13 April 2006
“Thanks for
the friendship. Thank you for the smile. Thanks for the love you showed even
though it was only for a while. True my heart was broken and yes, my eyes did
cry” ucapnya tersenyum pahit.
“please don’t leave me! I love you so much. Believe me, please”
teriaknya. “I always show my love for
you. Until know, and forever”
“But the pain is all over now. cause I have
learned to say goodbye” ucapnya. wajahnya begitu kusut karena terlalu sering
menangis. Untuk terakhir kalinya ia menatap orang yang sangat ia cintai itu lalu
berbisik “goodbye” lalu ia berjalan menyebrangi jalan raya untuk mencapai
mobilnya yang tadi ia parkirkan disana.
Terlihat sebuah truk melintas dengan sangat
kencang di jalan itu seakan bersiap untuk mengubah takdir mereka.
“Ra! look out! I don't want to lose you,
forever!” teriaknya lalu mendorong orang yang ia sayangi itu ke pinggir jalan
dan pasrah menghadapi truk yang akan menerjang tubuhnya dengan keras. Beberapa
detik sebelum truk itu merenggut nyawanya, ia berteriak. “now I love you, until
my heart stopped beating up”
***
14 April 2012
“tidak!!!” Clara
terbangun dalam keadaan mata yang basah. Jantungnya berdetak semakin cepat.
Sekujur tubuhnya basah dengan keringat. Dadanya naik turun tidak beraturan
karena merasa sesak. Ia menatap jam yang berada di dinding di hadapannya dengan
perlahan. “jam 4 pagi” gumam cewek itu pelan. Ia sedikit sesegukan.
Lagi-lagi ia bermimpi
hal yang sama sejak 6 tahun yang lalu. Kenangan yang pahit. Sebuah
kesalahpahaman yang berakibat sangat buruk terhadap kehidupannya hingga
sekarang. Kalau bisa, ia sangat ingin memperbaiki kenangan itu.
Ia bangun dari
tidurnya menuju kamar mandi. Seperti biasa, ia mencuci mukanya terlebih dahulu
agar matanya tidak terlihat sembab. Ini sudah menjadi kebiasaannya sejak 6
tahun yang lalu. Pasti ia selalu terbangun sekitar jam 3 sampai 5 pagi karena
mimpi itu, seperti saat ini.
***
Clara, 21 tahun. Sedang
menuntut ilmu di salah satu universitas negeri yang cukup terkenal di
Indonesia, tepatnya Jakarta. Memiliki kenangan yang buruk membuatnya menutup
diri dari semua orang. Hanya kepada satu orang, ia tidak menutup diri. Dan
hanya satu orang itulah yang mau berteman dengannya. Seseorang yang ia kenal
saat ia baru masuk kuliah. Orang yang sangat ingin selalu berada di sampingnya
disaat apapun juga.
“Clara! Kebiasaan
banget pagi-pagi melamun ditengah koridor” ucap seorang lelaki berusia 22 tahun
menghampiri Clara.
Clara melirik lelaki
itu sekilas. Lalu ia kembali berjalan menuju kelasnya.
Lelaki itu mengikuti
Clara dalam diam. Setelah sampai di kelas, lelaki itu memandang Clara dengan
sangat dalam sampai membuat gadis itu sedikit resah.
“Bisma. Kamu ngapain
sih?” ucap Clara melemparkan pandangannya ke belakang Bisma. Ia enggan menatap
kedua mata Bisma lebih lama lagi.
“sampai kapan kamu
kaya gini terus?” ucap Bisma masih menatap Clara.
“sampai aku bisa
ngelupain kenangan itu, Bisma. Setiap aku mengingat kejadian itu, aku merasa
frustasi. Aku menyesal. Seandainya aku tidak berkata seperti waktu itu.
seandainya aku tidak berniat meninggalkannya, dia mungkin masih ada disampingku
sampai sekarang” ucap Clara menangis.
Bisma menarik Clara
kedalam pelukannya. Gadis itu menangis semakin keras, namun tidak ada suara
yang keluar dari mulutnya. Hanya isakan kecil dan tubuhnya sedikit berguncang.
Bisma mengelus punggung Clara, berusaha membuat gadis itu merasa nyaman di
dalam pelukannya.
“apa kamu mau
memperbaiki kenangan itu?” ucap Bisma pelan.
Clara bergumam dalam
pelukan Bisma. “apa maksud kamu? Aku sangat ingin memperbaikinya”
“aku punya caranya.
Ikutlah denganku saat kelas sudah selesai” ucap Bisma lembut.
Clara menengadah
menatap Bisma. “kamu punya caranya? Bagaimana....”
Bisma meletakkan
telunjuknya tepat didepan bibir Clara dan tersenyum lembut. “kita lihat saja
nanti. Yakin, pasti bisa”
“makasih, Bisma. Kamu
memang yang paling mengerti aku. Aku sayang kamu” ucap Clara tulus.
“aku juga
menyayangimu” ucap Bisma tersenyum pahit lalu kembali memeluk Clara. Namun kali
ini pelukannya memiliki arti yang berbeda. Pelukan penuh rasa tidak rela untuk
memberikan gadis ini kepelukan orang lain. Ia merasa mungkin ini terakhir kalinya
ia mendengarkan kalimat itu keluar dari mulut gadis yang ia sayangi ini.
***
“kita sudah sampai”
ucap Bisma mematikan mesin mobilnya.
Clara menoleh kearah
Bisma. “bukannya ini rumah kakekmu? Untuk apa kita kesini?” tanya Clara sedikit
bingung.
“aku akan bercerita
sedikit. Waktu aku kecil, aku pernah tidak sengaja mendengar ucapan kakekku
soal keluargaku yang memiliki jam pasir yang mempunyai kekuatan melintasi
waktu. Jam pasir ini diwarisi secara turun-temurun dan dijaga sangat ketat.
Saat ini, jam pasir itu dipegang oleh kakek. Walaupun kedengaran tidak masuk
akal, tapi aku dulu pernah memainkan jam pasir itu lalu dimarahi habis-habisan
oleh kakek. Berarti benda itu sangat penting. Jika benar jam pasir itu ajaib,
kamu bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki kenangan burukmu itu” ucap
Bisma.
Clara menatap Bisma
dengan tatapan kurang percaya. “apa mungkin ada benda seperti itu?”
“yah sebenarnya aku
belum pernah coba...” ucap Bisma menggaruk kepalanya tanpa sebab.
“bisa kembali ke masa
lalu? Bisa bertemu dengannya? Bisa mencegah kejadian buruk itu?” ucap Clara
dengan wajah berseri-seri.
Bisma tersenyum kecil
lalu mengangguk. “aku akan melakukan apapun untukmu agar kamu tersenyum seperti
saat ini” ucap Bisma dalam hati.
***
“apa kalian sudah
gila?! Aku tidak akan memberikan jam pasir penting ini kalau dipakai untuk
itu!” teriak kakek Bisma marah.
“kalau bukan untuk
ini, jam pasir itu tidak akan berguna kan? ayolah kek” ucap Bisma memohon.
Kakek itu menghela
nafas. “Bisma, kamu tidak mengerti ya? Kalau merubah sesuatu dimasa lalu akan
berdampak besar di masa sekarang”
“aku kan tidak akan
mencegah sebuah peperangan” jawab Bisma.
“bukan seperti itu.
gadis ini memiliki lingkaran takdirnya sendiri. Memang sudah takdirnya ia
mengalami kejadian buruk itu. untuk mengubahnya, ada ‘harga’ yang harus
dibayar. Bukan hanya dia yang takdirnya berubah. Kau juga akan terpengaruh,
Bisma” ucap kakek itu pelan.
“Bisma...” ucap Clara
memandang Bisma dengan perasaan takut.
“tidak masalah.
Untuknya, aku rela berkorban. Apapun resikonya” ucap Bisma mantap.
“aku tidak akan tau
akhirnya kalian akan bagaimana” ucap kakek Bisma menghela nafas lagi.
“Bisma, apa kita
tidak usah pergi ke masa lalu? Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu nanti”
ucap Clara takut.
“yakin padaku” ucap
Bisma tersenyum lembut.
“konon, jam pasir ini
disebut ‘jam pasir waktu’ karena bisa melewati waktu ke masa lalu maupun masa
depan. Tapi sebenarnya benda ini dibuat bukan untuk mengubah masa lalu
seseorang. Aku pun tidak setuju dengan rencana kalian” ucap kakek Bisma lesu.
“percaya pada kami
berdua, kek” ucap Bisma yakin.
“baiklah” ucap kakek
Bisma. “jam pasir ini akan mengantarkan kalian ke tempat yang akan merubah masa
depan gadis ini, dan juga kau, Bisma. Pikirkanlah baik-baik apa yang akan kamu
rubah. Hati-hati. Jangan sampai menyesal” ucap kakek Bisma dengan serius.
“baiklah. Ayo kita
mulai” ucap Bisma dan Clara berbarengan. Walaupun dalam hati kecilnya mereka
merasa takut, mereka tetap yakin.
Kakek Bisma menutup
matanya. Bisma dan Clara juga ikut menutup mata. Dalam hati, Clara terus berdoa
agar semuanya berjalan lancar. Ia ingin bertemu dengan masa lalunya. Ia ingin
mengubahnya. Tapi ia juga takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan Bisma.
Bagaimanapun juga, Bisma adalah kekasihnya. Orang yang begitu peduli dengannya
selama ini. Orang yang sangat ia sayangi.
Ctasss... Bisma dan Clara membuka matanya. Tiba-tiba keluar cahaya
merah terang dari arah jam pasir itu, diikuti angin yang berputar kencang
seperi puyuh. Clara menutup matanya ketakutan. Ia merasa seperti diterbangkan
oleh angin dan cahaya itu. Ketika semua keberisikan itu berhenti, Clara membuka
matanya.
“ah... gedung SMAku”
ucap Clara pelan sambil memandang sekelilingnya.
“ini sekolah kamu
dulu?” ucap Bisma lalu berdiri disebelah Clara.
“kita benar-benar
kembali ke masa lalu...” ucap Clara dengan nafas tertahan.
“kenapa kamu begitu
yakin?” tanya Bisma heran.
Clara menunjuk
seorang gadis yang memakai seragam SMA sekolah ini. “karena itu adalah aku”
ucap Clara.
Bisma mengikuti arah
telunjuk Clara. “hah?! Kamu dulu manis banget!” ucap bisma.
Clara memanyunkan
bibirnya. “jadi sekarang aku gak manis?”
Bisma hanya tertawa.
“yaudah ayo kita cari kejadian buruk kamu. Kita Cuma dikasih waktu 2 jam untuk
memperbaikinya” ucap Bisma sambil melihat jam pasir itu.
“sekarang tanggal
berapa?” tanya Clara.
“mana aku tau” cetus
Bisma.
“tanya ke orang-orang
dong, Bisma. Kalau aku yang nanya, mana mungkin. Wajahku sekarang dengan wajahku
waktu SMA hanya berubah sedikit. Bisa-bisa aku waktu SMA stres karena ngeliat
aku” ucap Clara.
“iya, bawel” ucap
Bisma lalu mendatangi seorang gadis. “permisi. Sekarang tanggal berapa ya?”
ucap Bisma sopan.
“oh, tanggal 13 April
2006 ka” ucap gadis itu sambil tersenyum manis.
“makasih yaa” ucap
Bisma balas tersenyum lalu pergi meninggalkan gadis itu.
Clara keluar dari
persembunyiannya. “Bisma. Hari ini tepat hari dimana aku ngeliat dia lagi
ciuman dengan cewek yang diidolakan semua cowok disekolah ini. Dan setelah itu
kita ribut sampai aku minta putus” ucap Clara sedikit menangis mengingat
kejadian itu. “aku mmang kekanakan. Hanya karena itu aku minta putus”
Bisma memegang tangan
Clara dan menggenggamnya lembut. “ayo kita ketempat kalian ribut dan mencegah
itu terjadi” ucap Bisma.
Clara menatap Bisma.
“ayo!” ucap Clara tersenyum yakin.
***
“harusnya ada dia
disini sedang berciuman dengan cewek itu. Dan aku yang kebetulan lewat melihatnya”
ucap Clara berjalan tidak tenang kesana kemari.
“sudahlah. Kamu
tenang dulu. Mungkin kita lebih cepat sampai disini sebelum kamu melihatnya
waktu itu” ucap Bisma yang pusing melihat Clara yang berjalan bolak-balik.
“kalau kita sembunyi
disini, berarti aku akan melihat dia berciuman dengan cewek itu lebih jelas
dari yang aku lihat 6 tahun yang lalu” gumam Clara pelan.
“Clara, ada orang
yang datang kesini. Cepat sembunyi!” ucap Bisma menarik Clara untuk bersembunyi
dibalik semak-semak.
“Dicky...” ucap Clara
sedih melihat seorang cowok berseragam SMA itu. perasaan ingin memeluk cowok
itu memenuhi pikirannya. Namun ia sadar, kalau ia keluar saat ini dan langsung
memeluknya, mungkin akan tambah memperkeruh keadaan.
Cowok yang disebut
Clara sebagai Dicky itu terlihat kesal.
“Dicky! Kenapa kamu
tidak mau menerima aku? Aku itu cewek idola disini. Harusnya kamu senang karena
disukai oleh cewek seperti aku!” teriak cewek bernama Desi yang mengejar Dicky
sampai disini.
“aku gak mau karena
aku udah punya Clara! Bagiku, Clara yang paling sempurna. Jadi jangan ganggu
aku dengannya” teriak Dicky kesal.
“apa sih bagusnya
dia? Aku lebih bagus dari dia!” ucap Desi tidak terima.
“kamu lebih bagus
dari dia? Haha. Jangan mimpi. Kamu jauh lebih buruk dari dia. Kamu serakah.
Ingin mendapatkan semuanya dengan memakai uang. Sampai cinta pun kamu beli
dengan uang. Clara tidak seperti kamu” ucap Dicky sinis.
“bukannya Clara juga
bisa aku beli dengan uang? Dia wanita murahan” ucap Desi sombong.
“jangan sembarangan
kamu, ya! Jangan pikir karena kamu kaya kamu bisa membeli harga diri orang.
Apalagi Clara. Clara jauh lebih mahal dari kamu” desis Dicky mencengkeram
tangan Desi kuat.
Clara menatap Dicky
dari balik semak-semak. Ia tersenyum terharu. Ternyata ini kejadian sebenarnya.
Dicky begitu mencintainya.
“kenapa sih kamu
begitu membelanya? Kamu dikasih apa sama dia? Aku bisa kasih kamu lebih!”
“aku gak butuh barang
mahal. Aku hanya butuh cinta. Dan Clara udah kasih itu ke aku”
“apa yang kamu maksud
dengan cinta itu adalah ciuman?” ucap Desi lalu mencium bibir Dicky.
Clara terkesiap
kaget. Bisma dengan cepat menutup mata Clara. “jangan nangis, ra” ucap Bisma
saat merasa tangannya mengenai sesuatu yang basah. Bisma memeluk Clara untuk
menenangkannya.
“Dicky! kamu?!” ucap
Clara yang berumur 16 tahun. Matanya sudah berkaca-kaca.
“Ra! Ini bukan
kemauanku. Dia memaksaku. Plis dengerin aku dulu” ucap Dicky melepaskan
genggaman Desi.
“semuanya udah jelas,
ky” ucap Clara menangis. “aku kira kamu cinta sama aku. Tapi kamu tega cium
cewek lain dibelakang aku”
“bukan kaya gini, ra.
Aku memang benar-benar cinta kamu. Tapi...” ucap Dicky berusaha menahan Clara
yang akan pergi.
“gak! Aku gak mau
percaya sama kamu!” teriak Clara melepaskan tangan Dicky dari tangannya dengan
kasar. Lalu ia berlari keluar gerbang sekolah.
“Clara. Plis percaya
sama aku. Aku gak ada apa-apa sama dia” ucap Dicky mengejar Clara.
“Desi. Cewek populer
yang disukai semua cowok disekolah ini. Dan itu termasuk kamu, kan?” ucap Clara
sinis.
“gak! Aku gak pernah
suka sama dia. Aku Cuma suka kamu, ra” ucap Dicky mulai frustasi.
Clara memandang Dicky
dengan pilu. “aku sayang kamu, ky. Melebihi apapun. Tapi ternyata kamu
malah...”
“harus berapa kali
aku bilang, Ra? Tadi aku dipaksa sama dia. Aku gak ada maksud buat ngecewain
kamu” ucap Dicky memegang kedua pundak Clara.
“Oke. Aku bakalan
nganggap kalau kamu dipaksa sama cewek itu. tapi kejadiannya gak akan berubah
kan? kamu tetap ciuman dengan cewek itu!” teriak Clara frustasi.
Dicky menundukkan
kepalanya. “maaf, ra. Aku udah berusaha buat nolak dia”
“kita break dulu yah”
ucap Clara sambil tersenyum sakit.
“Ra, kamu gak percaya
sama aku? Aku bener-bener gak ada niatan buat cium dia” ucap Dicky membela
diri.
“kita masih bisa
berteman, kan?” ucap Clara untuk menyemangati dirinya sendiri.
“kamu kira aku
percaya dengan kata-kata itu? gak. Aku yakin, setelah kejadian ini, kamu pasti
tidak mau melihat mukaku lagi. kamu pasti akan menjauhi aku” ucap Dicky lalu
memeluk Clara kuat. Ia tak ingin melepaskannya.
“Thanks for the relationship. Thank you for the smile. Thanks for the
love you showed even though it was only for a while. True my heart was broken
and yes, my eyes did cry” ucap Clara tersenyum pahit. Airmatanya masih
mengalir. Ia melepaskan pelukan Dicky.
“please don’t leave
me! I love you so much. Believe me, please” teriak Dicky. “I always show my
love for you. Until know and forever”
“Bisma. Ini Bis
kenangan yang selalu datang dalam mimpiku. Setelah ini Dicky...” lirih Clara 21
tahun dengan gemetar.
“kita akan
menghentikannya” ucap Bisma yakin lalu keluar dari persembunyiannya.
“Bisma...” ucap Clara
lirih. “kamu jangan ngelakuin tindakan bodoh” Clara memegang ujung kemeja yang
dipakai Bisma.
“tenang. Aku akan
kembali kesisimu” ucap Bisma tersenyum yakin.
Clara melepaskan
pegangannya dengan perlahan. “janji?”
Bisma mengangguk. “kalaupun
ada yang terjadi padaku dan berdampak pada hubungan kita dimasa depan, kita
pasti masih bisa merasakannya. Merasakan bahwa aku mencintaimu. Dan begitu juga
denganmu” ucap Bisma lalu mencium puncak kepala Clara. Kemudia ia pergi
mendatangi Dicky dan Clara diusia 16 tahun.
Clara menatap Bisma
dengan sedih. “ya, aku pasti bisa merasakannya jika kita harus berpisah karena
kejadian ini”
“But the pain is all over now. cause I have learned to say goodbye”
ucap Clara, 16 tahun. wajahnya begitu kusut karena terlalu sering menangis.
Untuk terakhir kalinya ia menatap orang yang sangat ia cintai itu lalu berbisik
“goodbye” lalu ia berjalan menyebrangi jalan raya untuk mencapai mobilnya yang
tadi ia parkirkan disana. Ia akan pulang. Ia tidak ingin kembali kesekolah.
“tunggu!” teriak Bisma membuat Clara berhenti berjalan dan membalikkan
badannya. Posisinya sedikit ke tengah jalan.
“aku melihatnya! Ketika Dicky membelamu habis-habisan didepan wanita
itu. ketika dia berkata bahwa kamu adalah wanita yang paling sempurna yang
pernah ia temui. Ia sangat mencintai kamu, Clara. Percaya padanya!” teriak
Bisma.
“sungguh?” ucap Clara menatap heran kearah Bisma. Lalu ia menatap
Dicky meminta kepastian.
“ya. Dia benar. Tadi kamu dihina Desi sebagai wanita murahan. Aku
tidak terima dan...” Dicky mengucapkan itu sambil berjalan kearah Clara.
Sebelum Dicky menyelesaikan ucapannya, Clara memeluk Dicky dengan
senang. “aku percaya sama kamu, Dicky”
Clara 21 tahun tersenyum terharu. “Bisma, terima kasih” ucapnya pelan.
Bisma melihat sebuah truk melintas dengan sangat kencang di jalan itu. dengan cepat
Bisma mendorong Dicky menjauh kearah dalam gerbang sekolah. Clara 16 tahun
terkesiap kaget karena tiba-tiba saja ia didorong oleh Bisma keseberang jalan.
Clara, 21 tahun berteriak tertahan. Ia melihat Bisma masih berdiri
ditengah jalan setelah mendorong Clara 16 tahun ke pinggir jalan. Dalam hati
Clara berteriak sambil menangis. “jangan ambil Bisma, Tuhan. Jangan dia! Dia
sudah menolongku. Aku mencintainya! Aku membutuhkan keduanya. Bisma maupun
Dicky”
Beberapa detik Bisma terdiam ditengah jalan raya. Ia sedikit shock.
Lalu ia tersadar dan segera berlari dengan cepat ke pinggir jalan sebelum truk
itu menabrak tubuhnya. Namun karena ia berlari dalam keadaan takut dan shock,
Bisma tersandung kakinya sendiri dan kepalanya membentur sebuah batu besar yang
berada disamping Clara 16 tahun dengan keras. Batu besar itu cukup tajam. Kepalanya
langsung mengeluarkan banyak darah. Ia tergeletak lemah dengan kesadaran yang
mulai menghilang.
Clara 16 tahun berteriak takut. Dicky dengan segera menghampiri Clara.
“kamu tidak apa-apa?” ucap Dicky lalu memeluk Clara dengan perasaan takut.
“aku tidak apa, ky. Tapi kakak yang menolongku...” ucap Clara dengan
suara bergetar.
Dicky melepaskan pelukannya. “dia mengeluarkan banyak darah. Cepat
telepon rumah sakit!” ucap Dicky sambil melemparkan handphonenya ke Clara.
Dengan gemetar Clara menekan nomor telepon omnya yang bekerja disalah
satu rumah sakit.
“Bisma!” teriak Clara 21 tahun sambil menangis. “kamu jangan tinggalin
aku, Bisma. Aku masih butuh kamu”
Dicky dan Clara 16 tahun melihat Clara 21 tahun dengan bingung.
terlebih lagi dengan Clara 16 tahun yang begitu kaget melihat kesamaan wajahnya
dengan wajah Clara 21 tahun.
“aku gak akan ninggalin kamu, ra” ucap Bisma lirih
Clara 21 tahun menatap jam pasir yang telah menunjukkan tepat 2 jam
mereka ada di masa lalu. “Bisma! Jangan lupakan aku. Aku yakin, suatu saat
dimasa depan nanti kita bisa merasakannya. Walalupun saat itu aku melupakanmu, aku
pasti merasakannya. Aku sangat mencintai kamu, Bisma!” teriak Clara sambil
menangis sebelum cahaya dan angin dari jam pasir menerbangkan mereka berdua
kembali ke masa depan.
***
14 April 2012
“Clara!” teriak Dicky
mengagetkan Clara yang sedang melamun ditaman tempat kuliah mereka. Di Jakarta.
“ada apa sih? Kamu
suka banget ngagetin aku kaya gini” ucap Clara memukulkan buku yang ia pegang
ke badan Dicky.
“abis kamu kerjaannya
melamun terus. Di taman yang sepi lagi. kalo kamu kesurupan gimana?” ucap Dicky.
“aku akan bunuh kamu”
ucap Clara dingin.
“Ra, gak lucu banget.
Sumpah” ucap Dicky datar.
“kamu sih bawel
banget. Diam semenit aja bisa gak?” ucap Clara kesal.
“bawel-bawel gini,
kamu tetep cinta kan sama aku? Haha” ucap Dicky menggoda Clara.
“apaan sih? Garing”
ucap Clara salah tingkah.
“Claranya malu tuh
malu haha” ucap Dicky. “siapa yah yang 6 tahun yang lalu hampir ketabrak Cuma
karena cemburu liat aku ciuman sama cewek lain?” goda Dicky lagi.
“itu kan karena kamu
dulu pacar aku. Mana rela aku tau kalo kamu ciuman sama dia. Sama aku aja
belum” ucap Clara pura-pura ngambek.
“oh jadi mau minta
nih? Sini-sini aku kasih” ucap Dicky memajukan mulutnya ke arah wajah Dicky.
“nih cium buku aku”
ucap Clara menutupi wajahnya dengan buku. “kamu genit banget sih. Nanti cewek
kamu marah sama aku”
“aku belum punya
pacar, ra. Kamu ini gimana sih” ucap Dicky kesal.
“makanya jangan
genit-genit sama aku. Cewek-cewek yang tadinya mau ngajakin kamu kenalan jadi
mundur karena ngira kita pacaran” saut Clara.
“kamu kenapa sih gak
mau pacaran sama aku lagi? sebenernya kita saling mencintai kan?” ucap Dicky
berubah menjadi serius.
“karena kamu jelek”
ucap Clara berusaha mengalihkan pembicaraan.
“aku serius, ra” ucap
Dicky menatap Clara.
Clara menatap balik
Dicky lalu menghembuskan nafas dengan berat. “ntahlah. Aku juga bingung.
sebenarnya aku juga cinta sama kamu. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Aku gak
tau apa yang buat aku jadi kaya gini”
Dicky memeluk Clara
dengan lembut. “We can still be friend, right? I think, the closest
relationship that is friendship. Not a romance” ucap Dicky menguatkan dirinya
sendiri. Ya, sampai sekarang ia masih mencintai Clara. Sangat mencintainya.
Tapi cinta tidak harus memiliki, bukan?
“yes. We are still
bestfriend. A friend but still tender-hearted, maybe. haha” ucap Clara menggoda
Dicky.
“kok kamu malah balik
jahilin aku sih?” ucap Dicky mencubit pipi Clara dengan gemas.
“emang cuma kamu
doang yang bisa? Aku juga bisa” ucap Clara sambil memeletkan lidahnya.
“dasar” komentar
Dicky mengacak-acak rambut Clara dengan gemas.
***
14 Mei 2012
“Dicky, mama kamu ke
Indonesia naik apa sih? Aku mau liat jadwalnya nih” tanya Clara sambil melihat
layar jadwal keberangkatan di bandara. Mereka sedang menjemput mama Dicky yang
baru saja pulang dari Australia karena pekerjaan.
“naik pesawat dong,
ra” jawab Dicky polos.
Clara menjitak kepala
Dicky pelan. “ya itu aku juga tau. masa mama kamu naik becak dari Australia ke
sini” ucap Clara kesal.
“ya kamu sih nanyanya
gak detail. Aku mana tau” ucap Dicky sambil memberikan catatan nama pesawat
yang dipakai mama Dicky beserta nomor jenisnya.
Setelah tau, Clara
melihat kembali layar yang berisi jadwal keberangkatan itu. “jam 4 sore.
Sekarang jam berapa, ky?” tanya Clara.
“jam 4 kurang 5
menit, ra. Kenapa?” tanya Dicky lagi.
“itu dijadwalnya mama
kamu sampai sini jam 4 sore. Berarti 5 menit lagi. syukurlah gak terlalu lama
nunggu” ucap Clara.
“kalau gitu kita
duduk dulu atau langsung berdiri didekat pintu tempat mama keluar. Gimana?”
tanya Dicky memberi Clara pilihan.
“langsung berdiri aja
deh. Jadi nanti kalau liat mama kamu, kita bisa langsung pulang” ucap Clara.
“yaudah ayo kesana”
ucap Dicky sambil menarik Clara kedepan pintu tempat mamanya nanti akan keluar.
5 menit berlalu. ada
tanda-tanda bahwa ada pesawat yang baru saja mendarat. Dan menurut
pengumumannya, yang baru saja mendarat adalah pesawat dari Australia.
Dicky mulai mencari
sosok mamanya. Ketika ia melihatnya, Dicky langsung melambaikan tangannya.
“mama, disini” ucap Dicky semangat.
Clara mendekati
wanita paruh baya itu sambil tersenyum. “sore tante. Syukurlah tante sampai
sini dengan selamat” sapa Clara dengan sopan.
“iya Clara. Makasih
yah” ucap mama Dicky balas tersenyum.
“mama bawa oleh-oleh
apa?” tanya Dicky antusias.
“kamu ini. Bukannya
nanya kabar mama dulu. Langsung nanyain oleh-oleh” ucap mama Dicky dengan nada
marah. namun wajahnya terlihat senang.
“Dicky kan masih
kecil tante. Lebih suka oleh-oleh. Apalagi kalo oleh-olehnya makanan” ucap
Clara menimpali. Ia memang sudah akrab dengan keluar Dicky. begitu juga dengan
Dicky yang sudah sangat akrab dengan keluarga Clara.
“ikut-ikutan aja nih”
ucap Dicky memanyunkan bibirnya.
“gak usah sok imut,
ky” ucap Clara menggoda Dicky.
“ma, lihat nih. Anak
mama yang paling imut dikatain sok imut” ucap Dicky seperti anak kecil.
“udah ahh. Kamu malah
kesannya kaya anak kecil kurang bahagia” ucap mama Dicky ikutan menggoda Dicky.
“yah mama kok malah
ikutan Clara sih?” saut Dicky datar.
“kasian deh. Udah tua
kok kelakuan kaya anak kecil. Mamanya sendiri juga ngakuin itu. haha” ucap
Clara semakin menggoda Dicky.
“Bisma!” teriak
seorang wanita berusia sekitar setengah abad dari belakang Clara.
DEG!!!
Tiba-tiba
jantung Clara berdetak begitu cepat. Ia berbalik dan melihat seorang lelaki
berusia sekitar 22 tahun sedang memeluk ibunya yang memanggil namanya tadi. Ada
perasaan lain dalam hatinya ketika mendengar nama itu.
“bagaimana bisa sih
kamu tiba-tiba muncul dirumah dalam keadaan pingsan? Dan kepala kamu juga robek
seperti terkena benda tajam. Kamu harus menceritakannya ke mama. Kita semua
hampir mati Cuma karena mengkhawatirkan kamu” ucap ibu itu menangis.
“maafkan Bisma, ma.
Tapi sekarang Bisma gak apa-apa kok. Buktinya Bisma sekarang berdiri didepan
mama. Mama jangan nangis ya” ucap lelaki itu sambil menghapus air mata ibunya.
“jangan pernah ulangi
hal itu lagi ya. Mama gak mau kehilangan kamu” ucap ibu itu kembali memeluk
anaknya itu.
“iya. Bisma janji”
ucap lelaki itu berjanji.
“Bisma...” gumam
Clara pelan.
Dicky melirik ke arah
Clara. “ra, kamu ngerasa familier gak sama nama Bisma? soalnya aku ngerasa
gitu” bisik Dicky.
“anak itu ya? Tadi
dia duduk disebelah mama. Dia cerita kalau dia kecelakaan sebulan yang lalu.
Kepalanya robek besar karena terbentur batu besar tajam. Katanya waktu itu dia
menyelamatkan seorang gadis yang akan ditabrak truk di jalan depan sekolahnya.
Jadi keluarganya bawa dia ke Australia. Hari ini dia baru pulang” ucap mama
Dicky yang mendengar nama Bisma disebut oleh kedua anak itu.
“kecelakaan?
Kepalanya robek karena batu besar? Selamatin gadis yang mau ditabrak truk di
jalan depan sekolahnya?” ucap Clara seakan mengingat sesuatu. Tiba-tiba
ingatannya terlempar ke 6 tahun yang lalu.
“ra, jangan bilang
kalo kamu lagi mikirin kejadian 6 tahun yang lalu pas kamu hampir ditabrak truk
dan ditolong cowok yang umurnya sama kaya kita sekarang. Yang dipanggil dengan
nama Bisma sama cewek sekitar 21 tahun yang wajahnya sama kamu waktu itu” ucap
Dicky melirik Clara.
“iya ky. Aku lagi
mikirin itu. tapi kayanya gak mungkin deh. Kata mama, dia cerita kalo dia
kecelakaan sebulan yang lalu. Sedangkan yang aku alami itu 6 tahun yang lalu”
ucap Clara masih berpikir.
“tapi ra, kamu lihat
deh wajah cowok itu. seingatku dia mirip sekali sama orang yang nolongin kamu 6
tahun yang lalu. Aku ingat karena dia dulu yang bantu aku supaya kamu percaya
sama kata-kata aku” ucap Dicky.
Clara menatap wajah
cowok itu lekat-lekat dan terkesiap kaget. “iya. Benar ky. Aku ingat banget,
karena waktu dulu dia pingsan kebentur batu, aku liat wajahnya. Dan itu sama
persis” teriak Clara.
“tapi bagaimana
mungkin dia selama 6 tahun tidak menunjukkan perubahan diwajahnya sama sekali?
Dulu kita umur 16 tahun. Dan sekarang 21 tahun. Apa dia tetap berumur 22
tahun?” tanya Dicky bingung.
“tante. Dia ada
cerita gak umur dia sekarang berapa?” tanya Clara penasaran.
“ada. Dia bilang
sekarang umurnya 22 tahun. Memangnya kenapa?” jawab mama Dicky sedikit heran.
“ra, apa dia manusia?
Dia tidak tambah tua sama sekali” ucap Dicky takut.
“pasti dia manusia.
Aku yakin itu. pasti ada sesuatu dibalik ini semua” ucap Clara yakin.
“anak-anak, kalian
sedang membicarakan apa?” tanya mama Dicky bingung.
“ah, bukan apa-apa
ma. Makasih ya udah cerita” ucap Dicky tersenyum.
“yaudah ayo ke mobil.
Mama udah kangen sama papa” ucap mama Dicky.
“mama duluan aja ya.
Kita ada urusan disini” jawab Dicky.
“kalo gitu kalian
cepat nyusul yah. Mama ada oleh-oleh untuk kalian berdua” ucap mama Dicky.
Clara dan Dicky
mengangguk berbarengan lalu tersenyum. Setelah mama Dicky menghilang dari
pandangan, Clara berbisik ke Dicky. “ky, aku penasaran deh sama cowok itu. kita
datangin yuk!”
Dicky mengangguk
setuju. Clara lalu berjalan mendekati lelaki itu. semakin mendekat, jantung
Clara berdetak tidak karuan. Ia merasa sangat rindu dengan sosok lelaki ini.
“permisi” ucap Clara
pelan.
Lelaki itu
membalikkan badannya dan terkejut melihat Clara. “Clara?!” teriak lelaki itu
senang.
Clara tersentak
kaget. Wajahnya, suaranya, badannya. Ia rindu dengan sosok ini. Sangat rindu.
Tapi ia tidak tau kenapa perasaan ini tiba-tiba saja muncul.
Dicky melihat lelaki
itu dengan kaget. “bagaimana bisa kamu mengetahui nama dia?”
“Dicky?! syukurlah
kamu sekarang bersama Clara. Pasti dia tidak bermimpi yang aneh-aneh lagi” ucap
lelaki itu lega.
“apa maksud kamu?”
tanya Clara akhirnya bersuara.
“apa kamu tidak
mengingatku lagi, ra?” ucap lelaki itu sedikit kecewa.
“aku... aku merasa
mengenalmu. Tapi aku bingung. Aku mengingat seseorang yang menolongku 6 tahun
yang lalu. Dan wajahnya sama sepertimu” ucap Clara ragu.
“iya. Itu memang aku,
ra” ucap lelaki itu kembali bersemangat. “aku Bisma”
“tapi bagaimana
caranya kamu tidak bertambah tua? Seingatku kamu 6 tahun yang lalu persis
seperti ini” ucap Dicky penasaran.
Bisma menoleh ke
Dicky “ah.. susah untuk menjelaskannya. Apa kalian ingat dengan seorang wanita
yang menangisiku waktu itu?” tanya Bisma memutuskan untuk menceritakannya.
“iya. Aku ingat. Dia
sangat mirip dengan Clara” jawab Dicky diikuti anggukan Clara.
“bukan hanya mirip.
Wanita itu adalah kamu, ra” ucap Bisma membuat Dicky dan Clara bingung.
“apa maksud kamu? Ini
tidak lucu” ucap Dicky dingin.
“aku serius. Aku dan
Clara 2 minggu yang lalu pergi ke masa lalu. Itu karena Clara merasa menyesal
karena 6 tahun yang lalu dia gegabah minta putus sama kamu, Dicky. dia menyesal
waktu kalian berantem dulu. Karena kalau aku tidak mencegahmu untuk tidak
menyebrang kemarin, Dicky lah yang akan ditabrak truk itu, hingga meninggal”
ucap Bisma pelan.
“aku tidak mengerti”
ucap Clara heran.
“aku dan Clara
memakai ‘jam pasir waktu’ untuk melintasi waktu ke masa lalu. Tepat saat kalian
berantem 6 tahun yang lalu. Jadi 6 tahun yang lalu kamu bertemu denganmu dimasa
depan, Clara. Apa kamu tidak mengingat wajah wanita itu? begitu mirip denganmu
yang sekarang, bukan? Itu karena dia adalah kamu” ucap Bisma berusaha memberi
penjelasan.
“tapi kenapa aku
tidak mengingatnya sama sekali?” tanya Clara.
“karena kita telah
merubah takdir itu. kalau seandainya aku membiarkanmu menyebrang dan membiarkan
Dicky ditabrak oleh truk itu, Dicky tidak akan ada disampingmu. Akulah yang ada
disampingmu. Kamu akan terus memimpikan kenangan buruk saat melihat Dicky tewas
seketika setelah ditabrak truk itu. dan kamu menjadi orang yang sangat menutup
diri dari orang lain” ucap Bisma sedih mengingat keadaan Clara sebelum mereka
melintasi waktu.
Dicky sedikit kaget
kalau ternyata takdir dia yang sebenarnya adalah sudah meninggal 6 tahun yang
lalu. Ia bersyukur karena Clara di masa depan mengubah takdirnya menjadi
sekarang ini. Tetap berada disamping Clara. Selalu menemani dan menjaganya.
“tapi kenapa kamu
mengingatku? Bukannya kamu merubah takdir kita?” tanya Clara masih bingung.
“itu karena kita baru
sebulan yang lalu melintasi waktu, ra. Takdirku berubah karena kepalaku
terbentur batu dengan cara konyol. Aku hampir saja meninggal karena tersandung
kaki sendiri. aku tidak sadarkan diri selama 2 minggu. 2 minggu setelah itu aku
selalu memikirkanmu. Aku takut kehilangan kamu. Harusnya aku sekarang tetap
berada disampingmu. Walaupun kamu mengingatku sebagai orang yang
menyelamatkanmu 6 tahun yang lalu. tapi ingatanku tentang kamu adalah, kamu
orang yang sangat aku cintai” ucap Bisma tulus.
“apa kamu lupa dengan
janjimu? Saat aku hampir pingsan, kamu berkata pasti bisa merasakan rasa itu
saat kita mungkin terpisah di masa depan. Apa kamu merasakannya didalam
hatimu?” lanjut Bisma lagi.
Clara menganggukkan
kepalanya lemah. “iya. Aku merasakannya. Begitu melihat sosokmu, aku langsung
merasa kangen. Aku kangen memelukmu, melihat wajahmu, mendengar suaramu,
mendengar tawamu. Aku seperti merasa jatuh cinta kembali padamu” ucap Clara
jujur.
“syukurlah kamu bisa
merasakannya. Aku selalu takut kehilangan kamu. Yang aku pikirkan hanya itu
waktu aku dirawat di Australia. Terima kasih karena kamu ternyata bisa menepati
janjimu untukku” ucap Bisma lalu memeluk Clara lembut.
Clara tersenyum kecil
dalam pelukan Bisma. “sama-sama Bisma” ucap Clara pelan.
Dicky tersenyum pahit
melihat Clara dalam pelukan Bisma. Ternyata mereka memiliki hubungan yang cukup
dalam sebelum menemuinya dimasa lalu. Sebelum mencegah takdirnya untuk
meninggal dunia saat itu. Terang saja Clara tidak mau menerima Dicky lagi untuk
menjadi kekasihnya. Tanpa dia sadari, dia sedang menunggu Bisma kembali di
hadapannya. Kembali mengisi hari-harinya.
Tapi Dicky cukup
bahagia karena ternyata Clara benar-benar tidak ingin kehilangan dirinya.
Mendengar Bisma yang berkata bahwa mereka ke masa lalu karena Clara merasa
sangat sedih kehilangan dirinya dan ingin Dicky kembali dikehidupannya, itu
sudah membuat Dicky merasa senang. Ia merasa sangat berarti untuk Clara.
Clara melepas
pelukannya dari Bisma. Bisma menatapnya dalam. “bolehkan aku menyatakan cintaku
sekali lagi?” tanya Bisma.
Clara tersenyum lalu
mengangguk.
“You are my ground and you are my rainbow. You are my butterfly and you
are my ecstasy. You are the start of my journeys and always my destination. You
are my home, the place to which I always return. I promise to be there when you
need me. I promise to hug you tight when you’re lonely. I promise to wipe your
tears when they fall. and I promise to keep you, not for the rest of my life
but for the rest of yours because you are my everything” ucap Bisma tersenyum.
“Clara, would you be my girlfriend?” ucap Bisma sambil memegang kedua
tangan Clara.
“yes, I do, Bisma” jawab Clara sambil tersenyum senang.
Bisma kembali memeluk Clara dengan perasaan gembira. “maaf aku nembak
kamu di bandara. Tempat yang sama sekali tidak tepat” bisik Bisma.
“tidak perlu tempat yang bagus, Bisma. Yang terpenting adalah perasaan
kamu untukku” ucap Clara membalas pelukan Bisma.
“I love you. No one else. I just love you” ucap Bisma lalu mencium
kening Clara cukup lama. Clara tersenyum.
Clara memandang Dicky
penuh arti. Tiba-tiba saja Clara menangis. Ia sendiri pun tidak mengerti
mengapa ia menangis. Bisma yang seakan mengerti apa yang terjadi hanya diam. Ia
akan memberikan kesempatan untuk Clara dan Dicky.
“hei. Kenapa nangis?”
ucap Dicky kaget dan menghampiri Clara.
“aku merasa bersalah
sama kamu” lirih Clara.
“kenapa? Aku malah
mau berterima kasih sama kamu dan Bisma. Makasih udah mengubah takdirku. Karena
kalian aku masih bisa membanggakan kedua orang tuaku. dan aku bisa ada
disampingmu sampai sekarang, ra” ucap Dicky lalu memeluk Clara dengan erat.
“tapi itu bukan
karena aku dan Bisma. Pasti itu memang takdirmu. Takdir kita berdua memang
untuk kembali ke masa lalu” jawab Clara.
“oke kalo memang
begitu. Tapi kamu sama jangan nangis dong. Kamu bukan anak kecil lagi” ucap
Dicky.
Clara menenggelamkan
wajahnya di dalam pelukan Dicky. “tapi tetap saja aku merasa bersalah. Maafin
aku sudah membuatmu sakit hati. Maaf karena aku mencintai Bisma” gumam Clara.
Dicky tertawa kecil.
“kamu gak ingat apa yang aku katakan sebulan yang lalu? We can still be friend,
right? I think, the closest relationship that is friendship. Not a romance”
ucap Dicky menjauhkan Clara dari dekapannya.
Clara tersenyum. “maybe
a friend but still tender-hearted” ucap Clara mengulang perkataannya sebulan
yang lalu.
“kamu ini! Lihat tuh
pacar kamu. Langsung manyun denger kamu ngomong gitu ke aku haha” ucap Dicky
sambil menunjuk Bisma.
“apaan sih. Aku gak
ada manyun” cetus Bisma.
“Bisma. Aku mau tanya
satu hal sama kamu. Kalau aku tetap sahabatan sama Dicky dan terlihat mesra
dengan dia, kamu bisa memakluminya kan?” tanya Clara serius.
“kamu gila ya Clara?
Mana ada orang yang rela liat pacarnya mesra sama orang lain” saut Dicky
melotot ke Clara.
“iya. Aku gak masalah
kok. Kita bisa menjalin persahabatan bertiga, kan?” tanya Bisma sambil
mengedipkan matanya.
“bisa banget, Bisma”
ucap Clara tersenyum senang.
“kalian pasangan yang
aneh” ucap Dicky datar.
“so, we are
bestfriend, right?” ucap Clara sambil menggandeng tangan Bisma dan Dicky.
“yes! We are
bestfriend now!” teriak Bisma.
“Dicky! kenapa kamu
diam aja sih? Gak mau sahabatan sama kita berdua?” tanya Clara.
“bukannya gak mau.
Tapi aku malu diliatin banyak orang tuh. Kita kan sekarang lagi ditempat umum.
Di bandara Internasional pula lagi” ucap Dicky pelan.
Clara dan Bisma
langsung melihat sekelilingnya. “o iya. Sampe lupa diri hehe” ucap Bisma dan Clara
berbarengan.
“kalian ini kompak
banget. Sama-sama aneh. Sama-sama gak tau malu” saut Dicky pura-pura cuek.
“kamu lebih aneh dan
lebih gak tau malu haha” saut Bisma dan Clara kompak membalas Dicky.
“kalau begini terus,
bisa-bisa aku kalah terus sama kalian. 2 banding 1. Yang 1 kurus lagi. gimana
nasibku dimasa depan?” tanya Dicky pada diri sendiri.
“itu takdirmu, Dicky
haha” ucap Bisma dan Clara tertawa.
Dicky tersenyum
memandang mereka. “ya, ini takdirku untuk bersama kalian berdua” ucap Dicky serius.
“ky, muka kamu gak
cocok banget buat serius. Sumpah gak bohong” ucap Bisma.
Dicky memanyunkan
bibirnya. “tuh kan baru sehari aja gue udah diledekin mulu. Gimana
besok-besok?”
“gak usah sok imut!”
saut Clara menarik hidung Dicky.
“kalian ini ya ngajak
aku perang” saut Dicky langsung menekan hidung Bisma dan Clara. “tuh biar
kalian makin mancung tapi mancung ke dalam haha”
“ra, Dicky garing
yah? Dia yang ngelucu, dia sendiri yang ketawa. Kasian” ucap Bisma ke Clara.
“yaudah kita ketawa
juga yuk” ajak Clara. Lalu mereka berdua tertawa dengan datar.
Dicky mendekati Bisma
dan Clara lalu merangkul mereka berdua. “rasain nih. Jurus ketek wangi aroma terapi
haha!” ucap Dicky mengjepit kepala Bisma dan Clara kearah ketiaknya.
“astaga Dicky! ampun!
Gila bau banget!” teriak Bisma dan Clara meminta ampun yang hanya bercanda saja.
Dicky tertawa senang.
Orang-orang yang dari
tadi melihat keseruan ketiga sahabat ini tertawa melihat aksi Dicky. walaupun
mereka tidak tau apa yang dibicarakan 3 anak muda Indonesia ini, mereka
mengerti bahwa ketiga anak ini sedang berbahagia.
It looks like those
who change their own destiny. But this
was indeed their destiny from the beginning. There
is nothing that can change it. True love doesn’t
have a happy ending. And true love doesn’t have an ending. True friendship
doesn’t have an ending too. This is the beginning for all of them.
Thank you for reading. I hope you like it. This is just my
imagination. Respect. Peace up! J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar