Nayra terdiam
dipelukan Bisma. “apa? aku gadis itu?”
“ya. Apa kau tidak
ingat dengan seorang bocah laki-laki yang dulu suka menolongmu saat kau dihina
teman-temanmu karena kau bisa melihat hantu? Waktu kau masih berumur 6 tahun,
Nay”
Nayra
mengingat-ingat masa kecilnya dengan bingung. lalu ia terkesiap kaget dan
melepaskan diri dari pelukan Bisma. Ia menatap Bisma lekat-lekat. “jadi kau
laki-laki itu? berarti kau...”
Bisma mengangguk.
“ya, aku laki-laki yang suka kau panggil dengan sebutan ‘Imyhero’. Sampai-sampai kau melupakan nama asliku” Bisma tersenyum
mengingat hal itu.
“jadi kau, Ima-ku?
Imyhero-ku? Bisma..” Nayra menangis pelan. “aku merindukanmu, Ima”
Bisma menarik Nayra
kedalam pelukannya. “aku juga rindu denganmu, Nay. Kau tau? sejak aku meninggalkanmu
waktu itu, aku terus terpikir olehmu. Waktu saat aku kembali ke Jakarta, aku
berusaha mencari ke rumahmu dulu. Tapi ternyata kau pindah. Aku sempat putus
asa, Nay. Tapi akhirnya aku menemukan rumahmu” suara Bisma terdengar bergetar.
“iya, aku ingat.
Waktu kau pergi meninggalkanku dulu, aku melihat makhluk seram, Bisma. Aku
melihatnya dan makhluk itu seakan ingin menerkamku. Aku takut. Dan kau malah
pergi meninggalkanku” teriak Nayra marah. ar mata sudah membasahi pipinya.
Bisma menahan Nayra
dipelukannya. “maafkan aku. Aku terpaksa pergi, Nay. Orang tuaku sudah
menungguku untuk pergi. Kami saat itu langsung pergi ke bandara untuk pindah.
Aku sudah berusaha untuk menolak dan mau mengucapkan salam perpisahan denganmu,
tapi mereka terus menarikku untuk pergi. Maafkan aku, Nay” tidak tertahankan
lagi, air mata Bisma mengalir turun.
“asal kau tau,
Bisma. Makhluk itu merasukiku dan aku langsung sakit parah. Aku terus
menunggumu dirumah sakit. Tapi apa? kau tidak muncul sama sekali. Waktu itu aku
sakit hati sekali, Bisma. Aku sendirian. Orang tuaku bahkan hanya sekali
menjengukku. Aku hanya ditemani oleh arwah suster yang untungnya adalah hantu
baik. Apa kau tidak tau aku begitu tersiksa karena ditinggalkan olehmu?”
“aku tau aku salah,
Nayra. maka dari itu aku mencarimu begitu aku kembali lagi ke Jakarta. Dan aku
berhasil. Tapi saat perjalanan kerumahmu, aku malah meninggal, Nayra. bahkan
aku belum sempat melihat wajahmu. Belum sempat meminta maaf sama kamu. Belum
sempat menebus semua kesalahanku. Karena itu aku tidak mau muncul dihadapanmu,
Nay. Karena kau bisa melihatku. Aku belum siap muncul dihadapanmu. Aku masih
merasa sangat bersalah. Jadi aku hanya bisa mengawasimu dari jauh” Bisma
sedikit melonggarkan pelukannya.
“tapi saat aku sudah
siap muncul dihadapanmu, kau malah takut denganku. Lupa denganku. Aku sedikit
kecewa. Tapi aku mengerti kalau kau berusaha melupakanku dulu. Karena itu aku
berusaha menebus kesalahanku dengan berusaha berteman denganmu. Dan aku senang
karena kau mau berteman dengan hantu sepertiku, Nay” lanjutnya.
“tapi aku mulai
kecewa lagi saat aku berusaha mengingatkanmu dengan menceritakan gadis yang
kusuka kepadamu waktu kita pertama bertemu, kau tidak menyadarinya. Kau malah
mengira aku menyukai gadis lain. Padahal yang aku ceritakan waktu itu, adalah
kau, Nayra. kau cinta pertama dan terakhirku”
“aku tidak pernah
berusaha melupakanmu, Bisma. Aku lupa denganmu karena wajahmu berubah jauh
dengan Bisma yang kukenal dulu” jelas Nayra masih menangis. “dan ternyata aku
yang membuatmu meninggal, Bisma. Aku yang membuatmu meninggal!” Nayra semakin
menangis. Perasaannya tidak karuan.
Bisma kembali
mempererat pelukannya. “bukan. Itu bukan salahmu. Aku ditabrak karena aku tidak
waspada. Aku tidak fokus. Bukan salahmu, Nayra. ini salahku. Atau itu semua
memang takdirku. Memang takdirku bertemu denganmu lagi sebagai sosok hantu”
“kau tau, Bisma. Aku
selalu berharap bisa bertemu denganmu. Aku selalu berharap mendengar kau
meminta maaf padaku. Maaf kalau aku tidak menyadari maksudmu waktu saat kau cerita
tentang masa lalumu. Aku memang bodoh” ucap Nayra menangis lagi.
“aku minta maaf,
Nay. Maaf sudah meninggalkanmu saat kau ketakutan dan butuh seseorang. Maafkan
aku” ucap Bisma penuh penyesalan.
“aku memaafkanmu,
Bisma. Dan aku mencintaimu, dari dulu” ucap Nayra tulus.
Bisma melepaskan
pelukannya. “apa kau mencintaiku dari dulu? Saat kita masih kecil?” tanya Bisma
tidak percaya.
Nayra mengangguk dan
tersenyum kecil.
“aku juga, Nay. Aku
mencintaimu dari dulu sampai sekarang. Kau selalu dihatiku, Nayra” ucap Bisma
mengecup kening Nayra dengan lembut dan lama.
Nayra memeluk Bisma dengan
lega. “aku senang kembali bertemu denganmu, Bisma. Aku sangat senang”
“ya, aku juga,
Nayra. dan aku merasa lebih senang karena kau mau memaafkanku” balas Bisma
memeluk Nayra. lalu ia mengecup bibir Nayra dengan lembut. Nayra memejamkan
matanya. Tersirat kelegaan di dalam hati mereka masing-masing.
Nayra membuka
matanya dengan perlahan. Terlihat Bisma menatapnya dengan lembut. “Nay, apa kau
ingat lagu yang suka kita dengar itu? yang selalu kita dengar di radio” ucap
Bisma.
Nayra mengangguk.
“sekarang aku sudah hafal lagu itu” “Westlife yang judulnya close, kan?” lanjut
Nayra tersenyum.
“aku juga” jawab
Bisma tersenyum. “mau nyanyi bareng?” ajak Bisma.
Nayra hanya
mengangguk sambil tersenyum.
Bisma memulai dengan
suaranya yang serak. Suara khasnya. “Across the miles, it's funny to me. How far you are but how near you seem to be.
I could talk all night just to hear you breathe. I could spend my life just living this dream.
You're all I'll ever need~”
“You give me
strength, you give me hope. You give me someone to love someone to hold. When
I'm in your arms, I need you to know. I've never been, I've never been this
close~” lanjut Bisma sambil memandang Nayra dengan tajam. Namun bibirnya
menyunggingkan senyum yang sangat indah.
“With all the loves I
used to know. I kept my distance, I never let go. But in your arms I know I'm
safe. 'Cause I've never been held. And I've never been kissed in this way. Oh,
you're all I'll ever need. You're all I'll ever need~” Nayra menyanyi sambil
memegang kedua tangan Bisma.
“You give me
strength, you give me hope. You give me someone to love someone to hold. When
I'm in your arms, I need you to know. I've never been, I've never been this close~”
lanjut Nayra sambil tersenyum menatap Bisma.
“Close enough to see
it's true. Close enough to trust in you. Closer now than any words can say,
yeah~” Bisma memeluk Nayra. “And when, when I'm in your arms. I need you to
know I've never been. I've never been this close~” nyanyi Bisma tepat ditelinga
Nayra.
“You give me
strength, you give me hope. You give me someone to love someone to hold. When
I'm in your arms, I need you to know. I've never been, I've never been. Oh, no,
I swear, I've never been, I've never been this close~” nyanyi Nayra dan Bisma
bersama-sama. Lagu Westlife yang berjudul Close ini memang kenangan mereka
berdua.
Setelah beberapa
menit mereka berpelukan, Nayra menjauhkan diri dari Bisma. Ia menatap Bisma lalu
ia hampir menangis. “Bisma, kau kembali menjadi hantu. Tubuhmu mulai tembus
pandang lagi”
Bisma melihat
tubuhnya sendiri lalu ia memandang Nayra lemah. Namun dipaksakannya untuk tetap
tersenyum. “sepertinya waktuku sudah habis, Nay. Dan mungkin aku bisa tenang di
duniaku. Terima kasih karena kau sudah mau memaafkanku, Nayra. Sering-seringlah
mengunjungi tempat peristirahatanku di TPU Kebon Tebu. Aku dikuburkan disana. Cari
nama Bisma Karisma. Aku pasti merindukanmu, Nayra. kau jangan sampai tidak bisa
move on dariku. Cukup simpan aku dihatimu saja. Aku selalu mencintaimu, Nayra”
“aku pasti juga
selalu merindukanmu, Bisma. Aku janji pasti aku tidak akan lupa mengunjungimu.
Aku sangat mencintaimu. Kau seseorang yang berarti di kehidupanku. I will
always keep you in my heart, forever” ucap Nayra berusaha tersenyum diantara
tangisnya.
***
Nayra terbangun dari
tidurnya. Ia melihat jam yang tergantung di dinding dihadapannya. Pukul 05.00
pagi. Ia mengumpulkan semua nyawanya sambil mengerang perlahan.
Setelah sadar
sepenuhnya, Nayra mengingat semua yang terjadi. “bagaimana bisa aku tertidur?
Apa aku cuma mimpi? Apa Bisma benar-benar sudah pergi?” gumam Nayra sendiri
sedikit gelisah. Ia melihat tempat tidurnya dan mendapati setangkai bunga
gardenia ada disana.
Nayra menangis
sejadi-jadinya. Semuanya benar-benar terjadi. Bisma benar-benar sudah
meninggalkannya. Nayra memegang bibirnya perlahan. Masih terasa hangat ciuman
Bisma di bibirnya. Masih terasa dekapan lembut Bisma di tubuhnya.
Nayra berteriak
frustasi. Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dan terlihat Dicky dengan
tergopoh-gopoh menghampirinya.
“Nay, kau tidak
apa-apa? apa kau bermimpi buruk?” tanya Dicky khawatir.
Nayra melihat Dicky
dengan kaget. Tapi air matanya masih mengalir. “kenapa jam segini kau ada
disini?” ucap Nayra tidak menjawab pertanyaan Dicky.
Dicky menggaruk
kepalanya salah tingkah. “aku kesini karena kemarin aku sudah berjanji untuk
selalu datang pagi kesini untuk memasakkanmu sarapan” jawab Dicky pelan.
Nayra menatap Dicky
dengan terharu. Ia langsung memeluk Dicky. “makasih, ky” gumamnya.
“ini bukan apa-apa,
Nay” ucap Dicky membalas pelukan Nayra walau masih merasa sedikit bingung. “Kau
kenapa? Kenapa matamu terlihat sembab? Apa kau menangis semalaman?”
Nayra menceritakan
semua yang terjadi. Dari awal ia bertemu Bisma yang berubah jadi sosok manusia,
sampai ia terbangun sekarang. Ia sampai melupakan perasaan Dicky yang sakit
karena mendengar pengakuannya yang menyukai Bisma dari dulu.
“yaudah, pulang
sekolah nanti kita datang ke tempat Bisma, ya. Aku mau menemanimu” ucap Dicky
tersenyum.
Nayra menatap Dicky
semakin terharu. “kau begitu mengerti aku, ky. Makasih. Kau sahabat terbaikku”
Dicky menghapus air
mata Nayra dengan lembut. “semua yang membuatmu bahagia adalah penyebab
kebahagiaanku juga. Kau bahagia, aku pasti bahagia juga”
***
“Bisma...” Nayra
mengelus batu nisan bertuliskan ‘Bisma Karisma’ dengan lembut. Dicky jongkok
dihadapannya.
“sesuai janjiku, aku
sudah datang mengunjungimu. Bahkan aku juga mengajak Dicky kesini. Sekarang dia
lah yang menjagaku seperti apa yang kau lakukan dulu sewaktu kita kecil. Dialah
satu-satunya temanku yang tidak takut dengan kemampuanku. Dia selalu membelaku
saat aku dihina teman-temanku sekarang. Seperti yang kau lakukan dulu, kan?”
Nayra tersenyum kecil.
“aku janji setiap
hari selalu datang kesini. Memberimu bunga. Terima kasih untuk semuanya, Bisma.
Kau orang paling berarti dihidupku. Aku pasti selalu menyimpan kenangan kita
dihatiku. Pasti aku tidak akan melupakanmu. You are my first love, Bisma. I
love you” Nayra menangis mencium batu nisan Bisma.
Dicky menatap Nayra
dengan perasaan sedih. Ia mengerti bagaimana perasaan Nayra sekarang. Dan ia
tidak mau menganggunya. Walaupun ia merasa sakit mendengar ucapan terakhir
Nayra.
“aku pulang dulu ya,
Bisma. Besok pasti aku datang lagi. janji” pamit Nayra lalu berdiri dari
jongkoknya. Dicky ikut berdiri disamping Nayra.
“broo, kita pulang
ya. Aku pasti selalu jagain Nayra. kau tenang saja disana” ucap Dicky
tersenyum. Lalu ia menggenggam tangan Nayra dan mengajaknya pulang.
***
Sebulan tanpa kehadiran
sosok Bisma, membuat Nayra mulai bisa sedikit menghilangkan perasaan sedihnya.
Dicky selalu ada disampingnya dan selalu berusaha membuatnya tersenyum kembali.
“Nay, mungkin kau
sudah bosan mendengar kata-kata ini, tapi aku benar-benar ingin mengucapkan ini
untuk terakhir kalinya. Terserah kau mau menjawab apa. aku terima semuanya
dengan ikhlas” ucap Dicky mulai serius.
Nayra mengedarkan
pandangannya ke sekeliling taman dirumahnya. Lalu Nayra mengangguk pelan sambil
tersenyum.
“kau pasti sudah tau
apa perasaanku selama ini ke kamu, Nay. Tapi aku mau memperjelasnya. Aku
menyukaimu. Aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Dari dulu saat kita SMP. Tapi
aku tau, kau pasti masih sangat mencintai Bisma. Aku mengerti. Tapi ntah kenapa
aku mau mengucapkannya sore ini” ucap Dicky serius.
“aku juga
menyayangimu, ky. Tapi maaf. Kayanya kita cuma bisa bersahabat. Aku gak mau
kalau kau menjadi pengganti Bisma dihatiku. Karena kalian berdua sama-sama
sosok penting dalam hidupku. Gak ada yang bisa gantiin kalian berdua. Kalian
sama-sama ada dihatiku, dengan posisi yang berbeda” jelas Nayra.
Dicky tersenyum.
“iya. Aku mengerti. Makasih karena kau mau menyimpanku di hatimu juga” ucap
Dicky mencium puncak kepala Nayra dengan lembut lalu menarik Nayra kedalam
pelukannya.
Nayra memejamkan
matanya dengan nyaman. Ia membalas pelukan Dicky. “biarkan semuanya mengalir
seperti air” gumam Nayra tersenyum.
***
Dicky tidur dengan
perasaan gelisah. Tubuhnya terus mengeluarkan keringat. Ia merasa seperti ada
sesuatu yang menduduki dadanya sehingga ia merasa sulit bernafas. Jantungnya
berdetak lebih cepat. Ia mengerang tertahan saat perutnya terasa dipukul-pukul.
Ia bangkit dari
tidurnya dan berjalan menghampiri meja belajarnya. Disana ia mengambil sebuah
foto dirinya dengan Nayra saat di taman mini. Dan ia juga mengambil sebuah foto
dirinya dengan kedua orang tuanya. Ntah kenapa saat ini Dicky ingin sekali
bertemu dengan Nayra dan kedua orang tuanya. Mereka adalah orang yang sangat
berarti dalam kehidupan Dicky.
Ia memelototkan
matanya dengan takut. Dicky melihat sosok makhluk aneh sedang tersenyum menyeringai
kearahnya. Lalu makhluk itu memegang leher Dicky dan mencekiknya kuat-kuat.
dicky berusaha berteriak dan melawan. Namun tidak ada yang keluar dari
mulutnya. Ia hanya bisa meronta-ronta ketakutan.
Tiba-tiba saja Nayra
muncul dibenaknya. Sosok Nayra yang sedang tersenyum kearahnya. Sosok Nayra
yang memeluknya, menggenggam tangannya. Nayra yang menjadi pengisi hatinya
selama ini. Semua kenangan tentang mereka berkelebat di benak Dicky. juga kenangan
hidupnya dengan kedua orang tuanya.
Saat ia mulai
benar-benar tidak bisa bernafas, sosok kedua orang tuanya, Nayra, dan
orang-orang yang dikenalnya semakin menjauh. Detak jantungnya semakin melemah. Ia
meremas kedua foto yang ia pegang dari tadi. Namun lama-lama ia kehilangan
tenaga dan akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
***
Nayra terbangun
dengan perasaan gelisah. Tubuhnya berkeringat. Ia berusaha menenangkan
pikirannya dengan mencuci muka. Lalu ia menatap cermin dengan perasaan masih
tidak tenang. Ia baru saja memimpikan hal buruk tentang Dicky.
Akhirnya ia mandi
dan segera bersiap untuk pergi ke sekolah. Ia menuju dapur dan melihat Mbak
Mina ada disana. “mbak, Dicky gak ada datang pagi ini?” tanya Nayra bingung.
“gak ada non. Makanya
mbak yang masakin pagi ini” jawab Mbak Mina sambil meletakkan sepiring roti
panggang isi coklat keju ke hadapan Nayra.
Nayra melahap
rotinya dengan cemas. Dalam hati ia berharap semoga tidak terjadi apa-apa
dengan Dicky sebab ia merasa gelisah karena mimpinya tadi.
***
Nayra menatap bangku
disebelahnya. Tidak biasanya Dicky teelambat datang ke sekolah. Apa ada sesuatu
yang terjadi? Apa dia terjebak macet? Atau bannya bocor? Atau malah dia
kecelakaan? Nayra menggeleng kepalanya kuat. ia tidak mau memikirkan hal-hal
negatif tentang Dicky sekarang. Ia harus positive thinking.
Wali kelas Nayra
masuk dengan wajah sedih. Nayra bingung melihatnya. Apalagi tidak biasanya wali
kelasnya ini masuk terlambat ke kelas. Anak-anak yang dari tadi ribut, langsung
diam dan kembali ketempat duduknya masing-masing.
“anak-anak. Ibu mau
menyampaikan kabar duka untuk kita semua” ucap ibu Nina, Wali Kelas Nayra.
“kabar apa bu?”
tanya seorang murid yang duduk didepan.
Ibu Nina mengedarkan
pandangannya lalu berhenti di Nayra. “orang tua Dicky menelpon ke sekolah. Jam
03.00 dini hari tadi, Dicky meninggal dunia” ucapnya berkaca-kaca.
Deg!!! Nayra langsung lemas. Bibirnya bergetar. Matanya
mengeluarkan air mata. “ibu... ibu bercanda kan?” ucap Nayra pelan.
Bu Nina menatap
Nayra dengan iba. “maaf, nak. Ini benar-benar terjadi”
Nayra langsung
menangis terisak-isak. Perempuan yang menyukai Dicky langsung menangis
histeris. Sementara laki-laki yang lumayan dekat dengan Dicky hanya menunduk
sedih.
Nayra berdiri. “bu,
sa-saya pe-permisi” ucap Nayra masih terisak-isak.
Bu Nina mengangguk
mengerti. Ia tau kalau Nayra lah orang yang paling merasa kehilangan sosok
Dicky.
Nayra berlari menuju
gerbang sambil menangis. Pak Diman, satpam sekolah yang terkenal kejam langsung
membukakan pagar untuk Nayra seakan mengerti apa yang dibutuhkan Nayra.
Nayra langsung
memberhentikan sebuah taksi dan menyebutkan alamat rumah Dicky. akhirnya ia
segera meluncur kesana.
***
Rumah Dicky sudah
ramai didatangi orang-orang berbaju hitam. Nayra terlihat mencolok dengan
seragam putih abu-abunya. Ia langsung masuk tanpa memerdulikan tatapan
orang-orang. Terlihat ibu Dicky menangis dan dirangkul oleh ayah Dicky.
Nayra menghampiri
kedua orang tua Dicky dengan pelan. Ayah Dicky yang melihat Nayra berusaha
tersenyum ramah. Ibu Dicky yang juga menyadari kehadiran Nayra, hanya bisa
tersenyum samar. Matanya terlihat sembab. Mungkin dari tadi ia hanya menangis.
“om, tante, saya
turut berduka cita” ucap Nayra pelan berusaha menahan emosinya yang ingin
menangis. Ia mengerti, pasti kedua orang tua Dicky lebih merasa kehilangan dari
pada dirinya.
Ayah Dicky tersenyum
sedih. “terima kasih, Nayra. om juga tau kalau kamu juga pasti merasa
kehilangan seperti kami” ucapnya ramah. Kedua orang tua Nayra memang dekat
dengan Nayra karena Nayra sering datang ke rumah Dicky.
“om, Dicky ada
dimana?” ucap Nayra semakin ingin menangis.
“ada disana. Lagi
tidur dengan tenang” ucap Ayah Dicky dengan mata berkaca-kaca.
“sa-saya permisi”
ucap Nayra mulai terisak. Ayah Dicky hanya mengangguk pelan.
Nayra menatap tubuh
seseorang yang sudah ditutupi kain itu dengan perasaan tidak karuan.
Pelan-pelan ia mendekati tubuh itu. setelah dekat, ia duduk disebelah tubuh
itu. air matanya sudah tidak bisa di tahannya lagi. ia menangis terisak-isak.
“Dicky... mana janjimu?
Kau janji kalau kau mau terus disampingku. Dan itu baru sebulan yang lalu.
Kenapa kau pergi, Dicky?” ucap Nayra pelan.
Orang-orang yang ada
disana melihat dengan iba. Mereka seakan bisa melihat ikatan yang kuat di
antara Nayra dengan Dicky. bukan sekedar teman SMA biasa.
“baru sebulan yang
lalu aku kehilangan Bisma. Dan sekarang aku kehilangan kau, Dicky. apa
maksudnya? Kenapa semua milikku di ambil? Kalian berdua satu-satunya yang aku
punya. Dan sekarang kalian berdua malah pergi. Apa yang aku punya sekarang?
Apa?!” Nayra menangis semakin kuat. air matanya keluar semakin deras.
“siapa yang mau
menyemangatiku lagi? siapa yang mau menghiburku lagi? siapa yang mau berteman
dengaku lagi? gak ada! lebih baik aku nyusul kalian dari pada harus hidup
sendiri di dunia ini!” teriak Nayra frustasi. Ia berlari ke dapur mengambil
pisau dan kembali menghampiri tubuh Dicky.
Orang-orang yang ada
disana ketakutan melihat Nayra yang membawa pisau. Akhirnya Ibu Dicky, bu Nani
menghampiri Nayra.
“Nayra! kamu jangan
ngelakuin tindakan bodoh! Bukan berarti kalau Dicky pergi kamu akan kehilangan
semuanya. Masih banyak yang menyayangimu, Nayra” tahan bu Nani sambil menangis.
“siapa, tante?
Siapa? Bahkan orang tua Nayra takut sama Nayra. gak ada perdulinya sama Nayra.
teman-teman juga gak ada yang dekat sama Nayra. mereka takut sama Nayra. Cuma
Dicky dan Bisma yang mau berteman dengan Nayra, tante. Dan sekarang mereka
pergi. Untuk apa Nayra hidup lagi?” teriak Nayra mencoba memberontak.
Ibu Dicky terkesiap
kaget mendengar cerita Nayra. orang-orang yang melayat pun juga kaget. Dalam
hati mereka berfikir, orang tua seperti apa yang tega menelantarkan anaknya
sendiri?
“memangnya kenapa
mereka semua takut? Nayra anak yang baik kan? tante udah kenal Nayra lama dan
Nayra tidak menakutkan” ucap bu Nani akhirnya.
“tante gak tau yang
sebenarnya. Kalau tante tau, dan semua orang disini tau, gak akan ada yang mau
dekat-dekat sama Nayra lagi. Nayra emang aneh. Gak pantas hidup” Nayra tidak
sengaja menjatuhkan pisaunya dan langsung diambil oleh ayah Dicky. Nayra
menutup wajahnya dengan frustasi.
“emang kamu kenapa?
Coba cerita sama tante” bujuk bu Nani. Wajahnya terlihat kusut namun tetap
berusaha tersenyum ramah.
“Nayra bisa lihat
hantu! Nayra bisa lihat hal-hal gaib. Nayra dapat kutukan dari Tuhan, makanya
Nayra punya indra keenam. Nayra gak pantas hidup” teriak Nayra menangis
sejadi-jadinya.
Semua orang terkejut
mendengar pengakuan Nayra. bu Nani langsung memeluk Nayra lembut namun kuat.
“tante gak takut
sama kamu. Semua orang disini gak takut sama kamu. Kita semua sayang sama kamu.
Kamu gak sendirian, Nayra” ucap bu Nani lembut. Ia meneteskan air mata karena
sedih mendengar cerita Nayra yang sangat membuatnya iba.
“makasih tante...”
ucap Nayra ahirnya tenang. Namun air matanya masih mengalir dipipinya. Baru
kali ini ia merasakan pelukan kasih sayang dari seorang wanita dewasa.
Bu Nani melepaskan
pelukannya lalu mencium kening Nayra dengan lembut. “mulai sekarang kamu anak
tante ya, Nayra”
Nayra terkesiap
kaget. Ia kembali menangis. Namun tangisan terharu. “makasih tante. Sudah 10
tahun Nayra gak ngerasain pelukan dari seorang ibu. Gak ngerasain kecupan dari
orang tua. Makasih mama” Nayra tersenyum dalam tangisnya.
Bu Nani menghapus
air mata Nayra. ia ikut menangis juga. “kan sekarang udah ada mama. Kamu tenang
aja. nanti mama akan bilang sama mama kamu kalau kamu mama adopsi” ucap bu Nani
tersenyum.
“sekali lagi,
makasih mama” ucap Nayra memeluk Bu Nani dengan perasaan senang. Lalu ia
melepaskan pelukannya dan menghampiri tubuh Dicky.
“Dicky, mungkin
emang udah waktumu untuk pergi. Aku berusaha ikhlas. Tapi asal kau tau, kau dan
Bisma akan selalu ada di hatiku. Aku janji. Karena kalian orang yang menerimaku
apa adanya. Selalu ada saat aku butuh” Nayra menangis dalam senyumannya. Lalu
ia memeluk jasad Dicky dengan lembut.
“terima kasih..”
bisik Nayra ke telinga Dicky. lalu ia membuka kain yang menutupi wajah Dicky
dan mencium keningnya. “aku pasti merindukanmu, Dicky” air mata Nayra jatuh ke
pipi Dicky seakan Dicky ikut menangis.
“aku juga pasti
selalu merindukanmu. Jaga mama dan papaku, Nayra. mereka sekarang papa dan
mamamu juga. Karena ada kau, aku merasa tenang meninggalkan mereka. Dan karena
ada mereka, aku tenang meninggalkanmu” ucap sosok Dicky dari balik Nayra.
Nayra menoleh kaget
lalu tersenyum sambil menangis. “iya. Aku janji. Terima kasih karena kau mau
berbagi orang tua denganku, ky. Mungkin ini caramu melindungiku”
Bu Nani dan Pak Jhon
menatap Nayra dengan bingung. orang-orang mulai takut melihat Nayra berbicara
sendiri.
“mama, papa, Dicky
ada disini. Dia mau salam perpisahan” jelas Nayra sambil tersenyum.
Bu Nani tersenyum
terharu. “Dicky, mama sayang kamu. Kamu baik-baik disana. Mama pasti selalu
mendoakanmu”
“papa juga, ky. Kita
semua sayang kamu” ucap pak Jhon tersenyum lemah.
“Dicky juga sayang
kalian. Kalian orang-orang yang berarti buatku. Termasuk kamu, Nay” ucap Dicky
tersenyum. “selamat tinggal, semuanya. Aku merindukan kalian” lanjutnya lalu
lama kelamaan menghilang.
“selamat tinggal”
ucap Nayra diikuti pak Jhon dan bu Nani. Walaupun tidak bisa melihat dan
mendengar Dicky, kedua orang tuanya bisa merasakan apa yang dirasakan anaknya
walaupun anaknya sudah meninggal. Mereka tersenyum lega lalu berpelukan untuk
saling menguatkan satu sama lain.
***
10 tahun kemudian...
Nayra memandangi
bingkai foto yang berisi fotonya waktu kecil bersama Bisma, dan fotonya sewaktu
SMA bersama Dicky. dan terlihat juga sebuah foto dirinya dengan kedua orang
tuanya yang orang tua Dicky juga. Semuanya terlihat bahagia dan sempurna.
“10 tahun sudah aku
tanpa kalian, Bisma, Dicky. lihatlah. Sekarang aku sudah sukses. Bisa menjadi
direktur utama disebuah perusahaan besar. Harusnya aku disini bersama kalian”
ucap Nayra pelan.
“sekarang umurku
sudah 26 tahun. Dan belum mempunyai calon suami. Habis tidak ada yang seperti
kalian. Begitu aku ceritakan kalau aku bisa melihat hantu, mereka langsung
kabur. Tidak ada yang seperti kalian” ucap Nayra meneteskan air mata.
Nayra menoleh kaget
saat tiba-tiba saja komputernya memutar lagu Westlife berjudul Close. Nayra
semakin menangis. Lagu kenangannya dengan Bisma.
Nayra menikmati
alunan musik yang keluar dari komputernya. Setelah berhenti, Nayra menyanyi
dengan suara lembut. “An empty street. An empty house. A hole inside my heart.
I'm all alone, the rooms are getting smaller~”
“I wonder how. I
wonder why. I wonder where they are. The days we had. The songs we sang
together. Oh yeah~” dalam benaknya terputar kejadian saat ia sedang bersama
Bisma.
“And oh my love. I'm
holding on forever. Reaching for a love that seems so far~”
“So I say a little
prayer. And hope my dreams will take me there. Where the skies are blue to see
you once again. My love~ Overseas from coast to coast. To find the place I love
the most. Where the fields are green to see you once again. My love~” Nayra
terpikir untuk ingin bertemu sekali lagi dengan Bisma dan Dicky. ia menangis.
“I try to read. I go
to work. I'm laughing with my friends. But I can't stop to keep myself. From
thinking. Oh no~” Nayra menangis sambil tersenyum. Ini adalah fakta untuknya.
Ia sering berusaha tegar didepan teman-teman sekantornya.
“I wonder how. I
wonder why. I wonder where they are. The days we had, the songs we sang
together. Oh yeah~”
“And oh my love. I'm
holding on forever. Reaching for the love that seems so far~”
“So I say a little
prayer. And hope my dreams will take me there. Where the skies are blue to see
you once again. My love~ Overseas from coast to coast. To find the place I love
the most. Where the fields are green to see you once again~”
“To hold you in my
arms. To promise you my love. To tell you from my heart. You're all I'm
thinking of~” Nayra semakin sedih mengingat Bisma dan Dicky.
“Reaching for the
love that seems so far. So I say a little prayer. And hope my dreams will take
me there. Where the skies are blue to see you once again. My love~ Overseas
from coast to coast. To find the place I love the most. Where the fields are
green to see you once again. My love~” Nayra menyanyi sambil melihat foto
dirinya dengan Bisma dan Dicky.
“Say a little prayer.
Dreams will take me there. Where the skies are blue to see you once again~ Overseas
from coast to coast. To find the place I love the most. Where the fields are
green to see you once again. My love~” nyanyinya mengakhiri lagu. Ia meletakkan
fotonya diatas meja sambil tersenyum lemah.
“bu Nayra, ada yang
ingin melamar kerja disini” ucap seorang sekretaris dari luar.
“biarkan dia masuk,
Prisa” jawab Nayra sambil menghapus air matanya. Lalu ia membereskan
berkas-berkas yang berserakan di mejanya.
“permisi bu” ucap
dua orang laki-laki.
“masuk dulu. Maaf,
saya beres-beres biar kelihatan rapi. Tidak enak menyambut tamu dengan meja
yang berantakan” ucap Nayra masih sibuk dengan berkas-berkasnya.
Kedua orang itu
langsung duduk dikursi dihadapan Nayra. setelah Nayra selesai, Nayra menoleh
kearah mereka. Dan lalu terperanjat kaget.
“bu? Ibu tidak
apa-apa?” saut salah satu laki-laki itu dengan bingung melihat Nayra mundur
kebelakang.
“kalian... kalian
manusia?” ucap Nayra berusaha terdengar biasa.
“tentu saja. Apa
kami terlihat begitu mengerikan?” tanya laki-laki satu lagi.
Nayra cepat-cepat
menggeleng. “siapa nama kalian? Dan berapa umur kalian?” akhirnya Nayra duduk
dikursinya. Wajahnya masih terlihat syok.
“saya Muhammad Bisma.
Umur 22 tahun” ucap laki-laki itu.
“saya Dicky Prasetya.
Umur 20 tahun” jawab laki-laki satu lagi.
Nayra meneteskan air
matanya. Ia melihat foto dirinya bersama Dicky dan Bisma.
Kedua lelaki itu
saling berpandangan bingung. sekilas mereka melihat foto yang terpajang di
bingkai foto yang sedang dilihat Nayra. mereka berdua terkejut.
“mereka mirip dengan
kita, ky” ucap Bisma.
“iya. Tapi kita
tidak pernah foto dengan wanita ini, kan?” saut Dicky.
Nayra terisak-isak.
“me-mereka teman-teman saya. Su-sudah meninggal dunia. Satu-satunya te-teman
saya, di dunia ini”
Dicky dan Bisma
menatap Nayra dengan iba. “maafkan kami sudah membuat ibu sedih” ucap Bisma
diikuti anggukan Dicky.
Nayra cepat-cepat
menggeleng. “tidak. Kalian membuatku senang. saya merasa bertemu mereka
kembali. Nama kalian sama dengan mereka. Walaupun tidak mirip sepenuhnya. Kalian juga lebih
kecil dari teman-temanku yang mirip kalian. Seharusnya mereka sekarang berumur
29 dan 26 tahun”
Dicky dan Bisma
hanya bisa diam. Mereka tidak tahu akan menyahut apa.
“kalian diterima
bekerja disini” ucap Nayra akhirnya sambil tersenyum kecil. ia mengelap air matanya.
Bisma dan Dicky
terkejut. “bu, tapi kita belum dites. Apa tidak salah?” saut Dicky.
“aku yakin kalian
bisa. Karena itu kalian harus tunjukkan yang terbaik. Kalau kalian tidak bagus,
saya akan pecat kalian” jawab Nayra sambil menghapus air matanya.
Bisma mengangguk
yakin. “kita pasti tidak akan mengecewakanmu, bu” Dicky ikut mengangguk.
Nayra tersenyum
melihat Dicky dan Bisma. Keyakinan mereka membuat Nayra seperti melihat Bisma
dan Dicky yang ia kenal.
Terdengar suara
siulan dari sebelah kiri dan kanan Nayra. Nayra menoleh kaget dan melihat sosok
hantu Bisma dan Dicky ada disebelahnya. Nayra tersenyum kecil dan kembali
menangis. Akhirnya ia bisa melihat sosok sahabatnya lagi setelah sekian lama.
“aku yakin mereka
tidak takut dengan indra keenammu, Nay. Mereka sama seperti kita” ucap Bisma
tersenyum genit.
“tapi kau jangan
sampai suka dengan mereka karena mirip dengan kami. Mereka berondong, Nay.
Carilah yang lain. Yang tidak mirip dengan kami dan menghargai kemampuanmu”
sambung Dicky tertawa.
Bisma ikut tertawa.
“benar. Mereka hanya pengganti kita sebagai sahabatmu. Bukan pengganti untuk
menjadi suamimu”
Nayra tertawa kecil.
“yah. Aku pasti tidak melakukan itu”
Bisma dan Dicky
tersenyum. “kau sudah besar, Nayra. kita bangga melihat usahamu yang sekarang
sudah sukses ini. Hapus air matamu”
“ini semua berkat
doa kalian. Terima kasih” balas Nayra tersenyum dan menghapus air matanya.
“kami pamit, Nayra.
mungkin kita akan muncul lagi saat kau sudah berumur 30-an. Iya kan, ky?” ucap
Bisma bercanda.
“iya benar. Kita
sepuluh tahun sekali aja munculnya” saut Dicky tertawa.
“terserah kalian.
Kalian setiap hari selalu ada dihatiku” balas Nayra tertawa juga.
“dasar gombal” saut Bisma
dan Dicky berbarengan. Nayra tambah tertawa. “selamat tinggal, Nayra” ucap
mereka lagi.
“selamat tinggal
juga, Bisma, Dicky” ucap Nayra tersenyum. Akhirnya sosok Dicky dan Bisma
menghilang.
Bisma dan Dicky
berpandangan bingung melihat bos mereka berbicara dan tertawa sendiri.
“ibu tidak gila
kan?” tanya Dicky polos. Bisma langsung menendang kaki Dicky dengan wajah
marah.
“tidak, haha. Saya bisa
melihat makhluk halus. Dan tadi teman-temanku datang mengunjungiku” jawab Nayra
jujur sambil tertawa. Ia merasa tidak takut menceritakan yang sebenarnya.
Karena ia yakin, Bisma dan Dicky berkata benar. Mereka tidak akan takut dengan
kemampuannya.
“bisa melihat hantu?
Keren” saut Dicky dan Bisma berbarengan dengan wajah tertarik.
“iya. Jadi,
bersiaplah kalian kalau aku tiba-tiba saja memelototkan mata atau
tersenyum-senyum sendiri. itu karena ada hantu disekeliling kalian” saut Nayra
menakuti. Wajahnya berusaha untuk terlihat serius.
Bisma dan Dicky
langsung mengedarkan pandangan. “apa disini ada hantunya?”
“banyak” jawab Nayra
singkat dan sok cuek.
Bisma dan Dicky
langsung pasang wajah sok tidak takut membuat Nayra terkekeh geli.
“kalian mau jadi
sahabatku? Cuma kalian yang tidak takut dengan kemampuanku” ucap Nayra akhirnya
sambil tersenyum.
Bisma dan Dicky
berpandangan lalu mengangguk sambil tersenyum. “kita pasti bisa jadi sahabatmu,
Nayra” ucap Bisma.
“hei! Kau tidak
sopan memanggil bos kita hanya namanya saja” saut Dicky meninju lengan Bisma.
Nayra kembali
tertawa. “tidak masalah. Saat kita hanya bertiga, kalian boleh hanya memanggil
namaku. Tapi saat ramai, kalian wajib memanggilku dengan sopan”
“tuh dengar. Nayra
aja gak masalah” saut Bisma memeletkan lidahnya kearah Dicky lalu balas meninju
lengannya.
Dicky hanya bisa
cemberut. Ia sudah kalah.
“kalian persis
seperti Bisma dan Dicky yang kukenal” ucap Nayra tertawa gembira. Mungkin ia
sudah mendapatkan sahabat baru. Namun dia tidak akan mungkin melupakan sahabat
lamanya. Tidak akan pernah. Karena, sahabat lama mungkin lebih berarti
untuknya. Merekalah yang lebih dulu mengerti keadaannya. Bahkan sampai saat
mereka meninggal pun, mereka masih memikirkan kebahagiaan Nayra.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar