“Dicky? ngapain lo disini?”
tanya Reina bingung. baru saja ia keluar dari kelasnya, ia langsung melihat
Dicky yang berdiri di depan kelasnya seperti sedang menunggu seseorang.
“gue mau...” Dicky langsung
tersenyum begitu melihat seseorang di belakang Reina. Dicky menghampirinya dan
meninggalkan Reina yang kebingungan.
Dengan penasaran Reina menoleh
ke belakang. Terlihat Dicky tersenyum senang begitu melihat Tamara. Reina
tersenyum kecut.
“lo udah nunggu lama?” tanya
Tamara berbasa-basi.
“gak kok. Yaudah langsung cabut
yuk! Biar urusannya cepat selesai” ucap Dicky menggenggam tangan Tamara.
“tapi kita mau kemana?”
“udah bahasnya di mobil aja.
ayo buruan!” Dicky menarik Tamara dengan lembut. Ketika melewati Reina, Dicky
tersenyum kecil. “duluan ya, na”
Reina hanya mengangguk kecil.
Mulutnya sudah tidak sanggup lagi untuk berkata-kata. Sakit melihat Dicky
menggenggam tangan Tamara. Tapi lebih sakit lagi melihat Tamara tersenyum sinis
begitu melewatinya.
“Reina...” ucap Bisma pelan. Ia
bingung melihat Reina yang menangis di tengah koridor.
Reina sedikit mengangkat
kepalanya. Tapi ia hanya diam tidak menanggapi sapaan Bisma.
Bisma yang mengerti langsung
menarik Reina ke dalam pelukannya. “ayo ikut gue! Gue mau ngajakin lo ke suatu
tempat” bisik Bisma.
***
Reina memandang Bisma dengan
bingung. “atap sekolah?” ucapnya heran.
Bisma tersenyum mengangguk. Ia
mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “gue ngerasa nyaman di sini. Disini gak
terdengar suara ribut dari bawah. Kalo butuh tempat tenang, gue suka kesini”
Bisma duduk di pinggiran atap
gedung. Dengan takut-takut Reina duduk disebelah Bisma. Ia mendongak ke bawah
dan terlihatlah murid-murid sekolah mereka yang sedang sibuk dengan kelompok
masing-masing. Terlihat begitu jauh. Reina sampai merinding karena takut terjatuh
dari atap ini.
“jangan liat ke bawah. Ntar
jatuh beneran” ucap Bisma menarik tangan Reina yang otomatis menarik badan
Reina untuk sedikit menjauh dari pinggir atap gedung sekolah.
Mereka saling diam. Reina sibuk
memikirkan sikap Tamara yang menjauh darinya. Ia juga memikirkan Dicky yang
terlihat sangat tertarik dengan Tamara. Lagi-lagi ia menangis. Ia kesal. Ia
marah. ia tidak terima kalau Tamara dekat dengan Dicky. Ia tidak mau kalau
Dicky sampai jatuh cinta pada Tamara. Ia hanya ingin Dicky menjadi miliknya.
Bukan milik orang lain.
“kalo butuh tempat curhat, lo
bisa cerita ke gue” ucap Bisma ramah.
Reina memandang Bisma dan
tersenyum. “makasih. Tapi gue belum siap cerita” ucapnya pelan. Ia mengelap air
matanya.
“oke. Kalo lo butuh gue, lo
bisa panggil nama gue 3 kali” ucap Bisma tersenyum kecil.
Reina terkikik geli. “Bisma
garing”
“garing tapi ketawa. Gak jelas”
“habis cara ngomongnya aneh
sih. Buat geli aja”
“ya berarti gak garing dong”
“iya iya Bisma gak garing.
Bisma cocok jadi pelawak”
Bisma merangkul Reina lalu
mengacak-acak rambut Reina dengan gemas. Ia tertawa kecil saat Reina berusaha
menjauhkan kepalanya dari tangan Bisma yang terus menerus mengacak-acak
rambutnya.
Reina membereskan rambutnya
yang berantakan dengan wajah cemberut. Lagi-lagi Bisma tertawa. Dengan gemas ia
mencubit pipi Reina. Reina langsung berteriak kesal.
***
Tamara berdiri di sebelah Dicky
dengan jenuh. Sudah banyak toko yang mereka masuki namun Dicky belum juga bisa
menentukan pilihannya. Padahal dari tadi Tamara sudah menunjukkan beberapa
barang yang menurutnya cocok untuk kakaknya Dicky seperti apa yang sudah
diceritakan Dicky soal kakaknya tersebut.
“ky, sampe kapan kita disini?”
ucap Tamara sudah tidak tahan untuk memprotes.
Dicky menoleh ke arah Tamara.
“lo udah bosan ya?”
Tamara tidak menjawab
pertanyaan Dicky. Ia jadi merasa tidak enak.
“tunggu bentar ya! Gue belum
bisa nentuin apa yang mau gue beli. Menurut lo ini bagus gak?” ucapnya
mengambil sebuah jam meja berwarna biru.
“bagus kok. Ambil itu aja”
jawab Tamara kesal.
“tapi kayaknya kakak gue gak
suka warna biru deh” ucap Dicky meletakkan jam itu ke tempatnya semula.
Dengan kesal Tamara
menghentakkan kakinya membuat Dicky menoleh kaget. “sebenernya lo butuh
pendapat gue gak sih? Dari tadi gue kasih saran, gak ada yang lo terima. Kalo
gitu lebih baik lo gak usah ajak gue kesini” ucapnya marah.
Dicky meringis merasa bersalah.
“maaf, raa. Yaudah yuk kita ke sana!” ucap Dicky menarik Tamara dengan lembut.
“terus gimana sama kado kakak
lo?”
“udah. Gue bisa cari besok.
Sekarang lo mau apa? es krim?” tanya Dicky begitu mereka sampai di toko ice
cream Fountain.
Tamara mengangguk dengan ragu.
“udah gak usah malu-malu. Lo
mau rasa apa? terserah”
“gue rasa coklat sama vanila
aja deh” jawab Tamara.
“oke” ucap Dicky tersenyum.
“mbak, minta rasa coklat vanilanya dua yah” ucapnya kepada petugas yang
berjualan.
Dengan cekatan petugas itu
mengambilkan apa yang di minta Dicky. Dan secepat itu pula Dicky membayarnya.
Tamara tersenyum senang begitu ia menyendokkan sesendok ice cream ke dalam
mulutnya. Sepertinya apa yang dikatakan orang-orang memang benar. Cokelat bisa
membuat perasaan kita lebih baik.
“gimana? Lo masih bete sama
gue?” tanya Dicky tersenyum geli.
“thanks yah, ky. Sorry tadi gue
marah ke lo. mood emang lagi gak stabil” jawab Tamara cengengesan.
“no problem, ra. Gue emang
salah sih dari tadi gak jelas mau beli apa. jadinya buat lo gak nyaman deh”
“jadi habis ini kita mau ke
mana, ky? Pulang?”
“terserah lo sih. Tapi gue
masih pengen nyari kado nih”
“Dicky...” ucap Tamara mulai
kesal.
Dicky tertawa geli. “bercanda,
raa. Kayaknya jadi sensitif banget nih haha”
“dasar lo. bercanda lo gak
lucu” saut Tamara mencolekkan es krimnya ke wajah Dicky. melihat wajah Dicky
yang terkena es krimnya, ia tertawa senang.
“gue bales nih!” saut Dicky
ikut mencolekkan es krimnya ke hidung Tamara. “lo kaya badut, haha”
Tamara hanya mendengus kesal
sambil mengelap es krim yang ada di hidungnya itu.
“ra, ada photobox tuh. Ke sana
yuk! Gue gak pernah foto di sana. penasaran gue” saut Dicky menunjuk sesuatu.
Tamara menoleh ke arah yang
dimaksud Dicky. “gue gak mau deh. Lo aja sendiri yang ke sana. kan lo yang
penasaran, bukan gue”
“ayolah temanin gue. Yang masuk
ke dalam sana selalu lebih dari satu orang. Kan gak lucu gue masuk sendirian”
ucap Dicky dengan memelas.
Tamara menghela nafas. “yaudah
deh” jawabnya pasrah.
Dicky langsung tersenyum senang
lalu menarik Tamara dengan lembut ke photobox tersebut. Mereka masuk dengan
hati-hati. Ini yang pertama kalinya mereka berdua masuk ke photobox ini. Jadi
mereka berdua benar-benar tidak tahu apa-apa.
Dicky menatap tombol-tombol
yang ada dihadapannya. Terdapat juga sebuah layar monitor yang menampakkan
wajahnya dengan wajah Tamara. Ia melihat sebuah tombol bertuliskan angka 4.
Dengan iseng ia menekan tombol tersebut.
“lo barusan nekan apaan?” tanya
Tamara penasaran.
“gak tau. gue Cuma iseng aja
tadi” jawab Dicky mengangkat bahunya. Ia masih sibuk melihat-lihat tombol yang
kini ada dihadapannya. Matanya tertuju pada sebuah tombol bertuliskan, OK. Dengan
hati-hati ia menekan tombol tersebut.
Cekrek... Tiba-tiba saja terdengar suara itu berulang-ulang hingga
empat kali. Tamara langsung menyikut Dicky dengan wajah bingung. Dicky juga
memandang Tamara dengan wajah bingung. sekarang terdengar suara mesin yang
mencetak sesuatu. Begitu selesai mencetak, Dicky mengambil kertas tebal itu.
Ternyata itu adalah hasil jepretan foto mereka!
Mesin itu kembali mencetak
sesuatu. Begitu selesai, dengan penasaran Tamara mengambilnya. Dan ternyata
sama. Kertas itu juga berisi hasil dari jepretan foto mereka yang tidak sengaja
di ambil itu.
Tamara memandang foto itu
dengan geli. Terlihat di foto pertama ia sedang melihat sekeliling sedangkan
Dicky tersenyum jahil. Di foto kedua, Tamara dan Dicky menatap kamera dengan
kaget. Dan di foto ketiga dan keempat, Tamara dan Dicky memasang wajah bingung
yang terlihat begitu lucu.
“berasa di candid seseorang
yah” ucap Dicky yang ternyata juga sedang tertawa geli.
Tamara hanya mengangguk
sekilas. Ia masih tersenyum-senyum.
“gimana kalo kita foto beneran?
Biar bagus gitu” usul Dicky.
Tamara terihat berfikir. Namun
akhirnya ia menganggukkan kepalanya tanda ia setuju.
Dicky kembali menekan tombol
angka 4. Lalu tangannya ia arahkan ke tombol OK. Ia menoleh ke arah Tamara.
“siap?”
Tamara tersenyum geli lalu
mengangguk. Dicky langsung menekan tombol OK tersebut. Cekrek... Tamara dan Dicky mengangkat dua jarinya dan tersenyum
lebar. Cekrek... Dicky dan Tamara meletakkan
kedua telunjuknya di pipinya masing-masing. Cekrek...
Dicky merangkul Tamara hingga membuat mereka terlihat akrab. Cekrek... Terlihat Tamara menoleh ke
arah Dicky dengan wajah marah sementara Dicky memeletkan lidah ke Tamara.
***
Tamara duduk di pinggir tempat
tidurnya. Ia merenggangkan tangan dan kakinya untuk melepaskan rasa lelah.
Kemudian ia merogoh tasnya dan menemukan dua buah foto yang membuatnya
tersenyum kecil. Foto dirinya dengan Dicky saat jalan-jalan tadi. Entah kenapa
ia merasa senang melihat foto itu.
Tamara memasukkannya ke dalam
selipan dompetnya. Lalu ia berjalan ke lemarinya dan mengambil baju tidurnya.
Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan rutinitasnya yang seperti
biasa sebelum ia tidur.
***
“ra, gue mau minta maaf” ucap
Reina menghampiri Tamara yang sedang duduk di bangku taman.
“gak ada yang perlu di maafin
atau minta maaf” jawab Tamara dingin.
“kalo emang gak ada, kenapa
kita harus perang dingin gini? Gue mau kita kayak dulu lagi, ra. Kita sahabatan
lagi” ucap Reina memelas.
“gue lagi badmood. Sorry” ucap
Tamara langsung pergi meninggalkan Reina.
Reina memandang punggung Tamara
yang menjauh dengan lesu. Perlahan ia jatuh terduduk tepat di tempat yang tadi
Tamara duduki. Ia memegang kepalanya seperti orang yang sedang sakit kepala. Ia
sudah tidak bisa merasakan nada bersahabat dari temannya itu. Apa persahabatan
mereka harus berakhir hanya karena kesalah pahaman?
Reina memandang ke rerumputan
dan heran begitu matanya menangkap sebuah dompet jatuh di sana. dengan
penasaran ia mengambilnya dan membukanya. Mungkin ia bisa tahu siapa pemilik
dompet ini dari fotonya. Begitu ia membuka dompet tersebut, jantungnya berdebar
keras. Matanya terasa panas. Ia mulai emosi.
Terengah-engah Reina berlari
mengejar Tamara. Begitu sudah melihat orang itu, dengan kasar ia membalikkan
badan orang tersebut. “apa maksud ini semua?!” teriak Reina melemparkan foto
beserta dompetnya ke badan Tamara.
Tamara menatap foto yang jatuh
di tanah itu. lalu ia memandang Reina dengan datar. “perlu gue jelasin?”
Reina terengah-engah karena
emosi. Air matanya sudah tumpah. “lo tau kan kalo gue suka sama dia?! Terus
kenapa lo ngelakuin ini?! Lo mau nusuk gue dari belakang?!”
“ngaca! Lo juga ngelakuin hal
yang sama ke gue!” teriak Tamara mulai emosi.
“tapi gue gak ada hubungan
apapun sama Bisma! Dan gue gak pernah foto mesra sama dia sampe gue simpan di
dompet! Keterlaluan lo, ra!” Reina menangis terisak-isak sambil memukuli
Tamara. Setelah puas, ia berlari menuju atap sekolah.
“Gue benci Tamara! Gue gak akan
pernah mau berteman sama dia! Najis!” teriak Reina begitu ia sudah sampai di
atap sekolah. Ia menangis terus menerus. Ia menjatuhkan dirinya hingga
terduduk. Ia merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
***
“Tamara, Reina di mana? Gue ada
perlu sama dia” tanya Dicky menghampiri Tamara yang sedang melamun di depan
kelasnya.
Tamara melirik Dicky lalu
mengangkat bahunya. “mungkin Bisma tau”
“kalian berantem ya?” tanya
Dicky ingin tahu.
“itu bukan urusan lo”jawab
Tamara ketus.
“yaudah sih gak usah marah. gue
Cuma nanya doang. Yaudah gue mau cari Bisma. Mana tau dia tau Reina di mana”
saut Dicky berjalan menjauhi Tamara.
Tamara kembali memandang
kosong. perasaannya diliputi rasa bersalah. Tapi ia tetap keras kepala. “bukan
gue yang salah. Dia yang salah, karena udah buat gue sakit hati. Gue harus
balas rasa sakit hati yang gue rasain ke dia. Bahkan harus lebih sakit dari
ini” desisnya.
***
“Reina...” desis Bisma yang
saat ini sedang di kantin. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Reina. Kakinya
membawanya ke atap sekolah dengan cepat. Hati-hati Bisma mendekati sesosok
gadis yang sedang meringkuk. Kepala gadis itu diletakkan di sela lutut kanan
dan kirinya sendiri.
Bisma menyentuh pundak gadis
itu. dengan perlahan gadis itu, yang ternyata Reina, mengangkat kepalanya.
Wajahnya terlihat lusuh. Rambutnya begitu berantakan. Matanya mulai membengkak.
Rok dan bajunya basah terkena air matanya.
“na, lo kenapa? Kok berantakan
gini?” tanya Bisma khawatir. Ia merogoh sakunya untuk mengambil saputangan.
Lalu ia memegang wajah Reina dan mengelap wajah Reina dengan lembut. Sesekali
ia merapikan rambut gadis itu dengan penuh perhatian.
“Bisma.. gue sendirian. Sahabat
gue khianatin gue, Bis” ucap Reina pelan kemudian menangis lagi.
Bisma langsung memeluk Reina
dengan erat. Dengan penuh kasih sayang ia mengelus-elus punggung Reina untuk
menenangkannya. “gue ada di sini untuk lo. lo ingat apa kata gue kemarin, kan?
itu masih berlaku” bisik Bisma pelan.
Reina menangis di dalam pelukan
Bisma. Ia memeluk Bisma dengan erat seakan tidak mau kehilangan cowok ini.
“Tamara, Bis. Dia ja-jalan sama cowok yang aku su-suka. Dan me-mereka foto
bareng dan mesra banget. Pa-padahal dia tau kalo gue suka co-cowok itu, Bis”
cerita Reina masih terisak-isak.
Bisma tertegun. Reina sedang
suka dengan cowok lain? Rasanya ingin ia melepaskan pelukannya dari tubuh
Reina. Tapi ia sadar, Reina sedang sangat sedih. Tidak mungkin ia melepaskannya
ataupun meninggalkannya. Ia sudah berjanji untuk terus di samping gadis ini.
Apapun yang terjadi.
“yaudah lo tenang dulu. Mungkin
lo Cuma salah paham” ucap Bisma mengelus rambut Reina.
Reina menarik diri dari pelukan
Bisma. “salah paham apanya, Bis? Secara gak langsung dia bilang kalo dia punya
hubungan khusus sama cowok yang gue suka ini. Lo bayangin deh. Apa bisa dua
orang lawan jenis yang tidak saling kenal bisa foto mesra berdua? Gak kan?”
“sekarang lo mau gimana? Cowok
yang lo suka itu tau gak kalo lo suka dia?”
Reina menggeleng pelan.
“nah. Berarti dia berhak jalan
sama siapapun, na. Foto sama siapapun. Lo gak berhak marah-marah cemburu kaya
gini” jelas Bisma pelan.
“gue gak marah ke cowok itu.
gue marah ke Tamara. Jelas-jelas dia suka sama orang lain dan dia juga tau kalo
gue ngejar cowok itu. tapi dia malah tetep jalan sama cowok itu, ky. Lo bisa
jadi gue, hah?”
Bisma duduk lalu mengajak Reina
duduk juga. Dengan gusar Reina duduk di sebelah Bisma. “gue juga lagi suka sama
cewek. Awalnya gue ngerasa kalo dia juga suka sama gue. Gak taunya gue salah.
Dia suka sama orang lain. Tapi gue gak langsung marah kaya lo. gue coba ngerti
kalo semua orang bebas suka sama siapa aja. kalau kita suka tapi dia sukanya
sama orang lain, buat apa kita paksain? Asal dia bahagia, kita juga bisa
bahagia” cerita Bisma dengan suara lemah.
Reina menatap Bisma. “gue gak
bisa kaya lo, Bis. Persoalan kita beda. Gue gak bisa liat orang yang gue sukai
dekat sama sahabat gue yang Cuma manfaatin dia demi balas dendam ke gue. Gue
gak terima”
“balas dendam ke lo?
maksudnya?” tanya Bisma bingung.
“dia salah paham sama hubungan
gue dengan orang yang disukainya itu. dia ngira gue punya hubungan spesial sama
orang yang disukainya, padahal gue gak ada apa-apa sama si cowok. Emang sih
kita dekat, tapi ya cuma temanan aja. Dan Tamara gak percaya. Terus kayanya dia
deketin cowok yang gue suka biar gue bisa ngerasain gimana rasa cemburu dia ke
gue yang selalu dekat-dekat sama si cowok yang disukainya itu”
“kayaknya? Berarti lo cuma
nebak doang?”
“tapi gue yakin, Bis. Dari
kata-katanya tadi seakan bilang ‘gue juga bisa buat lo ngerasain apa yang gue
rasain”
“nanti kalian sama-sama salah
paham? Mending pada maafan deh. Gak baik punya musuh” nasihat Bisma.
“gue gak mau. Gue udah
terlanjur sakit hati sama dia. Berkali-kali gue minta maaf, berkali-kali juga
gue ditolak mentah-mentah. Dikira dia, dia yang paling benar sampe gak mau
maafin orang lain? Udah males gue berteman sama orang kaya gitu” omel Reina.
Bisma menggeleng-gelengkan
kepalanya. “kita liat aja. seberapa lama sih kalian tahan musuhan gini? Gue
yakin pasti gak lama kalian berteman lagi”
“gak akan. Percaya sama gue”
jawab Reina yakin.
***
“astaga. Bisma kemana sih?
Reina juga. Kenapa pada ngilang semua? Heran gue” saut Dicky berbicara sendiri.
di tangannya ada kertas-kertas yang harus di fotocopy lagi. Tiba-tiba saja ia ditabrak oleh seseorang. Kertasnya
langsung berserakan.
“aduh, sorry. Gue yang salah,
karena gue tadi jalannya sambil nunduk” ucap gadis itu membereskan
kertas-kertasnya. Gerakan gadis itu tiba-tiba saja terhenti. Ia membaca tulisan
di kertas yang sedang dibereskannya itu. “loh? bukannya ini yang di ketik ka
Manda ya? Kok bisa di sini? Bukannya hari ini mau di sebar luaskan ke murid-murid?”
gumam gadis itu pelan.
“akhirnya gue nemuin lo juga!
Gue nyariin lo kemana-mana. Dari mana aja sih lo?” ucap Dicky langsung
mengomel.
Gadis itu mengangkat kepalanya
lalu tersenyum salah tingkah. “eh, Dicky. hehe”
“haha.. hehe.. lo dari mana aja,
Reina?” saut Dicky kesal.
“tadi gue ada masalah gitu.
Jadi harus diselesaikan secepatnya” jawab Reina memberikan kertas-kertas yang
sudah dikumpulkannya itu pada Dicky. “emang kenapa lo nyariin gue?”
“lo lupa kalo ini kertas mau di
sebar luaskan ke anak-anak? Ini masih kurang. Jadi mau di fotocopy lagi. gue
mau nyuruh lo ke tukang fotocopy buat fotocopy ini semua. Oke, na?” ucap Dicky
tersenyum tipis sambil memberikan Reina kertas-kertas itu.
“kenapa gue sih? Anggota lo kan
ada banyak” protes Reina. Masalahnya ia sedang dalam kondisi tidak enak. Ia sedang
tidak ingin melakukan apa-apa.
“tapi anggota gue semuanya udah
dapet kerjaan. Lo doang yang gak punya. Masih bagus gue suruh lo fotocopy. Daripada
gue suruh lo ngepel lantai ruang diskusi kita?” saut Dicky.
“oke-oke gue mau. Duitnya
mana?”
“pake duit lo. Ini sebagai
hukuman karena lo udah ngilang gak jelas”
“tega ya lo. gue lagi krisis
nih”
“itu mah derita lo. Lagian gak
akan lebih dari lima ribu. Kalo hemat jangan parah banget. Dadah, Reina” saut
Dicky tertawa meninggalkan Reina yang bersungut-sungut kesal.
***
Tamara menatap Reina yang baru
saja masuk ke dalam kelas dengan sinis. Ia bangkit dari duduknya, mengambil
tasnya lalu duduk di tempat kosong lainnya. Ia tidak mau lagi duduk sebangku
dengan Reina.
Reina duduk dengan santai
dibangkunya. Ia tidak melihat Tamara sama sekali. Sepertinya ia juga tidak
ingin duduk dengan Tamara lagi.
Seisi kelas langsung
berbisik-bisik. Beberapa hari ini mereka kebingungan melihat Reina dan Tamara.
Itu karena biasanya Reina dan Tamara bagaikan perangko dan amplop. Susah
dipisahkan. Tapi belakangan ini mereka berdua seperti sedang perang dingin dan
perang panas. Hal itu semakin jelas
karena kemarin anak-anak melihat keributan besar antara Reina dan Tamara.
“na, lo lagi berantem sama
Tamara ya?” tanya Tania penasaran. Ia memajukan wajahnya ke depan untuk bisa
berbisik dengan Reina, karena ia duduk di belakang gadis itu.
“gak tau” jawab Reina acuh tak
acuh. Ia langsung memasang headset ke telinganya lalu menghidupkan musiknya
kuat-kuat.
“ketus banget sih. Gue nanyanya
baik-baik kali” omel Tania yang tentu saja tidak didengar sama sekali oleh
Reina.
Beberapa menit kemudian Tania
menepuk-nepuk pundak Reina. Dengan kesal Reina melepas headsetnya dan menoleh.
“apaan sih?”
“itu ya yang buat lo sama
Tamara berantem?” tunjuk Tania ke luar kelas. Reina menoleh sekilas. Terlihat
di sana ada Dicky yang sedang berbicara dengan Tamara. “gue tau lo suka sama
dia” lanjut Tania.
Reina meremas buku yang ada di
mejanya. Kesal rasanya melihat Tamara tertawa bersama Dicky di depan matanya.
Apa maksud Tamara? Ingin membuatnya cemburu? Ia bisa membuat Tamara cemburu
juga. Lihat saja nanti.
“gue gak nyangka Tamara yang
baik gitu malah nusuk sahabatnya sendiri dari belakang. Tega banget. Sekarang
dia mulai berani nusuk lo dari depan, na. Lo harus hati-hati sama dia” ucap
Tania memanas-manasi Reina.
“bukan urusan lo” ucap Reina
lagi-lagi ketus. Ia menggebrak meja dengan keras lalu dengan gusar bangkit dari
duduknya. Ia melangkah keluar kelas dan dengan sengaja menabrak Tamara dengan
keras. Ia tersenyum ramah pada Dicky. tapi begitu ia menoleh ke Tamara,
senyuman itu berubah menjadi senyuman licik.
Tamara yang kaget karena
tiba-tiba ditabrak, langsung melemparkan tatapan kebencian ke Reina. Agaknya
kedua orang ini akan mengalami keadaan buruk di masa-masa persahabatan. Dan
mungkin akan sangat parah.
***
“lo udah saling sharing sama
Tamara?” tanya Bisma memandang ke depan. Terlihat awan-awan bergumpal dengan
sangat indah di atap sekolah mereka ini.
“kan udah gue bilang, gue gak
mau berteman sama dia lagi. ngomong secuil pun gue gak sudi” jawab Reina cuek.
“tapi dia itu...”
“udah lah Bis. Gue gak mau
bahas dia” potong Reina. Ia bangkit berdiri dari duduknya.
“lo mau kemana?” tanya Bisma
ikut berdiri.
“gue mau ke toilet. Lo mau
ikut?” saut Reina tersenyum geli.
“boleh deh. Gue juga mau ke
toilet” ucap Bisma menjulurkan lidahnya. Tanpa sadar Bisma menggandeng Reina
saat mereka menuruni tangga menuju toilet. Dan sepertinya Reina juga tidak
menyadarinya. Beberapa orang melihat Bisma dan Reina dengan heran.
“Lo mau ngikutin gue ke toilet
cowok nih? Tunggu di rumah aja kalo mau gitu. gak sabar banget” ucap Bisma
menggoda Reina saat Reina akan ikut masuk ke dalam toilet cowok.
“gak! Gue gak sadar kalo udah
sampe toilet!” sanggah Reina dengan wajah memerah.
“haha. Yaudah sana lo ke
toilet. Ntar keburu bocor tuh” tawa Bisma.
“apa sih? Gue kan pake cat
tembok anti bocor” saut Reina berusaha menghilangkan malunya.
“garing woo” saut Bisma
mengacak-acak rambut Reina dengan gemas.
“biasa dong broo” saut Reina
balas mengacak-acak rambut Bisma.
“uhuk!” saut seseorang
batuk-batuk dari belakang Bisma dan Reina. “jangan mesra-mesraan di sini.
Selain gak enak diliatin orang, kalian menghalangi fasilitas sekolah ini”
Bisma dan Reina berpaling. Lalu
dengan berbarengan mereka tersenyum salah tingkah. “eh, bapak. Hehe”
“silahkan pak masuk duluan.
Saya bisa belakangan” ucap Bisma lagi menggeser dirinya dan Reina untuk memberikan
jalan pada gurunya, Pak Andi.
“dasar anak muda” gumam pak
Andi sambil membuka pintu toilet dan masuk ke dalamnya.
“lo sih, Bis. Pake nahan-nahan
gue segala” saut Reina malu.
“salah lo lah. Lo yang
memperpanjang masalah sampe merembet ke cat tembok segala” saut Bisma tidak mau
kalah.
“yaudah salah kita berdua” saut
Reina malas. “tapi bisa kali lepasin gandengannya. Gue udah kebelet” lanjut
Reina melirik sekilas ke tangan kanannya.
Bisma melirik tangan kirinya
yang menggandeng Reina. “gue mau lepas kalo pak Andi udah keluar dari dalam.
Biar gue gak nunggu sendirian di sini”
“haduh gak masuk akal banget
sih alasannya. Di sini banyak orang. Bilang aja lo mau gandeng gue lama-lama”
cibir Reina.
“pede deh lo” saut Bisma tidak
terima. Tapi sebenarnya apa yang dikatakan Reina sangat tepat.
“yaudah lepas deh. Gue beneran
udah kebelet parah” saut Reina sedikit mundur ke belakang. Tiba-tiba saja ia
merasa menabrak seseorang. Reina menoleh diikuti Bisma.
“loh? Bisma, Reina? Kalian
ngapain gandengan di depan toilet cowok?” tanya Dicky heran.
Bisma meringis. “lo sendiri
ngapain ke toilet gandengan sama Tamara? Mau ke toilet bareng-bareng?”
Reina melepas paksa genggaman
tangan Bisma. Ia tersenyum sinis menatap Tamara. “wah, udah makin parah nih”
Tamara balas tersenyum sinis.
Ia semakin mempererat genggaman tangannya dengan Dicky. Dicky sedikit terlihat
bingung.
Tubuh Reina bergetar menahan
emosi. Matanya mulai berkaca-kaca. “permisi” ucap Reina kasar lalu pergi
meninggalkan Dicky, Bisma, dan Tamara.
“Reina! Lo mau kemana? Tadi
katanya mau ke toilet?” teriak Bisma heran. “gue cabut ya” saut Bisma mengejar
Reina.
Dicky mengikuti Bisma, namun
Tamara menahan tangannya. “ayo ke kantin” ucap Tamara sambil tersenyum.
Tanpa komentar Dicky mengikuti
Tamara walaupun dalam hatinya ia merasa heran. Ia tadi sempat melihat wajah
Reina yang seperti ingin menangis. Dia kenapa? Apa Bisma yang membuatnya
menangis? Tapi tadi ia melihat kalau Reina dan Bisma bercanda-canda. Reina
tidak terlihat sedih sama sekali. Ada apa dengannya?
TO BE CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar