Reina memandangi
seseorang sambil tersenyum-senyum sendiri. Dari tempat duduknya, ia bisa
melihat cowok yang ia sukai dengan puas.
“hayoo!!” teriak
Tamara, sahabat Reina mengagetkannya.
Reina mendelik kesal
kearah Tamara. “suka banget sih ngagetin gue” dengusnya.
Tamara tertawa
melihat ekspresi Reina. “makanya, ajak ngobrol tuh yang lo pandangi tiap hari.
Gak seru cuma jadi pengagum rahasia, na”
“suka-suka gue dong.
Kan gue yang ngejalanin. Bukan lo” saut Reina memeletkan lidahnya.
“dikasih tau saran
yang bagus, malah diledekin. Awas aja deh yaa menyesal~” saut Tamara langsung
pergi.
“lo kira gue gak tau
kalo lo juga pengagum rahasia cowok disebelahnya? Haha” saut Reina kuat.
Tamara yang sekarang
berada disebelah cowok yang disukainya hanya terdiam salah tingkah. “awas lo,
na” desis Tamara.
Reina yang merasa
sudah bisa membalas ledekan Tamara, hanya tertawa puas. Tapi ia langsung
terdiam begitu sadar kalau kedua orang yang mereka bicarakan tadi melihat
kearahnya. Reina berdiri dari duduknya lalu pergi menuju kelasnya, X-2 dengan
perasaan kacau.
Tamara duduk
disebelah Reina dan terlihat bingung.
“lo kenapa?” saut
Tamara.
“tadi pas gue
ngetawain lo, mereka ngeliatin gue. Duh bayangin! Tadi muka gue lagi gak
feminim banget. Kayak cowok ketawa lebar gituuu” saut Reina menutupi wajahnya.
Tamara tertawa puas.
“tuh kan. lo dapat karma deh. Makanya jangan ngeledekin gue. Kena lo, kan?”
Reina hanya bisa
menggerutu pelan. Seharusnya dari kejadian-kejadian yang sering dialaminya, ia
tidak akan berbuat aneh-aneh. Karena kalau sedikit saja Reina melakukan hal
yang tidak baik seperti menertawakan orang, ia akan mendapatkan balasan yang
sama dengan cepat.
“eh tapi mungkin
mereka ngeliatin lo karena mereka tertarik” saut Tamara tiba-tiba.
Reina langsung
tersipu malu. “bisa aja lo, ra. Gue tau kalo gue emang cantik banget sampe
mereka terpesona sama gue”
“tapi kayaknya gue
salah deh. Lo jelek. Mana ada yang tertarik sama lo” saut Tamara sok mikir.
Reina mengambil
penghapusnya dan langsung melemparnya tepat ke jidat Tamara. Begitu melihat
lemparannya tepat pada sasaran, ia hanya tersenyum licik. Tamara balas
tersenyum. Reina sedikit bingung melihat reaksi temannya itu.
Tukkk... kepala Reina seperti dilempar oleh sesuatu. Reina meringis
kecil sambil mengusap-usap kepalanya.
“duh Reina, maaf.
Tadi maksudnya mau lempar penghapus ke Ana. Gak taunya malah kena kepala lo.
maaf yaa” ucap Nina dengan perasaan bersalah.
“it’s okay. Nih
penghapusnya” ucap Reina tersenyum lalu mengambil penghapus yang jatuh dibawah
bangkunya.
“thanks yah Reina”
ucap Nina balas tersenyum lalu menghampiri Ana untuk memberikan penghapusnya.
“sial! Gue kena
karma lagi” gerutu Reina kesal.
“makanya jangan
macam-macam sama gue. Haha” saut Tamara senang. Ternyata tadi ia sudah
menyadari kalau Reina pasti akan mendapatkan balasan yang sama seperti yang
dilakukan Reina pada dirinya entah dari siapa.
***
Reina duduk
dipinggir lapangan basket sambil mengunyah permen karet. Hari selasa seperti
ini adalah jadwal olahraga cowok yang disukainya. Dan sekarang cowok yang ia sukai
sedang bermain bola. Reina langsung tersipu malu begitu melihat cowok yang
disukainya mengangkat bawah bajunya untuk mengelap keringat di wajahnya.
Terlihat badannya yang... kurus dan hitam.
“astaga. Walaupun
kurus dan hitam, tapi tetap seksi. Eksotis broo” gumam Reina geregetan.
Terlihat cowok yang
disukai Reina melirik kearahnya. Dengan cepat Reina membuang muka dan berusaha
terlihat sedang melihat-lihat sekitar. Reina melirik dari ekor matanya dan
melihat kalau cowok itu sudah tidak melihat ke arahnya. Ia langsung
menghembuskan nafas dengan lega.
Lagi-lagi Reina
tersenyum-senyum sendiri saat melihat cowok itu. jantungnya juga suka berdetak
lebih cepat dari biasanya. Apa arti perasaan ini? Perasaan kagum? Atau malah
perasaan cinta? Entahlah. Reina lebih memilih memikirkan masa-masa
kesenangannya saat melihat cowok itu dari pada memikirkan apa arti perasaannya
ini.
***
Reina berjalan
melewati koridor menuju toilet. Sebelum melewati sebuah kelas, ia merapikan
pakaiannya. Setelah merasa cukup rapi, ia melangkah dengan langkah pelan dan
terlihat sangat anggun. Ketika melewati sebuah kelas, Reina sedikit melirik
kedalam kelas tersebut. Terlihat cowok yang disukainya sedang belajar dengan
tekun.
Begitu selesai
melewati kelas itu, Reina melopat-lompat dengan senang. Dadanya terasa sesak.
Ia berusaha mengatur nafasnya agar kembali tenang. Namun hatinya serasa
ditumbuhi berbagai macam bunga yang cantik dan sedang bermekaran.
Reina membayangkan
wajah cowok yang disukainya sambil tertawa-tawa sendiri. “duh, bisa mati gue
kalo gini terus. Cara belajarnya itu loh. Arghwesome!!” teriak Reina dengan
wajah terpesona.
“hush! Lagi belajar.
Jangan teriak-teriak di koridor!” saut seorang guru keluar dari kelas memarahi
Reina.
“peace ibu guru yang
cantik” ucap Reina cengengesan. Dengan cepat ia melanjutkan langkahnya ke
tujuannya, yaitu toilet.
***
Terlihat cowok yang
Reina sukai dan temannya sedang sibuk menempelkan sesuatu di mading sekolah.
Reina mengintip dengan penasaran. Orang-orang sudah mulai berkerumun disana.
Dengan cepat Reina menarik Tamara untuk melihat apa yang ditempel cowok itu.
Reina dan Tamara
menuju yang paling depan di kerumunan itu. Dengan sedikit usaha, akhirnya
mereka bisa melihat dengan jelas apa yang ditempel tadi. Ternyata disana
tertulis kalau sedang ada pencarian anggota OSIS. Setelah melihat
syarat-syaratnya, Reina langsung menarik Tamara keluar dari kerumunan.
“Ra!! Gue mau daftar
jadi anggota OSIS!” saut Reina semangat.
“lo yakin? Katanya
ribet loh kerjaannya” ucap Tamara ragu.
“gue yakin karena ada
dia disanaa” saut Reina dengan wajah yakin.
“dia?” tanya Tamara
menggantung. Tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi malas. “dia yang lo suka
itu?”
Reina mengangguk
dengan semangat. “iya. Dia loh, raa”
“yaudah terserah lo
deh kalo lo emang mau daftar. Tapi emangnya lo tau dia bagian apa di OSIS?”
ucap Tamara menyerah.
“tau dong! Dia di
bagian kegiatan. Jadi gue harus daftar jadi anggota kegiatan” saut Reina
bersemangat.
“astaga. Lo
benar-benar stalker sejati. Alias penguntit” ucap Tamara menggeleng-gelengkan
kepala tidak percaya.
“sialan. Gue bukan
stalker” saut Reina merengut.
“yaudah gak usah
dibahas. Gak penting. Sekarang lo udah pasti nih mau daftar jadi anggota OSIS
bagian kegiatan?” kata Tamara.
“pasti banget! Di
pengumuman tadi, katanya syarat-syaratnya dikumpul pas jam terakhir. Lo harus
temanin gue buat ngumpulnya. Oke?” ucap Reina mengedipkan sebelah matanya.
“okelah. Terpaksa
juga demi sahabat” ucap Tamara lemas.
“gitu dong! Baru itu
sahabat gue yang terbaik” saut Reina langsung merangkul Tamara dengan ramah.
“kalo ada maunya aja
baru baik-baikin gue” sungut Tamara kesal.
***
Hari ini hari
pengumuman diterima atau tidaknya Reina di keanggotaan OSIS. Dengan perasaan
cemas Reina terus melihat jam. Dari pemberitahuan yang terbaru, pengumumannya
akan diumumkan di depan kelas dan diumumkan secara langsung oleh ketua bagian
yang di pilih. Hal itu membuat Reina semakin jantungan. Apalagi waktu sekarang
semakin dekat dengan waktu yang dijanjikan.
“aduh, na. Lo biasa
aja dong. Sampe tangan gue kena remasan lo dari tadi pagi” saut Tamara kesal.
“gimana gak luar
biasa. Kalo gue diterima, ntar yang nyebutin nama gue itu ketua bagiannya. Dan
ketua bagian kegiatan itu cowok yang gue suka itu!” desis Reina gelisah.
“iya kalo lo di
pilih, na. Kalo gak? Pasti berasa kaya udah terbang tinggi-tinggi, terus jatuh
ke tanah dengan sangat kuat. sakit~” saut Tamara dengan nada meledek.
“jangan doain yang
jelek-jelek dong buat sahabatnya sendiri. emangnya lo gak mau liat gue
bahagia?” saut Reina memperkuat remasannya.
“iya gue mau liat lo
bahagia. Maaf deh” saut Tamara sedikit meringis dan berusaha melepaskan
tangannya dari remasan maut Reina.
Waktu yang
dijanjikan sudah tiba. Dengan tepat waktu cowok yang disukai Reina dan temannya
yang sepertinya wakil ketua, masuk ke dalam kelas Reina. Perasaan Reina
bercampur antara senang dan gelisah. Ia bisa melihat dengan jelas cowok yang
disukainya itu. Tapi disisi lain perasaannya sedang tidak karuan karena takut
tidak diterima sebagai anggota OSIS.
“permisi. Gue mau
ngumumin siapa yang keterima jadi anggota kita. Yang namanya dipanggil, tolong
keluar. Gue mau kasih arahan” ucap cowok itu tidak baku sama sekali.
“Ra!! Suaranya seksi
banget!!” desis Reina senang.
“apanya yang seksi.
Melengking begitu” saut Tamara asal.
“apa lo bilang? Melengking?
rawr” saut Reina kesal. Akhirnya ia lebih memilih melihat kedepan. Melihat
pujaan hatinya sedang berdiri di depannya.
“Ana. Prisa. Kara.
Tami. Vika. Bella, silahkan keluar. Kalian yang diterima dari kelas ini” ucap
cowok itu.
Reina langsung lemas.
Kepalanya terkulai diatas meja. Ia memejamkan matanya. “gue gak diterima”
desisnya pelan.
“na, jangan lemas
gitu dong. Masa cuma karena gak diterima jadi anggota, lo jadi kaya dapat nilai
nol pas ulangan bahasa Indonesia” ucap Tamara berusaha menghibur Reina.
Reina hanya diam.
Posisinya masih sama dengan sebelumnya. Sepertinya dia enggan untuk melihat
wajah cowok pujaannya itu.
Tamara melihat cowok
yang disukainya, yang tak lain adalah sang wakil ketua kegiatan, berbisik ke si
ketua. Cewek-cewek yang namanya tadi disebutkan, sudah ada diluar kelas.
“oh maaf. Ada
sedikit kesalahan. Reina, maaf. Tadi nama lo gak kebaca. Ternyata lo juga
diterima. Silahkan keluar” ucap si ketua dengan ramah.
Reina langsung
mengangkat kepalanya dengan wajah berbinar-binar. Reina menatap Tamara dengan
senang. “gue diterima, ra” desisnya.
“makanya jangan
langsung sedih dulu” saut Tamara balas tersenyum.
Reina tersenyum
lebar. “gue keluar yah. Doain supaya gue gak terlihat memalukan didepan doi.
Haha”
Tamara hanya
mengangguk dan tersenyum geli. Setelah Reina keluar, “coba aja lo liat senyuman
dia pas nyebut nama lo tadi. Pasti lo udah melonjak-lonjak, na” gumam Tamara
tertawa geli membayangkan Reina yang sedang melompat-lompat.
***
“Reina. Kenapa lo
daftar jadi anggota kegiatan?” tanya si ketua tanpa senyum.
Reina terdiam seribu
bahasa. Ia mulai berpikir keras. Mana mungkin dia mengatakan kalau dia masuk
OSIS hanya supaya bisa sering-sering melihat cowok itu. bisa-bisa ia langsung
dikeluarkan dari OSIS.
“karena mau membantu
memberi ide yang bagus untuk membuat kegiatan disekolah ini. Supaya sekolah ini
bisa dikenal banyak orang dengan kegiatan sosialnya yang sangat bagus” jawab
Reina berusaha terlihat tenang.
“broo.. lo nanyanya
serius banget. Lihat tuh. Dia jawabnya sampe kaya ketakutan gitu” saut si wakil
ketua dengan senyum.
“oh iya. Sorry,
Reina. Gue keliatan galak ya? Tenang aja. aslinya gue ramah kok. Bentar lagi
juga lo tau aslinya gue. Haha” ucap si ketua tertawa.
Deg!!! Reina berusaha tenang. Ia hanya bisa mengangguk kecil untuk
menanggapi kata-kata si ketua. “gila! Begitu dia nyebut nama gue kok rasanya
kaya romantis gitu sih? Ketawanya lagi. haduh. Jangan pingsan pliss” batin
Reina.
“oh iya. Sampe lupa
kenalan. Jadi, gue Dicky. ketua bagian kegiatan. Kelas XII-IPS-1” ucap Dicky
ramah.
“dan gue Bisma,
wakilnya Dicky. kelas XII-IPA-1” ucap Bisma sambil tertawa.
Reina tersenyum
kecil. Dalam hatinya ia sudah ingin meloncat karena saat ini seperti yang
selalu ia bayangkan. Bisa berkenalan secara langsung dengan cowok yang disukainya.
Walaupun sebenarnya Reina sudah tau
siapa nama cowok itu jauh sebelum dari perkenalan ini.
“oke. Jadi gue mau
kasih tau garis besar tugas kalian nanti. Jadi kalau ada waktu, kita harus usul
mau buat apa kegiatannya. nanti kita buat proposal yang bagus untuk dikasih ke
yayasan dan kepala sekolah. Kalau ide kita bagus dan proposalnya juga bagus,
pasti semuanya berjalan lancar. Jadi kita harus berusaha semaksimal mungkin”
jelas Bisma.
“dan kalian juga
harus tahan emosi kalau kita berdua suruh ini dan itu. karena memang itulah
tugas kalian. Jadi jangan suka-suka aja. kalian masuk OSIS karena memang
bertanggung jawab. Bukan hanya mau jadi senioren pas MOS dan bukan cuma karena
cowok yang dia sukai adalah anggota OSIS” sambung Dicky.
Reina terbatuk-batuk.
Ia merasa tersindir dengan kata-kata Dicky. dengan cepat ia memberhentikan
batuknya karena orang-orang sudah melihat kearahnya dengan heran.
“oke. Cukup segitu
dulu aja ya. Arahan terus ada sepanjang kita ngejalani tugas ini. Jadi hari ini
kita kenalan dulu aja. gak usah berat-berat. Tukaran pin BB aja. biar bisa kita
semua makin dekat. Pada pake BlackBerry semua kan?” ucap Dicky tersenyum. Bisma
mengangguk setuju.
Semuanya mengangguk,
termasuk Reina. Satu-satu menyebutkan pinnya dan kedua orang itu mencatat di
BlackBerrynya. Ketika sampai gilirannya Reina, Reina dengan gemetar mengucapkan
pinnya. Itu karena ia langsung berinteraksi dengan Dicky.
Dicky yang menyadari
Reina yang gemetaran langsung tertawa geli. “hei. Jangan gemetaran dong. Gue
gak seram kok. Tenang aja”
Reina melihat Dicky
dengan kaget. Ia semakin salah tingkah. “eh, iya kak. Sip” ucap Reina
terburu-buru karena terlalu gugup.
“ky, gimana kalo
mereka semua kita suruh gak usah manggil kita pake ‘kak’? gue gak biasa
dengarnya” usul Bisma.
Dicky terlihat
sedang berpikir. “oke. Gue setuju. Jadi kalian gak usah panggil kita pake
embel-embel ‘kak’ yah. Langsung nama kita aja” ucap Dicky akhirnya.
Mereka semua
mengangguk setuju. Reina tersenyum kecil. Ia jadi merasa sangat dekat dengan
Dicky jika hanya memanggilnya dengan namanya saja. Ia jadi tidak sabar menunggu
kesempatan bisa memanggil Dicky pertama kalinya.
***
“ibu! Risolnya 3!!”
teriak Reina di kantin. Ia sedang berebutan dengan anak SMA yang lain untuk
membeli jajanan di kantin. Tapi sejak dari 10 menit yang lalu, ia terus tidak
dilayani. Dengan bersungut-sungut Reina berbalik hendak keluar dari kantin.
Namun ada seseorang yang merampas uangnya.
Reina hendak
berteriak karena mengira uangnya dicuri. Tapi setelah ia melihat pelakunya, ia
semakin kaget lagi.
“bu, ini buru-buru
banget. Risolnya 3 ya!” ucap cowok itu mendesak dan langsung dilayani ibu di
kantin. Setelah mendapatkan risol itu, cowok itu menyerahkannya pada Reina
sambil tersenyum geli.
“makasih, Bisma”
ucap Reina pelan sedikit ragu.
Bisma mengangguk dan
masih tersenyum geli.
“kok bisa tau gue
mau beli ini?” tanya Reina sedikit canggung. Ini baru pertama kalinya ia
mengobrol dengan Bisma.
“dari tadi gue udah
perhatiin lo. gue kasian liat lo gak dilayani terus. Akhirnya gue milih buat
bantuin lo” jawab Bisma masih tersenyum geli. “makanya kalo jajan dikantin itu
suaranya harus kuat dan kedengaran tergesa-gesa. Pasti langsung dilayani”
Reina tersenyum
kecil. “thanks usulnya. Besok bisa gue coba tuh”
“silahkan” Bisma
balas tersenyum. “makanya punya badan jangan kecil imut-imut begini. Haha”
lanjut Bisma tertawa geli.
Reina langsung
mengerut. “ini normal buat cewek. Kan gak mungkin gue sebesar lo. bisa dikatain
aneh dong gue”
Bisma tertawa keras.
“pintar juga lo jawabnya”
Reina tertawa kecil.
Ia merasa nyaman mengobrol dengan Bisma. Tidak seperti yang ia pikirkan
sebelumnya.
Tiba-tiba saja ada
seseorang yang menarik Reina menjauh dari Bisma. Bisma pun terlihat bingung
melihat Reina yang tiba-tiba pergi tanpa pamit. Reina berusaha melihat orang yang
menariknya. “Tamara?! Kenapa sih?” saut Reina setelah bisa melihat orang yang
sedang menariknya.
“apa sih maksud lo?
kenapa lo keliatan enjoy banget ngobrol sama Bisma?” saut Tamara terlihat
kesal. Mereka sekarang tengah berada di koridor kelas.
“itu karena dia
wakil ketua bidang kegiatan, ra. Otomatis gue harus akrab sama dia kan?” jawab
Reina bingung.
“tapi bukannya lo
mau dekatin Dicky?” balas Tamara mulai lunak.
“gimana mau dekatin
kalo kontak mata dikit aja gue langsung salah tingkah?” saut Reina terlihat
kesal.
Tamara tersenyum
kecil. “yaudah yuk jalan ke kelas” ucap Tamara menggandeng Reina. Reina hanya
mengangguk sambil tersenyum.
“kok bisa sih lo gak
peka sama isi hati gue, na? Lo kan tau kalo gue suka Bisma. Kenapa lo gak sadar
kalo gue cemburu liat kalian bisa ngobrol dekat kaya tadi?” batin Tamara. Ia menghembuskan
nafasnya dengan berat.
***
Reina memasukkan
sebuah permen bertangkai kedalam mulutnya. Matanya berusaha mencari seseorang.
Namun orang yang dicarinya tidak juga muncul. Ia sekali lagi melihat ke arah
lapangan untuk kembali mencari. Namun hasilnya tetap sama.
“Reina!” saut
seseorang memukul pundak Reina.
Reina terlonjak
kaget. Permen yang ada di mulutnya tidak sengaja keluar dari mulutnya karena
Reina terbatuk-batuk. Dengan tatapan kesal Reina menoleh ke arah orang yang
mengagetkannya.
“maksud lo apa...”
amarah Reina langsung mereda begitu melihat Dicky dihadapannya. Ia segera
mengelap mulutnya yang sedikit belepotan permen. Dengan gugup ia menatap Dicky.
Ia merasa malu karena tadi terlihat begitu sangat memalukan. Mengeluarkan
permen dari mulut di depan orang yang disuka? Oh My God.
“sorry, na. Gue gak
sengaja. Sumpah gak ada maksud buat ngagetin sama sekali” ucap Dicky terdengar
menyesal.
“i-iya ky. Gak papa
kok” ucap Reina gugup.
Dicky masih
memandang Reina dengan perasaan bersalah. “serius gak papa? Lo tadi sampe
batuk-batuk gitu”
Muka Reina langsung
memanas. “jangan dibahas lagi deh. Yang penting gue udah maafin lo. gue
permisi” ucap Reina terburu-buru meninggalkan Dicky.
Dicky memandang
punggung Reina dengan bingung. ia tadi hanya meminta maaf karena sudah
mengagetkan dia. Kenapa dia terlihat sangat gugup? Apa wajahnya begitu
menakutkan? Dicky menggaruk kepalanya dengan bingung.
“ky, kenapa lo?”
saut Bisma menghampiri Dicky. Dari jauh Dicky terlihat sangat bingung. Akhirnya
ia memilih untuk menghampirinya.
“itu tadi si Reina
aneh banget. Dia ngeliat gue kaya ngeliat hantu. Tadi gue gak sengaja ngagetin
dia, terus gue minta maaf. Dia keliatan gugup gitu. Terus langsung kabur
setelah dia bilang kalo dia maafin gue. Aneh kan?” jawab Dicky menaikkan
alisnya.
“emang lo kenapa
bisa gak sengaja ngagetin dia?” tanya Bisma.
“itu tadi gue mau
bilang kalo nanti sepulang sekolah ada rapat. Gak jadi deh karena dia udah
kabur duluan” jawab Dicky lagi.
“yaudah biar gue aja
yang bilang ke dia. Lo sih pas awal kenalan gak pasang wajah ramah. Dia kan
jadi ngira lo kejam. Haha” saut Bisma menertawakan Dicky.
“garing lo!” saut
Dicky meninju lengan Bisma dengan kesal.
***
“Huaaaaaaa!!!!”
Reina berteriak di tengah koridor sambil berlari ke kelasnya. Sepanjang koridor
ia terus dilihat oleh orang-orang yang ada disana. Tapi Reina tidak
memperdulikannya. Dia terus berlari menuju kelasnya.
“Reina?! Lo kenapa?”
saut Tamara bingung begitu melihat Reina masuk dengan menutupi kedua wajahnya.
“gue malu, raaa..
mau ditaruh dimana lagi muka gue ini? Gue mau keluar dari OSIS” saut Reina
merengek-rengek di pelukan Tamara.
“kenapa? Cerita dulu
deh sama gue. Ntar biar lo gak salah pilih keputusan” ucap Tamara menggiring Reina
ke bangkunya.
Setelah sedikit
tenang, Reina melepaskan tangannya dari wajahnya. “tadi kan gue lagi nyariin
Dicky, sambil makan lolipop. Tapi gak dapat. Eh tiba-tiba dia muncul dibelakang
gue sambil mukul pundak gue. Lo tau apa yang terjadi setelah itu?” saut Reina
merengut.
“ya mana gue tau. lo
kan belum cerita, dodol” jawab Tamara.
Reina mendelik
kesal. “lo jangan motong ucapan gue”
Tamara hanya
mengangguk dengan wajah kesal.
“jadi karena gue
kaget, permen yang gue makan keluar dari mulut gue!! Bisa lo bayangin gak?
Ngelakuin hal yang memalukan didepan cowok yang disuka. Gue malu, raa” saut
Reina mengacak-acak rambutnya.
Tamara tersenyum
geli. Namun ia berusaha menahan senyumannya agar tidak menyinggung perasaan
Reina. “jadi dia gimana reaksinya?” tanya Tamara.
“dia minta maaf sama
gue. Terus pas gue bilang udah maafin dia, dia malah bahas soal permen yang
keluar itu. kan gue malu. Akhirnya gue gak sengaja ngomong ketus ke dia. Terus
gue malah kabur. Gue bodoh yaa” cerita Reina menundukkan kepalanya di meja dan
menghentakkan kakinya dengan geram.
“jadi karena ini lo
mau keluar dari OSIS? Sayang loh, na. Lo udah punya kesempatan banyak buat
bareng sama Dicky. tapi kenapa malah lo sia-siain? Ayo pikirin lagi. ntar lo
malah nyesal dan ngorbanin gue buat jadi tempat sampah lo lagi” saran Tamara.
“tapi gue udah gak
punya muka lagi didepan dia, raa. Lo sih gak pernah ngelakuin sesuatu yang
memalukan didepan Bisma. Jadi lo gak ngerti” saut Reina masih menundukkan
kepalanya di meja.
“oke. Gausah bahas
masalah soal itu. yang mau gue tanya, pas Dicky bilang soal permen yang keluar
dari mulut lo itu, ekspresinya gimana? Melecehkan atau gak?” tanya Tamara
berusaha tenang. Ia tidak tenang kalau Reina membahas soal perasaannya ke
Bisma.
Reina terlihat
sedang mengingat-ingat. “dia keliatan ngerasa bersalah karena udah ngagetin
gue” jawab Reina pelan.
“nah! Dari situ aja
udah bisa dilihat kalo Dicky gak merhatiin soal itu. dia ngerasa bersalah,
bukannya malah ngeledekin lo, kan? harusnya lo ngerti dong. Jangan main tuduh
gitu aja. kalo lo gini terus, lo akan selalu buat keputusan yang bikin lo
menyesal” nasihat Tamara.
“iya deh iya. Maaf.
Habis gue kan panik banget. Mana sempat mikir panjang” ucap Reina sedikit
merengut.
“yaudah kalo dikasih
tau jangan pasang muka jelek gitu. Jadi orang harus bisa terima kritikan dari
orang lain supaya lo bisa jadi orang yang lebih baik lagi” lanjut Tamara.
“iya, bu Tamara.
Reina sudah mengerti” saut Reina tersenyum sedikit terpaksa. Namun ia berjanji
akan selalu bisa mendengar kritikan dari orang lain. Karena Reina yakin kalau
kata-kata Tamara sangat benar.
“okelah kalo gitu.
Sekian pelajaran dari saya” ucap Tamara sok baku sambil tersenyum kecil.
“Reina! Lo dipanggil
tuh” saut Rahma.
Reina menoleh ke
pintu kelasnya. “siapa yang manggil gue?” tanya Reina penasaran. Ia mulai
berjalan ke arah pintu.
“kakak kelas. Yang
pernah ngumumin soal OSIS dikelas kita. Yang lo dipilih itu. ganteng banget.
Kenalin dong ke gue” saut Rahma mulai genit.
Reina melirik Rahma
dengan aneh. “dasar genit” desis Reina. Namun didalam hatinya ia terus menebak
siapa yang memanggilnya. Tapi ia jadi punya firasat kalau yang memanggilnya itu
adalah Dicky. ada apa ya sampai Dicky menghampirinya kesini? Gimana kalau ia
masih terlihat gugup karena soal yang tadi?
“Reina! Ada pesan
dari Dicky” saut Bisma begitu melihat Reina keluar dari kelasnya.
Begitu melihat
Bisma, Reina merasa lega dan kecewa. Tapi karena ada nama Dicky, ia sedikit
merasa senang. “pesan apaan?” tanya Reina.
“dia bilang kalo
nanti pulang sekolah kita ada rapat. Tadi padahal dia udah mau bilang ke lo.
tapi lo malah kabur” jawab Bisma.
Reina langsung salah
tingkah. “oh soal tadi ya. Itu tadi gue buru-buru ke toilet. Udah gak tahan
lagi. jadi bilang ke dia yah kalo gue minta maaf” jelas Reina berbohong.
Bisma mengangguk.
“oke. Dia bakalan ngerti kok” ucap Bisma tersenyum. “jadi lo bisa kan ikutan
rapat ntar siang?”
Reina tersenyum.
“bisa kok. Tenang aja”
“yaudah kalo gitu.
Gue balik ke kelas gue ya. Sampai jumpa di ruang rapat nanti siang” ucap Bisma
ramah lalu pergi meninggalkan Reina.
Reina masih terdiam
di depan kelasnya. Perasaannya sedikit bingung. kenapa saat ia bersama Bisma
justru merasa tenang? Tapi kenapa saat ia bersama Dicky, orang yang disukainya,
malah merasa sangat gelisah? Apa karena ia punya perasaan dengan Dicky?
“siapa sih yang
manggil lo tadi?” tanya Tamara menghampiri Reina.
Reina tersadar dari
lamunannya. “itu tadi si Bisma bilang kalo gue nanti siang disuruh ikutan rapat
sama Dicky” jawab Reina.
Ekspresi Tamara
langsung berubah. “kenapa bukan Dicky aja yang langsung bilang ke lo?”
“ya tadi dia mau
bilang ke gue. Tapi karena tadi gue kabur karena malu, jadinya dia titip pesan
sama Bisma. Itu kata Bisma sih” jawab Reina dengan ekspresi kecewa.
Tamara hanya
mengangguk-angguk. “lo udah dekat banget ya sama Bisma?”
Reina menangkap nada
aneh di suara Tamara. Ia langsung menyadarinya. “ra, jangan bilang kalo lo
cemburu sama gue” saut Reina menyipitkan mata.
Tamara langsung
salah tingkah. “g-gak kok. Si-siapa bilang?”
“tuh lo sampe gagap
gitu. Ngaku deh lo” saut Reina tersenyum geli. “tenang aja, ra. Gue gak dekat
kok sama Bisma. Sekedar hubungan kakak-adik kelas aja. Ditambah dia wakil ketua
kegiatan. Lo kan tau kalo gue sukanya sama Dicky” jelas Reina mengedipkan
sebelah matanya.
“apa sih? Gue gak
masalah kok” saut Tamara bohong. Dalam hatinya ia merasa lega karena Reina
mengerti perasaannya dan mau menjelaskan padanya tanpa harus ia tanya.
TO BE
CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar