Jumat, 15 Maret 2013

Their Destiny


13 April 2006
Thanks for the friendship. Thank you for the smile. Thanks for the love you showed even though it was only for a while. True my heart was broken and yes, my eyes did cry” ucapnya tersenyum pahit.
“please don’t leave me! I love you so much. Believe me, please” teriaknya. “I always show my love for you. Until know, and forever”
“But the pain is all over now. cause I have learned to say goodbye” ucapnya. wajahnya begitu kusut karena terlalu sering menangis. Untuk terakhir kalinya ia menatap orang yang sangat ia cintai itu lalu berbisik “goodbye” lalu ia berjalan menyebrangi jalan raya untuk mencapai mobilnya yang tadi ia parkirkan disana.
Terlihat sebuah truk melintas dengan sangat kencang di jalan itu seakan bersiap untuk mengubah takdir mereka.
“Ra! look out! I don't want to lose you, forever!” teriaknya lalu mendorong orang yang ia sayangi itu ke pinggir jalan dan pasrah menghadapi truk yang akan menerjang tubuhnya dengan keras. Beberapa detik sebelum truk itu merenggut nyawanya, ia berteriak. “now I love you, until my heart stopped beating up”
***
14 April 2012
“tidak!!!” Clara terbangun dalam keadaan mata yang basah. Jantungnya berdetak semakin cepat. Sekujur tubuhnya basah dengan keringat. Dadanya naik turun tidak beraturan karena merasa sesak. Ia menatap jam yang berada di dinding di hadapannya dengan perlahan. “jam 4 pagi” gumam cewek itu pelan. Ia sedikit sesegukan.
Lagi-lagi ia bermimpi hal yang sama sejak 6 tahun yang lalu. Kenangan yang pahit. Sebuah kesalahpahaman yang berakibat sangat buruk terhadap kehidupannya hingga sekarang. Kalau bisa, ia sangat ingin memperbaiki kenangan itu.
Ia bangun dari tidurnya menuju kamar mandi. Seperti biasa, ia mencuci mukanya terlebih dahulu agar matanya tidak terlihat sembab. Ini sudah menjadi kebiasaannya sejak 6 tahun yang lalu. Pasti ia selalu terbangun sekitar jam 3 sampai 5 pagi karena mimpi itu, seperti saat ini.
***
Clara, 21 tahun. Sedang menuntut ilmu di salah satu universitas negeri yang cukup terkenal di Indonesia, tepatnya Jakarta. Memiliki kenangan yang buruk membuatnya menutup diri dari semua orang. Hanya kepada satu orang, ia tidak menutup diri. Dan hanya satu orang itulah yang mau berteman dengannya. Seseorang yang ia kenal saat ia baru masuk kuliah. Orang yang sangat ingin selalu berada di sampingnya disaat apapun juga.
“Clara! Kebiasaan banget pagi-pagi melamun ditengah koridor” ucap seorang lelaki berusia 22 tahun menghampiri Clara.
Clara melirik lelaki itu sekilas. Lalu ia kembali berjalan menuju kelasnya.
Lelaki itu mengikuti Clara dalam diam. Setelah sampai di kelas, lelaki itu memandang Clara dengan sangat dalam sampai membuat gadis itu sedikit resah.
“Bisma. Kamu ngapain sih?” ucap Clara melemparkan pandangannya ke belakang Bisma. Ia enggan menatap kedua mata Bisma lebih lama lagi.
“sampai kapan kamu kaya gini terus?” ucap Bisma masih menatap Clara.
“sampai aku bisa ngelupain kenangan itu, Bisma. Setiap aku mengingat kejadian itu, aku merasa frustasi. Aku menyesal. Seandainya aku tidak berkata seperti waktu itu. seandainya aku tidak berniat meninggalkannya, dia mungkin masih ada disampingku sampai sekarang” ucap Clara menangis.
Bisma menarik Clara kedalam pelukannya. Gadis itu menangis semakin keras, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Hanya isakan kecil dan tubuhnya sedikit berguncang. Bisma mengelus punggung Clara, berusaha membuat gadis itu merasa nyaman di dalam pelukannya.
“apa kamu mau memperbaiki kenangan itu?” ucap Bisma pelan.
Clara bergumam dalam pelukan Bisma. “apa maksud kamu? Aku sangat ingin memperbaikinya”
“aku punya caranya. Ikutlah denganku saat kelas sudah selesai” ucap Bisma lembut.
Clara menengadah menatap Bisma. “kamu punya caranya? Bagaimana....”
Bisma meletakkan telunjuknya tepat didepan bibir Clara dan tersenyum lembut. “kita lihat saja nanti. Yakin, pasti bisa”
“makasih, Bisma. Kamu memang yang paling mengerti aku. Aku sayang kamu” ucap Clara tulus.
“aku juga menyayangimu” ucap Bisma tersenyum pahit lalu kembali memeluk Clara. Namun kali ini pelukannya memiliki arti yang berbeda. Pelukan penuh rasa tidak rela untuk memberikan gadis ini kepelukan orang lain. Ia merasa mungkin ini terakhir kalinya ia mendengarkan kalimat itu keluar dari mulut gadis yang ia sayangi ini.
***
“kita sudah sampai” ucap Bisma mematikan mesin mobilnya.
Clara menoleh kearah Bisma. “bukannya ini rumah kakekmu? Untuk apa kita kesini?” tanya Clara sedikit bingung.
“aku akan bercerita sedikit. Waktu aku kecil, aku pernah tidak sengaja mendengar ucapan kakekku soal keluargaku yang memiliki jam pasir yang mempunyai kekuatan melintasi waktu. Jam pasir ini diwarisi secara turun-temurun dan dijaga sangat ketat. Saat ini, jam pasir itu dipegang oleh kakek. Walaupun kedengaran tidak masuk akal, tapi aku dulu pernah memainkan jam pasir itu lalu dimarahi habis-habisan oleh kakek. Berarti benda itu sangat penting. Jika benar jam pasir itu ajaib, kamu bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki kenangan burukmu itu” ucap Bisma.
Clara menatap Bisma dengan tatapan kurang percaya. “apa mungkin ada benda seperti itu?”
“yah sebenarnya aku belum pernah coba...” ucap Bisma menggaruk kepalanya tanpa sebab.
“bisa kembali ke masa lalu? Bisa bertemu dengannya? Bisa mencegah kejadian buruk itu?” ucap Clara dengan wajah berseri-seri.
Bisma tersenyum kecil lalu mengangguk. “aku akan melakukan apapun untukmu agar kamu tersenyum seperti saat ini” ucap Bisma dalam hati.
***
“apa kalian sudah gila?! Aku tidak akan memberikan jam pasir penting ini kalau dipakai untuk itu!” teriak kakek Bisma marah.
“kalau bukan untuk ini, jam pasir itu tidak akan berguna kan? ayolah kek” ucap Bisma memohon.
Kakek itu menghela nafas. “Bisma, kamu tidak mengerti ya? Kalau merubah sesuatu dimasa lalu akan berdampak besar di masa sekarang”
“aku kan tidak akan mencegah sebuah peperangan” jawab Bisma.
“bukan seperti itu. gadis ini memiliki lingkaran takdirnya sendiri. Memang sudah takdirnya ia mengalami kejadian buruk itu. untuk mengubahnya, ada ‘harga’ yang harus dibayar. Bukan hanya dia yang takdirnya berubah. Kau juga akan terpengaruh, Bisma” ucap kakek itu pelan.
“Bisma...” ucap Clara memandang Bisma dengan perasaan takut.
“tidak masalah. Untuknya, aku rela berkorban. Apapun resikonya” ucap Bisma mantap.
“aku tidak akan tau akhirnya kalian akan bagaimana” ucap kakek Bisma menghela nafas lagi.
“Bisma, apa kita tidak usah pergi ke masa lalu? Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu nanti” ucap Clara takut.
“yakin padaku” ucap Bisma tersenyum lembut.
“konon, jam pasir ini disebut ‘jam pasir waktu’ karena bisa melewati waktu ke masa lalu maupun masa depan. Tapi sebenarnya benda ini dibuat bukan untuk mengubah masa lalu seseorang. Aku pun tidak setuju dengan rencana kalian” ucap kakek Bisma lesu.
“percaya pada kami berdua, kek” ucap Bisma yakin.
“baiklah” ucap kakek Bisma. “jam pasir ini akan mengantarkan kalian ke tempat yang akan merubah masa depan gadis ini, dan juga kau, Bisma. Pikirkanlah baik-baik apa yang akan kamu rubah. Hati-hati. Jangan sampai menyesal” ucap kakek Bisma dengan serius.
“baiklah. Ayo kita mulai” ucap Bisma dan Clara berbarengan. Walaupun dalam hati kecilnya mereka merasa takut, mereka tetap yakin.
Kakek Bisma menutup matanya. Bisma dan Clara juga ikut menutup mata. Dalam hati, Clara terus berdoa agar semuanya berjalan lancar. Ia ingin bertemu dengan masa lalunya. Ia ingin mengubahnya. Tapi ia juga takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan Bisma. Bagaimanapun juga, Bisma adalah kekasihnya. Orang yang begitu peduli dengannya selama ini. Orang yang sangat ia sayangi.
Ctasss... Bisma dan Clara membuka matanya. Tiba-tiba keluar cahaya merah terang dari arah jam pasir itu, diikuti angin yang berputar kencang seperi puyuh. Clara menutup matanya ketakutan. Ia merasa seperti diterbangkan oleh angin dan cahaya itu. Ketika semua keberisikan itu berhenti, Clara membuka matanya.
“ah... gedung SMAku” ucap Clara pelan sambil memandang sekelilingnya.
“ini sekolah kamu dulu?” ucap Bisma lalu berdiri disebelah Clara.
“kita benar-benar kembali ke masa lalu...” ucap Clara dengan nafas tertahan.
“kenapa kamu begitu yakin?” tanya Bisma heran.
Clara menunjuk seorang gadis yang memakai seragam SMA sekolah ini. “karena itu adalah aku” ucap Clara.
Bisma mengikuti arah telunjuk Clara. “hah?! Kamu dulu manis banget!” ucap bisma.
Clara memanyunkan bibirnya. “jadi sekarang aku gak manis?”
Bisma hanya tertawa. “yaudah ayo kita cari kejadian buruk kamu. Kita Cuma dikasih waktu 2 jam untuk memperbaikinya” ucap Bisma sambil melihat jam pasir itu.
“sekarang tanggal berapa?” tanya Clara.
“mana aku tau” cetus Bisma.
“tanya ke orang-orang dong, Bisma. Kalau aku yang nanya, mana mungkin. Wajahku sekarang dengan wajahku waktu SMA hanya berubah sedikit. Bisa-bisa aku waktu SMA stres karena ngeliat aku” ucap Clara.
“iya, bawel” ucap Bisma lalu mendatangi seorang gadis. “permisi. Sekarang tanggal berapa ya?” ucap Bisma sopan.
“oh, tanggal 13 April 2006 ka” ucap gadis itu sambil tersenyum manis.
“makasih yaa” ucap Bisma balas tersenyum lalu pergi meninggalkan gadis itu.
Clara keluar dari persembunyiannya. “Bisma. Hari ini tepat hari dimana aku ngeliat dia lagi ciuman dengan cewek yang diidolakan semua cowok disekolah ini. Dan setelah itu kita ribut sampai aku minta putus” ucap Clara sedikit menangis mengingat kejadian itu. “aku mmang kekanakan. Hanya karena itu aku minta putus”
Bisma memegang tangan Clara dan menggenggamnya lembut. “ayo kita ketempat kalian ribut dan mencegah itu terjadi” ucap Bisma.
Clara menatap Bisma. “ayo!” ucap Clara tersenyum yakin.
***
“harusnya ada dia disini sedang berciuman dengan cewek itu. Dan aku yang kebetulan lewat melihatnya” ucap Clara berjalan tidak tenang kesana kemari.
“sudahlah. Kamu tenang dulu. Mungkin kita lebih cepat sampai disini sebelum kamu melihatnya waktu itu” ucap Bisma yang pusing melihat Clara yang berjalan bolak-balik.
“kalau kita sembunyi disini, berarti aku akan melihat dia berciuman dengan cewek itu lebih jelas dari yang aku lihat 6 tahun yang lalu” gumam Clara pelan.
“Clara, ada orang yang datang kesini. Cepat sembunyi!” ucap Bisma menarik Clara untuk bersembunyi dibalik semak-semak.
“Dicky...” ucap Clara sedih melihat seorang cowok berseragam SMA itu. perasaan ingin memeluk cowok itu memenuhi pikirannya. Namun ia sadar, kalau ia keluar saat ini dan langsung memeluknya, mungkin akan tambah memperkeruh keadaan.
Cowok yang disebut Clara sebagai Dicky itu terlihat kesal.
“Dicky! Kenapa kamu tidak mau menerima aku? Aku itu cewek idola disini. Harusnya kamu senang karena disukai oleh cewek seperti aku!” teriak cewek bernama Desi yang mengejar Dicky sampai disini.
“aku gak mau karena aku udah punya Clara! Bagiku, Clara yang paling sempurna. Jadi jangan ganggu aku dengannya” teriak Dicky kesal.
“apa sih bagusnya dia? Aku lebih bagus dari dia!” ucap Desi tidak terima.
“kamu lebih bagus dari dia? Haha. Jangan mimpi. Kamu jauh lebih buruk dari dia. Kamu serakah. Ingin mendapatkan semuanya dengan memakai uang. Sampai cinta pun kamu beli dengan uang. Clara tidak seperti kamu” ucap Dicky sinis.
“bukannya Clara juga bisa aku beli dengan uang? Dia wanita murahan” ucap Desi sombong.
“jangan sembarangan kamu, ya! Jangan pikir karena kamu kaya kamu bisa membeli harga diri orang. Apalagi Clara. Clara jauh lebih mahal dari kamu” desis Dicky mencengkeram tangan Desi kuat.
Clara menatap Dicky dari balik semak-semak. Ia tersenyum terharu. Ternyata ini kejadian sebenarnya. Dicky begitu mencintainya.
“kenapa sih kamu begitu membelanya? Kamu dikasih apa sama dia? Aku bisa kasih kamu lebih!”
“aku gak butuh barang mahal. Aku hanya butuh cinta. Dan Clara udah kasih itu ke aku”
“apa yang kamu maksud dengan cinta itu adalah ciuman?” ucap Desi lalu mencium bibir Dicky.
Clara terkesiap kaget. Bisma dengan cepat menutup mata Clara. “jangan nangis, ra” ucap Bisma saat merasa tangannya mengenai sesuatu yang basah. Bisma memeluk Clara untuk menenangkannya.
“Dicky! kamu?!” ucap Clara yang berumur 16 tahun. Matanya sudah berkaca-kaca.
“Ra! Ini bukan kemauanku. Dia memaksaku. Plis dengerin aku dulu” ucap Dicky melepaskan genggaman Desi.
“semuanya udah jelas, ky” ucap Clara menangis. “aku kira kamu cinta sama aku. Tapi kamu tega cium cewek lain dibelakang aku”
“bukan kaya gini, ra. Aku memang benar-benar cinta kamu. Tapi...” ucap Dicky berusaha menahan Clara yang akan pergi.
“gak! Aku gak mau percaya sama kamu!” teriak Clara melepaskan tangan Dicky dari tangannya dengan kasar. Lalu ia berlari keluar gerbang sekolah.
“Clara. Plis percaya sama aku. Aku gak ada apa-apa sama dia” ucap Dicky mengejar Clara.
“Desi. Cewek populer yang disukai semua cowok disekolah ini. Dan itu termasuk kamu, kan?” ucap Clara sinis.
“gak! Aku gak pernah suka sama dia. Aku Cuma suka kamu, ra” ucap Dicky mulai frustasi.
Clara memandang Dicky dengan pilu. “aku sayang kamu, ky. Melebihi apapun. Tapi ternyata kamu malah...”
“harus berapa kali aku bilang, Ra? Tadi aku dipaksa sama dia. Aku gak ada maksud buat ngecewain kamu” ucap Dicky memegang kedua pundak Clara.
“Oke. Aku bakalan nganggap kalau kamu dipaksa sama cewek itu. tapi kejadiannya gak akan berubah kan? kamu tetap ciuman dengan cewek itu!” teriak Clara frustasi.
Dicky menundukkan kepalanya. “maaf, ra. Aku udah berusaha buat nolak dia”
“kita break dulu yah” ucap Clara sambil tersenyum sakit.
“Ra, kamu gak percaya sama aku? Aku bener-bener gak ada niatan buat cium dia” ucap Dicky membela diri.
“kita masih bisa berteman, kan?” ucap Clara untuk menyemangati dirinya sendiri.
“kamu kira aku percaya dengan kata-kata itu? gak. Aku yakin, setelah kejadian ini, kamu pasti tidak mau melihat mukaku lagi. kamu pasti akan menjauhi aku” ucap Dicky lalu memeluk Clara kuat. Ia tak ingin melepaskannya.
Thanks for the relationship. Thank you for the smile. Thanks for the love you showed even though it was only for a while. True my heart was broken and yes, my eyes did cry” ucap Clara tersenyum pahit. Airmatanya masih mengalir. Ia melepaskan pelukan Dicky.
“please don’t leave me! I love you so much. Believe me, please” teriak Dicky. “I always show my love for you. Until know and forever”
“Bisma. Ini Bis kenangan yang selalu datang dalam mimpiku. Setelah ini Dicky...” lirih Clara 21 tahun dengan gemetar.
“kita akan menghentikannya” ucap Bisma yakin lalu keluar dari persembunyiannya.
“Bisma...” ucap Clara lirih. “kamu jangan ngelakuin tindakan bodoh” Clara memegang ujung kemeja yang dipakai Bisma.
“tenang. Aku akan kembali kesisimu” ucap Bisma tersenyum yakin.
Clara melepaskan pegangannya dengan perlahan. “janji?”
Bisma mengangguk. “kalaupun ada yang terjadi padaku dan berdampak pada hubungan kita dimasa depan, kita pasti masih bisa merasakannya. Merasakan bahwa aku mencintaimu. Dan begitu juga denganmu” ucap Bisma lalu mencium puncak kepala Clara. Kemudia ia pergi mendatangi Dicky dan Clara diusia 16 tahun.
Clara menatap Bisma dengan sedih. “ya, aku pasti bisa merasakannya jika kita harus berpisah karena kejadian ini”
“But the pain is all over now. cause I have learned to say goodbye” ucap Clara, 16 tahun. wajahnya begitu kusut karena terlalu sering menangis. Untuk terakhir kalinya ia menatap orang yang sangat ia cintai itu lalu berbisik “goodbye” lalu ia berjalan menyebrangi jalan raya untuk mencapai mobilnya yang tadi ia parkirkan disana. Ia akan pulang. Ia tidak ingin kembali kesekolah.
“tunggu!” teriak Bisma membuat Clara berhenti berjalan dan membalikkan badannya. Posisinya sedikit ke tengah jalan.
“aku melihatnya! Ketika Dicky membelamu habis-habisan didepan wanita itu. ketika dia berkata bahwa kamu adalah wanita yang paling sempurna yang pernah ia temui. Ia sangat mencintai kamu, Clara. Percaya padanya!” teriak Bisma.
“sungguh?” ucap Clara menatap heran kearah Bisma. Lalu ia menatap Dicky meminta kepastian.
“ya. Dia benar. Tadi kamu dihina Desi sebagai wanita murahan. Aku tidak terima dan...” Dicky mengucapkan itu sambil berjalan kearah Clara.
Sebelum Dicky menyelesaikan ucapannya, Clara memeluk Dicky dengan senang. “aku percaya sama kamu, Dicky”
Clara 21 tahun tersenyum terharu. “Bisma, terima kasih” ucapnya pelan.
Bisma melihat sebuah truk melintas dengan sangat kencang di jalan itu. dengan cepat Bisma mendorong Dicky menjauh kearah dalam gerbang sekolah. Clara 16 tahun terkesiap kaget karena tiba-tiba saja ia didorong oleh Bisma keseberang jalan.
Clara, 21 tahun berteriak tertahan. Ia melihat Bisma masih berdiri ditengah jalan setelah mendorong Clara 16 tahun ke pinggir jalan. Dalam hati Clara berteriak sambil menangis. “jangan ambil Bisma, Tuhan. Jangan dia! Dia sudah menolongku. Aku mencintainya! Aku membutuhkan keduanya. Bisma maupun Dicky”
Beberapa detik Bisma terdiam ditengah jalan raya. Ia sedikit shock. Lalu ia tersadar dan segera berlari dengan cepat ke pinggir jalan sebelum truk itu menabrak tubuhnya. Namun karena ia berlari dalam keadaan takut dan shock, Bisma tersandung kakinya sendiri dan kepalanya membentur sebuah batu besar yang berada disamping Clara 16 tahun dengan keras. Batu besar itu cukup tajam. Kepalanya langsung mengeluarkan banyak darah. Ia tergeletak lemah dengan kesadaran yang mulai menghilang.
Clara 16 tahun berteriak takut. Dicky dengan segera menghampiri Clara. “kamu tidak apa-apa?” ucap Dicky lalu memeluk Clara dengan perasaan takut.
“aku tidak apa, ky. Tapi kakak yang menolongku...” ucap Clara dengan suara bergetar.
Dicky melepaskan pelukannya. “dia mengeluarkan banyak darah. Cepat telepon rumah sakit!” ucap Dicky sambil melemparkan handphonenya ke Clara.
Dengan gemetar Clara menekan nomor telepon omnya yang bekerja disalah satu rumah sakit.
“Bisma!” teriak Clara 21 tahun sambil menangis. “kamu jangan tinggalin aku, Bisma. Aku masih butuh kamu”
Dicky dan Clara 16 tahun melihat Clara 21 tahun dengan bingung. terlebih lagi dengan Clara 16 tahun yang begitu kaget melihat kesamaan wajahnya dengan wajah Clara 21 tahun.
“aku gak akan ninggalin kamu, ra” ucap Bisma lirih
Clara 21 tahun menatap jam pasir yang telah menunjukkan tepat 2 jam mereka ada di masa lalu. “Bisma! Jangan lupakan aku. Aku yakin, suatu saat dimasa depan nanti kita bisa merasakannya. Walalupun saat itu aku melupakanmu, aku pasti merasakannya. Aku sangat mencintai kamu, Bisma!” teriak Clara sambil menangis sebelum cahaya dan angin dari jam pasir menerbangkan mereka berdua kembali ke masa depan.
***
14 April 2012
“Clara!” teriak Dicky mengagetkan Clara yang sedang melamun ditaman tempat kuliah mereka. Di Jakarta.
“ada apa sih? Kamu suka banget ngagetin aku kaya gini” ucap Clara memukulkan buku yang ia pegang ke badan Dicky.
“abis kamu kerjaannya melamun terus. Di taman yang sepi lagi. kalo kamu kesurupan gimana?” ucap Dicky.
“aku akan bunuh kamu” ucap Clara dingin.
“Ra, gak lucu banget. Sumpah” ucap Dicky datar.
“kamu sih bawel banget. Diam semenit aja bisa gak?” ucap Clara kesal.
“bawel-bawel gini, kamu tetep cinta kan sama aku? Haha” ucap Dicky menggoda Clara.
“apaan sih? Garing” ucap Clara salah tingkah.
“Claranya malu tuh malu haha” ucap Dicky. “siapa yah yang 6 tahun yang lalu hampir ketabrak Cuma karena cemburu liat aku ciuman sama cewek lain?” goda Dicky lagi.
“itu kan karena kamu dulu pacar aku. Mana rela aku tau kalo kamu ciuman sama dia. Sama aku aja belum” ucap Clara pura-pura ngambek.
“oh jadi mau minta nih? Sini-sini aku kasih” ucap Dicky memajukan mulutnya ke arah wajah Dicky.
“nih cium buku aku” ucap Clara menutupi wajahnya dengan buku. “kamu genit banget sih. Nanti cewek kamu marah sama aku”
“aku belum punya pacar, ra. Kamu ini gimana sih” ucap Dicky kesal.
“makanya jangan genit-genit sama aku. Cewek-cewek yang tadinya mau ngajakin kamu kenalan jadi mundur karena ngira kita pacaran” saut Clara.
“kamu kenapa sih gak mau pacaran sama aku lagi? sebenernya kita saling mencintai kan?” ucap Dicky berubah menjadi serius.
“karena kamu jelek” ucap Clara berusaha mengalihkan pembicaraan.
“aku serius, ra” ucap Dicky menatap Clara.
Clara menatap balik Dicky lalu menghembuskan nafas dengan berat. “ntahlah. Aku juga bingung. sebenarnya aku juga cinta sama kamu. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Aku gak tau apa yang buat aku jadi kaya gini”
Dicky memeluk Clara dengan lembut. “We can still be friend, right? I think, the closest relationship that is friendship. Not a romance” ucap Dicky menguatkan dirinya sendiri. Ya, sampai sekarang ia masih mencintai Clara. Sangat mencintainya. Tapi cinta tidak harus memiliki, bukan?
“yes. We are still bestfriend. A friend but still tender-hearted, maybe. haha” ucap Clara menggoda Dicky.
“kok kamu malah balik jahilin aku sih?” ucap Dicky mencubit pipi Clara dengan gemas.
“emang cuma kamu doang yang bisa? Aku juga bisa” ucap Clara sambil memeletkan lidahnya.
“dasar” komentar Dicky mengacak-acak rambut Clara dengan gemas.
***
14 Mei 2012
“Dicky, mama kamu ke Indonesia naik apa sih? Aku mau liat jadwalnya nih” tanya Clara sambil melihat layar jadwal keberangkatan di bandara. Mereka sedang menjemput mama Dicky yang baru saja pulang dari Australia karena pekerjaan.
“naik pesawat dong, ra” jawab Dicky polos.
Clara menjitak kepala Dicky pelan. “ya itu aku juga tau. masa mama kamu naik becak dari Australia ke sini” ucap Clara kesal.
“ya kamu sih nanyanya gak detail. Aku mana tau” ucap Dicky sambil memberikan catatan nama pesawat yang dipakai mama Dicky beserta nomor jenisnya.
Setelah tau, Clara melihat kembali layar yang berisi jadwal keberangkatan itu. “jam 4 sore. Sekarang jam berapa, ky?” tanya Clara.
“jam 4 kurang 5 menit, ra. Kenapa?” tanya Dicky lagi.
“itu dijadwalnya mama kamu sampai sini jam 4 sore. Berarti 5 menit lagi. syukurlah gak terlalu lama nunggu” ucap Clara.
“kalau gitu kita duduk dulu atau langsung berdiri didekat pintu tempat mama keluar. Gimana?” tanya Dicky memberi Clara pilihan.
“langsung berdiri aja deh. Jadi nanti kalau liat mama kamu, kita bisa langsung pulang” ucap Clara.
“yaudah ayo kesana” ucap Dicky sambil menarik Clara kedepan pintu tempat mamanya nanti akan keluar.
5 menit berlalu. ada tanda-tanda bahwa ada pesawat yang baru saja mendarat. Dan menurut pengumumannya, yang baru saja mendarat adalah pesawat dari Australia.
Dicky mulai mencari sosok mamanya. Ketika ia melihatnya, Dicky langsung melambaikan tangannya. “mama, disini” ucap Dicky semangat.
Clara mendekati wanita paruh baya itu sambil tersenyum. “sore tante. Syukurlah tante sampai sini dengan selamat” sapa Clara dengan sopan.
“iya Clara. Makasih yah” ucap mama Dicky balas tersenyum.
“mama bawa oleh-oleh apa?” tanya Dicky antusias.
“kamu ini. Bukannya nanya kabar mama dulu. Langsung nanyain oleh-oleh” ucap mama Dicky dengan nada marah. namun wajahnya terlihat senang.
“Dicky kan masih kecil tante. Lebih suka oleh-oleh. Apalagi kalo oleh-olehnya makanan” ucap Clara menimpali. Ia memang sudah akrab dengan keluar Dicky. begitu juga dengan Dicky yang sudah sangat akrab dengan keluarga Clara.
“ikut-ikutan aja nih” ucap Dicky memanyunkan bibirnya.
“gak usah sok imut, ky” ucap Clara menggoda Dicky.
“ma, lihat nih. Anak mama yang paling imut dikatain sok imut” ucap Dicky seperti anak kecil.
“udah ahh. Kamu malah kesannya kaya anak kecil kurang bahagia” ucap mama Dicky ikutan menggoda Dicky.
“yah mama kok malah ikutan Clara sih?” saut Dicky datar.
“kasian deh. Udah tua kok kelakuan kaya anak kecil. Mamanya sendiri juga ngakuin itu. haha” ucap Clara semakin menggoda Dicky.
“Bisma!” teriak seorang wanita berusia sekitar setengah abad dari belakang Clara.
DEG!!!
Tiba-tiba jantung Clara berdetak begitu cepat. Ia berbalik dan melihat seorang lelaki berusia sekitar 22 tahun sedang memeluk ibunya yang memanggil namanya tadi. Ada perasaan lain dalam hatinya ketika mendengar nama itu.
“bagaimana bisa sih kamu tiba-tiba muncul dirumah dalam keadaan pingsan? Dan kepala kamu juga robek seperti terkena benda tajam. Kamu harus menceritakannya ke mama. Kita semua hampir mati Cuma karena mengkhawatirkan kamu” ucap ibu itu menangis.
“maafkan Bisma, ma. Tapi sekarang Bisma gak apa-apa kok. Buktinya Bisma sekarang berdiri didepan mama. Mama jangan nangis ya” ucap lelaki itu sambil menghapus air mata ibunya.
“jangan pernah ulangi hal itu lagi ya. Mama gak mau kehilangan kamu” ucap ibu itu kembali memeluk anaknya itu.
“iya. Bisma janji” ucap lelaki itu berjanji.
“Bisma...” gumam Clara pelan.
Dicky melirik ke arah Clara. “ra, kamu ngerasa familier gak sama nama Bisma? soalnya aku ngerasa gitu” bisik Dicky.
“anak itu ya? Tadi dia duduk disebelah mama. Dia cerita kalau dia kecelakaan sebulan yang lalu. Kepalanya robek besar karena terbentur batu besar tajam. Katanya waktu itu dia menyelamatkan seorang gadis yang akan ditabrak truk di jalan depan sekolahnya. Jadi keluarganya bawa dia ke Australia. Hari ini dia baru pulang” ucap mama Dicky yang mendengar nama Bisma disebut oleh kedua anak itu.
“kecelakaan? Kepalanya robek karena batu besar? Selamatin gadis yang mau ditabrak truk di jalan depan sekolahnya?” ucap Clara seakan mengingat sesuatu. Tiba-tiba ingatannya terlempar ke 6 tahun yang lalu.
“ra, jangan bilang kalo kamu lagi mikirin kejadian 6 tahun yang lalu pas kamu hampir ditabrak truk dan ditolong cowok yang umurnya sama kaya kita sekarang. Yang dipanggil dengan nama Bisma sama cewek sekitar 21 tahun yang wajahnya sama kamu waktu itu” ucap Dicky melirik Clara.
“iya ky. Aku lagi mikirin itu. tapi kayanya gak mungkin deh. Kata mama, dia cerita kalo dia kecelakaan sebulan yang lalu. Sedangkan yang aku alami itu 6 tahun yang lalu” ucap Clara masih berpikir.
“tapi ra, kamu lihat deh wajah cowok itu. seingatku dia mirip sekali sama orang yang nolongin kamu 6 tahun yang lalu. Aku ingat karena dia dulu yang bantu aku supaya kamu percaya sama kata-kata aku” ucap Dicky.
Clara menatap wajah cowok itu lekat-lekat dan terkesiap kaget. “iya. Benar ky. Aku ingat banget, karena waktu dulu dia pingsan kebentur batu, aku liat wajahnya. Dan itu sama persis” teriak Clara.
“tapi bagaimana mungkin dia selama 6 tahun tidak menunjukkan perubahan diwajahnya sama sekali? Dulu kita umur 16 tahun. Dan sekarang 21 tahun. Apa dia tetap berumur 22 tahun?” tanya Dicky bingung.
“tante. Dia ada cerita gak umur dia sekarang berapa?” tanya Clara penasaran.
“ada. Dia bilang sekarang umurnya 22 tahun. Memangnya kenapa?” jawab mama Dicky sedikit heran.
“ra, apa dia manusia? Dia tidak tambah tua sama sekali” ucap Dicky takut.
“pasti dia manusia. Aku yakin itu. pasti ada sesuatu dibalik ini semua” ucap Clara yakin.
“anak-anak, kalian sedang membicarakan apa?” tanya mama Dicky bingung.
“ah, bukan apa-apa ma. Makasih ya udah cerita” ucap Dicky tersenyum.
“yaudah ayo ke mobil. Mama udah kangen sama papa” ucap mama Dicky.
“mama duluan aja ya. Kita ada urusan disini” jawab Dicky.
“kalo gitu kalian cepat nyusul yah. Mama ada oleh-oleh untuk kalian berdua” ucap mama Dicky.
Clara dan Dicky mengangguk berbarengan lalu tersenyum. Setelah mama Dicky menghilang dari pandangan, Clara berbisik ke Dicky. “ky, aku penasaran deh sama cowok itu. kita datangin yuk!”
Dicky mengangguk setuju. Clara lalu berjalan mendekati lelaki itu. semakin mendekat, jantung Clara berdetak tidak karuan. Ia merasa sangat rindu dengan sosok lelaki ini.
“permisi” ucap Clara pelan.
Lelaki itu membalikkan badannya dan terkejut melihat Clara. “Clara?!” teriak lelaki itu senang.
Clara tersentak kaget. Wajahnya, suaranya, badannya. Ia rindu dengan sosok ini. Sangat rindu. Tapi ia tidak tau kenapa perasaan ini tiba-tiba saja muncul.
Dicky melihat lelaki itu dengan kaget. “bagaimana bisa kamu mengetahui nama dia?”
“Dicky?! syukurlah kamu sekarang bersama Clara. Pasti dia tidak bermimpi yang aneh-aneh lagi” ucap lelaki itu lega.
“apa maksud kamu?” tanya Clara akhirnya bersuara.
“apa kamu tidak mengingatku lagi, ra?” ucap lelaki itu sedikit kecewa.
“aku... aku merasa mengenalmu. Tapi aku bingung. Aku mengingat seseorang yang menolongku 6 tahun yang lalu. Dan wajahnya sama sepertimu” ucap Clara ragu.
“iya. Itu memang aku, ra” ucap lelaki itu kembali bersemangat. “aku Bisma”
“tapi bagaimana caranya kamu tidak bertambah tua? Seingatku kamu 6 tahun yang lalu persis seperti ini” ucap Dicky penasaran.
Bisma menoleh ke Dicky “ah.. susah untuk menjelaskannya. Apa kalian ingat dengan seorang wanita yang menangisiku waktu itu?” tanya Bisma memutuskan untuk menceritakannya.
“iya. Aku ingat. Dia sangat mirip dengan Clara” jawab Dicky diikuti anggukan Clara.
“bukan hanya mirip. Wanita itu adalah kamu, ra” ucap Bisma membuat Dicky dan Clara bingung.
“apa maksud kamu? Ini tidak lucu” ucap Dicky dingin.
“aku serius. Aku dan Clara 2 minggu yang lalu pergi ke masa lalu. Itu karena Clara merasa menyesal karena 6 tahun yang lalu dia gegabah minta putus sama kamu, Dicky. dia menyesal waktu kalian berantem dulu. Karena kalau aku tidak mencegahmu untuk tidak menyebrang kemarin, Dicky lah yang akan ditabrak truk itu, hingga meninggal” ucap Bisma pelan.
“aku tidak mengerti” ucap Clara heran.
“aku dan Clara memakai ‘jam pasir waktu’ untuk melintasi waktu ke masa lalu. Tepat saat kalian berantem 6 tahun yang lalu. Jadi 6 tahun yang lalu kamu bertemu denganmu dimasa depan, Clara. Apa kamu tidak mengingat wajah wanita itu? begitu mirip denganmu yang sekarang, bukan? Itu karena dia adalah kamu” ucap Bisma berusaha memberi penjelasan.
“tapi kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali?” tanya Clara.
“karena kita telah merubah takdir itu. kalau seandainya aku membiarkanmu menyebrang dan membiarkan Dicky ditabrak oleh truk itu, Dicky tidak akan ada disampingmu. Akulah yang ada disampingmu. Kamu akan terus memimpikan kenangan buruk saat melihat Dicky tewas seketika setelah ditabrak truk itu. dan kamu menjadi orang yang sangat menutup diri dari orang lain” ucap Bisma sedih mengingat keadaan Clara sebelum mereka melintasi waktu.
Dicky sedikit kaget kalau ternyata takdir dia yang sebenarnya adalah sudah meninggal 6 tahun yang lalu. Ia bersyukur karena Clara di masa depan mengubah takdirnya menjadi sekarang ini. Tetap berada disamping Clara. Selalu menemani dan menjaganya.
“tapi kenapa kamu mengingatku? Bukannya kamu merubah takdir kita?” tanya Clara masih bingung.
“itu karena kita baru sebulan yang lalu melintasi waktu, ra. Takdirku berubah karena kepalaku terbentur batu dengan cara konyol. Aku hampir saja meninggal karena tersandung kaki sendiri. aku tidak sadarkan diri selama 2 minggu. 2 minggu setelah itu aku selalu memikirkanmu. Aku takut kehilangan kamu. Harusnya aku sekarang tetap berada disampingmu. Walaupun kamu mengingatku sebagai orang yang menyelamatkanmu 6 tahun yang lalu. tapi ingatanku tentang kamu adalah, kamu orang yang sangat aku cintai” ucap Bisma tulus.
“apa kamu lupa dengan janjimu? Saat aku hampir pingsan, kamu berkata pasti bisa merasakan rasa itu saat kita mungkin terpisah di masa depan. Apa kamu merasakannya didalam hatimu?” lanjut Bisma lagi.
Clara menganggukkan kepalanya lemah. “iya. Aku merasakannya. Begitu melihat sosokmu, aku langsung merasa kangen. Aku kangen memelukmu, melihat wajahmu, mendengar suaramu, mendengar tawamu. Aku seperti merasa jatuh cinta kembali padamu” ucap Clara jujur.
“syukurlah kamu bisa merasakannya. Aku selalu takut kehilangan kamu. Yang aku pikirkan hanya itu waktu aku dirawat di Australia. Terima kasih karena kamu ternyata bisa menepati janjimu untukku” ucap Bisma lalu memeluk Clara lembut.
Clara tersenyum kecil dalam pelukan Bisma. “sama-sama Bisma” ucap Clara pelan.
Dicky tersenyum pahit melihat Clara dalam pelukan Bisma. Ternyata mereka memiliki hubungan yang cukup dalam sebelum menemuinya dimasa lalu. Sebelum mencegah takdirnya untuk meninggal dunia saat itu. Terang saja Clara tidak mau menerima Dicky lagi untuk menjadi kekasihnya. Tanpa dia sadari, dia sedang menunggu Bisma kembali di hadapannya. Kembali mengisi hari-harinya.
Tapi Dicky cukup bahagia karena ternyata Clara benar-benar tidak ingin kehilangan dirinya. Mendengar Bisma yang berkata bahwa mereka ke masa lalu karena Clara merasa sangat sedih kehilangan dirinya dan ingin Dicky kembali dikehidupannya, itu sudah membuat Dicky merasa senang. Ia merasa sangat berarti untuk Clara.
Clara melepas pelukannya dari Bisma. Bisma menatapnya dalam. “bolehkan aku menyatakan cintaku sekali lagi?” tanya Bisma.
Clara tersenyum lalu mengangguk.
You are my ground and you are my rainbow. You are my butterfly and you are my ecstasy. You are the start of my journeys and always my destination. You are my home, the place to which I always return. I promise to be there when you need me. I promise to hug you tight when you’re lonely. I promise to wipe your tears when they fall. and I promise to keep you, not for the rest of my life but for the rest of yours because you are my everything” ucap Bisma tersenyum.
“Clara, would you be my girlfriend?” ucap Bisma sambil memegang kedua tangan Clara.
“yes, I do, Bisma” jawab Clara sambil tersenyum senang.
Bisma kembali memeluk Clara dengan perasaan gembira. “maaf aku nembak kamu di bandara. Tempat yang sama sekali tidak tepat” bisik Bisma.
“tidak perlu tempat yang bagus, Bisma. Yang terpenting adalah perasaan kamu untukku” ucap Clara membalas pelukan Bisma.
“I love you. No one else. I just love you” ucap Bisma lalu mencium kening Clara cukup lama. Clara tersenyum.
Clara memandang Dicky penuh arti. Tiba-tiba saja Clara menangis. Ia sendiri pun tidak mengerti mengapa ia menangis. Bisma yang seakan mengerti apa yang terjadi hanya diam. Ia akan memberikan kesempatan untuk Clara dan Dicky.
“hei. Kenapa nangis?” ucap Dicky kaget dan menghampiri Clara.
“aku merasa bersalah sama kamu” lirih Clara.
“kenapa? Aku malah mau berterima kasih sama kamu dan Bisma. Makasih udah mengubah takdirku. Karena kalian aku masih bisa membanggakan kedua orang tuaku. dan aku bisa ada disampingmu sampai sekarang, ra” ucap Dicky lalu memeluk Clara dengan erat.
“tapi itu bukan karena aku dan Bisma. Pasti itu memang takdirmu. Takdir kita berdua memang untuk kembali ke masa lalu” jawab Clara.
“oke kalo memang begitu. Tapi kamu sama jangan nangis dong. Kamu bukan anak kecil lagi” ucap Dicky.
Clara menenggelamkan wajahnya di dalam pelukan Dicky. “tapi tetap saja aku merasa bersalah. Maafin aku sudah membuatmu sakit hati. Maaf karena aku mencintai Bisma” gumam Clara.
Dicky tertawa kecil. “kamu gak ingat apa yang aku katakan sebulan yang lalu? We can still be friend, right? I think, the closest relationship that is friendship. Not a romance” ucap Dicky menjauhkan Clara dari dekapannya.
Clara tersenyum. “maybe a friend but still tender-hearted” ucap Clara mengulang perkataannya sebulan yang lalu.
“kamu ini! Lihat tuh pacar kamu. Langsung manyun denger kamu ngomong gitu ke aku haha” ucap Dicky sambil menunjuk Bisma.
“apaan sih. Aku gak ada manyun” cetus Bisma.
“Bisma. Aku mau tanya satu hal sama kamu. Kalau aku tetap sahabatan sama Dicky dan terlihat mesra dengan dia, kamu bisa memakluminya kan?” tanya Clara serius.
“kamu gila ya Clara? Mana ada orang yang rela liat pacarnya mesra sama orang lain” saut Dicky melotot ke Clara.
“iya. Aku gak masalah kok. Kita bisa menjalin persahabatan bertiga, kan?” tanya Bisma sambil mengedipkan matanya.
“bisa banget, Bisma” ucap Clara tersenyum senang.
“kalian pasangan yang aneh” ucap Dicky datar.
“so, we are bestfriend, right?” ucap Clara sambil menggandeng tangan Bisma dan Dicky.
“yes! We are bestfriend now!” teriak Bisma.
“Dicky! kenapa kamu diam aja sih? Gak mau sahabatan sama kita berdua?” tanya Clara.
“bukannya gak mau. Tapi aku malu diliatin banyak orang tuh. Kita kan sekarang lagi ditempat umum. Di bandara Internasional pula lagi” ucap Dicky pelan.
Clara dan Bisma langsung melihat sekelilingnya. “o iya. Sampe lupa diri hehe” ucap Bisma dan Clara berbarengan.
“kalian ini kompak banget. Sama-sama aneh. Sama-sama gak tau malu” saut Dicky pura-pura cuek.
“kamu lebih aneh dan lebih gak tau malu haha” saut Bisma dan Clara kompak membalas Dicky.
“kalau begini terus, bisa-bisa aku kalah terus sama kalian. 2 banding 1. Yang 1 kurus lagi. gimana nasibku dimasa depan?” tanya Dicky pada diri sendiri.
“itu takdirmu, Dicky haha” ucap Bisma dan Clara tertawa.
Dicky tersenyum memandang mereka. “ya, ini takdirku untuk bersama kalian berdua” ucap Dicky serius.
“ky, muka kamu gak cocok banget buat serius. Sumpah gak bohong” ucap Bisma.
Dicky memanyunkan bibirnya. “tuh kan baru sehari aja gue udah diledekin mulu. Gimana besok-besok?”
“gak usah sok imut!” saut Clara menarik hidung Dicky.
“kalian ini ya ngajak aku perang” saut Dicky langsung menekan hidung Bisma dan Clara. “tuh biar kalian makin mancung tapi mancung ke dalam haha”
“ra, Dicky garing yah? Dia yang ngelucu, dia sendiri yang ketawa. Kasian” ucap Bisma ke Clara.
“yaudah kita ketawa juga yuk” ajak Clara. Lalu mereka berdua tertawa dengan datar.
Dicky mendekati Bisma dan Clara lalu merangkul mereka berdua. “rasain nih. Jurus ketek wangi aroma terapi haha!” ucap Dicky mengjepit kepala Bisma dan Clara kearah ketiaknya.
“astaga Dicky! ampun! Gila bau banget!” teriak Bisma dan Clara meminta ampun yang hanya bercanda saja. Dicky tertawa senang.
Orang-orang yang dari tadi melihat keseruan ketiga sahabat ini tertawa melihat aksi Dicky. walaupun mereka tidak tau apa yang dibicarakan 3 anak muda Indonesia ini, mereka mengerti bahwa ketiga anak ini sedang berbahagia.
It looks like those who change their own destiny. But this was indeed their destiny from the beginning. There is nothing that can change it. True love doesn’t have a happy ending. And true love doesn’t have an ending. True friendship doesn’t have an ending too. This is the beginning for all of them.
Thank you for reading. I hope you like it. This is just my imagination. Respect. Peace up!  J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar