Kamis, 11 April 2013

Missunderstand (Part 2)


Reina duduk dipojokan ruangan tempat ia rapat siang ini. Ia mengedarkan pandangan seakan mencari seseorang. Ruangan ini sudah ramai. Seluruh fungsionaris dari OSIS hadir disini. Sepertinya kali ini ada rapat besar. Mungkin.
Reina langsung tersenyum kecil begitu matanya menangkap sosok Dicky yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Entah matanya salah atau tidak, sekilas ia melihat Dicky tersenyum kecil padanya. Rasanya Reina sudah ingin melompat-lompat kegirangan sekarang juga. Namun ia masih sadar di mana sekarang ia berada. Sekarang ia hanya bisa menahan gejolak hatinya yang akan meledak karena terlalu gembira.
“hei!” sapa Bisma menghampiri Reina.
Reina tersadar dari lamunannya. “loh? kok lo kesini? Gak didepan sama Dicky?” tanya Reina bingung.
“gak. Itu yang didepan ketua semua. Males gue. Mending gue nemenin lo disini. Sendirian kan?” jelas Bisma tersenyum.
Reina terpaku sebentar seakan terbius dengan senyuman Bisma. “tau aja lo kalo gue ngerasa asing disini” ucap Reina balas tersenyum setelah sadar dari biusan Bisma.
“jadi gimana menurut lo OSIS disini?” tanya Bisma sekedar menghabiskan waktu.
“ya gak gimana-gimana. Gue belum tau apa-apa” jawab Reina jujur.
Bisma tertawa kecil. “iya juga yah. Ketahuan banget dong kalo gue basa basi doang, haha”
Reina ikut tertawa kecil. Ia menahan tawanya karena takut dimarahi Ketua OSIS yang sedang berbicara, karena sebenarnya rapat sudah dimulai dari 5 menit yang lalu.
“na, mau ikutan hangout bareng gue sama Dicky gak? Rencananya kita berdua mau refreshing gitu. Tapi belum tau kemana. Mana tau lo mau ikut terus bisa kasih saran tempat bagus dimana” ucap Bisma terdengar semangat.
“ini bukan sekedar basa basi doang, kan?” saut Reina bercanda.
Bisma tersenyum geli. “kali ini seriusan. Lo mau ikutan kan?”
Reina terlihat berpikir sebentar. sebenarnya sejak awal ia sudah langsung mengiyakan dalam hatinya. Kucing mana yang tidak mau dikasih ikan asin? Gak ada. Tapi ia sebagai wanita harus menjaga diri agar tidak terlihat memalukan di hadapan pria.
“boleh sih. Siang ini, kan?” balas Reina tersenyum kecil.
Bisma mengangguk dan balas tersenyum. “jadi?”
“deal” ucap Reina tertawa kecil.
***
“jadi, kita mau kemana?” tanya Bisma yang memegang kemudi.
“gak tau. lo ada ide, na?” tanya Dicky ke Reina yang duduk di belakang.
Reina gelagapan. “e-eh. Ki-kita ke taman aja yuk. Gue tau tempatnya” jawab Reina gugup.
“lo bisa tunjukin jalannya, kan?” tanya Bisma ramah. Ia melirik Reina dari kaca spion atas.
Reina mengangguk. Setelah itu Bisma menghidupkan mesin dan melaju keluar dari gerbang sekolah. Dengan gesit Dicky memasukkan sebuah CD ke dalam player yang ada di mobil Bisma dan melantunlah lagu-lagu dari 2NE1. Sesekali Bisma dan Dicky melantunkan lirik lagu itu. Sepertinya mereka hapal dengan lagu itu.
Reina tenggelam dalam pikirannya. Ia merasa sedikit menyesal. Dengan bodoh ia langsung mengiyakan ajakan Bisma di ruang rapat tadi. Sejujurnya ia juga ingin pergi dengan Dicky. tapi ia tidak pernah terpikir kalau ia hanya satu-satunya perempuan diantara dua laki-laki. Harusnya ia mengajak Tamara yang menyukai Bisma, agar suasana tidak secanggung ini. Bagaimanapun juga ia tidak kenal dekat dengan kedua lelaki ini. Bisa saja mereka berbuat sesuatu kepadanya.
“Reina!” panggil Dicky sambil menoleh menatap Reina.
Reina terkejut. Ia langsung menatap mata Dicky. Dengan cepat ia mengalihkan matanya untuk menetralkan detak jantungnya yang berdegup semakin kencang. “a-ada a-apa?” tanya Reina pelan.
“itu dari tadi Bisma nanya, arahnya kemana? Kita bener-bener gak tau. Kan cuma lo yang tau jalan ke taman yang lo maksud itu” jelas Dicky kembali menatap ke depan.
“o-oh iya” ucap Reina tersadar. Namun kegugupannya belum juga hilang. Ia mengedarkan pandangan melihat keberadaan mereka sekarang ada dimana. Mendadak saja Reina berseru. “belok kiri!!”
Bisma yang kaget langsung mengerem mendadak. Dicky sedikit terbentur dasbor. Reina terbentur bangku yang diduduki Dicky. Dicky meringis kesakitan.
“kenapa tiba-tiba sih?” saut Dicky kesal.
“sorry. Habis gue kaget sama teriakan Reina” jawab Bisma pelan. Sepertinya ia sedang mengontrol detak jantungnya.
“aduh, maaf ya. Gue tadi maksudnya mau nyuruh Bisma buat belok kiri. Takut kelewatan. Maaf ya” ucap Reina takut.
“iya...” belum sempat Bisma meyelesaikan omongannya, Dicky langsung memotong.
“lo gimana sih? Ngasih taunya kan bisa santai aja. gak usah buat kaget gini. Kalo tadi Bisma sampe nabrak orang, gimana? Kalo gue sama Bisma kenapa-napa, gimana? Untung kita berdua pake seatbelt. Kalo gak memar kening kita”
“ma-maaf, ky. Gue gak ma-maksud” ucap Reina ketakutan. Matanya mulai berkaca-kaca.
“yaudah lah, ky. Toh kita sekarang juga gak apa-apa kan? dia juga gak sengaja. Semua orang bisa ngelakuin kesalahan lah. Gak usah diperpanjang” ucap Bisma tenang. Bisma berpaling ke Reina dan tersenyum ramah. “jadi, tadi lo bilang belok kiri. Udah lewat belum?”
Reina tertegun mendengar suara ramah Bisma. Pelan ia mengangkat kepalanya sampai ia melihat senyum lembut Bisma. “belum. Itu di depan ada belokan, kita belok disana” jelas Reina pelan. Ia masih takut walaupun mulai merasa tenang karena perlakuan Bisma yang ramah padanya.
“oke. Kita berangkat lagi, ya?” ucap Bisma kembali menginjak gas.
“pelan-pelan aja. gue gak mau sampe kepentok lagi” ucap Dicky datar.
Reina langsung menciut. Dicky terdengar seperti menyindirnya. Pikiran Reina sudah melayang entah kemana. Ia takut. Takut kesempatannya dekat dengan Dicky akan menghilang begitu saja karena kebodohan yang ia lakukan.
***
Reina berjalan pelan di belakang Dicky dan Bisma. Ia lalu duduk di bawah pohon yang cukup rindang di taman ini. Ia memandangi Dicky yang sibuk melihat-lihat pemandangan taman ini yang memang sedikit lain dari taman-taman biasanya.
“lo tau dari mana tempat kaya gini?” tanya Dicky tiba-tiba.
Reina diam dalam lamunannya. Ia tidak menyadari kalau Dicky bertanya padanya.
“woy! Lo tuli atau gimana?” saut Dicky mulai emosi.
Bisma menghalangi Dicky yang akan menghampiri Reina. “lo jangan gampang emosi. Dia cewek, ky. Lembut dikit” ucap Bisma tenang.
Dicky menarik nafas panjang lalu membuangnya. “gak tau nih. Hari ini gue uring-uringan banget”
“ya tapi lo jangan jadiin Reina jadi tempat lo ngebuang uring-uringan lo. Kasian dia. Dari tadi gue ngerasa kayanya dia mulai gak nyaman jalan sama kita” jelas Bisma.
Dicky terlihat berfikir. Akhirnya ia berjalan menghampiri Reina. Namun kali ini Bisma tidak menahannya lagi.
Reina sedikit terkejut melihat Dicky sudah duduk di sebelahnya. “a-ada apa?” tanya Reina dengan gugup.
“gue... gue mau minta maaf sama lo” ucap Dicky ramah.
Reina sedikit bingung. “maaf? U-untuk apa?”
“soal yang di mobil tadi. Gak seharusnya gue ngebentak lo tadi. Maaf ya”
Reina tersenyum kecil. “gak masalah kok. Gue emang salah. Maaf ya udah buat lo sama Bisma kaget”
Dicky hanya tersenyum. Mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Reina terlihat kikuk mencabut-cabuti rumput yang ada di sebelahnya. Sementara Dicky memejamkan matanya berusaha menikmati suasana taman ini.
Dari kejauhan Bisma tersenyum tipis. Ia sedikit kesal karena Dicky hanya diam disebelah Reina. Ia ingin ikut ke sana. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Entah kenapa ia bisa melihat sesuatu di antara Dicky dan Reina. Tapi ia sendiri juga tidak tahu wujud sesuatu itu. ia hanya merasa tidak enak menjadi orang ketiga diantara mereka.
***
Cekrek... Reina langsung menoleh begitu mendengar suara. Dengan marah ia berusaha merebut kamera yang dipegang Bisma. Bisma tertawa geli sambil mengangkat tinggi-tinggi kameranya agar tidak bisa diambil oleh Reina. Ia tadi sengaja meng-candid Reina yang sedang melamun.
Dicky merebut kamera dari tangan Bisma. Dicky terkikik geli melihat foto Reina. Sebenarnya disana Reina tidak jelek, justru terlihat sangat casual. Dicky tertawa hanya untuk membuat Reina semakin marah.
Dan benar saja. Wajah Reina menjadi panas karena menahan malu. Dan ia juga semakin gencar untuk berusaha merebut kamera itu dari tangan Dicky. Tapi dengan licik Dicky memberikan kamera itu kepada Bisma. Mereka saling mengoper dan Reina yang kelelahan.
Akhirnya Reina duduk dengan kesal. Ia menatap tajam ke arah Dicky dan Bisma. Sebenarnya ia hanya pura-pura untuk membuat Dicky dan Bisma lengah dan ia bisa merebut kamera itu dengan mudah.
Namun kenyataan berkata lain. Dicky dan Bisma menyadari kelicikan di dalam otak Reina. Dicky yang sekarang sedang memegang kamera, berbisik ke Bisma. Bisma mengangguk sambil tersenyum setuju. Dicky berjalan perlahan ke tempat Reina duduk.
Reina yang merasa rencananya berhasil, diam sok jual mahal. Saat Dicky benar-benar sudah ada di depannya, ia dengan cepat merebut kamera itu. Tapi karena Dicky sudah menyusun rencana sebelumnya di dalam otaknya, saat Reina merebut kamera itu, timer untuk memfoto secara otomatis langsung berhenti. Terdengar suara memotret saat kamera berada di dekat wajah Reina.
Dengan gesit Dicky kembali merebut kamera itu. ia berjalan ke arah Bisma dan menunjukkan hasil ­candidnya. Mereka berdua terkikik geli. Terlihat wajah Reina yang seakan terzoom. Disana hanya hidung dan mulut Reina saja yang terfoto. Dan saat itu mulut Reina sedang terbuka karena tertawa senang mengira telah berhasil merebut kameranya.
Reina masih terdiam bingung. Setelah tersadar kalau ia kembali dicandid kedua laki-laki itu, Reina langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka berdua. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Reina berteriak marah saat Dicky kembali menertawakan fotonya yang ada di dalam kamera. Bisma tersenyum geli melihat Reina marah-marah. Diam-diam ia merekam Reina yang sedang marah dengan handphonenya. Reina terlihat begitu lucu.
Reina kembali duduk. Kali ini ia benar-benar kesal. Ia sudah tidak perduli lagi berapa kali Dicky dan Bisma terus memfotonya.
“Reina... kita minta maaf ya” ucap Dicky seperti anak kecil. Ia berjongkok di hadapan Reina.
Bisma mengikuti Dicky dengan berjongkok di sebelah Reina. “iya, Reina. Kita kan Cuma bercanda”
Reina tersenyum geli. Namun ia berusaha menahannya. “sok imut” ucapnya berusaha terdengar datar.
“Reina jangan suka nahan-nahan gitu dong. Ntar perutnya sakit” ucap Dicky dengan wajah polosnya.
Bisma langsung tertawa geli. Ia sedikit terbatuk-batuk karena tertawa terlalu keras.
Reina memukul lengan Dicky dengan geli. “lo kira gue lagi nahan kentut?”
“emang cuma nahan kentut doang yang buat perut sakit? Nahan ketawa juga loh. sekarang artinya apa? lo lagi nahan kentut ya? Ketahuan dong” saut Dicky tertawa meledek.
Reina tertawa. Ia baru menyadari kalau perkataan Dicky memang benar. Kenapa ia harus memikirkan kentut?
***
Reina masuk ke dalam kelas dengan ceria. Ia masih mengingat acara jalan-jalannya dengan Dicky dan Bisma kemarin. Walaupun awalnya tidak mengenakkan, tapi akhirnya begitu seru. Apalagi ia sudah mulai merasa canggung lagi ketika berada di dekat Dicky.
“lo kenapa? Tumben banget masuk kelas mukanya bersinar-sinar gitu. Abis ketemu Dicky ya?” tebak Tamara heran.
Reina menggeleng dengan semangat. Wajahnya masih dihiasi senyuman. “lebih dahsyat dari itu”
Tamara mengangkat bahu tanda ia malas untuk menebaknya.
Reina tertawa. “gue kemarin diajak jalan sama Bisma. Dicky juga ikut. Awalnya emang ngeselin sih karena gue ngelakuin tindakan bodoh. Tapi akhirnya, gue jadi dekat sama Dicky! gue gak gugup lagi tiap dekat dia, raa. Dia ramah banget”
Ekspresi Tamara langsung berubah begitu mendengar Reina mengucapkan nama Bisma. “apa? bisma ngajak lo jalan?” ucap Tamara pelan ingin memastikan.
Dengan bodohnya Reina menyahut dengan bahagia. “iya. Pas rapat dia ngajak hangout bareng. Apalagi dia bilang kalo Dicky ikut. Langsung gue terima deh. Gue ajak aja mereka ke taman yang biasa kita datangin. Tau kan taman yang ada kolamnya itu?”
Tamara hanya mengangguk pelan. Ia sedikit lemas. Ia merasa sedikit kecewa karena Reina pergi tanpa mengajaknya. Terlebih lagi Reina pergi dengan Bisma, cowok yang disukainya. Rasanya ia ingin berteriak marah di depan wajah Reina. Tapi ia rasa itu tidak mungkin. Bagamanapun Reina adalah sahabatnya. Dan Reina memang begitu polos. Mungkin dia tidak sadar kalau dia sudah sedikit menyakiti hati Tamara.
Gantian Reina yang terlihat bingung. “lo kenapa mendadak lemas, ra?”
Tamara hanya menggeleng dan tersenyum samar. Ia tidak sanggup membuka mulutnya. Ia takut kalau ia kelepasan dan berteriak memarahi Reina yang begitu bodoh dan naif. Untuk menghilangkan perasaan kecewanya, Tamara bangkit dari duduknya lalu berjalan cepat menuju keluar kelas. Ia tidak memperdulikan panggilan-panggilan dari Reina yang terdengar cemas.
Bruk.. Tidak sengaja Tamara menabrak seorang cowok yang sedang membawa puluhan buku besar. Tamara dan cowok itu sama-sama meringis karena buku-buku itu jatuh menimpa kaki mereka berdua.
“loh? Dicky?” saut Tamara kaget begitu melihat wajah orang yang ditabraknya.
“lo kenal gue?” tanya Dicky bingung. ia merasa pernah melihat wajah Tamara, tapi ia tidak tau dimana.
Dengan cepat Tamara membantu Dicky membereskan buku-bukunya. “gue teman sebangku Reina. Anggota lo, kan?”
“oh iyaa. Gue pernah liat lo di kantin. Tapi gue lupa kapan kejadiannya” ucap Dicky sibuk dengan buku-bukunya. “nama lo siapa?”
“Tamara” jawab Tamara singkat. Namun terdengar begitu ramah ditambah dengan senyumannya yang manis pula.
Dicky balas tersenyum. “oke Tamara. Gue duluan yah. Harus buru-buru bawa buku ini ke kantor guru. Nanti bu Afni marah-marah gak jelas”
Tamara tersenyum geli. “perlu bantuan? Kayanya lo ribet banget deh”
“kenapa gak dari tadi? Dengan senang hati gue kasih sebagian buku-buku ini ke lo” ucap Dicky langsung memberikan sebagian tumpukan buku itu ke tangan Tamara.
Tamara tersenyum. Ia berjalan duluan ke kantor guru, disusul Dicky. setelah meletakkan buku-buku itu di atas meja bu Afni, mereka berdua keluar dengan wajah lega. Buku-buku yang mereka bawa itu memang cukup berat.
“thanks ya udah mau bantuin gue” ucap Dicky tulus.
Tamara mengangguk kecil. “gak masalah. Kan lo kakak kelas gue juga”
Dicky tertawa kecil. “kalo gitu lo gue traktir minum deh sebagai ucapan terima kasih” ucapnya. “gak pake nolak” lanjutnya lagi ketika melihat Tamara akan memprotes.
Tamara hanya mengangguk pasrah. “oke. Cukup minum”
Dicky tersenyum. “sampai jumpa istirahat nanti”
***
“lo dari mana, ra?” tanya Reina begitu melihat Tamara masuk ke dalam kelas tepat saat bel masuk sekolah berbunyi.
Tamara tampak berpikir. Apa ia harus memberitahu Reina kalau ia tadi membantu Dicky? Dan apa ia juga harus memberitahu Reina soal janji Dicky dengannya nanti saat istirahat? Tapi untuk apa Reina ia beri tahu? Reina bukan siapa-siapa, kan?
“habis dari toilet” jawab Tamara singkat.
“dari toilet? Pagi-pagi gini lo udah ke toilet? Apa di rumah lo gak sempat ke toilet?” cerocos Reina.
Tamara melirik Reina sekilas. “masalah kalo gue ke toilet? Suka-suka gue dong” jawab Tamara sedikit ketus.
“maaf. Gue kan Cuma bercanda” jawab Reina pelan. “kayanya Tamara lagi PMS berat” gumam Reina sangat pelan.
***
Tamara bergegas menuju kantin. Saat ia melihat Dicky disalah satu meja, ia segera menghampirinya. “sorry lama. Biasa, bu Afni kalo ngajar gak bisa liat waktu” ucap Tamara berbasa-basi.
“gak lama kok. Gue juga baru keluar” Dicky tersenyum. “jadi lo mau minum apa? biar gue yang traktir” lanjutnya seraya bangkit dari duduknya.
Tamara terlihat berpikir. “yaudah fruitea botol yah. Rasa blackcurrent” jawabnya sambil tersenyum kecil.
“oke deh. Lo duduk aja kali. Gak usah ngerasa sungkan sama gue. Anggap aja kita seumuran dan udah berteman lama” ucap Dicky tertawa geli. Setelah melihat Tamara duduk, ia melangkahkan kakinya menuju kantin untuk membeli minum untuk Tamara dan dirinya sendiri.
Tamara mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba saja matanya tertuju pada seorang cowok  yang sedang bercanda tawa dengan seseorang. Dengan penasaran ia mencoba memperjelas penglihatannya.
“Reina? Ngapain dia sama Bisma? Pake ketawa-ketawa lagi. Apa ada yang lucu?” gumam Tamara kesal.
Tiba-tiba saja pipi Tamara terasa dingin. Tamara langsung menjauhkan pipinya dan melihat pelakunya. Ternyata ada Dicky yang sedang tertawa geli.
“lo ngapain ngomel-ngomel sendiri?” ucap Dicky sambil memberikan minuman yang dipesan Tamara tadi lalu ia duduk di depan Tamara.
“gak ada sih. Gue tadi cuma nyanyi aja” jawab Tamara bohong. Ia langsung menegak minumannya dengan terburu-buru karena merasa kesal. Dan ia langsung terbatuk-batuk.
“lo sih minumnya kaya orang kalap gitu. Jadi keselek, kan. Emang lo haus banget ya?” saut Dicky memberikan saputangannya pada Tamara. Itu karena di sudut bibir Tamara ada air tumpahan minumannya karena terbatuk-batuk tadi.
Tamara mengelap mulutnya dengan saputangan Dicky. rasanya ia sudah ingin membentak untuk melampiaskan perasaan kesalnya. Tapi ia tidak mungkin membentak Dicky. Dicky sudah baik padanya. Dan dia juga tidak punya salah apapun padanya. Tidak pantas ia memarahinya hanya karena ia sedang kesal.
“thanks yah ky buat traktirannya. Gue cabut ke kelas dulu” ucap Tamara terkesan datar. Ia sedang menahan luapan emosinya.
Dicky menahan lengan Tamara. “bagi pin dong. Lo pake bb kan?”
“tanya Reina aja ya. Gue buru-buru” ucap Tamara melepaskan tangan Dicky dari lengannya. Ia tersenyum sekilas lalu pergi menuju kelasnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“misterius” gumam Dicky lalu menegak minumannya hingga habis.
***
Reina menunggu Tamara di kelas dengan perasaan kesal. Saat ia berjalan menuju kantin, matanya tidak sengaja melihat Tamara yang sedang berduaan dengan Dicky. ia kesal karena Tamara tidak cerita kalau ia dekat dengan Dicky. Apalagi saat Dicky menggoda Tamara dengan mendekatkan minuman dingin ke pipi Tamara. Apa maksudnya?
Saat melihat Tamara masuk ke dalam kelas, Reina langsung menghampirinya. “ra, lo kok gak cerita sih sama gue kalo lo udah kenalan sama Dicky? terus kenapa tadi lo berduaan sama dia di kantin?” sautnya.
Tamara menatap Reina dengan tajam. “apa semua yang gue lakuin harus lapor ke lo?” desisnya.
“bukan gitu. Harusnya lo cerita dong. Apalagi udah menyangkut soal Dicky. gue kan gak mau salah paham. Dan gue gak suka lo bareng Dicky tanpa sepengetahuan gue” jawab Reina.
“emangnya lo kemarin ngajak gue waktu lo jalan bareng Bisma? Apa lo kepikiran sama gue waktu lagi asik jalan sama dia? Lo kira gue ngerasa apa waktu lo cerita kalo lo kemarin jalan sama mereka? Gue fine aja gitu? Gak! Siapa yang tadi sibuk ketawa bareng di taman dekat kantin? Lo kira gue gak liat, hah?!” teriak Tamara emosi.
Reina terdiam. “waktu itu gue ingat lo, ra”
“halah. Lo kira gue bakal percaya? Sampe kapan lo gini? Gak peka sama perasaan orang lain. Terus mikirin diri lo sendiri. gue capek terus nahan perasaan gue. Gue juga akan balas dengan hal yang sama kaya yang lo lakuin ke gue” saut Tamara langsung duduk di tempat duduknya.
Reina mendekati Tamara. “tapi ra, gue gak ada apa-apa sama Bisma. Gue Cuma tertarik sama Dicky”
Tamara dengan acuh tak acuh langsung memasang headset dan menyalakan musik dengan kencang. Ia sudah tidak mau mendengar apa-apa dari mulut Reina. Bisa-bisanya dia menyalahkannya yang Cuma berduaan dengan Dicky hanya 5 menit. Sedangkan Tamara berusaha mengerti Reina yang selalu ada di dekat Bisma. Itu tidak adil, bukan?
***
“ra, pulang bareng yuk” ajak Reina.
Tamara hanya melirik sekilas lalu berjalan keluar kelas tanpa memerdulikan panggilan Reina. Reina berusaha menghalangi jalannya, namun Tamara mencari jalan lain.
Tiba-tiba saja Bisma muncul di hadapan Reina dan Tamara. “na, bareng yuk! Dicky lagi ada urusan OSIS. Jadi gue gak ada teman pulang. Gimana kalo lo aja yang jadi teman gue di mobil?”
Tamara tersenyum sinis. “ada yang ngajakin bareng tuh. Gue duluan ya”
Reina memandang Tamara dengan perasaan bersalah. Sepertinya ia sudah kehilangan kesempatan untuk meminta maaf pada Tamara dan membuktikan bahwa ia tidak ada apa-apa dengan Bisma. Bisma muncul di saat yang tidak tepat. Semuanya sudah hancur.
“na, ayo jalan!” ucap Bisma sedikit menarik Reina.
Reina menarik tangannya dari genggaman Bisma. “sorry, Bis. Gue gak bisa pulang bareng lo. gue udah dijemput di parkiran”
Bisma menatap Reina. “okelah kalo gitu. Gue duluan ya” ucapnya sambil melambaikan tangan dan tersenyum lembut pada Reina.
Reina hanya mengangguk lemah. Ia bingung. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya mengembalikan persahabatannya dengan Tamara. Hanya Tamara yang mengerti dirinya. Hanya dia yang bisa mengerti semua keegoisannya. Dan sekarang semua itu sudah hancur hanya karena kesalah pahaman. Missunderstand...
***
“ra... gue mau jelasin semuanya!” saut Reina menghalangi langkah Tamara yang menuju ke kantin.
“apa lagi yang mau dijelasin? Lo gak konsisten. Katanya masuk OSIS buat ngejar Dicky. gak taunya malah nyamber Bisma” saut Tamara dengan nada sinis.
Reina menarik tangan Tamara. “asal lo tau, ra. Gue gak tertarik sama Bisma. Gue suka Dicky. sumpah demi apapun gue gak suka Bisma”
Tamara menghentakkan tangannya dengan keras seolah jijik tangannya dipegang oleh Reina. “lo gak suka Bisma, tapi Bisma yang suka sama lo. Dasar bodoh!”
Reina memandang punggung Tamara yang menjauh dengan bingung. apa maksudnya? Bisma menyukainya? Lelucon yang aneh. Apa cemburu bisa membuat kita berpikir yang jauh dari kenyataan? Mungkin begitu.
“Reina!” seseorang menepuk pundak Reina.
“Bisma?” Reina langsung menoleh.
“sorry, gue Dicky. bukan Bisma. Apa kita mirip? Jelas gue lebih imut dari dia” cerocos Dicky dengan PeDenya.
Reina tertawa kecil. “iya, Dicky jauh lebih imut dari Bisma”
“lo orang yang ke...” Dicky terlihat sedang menghitung. “duh, banyak banget. Gue sampe gak sanggup ngitungnya” ucapnya sambil menggaruk kepalanya karena bingung.
“percaya aja deh” Reina terkikik geli. “kenapa tadi lo manggil gue, ky?”
“oh iya! Gue mau minta pin teman lo itu. namanya Tamara. Katanya teman sebangku lo”
Reina mengerutkan keningnya. “pin Tamara? Buat apaan?”
“lo mau tau aja sih. Ini urusan pribadi” ucap Dicky setengah meledek.
“okelah, oke.” Reina mengeluarkan handphonenya. “pinnya 27FC25D3”
Dicky langsung mengetik di handphonenya. “makasih, na! Gue cabut yah. Daah” ucap Dicky dengan wajah berseri-seri.
Reina mengangguk sambil tersenyum. Walaupun tidak diucapkan, orang-orang pasti bisa mengetahui bagaimana perasaannya sekarang. Kecewa dan sedih. Terlihat dari sorot matanya yang menatap Dicky. tapi sepertinya Dicky tidak menyadarinya. Reina sendiri juga tidak tahu kenapa ia merasa sedih. Semuanya terasa begitu membingungkan.
***
Tamara memandangi handphonenya dengan bingung. Terlihat nama Dicky di BBMnya di tempat yang akan di accept. Ia bingung. entah kenapa ia merasa tidak enak dengan Reina. Tapi akhirnya ia mengklik tanda accept. Beberapa detik kemudian Dicky meng-greetnya.

Dicky Prasetya: halo, ra
Tamara Rahmani: halo, ky. Ada apa?
Dicky Prasetya: nanti sore lo ada urusan gak?
Tamara Rahmani: gak ada sih. Mau ngapain?
Dicky Prasetya: kakak gue seminggu lagi ultah. Gue mau beliin dia kado. Tapi gue gak tau selera dia gimana. Jadi gue mau ajak lo. Mana tau lo tau apa yang dia suka. Kan kalian sama-sama cewek
Tamara Rahmani: liat nanti deh ya. Tergantung mood gue
Dicky Prasetya: oke. Lo kelas berapa?
Tamara Rahmani: kelas X-2. Kenapa?
Dicky Prasetya: waktu pulang nanti gue tunggu lo di depan kelas lo. Gue harap lo terima ajakan gue
Tamara Rahmani: jangan! Gue aja yang ke kelas lo

BBM Tamara yang terakhir hanya di read oleh Dicky. Tamara kebingungan. Apa yang akan dikatakan Reina kalau dia tahu Dicky menunggunya di depan kelas? Tapi untuk apa ia memikirkan itu? Bukannya Bisma sering menunggu Reina di depan kelas? Memangnya ia tidak bisa melakukan hal yang sama seperti Reina? Ia bisa.

TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar