Selasa, 02 April 2013

Who Will be My Choice? (Last Part)


Nayra terdiam dipelukan Bisma. “apa? aku gadis itu?”
“ya. Apa kau tidak ingat dengan seorang bocah laki-laki yang dulu suka menolongmu saat kau dihina teman-temanmu karena kau bisa melihat hantu? Waktu kau masih berumur 6 tahun, Nay”
Nayra mengingat-ingat masa kecilnya dengan bingung. lalu ia terkesiap kaget dan melepaskan diri dari pelukan Bisma. Ia menatap Bisma lekat-lekat. “jadi kau laki-laki itu? berarti kau...”
Bisma mengangguk. “ya, aku laki-laki yang suka kau panggil dengan sebutan ‘Imyhero’. Sampai-sampai kau melupakan nama asliku” Bisma tersenyum mengingat hal itu.
“jadi kau, Ima-ku? Imyhero-ku? Bisma..” Nayra menangis pelan. “aku merindukanmu, Ima”
Bisma menarik Nayra kedalam pelukannya. “aku juga rindu denganmu, Nay. Kau tau? sejak aku meninggalkanmu waktu itu, aku terus terpikir olehmu. Waktu saat aku kembali ke Jakarta, aku berusaha mencari ke rumahmu dulu. Tapi ternyata kau pindah. Aku sempat putus asa, Nay. Tapi akhirnya aku menemukan rumahmu” suara Bisma terdengar bergetar.
“iya, aku ingat. Waktu kau pergi meninggalkanku dulu, aku melihat makhluk seram, Bisma. Aku melihatnya dan makhluk itu seakan ingin menerkamku. Aku takut. Dan kau malah pergi meninggalkanku” teriak Nayra marah. ar mata sudah membasahi pipinya.
Bisma menahan Nayra dipelukannya. “maafkan aku. Aku terpaksa pergi, Nay. Orang tuaku sudah menungguku untuk pergi. Kami saat itu langsung pergi ke bandara untuk pindah. Aku sudah berusaha untuk menolak dan mau mengucapkan salam perpisahan denganmu, tapi mereka terus menarikku untuk pergi. Maafkan aku, Nay” tidak tertahankan lagi, air mata Bisma mengalir turun.
“asal kau tau, Bisma. Makhluk itu merasukiku dan aku langsung sakit parah. Aku terus menunggumu dirumah sakit. Tapi apa? kau tidak muncul sama sekali. Waktu itu aku sakit hati sekali, Bisma. Aku sendirian. Orang tuaku bahkan hanya sekali menjengukku. Aku hanya ditemani oleh arwah suster yang untungnya adalah hantu baik. Apa kau tidak tau aku begitu tersiksa karena ditinggalkan olehmu?”
“aku tau aku salah, Nayra. maka dari itu aku mencarimu begitu aku kembali lagi ke Jakarta. Dan aku berhasil. Tapi saat perjalanan kerumahmu, aku malah meninggal, Nayra. bahkan aku belum sempat melihat wajahmu. Belum sempat meminta maaf sama kamu. Belum sempat menebus semua kesalahanku. Karena itu aku tidak mau muncul dihadapanmu, Nay. Karena kau bisa melihatku. Aku belum siap muncul dihadapanmu. Aku masih merasa sangat bersalah. Jadi aku hanya bisa mengawasimu dari jauh” Bisma sedikit melonggarkan pelukannya.
“tapi saat aku sudah siap muncul dihadapanmu, kau malah takut denganku. Lupa denganku. Aku sedikit kecewa. Tapi aku mengerti kalau kau berusaha melupakanku dulu. Karena itu aku berusaha menebus kesalahanku dengan berusaha berteman denganmu. Dan aku senang karena kau mau berteman dengan hantu sepertiku, Nay” lanjutnya.
“tapi aku mulai kecewa lagi saat aku berusaha mengingatkanmu dengan menceritakan gadis yang kusuka kepadamu waktu kita pertama bertemu, kau tidak menyadarinya. Kau malah mengira aku menyukai gadis lain. Padahal yang aku ceritakan waktu itu, adalah kau, Nayra. kau cinta pertama dan terakhirku”
“aku tidak pernah berusaha melupakanmu, Bisma. Aku lupa denganmu karena wajahmu berubah jauh dengan Bisma yang kukenal dulu” jelas Nayra masih menangis. “dan ternyata aku yang membuatmu meninggal, Bisma. Aku yang membuatmu meninggal!” Nayra semakin menangis. Perasaannya tidak karuan.
Bisma kembali mempererat pelukannya. “bukan. Itu bukan salahmu. Aku ditabrak karena aku tidak waspada. Aku tidak fokus. Bukan salahmu, Nayra. ini salahku. Atau itu semua memang takdirku. Memang takdirku bertemu denganmu lagi sebagai sosok hantu”
“kau tau, Bisma. Aku selalu berharap bisa bertemu denganmu. Aku selalu berharap mendengar kau meminta maaf padaku. Maaf kalau aku tidak menyadari maksudmu waktu saat kau cerita tentang masa lalumu. Aku memang bodoh” ucap Nayra menangis lagi.
“aku minta maaf, Nay. Maaf sudah meninggalkanmu saat kau ketakutan dan butuh seseorang. Maafkan aku” ucap Bisma penuh penyesalan.
“aku memaafkanmu, Bisma. Dan aku mencintaimu, dari dulu” ucap Nayra tulus.
Bisma melepaskan pelukannya. “apa kau mencintaiku dari dulu? Saat kita masih kecil?” tanya Bisma tidak percaya.
Nayra mengangguk dan tersenyum kecil.
“aku juga, Nay. Aku mencintaimu dari dulu sampai sekarang. Kau selalu dihatiku, Nayra” ucap Bisma mengecup kening Nayra dengan lembut dan lama.
Nayra memeluk Bisma dengan lega. “aku senang kembali bertemu denganmu, Bisma. Aku sangat senang”
“ya, aku juga, Nayra. dan aku merasa lebih senang karena kau mau memaafkanku” balas Bisma memeluk Nayra. lalu ia mengecup bibir Nayra dengan lembut. Nayra memejamkan matanya. Tersirat kelegaan di dalam hati mereka masing-masing.
Nayra membuka matanya dengan perlahan. Terlihat Bisma menatapnya dengan lembut. “Nay, apa kau ingat lagu yang suka kita dengar itu? yang selalu kita dengar di radio” ucap Bisma.
Nayra mengangguk. “sekarang aku sudah hafal lagu itu” “Westlife yang judulnya close, kan?” lanjut Nayra tersenyum.
“aku juga” jawab Bisma tersenyum. “mau nyanyi bareng?” ajak Bisma.
Nayra hanya mengangguk sambil tersenyum.
Bisma memulai dengan suaranya yang serak. Suara khasnya. “Across the miles, it's funny to me.  How far you are but how near you seem to be. I could talk all night just to hear you breathe.  I could spend my life just living this dream. You're all I'll ever need~”
“You give me strength, you give me hope. You give me someone to love someone to hold. When I'm in your arms, I need you to know. I've never been, I've never been this close~” lanjut Bisma sambil memandang Nayra dengan tajam. Namun bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat indah.
“With all the loves I used to know. I kept my distance, I never let go. But in your arms I know I'm safe. 'Cause I've never been held. And I've never been kissed in this way. Oh, you're all I'll ever need. You're all I'll ever need~” Nayra menyanyi sambil memegang kedua tangan Bisma.
“You give me strength, you give me hope. You give me someone to love someone to hold. When I'm in your arms, I need you to know. I've never been, I've never been this close~” lanjut Nayra sambil tersenyum menatap Bisma.
“Close enough to see it's true. Close enough to trust in you. Closer now than any words can say, yeah~” Bisma memeluk Nayra. “And when, when I'm in your arms. I need you to know I've never been. I've never been this close~” nyanyi Bisma tepat ditelinga Nayra.
“You give me strength, you give me hope. You give me someone to love someone to hold. When I'm in your arms, I need you to know. I've never been, I've never been. Oh, no, I swear, I've never been, I've never been this close~” nyanyi Nayra dan Bisma bersama-sama. Lagu Westlife yang berjudul Close ini memang kenangan mereka berdua.
Setelah beberapa menit mereka berpelukan, Nayra menjauhkan diri dari Bisma. Ia menatap Bisma lalu ia hampir menangis. “Bisma, kau kembali menjadi hantu. Tubuhmu mulai tembus pandang lagi”
Bisma melihat tubuhnya sendiri lalu ia memandang Nayra lemah. Namun dipaksakannya untuk tetap tersenyum. “sepertinya waktuku sudah habis, Nay. Dan mungkin aku bisa tenang di duniaku. Terima kasih karena kau sudah mau memaafkanku, Nayra. Sering-seringlah mengunjungi tempat peristirahatanku di TPU Kebon Tebu. Aku dikuburkan disana. Cari nama Bisma Karisma. Aku pasti merindukanmu, Nayra. kau jangan sampai tidak bisa move on dariku. Cukup simpan aku dihatimu saja. Aku selalu mencintaimu, Nayra”
“aku pasti juga selalu merindukanmu, Bisma. Aku janji pasti aku tidak akan lupa mengunjungimu. Aku sangat mencintaimu. Kau seseorang yang berarti di kehidupanku. I will always keep you in my heart, forever” ucap Nayra berusaha tersenyum diantara tangisnya.
***
Nayra terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam yang tergantung di dinding dihadapannya. Pukul 05.00 pagi. Ia mengumpulkan semua nyawanya sambil mengerang perlahan.
Setelah sadar sepenuhnya, Nayra mengingat semua yang terjadi. “bagaimana bisa aku tertidur? Apa aku cuma mimpi? Apa Bisma benar-benar sudah pergi?” gumam Nayra sendiri sedikit gelisah. Ia melihat tempat tidurnya dan mendapati setangkai bunga gardenia ada disana.
Nayra menangis sejadi-jadinya. Semuanya benar-benar terjadi. Bisma benar-benar sudah meninggalkannya. Nayra memegang bibirnya perlahan. Masih terasa hangat ciuman Bisma di bibirnya. Masih terasa dekapan lembut Bisma di tubuhnya.
Nayra berteriak frustasi. Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dan terlihat Dicky dengan tergopoh-gopoh menghampirinya.
“Nay, kau tidak apa-apa? apa kau bermimpi buruk?” tanya Dicky khawatir.
Nayra melihat Dicky dengan kaget. Tapi air matanya masih mengalir. “kenapa jam segini kau ada disini?” ucap Nayra tidak menjawab pertanyaan Dicky.
Dicky menggaruk kepalanya salah tingkah. “aku kesini karena kemarin aku sudah berjanji untuk selalu datang pagi kesini untuk memasakkanmu sarapan” jawab Dicky pelan.
Nayra menatap Dicky dengan terharu. Ia langsung memeluk Dicky. “makasih, ky” gumamnya.
“ini bukan apa-apa, Nay” ucap Dicky membalas pelukan Nayra walau masih merasa sedikit bingung. “Kau kenapa? Kenapa matamu terlihat sembab? Apa kau menangis semalaman?”
Nayra menceritakan semua yang terjadi. Dari awal ia bertemu Bisma yang berubah jadi sosok manusia, sampai ia terbangun sekarang. Ia sampai melupakan perasaan Dicky yang sakit karena mendengar pengakuannya yang menyukai Bisma dari dulu.
“yaudah, pulang sekolah nanti kita datang ke tempat Bisma, ya. Aku mau menemanimu” ucap Dicky tersenyum.
Nayra menatap Dicky semakin terharu. “kau begitu mengerti aku, ky. Makasih. Kau sahabat terbaikku”
Dicky menghapus air mata Nayra dengan lembut. “semua yang membuatmu bahagia adalah penyebab kebahagiaanku juga. Kau bahagia, aku pasti bahagia juga”
***
“Bisma...” Nayra mengelus batu nisan bertuliskan ‘Bisma Karisma’ dengan lembut. Dicky jongkok dihadapannya.
“sesuai janjiku, aku sudah datang mengunjungimu. Bahkan aku juga mengajak Dicky kesini. Sekarang dia lah yang menjagaku seperti apa yang kau lakukan dulu sewaktu kita kecil. Dialah satu-satunya temanku yang tidak takut dengan kemampuanku. Dia selalu membelaku saat aku dihina teman-temanku sekarang. Seperti yang kau lakukan dulu, kan?” Nayra tersenyum kecil.
“aku janji setiap hari selalu datang kesini. Memberimu bunga. Terima kasih untuk semuanya, Bisma. Kau orang paling berarti dihidupku. Aku pasti selalu menyimpan kenangan kita dihatiku. Pasti aku tidak akan melupakanmu. You are my first love, Bisma. I love you” Nayra menangis mencium batu nisan Bisma.
Dicky menatap Nayra dengan perasaan sedih. Ia mengerti bagaimana perasaan Nayra sekarang. Dan ia tidak mau menganggunya. Walaupun ia merasa sakit mendengar ucapan terakhir Nayra.
“aku pulang dulu ya, Bisma. Besok pasti aku datang lagi. janji” pamit Nayra lalu berdiri dari jongkoknya. Dicky ikut berdiri disamping Nayra.
“broo, kita pulang ya. Aku pasti selalu jagain Nayra. kau tenang saja disana” ucap Dicky tersenyum. Lalu ia menggenggam tangan Nayra dan mengajaknya pulang.
***
Sebulan tanpa kehadiran sosok Bisma, membuat Nayra mulai bisa sedikit menghilangkan perasaan sedihnya. Dicky selalu ada disampingnya dan selalu berusaha membuatnya tersenyum kembali.
“Nay, mungkin kau sudah bosan mendengar kata-kata ini, tapi aku benar-benar ingin mengucapkan ini untuk terakhir kalinya. Terserah kau mau menjawab apa. aku terima semuanya dengan ikhlas” ucap Dicky mulai serius.
Nayra mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman dirumahnya. Lalu Nayra mengangguk pelan sambil tersenyum.
“kau pasti sudah tau apa perasaanku selama ini ke kamu, Nay. Tapi aku mau memperjelasnya. Aku menyukaimu. Aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Dari dulu saat kita SMP. Tapi aku tau, kau pasti masih sangat mencintai Bisma. Aku mengerti. Tapi ntah kenapa aku mau mengucapkannya sore ini” ucap Dicky serius.
“aku juga menyayangimu, ky. Tapi maaf. Kayanya kita cuma bisa bersahabat. Aku gak mau kalau kau menjadi pengganti Bisma dihatiku. Karena kalian berdua sama-sama sosok penting dalam hidupku. Gak ada yang bisa gantiin kalian berdua. Kalian sama-sama ada dihatiku, dengan posisi yang berbeda” jelas Nayra.
Dicky tersenyum. “iya. Aku mengerti. Makasih karena kau mau menyimpanku di hatimu juga” ucap Dicky mencium puncak kepala Nayra dengan lembut lalu menarik Nayra kedalam pelukannya.
Nayra memejamkan matanya dengan nyaman. Ia membalas pelukan Dicky. “biarkan semuanya mengalir seperti air” gumam Nayra tersenyum.
***
Dicky tidur dengan perasaan gelisah. Tubuhnya terus mengeluarkan keringat. Ia merasa seperti ada sesuatu yang menduduki dadanya sehingga ia merasa sulit bernafas. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengerang tertahan saat perutnya terasa dipukul-pukul.
Ia bangkit dari tidurnya dan berjalan menghampiri meja belajarnya. Disana ia mengambil sebuah foto dirinya dengan Nayra saat di taman mini. Dan ia juga mengambil sebuah foto dirinya dengan kedua orang tuanya. Ntah kenapa saat ini Dicky ingin sekali bertemu dengan Nayra dan kedua orang tuanya. Mereka adalah orang yang sangat berarti dalam kehidupan Dicky.
Ia memelototkan matanya dengan takut. Dicky melihat sosok makhluk aneh sedang tersenyum menyeringai kearahnya. Lalu makhluk itu memegang leher Dicky dan mencekiknya kuat-kuat. dicky berusaha berteriak dan melawan. Namun tidak ada yang keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa meronta-ronta ketakutan.
Tiba-tiba saja Nayra muncul dibenaknya. Sosok Nayra yang sedang tersenyum kearahnya. Sosok Nayra yang memeluknya, menggenggam tangannya. Nayra yang menjadi pengisi hatinya selama ini. Semua kenangan tentang mereka berkelebat di benak Dicky. juga kenangan hidupnya dengan kedua orang tuanya.
Saat ia mulai benar-benar tidak bisa bernafas, sosok kedua orang tuanya, Nayra, dan orang-orang yang dikenalnya semakin menjauh. Detak jantungnya semakin melemah. Ia meremas kedua foto yang ia pegang dari tadi. Namun lama-lama ia kehilangan tenaga dan akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
***
Nayra terbangun dengan perasaan gelisah. Tubuhnya berkeringat. Ia berusaha menenangkan pikirannya dengan mencuci muka. Lalu ia menatap cermin dengan perasaan masih tidak tenang. Ia baru saja memimpikan hal buruk tentang Dicky.
Akhirnya ia mandi dan segera bersiap untuk pergi ke sekolah. Ia menuju dapur dan melihat Mbak Mina ada disana. “mbak, Dicky gak ada datang pagi ini?” tanya Nayra bingung.
“gak ada non. Makanya mbak yang masakin pagi ini” jawab Mbak Mina sambil meletakkan sepiring roti panggang isi coklat keju ke hadapan Nayra.
Nayra melahap rotinya dengan cemas. Dalam hati ia berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan Dicky sebab ia merasa gelisah karena mimpinya tadi.
***
Nayra menatap bangku disebelahnya. Tidak biasanya Dicky teelambat datang ke sekolah. Apa ada sesuatu yang terjadi? Apa dia terjebak macet? Atau bannya bocor? Atau malah dia kecelakaan? Nayra menggeleng kepalanya kuat. ia tidak mau memikirkan hal-hal negatif tentang Dicky sekarang. Ia harus positive thinking.
Wali kelas Nayra masuk dengan wajah sedih. Nayra bingung melihatnya. Apalagi tidak biasanya wali kelasnya ini masuk terlambat ke kelas. Anak-anak yang dari tadi ribut, langsung diam dan kembali ketempat duduknya masing-masing.
“anak-anak. Ibu mau menyampaikan kabar duka untuk kita semua” ucap ibu Nina, Wali Kelas Nayra.
“kabar apa bu?” tanya seorang murid yang duduk didepan.
Ibu Nina mengedarkan pandangannya lalu berhenti di Nayra. “orang tua Dicky menelpon ke sekolah. Jam 03.00 dini hari tadi, Dicky meninggal dunia” ucapnya berkaca-kaca.
Deg!!! Nayra langsung lemas. Bibirnya bergetar. Matanya mengeluarkan air mata. “ibu... ibu bercanda kan?” ucap Nayra pelan.
Bu Nina menatap Nayra dengan iba. “maaf, nak. Ini benar-benar terjadi”
Nayra langsung menangis terisak-isak. Perempuan yang menyukai Dicky langsung menangis histeris. Sementara laki-laki yang lumayan dekat dengan Dicky hanya menunduk sedih.
Nayra berdiri. “bu, sa-saya pe-permisi” ucap Nayra masih terisak-isak.
Bu Nina mengangguk mengerti. Ia tau kalau Nayra lah orang yang paling merasa kehilangan sosok Dicky.
Nayra berlari menuju gerbang sambil menangis. Pak Diman, satpam sekolah yang terkenal kejam langsung membukakan pagar untuk Nayra seakan mengerti apa yang dibutuhkan Nayra.
Nayra langsung memberhentikan sebuah taksi dan menyebutkan alamat rumah Dicky. akhirnya ia segera meluncur kesana.
***
Rumah Dicky sudah ramai didatangi orang-orang berbaju hitam. Nayra terlihat mencolok dengan seragam putih abu-abunya. Ia langsung masuk tanpa memerdulikan tatapan orang-orang. Terlihat ibu Dicky menangis dan dirangkul oleh ayah Dicky.
Nayra menghampiri kedua orang tua Dicky dengan pelan. Ayah Dicky yang melihat Nayra berusaha tersenyum ramah. Ibu Dicky yang juga menyadari kehadiran Nayra, hanya bisa tersenyum samar. Matanya terlihat sembab. Mungkin dari tadi ia hanya menangis.
“om, tante, saya turut berduka cita” ucap Nayra pelan berusaha menahan emosinya yang ingin menangis. Ia mengerti, pasti kedua orang tua Dicky lebih merasa kehilangan dari pada dirinya.
Ayah Dicky tersenyum sedih. “terima kasih, Nayra. om juga tau kalau kamu juga pasti merasa kehilangan seperti kami” ucapnya ramah. Kedua orang tua Nayra memang dekat dengan Nayra karena Nayra sering datang ke rumah Dicky.
“om, Dicky ada dimana?” ucap Nayra semakin ingin menangis.
“ada disana. Lagi tidur dengan tenang” ucap Ayah Dicky dengan mata berkaca-kaca.
“sa-saya permisi” ucap Nayra mulai terisak. Ayah Dicky hanya mengangguk pelan.
Nayra menatap tubuh seseorang yang sudah ditutupi kain itu dengan perasaan tidak karuan. Pelan-pelan ia mendekati tubuh itu. setelah dekat, ia duduk disebelah tubuh itu. air matanya sudah tidak bisa di tahannya lagi. ia menangis terisak-isak.
“Dicky... mana janjimu? Kau janji kalau kau mau terus disampingku. Dan itu baru sebulan yang lalu. Kenapa kau pergi, Dicky?” ucap Nayra pelan.
Orang-orang yang ada disana melihat dengan iba. Mereka seakan bisa melihat ikatan yang kuat di antara Nayra dengan Dicky. bukan sekedar teman SMA biasa.
“baru sebulan yang lalu aku kehilangan Bisma. Dan sekarang aku kehilangan kau, Dicky. apa maksudnya? Kenapa semua milikku di ambil? Kalian berdua satu-satunya yang aku punya. Dan sekarang kalian berdua malah pergi. Apa yang aku punya sekarang? Apa?!” Nayra menangis semakin kuat. air matanya keluar semakin deras.
“siapa yang mau menyemangatiku lagi? siapa yang mau menghiburku lagi? siapa yang mau berteman dengaku lagi? gak ada! lebih baik aku nyusul kalian dari pada harus hidup sendiri di dunia ini!” teriak Nayra frustasi. Ia berlari ke dapur mengambil pisau dan kembali menghampiri tubuh Dicky.
Orang-orang yang ada disana ketakutan melihat Nayra yang membawa pisau. Akhirnya Ibu Dicky, bu Nani menghampiri Nayra.
“Nayra! kamu jangan ngelakuin tindakan bodoh! Bukan berarti kalau Dicky pergi kamu akan kehilangan semuanya. Masih banyak yang menyayangimu, Nayra” tahan bu Nani sambil menangis.
“siapa, tante? Siapa? Bahkan orang tua Nayra takut sama Nayra. gak ada perdulinya sama Nayra. teman-teman juga gak ada yang dekat sama Nayra. mereka takut sama Nayra. Cuma Dicky dan Bisma yang mau berteman dengan Nayra, tante. Dan sekarang mereka pergi. Untuk apa Nayra hidup lagi?” teriak Nayra mencoba memberontak.
Ibu Dicky terkesiap kaget mendengar cerita Nayra. orang-orang yang melayat pun juga kaget. Dalam hati mereka berfikir, orang tua seperti apa yang tega menelantarkan anaknya sendiri?
“memangnya kenapa mereka semua takut? Nayra anak yang baik kan? tante udah kenal Nayra lama dan Nayra tidak menakutkan” ucap bu Nani akhirnya.
“tante gak tau yang sebenarnya. Kalau tante tau, dan semua orang disini tau, gak akan ada yang mau dekat-dekat sama Nayra lagi. Nayra emang aneh. Gak pantas hidup” Nayra tidak sengaja menjatuhkan pisaunya dan langsung diambil oleh ayah Dicky. Nayra menutup wajahnya dengan frustasi.
“emang kamu kenapa? Coba cerita sama tante” bujuk bu Nani. Wajahnya terlihat kusut namun tetap berusaha tersenyum ramah.
“Nayra bisa lihat hantu! Nayra bisa lihat hal-hal gaib. Nayra dapat kutukan dari Tuhan, makanya Nayra punya indra keenam. Nayra gak pantas hidup” teriak Nayra menangis sejadi-jadinya.
Semua orang terkejut mendengar pengakuan Nayra. bu Nani langsung memeluk Nayra lembut namun kuat.
“tante gak takut sama kamu. Semua orang disini gak takut sama kamu. Kita semua sayang sama kamu. Kamu gak sendirian, Nayra” ucap bu Nani lembut. Ia meneteskan air mata karena sedih mendengar cerita Nayra yang sangat membuatnya iba.
“makasih tante...” ucap Nayra ahirnya tenang. Namun air matanya masih mengalir dipipinya. Baru kali ini ia merasakan pelukan kasih sayang dari seorang wanita dewasa.
Bu Nani melepaskan pelukannya lalu mencium kening Nayra dengan lembut. “mulai sekarang kamu anak tante ya, Nayra”
Nayra terkesiap kaget. Ia kembali menangis. Namun tangisan terharu. “makasih tante. Sudah 10 tahun Nayra gak ngerasain pelukan dari seorang ibu. Gak ngerasain kecupan dari orang tua. Makasih mama” Nayra tersenyum dalam tangisnya.
Bu Nani menghapus air mata Nayra. ia ikut menangis juga. “kan sekarang udah ada mama. Kamu tenang aja. nanti mama akan bilang sama mama kamu kalau kamu mama adopsi” ucap bu Nani tersenyum.
“sekali lagi, makasih mama” ucap Nayra memeluk Bu Nani dengan perasaan senang. Lalu ia melepaskan pelukannya dan menghampiri tubuh Dicky.
“Dicky, mungkin emang udah waktumu untuk pergi. Aku berusaha ikhlas. Tapi asal kau tau, kau dan Bisma akan selalu ada di hatiku. Aku janji. Karena kalian orang yang menerimaku apa adanya. Selalu ada saat aku butuh” Nayra menangis dalam senyumannya. Lalu ia memeluk jasad Dicky dengan lembut.
“terima kasih..” bisik Nayra ke telinga Dicky. lalu ia membuka kain yang menutupi wajah Dicky dan mencium keningnya. “aku pasti merindukanmu, Dicky” air mata Nayra jatuh ke pipi Dicky seakan Dicky ikut menangis.
“aku juga pasti selalu merindukanmu. Jaga mama dan papaku, Nayra. mereka sekarang papa dan mamamu juga. Karena ada kau, aku merasa tenang meninggalkan mereka. Dan karena ada mereka, aku tenang meninggalkanmu” ucap sosok Dicky dari balik Nayra.
Nayra menoleh kaget lalu tersenyum sambil menangis. “iya. Aku janji. Terima kasih karena kau mau berbagi orang tua denganku, ky. Mungkin ini caramu melindungiku”
Bu Nani dan Pak Jhon menatap Nayra dengan bingung. orang-orang mulai takut melihat Nayra berbicara sendiri.
“mama, papa, Dicky ada disini. Dia mau salam perpisahan” jelas Nayra sambil tersenyum.
Bu Nani tersenyum terharu. “Dicky, mama sayang kamu. Kamu baik-baik disana. Mama pasti selalu mendoakanmu”
“papa juga, ky. Kita semua sayang kamu” ucap pak Jhon tersenyum lemah.
“Dicky juga sayang kalian. Kalian orang-orang yang berarti buatku. Termasuk kamu, Nay” ucap Dicky tersenyum. “selamat tinggal, semuanya. Aku merindukan kalian” lanjutnya lalu lama kelamaan menghilang.
“selamat tinggal” ucap Nayra diikuti pak Jhon dan bu Nani. Walaupun tidak bisa melihat dan mendengar Dicky, kedua orang tuanya bisa merasakan apa yang dirasakan anaknya walaupun anaknya sudah meninggal. Mereka tersenyum lega lalu berpelukan untuk saling menguatkan satu sama lain.
***
10 tahun kemudian...
Nayra memandangi bingkai foto yang berisi fotonya waktu kecil bersama Bisma, dan fotonya sewaktu SMA bersama Dicky. dan terlihat juga sebuah foto dirinya dengan kedua orang tuanya yang orang tua Dicky juga. Semuanya terlihat bahagia dan sempurna.
“10 tahun sudah aku tanpa kalian, Bisma, Dicky. lihatlah. Sekarang aku sudah sukses. Bisa menjadi direktur utama disebuah perusahaan besar. Harusnya aku disini bersama kalian” ucap Nayra pelan.
“sekarang umurku sudah 26 tahun. Dan belum mempunyai calon suami. Habis tidak ada yang seperti kalian. Begitu aku ceritakan kalau aku bisa melihat hantu, mereka langsung kabur. Tidak ada yang seperti kalian” ucap Nayra meneteskan air mata.
Nayra menoleh kaget saat tiba-tiba saja komputernya memutar lagu Westlife berjudul Close. Nayra semakin menangis. Lagu kenangannya dengan Bisma.
Nayra menikmati alunan musik yang keluar dari komputernya. Setelah berhenti, Nayra menyanyi dengan suara lembut. “An empty street. An empty house. A hole inside my heart. I'm all alone, the rooms are getting smaller~”
“I wonder how. I wonder why. I wonder where they are. The days we had. The songs we sang together. Oh yeah~” dalam benaknya terputar kejadian saat ia sedang bersama Bisma.
“And oh my love. I'm holding on forever. Reaching for a love that seems so far~”
“So I say a little prayer. And hope my dreams will take me there. Where the skies are blue to see you once again. My love~ Overseas from coast to coast. To find the place I love the most. Where the fields are green to see you once again. My love~” Nayra terpikir untuk ingin bertemu sekali lagi dengan Bisma dan Dicky. ia menangis.
“I try to read. I go to work. I'm laughing with my friends. But I can't stop to keep myself. From thinking. Oh no~” Nayra menangis sambil tersenyum. Ini adalah fakta untuknya. Ia sering berusaha tegar didepan teman-teman sekantornya.
“I wonder how. I wonder why. I wonder where they are. The days we had, the songs we sang together. Oh yeah~”
“And oh my love. I'm holding on forever. Reaching for the love that seems so far~”
“So I say a little prayer. And hope my dreams will take me there. Where the skies are blue to see you once again. My love~ Overseas from coast to coast. To find the place I love the most. Where the fields are green to see you once again~”
“To hold you in my arms. To promise you my love. To tell you from my heart. You're all I'm thinking of~” Nayra semakin sedih mengingat Bisma dan Dicky.
“Reaching for the love that seems so far. So I say a little prayer. And hope my dreams will take me there. Where the skies are blue to see you once again. My love~ Overseas from coast to coast. To find the place I love the most. Where the fields are green to see you once again. My love~” Nayra menyanyi sambil melihat foto dirinya dengan Bisma dan Dicky.
“Say a little prayer. Dreams will take me there. Where the skies are blue to see you once again~ Overseas from coast to coast. To find the place I love the most. Where the fields are green to see you once again. My love~” nyanyinya mengakhiri lagu. Ia meletakkan fotonya diatas meja sambil tersenyum lemah.
“bu Nayra, ada yang ingin melamar kerja disini” ucap seorang sekretaris dari luar.
“biarkan dia masuk, Prisa” jawab Nayra sambil menghapus air matanya. Lalu ia membereskan berkas-berkas yang berserakan di mejanya.
“permisi bu” ucap dua orang laki-laki.
“masuk dulu. Maaf, saya beres-beres biar kelihatan rapi. Tidak enak menyambut tamu dengan meja yang berantakan” ucap Nayra masih sibuk dengan berkas-berkasnya.
Kedua orang itu langsung duduk dikursi dihadapan Nayra. setelah Nayra selesai, Nayra menoleh kearah mereka. Dan lalu terperanjat kaget.
“bu? Ibu tidak apa-apa?” saut salah satu laki-laki itu dengan bingung melihat Nayra mundur kebelakang.
“kalian... kalian manusia?” ucap Nayra berusaha terdengar biasa.
“tentu saja. Apa kami terlihat begitu mengerikan?” tanya laki-laki satu lagi.
Nayra cepat-cepat menggeleng. “siapa nama kalian? Dan berapa umur kalian?” akhirnya Nayra duduk dikursinya. Wajahnya masih terlihat syok.
“saya Muhammad Bisma. Umur 22 tahun” ucap laki-laki itu.
“saya Dicky Prasetya. Umur 20 tahun” jawab laki-laki satu lagi.
Nayra meneteskan air matanya. Ia melihat foto dirinya bersama Dicky dan Bisma.
Kedua lelaki itu saling berpandangan bingung. sekilas mereka melihat foto yang terpajang di bingkai foto yang sedang dilihat Nayra. mereka berdua terkejut.
“mereka mirip dengan kita, ky” ucap Bisma.
“iya. Tapi kita tidak pernah foto dengan wanita ini, kan?” saut Dicky.
Nayra terisak-isak. “me-mereka teman-teman saya. Su-sudah meninggal dunia. Satu-satunya te-teman saya, di dunia ini”
Dicky dan Bisma menatap Nayra dengan iba. “maafkan kami sudah membuat ibu sedih” ucap Bisma diikuti anggukan Dicky.
Nayra cepat-cepat menggeleng. “tidak. Kalian membuatku senang. saya merasa bertemu mereka kembali. Nama kalian sama dengan mereka.  Walaupun tidak mirip sepenuhnya. Kalian juga lebih kecil dari teman-temanku yang mirip kalian. Seharusnya mereka sekarang berumur 29 dan 26 tahun”
Dicky dan Bisma hanya bisa diam. Mereka tidak tahu akan menyahut apa.
“kalian diterima bekerja disini” ucap Nayra akhirnya sambil tersenyum kecil. ia mengelap air matanya.
Bisma dan Dicky terkejut. “bu, tapi kita belum dites. Apa tidak salah?” saut Dicky.
“aku yakin kalian bisa. Karena itu kalian harus tunjukkan yang terbaik. Kalau kalian tidak bagus, saya akan pecat kalian” jawab Nayra sambil menghapus air matanya.
Bisma mengangguk yakin. “kita pasti tidak akan mengecewakanmu, bu” Dicky ikut mengangguk.
Nayra tersenyum melihat Dicky dan Bisma. Keyakinan mereka membuat Nayra seperti melihat Bisma dan Dicky yang ia kenal.
Terdengar suara siulan dari sebelah kiri dan kanan Nayra. Nayra menoleh kaget dan melihat sosok hantu Bisma dan Dicky ada disebelahnya. Nayra tersenyum kecil dan kembali menangis. Akhirnya ia bisa melihat sosok sahabatnya lagi setelah sekian lama.
“aku yakin mereka tidak takut dengan indra keenammu, Nay. Mereka sama seperti kita” ucap Bisma tersenyum genit.
“tapi kau jangan sampai suka dengan mereka karena mirip dengan kami. Mereka berondong, Nay. Carilah yang lain. Yang tidak mirip dengan kami dan menghargai kemampuanmu” sambung Dicky tertawa.
Bisma ikut tertawa. “benar. Mereka hanya pengganti kita sebagai sahabatmu. Bukan pengganti untuk menjadi suamimu”
Nayra tertawa kecil. “yah. Aku pasti tidak melakukan itu”
Bisma dan Dicky tersenyum. “kau sudah besar, Nayra. kita bangga melihat usahamu yang sekarang sudah sukses ini. Hapus air matamu”
“ini semua berkat doa kalian. Terima kasih” balas Nayra tersenyum dan menghapus air matanya.
“kami pamit, Nayra. mungkin kita akan muncul lagi saat kau sudah berumur 30-an. Iya kan, ky?” ucap Bisma bercanda.
“iya benar. Kita sepuluh tahun sekali aja munculnya” saut Dicky tertawa.
“terserah kalian. Kalian setiap hari selalu ada dihatiku” balas Nayra tertawa juga.
“dasar gombal” saut Bisma dan Dicky berbarengan. Nayra tambah tertawa. “selamat tinggal, Nayra” ucap mereka lagi.
“selamat tinggal juga, Bisma, Dicky” ucap Nayra tersenyum. Akhirnya sosok Dicky dan Bisma menghilang.
Bisma dan Dicky berpandangan bingung melihat bos mereka berbicara dan tertawa sendiri.
“ibu tidak gila kan?” tanya Dicky polos. Bisma langsung menendang kaki Dicky dengan wajah marah.
“tidak, haha. Saya bisa melihat makhluk halus. Dan tadi teman-temanku datang mengunjungiku” jawab Nayra jujur sambil tertawa. Ia merasa tidak takut menceritakan yang sebenarnya. Karena ia yakin, Bisma dan Dicky berkata benar. Mereka tidak akan takut dengan kemampuannya.
“bisa melihat hantu? Keren” saut Dicky dan Bisma berbarengan dengan wajah tertarik.
“iya. Jadi, bersiaplah kalian kalau aku tiba-tiba saja memelototkan mata atau tersenyum-senyum sendiri. itu karena ada hantu disekeliling kalian” saut Nayra menakuti. Wajahnya berusaha untuk terlihat serius.
Bisma dan Dicky langsung mengedarkan pandangan. “apa disini ada hantunya?”
“banyak” jawab Nayra singkat dan sok cuek.
Bisma dan Dicky langsung pasang wajah sok tidak takut membuat Nayra terkekeh geli.
“kalian mau jadi sahabatku? Cuma kalian yang tidak takut dengan kemampuanku” ucap Nayra akhirnya sambil tersenyum.
Bisma dan Dicky berpandangan lalu mengangguk sambil tersenyum. “kita pasti bisa jadi sahabatmu, Nayra” ucap Bisma.
“hei! Kau tidak sopan memanggil bos kita hanya namanya saja” saut Dicky meninju lengan Bisma.
Nayra kembali tertawa. “tidak masalah. Saat kita hanya bertiga, kalian boleh hanya memanggil namaku. Tapi saat ramai, kalian wajib memanggilku dengan sopan”
“tuh dengar. Nayra aja gak masalah” saut Bisma memeletkan lidahnya kearah Dicky lalu balas meninju lengannya.
Dicky hanya bisa cemberut. Ia sudah kalah.
“kalian persis seperti Bisma dan Dicky yang kukenal” ucap Nayra tertawa gembira. Mungkin ia sudah mendapatkan sahabat baru. Namun dia tidak akan mungkin melupakan sahabat lamanya. Tidak akan pernah. Karena, sahabat lama mungkin lebih berarti untuknya. Merekalah yang lebih dulu mengerti keadaannya. Bahkan sampai saat mereka meninggal pun, mereka masih memikirkan kebahagiaan Nayra.

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar