Reina duduk dipojokan ruangan
tempat ia rapat siang ini. Ia mengedarkan pandangan seakan mencari seseorang.
Ruangan ini sudah ramai. Seluruh fungsionaris dari OSIS hadir disini.
Sepertinya kali ini ada rapat besar. Mungkin.
Reina langsung tersenyum kecil
begitu matanya menangkap sosok Dicky yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Entah matanya salah atau tidak, sekilas ia melihat Dicky tersenyum kecil
padanya. Rasanya Reina sudah ingin melompat-lompat kegirangan sekarang juga.
Namun ia masih sadar di mana sekarang ia berada. Sekarang ia hanya bisa menahan
gejolak hatinya yang akan meledak karena terlalu gembira.
“hei!” sapa Bisma menghampiri
Reina.
Reina tersadar dari lamunannya.
“loh? kok lo kesini? Gak didepan sama Dicky?” tanya Reina bingung.
“gak. Itu yang didepan ketua
semua. Males gue. Mending gue nemenin lo disini. Sendirian kan?” jelas Bisma
tersenyum.
Reina terpaku sebentar seakan
terbius dengan senyuman Bisma. “tau aja lo kalo gue ngerasa asing disini” ucap
Reina balas tersenyum setelah sadar dari biusan Bisma.
“jadi gimana menurut lo OSIS
disini?” tanya Bisma sekedar menghabiskan waktu.
“ya gak gimana-gimana. Gue
belum tau apa-apa” jawab Reina jujur.
Bisma tertawa kecil. “iya juga
yah. Ketahuan banget dong kalo gue basa basi doang, haha”
Reina ikut tertawa kecil. Ia
menahan tawanya karena takut dimarahi Ketua OSIS yang sedang berbicara, karena
sebenarnya rapat sudah dimulai dari 5 menit yang lalu.
“na, mau ikutan hangout bareng
gue sama Dicky gak? Rencananya kita berdua mau refreshing gitu. Tapi belum tau
kemana. Mana tau lo mau ikut terus bisa kasih saran tempat bagus dimana” ucap
Bisma terdengar semangat.
“ini bukan sekedar basa basi
doang, kan?” saut Reina bercanda.
Bisma tersenyum geli. “kali ini
seriusan. Lo mau ikutan kan?”
Reina terlihat berpikir
sebentar. sebenarnya sejak awal ia sudah langsung mengiyakan dalam hatinya.
Kucing mana yang tidak mau dikasih ikan asin? Gak ada. Tapi ia sebagai wanita
harus menjaga diri agar tidak terlihat memalukan di hadapan pria.
“boleh sih. Siang ini, kan?”
balas Reina tersenyum kecil.
Bisma mengangguk dan balas
tersenyum. “jadi?”
“deal” ucap Reina tertawa
kecil.
***
“jadi, kita mau kemana?” tanya
Bisma yang memegang kemudi.
“gak tau. lo ada ide, na?”
tanya Dicky ke Reina yang duduk di belakang.
Reina gelagapan. “e-eh. Ki-kita
ke taman aja yuk. Gue tau tempatnya” jawab Reina gugup.
“lo bisa tunjukin jalannya,
kan?” tanya Bisma ramah. Ia melirik Reina dari kaca spion atas.
Reina mengangguk. Setelah itu
Bisma menghidupkan mesin dan melaju keluar dari gerbang sekolah. Dengan gesit
Dicky memasukkan sebuah CD ke dalam player yang ada di mobil Bisma dan
melantunlah lagu-lagu dari 2NE1. Sesekali Bisma dan Dicky melantunkan lirik
lagu itu. Sepertinya mereka hapal dengan lagu itu.
Reina tenggelam dalam
pikirannya. Ia merasa sedikit menyesal. Dengan bodoh ia langsung mengiyakan
ajakan Bisma di ruang rapat tadi. Sejujurnya ia juga ingin pergi dengan Dicky.
tapi ia tidak pernah terpikir kalau ia hanya satu-satunya perempuan diantara
dua laki-laki. Harusnya ia mengajak Tamara yang menyukai Bisma, agar suasana
tidak secanggung ini. Bagaimanapun juga ia tidak kenal dekat dengan kedua
lelaki ini. Bisa saja mereka berbuat sesuatu kepadanya.
“Reina!” panggil Dicky sambil
menoleh menatap Reina.
Reina terkejut. Ia langsung
menatap mata Dicky. Dengan cepat ia mengalihkan matanya untuk menetralkan detak
jantungnya yang berdegup semakin kencang. “a-ada a-apa?” tanya Reina pelan.
“itu dari tadi Bisma nanya,
arahnya kemana? Kita bener-bener gak tau. Kan cuma lo yang tau jalan ke taman
yang lo maksud itu” jelas Dicky kembali menatap ke depan.
“o-oh iya” ucap Reina tersadar.
Namun kegugupannya belum juga hilang. Ia mengedarkan pandangan melihat
keberadaan mereka sekarang ada dimana. Mendadak saja Reina berseru. “belok
kiri!!”
Bisma yang kaget langsung
mengerem mendadak. Dicky sedikit terbentur dasbor. Reina terbentur bangku yang
diduduki Dicky. Dicky meringis kesakitan.
“kenapa tiba-tiba sih?” saut
Dicky kesal.
“sorry. Habis gue kaget sama
teriakan Reina” jawab Bisma pelan. Sepertinya ia sedang mengontrol detak
jantungnya.
“aduh, maaf ya. Gue tadi
maksudnya mau nyuruh Bisma buat belok kiri. Takut kelewatan. Maaf ya” ucap
Reina takut.
“iya...” belum sempat Bisma
meyelesaikan omongannya, Dicky langsung memotong.
“lo gimana sih? Ngasih taunya
kan bisa santai aja. gak usah buat kaget gini. Kalo tadi Bisma sampe nabrak
orang, gimana? Kalo gue sama Bisma kenapa-napa, gimana? Untung kita berdua pake
seatbelt. Kalo gak memar kening kita”
“ma-maaf, ky. Gue gak
ma-maksud” ucap Reina ketakutan. Matanya mulai berkaca-kaca.
“yaudah lah, ky. Toh kita
sekarang juga gak apa-apa kan? dia juga gak sengaja. Semua orang bisa ngelakuin
kesalahan lah. Gak usah diperpanjang” ucap Bisma tenang. Bisma berpaling ke
Reina dan tersenyum ramah. “jadi, tadi lo bilang belok kiri. Udah lewat belum?”
Reina tertegun mendengar suara
ramah Bisma. Pelan ia mengangkat kepalanya sampai ia melihat senyum lembut
Bisma. “belum. Itu di depan ada belokan, kita belok disana” jelas Reina pelan.
Ia masih takut walaupun mulai merasa tenang karena perlakuan Bisma yang ramah
padanya.
“oke. Kita berangkat lagi, ya?”
ucap Bisma kembali menginjak gas.
“pelan-pelan aja. gue gak mau
sampe kepentok lagi” ucap Dicky datar.
Reina langsung menciut. Dicky terdengar seperti menyindirnya.
Pikiran Reina sudah melayang entah kemana. Ia takut. Takut kesempatannya dekat
dengan Dicky akan menghilang begitu saja karena kebodohan yang ia lakukan.
***
Reina berjalan pelan di belakang Dicky dan Bisma. Ia lalu
duduk di bawah pohon yang cukup rindang di taman ini. Ia memandangi Dicky yang
sibuk melihat-lihat pemandangan taman ini yang memang sedikit lain dari
taman-taman biasanya.
“lo tau dari mana tempat kaya gini?” tanya Dicky tiba-tiba.
Reina diam dalam lamunannya. Ia tidak menyadari kalau Dicky
bertanya padanya.
“woy! Lo tuli atau gimana?” saut Dicky mulai emosi.
Bisma menghalangi Dicky yang akan menghampiri Reina. “lo
jangan gampang emosi. Dia cewek, ky. Lembut dikit” ucap Bisma tenang.
Dicky menarik nafas panjang lalu membuangnya. “gak tau nih.
Hari ini gue uring-uringan banget”
“ya tapi lo jangan jadiin Reina jadi tempat lo ngebuang
uring-uringan lo. Kasian dia. Dari tadi gue ngerasa kayanya dia mulai gak
nyaman jalan sama kita” jelas Bisma.
Dicky terlihat berfikir. Akhirnya ia berjalan menghampiri
Reina. Namun kali ini Bisma tidak menahannya lagi.
Reina sedikit terkejut melihat Dicky sudah duduk di
sebelahnya. “a-ada apa?” tanya Reina dengan gugup.
“gue... gue mau minta maaf sama lo” ucap Dicky ramah.
Reina sedikit bingung. “maaf? U-untuk apa?”
“soal yang di mobil tadi. Gak seharusnya gue ngebentak lo
tadi. Maaf ya”
Reina tersenyum kecil. “gak masalah kok. Gue emang salah.
Maaf ya udah buat lo sama Bisma kaget”
Dicky hanya tersenyum. Mereka terdiam sibuk dengan pikiran
masing-masing. Reina terlihat kikuk mencabut-cabuti rumput yang ada di
sebelahnya. Sementara Dicky memejamkan matanya berusaha menikmati suasana taman
ini.
Dari kejauhan Bisma tersenyum tipis. Ia sedikit kesal
karena Dicky hanya diam disebelah Reina. Ia ingin ikut ke sana. Tapi rasanya
itu tidak mungkin. Entah kenapa ia bisa melihat sesuatu di antara Dicky dan
Reina. Tapi ia sendiri juga tidak tahu wujud sesuatu itu. ia hanya merasa tidak
enak menjadi orang ketiga diantara mereka.
***
Cekrek... Reina
langsung menoleh begitu mendengar suara. Dengan marah ia berusaha merebut
kamera yang dipegang Bisma. Bisma tertawa geli sambil mengangkat tinggi-tinggi
kameranya agar tidak bisa diambil oleh Reina. Ia tadi sengaja meng-candid Reina yang sedang melamun.
Dicky merebut kamera dari tangan Bisma. Dicky terkikik geli
melihat foto Reina. Sebenarnya disana Reina tidak jelek, justru terlihat sangat
casual. Dicky tertawa hanya untuk
membuat Reina semakin marah.
Dan benar saja. Wajah Reina menjadi panas karena menahan
malu. Dan ia juga semakin gencar untuk berusaha merebut kamera itu dari tangan
Dicky. Tapi dengan licik Dicky memberikan kamera itu kepada Bisma. Mereka
saling mengoper dan Reina yang kelelahan.
Akhirnya Reina duduk dengan kesal. Ia menatap tajam ke arah
Dicky dan Bisma. Sebenarnya ia hanya pura-pura untuk membuat Dicky dan Bisma
lengah dan ia bisa merebut kamera itu dengan mudah.
Namun kenyataan berkata lain. Dicky dan Bisma menyadari
kelicikan di dalam otak Reina. Dicky yang sekarang sedang memegang kamera,
berbisik ke Bisma. Bisma mengangguk sambil tersenyum setuju. Dicky berjalan
perlahan ke tempat Reina duduk.
Reina yang merasa rencananya berhasil, diam sok jual mahal.
Saat Dicky benar-benar sudah ada di depannya, ia dengan cepat merebut kamera
itu. Tapi karena Dicky sudah menyusun rencana sebelumnya di dalam otaknya, saat
Reina merebut kamera itu, timer untuk memfoto secara otomatis langsung
berhenti. Terdengar suara memotret saat kamera berada di dekat wajah Reina.
Dengan gesit Dicky kembali merebut kamera itu. ia berjalan
ke arah Bisma dan menunjukkan hasil candidnya.
Mereka berdua terkikik geli. Terlihat wajah Reina yang seakan terzoom. Disana hanya hidung dan mulut
Reina saja yang terfoto. Dan saat itu mulut Reina sedang terbuka karena tertawa
senang mengira telah berhasil merebut kameranya.
Reina masih terdiam bingung. Setelah tersadar kalau ia
kembali dicandid kedua laki-laki itu,
Reina langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka berdua. Wajahnya
memerah seperti kepiting rebus.
Reina berteriak marah saat Dicky kembali menertawakan
fotonya yang ada di dalam kamera. Bisma tersenyum geli melihat Reina
marah-marah. Diam-diam ia merekam Reina yang sedang marah dengan handphonenya.
Reina terlihat begitu lucu.
Reina kembali duduk. Kali ini ia benar-benar kesal. Ia
sudah tidak perduli lagi berapa kali Dicky dan Bisma terus memfotonya.
“Reina... kita minta maaf ya” ucap Dicky seperti anak
kecil. Ia berjongkok di hadapan Reina.
Bisma mengikuti Dicky dengan berjongkok di sebelah Reina.
“iya, Reina. Kita kan Cuma bercanda”
Reina tersenyum geli. Namun ia berusaha menahannya. “sok
imut” ucapnya berusaha terdengar datar.
“Reina jangan suka nahan-nahan gitu dong. Ntar perutnya
sakit” ucap Dicky dengan wajah polosnya.
Bisma langsung tertawa geli. Ia sedikit terbatuk-batuk
karena tertawa terlalu keras.
Reina memukul lengan Dicky dengan geli. “lo kira gue lagi
nahan kentut?”
“emang cuma nahan kentut doang yang buat perut sakit? Nahan
ketawa juga loh. sekarang artinya apa? lo lagi nahan kentut ya? Ketahuan dong”
saut Dicky tertawa meledek.
Reina tertawa. Ia baru menyadari kalau perkataan Dicky
memang benar. Kenapa ia harus memikirkan kentut?
***
Reina masuk ke dalam kelas dengan ceria. Ia masih mengingat
acara jalan-jalannya dengan Dicky dan Bisma kemarin. Walaupun awalnya tidak
mengenakkan, tapi akhirnya begitu seru. Apalagi ia sudah mulai merasa canggung
lagi ketika berada di dekat Dicky.
“lo kenapa? Tumben banget masuk kelas mukanya
bersinar-sinar gitu. Abis ketemu Dicky ya?” tebak Tamara heran.
Reina menggeleng dengan semangat. Wajahnya masih dihiasi
senyuman. “lebih dahsyat dari itu”
Tamara mengangkat bahu tanda ia malas untuk menebaknya.
Reina tertawa. “gue kemarin diajak jalan sama Bisma. Dicky
juga ikut. Awalnya emang ngeselin sih karena gue ngelakuin tindakan bodoh. Tapi
akhirnya, gue jadi dekat sama Dicky! gue gak gugup lagi tiap dekat dia, raa.
Dia ramah banget”
Ekspresi Tamara langsung berubah begitu mendengar Reina
mengucapkan nama Bisma. “apa? bisma ngajak lo jalan?” ucap Tamara pelan ingin
memastikan.
Dengan bodohnya Reina menyahut dengan bahagia. “iya. Pas
rapat dia ngajak hangout bareng. Apalagi dia bilang kalo Dicky ikut. Langsung
gue terima deh. Gue ajak aja mereka ke taman yang biasa kita datangin. Tau kan
taman yang ada kolamnya itu?”
Tamara hanya mengangguk pelan. Ia sedikit lemas. Ia merasa
sedikit kecewa karena Reina pergi tanpa mengajaknya. Terlebih lagi Reina pergi
dengan Bisma, cowok yang disukainya. Rasanya ia ingin berteriak marah di depan
wajah Reina. Tapi ia rasa itu tidak mungkin. Bagamanapun Reina adalah
sahabatnya. Dan Reina memang begitu polos. Mungkin dia tidak sadar kalau dia
sudah sedikit menyakiti hati Tamara.
Gantian Reina yang terlihat bingung. “lo kenapa mendadak
lemas, ra?”
Tamara hanya menggeleng dan tersenyum samar. Ia tidak
sanggup membuka mulutnya. Ia takut kalau ia kelepasan dan berteriak memarahi
Reina yang begitu bodoh dan naif. Untuk menghilangkan perasaan kecewanya,
Tamara bangkit dari duduknya lalu berjalan cepat menuju keluar kelas. Ia tidak
memperdulikan panggilan-panggilan dari Reina yang terdengar cemas.
Bruk.. Tidak
sengaja Tamara menabrak seorang cowok yang sedang membawa puluhan buku besar.
Tamara dan cowok itu sama-sama meringis karena buku-buku itu jatuh menimpa kaki
mereka berdua.
“loh? Dicky?” saut Tamara kaget begitu melihat wajah orang
yang ditabraknya.
“lo kenal gue?” tanya Dicky bingung. ia merasa pernah
melihat wajah Tamara, tapi ia tidak tau dimana.
Dengan cepat Tamara membantu Dicky membereskan
buku-bukunya. “gue teman sebangku Reina. Anggota lo, kan?”
“oh iyaa. Gue pernah liat lo di kantin. Tapi gue lupa kapan
kejadiannya” ucap Dicky sibuk dengan buku-bukunya. “nama lo siapa?”
“Tamara” jawab Tamara singkat. Namun terdengar begitu ramah
ditambah dengan senyumannya yang manis pula.
Dicky balas tersenyum. “oke Tamara. Gue duluan yah. Harus
buru-buru bawa buku ini ke kantor guru. Nanti bu Afni marah-marah gak jelas”
Tamara tersenyum geli. “perlu bantuan? Kayanya lo ribet
banget deh”
“kenapa gak dari tadi? Dengan senang hati gue kasih
sebagian buku-buku ini ke lo” ucap Dicky langsung memberikan sebagian tumpukan
buku itu ke tangan Tamara.
Tamara tersenyum. Ia berjalan duluan ke kantor guru,
disusul Dicky. setelah meletakkan buku-buku itu di atas meja bu Afni, mereka
berdua keluar dengan wajah lega. Buku-buku yang mereka bawa itu memang cukup
berat.
“thanks ya udah mau bantuin gue” ucap Dicky tulus.
Tamara mengangguk kecil. “gak masalah. Kan lo kakak kelas
gue juga”
Dicky tertawa kecil. “kalo gitu lo gue traktir minum deh
sebagai ucapan terima kasih” ucapnya. “gak pake nolak” lanjutnya lagi ketika
melihat Tamara akan memprotes.
Tamara hanya mengangguk pasrah. “oke. Cukup minum”
Dicky tersenyum. “sampai jumpa istirahat nanti”
***
“lo dari mana, ra?” tanya Reina begitu melihat Tamara masuk
ke dalam kelas tepat saat bel masuk sekolah berbunyi.
Tamara tampak berpikir. Apa ia harus memberitahu Reina
kalau ia tadi membantu Dicky? Dan apa ia juga harus memberitahu Reina soal
janji Dicky dengannya nanti saat istirahat? Tapi untuk apa Reina ia beri tahu? Reina
bukan siapa-siapa, kan?
“habis dari toilet” jawab Tamara singkat.
“dari toilet? Pagi-pagi gini lo udah ke toilet? Apa di
rumah lo gak sempat ke toilet?” cerocos Reina.
Tamara melirik Reina sekilas. “masalah kalo gue ke toilet?
Suka-suka gue dong” jawab Tamara sedikit ketus.
“maaf. Gue kan Cuma bercanda” jawab Reina pelan. “kayanya
Tamara lagi PMS berat” gumam Reina sangat pelan.
***
Tamara bergegas menuju kantin. Saat ia melihat Dicky
disalah satu meja, ia segera menghampirinya. “sorry lama. Biasa, bu Afni kalo
ngajar gak bisa liat waktu” ucap Tamara berbasa-basi.
“gak lama kok. Gue juga baru keluar” Dicky tersenyum. “jadi
lo mau minum apa? biar gue yang traktir” lanjutnya seraya bangkit dari
duduknya.
Tamara terlihat berpikir. “yaudah fruitea botol yah. Rasa
blackcurrent” jawabnya sambil tersenyum kecil.
“oke deh. Lo duduk aja kali. Gak usah ngerasa sungkan sama
gue. Anggap aja kita seumuran dan udah berteman lama” ucap Dicky tertawa geli.
Setelah melihat Tamara duduk, ia melangkahkan kakinya menuju kantin untuk
membeli minum untuk Tamara dan dirinya sendiri.
Tamara mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba saja matanya
tertuju pada seorang cowok yang sedang
bercanda tawa dengan seseorang. Dengan penasaran ia mencoba memperjelas
penglihatannya.
“Reina? Ngapain dia sama Bisma? Pake ketawa-ketawa lagi.
Apa ada yang lucu?” gumam Tamara kesal.
Tiba-tiba saja pipi Tamara terasa dingin. Tamara langsung
menjauhkan pipinya dan melihat pelakunya. Ternyata ada Dicky yang sedang
tertawa geli.
“lo ngapain ngomel-ngomel sendiri?” ucap Dicky sambil
memberikan minuman yang dipesan Tamara tadi lalu ia duduk di depan Tamara.
“gak ada sih. Gue tadi cuma nyanyi aja” jawab Tamara
bohong. Ia langsung menegak minumannya dengan terburu-buru karena merasa kesal.
Dan ia langsung terbatuk-batuk.
“lo sih minumnya kaya orang kalap gitu. Jadi keselek, kan.
Emang lo haus banget ya?” saut Dicky memberikan saputangannya pada Tamara. Itu
karena di sudut bibir Tamara ada air tumpahan minumannya karena terbatuk-batuk
tadi.
Tamara mengelap mulutnya dengan saputangan Dicky. rasanya
ia sudah ingin membentak untuk melampiaskan perasaan kesalnya. Tapi ia tidak
mungkin membentak Dicky. Dicky sudah baik padanya. Dan dia juga tidak punya
salah apapun padanya. Tidak pantas ia memarahinya hanya karena ia sedang kesal.
“thanks yah ky buat traktirannya. Gue cabut ke kelas dulu”
ucap Tamara terkesan datar. Ia sedang menahan luapan emosinya.
Dicky menahan lengan Tamara. “bagi pin dong. Lo pake bb
kan?”
“tanya Reina aja ya. Gue buru-buru” ucap Tamara melepaskan
tangan Dicky dari lengannya. Ia tersenyum sekilas lalu pergi menuju kelasnya
dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“misterius” gumam Dicky lalu menegak minumannya hingga
habis.
***
Reina menunggu Tamara di kelas dengan perasaan kesal. Saat
ia berjalan menuju kantin, matanya tidak sengaja melihat Tamara yang sedang
berduaan dengan Dicky. ia kesal karena Tamara tidak cerita kalau ia dekat
dengan Dicky. Apalagi saat Dicky menggoda Tamara dengan mendekatkan minuman
dingin ke pipi Tamara. Apa maksudnya?
Saat melihat Tamara masuk ke dalam kelas, Reina langsung
menghampirinya. “ra, lo kok gak cerita sih sama gue kalo lo udah kenalan sama
Dicky? terus kenapa tadi lo berduaan sama dia di kantin?” sautnya.
Tamara menatap Reina dengan tajam. “apa semua yang gue lakuin
harus lapor ke lo?” desisnya.
“bukan gitu. Harusnya lo cerita dong. Apalagi udah
menyangkut soal Dicky. gue kan gak mau salah paham. Dan gue gak suka lo bareng
Dicky tanpa sepengetahuan gue” jawab Reina.
“emangnya lo kemarin ngajak gue waktu lo jalan bareng
Bisma? Apa lo kepikiran sama gue waktu lagi asik jalan sama dia? Lo kira gue
ngerasa apa waktu lo cerita kalo lo kemarin jalan sama mereka? Gue fine aja
gitu? Gak! Siapa yang tadi sibuk ketawa bareng di taman dekat kantin? Lo kira
gue gak liat, hah?!” teriak Tamara emosi.
Reina terdiam. “waktu itu gue ingat lo, ra”
“halah. Lo kira gue bakal percaya? Sampe kapan lo gini? Gak
peka sama perasaan orang lain. Terus mikirin diri lo sendiri. gue capek terus
nahan perasaan gue. Gue juga akan balas dengan hal yang sama kaya yang lo
lakuin ke gue” saut Tamara langsung duduk di tempat duduknya.
Reina mendekati Tamara. “tapi ra, gue gak ada apa-apa sama
Bisma. Gue Cuma tertarik sama Dicky”
Tamara dengan acuh tak acuh langsung memasang headset dan
menyalakan musik dengan kencang. Ia sudah tidak mau mendengar apa-apa dari
mulut Reina. Bisa-bisanya dia menyalahkannya yang Cuma berduaan dengan Dicky
hanya 5 menit. Sedangkan Tamara berusaha mengerti Reina yang selalu ada di
dekat Bisma. Itu tidak adil, bukan?
***
“ra, pulang bareng yuk” ajak Reina.
Tamara hanya melirik sekilas lalu berjalan keluar kelas
tanpa memerdulikan panggilan Reina. Reina berusaha menghalangi jalannya, namun
Tamara mencari jalan lain.
Tiba-tiba saja Bisma muncul di hadapan Reina dan Tamara.
“na, bareng yuk! Dicky lagi ada urusan OSIS. Jadi gue gak ada teman pulang.
Gimana kalo lo aja yang jadi teman gue di mobil?”
Tamara tersenyum sinis. “ada yang ngajakin bareng tuh. Gue
duluan ya”
Reina memandang Tamara dengan perasaan bersalah. Sepertinya
ia sudah kehilangan kesempatan untuk meminta maaf pada Tamara dan membuktikan
bahwa ia tidak ada apa-apa dengan Bisma. Bisma muncul di saat yang tidak tepat.
Semuanya sudah hancur.
“na, ayo jalan!” ucap Bisma sedikit menarik Reina.
Reina menarik tangannya dari genggaman Bisma. “sorry, Bis.
Gue gak bisa pulang bareng lo. gue udah dijemput di parkiran”
Bisma menatap Reina. “okelah kalo gitu. Gue duluan ya”
ucapnya sambil melambaikan tangan dan tersenyum lembut pada Reina.
Reina hanya mengangguk lemah. Ia bingung. Ia sudah tidak
tahu lagi bagaimana caranya mengembalikan persahabatannya dengan Tamara. Hanya
Tamara yang mengerti dirinya. Hanya dia yang bisa mengerti semua keegoisannya.
Dan sekarang semua itu sudah hancur hanya karena kesalah pahaman. Missunderstand...
***
“ra... gue mau jelasin semuanya!” saut Reina menghalangi
langkah Tamara yang menuju ke kantin.
“apa lagi yang mau dijelasin? Lo gak konsisten. Katanya
masuk OSIS buat ngejar Dicky. gak taunya malah nyamber Bisma” saut Tamara
dengan nada sinis.
Reina menarik tangan Tamara. “asal lo tau, ra. Gue gak
tertarik sama Bisma. Gue suka Dicky. sumpah demi apapun gue gak suka Bisma”
Tamara menghentakkan tangannya dengan keras seolah jijik
tangannya dipegang oleh Reina. “lo gak suka Bisma, tapi Bisma yang suka sama
lo. Dasar bodoh!”
Reina memandang punggung Tamara yang menjauh dengan
bingung. apa maksudnya? Bisma menyukainya? Lelucon yang aneh. Apa cemburu bisa
membuat kita berpikir yang jauh dari kenyataan? Mungkin begitu.
“Reina!” seseorang menepuk pundak Reina.
“Bisma?” Reina langsung menoleh.
“sorry, gue Dicky. bukan Bisma. Apa kita mirip? Jelas gue
lebih imut dari dia” cerocos Dicky dengan PeDenya.
Reina tertawa kecil. “iya, Dicky jauh lebih imut dari
Bisma”
“lo orang yang ke...” Dicky terlihat sedang menghitung.
“duh, banyak banget. Gue sampe gak sanggup ngitungnya” ucapnya sambil menggaruk
kepalanya karena bingung.
“percaya aja deh” Reina terkikik geli. “kenapa tadi lo
manggil gue, ky?”
“oh iya! Gue mau minta pin teman lo itu. namanya Tamara.
Katanya teman sebangku lo”
Reina mengerutkan keningnya. “pin Tamara? Buat apaan?”
“lo mau tau aja sih. Ini urusan pribadi” ucap Dicky
setengah meledek.
“okelah, oke.” Reina mengeluarkan handphonenya. “pinnya
27FC25D3”
Dicky langsung mengetik di handphonenya. “makasih, na! Gue
cabut yah. Daah” ucap Dicky dengan wajah berseri-seri.
Reina mengangguk sambil tersenyum. Walaupun tidak
diucapkan, orang-orang pasti bisa mengetahui bagaimana perasaannya sekarang.
Kecewa dan sedih. Terlihat dari sorot matanya yang menatap Dicky. tapi
sepertinya Dicky tidak menyadarinya. Reina sendiri juga tidak tahu kenapa ia
merasa sedih. Semuanya terasa begitu membingungkan.
***
Tamara memandangi handphonenya dengan bingung. Terlihat
nama Dicky di BBMnya di tempat yang akan di accept.
Ia bingung. entah kenapa ia merasa tidak enak dengan Reina. Tapi akhirnya ia
mengklik tanda accept. Beberapa detik
kemudian Dicky meng-greetnya.
Dicky Prasetya: halo,
ra
Tamara Rahmani: halo,
ky. Ada apa?
Dicky Prasetya: nanti
sore lo ada urusan gak?
Tamara Rahmani: gak
ada sih. Mau ngapain?
Dicky
Prasetya: kakak gue seminggu lagi ultah. Gue mau beliin dia kado. Tapi gue gak
tau selera dia gimana. Jadi gue mau ajak lo. Mana tau lo tau apa yang dia suka.
Kan kalian sama-sama cewek
Tamara Rahmani: liat
nanti deh ya. Tergantung mood gue
Dicky Prasetya: oke.
Lo kelas berapa?
Tamara Rahmani: kelas
X-2. Kenapa?
Dicky
Prasetya: waktu pulang nanti gue tunggu lo di depan kelas lo. Gue harap lo
terima ajakan gue
Tamara
Rahmani: jangan! Gue aja yang ke kelas lo
BBM Tamara yang terakhir hanya di read oleh Dicky. Tamara kebingungan. Apa yang akan dikatakan Reina
kalau dia tahu Dicky menunggunya di depan kelas? Tapi untuk apa ia memikirkan
itu? Bukannya Bisma sering menunggu Reina di depan kelas? Memangnya ia tidak
bisa melakukan hal yang sama seperti Reina? Ia bisa.
TO BE CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar