Sabtu, 06 April 2013

Missunderstand (Part 1)


Reina memandangi seseorang sambil tersenyum-senyum sendiri. Dari tempat duduknya, ia bisa melihat cowok yang ia sukai dengan puas.
“hayoo!!” teriak Tamara, sahabat Reina mengagetkannya.
Reina mendelik kesal kearah Tamara. “suka banget sih ngagetin gue” dengusnya.
Tamara tertawa melihat ekspresi Reina. “makanya, ajak ngobrol tuh yang lo pandangi tiap hari. Gak seru cuma jadi pengagum rahasia, na”
“suka-suka gue dong. Kan gue yang ngejalanin. Bukan lo” saut Reina memeletkan lidahnya.
“dikasih tau saran yang bagus, malah diledekin. Awas aja deh yaa menyesal~” saut Tamara langsung pergi.
“lo kira gue gak tau kalo lo juga pengagum rahasia cowok disebelahnya? Haha” saut Reina kuat.
Tamara yang sekarang berada disebelah cowok yang disukainya hanya terdiam salah tingkah. “awas lo, na” desis Tamara.
Reina yang merasa sudah bisa membalas ledekan Tamara, hanya tertawa puas. Tapi ia langsung terdiam begitu sadar kalau kedua orang yang mereka bicarakan tadi melihat kearahnya. Reina berdiri dari duduknya lalu pergi menuju kelasnya, X-2 dengan perasaan kacau.
Tamara duduk disebelah Reina dan terlihat bingung.
“lo kenapa?” saut Tamara.
“tadi pas gue ngetawain lo, mereka ngeliatin gue. Duh bayangin! Tadi muka gue lagi gak feminim banget. Kayak cowok ketawa lebar gituuu” saut Reina menutupi wajahnya.
Tamara tertawa puas. “tuh kan. lo dapat karma deh. Makanya jangan ngeledekin gue. Kena lo, kan?”
Reina hanya bisa menggerutu pelan. Seharusnya dari kejadian-kejadian yang sering dialaminya, ia tidak akan berbuat aneh-aneh. Karena kalau sedikit saja Reina melakukan hal yang tidak baik seperti menertawakan orang, ia akan mendapatkan balasan yang sama dengan cepat.
“eh tapi mungkin mereka ngeliatin lo karena mereka tertarik” saut Tamara tiba-tiba.
Reina langsung tersipu malu. “bisa aja lo, ra. Gue tau kalo gue emang cantik banget sampe mereka terpesona sama gue”
“tapi kayaknya gue salah deh. Lo jelek. Mana ada yang tertarik sama lo” saut Tamara sok mikir.
Reina mengambil penghapusnya dan langsung melemparnya tepat ke jidat Tamara. Begitu melihat lemparannya tepat pada sasaran, ia hanya tersenyum licik. Tamara balas tersenyum. Reina sedikit bingung melihat reaksi temannya itu.
Tukkk... kepala Reina seperti dilempar oleh sesuatu. Reina meringis kecil sambil mengusap-usap kepalanya.
“duh Reina, maaf. Tadi maksudnya mau lempar penghapus ke Ana. Gak taunya malah kena kepala lo. maaf yaa” ucap Nina dengan perasaan bersalah.
“it’s okay. Nih penghapusnya” ucap Reina tersenyum lalu mengambil penghapus yang jatuh dibawah bangkunya.
“thanks yah Reina” ucap Nina balas tersenyum lalu menghampiri Ana untuk memberikan penghapusnya.
“sial! Gue kena karma lagi” gerutu Reina kesal.
“makanya jangan macam-macam sama gue. Haha” saut Tamara senang. Ternyata tadi ia sudah menyadari kalau Reina pasti akan mendapatkan balasan yang sama seperti yang dilakukan Reina pada dirinya entah dari siapa.
***
Reina duduk dipinggir lapangan basket sambil mengunyah permen karet. Hari selasa seperti ini adalah jadwal olahraga cowok yang disukainya. Dan sekarang cowok yang ia sukai sedang bermain bola. Reina langsung tersipu malu begitu melihat cowok yang disukainya mengangkat bawah bajunya untuk mengelap keringat di wajahnya. Terlihat badannya yang... kurus dan hitam.
“astaga. Walaupun kurus dan hitam, tapi tetap seksi. Eksotis broo” gumam Reina geregetan.
Terlihat cowok yang disukai Reina melirik kearahnya. Dengan cepat Reina membuang muka dan berusaha terlihat sedang melihat-lihat sekitar. Reina melirik dari ekor matanya dan melihat kalau cowok itu sudah tidak melihat ke arahnya. Ia langsung menghembuskan nafas dengan lega.
Lagi-lagi Reina tersenyum-senyum sendiri saat melihat cowok itu. jantungnya juga suka berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa arti perasaan ini? Perasaan kagum? Atau malah perasaan cinta? Entahlah. Reina lebih memilih memikirkan masa-masa kesenangannya saat melihat cowok itu dari pada memikirkan apa arti perasaannya ini.
***
Reina berjalan melewati koridor menuju toilet. Sebelum melewati sebuah kelas, ia merapikan pakaiannya. Setelah merasa cukup rapi, ia melangkah dengan langkah pelan dan terlihat sangat anggun. Ketika melewati sebuah kelas, Reina sedikit melirik kedalam kelas tersebut. Terlihat cowok yang disukainya sedang belajar dengan tekun.
Begitu selesai melewati kelas itu, Reina melopat-lompat dengan senang. Dadanya terasa sesak. Ia berusaha mengatur nafasnya agar kembali tenang. Namun hatinya serasa ditumbuhi berbagai macam bunga yang cantik dan sedang bermekaran.
Reina membayangkan wajah cowok yang disukainya sambil tertawa-tawa sendiri. “duh, bisa mati gue kalo gini terus. Cara belajarnya itu loh. Arghwesome!!” teriak Reina dengan wajah terpesona.
“hush! Lagi belajar. Jangan teriak-teriak di koridor!” saut seorang guru keluar dari kelas memarahi Reina.
“peace ibu guru yang cantik” ucap Reina cengengesan. Dengan cepat ia melanjutkan langkahnya ke tujuannya, yaitu toilet.
***
Terlihat cowok yang Reina sukai dan temannya sedang sibuk menempelkan sesuatu di mading sekolah. Reina mengintip dengan penasaran. Orang-orang sudah mulai berkerumun disana. Dengan cepat Reina menarik Tamara untuk melihat apa yang ditempel cowok itu.
Reina dan Tamara menuju yang paling depan di kerumunan itu. Dengan sedikit usaha, akhirnya mereka bisa melihat dengan jelas apa yang ditempel tadi. Ternyata disana tertulis kalau sedang ada pencarian anggota OSIS. Setelah melihat syarat-syaratnya, Reina langsung menarik Tamara keluar dari kerumunan.
“Ra!! Gue mau daftar jadi anggota OSIS!” saut Reina semangat.
“lo yakin? Katanya ribet loh kerjaannya” ucap Tamara ragu.
“gue yakin karena ada dia disanaa” saut Reina dengan wajah yakin.
“dia?” tanya Tamara menggantung. Tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi malas. “dia yang lo suka itu?”
Reina mengangguk dengan semangat. “iya. Dia loh, raa”
“yaudah terserah lo deh kalo lo emang mau daftar. Tapi emangnya lo tau dia bagian apa di OSIS?” ucap Tamara menyerah.
“tau dong! Dia di bagian kegiatan. Jadi gue harus daftar jadi anggota kegiatan” saut Reina bersemangat.
“astaga. Lo benar-benar stalker sejati. Alias penguntit” ucap Tamara menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.
“sialan. Gue bukan stalker” saut Reina merengut.
“yaudah gak usah dibahas. Gak penting. Sekarang lo udah pasti nih mau daftar jadi anggota OSIS bagian kegiatan?” kata Tamara.
“pasti banget! Di pengumuman tadi, katanya syarat-syaratnya dikumpul pas jam terakhir. Lo harus temanin gue buat ngumpulnya. Oke?” ucap Reina mengedipkan sebelah matanya.
“okelah. Terpaksa juga demi sahabat” ucap Tamara lemas.
“gitu dong! Baru itu sahabat gue yang terbaik” saut Reina langsung merangkul Tamara dengan ramah.
“kalo ada maunya aja baru baik-baikin gue” sungut Tamara kesal.
***
Hari ini hari pengumuman diterima atau tidaknya Reina di keanggotaan OSIS. Dengan perasaan cemas Reina terus melihat jam. Dari pemberitahuan yang terbaru, pengumumannya akan diumumkan di depan kelas dan diumumkan secara langsung oleh ketua bagian yang di pilih. Hal itu membuat Reina semakin jantungan. Apalagi waktu sekarang semakin dekat dengan waktu yang dijanjikan.
“aduh, na. Lo biasa aja dong. Sampe tangan gue kena remasan lo dari tadi pagi” saut Tamara kesal.
“gimana gak luar biasa. Kalo gue diterima, ntar yang nyebutin nama gue itu ketua bagiannya. Dan ketua bagian kegiatan itu cowok yang gue suka itu!” desis Reina gelisah.
“iya kalo lo di pilih, na. Kalo gak? Pasti berasa kaya udah terbang tinggi-tinggi, terus jatuh ke tanah dengan sangat kuat. sakit~” saut Tamara dengan nada meledek.
“jangan doain yang jelek-jelek dong buat sahabatnya sendiri. emangnya lo gak mau liat gue bahagia?” saut Reina memperkuat remasannya.
“iya gue mau liat lo bahagia. Maaf deh” saut Tamara sedikit meringis dan berusaha melepaskan tangannya dari remasan maut Reina.
Waktu yang dijanjikan sudah tiba. Dengan tepat waktu cowok yang disukai Reina dan temannya yang sepertinya wakil ketua, masuk ke dalam kelas Reina. Perasaan Reina bercampur antara senang dan gelisah. Ia bisa melihat dengan jelas cowok yang disukainya itu. Tapi disisi lain perasaannya sedang tidak karuan karena takut tidak diterima sebagai anggota OSIS.
“permisi. Gue mau ngumumin siapa yang keterima jadi anggota kita. Yang namanya dipanggil, tolong keluar. Gue mau kasih arahan” ucap cowok itu tidak baku sama sekali.
“Ra!! Suaranya seksi banget!!” desis Reina senang.
“apanya yang seksi. Melengking begitu” saut Tamara asal.
“apa lo bilang? Melengking? rawr” saut Reina kesal. Akhirnya ia lebih memilih melihat kedepan. Melihat pujaan hatinya sedang berdiri di depannya.
“Ana. Prisa. Kara. Tami. Vika. Bella, silahkan keluar. Kalian yang diterima dari kelas ini” ucap cowok itu.
Reina langsung lemas. Kepalanya terkulai diatas meja. Ia memejamkan matanya. “gue gak diterima” desisnya pelan.
“na, jangan lemas gitu dong. Masa cuma karena gak diterima jadi anggota, lo jadi kaya dapat nilai nol pas ulangan bahasa Indonesia” ucap Tamara berusaha menghibur Reina.
Reina hanya diam. Posisinya masih sama dengan sebelumnya. Sepertinya dia enggan untuk melihat wajah cowok pujaannya itu.
Tamara melihat cowok yang disukainya, yang tak lain adalah sang wakil ketua kegiatan, berbisik ke si ketua. Cewek-cewek yang namanya tadi disebutkan, sudah ada diluar kelas.
“oh maaf. Ada sedikit kesalahan. Reina, maaf. Tadi nama lo gak kebaca. Ternyata lo juga diterima. Silahkan keluar” ucap si ketua dengan ramah.
Reina langsung mengangkat kepalanya dengan wajah berbinar-binar. Reina menatap Tamara dengan senang. “gue diterima, ra” desisnya.
“makanya jangan langsung sedih dulu” saut Tamara balas tersenyum.
Reina tersenyum lebar. “gue keluar yah. Doain supaya gue gak terlihat memalukan didepan doi. Haha”
Tamara hanya mengangguk dan tersenyum geli. Setelah Reina keluar, “coba aja lo liat senyuman dia pas nyebut nama lo tadi. Pasti lo udah melonjak-lonjak, na” gumam Tamara tertawa geli membayangkan Reina yang sedang melompat-lompat.
***
“Reina. Kenapa lo daftar jadi anggota kegiatan?” tanya si ketua tanpa senyum.
Reina terdiam seribu bahasa. Ia mulai berpikir keras. Mana mungkin dia mengatakan kalau dia masuk OSIS hanya supaya bisa sering-sering melihat cowok itu. bisa-bisa ia langsung dikeluarkan dari OSIS.
“karena mau membantu memberi ide yang bagus untuk membuat kegiatan disekolah ini. Supaya sekolah ini bisa dikenal banyak orang dengan kegiatan sosialnya yang sangat bagus” jawab Reina berusaha terlihat tenang.
“broo.. lo nanyanya serius banget. Lihat tuh. Dia jawabnya sampe kaya ketakutan gitu” saut si wakil ketua dengan senyum.
“oh iya. Sorry, Reina. Gue keliatan galak ya? Tenang aja. aslinya gue ramah kok. Bentar lagi juga lo tau aslinya gue. Haha” ucap si ketua tertawa.
Deg!!! Reina berusaha tenang. Ia hanya bisa mengangguk kecil untuk menanggapi kata-kata si ketua. “gila! Begitu dia nyebut nama gue kok rasanya kaya romantis gitu sih? Ketawanya lagi. haduh. Jangan pingsan pliss” batin Reina.
“oh iya. Sampe lupa kenalan. Jadi, gue Dicky. ketua bagian kegiatan. Kelas XII-IPS-1” ucap Dicky ramah.
“dan gue Bisma, wakilnya Dicky. kelas XII-IPA-1” ucap Bisma sambil tertawa.
Reina tersenyum kecil. Dalam hatinya ia sudah ingin meloncat karena saat ini seperti yang selalu ia bayangkan. Bisa berkenalan secara langsung dengan cowok yang disukainya. Walaupun sebenarnya Reina sudah tau  siapa nama cowok itu jauh sebelum dari perkenalan ini.
“oke. Jadi gue mau kasih tau garis besar tugas kalian nanti. Jadi kalau ada waktu, kita harus usul mau buat apa kegiatannya. nanti kita buat proposal yang bagus untuk dikasih ke yayasan dan kepala sekolah. Kalau ide kita bagus dan proposalnya juga bagus, pasti semuanya berjalan lancar. Jadi kita harus berusaha semaksimal mungkin” jelas Bisma.
“dan kalian juga harus tahan emosi kalau kita berdua suruh ini dan itu. karena memang itulah tugas kalian. Jadi jangan suka-suka aja. kalian masuk OSIS karena memang bertanggung jawab. Bukan hanya mau jadi senioren pas MOS dan bukan cuma karena cowok yang dia sukai adalah anggota OSIS” sambung Dicky.
Reina terbatuk-batuk. Ia merasa tersindir dengan kata-kata Dicky. dengan cepat ia memberhentikan batuknya karena orang-orang sudah melihat kearahnya dengan heran.
“oke. Cukup segitu dulu aja ya. Arahan terus ada sepanjang kita ngejalani tugas ini. Jadi hari ini kita kenalan dulu aja. gak usah berat-berat. Tukaran pin BB aja. biar bisa kita semua makin dekat. Pada pake BlackBerry semua kan?” ucap Dicky tersenyum. Bisma mengangguk setuju.
Semuanya mengangguk, termasuk Reina. Satu-satu menyebutkan pinnya dan kedua orang itu mencatat di BlackBerrynya. Ketika sampai gilirannya Reina, Reina dengan gemetar mengucapkan pinnya. Itu karena ia langsung berinteraksi dengan Dicky.
Dicky yang menyadari Reina yang gemetaran langsung tertawa geli. “hei. Jangan gemetaran dong. Gue gak seram kok. Tenang aja”
Reina melihat Dicky dengan kaget. Ia semakin salah tingkah. “eh, iya kak. Sip” ucap Reina terburu-buru karena terlalu gugup.
“ky, gimana kalo mereka semua kita suruh gak usah manggil kita pake ‘kak’? gue gak biasa dengarnya” usul Bisma.
Dicky terlihat sedang berpikir. “oke. Gue setuju. Jadi kalian gak usah panggil kita pake embel-embel ‘kak’ yah. Langsung nama kita aja” ucap Dicky akhirnya.
Mereka semua mengangguk setuju. Reina tersenyum kecil. Ia jadi merasa sangat dekat dengan Dicky jika hanya memanggilnya dengan namanya saja. Ia jadi tidak sabar menunggu kesempatan bisa memanggil Dicky pertama kalinya.
***
“ibu! Risolnya 3!!” teriak Reina di kantin. Ia sedang berebutan dengan anak SMA yang lain untuk membeli jajanan di kantin. Tapi sejak dari 10 menit yang lalu, ia terus tidak dilayani. Dengan bersungut-sungut Reina berbalik hendak keluar dari kantin. Namun ada seseorang yang merampas uangnya.
Reina hendak berteriak karena mengira uangnya dicuri. Tapi setelah ia melihat pelakunya, ia semakin kaget lagi.
“bu, ini buru-buru banget. Risolnya 3 ya!” ucap cowok itu mendesak dan langsung dilayani ibu di kantin. Setelah mendapatkan risol itu, cowok itu menyerahkannya pada Reina sambil tersenyum geli.
“makasih, Bisma” ucap Reina pelan sedikit ragu.
Bisma mengangguk dan masih tersenyum geli.
“kok bisa tau gue mau beli ini?” tanya Reina sedikit canggung. Ini baru pertama kalinya ia mengobrol dengan Bisma.
“dari tadi gue udah perhatiin lo. gue kasian liat lo gak dilayani terus. Akhirnya gue milih buat bantuin lo” jawab Bisma masih tersenyum geli. “makanya kalo jajan dikantin itu suaranya harus kuat dan kedengaran tergesa-gesa. Pasti langsung dilayani”
Reina tersenyum kecil. “thanks usulnya. Besok bisa gue coba tuh”
“silahkan” Bisma balas tersenyum. “makanya punya badan jangan kecil imut-imut begini. Haha” lanjut Bisma tertawa geli.
Reina langsung mengerut. “ini normal buat cewek. Kan gak mungkin gue sebesar lo. bisa dikatain aneh dong gue”
Bisma tertawa keras. “pintar juga lo jawabnya”
Reina tertawa kecil. Ia merasa nyaman mengobrol dengan Bisma. Tidak seperti yang ia pikirkan sebelumnya.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik Reina menjauh dari Bisma. Bisma pun terlihat bingung melihat Reina yang tiba-tiba pergi tanpa pamit. Reina berusaha melihat orang yang menariknya. “Tamara?! Kenapa sih?” saut Reina setelah bisa melihat orang yang sedang menariknya.
“apa sih maksud lo? kenapa lo keliatan enjoy banget ngobrol sama Bisma?” saut Tamara terlihat kesal. Mereka sekarang tengah berada di koridor kelas.
“itu karena dia wakil ketua bidang kegiatan, ra. Otomatis gue harus akrab sama dia kan?” jawab Reina bingung.
“tapi bukannya lo mau dekatin Dicky?” balas Tamara mulai lunak.
“gimana mau dekatin kalo kontak mata dikit aja gue langsung salah tingkah?” saut Reina terlihat kesal.
Tamara tersenyum kecil. “yaudah yuk jalan ke kelas” ucap Tamara menggandeng Reina. Reina hanya mengangguk sambil tersenyum.
“kok bisa sih lo gak peka sama isi hati gue, na? Lo kan tau kalo gue suka Bisma. Kenapa lo gak sadar kalo gue cemburu liat kalian bisa ngobrol dekat kaya tadi?” batin Tamara. Ia menghembuskan nafasnya dengan berat.
***
Reina memasukkan sebuah permen bertangkai kedalam mulutnya. Matanya berusaha mencari seseorang. Namun orang yang dicarinya tidak juga muncul. Ia sekali lagi melihat ke arah lapangan untuk kembali mencari. Namun hasilnya tetap sama.
“Reina!” saut seseorang memukul pundak Reina.
Reina terlonjak kaget. Permen yang ada di mulutnya tidak sengaja keluar dari mulutnya karena Reina terbatuk-batuk. Dengan tatapan kesal Reina menoleh ke arah orang yang mengagetkannya.
“maksud lo apa...” amarah Reina langsung mereda begitu melihat Dicky dihadapannya. Ia segera mengelap mulutnya yang sedikit belepotan permen. Dengan gugup ia menatap Dicky. Ia merasa malu karena tadi terlihat begitu sangat memalukan. Mengeluarkan permen dari mulut di depan orang yang disuka? Oh My God.
“sorry, na. Gue gak sengaja. Sumpah gak ada maksud buat ngagetin sama sekali” ucap Dicky terdengar menyesal.
“i-iya ky. Gak papa kok” ucap Reina gugup.
Dicky masih memandang Reina dengan perasaan bersalah. “serius gak papa? Lo tadi sampe batuk-batuk gitu”
Muka Reina langsung memanas. “jangan dibahas lagi deh. Yang penting gue udah maafin lo. gue permisi” ucap Reina terburu-buru meninggalkan Dicky.
Dicky memandang punggung Reina dengan bingung. ia tadi hanya meminta maaf karena sudah mengagetkan dia. Kenapa dia terlihat sangat gugup? Apa wajahnya begitu menakutkan? Dicky menggaruk kepalanya dengan bingung.
“ky, kenapa lo?” saut Bisma menghampiri Dicky. Dari jauh Dicky terlihat sangat bingung. Akhirnya ia memilih untuk menghampirinya.
“itu tadi si Reina aneh banget. Dia ngeliat gue kaya ngeliat hantu. Tadi gue gak sengaja ngagetin dia, terus gue minta maaf. Dia keliatan gugup gitu. Terus langsung kabur setelah dia bilang kalo dia maafin gue. Aneh kan?” jawab Dicky menaikkan alisnya.
“emang lo kenapa bisa gak sengaja ngagetin dia?” tanya Bisma.
“itu tadi gue mau bilang kalo nanti sepulang sekolah ada rapat. Gak jadi deh karena dia udah kabur duluan” jawab Dicky lagi.
“yaudah biar gue aja yang bilang ke dia. Lo sih pas awal kenalan gak pasang wajah ramah. Dia kan jadi ngira lo kejam. Haha” saut Bisma menertawakan Dicky.
“garing lo!” saut Dicky meninju lengan Bisma dengan kesal.
***
“Huaaaaaaa!!!!” Reina berteriak di tengah koridor sambil berlari ke kelasnya. Sepanjang koridor ia terus dilihat oleh orang-orang yang ada disana. Tapi Reina tidak memperdulikannya. Dia terus berlari menuju kelasnya.
“Reina?! Lo kenapa?” saut Tamara bingung begitu melihat Reina masuk dengan menutupi kedua wajahnya.
“gue malu, raaa.. mau ditaruh dimana lagi muka gue ini? Gue mau keluar dari OSIS” saut Reina merengek-rengek di pelukan Tamara.
“kenapa? Cerita dulu deh sama gue. Ntar biar lo gak salah pilih keputusan” ucap Tamara menggiring Reina ke bangkunya.
Setelah sedikit tenang, Reina melepaskan tangannya dari wajahnya. “tadi kan gue lagi nyariin Dicky, sambil makan lolipop. Tapi gak dapat. Eh tiba-tiba dia muncul dibelakang gue sambil mukul pundak gue. Lo tau apa yang terjadi setelah itu?” saut Reina merengut.
“ya mana gue tau. lo kan belum cerita, dodol” jawab Tamara.
Reina mendelik kesal. “lo jangan motong ucapan gue”
Tamara hanya mengangguk dengan wajah kesal.
“jadi karena gue kaget, permen yang gue makan keluar dari mulut gue!! Bisa lo bayangin gak? Ngelakuin hal yang memalukan didepan cowok yang disuka. Gue malu, raa” saut Reina mengacak-acak rambutnya.
Tamara tersenyum geli. Namun ia berusaha menahan senyumannya agar tidak menyinggung perasaan Reina. “jadi dia gimana reaksinya?” tanya Tamara.
“dia minta maaf sama gue. Terus pas gue bilang udah maafin dia, dia malah bahas soal permen yang keluar itu. kan gue malu. Akhirnya gue gak sengaja ngomong ketus ke dia. Terus gue malah kabur. Gue bodoh yaa” cerita Reina menundukkan kepalanya di meja dan menghentakkan kakinya dengan geram.
“jadi karena ini lo mau keluar dari OSIS? Sayang loh, na. Lo udah punya kesempatan banyak buat bareng sama Dicky. tapi kenapa malah lo sia-siain? Ayo pikirin lagi. ntar lo malah nyesal dan ngorbanin gue buat jadi tempat sampah lo lagi” saran Tamara.
“tapi gue udah gak punya muka lagi didepan dia, raa. Lo sih gak pernah ngelakuin sesuatu yang memalukan didepan Bisma. Jadi lo gak ngerti” saut Reina masih menundukkan kepalanya di meja.
“oke. Gausah bahas masalah soal itu. yang mau gue tanya, pas Dicky bilang soal permen yang keluar dari mulut lo itu, ekspresinya gimana? Melecehkan atau gak?” tanya Tamara berusaha tenang. Ia tidak tenang kalau Reina membahas soal perasaannya ke Bisma.
Reina terlihat sedang mengingat-ingat. “dia keliatan ngerasa bersalah karena udah ngagetin gue” jawab Reina pelan.
“nah! Dari situ aja udah bisa dilihat kalo Dicky gak merhatiin soal itu. dia ngerasa bersalah, bukannya malah ngeledekin lo, kan? harusnya lo ngerti dong. Jangan main tuduh gitu aja. kalo lo gini terus, lo akan selalu buat keputusan yang bikin lo menyesal” nasihat Tamara.
“iya deh iya. Maaf. Habis gue kan panik banget. Mana sempat mikir panjang” ucap Reina sedikit merengut.
“yaudah kalo dikasih tau jangan pasang muka jelek gitu. Jadi orang harus bisa terima kritikan dari orang lain supaya lo bisa jadi orang yang lebih baik lagi” lanjut Tamara.
“iya, bu Tamara. Reina sudah mengerti” saut Reina tersenyum sedikit terpaksa. Namun ia berjanji akan selalu bisa mendengar kritikan dari orang lain. Karena Reina yakin kalau kata-kata Tamara sangat benar.
“okelah kalo gitu. Sekian pelajaran dari saya” ucap Tamara sok baku sambil tersenyum kecil.
“Reina! Lo dipanggil tuh” saut Rahma.
Reina menoleh ke pintu kelasnya. “siapa yang manggil gue?” tanya Reina penasaran. Ia mulai berjalan ke arah pintu.
“kakak kelas. Yang pernah ngumumin soal OSIS dikelas kita. Yang lo dipilih itu. ganteng banget. Kenalin dong ke gue” saut Rahma mulai genit.
Reina melirik Rahma dengan aneh. “dasar genit” desis Reina. Namun didalam hatinya ia terus menebak siapa yang memanggilnya. Tapi ia jadi punya firasat kalau yang memanggilnya itu adalah Dicky. ada apa ya sampai Dicky menghampirinya kesini? Gimana kalau ia masih terlihat gugup karena soal yang tadi?
“Reina! Ada pesan dari Dicky” saut Bisma begitu melihat Reina keluar dari kelasnya.
Begitu melihat Bisma, Reina merasa lega dan kecewa. Tapi karena ada nama Dicky, ia sedikit merasa senang. “pesan apaan?” tanya Reina.
“dia bilang kalo nanti pulang sekolah kita ada rapat. Tadi padahal dia udah mau bilang ke lo. tapi lo malah kabur” jawab Bisma.
Reina langsung salah tingkah. “oh soal tadi ya. Itu tadi gue buru-buru ke toilet. Udah gak tahan lagi. jadi bilang ke dia yah kalo gue minta maaf” jelas Reina berbohong.
Bisma mengangguk. “oke. Dia bakalan ngerti kok” ucap Bisma tersenyum. “jadi lo bisa kan ikutan rapat ntar siang?”
Reina tersenyum. “bisa kok. Tenang aja”
“yaudah kalo gitu. Gue balik ke kelas gue ya. Sampai jumpa di ruang rapat nanti siang” ucap Bisma ramah lalu pergi meninggalkan Reina.
Reina masih terdiam di depan kelasnya. Perasaannya sedikit bingung. kenapa saat ia bersama Bisma justru merasa tenang? Tapi kenapa saat ia bersama Dicky, orang yang disukainya, malah merasa sangat gelisah? Apa karena ia punya perasaan dengan Dicky?
“siapa sih yang manggil lo tadi?” tanya Tamara menghampiri Reina.
Reina tersadar dari lamunannya. “itu tadi si Bisma bilang kalo gue nanti siang disuruh ikutan rapat sama Dicky” jawab Reina.
Ekspresi Tamara langsung berubah. “kenapa bukan Dicky aja yang langsung bilang ke lo?”
“ya tadi dia mau bilang ke gue. Tapi karena tadi gue kabur karena malu, jadinya dia titip pesan sama Bisma. Itu kata Bisma sih” jawab Reina dengan ekspresi kecewa.
Tamara hanya mengangguk-angguk. “lo udah dekat banget ya sama Bisma?”
Reina menangkap nada aneh di suara Tamara. Ia langsung menyadarinya. “ra, jangan bilang kalo lo cemburu sama gue” saut Reina menyipitkan mata.
Tamara langsung salah tingkah. “g-gak kok. Si-siapa bilang?”
“tuh lo sampe gagap gitu. Ngaku deh lo” saut Reina tersenyum geli. “tenang aja, ra. Gue gak dekat kok sama Bisma. Sekedar hubungan kakak-adik kelas aja. Ditambah dia wakil ketua kegiatan. Lo kan tau kalo gue sukanya sama Dicky” jelas Reina mengedipkan sebelah matanya.
“apa sih? Gue gak masalah kok” saut Tamara bohong. Dalam hatinya ia merasa lega karena Reina mengerti perasaannya dan mau menjelaskan padanya tanpa harus ia tanya.

TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar