“Diki!!!”
teriak seorang cewek sambil mendekati cowok imut berbehel yang memandangnya
dengan tampang pasrah.
“plis
lo jangan buat gue malu kayak gini ky. Teriak gak jelas. Emang lo kira sekolah
ini hutan apa?” saut Diki kepada kembarannya.
“waduh.
Gaya lo udah kayak kakak gue aja ky” saut Kiki.
“bego!
Gue emang kakak lo” saut Diki menjitak kepala Kiki.
“ya
tapi Cuma beda 2 menit aja kan? Sok banget sih lo” ucap Kiki cemberut.
“kapan
sih lo dewasanya? Udah SMA juga” saut Diki pelan.
“iya
deh kak Diki. Maafkan kembaranmu ini yah” ucap Kiki tersenyum manis.
“nah
gitu dong minta maaf. Yaudah sini ayo ke kelas bareng” ajak Diki yang
mengulurkan tangannya ke arah Kiki balas tersenyum.
Hari
ini adalah hari pertama mereka berdua kembali sekolah setelah libur pasca ujian
semester. Sekarang keduanya berumur 16
tahun dan duduk di kelas 2 SMA. Mereka bersekolah di salah satu sekolah
ternama di Jakarta Timur, yaitu SMA Negeri 48.
Mereka
adalah kedua anak kembar berbeda jenis kelamin. Dicky Muhammad Prasetya yang
biasa dipanggil Diki adalah anak pertama. Sedangkan Kiky Nanda Samira yang
biasa dipanggil Kiki, adalah anak kedua yang lahir setelah 2 menit lahirnya
Diki.
“ky!!!!”
saut Rangga dari belakang.
Diki
dan Kiki menoleh secara bersamaan. Rangga yang menyadari kebodohannya langsung
tertawa salah tingkah. “maap ky. Gue panggil si Kiki. Bukan lo”
“dasar
lo Ga. Panggil lengkap dong. Capek gue tiap tahun diPHPin gini” saut Diki
sambil mendengus.
“maap
ky. Gak gue ulangin lagi deh” saut Rangga lagi.
“yaudah
deh. Gue duluan ya. Gue gak mau jadi obat nyamuk kalian yang lagi pacaran” saut
Diki jalan duluan.
“apaan
sih? Gue sama Rangga gak pacaran kali” saut Kiki.
Diki
hanya bisa diam sambil terus berjalan. Tapi dalam hatinya, Gue harap apa yang lo ucapin itu berlaku buat selamanya.
“ky,
jangan jutek gitu sama kaka sendiri” ucap Rangga menarik Kiki untuk berjalan
disampingnya.
“iya.
Tapi dianya juga yang ngeselin. Cara ngomongnya itu loh” saut Kiki geregetan.
“mungkin lagi
galau soal cewek?” jawab Rangga sok tau.
“sok tau lo. Tapi
gue heran aja gitu. Perasaan, banyak loh cewek yang nembak dia. Tapi kenapa
ditolakin semua yah?”
“ya
mungkin dia ada suka cewek lain gitu. Tapi dia gak berani nembak. Bisa aja
kan?”
“iya
sih. Tapi kok Diki gak gentle gitu sih?”
“yaudah
ah gausah ngurusin orang. Mending mikirin hubungan kita aja” saut Rangga
mengedipkan mata dengan genit lalu merangkul mesra pundak Kiki.
“preeetttt.
Emang kita ada hubungan apa Ga?” ledek Kiki sambil melepaskan rangkulan Rangga.
“kita
kan pacaran sih beib” ucap Rangga berlebihan.
“ngarep!
Kita cukup sahabatan aja. Masih kelas 2 SMA nih” saut Kiki mencubit pipi Rangga
dan langsung kabur.
Rangga
tertawa sambil mengejar Kiki yang lari ke kelas. Gue tetap berharap kita bisa lebih dari sahabat. Gue percaya, gue bisa
nunggu sampe itu terjadi, ucap Rangga dalam hati.
***
Kiki
membereskan buku-bukunya. Disebelahnya, ada Diki yang membaca sebuah surat
berwarna pink.
“Ky,
dapat surat cinta lagi ya? Dari siapa?” tanya Kiki sambil melirik kearah surat
yang dibaca Diki.
“dari
Sophia. Minta ketemuan di taman pulang sekolah ini” jawab Diki santai sambil
melipat suratnya.
“yaudah
lo sekarang temuin dia aja. Anaknya kan lumayan cantik tuh” ucap Kiki semangat.
“males
ah. Pasti dia mau nembak gue kaya cewek-cewek lain. Gampang ditebak”
“Diki
bego! Sampe kapan sih lo bersikap ogah-ogahan sama cewek? Bisa-bisa lo disangka
gak suka cewek Ky”
“bodo
amat lah. Gue gak perduli sama semua ocehan mereka” ucap Diki sambil keluar
dari kelas yang udah sepi. Hanya tinggal beberapa orang aja yang masih dikelas
termasuk Rangga.
“Coba
lo temuin si Sophia itu. Mana tau dia mau bicara penting sama lo” saut Kiki
menahan Diki.
“bisa
gak gausah ikut campur urusan gue?! Gue udah suka sama cewek lain. Jadi jangan
paksa gue buat tanggapin hal-hal gak penting kayak gini lagi!” bentak Diki
sambil mendorong Kiki dengan kasar.
Kiki
terdiam kaget. Baru kali ini dia mendapat perlakuan kasar dari kakaknya itu.
Semua orang yang masih dikelas pun terkaget melihat kemarahan Diki. Rangga cepat-cepat
menghampiri Kiki.
“Ky,
lo gak kenapa-napa kan?” saut Rangga.
“Ga,
Diki kok jadi kasar sama gue gini ya?” tanya Kiki bingung.
“kan
udah gue bilang. Jangan urusin si Diki. Lo liat akibatnya kan? Dia marah besar
sama lo”
“gue
Cuma kasian sama Sophia Ga. Dia sekarang pasti lagi nungguin Diki sementara
Diki gak mau nemuin dia”
“yaudah.
Sekarang kita ke taman buat bilang ke Sophia kalo Diki gak bisa datang nemuin
dia. Gue yang antar lo” ucap Rangga sambil menarik Kiki.
***
Kiki
berjalan cepat menghampiri Sophia yang duduk sendiri di bangku taman. Namun
tinggal beberapa langkah lagi, Kiki ditarik Rangga untuk menjauh dan
bersembunyi dibalik semak-semak.
“ngapain
sih Ga kita sembunyi? Ada teroris lewat?” saut Kiki kesal.
“hush!
Coba lo diam terus liat ke arah bangku taman yang didudukin Sophia tadi!”
perintah Rangga.
Kiki
menoleh dan melihat kearah yang ditunjuk Rangga. Ia melihat Sophia seperti
sedang berbicara dengan seseorang. Pelan-pelan ia dapat melihat seseorang itu.
Dan ternyata dia adalah, “Diki!” teriak Kiki secara spontan.
Cepat-cepat
Rangga menutup mulut Kiki dengan erat dan merundukkannya semakin dalam
kesemak-semak agar Diki dan Sophia yang mulai mencari-cari asal suara, tidak
menyadari keberadaan mereka.
“ya ampun
Kiki. Lo berisik banget ya. Hampir aja nih ketauan” saut Rangga pelan-pelan
melepas tangannya dari mulut Kiki.
“gue kaget tau
ada Diki disana. Kan dia tadi bilang, dia gak mau tanggapin hal yang gak
penting kayak gini” bisik Kiki.
“yah mungkin
dijalan dia berubah pikiran terus datang kesini deh” ucap Rangga.
Kiki
memperhatikan Sophia dan Diki. Ia juga mencoba mendengarkan percakapan mereka.
Begitupun dengan Rangga.
“ky, gue cuma
mau bilang kalo gue... gue.... gue suka sama lo” ucap Sophia gugup.
Diki tersenyum
simpul. “lo kelas XI IPA 2 ya?” tanya Diki.
Sophia
mengangguk heran. “lo tau dari mana? Kayaknya gue gak ada nulis kelas gue
disana”
“itu gak
penting. Kenapa lo suka sama gue?” tanya Diki lembut.
“ehm... karena
menurut gue, lo itu baik, ramah, lembut, dan imut” ucap Sophia agak takut.
“Cuma karena
itu lo bisa suka sama gue?” tanya Diki lagi masih sama lembutnya.
Sophia hanya
mengangguk.
“Sophia, itu
artinya lo gak suka sama gue. Lo cuma kagum sama gue. Gimana kalo lo jadi
sahabatnya gue aja?” ucap Diki.
“jadi lo nolak
gue ya?” tanya Sophia polos.
“gue gak nolak
lo karena lo gak pernah nembak gue. Ucapan lo tadi hanya ucapan yang jujur dari
hati lo yang kagum sama gue” ucap Diki masih tersenyum.
“tapi, gue
boleh tanya satu hal?” tanya Sophia. Diki hanya mengangguk.
“kenapa lo
selalu nolak semua cewek yang nembak lo? Gue tau kalo lo sering ditembak
cewek-cewek disekolah kita termasuk kakak kelas 3. Apa lo gak suka cewek?”
tanyanya polos.
Diki tertawa
kecil. “Sophia, gue masih suka sama cewek kok. Tapi dari semua cewek yang
nembak gue, gak ada yang gue suka. Gak mungkin kan gue nerima mereka?”
“iya juga sih.
Apa lo udah suka sama cewek lain? Emang gimana sih tipe cewek yang lo suka?”
“iya. Gue udah
suka sama cewek lain. Tipe yang gue suka? Gue suka cewek yang ceria, gak suka
jaim, dan gak pernah mengenal kata pantang menyerah” ucap Diki sambil tertawa.
“ternyata lo
udah suka sama cewek lain ya?” tanya Sophia.
Diki
mengangguk kecil. “lo gak perlu sedih. Kan lo sekarang udah jadi sahabatnya gue.
Sahabat lebih dekat daripada pacar loh” ucap Diki mengacak-acak rambut Sophia.
Sophia
mengangguk sambil tertawa lepas. Diki yang sengaja membeli layang-layangan
sebelum ke taman ini, mengajak Sophia bermain.
Di balik semak-semak,
Kiki melihatnya dengan penuh iri. “Ga, kenapa gue gak bisa sedekat itu sama
Diki? Gue gak pernah tuh diajak main layangan sama dia. Kenapa malah Sophia?”
Rangga menarik
Kiki perlahan keluar dari semak-semak dan membawanya ke motor. Ia membawa Kiki
ke sebuah toko boneka kesukaannya, Kiki dan Diki.
“wah,
stitch!!” saut Kiki terlihat gembira begitu melihat Stitch, boneka kesukaannya.
Rangga
tersenyum meledek. “apa sih bagusnya stitch? Bagusan doraemon gue nih” ucap
Rangga memperlihatkan sebuah boneka kesukaannya.
“doraemon? Robot
gak jelas bentuknya apaan. Kucing apa musang tuh?” ledek Kiki.
“yaelah.
Daripada stitch. Alien jelek, gigi kuning, seram lagi. Gak ada bagus-bagusnya”
balas Rangga meledek.
“weeiittss!!
Anda salah besar! Stitch adalah alien terimut sepanjang masa” saut Kiki memeluk
salah satu boneka stitch.
“okee.. anda
juga salah besar. Karena doraemon adalah robot bentuk kucing tercanggih dari
abad 22” saut Rangga menunjuk salah satu boneka doraemon.
“jadi, semua
boneka kesukaan kita adalah boneka terbaik!!” ucap keduanya berbarengan lalu
tertawa.
“wah wah. Toko
ini selalu rame yah kalo kalian datang kesini” sapa pegawai toko.
“pasti dong
mbak. Kita kan selalu membawa keceriaan” saut Kiki pede.
“haha. Oh ya,
Diki gak ikut sama kalian nih? Biasa bertiga. Tambah rame kalo udah bertiga.
Satu suka stitch. Satu suka doraemon. Satunya lagi suka rilakuma tapi suka
rebutan stitch juga. Haha” ucap pegawai toko sambil tertawa.
“iya nih. Diki
tadi ada urusan, jadi gak bisa datang kesini. Dia mau nitip rilakuma aja
katanya” ucap Rangga. Kiki melirik Rangga dengan heran. Rangga membalas dengan
mengedipkan sebelah matanya. Kiki akhirnya mengerti.
“oh, kebetulan
nih. Stok rilakuma, doraemon, sama stitch yang original terbaru semua. Pada mau
beli?” tawar pegawai toko.
“pasti dong
mbak. Aku mau liat-liat stitch dulu ya. Sekalian pilih-pilih rilakuma buat
Diki” ucap Kiki langsung berlari ke rak dimana banyak boneka stitch dan
rilakuma.
“rangga juga
mau pilih-pilih doraemonnya?” tawar pegawai toko.
“iya nih.
Kebetulan kamar belum penuh sama doraemon. Jadi mau beli lagi haha” ucap Rangga
bercanda.
“wah, mau
sepenuh apalagi kamarnya? Kamu kan tiap bulan kesini beli 2 boneka, gak
kebayang deh udah 5 tahun selalu kesini kamarnya sepenuh apa haha” balas
pegawai toko itu.
“mbak hapal
aja ya sejak kapan aku kesini. Ngefans sama aku yah mbak?” saut Rangga pede.
“bukan ngefans
sama kamu. Tapi dari semua pengunjung toko ini, kalian bertiga yang paling
mencolok dan yang paling setia sama toko ini” ucap penjaga toko itu sambil
tertawa.
“mbak bisa aja
haha”
“yaudah
silahkan dipilih doraemonnya. Terbaru semua deh ini. Dijamin bagus dan murah
haha” ucap mbak itu meninggalkan Rangga dan melayani pengunjung lain.
Rangga
berjalan kearah Kiki yang sibuk memilih boneka. “lo ngerti maksud kedipan mata
gue tadi kan Ky?”
Kiki menoleh
dan mengangguk. “lo mau gue ngasih boneka rilakuma buat dia sebagai permintaan
maaf soal tadi kan?”
“nah. Tepat
sekali. Yaudah lo pilih-pilih aja deh. Gue mau liat-liat doraemon dulu” ucap
Rangga menepuk pundak Kiki pelan lalu pergi meninggalkan Kiki.
Beberapa menit
kemudian, Diki dan Sophia masuk ke dalam toko boneka itu. Mereka datang ketoko
itu atas ajakan Sophia yang mau melihat-lihat boneka domokun kesukaannya.
Ketika Diki
dan Sophia asik melihat-lihat, Rangga dan Kiki yang kebetulan sedang dikasir,
melihat mereka berdua.
“Diki? Lo
kesini juga? Sama Sophia?” tanya Kiki pelan saat menyebut nama Sophia.
“Kiki? Rangga?
Kalian juga ada disini? Ini gue lagi nganterin Sophia liat-liat domokun” jawab
Diki heran sekaligus kaget.
“oh nganterin
Sophia. Yaudah deh kita duluan” ucap Kiki sedikit ketus dan menarik Rangga
untuk cepat keluar.
Melihat
perubahan nada suara Kiki, Diki mengejarnya. Dibelakangnya, Sophia juga ikutan.
“lo kenapa?
Gue Cuma nganterin Sophia ke sini kok” tahan Diki.
“buat apa lo
jelasin ini ke gue?” tanya Kiki mencoba tidak bersuara ketus.
“gue,
gue juga gak tau kenapa gue ngejelasin ke lo. Gue Cuma takut lo marah sama gue”
saut Diki bingung.
“buat
apa gue marah sama lo? Kita Cuma saudara kan?” jawab Kiki.
“gue
tau lo marah sama gue. Lo lupa kita kembar?”
“gue gak
marah! Gue Cuma gak suka lo lebih dekat sama Sophia daripada gue! Gue adek lo!”
teriak Kiki sambi menangis. Rangga melihatnya kaget dan langsung merangkul
Kiki. Diki juga keliatan kaget melihat apa yang dilakukan Rangga.
“bukannya ini
mau lo? Lo mau gue dekat sama cewek lain kan? Kenapa sekarang lo yang gak
suka?” jawab Diki menahan emosi.
“gue gak tau
kenapa gue gak suka. Dan gue gak mau tau sama perasaan rumit gue sekarang” ucap
Kiki mengacak-acak rambutnya sendiri.
“udah ky.
Kalian urusin masalah kalian dirumah aja. Gak enak diliatin orang banyak gini.
Apalagi sama Sophia. Udah yuk Ky kita pulang” ucap Rangga kepada Diki kemudian
menarik Kiki lembut untuk ke motornya.
“dan asal lo
tau. Cewek yang selama ini gue suka itu lo Ky. Gue gak suka liat kedekatan lo
sama Rangga!” teriak Diki frustasi lalu pergi meninggalkan Sophia, Kiki dan
Rangga yang kaget.
***
“Rangga,
gue bingung. Gue bingung Ga” ucap Kiki menundukkan kepalanya ke meja belajar
dikamarnya.
Rangga
memperhatikan Kiki dengan lesu. Perasaannya juga bingung. Ia tidak pernah
menyangka kalau selama ini Diki mencintai adik kembarannya sendiri. Mencintai
cewek yang ia sukai selama 5 tahun ini.
“sekarang
kuncinya di lo Ky. Gimana perasaan lo ke Diki?” tanya Rangga berharap cemas.
“perasaan
gue? Perasaan gue ya kaya perasaan adik ke kakaknya dong” jawab Kiki membuat
Rangga bernapas lega.
“yaudah.
Jadi apa yang buat lo pusing?” tanya Rangga.
“ya
kalo Diki selama ini suka sama gue, berarti itu yang buat kita ada jarak?
Setelah gue tau perasaan dia, gue takut jadi makin jauh sama dia” jawab Kiki lesu.
“yah
lo berusaha jangan sampe buat jarak dong. Lo ini aneh deh” saut Rangga.
“yaudah
lo biasa aja ngasih sarannya. Gausah nyolot” saut Kiki kesal dan menghampiri
Rangga. Tapi karena emang dasarnya Kiki itu orangnya ceroboh, Kiki terpeleset
selimutnya yang jatuh dilantai.
Dengan
sigap Rangga nahan badan Kiki. Tapi secara bersamaan, “Kiki....” Diki membuka
pintu kamar Kiki lalu terdiam menahan emosi dan langsung menutup pintunya
kembali.
Cepat-cepat
Kiki keluar menyusul Diki. Ia tau, Diki cemburu melihatnya dengan Rangga. Ia
bisa merasakannya. Ia mendekati Diki lalu memeluknya dengan erat. “gue mohon
Ky, hilangin perasaan lo ke gue. Gue gak mau kita makin gak bisa dekat kayak
anak kembar yang lain”
“gue
gak tahan Ky selalu liat lo mesra sama Rangga. Gue gak tau sejak kapan perasaan
ini muncul” jawab Diki memutar badannya menghadap Kiki dan membalas pelukannya.
“lo
tau kan kalo kita gak mungkin bisa jadi sepasang kekasih? Gue harap lo tau itu”
ucap Kiki mencium pipi kakaknya dengan lembut.
Diki
terdiam. Ia melihat adiknya dengan penuh kasih sayang. Ia menatap kedua mata
adiknya dan menemukan jawaban disana. “ya, gak seharusnya gue punya perasaan
lebih sama lo. Maafin gue ya” ucap Diki memeluk Kiki kembali.
Kiki
tersenyum senang. Ia membalas pelukan Diki lebih erat. “tapi kalo lo udah bisa
move on dari gue, dan udah dapat pacar, jangan lupain gue ya. Harus tetap
sering jalan berdua” ucap Kiki manja.
“pastinya
dong. Bahkan ntar gue lebih sayang sama lo daripada sama pacar gue” jawab Diki.
“yeee
jangan gitu juga Ky. Kasian ntar yang jadi pacar lo” saut Kiki menjitak pelan
kepala Diki.
Diki tertawa
lepas. “kalo gitu, ntar kalo lo udah punya pacar, hubungan kita jangan jadi
jauh juga ya”
“itu sama aja
kali artinya sama permintaan gue. Jadi jawabannya pasti sama kaya lo tadi haha”
jawab Kiki tertawa.
Rangga
yang melihat dari ambang pintu kamar Kiki hanya bisa tersenyum senang. Ia
senang bisa melihat kedua sahabatnya bisa lebih dekat dari sebelumnya.
*sebulan kemudian*
“mbak,
stitch originalnya ada yang terbaru kan?” teriak Kiki saat baru masuk toko.
“yang
rilakuma juga ada kan mbak?” tanya Diki dari belakang Kiki.
“yang
doraemon juga ada yang terbaru kan? Original kan?” saut Rangga dari belakang
Diki.
“semuanya
tenang. Boneka-boneka kalian, stoknya baru semua. Silahkan langsung lihat ke
raknya dan jangan buat keributan disini” jawab pegawai toko ganas.
Dengan
cepat mereka lari kearah raknya. Ntah disengaja atau tidak, rak boneka yang
mereka sukai bersebelahan.
“asik
stitch astaga imut banget!!!!!” teriak Kiki memeluk satu-satu semua boneka
stitch dirak itu.
“iya
stitchnya bagus banget. Yang itu buat gue yah Ky” saut Diki mengambil stitch
yang ada ditangan Kiki.
“woy!
Ini stitch punya gue. Sana lo pilih rilakuma. Stitch itu punya gue!!” saut Kiki
ngerebut stitch itu dari tangan Diki.
“tapi
gue mau yang ini. Ini lucu banget” saut Diki ngerebut lagi.
“stitch
jelek gitu aja direbutin. Muka gak jelas, tangan ada berapa biji tuh?” saut
Rangga tenang.
“daripada
doraemon. Warna biru, berkumis panjang, gak jelas robot musang atau kucing”
balas Kiki.
“bener
banget. Doraemon miskin jari. Tangan sama kaki gak punya jari. Bulat” sambung
Diki.
“apaan
sih lo ikutan gue belain stitch? Sana ke rilakuma aja. Rilakuma mulut angka 3
tiduran. Haha” saut Kiki.
“setuju!
Boneka pemalas. Pantes badannya bulat gitu haha” saut Rangga.
“sembarangan.
Rilakuma itu ngegemesin tau” saut Diki.
“kalo gitu,
semua boneka kesukaan kita adalah boneka terbaik!!” ucap ketiganya berbarengan
lalu tertawa. Kata-kata inilah yang selalu menjadi akhir dari perdebatan soal
boneka mereka.
“nah. Apa
kalian sudah puas ributnya?” ucap pegawai toko yang sudah biasa mendengar
keributan mereka.
“udah mbak.
Haha” jawab mereka berbarengan.
“yaudah
silahkan dibayar bonekanya haha” canda pegawai itu.
“pasti dibayar
atuh mbak. Masa gak? Kan kita bukan maling” jawab Kiki bercanda juga.
“wah wah, pada
rame yah. Dari luar kedengaran loh suaranya” ucap Sophia yang muncul mendadak.
“nah loh. Kok
ada Sophia disini?” tanya Rangga sambil kode ke Kiki.
“ya pasti
diajak sama Diki dong Ga. Kan baru jadian kemarin uhuk” saut Kiki.
“aku gak
diajak siapa-siapa kok. Kebetulan aku lewat, terus mau beli domokun, yaudah deh
mampir kesini. Gak taunya ada kalian” jawab Sophia sambil tertawa.
“yah Pia gak
asik nih diajak buat ngeledekin Diki” saut Kiki pura-pura badmood.
“hayoloh Pia.
Kikinya ngambek haha” saut Diki.
“duh, pacarnya
sendiri bukannya belain, malah makin dipojokin” saut Rangga.
“udah deh ya gak
usah pada jadi kompor. Kiki sama Rangga juga jodoh kok” saut Sophia.
“preeetttt..
Pia gak nyambung banget sih” saut Kiki cemberut.
“udah deh
gausah cemberut gitu. Mana tau yang dibilang Pia bener” saut Rangga ngerangkul
Kiki.
“uhuk. Masih
ada kakaknya nih. Main rangkul aja” saut Diki sok batuk.
“akang masih
jealous sama aku? Haha” saut Kiki.
“pada
ngelantur nih semua. Udah bayar-bayar nih semua boneka. Karena Diki Sophia baru
jadian, mereka yang bayarin” ucap Rangga dorong Diki ke meja kasir.
“nah loh. Kok
jadi gue?!” saut Diki dan Sophia berbarengan.
“derita lo
haha” saut Rangga dan Kiki mengambil boneka mereka dan meninggalkan Diki dan
Sophia yang terkena pelototan maut mbak penjaga kasir.
***
Kiki
menghampiri Diki yang asik duduk-duduk disalah satu bangku taman. “Diki,
sebenernya ini boneka mau gue kasih dari sebulan yang lalu. Tapi gue baru
ingat” ucap Kiki sambil memberikan boneka rilakuma yang pernah dibelinya.
“hah? Sebulan
yang lalu? Lama banget” saut Diki kaget.
“iya. Sebenernya
ini boneka gue beli karena gue mau minta maaf sama lo karena gue udah maksa lo
buat dekat sama cewek” jawab Kiki.
“yaudah deh
diterima aja” ucap Diki ngambil rilakumanya.
“kok reaksi lo
kaya terpaksa gitu sih? errr” saut Kiki mencubit lengan Diki.
“yah abis lo
bicara sama gue datar banget. Ekspresi juga gak ada” saut Diki kesel.
“jadi gue
harus gimana? Ini yah kak Dicky bonekanya” saut Kiki senyum dibuat-buat.
“gila lo!”
saut Diki.
“serba salah
mah sama orang yang lagi jatuh cinta~” ucap Kiki.
“jangan
disangkut pautin bego!”
“yaudah biasa
aja”
“eh Ky, kalo
lo ditembak Rangga, langsung terima aja yah”
“apaan sih kok
nyambungnya kesana?”
“gakpapa. Gue
Cuma mau bilang aja”
“gue udah
jadian kali sama dia kemarin setelah ninggalin lo sama Sophia di toko boneka”
“APA?!” teriak
Diki didepan muka Kiki.
“woles bang.
Basah nih muka~” saut Kiki mengelap mukanya.
“serius lo
udah jadian sama Rangga? Kenapa gak cerita sama gue?!”
“emang lo
siapa? Penting gitu buat kita kasih tau?” saut Rangga yang muncul langsung gandeng
tangan Kiki. Dibelakangnya ada Sophia.
“loh, sejak kapan
lo di sana Ga? Pia juga ada” saut Kiki kaget.
“sejak aku
mencintaimu~” jawab Rangga.
“gombal basi
itu Ga haha” saut Kiki tertawa.
“woy! Kalian
beneran udah jadian? Longlast ya~” ucap Diki senang.
“thanks bro.
Doain langgeng yah. Haha” jawab Rangga.
“doain gue
sama Pia langgeng juga dong” ucaap Diki menarik Sophia untuk berdiri
disebelahnya.
“pasti dong
pasti haha” ucap Rangga tertawa. Kiki ikutan tertawa melihat wajah tersipu dari
Sophia.
“kalian
beneran jadian? Kalo gitu coba ulang cara lo nembak Kiki Ga” pinta Diki.
Sophia
mengangguk setuju. “bener tuh. Gue juga penasaran haha”
“Diki Sophia!
Apaan sih kalian? Kepo banget” saut Kiki cemberut.
“gini yah Ky,
Pia. perhatiin baik-baik” ucap Rangga kepada Diki dan langsung berlutut didepan
Kiki.
“eh, lo serius
mau ngulangin? Buat malu ah” saut Kiki panik.
“udah lo diam
aja” ucap Rangga.
“Ky,
sebenernya gue menyimpan rasa cinta sama lo. Jangan tanya kenapa gue cinta sama
lo, karna gue gak punya alasan. Perasaan gue ini tulus, tapi gue tau kalo gue
gak boleh egois buat memaksakan lo suka sama gue. Gue Cuma mau lo tau perasaan
gue selama ini. Jadi pikirin baik-baik sebelum lo putusin. Gue tunggu jawaban
lo YA atau TIDAK” ucap Rangga sama seperti kejadian kemarin di taman ini juga.
Lagi-lagi Kiki
terpesona dengan ketegasan Rangga. Lagi-lagi ia terdiam membisu. Namun
cepat-cepat ia mengangguk lalu tersipu malu begitu mengingat ada Diki dan
Sophia yang memperhatikan mereka.
Diki dan
Sophia bertepuk tangan meriah. “gila! Gue baru tau kalo lo romantis Ga” ucap
Diki menepuk pundak Rangga.
“pasti dong.
Terus kemarin gue juga nyium dia kaya gini” ucap Rangga langsung mencium bibir
Kiki sekilas. Tanpa sadar, Sophia berteriak tertahan karena kaget melihat apa
yang dilakukan Rangga.
Kiki terdiam.
Setelah sadar dari kekagetannya, “Rangga! Kemarin lo gak ada ngelakuin ini.
Sialan lo!” saut Kiki berteriak marah.
Diki yang
awalnya kaget, kemudian malah tertawa keras. “wah, berani yah lo cium adek gue
didepan gue langsung gini”
“jagain adek
gue yah. Tapi jangan rebut perhatian dia dari gue” bisik Diki pada Rangga.
Rangga tersenyum lalu mengacungkan jempolnya.
“kalian
bisik-bisik apa sih?” saut Kiki ingin tau.
“ini urusan
laki-laki” ucap Rangga dan Diki berbarengan membuat Kiki memajukan bibirnya
beberapa senti.
Sophia yang
diam memerhatikan, ikut tertawa melihat wajah Kiki. “Ky, muka lo itu loh haha”
“Pia kok malah
ikutan mereka sih? Harusnya lo dipihak gue” ucap Kiki manja.
“udah deh
udah. Gimana kalo kita rayain jadiannya kita malam minggu besok? Double date
gitu?” ucap Diki yang diikuti anggukan setuju dari yang lain.
“SATNIGHT, I’M
COMING!!!!” teriak kami bersama-sama.
Kebahagiaan
tidak perlu dikejar sampai ke negeri jauh. Karena kebahagiaan berasal dari diri
sendiri dan juga orang-orang di sekitar kita. Itulah yang dialami mereka.
Semoga cinta membuat mereka bersatu selamanya.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar