Jumat, 07 Juni 2013

Missunderstand (Last Part)

Reina berjalan pelan di koridor sekolahnya sendirian. Sudah 3 hari ia tidak masuk sekolah. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Banyak orang sedang mengobrol santai sebelum jam pelajaran dimulai. Suasana sedikit ramai. Reina tersenyum tipis. “bener kata Reza sama Ilham. Setelah gue belajar ikhlas buat dapetin kemampuan ini, semua suara-suara itu menghilang dan gak nusuk-nusuk telinga gue lagi. Atau memang gue gak beneran dapat kemampuan itu?” gumam Reina pelan.
Saat memasuki kelasnya. Terdengar suara samar-samar yang ditangkap oleh telinganya. Reina menutup matanya berusaha menajamkan telinganya.
“ini dia cewek munafik udah dateng. Tumben sendirian. Biasanya ditemenin cowok. Cowoknya kan ada banyak. Dicky, Bisma, Reza, Ilham. Nanti siapa lagi? Dasar sok laku. Cewek gatal”
Reina membuka matanya. Ia tahu suara itu milik siapa. Ia menoleh ke sana kemari dan melihat Tamara sedang menatap sinis padanya. Namun ketika Reina menatapnya, Tamara membuang muka melihat ke arah lain.
Reina menghela nafas. Ia tak menyangka kalau Tamara sekarang benar-benar membencinya. Apa yang harus ia lakukan? Ia ingin sekali memperbaiki persahabatan mereka kembali seperti dulu. Sebelum ia dekat dengan Bisma. Ia menyesal dulu sempat berkata kalau ia tidak sudi berteman dengan Tamara lagi. Ia membutuhkan Tamara.
Reina meletakkan tasnya di bangkunya. Ia bergegas keluar, menuju kelas Bisma. Ada hal penting yang harus ia lakukan.
***
Bisma keluar dari kelasnya dengan heran. Baru kali ini Reina menghampirinya langsung ke kelasnya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. “ada apa, na?” tanya Bisma.
Reina menarik lengan Bisma agak menjauh dari kelas Bisma. “gue mau minta tolong sama lo, Bis” ucap Reina dengan tatapan memohon.
Bisma menaikkan sebelah alisnya. “minta tolong apa? gue usahain gue bisa bantu”
Reina menarik nafasnya. “tolong ya lo coba pdkt sama Tamara. Gue mohon banget, Bis” ucap Reina dengan wajah serius.
Bisma memelototkan matanya. “apa? Gue gak mau” ucap Bisma menolak mentah-mentah.
“Lo tega ngeliat gue musuhan terus sama Tamara? Gue pengen kami rukun lagi. lagian dia butuh lo, Bis. Dia jadi sinis gini karena dia iri sama gue yang dekat sama lo. dia ngira kita punya hubungan khusus. Tolong, Bis” ucap Reina menunduk memohon pada Bisma.
“apa emang sama sekali gak ada hubungan khusus diantara kita?” tanya Bisma pelan.
Reina menengadah menatap wajah Bisma. “ya gak ada lah. kita kan cuma temanan. Gak ada yang khusus, kan?”
Bisma mengangguk pelan. Terlihat raut kecewa di wajahnya. Namun dengan cepat ia menutupinya dengan senyum tipis. “yaudah, gue mau pdkt sama Tamara”
Wajah Reina langsung cerah. “thanks Bisma. Lo emang teman gue yang paling baik!” ucap Reina menggoyang-goyangkan kedua tangan Bisma.
Bisma tertawa geli. “iya sama-sama”
“kalo gitu gue balik ke kelas yah. Sukses pdktnya. Semoga rencana ini berhasil buat gue sama Tamara sahabatan lagi” ucap Reina senang lalu melambaikan tangannya dengan semangat.
“semoga aja” ucap Bisma memaksakan diri untuk tersenyum ikhlas.
***
“Tamara!” teriak Bisma saat melihat Tamara keluar dari kelasnya.
Tamara menatap Bisma keheranan. “lo manggil gue?” tanyanya pelan.
Bisma terkekeh pelan. “di sini siapa lagi yang namanya Tamara selain lo? udah deh gak usah jadi bego gitu. Yuk kantin” ucapnya lalu menggandeng tangan Tamara.
Tamara mendelik kaget. Ia tidak percaya Bisma melakukan ini padanya. Melakukan apa yang selama ini terus ia harapkan.
Reina melewati mereka berdua. Terlihat wajah kagetnya ketika melihat tangan Bisma sedang memegang tangan Tamara dengan erat. Namun dengan cepat ia tersenyum. “ciee.. mesra banget deh. Inget, ini masih di sekolah” ucap Reina tertawa meninggalkan Bisma dan Tamara.
Tamara menatap punggung Reina yang menjauh. Apa-apaan ini? Kenapa semua berubah?
Bisma menggoyangkan tangan Tamara. “lo ngapain bengong? Ayo kantin. Laper nih” ucapnya menarik Tamara dengan lembut.
Tamara hanya mengangguk. Ia bingung dengan semua ini. Otaknya belum bisa menerima semua perubahan yang terlalu mendadak seperti saat ini.
***
Sudah beberapa hari Bisma terus bersama Tamara. Keduanya sudah sangat dekat dan akrab. Kemana-mana selalu berdua seperti tidak bisa dipisahkan. Hubungan Reina dan Bisma juga mulai merenggang. Itu membuat Reina menjadi jengkel dan suka uring-uringan.
Dicky menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sedikit pusing melihat Reina yang terus berjalan bolak-balik di hadapannya. “lo ngapain sih?” tanya Dicky tak tahan lagi.
Reina terus melakukan kesibukannya. Ia berjalan bolak-balik sambil menggaruk kepalanya dengan kesal.
“Reina” panggil Dicky. Belum ada jawaban. Dicky terus mencoba memanggil terus. Namun hasilnya tetap sama. Reina belum juga menjawab panggilannya.
“Reina Alifa Sadira!” ucap Dicky menyebutkan nama lengkap Reina dengan keras.
Reina masih diam tak menjawab. Ia terus berjalan bolak-balik sambil melipat tangannya. Wajahnya sangat kusut. Kali ini ia benar-benar merasa kesal, karena merasa diacuhkan oleh Bisma.
Dicky mendecak kesal. Ia bangkit dari duduknya lalu menahan tubuh Reina yang hendak berbalik. Reina melotot kaget. “apaan sih? Buat kaget aja” dengus Reina cemberut. Ia menjauhkan diri dari Dicky.
“lo gue tanyain gak jawab terus. Dipanggil gak nyaut. Gue kesel” saut Dicky berkacak pinggang.
Reina tersenyum salah tingkah. “sorry. Gue gak sadar”
Dicky menggeleng-gelengkan kepalanya. “emang lo kenapa sih? Daritadi sibuk mondar-mandir mulu. Ada pikiran?” tanya Dicky penasaran.
Wajah Reina kembali kusut. “itu si Bisma sekarang nyuekin gue mulu”
Dicky memiringkan wajahnya. “terus?”
“iya. Dia nyuekin gue. terus sekarang sibuk sama Tamaraaaa aja. Tamara mulu. Ke kantin berdua. Ke taman belakang, berdua. Pulang sekolah, berdua. Pergi sekolah, berdua. Gue kan bete” saut Reina merengut.
Dicky tersenyum tipis. “terus lo cemburu?”
Reina menatap Dicky dengan shock. “cemburu? Gak!” saut Reina tegas.
“terus apa dong namanya kalo bukan cemburu? Yaudah deh jujur aja, na” goda Dicky.
Reina terdiam. Mana mungkin ia cemburu. Ia cuma menyukai Dicky, bukan Bisma. Ia ingat dulu selalu memerhatikan Dicky. ia selalu tahu jadwal-jadwal pelajaran Dicky setiap harinya. Apa iya sekarang ia sudah tidak menyukai Dicky dan malah menyukai Bisma?
Reina menggeleng kuat. Itu tidak boleh terjadi! Tamara menyukai Bisma. Ia tidak boleh menyukai orang yang disukai sahabatnya sendiri. Lagian ia tidak menyukai Bisma. Yang ia sukai hanya Dicky. Ya, hanya Dicky.
Dicky menatap Reina dengan heran. “ini anak kenapa lagi?” gumam Dicky pelan.
“gak. Gue gak cemburu sama hubungan antara Bisma dan Tamara. Gue cuma kesel karena Bisma keseringan berduaan sama Tamara dan ngacuhin kita berdua” ucap Reina mencari alasan.
Dicky hanya mengangguk-angguk. Ia tau kalau Reina berbohong. Itu alasan yang sangat tidak masuk akal. Pasti Reina cemburu. Tapi biarlah. Mungkin Reina tidak ingin mengakuinya. Untuk apa ia memaksa Reina untuk mengaku? Itu akan membuatnya sakit hati saja.
Dicky sedikit terkejut dengan pemikirannya sendiri. Sakit hati? Dari mana kata-kata itu berasal? Kenapa ia harus merasa sakit hati? Ia tidak memiliki rasa sedikit pun dengan Reina, kan?
Reina menyentuh lengan Dicky membuat Dicky tersadar dari lamunannya. “lo kenapa, ky?” tanya Reina heran.
Dicky menggeleng dengan cepat. “gak papa kok” ucapnya tersenyum tipis. Ia menarik tangan Reina dengan lembut. “ayo ke kantin. Mendadak laper” ajaknya.
Reina hanya mengangguk. Ia berjalan mengikuti tarikan Dicky. Ia tersenyum tipis. Ia baru sadar, sekarang ia begitu akrab dengan Dicky. Untuk apa ia memikirkan Bisma yang memang ia perintah untuk mendekati Tamara? “Dasar bodoh” desis Reina mengatai dirinya sendiri.
***
Bisma memukul stir mobilnya dengan keras. “kenapa gue harus ngelakuin ini semua?!” teriaknya frustasi. Ia baru saja mengantar Tamara ke rumahnya. Mereka baru selesai berjalan-jalan di sebuah mall. Itu atas permintaan Tamara sendiri.
Bisma menyandarkan kepala ke bangkunya. Ia menutup matanya dengan lelah. “perasaan gak bisa dibohongi. Gue gak bisa terus bohong kaya gini. Gue capek” ucapnya lirih.
Ia membuka matanya. Setelah diam sebentar, ia menghidupkan mesin mobilnya dan mengemudikannya menuju rumahnya.
***
Tamara berdiri di dekat teralis besi balkonnya. Ia memikirkan semuanya. Ia bisa merasakan kejanggalan kejadian yang belakangan ini terjadi pada dirinya. Ia tersenyum pahit. “gue tau, na. Semua ini pasti ulah lo. Gue sadar, Bisma gak mungkin tiba-tiba dekatin gue. Baik-baikin gue. Pasti lo dalang dibalik ini semua. Gue tau lo sebenernya juga suka sama Bisma. Lo sanggup ngerelain Bisma buat gue. lo baik banget, na”
Tamara menutup matanya, membiarkan angin yang berhembus menerpa wajahnya dengan lembut. Ia merasa tenang. “gue salah. Semuanya hancur cuma karena cowok. Gue sampe tega ngelukai lo. Gue udah sadar, na. Maaf” ucapnya sedikit menitikkan air mata.
***
Reza menatap Reina dengan heran. “kok gue gak bisa baca pikiran lo?” tanya Reza.
Reina tersadar dari lamunannya. “oh ya? Berarti gue udah bisa nutup pikiran dong” ucap Reina senang.
Reza menaikkan kedua bahunya dengan malas. “maybe” ucapnya singkat.
Reina mendengus kesal. Jawaban yang membuatnya kesal. Ia meletakkan sendok makannya dan bangkit berdiri dengan gusar.
“mau kemana lo?” tanya Reza dengan suara malas.
“kalo gak niat gak usah nanya” saut Reina ketus. Ia menoleh pada Ilham yang asik makan nasi goreng miliknya. “ayo ham berangkat”
“tunggu! Gue belum siap makan” ucap Ilham dengan mulut penuh nasi.
Reina menutup matanya dengan kesal. “oke. Gue bisa berangkat sendiri. permisi” ucap Reina menghentakkan kakinya dengan kesal keluar dari rumahnya.
Ilham menatap Reza dengan kebingungan. “dia kenapa?”
Reza menaikkan kedua bahunya. “entahlah. Suara pikirannya ada banyak. Banyak pikiran kali. Sampe gak kedengaran apa-apa”
“biasanya kalo uring-uringan gitu kan masalah percintaan”
“kayanya dia mulai sadar sama perasaan dia yang sebenarnya buat siapa. Lo tau kan?”
Ilham mengangguk. “tapi itu urusan dia. Biar dia yang mutusin. Kita gak usah ngurusin dia lagi lah. dia udah dewasa”
Kali ini Reza yang mengangguk. “kita liat aja gimana selanjutnya. Kalo dia gak sanggup, baru kita ikut campur”
***
Reina berteriak kaget ketika tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tangannya dari belakang. dengan cepat orang yang menarik Reina itu menutup mulut Reina dengan erat agar suara teriakan cewek itu tidak terdengar siapa-siapa.
Ketika sudah sampai di belakang sekolah, mulut Reina di lepas. Dengan kesal Reina melotot pada orang yang menariknya itu. orang itu memakai saputangan untuk menutupi hidung sampai mulutnya. “lo mau apa? jangan macam-macam sama gue” saut Reina kasar.
Orang itu melepas saputangan yang menutupi sebagian wajahnya itu. Dan Reina terdiam membisu melihat wajah orang itu. “sorry gue gak maksud buat lo takut” ucap orang itu pelan sambil menunduk.
Reina tersadar. Ia membuka mulutnya, berusaha mengatakan sesuatu. “Tamara?” ucapnya pelan.
Orang itu yang ternyata adalah Tamara, mengangguk pelan. Ia masih menunduk. “gue cuma mau minta maaf sama lo, na. Gue udah sadar kalo emang gue yang salah. Lo udah berkali-kali minta maaf sama gue, tapi gue selalu acuhin lo. Sampe akhirnya lo malah balik benci sama gue. Tapi akhirnya lo ngalahin ego lo terus minta ke Bisma buat deketin gue, kan? Gue tau itu, na. Tanpa ada yang ngasih tau ke gue”
Reina terdiam. Ia tidak percaya kalau kata-kata itu benar-benar keluar dari mulut Tamara sendiri.
Tamara kembali melanjutkan ucapannya. “gue mau persahabatan kita utuh lagi, na. Gue bodoh. Cuma karena cowok kita jadi musuhan gak jelas gini. Sampe buat gue bisa ngelukai lo. maaf, na. Gue yang buat lo pingsan sampe kepala lo berdarah itu. gue yang ngelakuin, na”
Tamara menangis terisak-isak. Ia terduduk di tanah. Ia menyesali semua perbuatannya.
Dengan cepat Reina menarik Tamara untuk segera bangkit. Reina tersenyum menatap Tamara. “gue juga salah, ra. Gue gak peka sama lo. Gue tau kalo lo salah paham, tapi gue gak terus berusaha buat bikin lo gak salah paham. Gue malah makin manas-manasin lo. maafin gue, ra”
Tamara memeluk Reina dengan erat. “kita perbaiki semuanya. Sahabat diatas segala-galanya. Gue udah gak perduli mau Bisma suka sama gue atau gak. Gue bakal terima kalo akhirnya kalian berdua jadi pasangan”
Reina balas memeluk Tamara. “gue yakin lo sama Bisma bakal jadi pasangan serasi. Kalian baik-baik aja, kan?”
Tamara menggeleng kuat. “gue bisa liat kalo Bisma terpaksa deketin gue. dia ngelakuin itu karena lo yang minta, na. Dia rela bohongin perasaannya supaya lo bisa senang. Kenapa lo susah peka sih? Dia sayang banget sama lo”
Reina terdiam sebentar. Ia memikirkan kata-kata Tamara. “tapi lo tau kan gue suka sama Dicky? Gue gak mau munafik, ra. Gue pernah bilang sama lo, kalo gue gak akan ada hubungan apapun sama Bisma. Gue gak mungkin langgar itu”
Tamara melepaskan pelukannya. Ia menatap Reina dengan tajam. “tanya sama hati lo. Apa lo masih suka sama Dicky? Kata-kata lo yang dulu, lo lupain aja. Itu udah gak berlaku. Lo suka sama siapa, itu hak lo. Gak ada yang bisa ngelarang itu”
***
Reina merebahkan diri di ranjang miliknya. Ia menutup matanya, berusaha bertanya pada hatinya sendiri. Muncul bayangan wajah Bisma dan Dicky di matanya yang tertutup. Lama-lama kedua bayangan itu memudar. Masih dalam keadaan menutup mata, Reina menghela nafas. Ia yakin, diantara keduanya, tidak ada yang menjadi pilihannya.
Tiba-tiba saja bayangan wajah seseorang muncul membuat Reina terkejut sendiri. Ia membuka matanya secara mendadak. “Bisma?” ucapnya pelan. Ia duduk di atas ranjangnya itu dengan kebingungan. “Apa maksudnya?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah balkon. Memikirkan semua yang memenuhi pikirannya. Terkhusus pada satu orang, yaitu Bisma.
Dengan hati-hati Ilham masuk ke dalam kamar Reina. Tidak ada Reina di dalam kamar itu. Dengan penasaran Ilham berjalan menuju balkon kamar adiknya itu. Terlihat Reina sedang berdiri melamun di sana. Ilham tersenyum tipis. Dengan perlahan ia berjalan mendekati adiknya itu. Lalu dengan tiba-tiba ia memeluk Reina dari belakang dengan sangat erat.
“Bisma!!!” teriak Reina kuat berusaha melepaskan diri dari pelukan Ilham.
Ilham melepaskan pelukannya sambil tertawa geli. “Bisma? Emang gue mirip dia?”
Reina membalikkan badannya. “Ilham?! Ngapain sih lo ngagetin gue?” saut Reina dengan wajah cemberutnya.
Ilham mencubit pipi Reina dengan gemas. “iseng aja sih. Abis lo ngelamun gini. Ternyata lagi mikiran Bisma~” saut Ilham menggoda Reina.
Reina mengerutkan keningnya. “sok tau lo!” ucapnya terdengar sedang berbohong.
Ilham terkekeh. “kalo gak mikirin dia, kenapa kagetnya nyebut nama dia? Haha”
“rese lo yaaa” saut Reina memukuli Ilham dengan kedua tangannya. Namun terlihat senyum samar di wajah Reina seperti mengatakan kalau yang dikatakan Ilham ada benarnya.
Ilham tertawa geli. Ia hanya diam tidak membalas pukulan adiknya itu. Tapi lama-lama Reina menghentikan pukulannya. Ilham berjalan ke pinggir balkon yang dibatasi oleh teralis besi. Ia menatap langit yang sekarang hanya terihat sebuah bintang dan bulan purnama yang sangat terang.
Reina mengikuti apa yang dilakukan Ilham. Ia berdiri tepat di sebelah kakaknya itu.
Ilham mengalihkan tatapannya pada Reina. “jadi lo udah tau perasaan lo yang sebenarnya?” tanyanya pelan.
Dengan cepat Reina menoleh dan menatap Ilham dengan tatapan bingung. “perasaan yang sebenarnya?”
Ilham mengangguk kecil. “iya. Perasaan lo yang sebenarnya. Lo selalu bersikeras kalo lo suka sama Dicky. Tapi kenyataannya lain, kan?”
Reina mengalihkan tatapannya ke sembarang arah. Tapi kepalanya masih menghadap Ilham. “tapi gue beneran suka sama Dicky” ucapnya pelan.
Ilham tersenyum tipis. “itu awalnya, na. Sekarang perasaan lo udah berubah”
Reina menunduk menatap kedua tangannya yang ia letakkan di teralis besi balkonnya itu. “kenapa perasaan gue bisa berubah?”
“karena semua perlakuan Bisma untuk lo. Lo pasti ingat kejadian waktu lo dihibur Bisma. Dia selalu ada buat lo, na. Itu yang ngerubah perasaan lo. Lo tau itu”
Reina diam menatap ke arah langit. Ia tidak bisa menepis kata-kata Ilham. Semua yang dikatakannya memang benar. Karena itu Reina merasa lain dengan Bisma. Tapi ia tidak mau mengakui itu. Yang boleh bersama Bisma hanya Tamara. Bukan orang lain, ataupun dirinya sendiri.
“terima semua keadaan hati lo. Lo gak bisa bohongin perasaan lo sendiri, na. Itu yang buat lo ngerasa sakit. Biar semuanya mengalir seperti air. Lo tinggal nerima aja” ucap Ilham menatap adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
Reina balas menatap Ilham dengan tatapan kesedihan. “terima semuanya walaupun ada yang tersakiti?” tanyanya pelan.
Ilham tersenyum kecil. “Tamara? Gue tau dia udah ikhlasin semuanya. Dia bener-bener tulus, na. Dia bener-bener udah ngelupain Bisma dan ngerelain lo buat bersatu sama Bisma. Dan itu yang mendorong dia buat minta maaf ke lo. Dia gak mau cuma karena cowok, ia kehilangan sahabat terbaiknya”
Reina menggeleng pelan. “gue gak tau, ham. Gue gak ngerti sama semua ini. Terlalu berbelit-belit. Gue gak suka”
“lo sendiri yang buat semua itu ribet, na. Karena lo yang gak bisa terima sama perasaan lo sendiri. Lo terus berusaha nolak rasa itu” ucap Ilham penuh perhatian. “sekarang semuanya ada ditangan lo. semuanya bakalan selesai kalo lo kalahin ego lo sendiri” ucapnya lagi mengelus rambut Reina dengan lembut lalu pergi meninggalkan Reina sendirian.
***
Bisma berdiri di depan kelas Tamara. Ia ingin menjelaskan semuanya. Ia ingin menghentikan semua ini. Ia sudah tidak bisa membohongi perasaannya sendiri lebih jauh dari ini.
Reina melirik Tamara yang duduk di sebelahnya. Keduanya sudah duduk sebangku lagi. Reina bisa melihat ada Bisma di depan kelas mereka berdua. “ra, ada Bisma tuh di depan. Kayanya mau bicara sama lo” ucap Reina menyenggol lengan Tamara.
Tamara mengalihkan pandangannya dari bukunya lalu melihat keluar. Memang terlihat Bisma ada di sana sedang menatapnya dan memberinya tanda untuk segera keluar. Tamara menggeleng pelan lalu menatap Reina. “dia manggil lo” ucap Tamara singkat.
Reina menaikkan sebelah alisnya. “jelas-jelas dia nyari lo. Udah sana samperin. Gak kasian apa sama dia?”
Tamara menggeleng dengan yakin membuat Reina mendengus kesal. “apa salahnya nyamperin bentaran doang? Mungkin ada yang penting. Sana samperin!” saut Reina mendorong tubuh Tamara agar bangkit dari duduknya.
Dengan malas Tamara berdiri. “iya-iya gue samperin” saut Tamara dengan suara malas. Dengan langkah yang lemas ia berjalan menghampiri Bisma.
“ra, ada yang mau gue omongin sama lo” ucap Bisma saat Tamara sudah ada di depannya. “di taman belakang” ucapnya lagi lalu menarik Tamara dengan lembut.
Tamara hanya diam mengikuti langkah Bisma. Ia menatap tangan Bisma yang sedang memegang tangannya. “yang lo lakukan ini semuanya atas dasar terpaksa. Ini nyakitin hati gue sendiri, dan hati lo juga. Untuk apa dilanjutin?” ucap Tamara dalam hati. Matanya sedikit panas dan mulai berair. Namun dengan cepat ia menghapus air itu.
Reina berjalan keluar kelas lalu menatap punggung Bisma dan Tamara yang menjauh. “mereka mau kemana ya? Muka Bisma tadi serius banget” gumamnya sendiri.
***
Tamara duduk di bangku yang ada di belakang sekolahnya itu. ia memperhatikan sekelilingnya. Ada sebagian anak-anak lain yang duduk-duduk di sana. Tidak terlalu ramai.
Terlihat Bisma hanya diam berdiri menatap ke sembarang arah. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun tidak yakin. Ia takut Tamara akan semakin membenci Reina jika Tamara tahu kalau Reina lah yang menyuruhnya untuk mendekati Tamara.
Tamara menatap Bisma. Ia merasa kalau ini adalah kesempatannya untuk mengatakan hal yang ingin ia katakan.
“Lo gak perlu ngorbanin perasaan lo sendiri. Lo pasti tersiksa banget ya harus bohong setiap deket gue” ucap Tamara pelan.
Bisma menatap Tamara dengan tatapan kaget. “hah?” ucapnya dengan wajah bodoh.
Tamara terkekeh pelan. “gue emang suka sama lo. Tapi gue baru sadar kalo gue gak bisa maksain diri buat jadi pacar lo. Gue gak bisa jadi penghalang antara lo sama Reina. Jadi gue ngalah untuk kebahagiaan kalian”
Bisma masih terdiam. Ia berusaha mencerna semua kata-kata Tamara. “jadi lo udah tau kalo gue disuruh Reina buat deketin lo?”
Tamara mengangguk pelan. “gue sadar, kali. Semuanya kerasa ganjal. Tiba-tiba aja lo baik ke gue. Dan gue bisa ngeliat kalo Reina kesel liat kita berduaan terus. Gue bisa liat dari matanya”
“bukannya Reina suka sama Dicky? mana mungkin dia suka sama gue” saut Bisma masih belum percaya.
“perasaan bisa berubah, Bis. Tergantung orangnya. Disaat dia sedih, disaat dia butuh support, lo ada di sana. Itu bisa buat perasaan dia berubah jadi lebih respect ke lo, mengistimewakan lo dari yang lain” jelas Tamara.
Bisma masih diam. Ia berusaha mempercayai semua perkataan Tamara. Tapi ia masih merasa ragu.
“sana samperin Reina terus bilang kalo lo suka sama dia, sayang sama dia, cinta sama dia. Dia pasti terima lo, karena dia ngerasa hal yang sama kaya lo. Percaya, Bis” ucap Tamara mendorong Bisma.
Bisma menatap Tamara lalu tersenyum tipis. “thanks, ra. Makasih udah ngorbanin perasaan lo. Gue tau, susah buat relain orang yang disukai dekat dan suka sama sahabat sendiri. Gue ngerasain itu”
Tamara tertawa geli. “jangan kepedean. Gue udah gak suka lagi sama lo”
Bisma menatap Tamara dengan jahil. “yakin gak suka lagi? bohong”
Tamara menendang kaki kanan Bisma. “udah gak usah godain gue. cepet sama samperin Reina. sebelum dia diambil orang haha”
“oke. Makasih Tamaraaa” teriak Bisma berlari menuju kelas Reina.
Tamara tersenyum kecil. “sama-sama, Bisma” ucapnya dengan perasaan yang sangat lega.
***
Reina berjalan ke kantin sendirian. Ia berencana membeli minum untuk dirinya sendiri. Saat hendak membeli minum, Reina melihat Dicky sedang berbicara dengan seorang perempuan. Siapa dia? Kenapa mereka terlihat sangat akrab? Dan kenapa ia tidak merasa dadanya sesak? Padahal dulu ia selalu marah-marah ketika melihat Dicky mengobrol dengan perempuan teman sekelasnya. Apa benar perasaan itu sudah hilang semuanya tanpa bekas?
Seseorang mengejutkan Reina. Ia berbalik untuk melihat siapa yang membuatnya terkejut. Dan terlihatlah wajah Bisma yang tersenyum lebar padanya. Jantungnya berdetak tidak karuan. Dadanya terasa sesak. Apa lagi sekarang? Kenapa semuanya berbalik?
“Reina, ada waktu sebentar?” tanya Bisma dengan senyum yang masih mengembang. Namun terdengar deru nafasnya yang tidak beraturan. Mungkin karena ia baru saja berlari-lari.
Reina menoleh ke belakang dan melihat Dicky yang masih mengobrol dengan perempuan itu. Lalu dengan cepat ia kembali menatap Bisma. Untuk apa ia menoleh ke sana? Seperti akan berpisah dengan Dicky saja. “ada. Kenapa?” ucap Reina akhirnya.
Senyum Bisma semakin lebar. “yuk ikut gue ke tempat biasa” ucapnya dengan semangat lalu menarik Reina agar mengikutinya.
“tempat biasa? Maksudnya atap sekolah?” tanya Reina sambil mengikuti langkah kaki Bisma.
Bisma mengangguk lalu tersenyum pada Reina. “iya. Itu tempat kita berdua”
Lagi-lagi jantung Reina berdetak dengan cepat. Kenapa? Hanya dengan melihat senyum Bisma, jantungnya langsung berdetak begitu cepat. Dan tatapan Bisma mampu membuatnya merasa lemas. Semua yang dilakukan Bisma bisa membuat tubuhnya bereaksi tanpa diperintah. Apa ia benar-benar sedang jatuh cinta?
“nah, kita udah sampe” ucap Bisma menyadarkan lamunan Reina. Ya, keduanya sudah sampai di atas atap sekolah mereka. Terlihat awan bergumpal dengan indahnya. Di bawah, orang-orang berjalan kesana kemari tanpa memperhatikan keindahan langit di pagi hari ini.
Reina beralih menatap Bisma. “kita mau ngapain ke sini?”
Bisma berdeham pelan. Ia menatap Reina sangat dalam. “gue jatuh cinta sama lo” ucap Bisma lalu menatap ke sembarang arah.
Reina yang awalnya sedang melihat orang-orang di bawah sana, langsung menoleh dan menatap Bisma dengan tatapan kaget. “apa?” tanyanya ingin memastikan.
Bisma menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan tidak jelas. “lo pasti dengar apa yang gue bilang tadi”
Dengan perlahan Reina berjalan mendekati Bisma. “gue...” ucap Reina menggantung.
Bisma menutup matanya. Entah kenapa ia menjadi pengecut seperti ini. Yang bisa melakukan ini padanya hanya Reina.
“gue gak tau, Bis. Gue takut” ucap Reina pelan dengan helaan nafas yang panjang di akhir kalimatnya.
Kali ini Bisma menatap Reina. “kenapa? Gue tulus sama lo. apa yang lo takutkan?”
“gue gak mau ada yang tersakiti, ada yang kecewa. Gue butuh waktu” ucap Reina memandang Bisma dengan tatapan lemah.
Bisma mengangguk pelan. “yaudah. Gue nunggu lo sampe lo bilang iya dengan tegas”
Reina tersenyum lemah. “makasih, Bis. Lo emang yang paling ngertiin gue”
***
“hei. Bengong aja”
Reina menoleh kemudian tersenyum kecil. Dicky yang tadi menyapanya dan sekarang ia sudah duduk di sebelah Reina.
“banyak beban?” tanya Dicky setelah memerhatikan wajah Reina yang terlihat kusut.
Reina menggeleng pelan. Sepertinya mulutnya sedang malas berfungsi.
“sekarang udah bisu? Bahasanya pake bahasa isyarat?” tanya Dicky pura-pura terkejut.
Dengan cepat Reina memukul lengan Dicky dengan kuat. “amit-amit” umpatnya pelan.
Dicky tertawa geli menatap Reina. lalu tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi serius. “kenapa lo gak langsung terima Bisma?”
Reina menatap Dicky dengan kaget. “Bisma cerita ke lo?”
“gue sahabatnya, na. Mana mungkin gue gak tau apa-apa” ucap Dicky tersenyum tipis pada Reina. “dia sayang banget sama lo” lanjut Dicky meyakinkan Reina.
Reina menunduk melihat rerumputan di dekat kakinya. “gue gak yakin sama perasaan gue sendiri”
“gak yakin? Emang ada cowok lain yang lo suka?”
Jleb!!! Kata-kata Dicky langsung menusuk tepat di jantung Reina. kenapa Dicky bisa mengatakan apa yang ia rasakan? Apa Dicky juga memiliki kemampuan khusus sepertinya?
“beneran ada ya, na?” tanya Dicky sekali lagi.
Cepat-cepat Reina menggeleng kuat. “gak. Ya ragu aja mau nerima. Belum siap pacaran” jawab Reina mencari alasan.
Dicky mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia menepuk pundak kiri Reina. “lo cocok kok sama Bisma. Cepetan jadian ya” ucapnya tersenyum tulus.
Reina balas tersenyum. Terlihat ketulusan di mata Dicky. tidak ada yang ganjal dari kedua mata cowok itu, dan senyumannya juga terlihat biasa saja. Apa Dicky benar-benar tidak memiliki perasaan apapun padanya? Apa ia tidak kecewa mendengar Reina sudah di tembak oleh sahabatnya sendiri? Sepolos itukah perasaan Dicky pada Reina?
***
“Reina bodoh!!! Kenapa lo tolak diaaa?!” teriak Tamara begitu melihat Reina mucul di gerbang sekolah mereka.
Reina menutupi wajahnya dengan malu. Semua orang menatap ke arah mereka berdua. Dengan cepat ia berlari menuju kelasnya dengan wajah tetap ditutupi. Dan itu membuat Tamara kembali berteriak marah.
“hush!! Volume suaranya dikecilin dong mbak bro~” saut Reina menutup sekilas mulutnya Tamara.
“habis lo nyebelin sih. Malah bilang, ‘butuh waktu’. Mau sok jual mahal?” saut Tamara dengan wajah kesal.
Tukk!! Reina langsung menjitak kepala Tamara. “bukan mau jual mahal. Gue masih ragu” saut Reina ikutan kesal.
“ragu apalagi? Bisma jelas-jelas suka sama lo. gak ada yang perlu lo raguin”
“bukan ragu soal perasaan Bisma. Gue ragu sama perasaan gue sendiri”
“kenapa? Lo masih bingung? Dicky udah hilang dari hati lo, na. Sekarang cuma ada Bisma”
“lo ngomong gitu kaya lo tau aja apa isi hati gue”
“oke kalo lo gak percaya. Lo udah coba saran gue yang nyuruh lo buat tanya hati lo sendiri?”
Reina mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Tamara.
“yaudah. Siapa nama yang muncul waktu lo tanya itu?”
Reina menatap Tamara dengan tatapan memelas. “Bisma...” jawabnya tidak yakin.
Terlihat Tamara melirik ke belakang Reina lalu tersenyum kecil. Reina yang menyadari itu langsung menoleh ke belakang dan melihat Bisma sedang berdiri di belakangnya dengan senyum yang terukir di wajahnya.
Tamara mendekatkan wajahnya ke telinga kanan Reina. “gue tinggal dulu ya. Selamat bersenang-senang” ucap Tamara tertawa geli meninggalkan Reina dan Bisma berdua di sana.
“Tamara...” desis Reina dengan kesal.
“kenapa lo gak mau jujur sama gue?” ucap Bisma tepat di dekat telinga kanan Reina. Ternyata Bisma sudah ada tepat di belakangnya, meletakkan dagunya di pundak kanan Reina.
Jantung Reina berdetak tidak karuan. Ia berusaha mengotrol pernapasannya. Terasa begitu sesak. Reina memejamkan matanya, ingin menghentikan semua reaksi tubuhnya yang diakibatkan oleh perilaku Bisma terhadapnya.
Bisma menjauhkan diri dari Reina. Ia memandangi Reina dari belakang. “apa gue begitu menakutkan di mata lo? Apa gue gak bisa jadi Dicky di mata lo? lo selalu yakin sama perasaan lo ke Dicky. Kenapa semuanya gak berlaku sama gue, na? Apa beda gue sama Dicky?”
Reina masih menutup matanya ketakutan. Ia tidak sanggup memandang Bisma. Bisma terlihat begitu menyeramkan. Sangat agresif.
Bisma menghela nafas dengan berat. Ia kembali menatap Reina dengan lembut. Lalu dengan cepat ia menarik Reina ke dalam pelukannya. “maaf gue udah maksa lo. tapi gue sayang banget sama lo, na” ucap Bisma terdengar begitu menyesal.
Mendengar ucapan Bisma, hati Reina sedikit luluh. Ia memberanikan diri membuka matanya. Ia merasa nyaman berada di pelukan Bisma. Tapi kenapa ia harus merasa ragu? Semuanya harusnya telah membuatnya merasa yakin. Apa baginya semua ini terlalu cepat?
Akhirnya Reina membalas pelukan Bisma. itu membuat Bisma tersenyum lega. Setidaknya ia menerima sedikit reaksi balasan dari Reina.
“kita coba yah” ucap Reina pelan membuat Bisma melepaskan pelukannya dan memasang wajah idiotnya.
“maksud lo?”
Reina tersenyum geli. “iya. Kita coba dulu. Gue ngerasa ini semua terlalu cepat. Jadi kita jalaninya pelan-pelan aja”
Bisma mengangguk semangat. “anything for you, Reina” ucap Bisma kembali memeluk Reina dengan perasaan senang.
Reina tertawa melihat reaksi Bisma. terlihat begitu bersemangat dan bahagia. Sama seperti dirinya. Rasanya begitu lega setelah ia mengambil keputusan yang sepertinya adalah keputusan terbaik untuk dirinya, bahkan untuk Bisma. Ia mempererat pelukannya pada Bisma. Ia ingin menikmati semua kehangatan yang sekarang diberikan oleh Bisma. Dan mungkin itu adalah kehangatan yang akan diberikan Bisma seterusnya hingga nanti.
Tamara menatap keduanya dengan senyum bahagia. Ia benar-benar tulus merelakan Bisma bersama Reina. Tidak ada perasaan iri sama sekali. Kali ini ia menangis bukan karena perasaan kecewanya. Namun kali ini ia menangis untuk kebahagiaan sahabatnya.
Dicky merangkul Tamara dengan lembut. Ia tersenyum pada Tamara yang tengah melihatnya dengan tatapan terkejut. Ia sudah mengetahui semua ceritanya dari Bisma. Ia begitu kagum dengan Tamara yang bisa merelakan semuanya demi sahabatnya sendiri. Benar-benar sahabat sejati.
Dari kejauhan juga terlihat Reza dan Ilham tersenyum melihat adiknya sedang merasakan sebuah kebahagiaan. Kali ini mereka akan melepaskan adik kecilnya itu. Tidak akan mengkekangnya seperti dulu lagi. Reina benar-benar sudah tumbuh dewasa. Ia bisa membuat sebuah keputusan yang berhasil membuat semua orang merasa gembira. Dan sudah tumbuh rasa kepercayaan pada diri Reza dan Ilham untuk adiknya itu.
Semua berawal dari sebuah kata Missunderstand. Tapi kini semua kesalah pahaman itu sudah berakhir. Semuanya sudah benar. Dan kini semuanya sudah merasa kelegaan yang sangat membuat mereka merasa nyaman dan tenang.
Tiba-tiba saja Bisma menggendong Reina seperti menggendong seorang bayi. Reina langsung berteriak kaget dan meronta-ronta meminta untuk dilepaskan. Bisma tertawa geli lalu mencium kening Reina cukup lama. “I love you” ucap Bisma dengan tulus.
Reina terdiam lalu tersenyum lebar. “I love you too” ucap Reina sama tulusnya dengan Bisma. Kali ini ia benar-benar merasa begitu lega. Semuanya sudah ia keluarkan. Sudah tidak ada lagi yang ia pendam.
Bisma tersenyum bahagia memeluk Reina yang masih dalam gendongannya. Sepertinya keduanya sedang merasakan kebahagiaan yang teramat sangat sampai tidak menyadari kalau di sekelilingnya sudah ada banyak orang yang bertepuk tangan untuk keduanya. Dan diantara itu semua, ada Tamara, Dicky, Reza dan Ilham yang ikut tertawa bahagia, merasakan bagaimana bahagianya Bisma dan Reina sekarang.
THE END~

1 komentar: