyukai cowok itu. Bahkan cowok itu juga membahas
tentang perang dingin antaranya dengan Reina. Setelah ia ditegur Bisma,
bukannya dia ingin berbaikan dengan Reina. Perasaan bencinya semakin parah.
Lagi-lagi Tamara salah paham. Missunderstand...
“Na, tadi gue ngeliat kakak lo
masuk ke kelas Bisma. Dia daftar sekolah disini?” tanya Dicky semangat.
Reina langsung memasang wajah
kesal. “gue kira apaan. Gak taunya lo bahas dia”
“kenapa sih? Dia kan kakak lo.
Kemarin lo juga keliatan senang begitu liat dia. Emang ada apa sih?” tanya
Dicky mengeluarkan jurus ingin tahunya.
“dia over protektif banget ke
gue. Kemana-mana gue harus sama dia. Gak boleh ini-itu yang gak disukai dia.
Dan kakak gue gak cuma satu yang kaya gitu. Gimana gue gak kesel?” cerita
Reina.
“gak cuma satu? Maksudnya?”
tanya Dicky heran.
“Reina! Ternyata kelas lo di
sini. Hebat juga ya lo. Gue tanyain anak-anak di sini dimana kelas lo, mereka
pada tau. Lo anak eksis ya? Nurun dari gue dong” saut Ilham menghampiri Reina
dengan wajah gembiranya.
“lo lagi?” seru Reza terlihat
kesal begitu melihat Dicky ada di sana.
“tuh kan. baru diomongin
langsung muncul” desis Reina pada Dicky. Dicky hanya meringis kecil.
“eh, Reza. Hehe” ucap Dicky
tersenyum kecil.
“loh? lo kenal dia, za? Kenal
dimana?” saut Ilham bingung.
“kemarin dia nganterin Reina pulang.
Dan mereka keliatan mesra” ucap Reza datar.
Reina melotot ke arah Reza.
“ka, gue gak keliatan mesra sama Dicky!” saut Reina marah.
“diliat dari mata gue, kalian
mesra” jawab Reza.
“oh lo sekarang udah berani ya
pacaran. Kan udah kita bilang, lebih baik lo belajar dulu, baru mikir gituan.
Lo masih kecil, na” saut Ilham menasehati Reina.
“gue gak pacaran dan gue udah
besar. Kalian jangan lebay gini deh. Ini urusan gue” saut Reina.
“sejak kapan lo berani nentang
kita? Diajari cowok ini?” tanya Reza melirik sinis ke arah Dicky.
Dicky hanya bisa diam. Entah
kenapa ia sedikit tidak berani menentang. Sudah terlihat jelas kalau Reza dan
Ilham terlalu menyayangi Reina sampai benar-benar ingin melindunginya. Ia tidak
mungkin menentang kedua orang itu. bisa habis ia dipukuli mereka berdua.
“udah ya, ka. Gue gak diajari
siapa-siapa. Gue emang kaya gini. Please, kalian ngertiin gue” ucap Reina
memelas kepada kedua kakaknya.
“lebih baik lo pergi aja deh.
Ngerusak lo!” usir Ilham pada Dicky.
“permisi” ucap Dicky pelan lalu
pergi menjauh.
“ky, nanti kita pulang bareng!”
teriak Reina.
“gak! Lo pulang bareng kita”
saut Reza menatap Reina dengan tajam. Dicky yang mendengar itu langsung
tersenyum pada Reina dan mulutnya bergerak seperti mengatakan, ‘lo bareng kakak
lo aja’. Setelah memastikan kalau Reina melihat gerak mulutnya, ia berjalan
mnjauh.
“sampe kapan kalian ngejagain
gue kaya gini? Gue udah besar. Gue gak perlu kemana-mana selalu bareng kalian.
Gue risih” saut Reina marah.
“kita sayang sama lo dan kita
gak mau lo kenapa-napa. Jadi lo harus nurutin kita” saut Ilham menggenggam
tangan kanan Reina dengan lembut. Ia juga tersenyum tipis.
“sekarang kita ke kantin” ajak
Reza ikut menggenggam tangan kiri Reina. Suaranya sudah lebih tenang dari
sebelumnya. Wajahnya juga sudah menunjukkan kalau ia benar-benar menyayangi
adik perempuannya itu.
Reina menghela nafas dengan
pasrah. Dibiarkannya kedua kakaknya itu menariknya ke kantin. Sepertinya Reza
dan Ilham sudah diajak berkeliling oleh seseorang dan sudah mengetahui seluruh
isi sekolah barunya itu.
Tamara keluar dari kelasnya
sambil tersenyum tipis. Ia bisa mendengar semua percakapan itu dari dalam kelas
dan ia pun tersenyum puas. Rasanya ia tidak perlu melakukan apapun untuk
memisahkan Reina dengan Dicky ataupun dengan Bisma. Karena Reza dan Ilham akan
melakukan itu semua.
***
“Bisma!” teriak Reina begitu
melihat sosok Bisma.
Bisma menoleh kebingungan mencari
siapa yang memanggilnya. Reina yang menyadari itu langsung memunculkan sedikit
wajahnya dari balik pohon dan mendesis kembali memanggil nama Bisma.
“Reina? ngapain lo dibalik
pohon gitu?” saut Bisma ketika sudah melihat Reina.
“mana mobil lo? cepet gak pake
banyak omong bawa kesini! Gue mau numpang” desis Reina dengan terburu-buru.
Bisma ingin bertanya lebih
jauh, tapi tiba-tiba saja ia langsung berlari menuju parkiran dan membawa
mobilnya ke tempat Reina bersembunyi. Dengan gesit Reina masuk ke dalam mobil. Ntah
karena apa, Bisma langsung menjalankan mobilnya dengan terburu-buru seakan
mengerti apa yang akan dikatakan Reina.
Reina menghela nafas lega.
Memang dari tadi ia merasa seperti sedang menahan nafas karena terlalu tegang.
“sekarang lo mau cerita?” ucap
Bisma menoleh sekilas ke Reina lalu kembali fokus menyetir.
“tadi gue lagi kabur dari
kakak-kakak gue yang protektif banget ke gue” jelas Reina singkat. Ia sedang
tidak ingin membahas kedua kakaknya itu.
“kakak-kakak lo? Lo punya
kakak? Lebih dari satu?” tanya Bisma sedikit kaget.
“ya begitulah. Kata Dicky,
kakak gue ada sekelas sama lo” jawab Reina.
“sekelas sama gue...” Bisma
terlihat sedikit mengingat. “oh! Reza anak baru itu? dia kakak lo?”
“iya. Kenapa? Tingkahnya
memalukan yah? Wajar” saut Reina malas.
“bukan. Dia asik diajak
ngobrol. Gue sempet ngajak dia keliling sekolah sebelum bel masuk” saut Bisma
dengan semangat.
Reina menganga tidak percaya.
“dia a-s-i-k?”
“iya. Kenapa lo kabur dari dia?
Harusnya lo seneng punya kakak kaya dia” saut Bisma
“seneng apanya! Dia protektif
banget ke gue. Apalagi kalo udah gabung sama Ilham. Aduh, mampus gue.
Kemana-mana harus bertiga. Kalo gue lagi jalan sama temen, pasti dibuntutin”
sungut Reina.
“Ilham? Kakak lo juga ya? Kelas
berapa? Masa sih sampe segitunya?”
“iya. Dia kelas 11. Lo sih gak
tau gimana kronologisnya. Tanya Dicky aja deh. Gue udah cerita semuanya ke dia
tadi waktu istirahat. Males gue ceritain 2 orang itu terus”
Bisma hanya diam. Terbesit
perasaan kecewa dalam hatinya. Ia mencoba untuk mengerti kalau Reina memang
meyukai Dicky, bukan dirinya. Pasti Reina sudah menceritakan semua tentang
dirinya pada Dicky. Untuk apa menceritakannya pada Bisma? Bukannya ia tidak
berguna untuk gadis itu?
“Bis, kanan!” perintah Reina
tiba-tiba saja.
Dengan spontan Bisma
membelokkan mobil ke arah kanan. “rumah lo kan lurus. Ngapain belok ke kanan?”
“gue males cepet-cepet pulang.
Pasti tuh 2 orang udah pada di rumah terus nanya macam-macam ke gue dan juga ke
lo begitu nanti kita sampe. Jadi kita mampir dulu ke taman yang waktu itu.
masih ingat jalannya kan?” jelas Reina.
Bisma mengangguk kecil. Ia
memfokuskan diri untuk menyetir, sementara Reina sibuk dengan handphonenya.
Ntah apa yang dilakukan gadis itu tapi benar-benar terlihat sibuk.
Setelah beberapa menit, Reina
berhenti melakukan kegiatannya dengan handphonenya itu, karena batrainya sudah
habis. Ia menatap jalan di depannya dengan bingung. “Bis, kok lama sih
sampenya? Perasaan tadi harusnya dkit lagi sampe”
“na, kayanya kita salah jalan
deh” ucap Bisma pelan.
“salah jalan?! Pantes gue gak
pernah liat jalan ini. Jadi gimana dong?” tanya Reina dengan panik.
“udah jangan panik. Kita pake
gps. Hp lo bisa kan?” saut Bisma menepikan mobilnya dipinggir jalan.
“barusan aja mati. Batrenya
udah habis” jawab Reina dengan lemah.
“Hp gue gak ada pulsa. Batrenya
juga udah tinggal dikit banget. Udah pasti gak sanggup buat gps lagi” saut Bisma.
“coba kartu gue pindah ketempat
lo. Coba telpon siapa pun dan minta tolong sama mereka buat jemput kita kesini.
Mungkin batrenya masih cukup” saran Reina sambil memberikan SIM Cardnya pada
Bisma.
Setelah dipasang, Bisma menekan
beberapa tombol lalu meletakkan handphone itu ditelinganya. Terdengar suara
sambungan yang tak lama kemudian diangkat oleh seseorang di seberang sana.
“Dicky, tolongin gue! Gue sama
Reina nyasar di jalan kearah taman waktu itu. si Reina suntuk terus ngajakin ke
sana. Kayanya gue salah belok. Disini sepi banget. Gak ada mobil lewat. Tolong
susul kita” saut Bisma yang ternyata menelpon Dicky.
“...............”
“tandanya? Disini ada
banyak...” Bisma diam sebentar lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya,
diikuti dengan Reina. “ada banyak pohon-pohonan gitu. Kaya mau masuk ke hutan.
Cuma jalannya diaspal. Pokoknya tadi kita tujuannya ke taman yang waktu itu,
cuma gue salah arah.” Jelas Bisma.
“...............”
“tanda yang lain? Ada...”
tiba-tiba saja sambungan telepon terputus. Bisma mengecek handphonenya lalu
merutuki diri. “sial! Batrenya habis, na”
“terus gimana ini, Bis? Apa
kita bisa pulang ke rumah masing-masing? Gue takut” ucap Reina pelan.
Bisma menatap Reina dengan
penuh penyesalan. “maaf, na. Gak seharusnya gue sok tau soal jalannya tadi. Gue
gak enak mau nanya ke lo, habis lo keliatan sibuk banget sama hp lo itu” ucap
Bisma menyesal.
Reina hanya mengangguk kecil.
“sepenuhnya bukan salah lo. Ini salah gue juga gak mau liatin jalan dari tadi”
“yaudah, sekarang kita tunggu
Dicky dateng ke sini. Gue yakin dia pasti bisa nemuin kita disini. Kita berdoa
aja” ucap Bisma mengelus rambut Reina dengan lembut.
“amin” ucap Reina pelan lalu
tersenyum kecil membalas senyuman Bisma.
***
Dicky terus mencari informasi
tentang jalan-jalan yang ada di sekitar taman tersebut. Seharian ia kesana
kemari mencari informasi, namun ia belum mendapatkan informasi apapun. Ia terus
mencoba menghubungi nomor Bisma maupun Reina, tapi tidak mendapatkan hasil
apa-apa. Ia juga terus mencoba mengingat jalan menuju taman itu, tapi ia tidak
mengingatnya sama sekali.
Dengan sedikit ragu Dicky
mendatangi rumah Reina. Saat ini sudah sore. Lebih dari 3 jam yang lalu saat
Bisma meneleponnya tadi. Ia berniat untuk memberitahu kedua kakak Reina
bagaimana kondisi adiknya itu sekarang. Ia tahu pasti kalau Reza dan Ilham
sedang khawatir menunggu Reina pulang ke rumah.
Dicky menekan bel rumah Reina.
Beberapa saat kemudian pintu dibuka dan muncul wajah Ilham dibaliknya. Awalnya
Ilham merasa senang karena mengira yang datang adalah Reina. ia langsung
memasang wajah kecut begitu melihat wajah Dicky.
“Mana Reina? Dia belum pulang
dari tadi. Pasti sama lo, kan?” saut Ilham ketus.
“itu yang buat gue dateng
kesini. Tadi gue dapat telpon dari Bisma, orang yang bareng Reina sekarang,
kalau mereka nyasar di sekitar taman tempat biasa Reina nongkrong. Katanya
jalanan disana sepi banget. Cuma ada pohon-pohonan aja” cerita Dicky.
Ilham terdiam sebentar mencoba
menatap mata Dicky. Lalu tiba-tiba saja ia masuk ke dalam rumah membuat Dicky
kebingungan. Namun beberapa menit kemudian Ilham muncul kembali bersama Reza
dan ditangannya ia memegang kunci mobil.
“jadi, lo tau soal taman itu?”
tanya Reza yang sepertinya sudah tau apa yang Dicky ceritakan tadi pada Ilham.
“gue tau. Cuma gue lupa jalan
ke sananya. Gue cuma sekali diajak ke sana sama Reina” jawab Dicky.
“apa gak ada orang lain yang
pernah ke taman itu selain lo dan Reina?” tanya Ilham.
“Bisma pernah. Tapi dia nyasar
bareng Reina” jawab Dicky. Ia terlihat mengingat perkataan Reina saat mereka
berada di taman itu. “oh ya! Ada sahabatnya yang sering ke sana bareng Reina.
Namanya Tamara” lanjutnya.
“lo tau rumah dia di mana?”
tanya Reza sedikit berharap. Perasaannya sudah tidak karuan. Ia merasa khawatir
dengan keadaan Reina sekarang.
“iya, gue tau” jawab Dicky
dengan singkat.
“sekarang anter gue ke sana.
Cepat!” saut Reza merebut kunci mobil yang ada ditangan Ilham. Dicky dan Ilham
langsung mengikuti Reza dan naik ke mobil yang meluncur menuju rumah Tamara.
***
“ke taman tempat gue nongkrong
sama Reina? Ngapain?” tanya Tamara mengernyit bingung. Ia sedikit heran melihat
Dicky dan kedua kakak Reina tiba-tiba saja menghampiri rumahnya. Dan ia semakin
heran melihat kedua kakak Reina tidak memasang wajah kesal kepada Dicky.
“Reina nyasar waktu dia mau ke
taman itu” jawab Dicky.
“dia nyasar? Mana mungkin. Dia
yang paling tau jalan ke sana” saut Tamara.
“tapi dia bareng Bisma. Bisma
salah belok. Dan mungkin Reina gak liat jalan, jadi gak tau kalo Bisma salah
jalan” saut Dicky tidak sabar. “sekarang anterin kita ke sana. Gue yakin lo
pasti tau jalan-jalan di daerah sana”
Begitu mendengar nama Bisma,
Tamara langsung memanas. “oke, gue tau jalan-jalan di daerah sana. ayo berangkat!”
saut Tamara.
Reza langsung menghidupkan
mesin mobilnya dan menunggu semuanya naik ke dalam mobilnya. Dengan arahan
Tamara, mereka semua sampai di taman. Mereka terus menyusuri jalanan disekitar
taman itu yang mungkin bisa membuat orang tersesat. Dan mereka menemukan sebuah
mobil terparkir di pinggir jalan.
TO BE CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar