Minggu, 10 Maret 2013

Diki dan Kiki


                “Diki!!!” teriak seorang cewek sambil mendekati cowok imut berbehel yang memandangnya dengan tampang pasrah.
                “plis lo jangan buat gue malu kayak gini ky. Teriak gak jelas. Emang lo kira sekolah ini hutan apa?” saut Diki kepada kembarannya.
                “waduh. Gaya lo udah kayak kakak gue aja ky” saut Kiki.
                “bego! Gue emang kakak lo” saut Diki menjitak kepala Kiki.
                “ya tapi Cuma beda 2 menit aja kan? Sok banget sih lo” ucap Kiki cemberut.
                “kapan sih lo dewasanya? Udah SMA juga” saut Diki pelan.
                “iya deh kak Diki. Maafkan kembaranmu ini yah” ucap Kiki tersenyum manis.
                “nah gitu dong minta maaf. Yaudah sini ayo ke kelas bareng” ajak Diki yang mengulurkan tangannya ke arah Kiki balas tersenyum.
                Hari ini adalah hari pertama mereka berdua kembali sekolah setelah libur pasca ujian semester. Sekarang keduanya berumur 16  tahun dan duduk di kelas 2 SMA. Mereka bersekolah di salah satu sekolah ternama di Jakarta Timur, yaitu SMA Negeri  48.
                Mereka adalah kedua anak kembar berbeda jenis kelamin. Dicky Muhammad Prasetya yang biasa dipanggil Diki adalah anak pertama. Sedangkan Kiky Nanda Samira yang biasa dipanggil Kiki, adalah anak kedua yang lahir setelah 2 menit lahirnya Diki.
                “ky!!!!” saut Rangga dari belakang.
                Diki dan Kiki menoleh secara bersamaan. Rangga yang menyadari kebodohannya langsung tertawa salah tingkah. “maap ky. Gue panggil si Kiki. Bukan lo”
                “dasar lo Ga. Panggil lengkap dong. Capek gue tiap tahun diPHPin gini” saut Diki sambil mendengus.
                “maap ky. Gak gue ulangin lagi deh” saut Rangga lagi.
                “yaudah deh. Gue duluan ya. Gue gak mau jadi obat nyamuk kalian yang lagi pacaran” saut Diki jalan duluan.
                “apaan sih? Gue sama Rangga gak pacaran kali” saut Kiki.
                Diki hanya bisa diam sambil terus berjalan. Tapi dalam hatinya, Gue harap apa yang lo ucapin itu berlaku buat selamanya.
                “ky, jangan jutek gitu sama kaka sendiri” ucap Rangga menarik Kiki untuk berjalan disampingnya.
                “iya. Tapi dianya juga yang ngeselin. Cara ngomongnya itu loh” saut Kiki geregetan.
“mungkin lagi galau soal cewek?” jawab Rangga sok tau.
“sok tau lo. Tapi gue heran aja gitu. Perasaan, banyak loh cewek yang nembak dia. Tapi kenapa ditolakin semua yah?”
                “ya mungkin dia ada suka cewek lain gitu. Tapi dia gak berani nembak. Bisa aja kan?”
                “iya sih. Tapi kok Diki gak gentle gitu sih?”
                “yaudah ah gausah ngurusin orang. Mending mikirin hubungan kita aja” saut Rangga mengedipkan mata dengan genit lalu merangkul mesra pundak Kiki.
                “preeetttt. Emang kita ada hubungan apa Ga?” ledek Kiki sambil melepaskan rangkulan Rangga.
                “kita kan pacaran sih beib” ucap Rangga berlebihan.
                “ngarep! Kita cukup sahabatan aja. Masih kelas 2 SMA nih” saut Kiki mencubit pipi Rangga dan langsung kabur.
                Rangga tertawa sambil mengejar Kiki yang lari ke kelas. Gue tetap berharap kita bisa lebih dari sahabat. Gue percaya, gue bisa nunggu sampe itu terjadi, ucap Rangga dalam hati.
***
                Kiki membereskan buku-bukunya. Disebelahnya, ada Diki yang membaca sebuah surat berwarna pink.
                “Ky, dapat surat cinta lagi ya? Dari siapa?” tanya Kiki sambil melirik kearah surat yang dibaca Diki.
                “dari Sophia. Minta ketemuan di taman pulang sekolah ini” jawab Diki santai sambil melipat suratnya.
                “yaudah lo sekarang temuin dia aja. Anaknya kan lumayan cantik tuh” ucap Kiki semangat.
                “males ah. Pasti dia mau nembak gue kaya cewek-cewek lain. Gampang ditebak”
                “Diki bego! Sampe kapan sih lo bersikap ogah-ogahan sama cewek? Bisa-bisa lo disangka gak suka cewek Ky”
                “bodo amat lah. Gue gak perduli sama semua ocehan mereka” ucap Diki sambil keluar dari kelas yang udah sepi. Hanya tinggal beberapa orang aja yang masih dikelas termasuk Rangga.
                “Coba lo temuin si Sophia itu. Mana tau dia mau bicara penting sama lo” saut Kiki menahan Diki.
                “bisa gak gausah ikut campur urusan gue?! Gue udah suka sama cewek lain. Jadi jangan paksa gue buat tanggapin hal-hal gak penting kayak gini lagi!” bentak Diki sambil mendorong Kiki dengan kasar.
                Kiki terdiam kaget. Baru kali ini dia mendapat perlakuan kasar dari kakaknya itu. Semua orang yang masih dikelas pun terkaget melihat kemarahan Diki. Rangga cepat-cepat menghampiri Kiki.
                “Ky, lo gak kenapa-napa kan?” saut Rangga.
                “Ga, Diki kok jadi kasar sama gue gini ya?” tanya Kiki bingung.
                “kan udah gue bilang. Jangan urusin si Diki. Lo liat akibatnya kan? Dia marah besar sama lo”
                “gue Cuma kasian sama Sophia Ga. Dia sekarang pasti lagi nungguin Diki sementara Diki gak mau nemuin dia”
                “yaudah. Sekarang kita ke taman buat bilang ke Sophia kalo Diki gak bisa datang nemuin dia. Gue yang antar lo” ucap Rangga sambil menarik Kiki.
***
                Kiki berjalan cepat menghampiri Sophia yang duduk sendiri di bangku taman. Namun tinggal beberapa langkah lagi, Kiki ditarik Rangga untuk menjauh dan bersembunyi dibalik semak-semak.
                “ngapain sih Ga kita sembunyi? Ada teroris lewat?” saut Kiki kesal.
                “hush! Coba lo diam terus liat ke arah bangku taman yang didudukin Sophia tadi!” perintah Rangga.
                Kiki menoleh dan melihat kearah yang ditunjuk Rangga. Ia melihat Sophia seperti sedang berbicara dengan seseorang. Pelan-pelan ia dapat melihat seseorang itu. Dan ternyata dia adalah, “Diki!” teriak Kiki secara spontan.
Cepat-cepat Rangga menutup mulut Kiki dengan erat dan merundukkannya semakin dalam kesemak-semak agar Diki dan Sophia yang mulai mencari-cari asal suara, tidak menyadari keberadaan mereka.
“ya ampun Kiki. Lo berisik banget ya. Hampir aja nih ketauan” saut Rangga pelan-pelan melepas tangannya dari mulut Kiki.
“gue kaget tau ada Diki disana. Kan dia tadi bilang, dia gak mau tanggapin hal yang gak penting kayak gini” bisik Kiki.
“yah mungkin dijalan dia berubah pikiran terus datang kesini deh” ucap Rangga.
Kiki memperhatikan Sophia dan Diki. Ia juga mencoba mendengarkan percakapan mereka. Begitupun dengan Rangga.
“ky, gue cuma mau bilang kalo gue... gue.... gue suka sama lo” ucap Sophia gugup.
Diki tersenyum simpul. “lo kelas XI IPA 2 ya?” tanya Diki.
Sophia mengangguk heran. “lo tau dari mana? Kayaknya gue gak ada nulis kelas gue disana”
“itu gak penting. Kenapa lo suka sama gue?” tanya Diki lembut.
“ehm... karena menurut gue, lo itu baik, ramah, lembut, dan imut” ucap Sophia agak takut.
“Cuma karena itu lo bisa suka sama gue?” tanya Diki lagi masih sama lembutnya.
Sophia hanya mengangguk.
“Sophia, itu artinya lo gak suka sama gue. Lo cuma kagum sama gue. Gimana kalo lo jadi sahabatnya gue aja?” ucap Diki.
“jadi lo nolak gue ya?” tanya Sophia polos.
“gue gak nolak lo karena lo gak pernah nembak gue. Ucapan lo tadi hanya ucapan yang jujur dari hati lo yang kagum sama gue” ucap Diki masih tersenyum.
“tapi, gue boleh tanya satu hal?” tanya Sophia. Diki hanya mengangguk.
“kenapa lo selalu nolak semua cewek yang nembak lo? Gue tau kalo lo sering ditembak cewek-cewek disekolah kita termasuk kakak kelas 3. Apa lo gak suka cewek?” tanyanya polos.
Diki tertawa kecil. “Sophia, gue masih suka sama cewek kok. Tapi dari semua cewek yang nembak gue, gak ada yang gue suka. Gak mungkin kan gue nerima mereka?”
“iya juga sih. Apa lo udah suka sama cewek lain? Emang gimana sih tipe cewek yang lo suka?”
“iya. Gue udah suka sama cewek lain. Tipe yang gue suka? Gue suka cewek yang ceria, gak suka jaim, dan gak pernah mengenal kata pantang menyerah” ucap Diki sambil tertawa.
“ternyata lo udah suka sama cewek lain ya?” tanya Sophia.
Diki mengangguk kecil. “lo gak perlu sedih. Kan lo sekarang udah jadi sahabatnya gue. Sahabat lebih dekat daripada pacar loh” ucap Diki mengacak-acak rambut Sophia.
Sophia mengangguk sambil tertawa lepas. Diki yang sengaja membeli layang-layangan sebelum ke taman ini, mengajak Sophia bermain.
Di balik semak-semak, Kiki melihatnya dengan penuh iri. “Ga, kenapa gue gak bisa sedekat itu sama Diki? Gue gak pernah tuh diajak main layangan sama dia. Kenapa malah Sophia?”
Rangga menarik Kiki perlahan keluar dari semak-semak dan membawanya ke motor. Ia membawa Kiki ke sebuah toko boneka kesukaannya, Kiki dan Diki.
“wah, stitch!!” saut Kiki terlihat gembira begitu melihat Stitch, boneka kesukaannya.
Rangga tersenyum meledek. “apa sih bagusnya stitch? Bagusan doraemon gue nih” ucap Rangga memperlihatkan sebuah boneka kesukaannya.
“doraemon? Robot gak jelas bentuknya apaan. Kucing apa musang tuh?” ledek Kiki.
“yaelah. Daripada stitch. Alien jelek, gigi kuning, seram lagi. Gak ada bagus-bagusnya” balas Rangga meledek.
“weeiittss!! Anda salah besar! Stitch adalah alien terimut sepanjang masa” saut Kiki memeluk salah satu boneka stitch.
“okee.. anda juga salah besar. Karena doraemon adalah robot bentuk kucing tercanggih dari abad 22” saut Rangga menunjuk salah satu boneka doraemon.
“jadi, semua boneka kesukaan kita adalah boneka terbaik!!” ucap keduanya berbarengan lalu tertawa.
“wah wah. Toko ini selalu rame yah kalo kalian datang kesini” sapa pegawai toko.
“pasti dong mbak. Kita kan selalu membawa keceriaan” saut Kiki pede.
“haha. Oh ya, Diki gak ikut sama kalian nih? Biasa bertiga. Tambah rame kalo udah bertiga. Satu suka stitch. Satu suka doraemon. Satunya lagi suka rilakuma tapi suka rebutan stitch juga. Haha” ucap pegawai toko sambil tertawa.
“iya nih. Diki tadi ada urusan, jadi gak bisa datang kesini. Dia mau nitip rilakuma aja katanya” ucap Rangga. Kiki melirik Rangga dengan heran. Rangga membalas dengan mengedipkan sebelah matanya. Kiki akhirnya mengerti.
“oh, kebetulan nih. Stok rilakuma, doraemon, sama stitch yang original terbaru semua. Pada mau beli?” tawar pegawai toko.
“pasti dong mbak. Aku mau liat-liat stitch dulu ya. Sekalian pilih-pilih rilakuma buat Diki” ucap Kiki langsung berlari ke rak dimana banyak boneka stitch dan rilakuma.
“rangga juga mau pilih-pilih doraemonnya?” tawar pegawai toko.
“iya nih. Kebetulan kamar belum penuh sama doraemon. Jadi mau beli lagi haha” ucap Rangga bercanda.
“wah, mau sepenuh apalagi kamarnya? Kamu kan tiap bulan kesini beli 2 boneka, gak kebayang deh udah 5 tahun selalu kesini kamarnya sepenuh apa haha” balas pegawai toko itu.
“mbak hapal aja ya sejak kapan aku kesini. Ngefans sama aku yah mbak?” saut Rangga pede.
“bukan ngefans sama kamu. Tapi dari semua pengunjung toko ini, kalian bertiga yang paling mencolok dan yang paling setia sama toko ini” ucap penjaga toko itu sambil tertawa.
“mbak bisa aja haha”
“yaudah silahkan dipilih doraemonnya. Terbaru semua deh ini. Dijamin bagus dan murah haha” ucap mbak itu meninggalkan Rangga dan melayani pengunjung lain.
Rangga berjalan kearah Kiki yang sibuk memilih boneka. “lo ngerti maksud kedipan mata gue tadi kan Ky?”
Kiki menoleh dan mengangguk. “lo mau gue ngasih boneka rilakuma buat dia sebagai permintaan maaf soal tadi kan?”
“nah. Tepat sekali. Yaudah lo pilih-pilih aja deh. Gue mau liat-liat doraemon dulu” ucap Rangga menepuk pundak Kiki pelan lalu pergi meninggalkan Kiki.
Beberapa menit kemudian, Diki dan Sophia masuk ke dalam toko boneka itu. Mereka datang ketoko itu atas ajakan Sophia yang mau melihat-lihat boneka domokun kesukaannya.
Ketika Diki dan Sophia asik melihat-lihat, Rangga dan Kiki yang kebetulan sedang dikasir, melihat mereka berdua.
“Diki? Lo kesini juga? Sama Sophia?” tanya Kiki pelan saat menyebut nama Sophia.
“Kiki? Rangga? Kalian juga ada disini? Ini gue lagi nganterin Sophia liat-liat domokun” jawab Diki heran sekaligus kaget.
“oh nganterin Sophia. Yaudah deh kita duluan” ucap Kiki sedikit ketus dan menarik Rangga untuk cepat keluar.
Melihat perubahan nada suara Kiki, Diki mengejarnya. Dibelakangnya, Sophia juga ikutan.
“lo kenapa? Gue Cuma nganterin Sophia ke sini kok” tahan Diki.
“buat apa lo jelasin ini ke gue?” tanya Kiki mencoba tidak bersuara ketus.
                “gue, gue juga gak tau kenapa gue ngejelasin ke lo. Gue Cuma takut lo marah sama gue” saut Diki bingung.
                “buat apa gue marah sama lo? Kita Cuma saudara kan?” jawab Kiki.
                “gue tau lo marah sama gue. Lo lupa kita kembar?”
“gue gak marah! Gue Cuma gak suka lo lebih dekat sama Sophia daripada gue! Gue adek lo!” teriak Kiki sambi menangis. Rangga melihatnya kaget dan langsung merangkul Kiki. Diki juga keliatan kaget melihat apa yang dilakukan Rangga.
“bukannya ini mau lo? Lo mau gue dekat sama cewek lain kan? Kenapa sekarang lo yang gak suka?” jawab Diki menahan emosi.
“gue gak tau kenapa gue gak suka. Dan gue gak mau tau sama perasaan rumit gue sekarang” ucap Kiki mengacak-acak rambutnya sendiri.
“udah ky. Kalian urusin masalah kalian dirumah aja. Gak enak diliatin orang banyak gini. Apalagi sama Sophia. Udah yuk Ky kita pulang” ucap Rangga kepada Diki kemudian menarik Kiki lembut untuk ke motornya.
“dan asal lo tau. Cewek yang selama ini gue suka itu lo Ky. Gue gak suka liat kedekatan lo sama Rangga!” teriak Diki frustasi lalu pergi meninggalkan Sophia, Kiki dan Rangga yang kaget.
***
                “Rangga, gue bingung. Gue bingung Ga” ucap Kiki menundukkan kepalanya ke meja belajar dikamarnya.
                Rangga memperhatikan Kiki dengan lesu. Perasaannya juga bingung. Ia tidak pernah menyangka kalau selama ini Diki mencintai adik kembarannya sendiri. Mencintai cewek yang ia sukai selama 5 tahun ini.
                “sekarang kuncinya di lo Ky. Gimana perasaan lo ke Diki?” tanya Rangga berharap cemas.
                “perasaan gue? Perasaan gue ya kaya perasaan adik ke kakaknya dong” jawab Kiki membuat Rangga bernapas lega.
                “yaudah. Jadi apa yang buat lo pusing?” tanya Rangga.
                “ya kalo Diki selama ini suka sama gue, berarti itu yang buat kita ada jarak? Setelah gue tau perasaan dia, gue takut jadi makin jauh sama dia” jawab  Kiki lesu.
                “yah lo berusaha jangan sampe buat jarak dong. Lo ini aneh deh” saut Rangga.
                “yaudah lo biasa aja ngasih sarannya. Gausah nyolot” saut Kiki kesal dan menghampiri Rangga. Tapi karena emang dasarnya Kiki itu orangnya ceroboh, Kiki terpeleset selimutnya yang jatuh dilantai.
                Dengan sigap Rangga nahan badan Kiki. Tapi secara bersamaan, “Kiki....” Diki membuka pintu kamar Kiki lalu terdiam menahan emosi dan langsung menutup pintunya kembali.
                Cepat-cepat Kiki keluar menyusul Diki. Ia tau, Diki cemburu melihatnya dengan Rangga. Ia bisa merasakannya. Ia mendekati Diki lalu memeluknya dengan erat. “gue mohon Ky, hilangin perasaan lo ke gue. Gue gak mau kita makin gak bisa dekat kayak anak kembar yang lain”
                “gue gak tahan Ky selalu liat lo mesra sama Rangga. Gue gak tau sejak kapan perasaan ini muncul” jawab Diki memutar badannya menghadap Kiki dan membalas pelukannya.
                “lo tau kan kalo kita gak mungkin bisa jadi sepasang kekasih? Gue harap lo tau itu” ucap Kiki mencium pipi kakaknya dengan lembut.
                Diki terdiam. Ia melihat adiknya dengan penuh kasih sayang. Ia menatap kedua mata adiknya dan menemukan jawaban disana. “ya, gak seharusnya gue punya perasaan lebih sama lo. Maafin gue ya” ucap Diki memeluk Kiki kembali.
                Kiki tersenyum senang. Ia membalas pelukan Diki lebih erat. “tapi kalo lo udah bisa move on dari gue, dan udah dapat pacar, jangan lupain gue ya. Harus tetap sering jalan berdua” ucap Kiki manja.
                “pastinya dong. Bahkan ntar gue lebih sayang sama lo daripada sama pacar gue” jawab Diki.
                “yeee jangan gitu juga Ky. Kasian ntar yang jadi pacar lo” saut Kiki menjitak pelan kepala Diki.
Diki tertawa lepas. “kalo gitu, ntar kalo lo udah punya pacar, hubungan kita jangan jadi jauh juga ya”
“itu sama aja kali artinya sama permintaan gue. Jadi jawabannya pasti sama kaya lo tadi haha” jawab Kiki tertawa.
                Rangga yang melihat dari ambang pintu kamar Kiki hanya bisa tersenyum senang. Ia senang bisa melihat kedua sahabatnya bisa lebih dekat dari sebelumnya.
*sebulan kemudian*
                “mbak, stitch originalnya ada yang terbaru kan?” teriak Kiki saat baru masuk toko.
                “yang rilakuma juga ada kan mbak?” tanya Diki dari belakang Kiki.
                “yang doraemon juga ada yang terbaru kan? Original kan?” saut Rangga dari belakang Diki.
                “semuanya tenang. Boneka-boneka kalian, stoknya baru semua. Silahkan langsung lihat ke raknya dan jangan buat keributan disini” jawab pegawai toko ganas.
                Dengan cepat mereka lari kearah raknya. Ntah disengaja atau tidak, rak boneka yang mereka sukai bersebelahan.
                “asik stitch astaga imut banget!!!!!” teriak Kiki memeluk satu-satu semua boneka stitch dirak itu.
                “iya stitchnya bagus banget. Yang itu buat gue yah Ky” saut Diki mengambil stitch yang ada ditangan Kiki.
                “woy! Ini stitch punya gue. Sana lo pilih rilakuma. Stitch itu punya gue!!” saut Kiki ngerebut stitch itu dari tangan Diki.
                “tapi gue mau yang ini. Ini lucu banget” saut Diki ngerebut lagi.
                “stitch jelek gitu aja direbutin. Muka gak jelas, tangan ada berapa biji tuh?” saut Rangga tenang.
                “daripada doraemon. Warna biru, berkumis panjang, gak jelas robot musang atau kucing” balas Kiki.
                “bener banget. Doraemon miskin jari. Tangan sama kaki gak punya jari. Bulat” sambung Diki.
                “apaan sih lo ikutan gue belain stitch? Sana ke rilakuma aja. Rilakuma mulut angka 3 tiduran. Haha” saut Kiki.
                “setuju! Boneka pemalas. Pantes badannya bulat gitu haha” saut Rangga.
                “sembarangan. Rilakuma itu ngegemesin tau” saut Diki.
“kalo gitu, semua boneka kesukaan kita adalah boneka terbaik!!” ucap ketiganya berbarengan lalu tertawa. Kata-kata inilah yang selalu menjadi akhir dari perdebatan soal boneka mereka.
“nah. Apa kalian sudah puas ributnya?” ucap pegawai toko yang sudah biasa mendengar keributan mereka.
“udah mbak. Haha” jawab mereka berbarengan.
“yaudah silahkan dibayar bonekanya haha” canda pegawai itu.
“pasti dibayar atuh mbak. Masa gak? Kan kita bukan maling” jawab Kiki bercanda juga.
“wah wah, pada rame yah. Dari luar kedengaran loh suaranya” ucap Sophia yang muncul mendadak.
“nah loh. Kok ada Sophia disini?” tanya Rangga sambil kode ke Kiki.
“ya pasti diajak sama Diki dong Ga. Kan baru jadian kemarin uhuk” saut Kiki.
“aku gak diajak siapa-siapa kok. Kebetulan aku lewat, terus mau beli domokun, yaudah deh mampir kesini. Gak taunya ada kalian” jawab Sophia sambil tertawa.
“yah Pia gak asik nih diajak buat ngeledekin Diki” saut Kiki pura-pura badmood.
“hayoloh Pia. Kikinya ngambek haha” saut Diki.
“duh, pacarnya sendiri bukannya belain, malah makin dipojokin” saut Rangga.
“udah deh ya gak usah pada jadi kompor. Kiki sama Rangga juga jodoh kok” saut Sophia.
“preeetttt.. Pia gak nyambung banget sih” saut Kiki cemberut.
“udah deh gausah cemberut gitu. Mana tau yang dibilang Pia bener” saut Rangga ngerangkul Kiki.
“uhuk. Masih ada kakaknya nih. Main rangkul aja” saut Diki sok batuk.
“akang masih jealous sama aku? Haha” saut Kiki.
“pada ngelantur nih semua. Udah bayar-bayar nih semua boneka. Karena Diki Sophia baru jadian, mereka yang bayarin” ucap Rangga dorong Diki ke meja kasir.
“nah loh. Kok jadi gue?!” saut Diki dan Sophia berbarengan.
“derita lo haha” saut Rangga dan Kiki mengambil boneka mereka dan meninggalkan Diki dan Sophia yang terkena pelototan maut mbak penjaga kasir.
***
Kiki menghampiri Diki yang asik duduk-duduk disalah satu bangku taman. “Diki, sebenernya ini boneka mau gue kasih dari sebulan yang lalu. Tapi gue baru ingat” ucap Kiki sambil memberikan boneka rilakuma yang pernah dibelinya.
“hah? Sebulan yang lalu? Lama banget” saut Diki kaget.
“iya. Sebenernya ini boneka gue beli karena gue mau minta maaf sama lo karena gue udah maksa lo buat dekat sama cewek” jawab Kiki.
“yaudah deh diterima aja” ucap Diki ngambil rilakumanya.
“kok reaksi lo kaya terpaksa gitu sih? errr” saut Kiki mencubit lengan Diki.
“yah abis lo bicara sama gue datar banget. Ekspresi juga gak ada” saut Diki kesel.
“jadi gue harus gimana? Ini yah kak Dicky bonekanya” saut Kiki senyum dibuat-buat.
“gila lo!” saut Diki.
“serba salah mah sama orang yang lagi jatuh cinta~” ucap Kiki.
“jangan disangkut pautin bego!”
“yaudah biasa aja”
“eh Ky, kalo lo ditembak Rangga, langsung terima aja yah”
“apaan sih kok nyambungnya kesana?”
“gakpapa. Gue Cuma mau bilang aja”
“gue udah jadian kali sama dia kemarin setelah ninggalin lo sama Sophia di toko boneka”
“APA?!” teriak Diki didepan muka Kiki.
“woles bang. Basah nih muka~” saut Kiki mengelap mukanya.
“serius lo udah jadian sama Rangga? Kenapa gak cerita sama gue?!”
“emang lo siapa? Penting gitu buat kita kasih tau?” saut Rangga yang muncul langsung gandeng tangan Kiki. Dibelakangnya ada Sophia.
“loh, sejak kapan lo di sana Ga? Pia juga ada” saut Kiki kaget.
“sejak aku mencintaimu~” jawab Rangga.
“gombal basi itu Ga haha” saut Kiki tertawa.
“woy! Kalian beneran udah jadian? Longlast ya~” ucap Diki senang.
“thanks bro. Doain langgeng yah. Haha” jawab Rangga.
“doain gue sama Pia langgeng juga dong” ucaap Diki menarik Sophia untuk berdiri disebelahnya.
“pasti dong pasti haha” ucap Rangga tertawa. Kiki ikutan tertawa melihat wajah tersipu dari Sophia.
“kalian beneran jadian? Kalo gitu coba ulang cara lo nembak Kiki Ga” pinta Diki.
Sophia mengangguk setuju. “bener tuh. Gue juga penasaran haha”
“Diki Sophia! Apaan sih kalian? Kepo banget” saut Kiki cemberut.
“gini yah Ky, Pia. perhatiin baik-baik” ucap Rangga kepada Diki dan langsung berlutut didepan Kiki.
“eh, lo serius mau ngulangin? Buat malu ah” saut Kiki panik.
“udah lo diam aja” ucap Rangga.
“Ky, sebenernya gue menyimpan rasa cinta sama lo. Jangan tanya kenapa gue cinta sama lo, karna gue gak punya alasan. Perasaan gue ini tulus, tapi gue tau kalo gue gak boleh egois buat memaksakan lo suka sama gue. Gue Cuma mau lo tau perasaan gue selama ini. Jadi pikirin baik-baik sebelum lo putusin. Gue tunggu jawaban lo YA atau TIDAK” ucap Rangga sama seperti kejadian kemarin di taman ini juga.
Lagi-lagi Kiki terpesona dengan ketegasan Rangga. Lagi-lagi ia terdiam membisu. Namun cepat-cepat ia mengangguk lalu tersipu malu begitu mengingat ada Diki dan Sophia yang memperhatikan mereka.
Diki dan Sophia bertepuk tangan meriah. “gila! Gue baru tau kalo lo romantis Ga” ucap Diki menepuk pundak Rangga.
“pasti dong. Terus kemarin gue juga nyium dia kaya gini” ucap Rangga langsung mencium bibir Kiki sekilas. Tanpa sadar, Sophia berteriak tertahan karena kaget melihat apa yang dilakukan Rangga.
Kiki terdiam. Setelah sadar dari kekagetannya, “Rangga! Kemarin lo gak ada ngelakuin ini. Sialan lo!” saut Kiki berteriak marah.
Diki yang awalnya kaget, kemudian malah tertawa keras. “wah, berani yah lo cium adek gue didepan gue langsung gini”
“jagain adek gue yah. Tapi jangan rebut perhatian dia dari gue” bisik Diki pada Rangga. Rangga tersenyum lalu mengacungkan jempolnya.
“kalian bisik-bisik apa sih?” saut Kiki ingin tau.
“ini urusan laki-laki” ucap Rangga dan Diki berbarengan membuat Kiki memajukan bibirnya beberapa senti.
Sophia yang diam memerhatikan, ikut tertawa melihat wajah Kiki. “Ky, muka lo itu loh haha”
“Pia kok malah ikutan mereka sih? Harusnya lo dipihak gue” ucap Kiki manja.
“udah deh udah. Gimana kalo kita rayain jadiannya kita malam minggu besok? Double date gitu?” ucap Diki yang diikuti anggukan setuju dari yang lain.
“SATNIGHT, I’M COMING!!!!” teriak kami bersama-sama.
Kebahagiaan tidak perlu dikejar sampai ke negeri jauh. Karena kebahagiaan berasal dari diri sendiri dan juga orang-orang di sekitar kita. Itulah yang dialami mereka. Semoga cinta membuat mereka bersatu selamanya.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar