2 minggu tanpa
kemunculan Bisma dikamarnya membuat hidup Nayra kembali terasa kosong. walaupun
Dicky tetap berada disisinya, tapi ia tetap merasa hampa. Seperti ada sesuatu
yang menghilang dari hidupnya.
Ia juga sudah mulai
tidak takut dengan makhluk gaib walau kadang dia masih suka merasa takut kalau
saat ia berada ditoilet, kalau tiba-tiba saja ada tangan hantu yang keluar dari
lubang WC. Ia tetap tidak pernah bisa lupa dengan kejadian 2 tahun lalu itu.
“Nay, kenapa kau
selalu murung sih? Aku heran denganmu belakangan ini. Ekspresimu susah ditebak”
ucap Dicky duduk disebelah Nayra.
Nayra menoleh.
Kata-kata itu mirip sekali dengan kata-kata Bisma yang saat itu menceritakan
gadis yang ia sayangi. Itu membuat Nayra semakin rindu dengan Bisma.
“tuh kan malah melamun.
Kau terpesona melihat wajahku ya?” saut Dicky sambil melambaikan tangannya
tepat didepan wajah Nayra.
Nayra tersadar dari
lamunannya. “apaan sih. Kau pede sekali” saut Nayra memukul lengan Dicky.
“astaga. Apa susah
mengakuinya? Haha” saut Dicky menggoda Nayra.
“maaf ky. Aku lagi
gak mau bercanda” saut Nayra pergi meninggalkan Dicky.
Dicky menatap
punggung Nayra yang berjalan pergi. “ada apa denganmu, Nayra? Aku takut akan
ada sesuatu yang terjadi padamu” ucap Dicky pelan.
Dicky hendak bangkit
pergi namun melihat sebuah lipatan kertas yang jatuh di tanah. Dengan penasaran
ia membuka lipatan kertas itu lalu membacanya. “sosok itu membuat hidupku penuh
tanda tanya. Perasaan yang terlarang ini mulai menguasai hatiku. Aku tidak tau
apa yang akan terjadi kedepannya. Sekarang dia marah padaku dan tidak pernah
muncul dihadapanku lagi. aku rindu dengan sosoknya itu. biarlah aku terlihat
konyol. Tapi mungkin aku jatuh cinta padanya dan tidak ingin dia pergi dari
kehidupanku” baca Dicky.
Dicky mengamati
tulisannya. Tulisan itu sangat ia kenali. Sepertinya ia tau siapa yang menulis
kata-kata yang ada dikertas ini. “sepertinya dia jatuh cinta dengan orang lain.
Pantas saja aku selalu ditolaknya” gumam Dicky tersenyum pahit.
***
Nayra memandangi
kamarnya dengan lesu. “Bisma, kapan kau kembali muncul dikamar ini dengan cara
mengagetkanku? Aku mau minta maaf. Kata-kataku kemarin memang sangat kasar”
gumam Nayra sendiri.
Nayra meletakkan
tasnya di atas meja belajarnya, lalu ia membanting tubuhnya di atas ranjang. Ia
memejamkan matanya, berusaha mengontrol emosinya. Matanya sudah panas. Ingin
sekali ia menangis sekarang juga.
Nayra membuka matanya
pelan-pelan lalu melihat sosok makhluk di sebelah lemarinya. “Bisma?!” teriak
Nayra langsung bangkit dari tempat tidurnya.
Sosok itu memandangi
Nayra dengan tatapan bingung. Nayra menghela nafas kecewa. “ternyata cuma hantu
biasa” ucapnya pelan.
“apa aku terlihat
mirip dengannya? Jelas aku lebih keren darinya” ucap sosok itu dari belakang
Nayra.
Nayra menoleh kaget.
“Bisma?!” ucapnya lagi hampir menangis. Ia berlari menghampiri Bisma hendak
memeluknya. Namun ia seperti memeluk angin.
“hei, kau kira aku
manusia yang bisa kau peluk? Aku ini hantu. Dasar bodoh” saut Bisma
melayang-layang dihadapan Nayra.
Nayra memandang
Bisma. “aku cuma kangen denganmu, Bisma. Maaf” ucap Nayra pelan. Setetes air
keluar dari mata Nayra.
“kau menangis?” saut
Bisma kaget.
“seperti yang kau
lihat. aku takut kau marah padaku. Aku yakin kau pasti sakit hati mendengar
kata-kata kasarku 2 minggu yang lalu. Karena itu kan kau tidak muncul lagi
disini?” tanya Nayra sambil menghapus air matanya.
“bukan. Bukan karena
itu. 2 minggu ini aku sibuk mengawasi gadis yang kuceritakan kemarin padamu
secara diam-diam. Melihat wajahnya setiap hari membuatku lupa waktu” jawab Bisma.
“ya, melihat wajah
orang yang kita sukai memang selalu membuat kita lupa waktu” ucap Nayra
terdengar kecewa.
“makasih sudah
menyambut kedatanganku dengan matamu yang membelalak kaget tadi” saut Bisma
tersenyum kecil.
“mulai lagi kau
menggodaku” saut Nayra merengut.
Bisma tertawa.
“seandainya aku bisa menyentuhmu, mungkin pipimu sudah aku cubit. Haha”
Nayra menatap Bisma
dengan sedih. “kalau aku tau cara menghidupkanmu kembali, mungkin sudah
kulakukan dari kemarin”
Bisma tersenyum
tipis. “jangan menatapku seperti itu. dan jangan berkata seperti itu. kau
seperti memberi harapan padaku”
“maaf. Sepertinya aku
selalu membuatmu tidak nyaman” saut Nayra menunduk.
“yaudah lah gak usah
dipikirkan. Sekarang kau mandi dan segera tidur” ucap Bisma tersenyum.
“kau tetap disini?”
tanya Nayra mengangkat kepalanya.
“tentu saja tidak.
apa kau mau aku intip saat kau sedang mandi?” saut Bisma mengedipkan matanya.
Nayra melemparkan
bantal ke arah Bisma yang tentu saja tembus melewati tubuh Bisma. Nayra
mendengus kesal. “kau ini benar-benar mengesalkan”
Bisma tertawa.
“yasudah aku pamit keluar. Dah” ucap Bisma melayang ke luar menembus pintu
balkon kamar Nayra.
“besok kau harus
muncul lagi disini!” teriak Nayra.
Bisma menoleh lalu
tersenyum. “ya, aku pasti datang” janjinya.
***
Bisma terbang tanpa
tujuan. Akhirnya dia berhenti di sebuah taman tanpa nama. Ia terdiam disana.
Matanya mengederkan pandangan ke sekeliling taman dan melihat sebuah bunga
warna putih yang menarik perhatiannya. Ia mendekati bunga itu.
“bunga gardenia.
Bunga kesukaannya. Aku ingat sekali dulu dia menunjukkan bunga ini padaku”
gumam Bisma pelan sambil memandangi bunga itu.
“Tuhan, kalau aku
bisa meminta kepadaMu, aku punya satu permintaan. Buatlah aku kembali menjadi
manusia untuk sehari saja. Aku ingin bertemu dengan gadis yang kusukai dengan
bentuk manusia seutuhnya. Aku ingin menyentuhnya. Tuhan, aku memohon kepadaMu”
ucap Bisma sedih.
***
“Dicky!” saut Nayra
menepuk pundak Dicky bermaksud untuk mengagetkannya yang sedang sibuk memainkan
handphonenya di taman.
“Nayra!” saut Dicky
kaget.
“tampangmu lucu
sekali, ky. Haha” saut Nayra menertawakan Dicky. ia duduk disamping Dicky
dengan santai.
“dasar. Berani sekali
kau mengagetkanku seperti ini” saut Dicky mencubit kedua pipi Nayra dengan
gemas.
“habis kau
melupakanku. Biasanya istirahat seperti ini kau mengajakku ke sini atau ke
kantin. Tapi sekarang kau malah menduakanku dengan handphone itu” saut Nayra
cemberut.
“aku kira moodmu
sedang tidak bagus. Gak taunya malah ceria banget” saut Dicky membela diri.
“kau memang susah ditebak” sambungnya lagi.
“apa kau tidak suka
melihat perubahanku? Apa kau mau melihatku terus-terusan melamun seperti
kemarin?” saut Nayra berdiri lalu berkacak pinggang.
“hei, tampangmu tidak
cocok sama sekali jadi sok seperti itu” saut Dicky meledek Nayra.
“yah tampangku memang
tidak cocok jadi muka jahat. Kan aku orang yang baik hati dan suka menolong”
saut Nayra tersenyum bangga.
“kasian. Apa tidak
ada orang yang memujimu ya sampai kau memuji diri sendiri seperti ini?” saut
Dicky menggeleng kepalanya pelan.
Nayra menatap Dicky
kesal. “Dicky!” teriaknya lalu menggelitiki perut Dicky.
“ampun, Nay. Udah
udah” saut Dicky tertawa sambil berusaha menghindari tangan Nayra yang terus
menggelitik perutnya.
“makanya jangan
ngatain aku lagi. kena kan? haha” saut Nayra tertawa puas. Ia sudah berhenti
mengerjai Dicky.
“iya deh Nayra yang
baik hati dan suka menolong” ucap Dicky dengan tampang lucu.
“tuh kan ngeledek
lagi” saut Nayra cemberut.
“serba salah ya. Tadi
dibilang bukan, salah. Sekarang dibilang iya, juga salah” saut Dicky pura-pura
bingung.
“ya tapi nada dan
tampangmu itu menunjukkan kalo kau lagi meledekku lagi” saut Nayra.
“oke oke. Nayra yang
baik hati dan suka menolong” saut Dicky sambil menutup wajahnya. Badannya
berguncang-guncang.
“kok malah ngetawain
sih? Dicky!!” saut Nayra memukul badan Dicky.
“Nayra jelek, gak
sakit tau. wlek” saut Dicky memeletkan lidahnya lalu tertawa lagi.
“nyebelin!” teriak
Nayra membuat tawa Dicky semakin keras.
***
Nayra memandang
langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang. Ia terlihat begitu egois dan
konyol. Menyukai sesosok hantu tampan yang tidak bisa ke alamnya karena belum
meminta maaf pada gadis yang ia sukai semenjak ia kecil. Ya, Nayra sudah
menyadari perasaannya. Ia benar-benar jatuh cinta dengan hantu itu.
Ia sangat membutuhkan
Bisma, seperti ia membutuhkan Dicky disampingnya. Nayra tidak bisa membayangkan
kalau Dicky berfikir untuk tidak mau bersahabat dengannya lagi karena merasa
sakit hati. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan Dicky. ia ingin Dicky selalu
berada disampingnya disaat ia membutuhkan seseorang.
Nayra sadar, Dicky
sangat kuat. Dia masih mau berteman dengan Nayra yang sudah menolaknya
berkali-kali. Dan Dicky juga sangat baik terhadapnya. Mau selalu berada
disampingnya seperti apa yang diharapkan oleh Nayra.
Nayra benar-benar
merasa begitu egois. Tidak mau melepaskan Dicky untuk perempuan lain. Tidak mau
melihat Dicky dekat dengan perempuan selain dirinya. Sementara dia tidak juga
membalas perasaan Dicky dari dulu hingga sekarang.
Sebenarnya Nayra
punya alasan kuat, kenapa ia tidak ingin memiliki hubungan lebih dari sahabat
dengan Dicky. ia tidak mau kalau saat mereka menjalin hubungan, Dicky akan
bersikap lain. Tidak seperti saat mereka masih bersahabat. Nayra juga tidak
ingin ia merasa tidak bebas dengan Dicky hanya karena ia merasa harus menjaga
diri untuk tidak melakukan hal-hal yang terlihat bodoh dihadapan pacarnya.
Nayra melamun lebih
dalam. Muncul sosok Bisma dibenaknya. Sosok yang membuatnya sedih, gembira,
sakit hati, terharu, kecewa, dan perasaan yang lainnya. Bisma yang datang
secara tiba-tiba dan mengubah hidup Nayra menjadi lebih berwarna dengan cara
tiba-tiba juga.
Perasaan terlarang. Nayra merasa itu kata-kata yang tepat untuk
menyebutkan perasaannya sekarang pada Bisma. Tidak seharusnya ia mencintai
sesosok makhluk yang seharusnya sudah tidak ada didunia ini. Tidak seharusnya
ia mencintai pria yang dari dulu mencintai seorang gadis. Gadis yang begitu
beruntung dimata Nayra, karena bisa dicintai oleh pria seperti Bisma.
Selain perasaan yang
salah itu, Nayra merasa Bisma masih sangat mencintai gadis yang selalu dia
ceritakan padanya. Bisa terlihat jelas dimata Bisma ketika ia menceritakan itu
pada Nayra. matanya terlihat bersinar bahagia.
Tapi yang membuat
Nayra bingung adalah disaat Bisma berkata kalau dia menyukainya. menyukai
senyum dan mata lebar Nayra ketika melotot. Ia berkata seperti itu terlihat
sangat sungguh-sungguh. Tak bisa dipungkiri lagi kalau Nayra selalu merasa
senang saat mendengar Bisma berkata seperti itu. namun ia juga tidak menutup
kemungkinan kalau Bisma berkata seperti itu hanya untuk mempermainkan
perasaannya. Nayra sangat sadar kalau Bisma sangat mencintai gadis pujaannya
itu.
Memikirkan itu semua
membuat Nayra merasa pusing. Ia bangkit dan duduk dipinggir ranjangnya sambil
memejamkan matanya. Ia merenggangkan kedua tangannya lebar-lebar seakan dengan
melakukan itu ia merasa lebih tenang. Dengan perlahan ia membuka matanya.
“Bisma!!!” saut Nayra
melotot kaget dan melempar bantal kearah sosok yang membuatnya kaget itu dengan
kesal. namun tentu saja bantal yang dilempar Nayra langsung tembus melewati
sosok itu.
“sepertinya aku
benar-benar jatuh cinta dengan matamu yang suka melotot itu” saut sosok itu
tertawa terbahak-bahak.
“itu tidak lucu,
Bisma” gerutu Nayra kesal namun dalam hati ia tersipu malu.
“tapi bagiku ini
sangat menyenangkan” sautnya masih tertawa.
“sampai kapan kau
terus muncul dengan mengagetkanku seperti ini? Apa kau benar-benar berharap aku
segera menyusulmu untuk menjadi roh gentayangan juga?” saut Nayra.
Bisma tertawa kecil.
“tentu saja tidak. Tapi aku rasa kau tidak akan sampai menjadi roh. Karena yang
mengagetkanmu adalah hantu paling keren di dunia” ucap Bisma sombong.
“bisa-bisanya kau
percaya diri seperti itu” cibir Nayra.
“akui saja, Nay. Aku
bisa membaca pikiran, kau tau?” saut Bisma mengedipkan sebelah matanya dengan
jahil.
Nayra terperangah
kaget dan panik. “kau benar-benar bisa membaca pikiranku?” sautnya takut.
Bisma yang awalnya
ingin memasang tampang serius, langsung tertawa melihat wajah Nayra yang begitu
ketakutan. “apa yang sedang kau pikirkan sampai kau pucat pasi begitu aku
berkata bisa membaca pikiran? Apa kau sedang memikirkan yang aneh-aneh?” saut
Bisma menggoda Nayra.
Nayra tertegun
sebentar lalu mulai mengerti apa yang dimaksud Bisma. “sialan. Aku gak lagi
mikirin yang gituan” saut Nayra kesal. “kau menipuku ya? Kau tidak bisa membaca
pikiranku”
“habis tampangmu
begitu lucu kalau aku takut-takuti” sautnya tertawa lagi.
“kalau kau bukan
hantu, mungkin kau sudah babak belur sekarang” saut Nayra geram.
“ternyata kau cewek
perkasa, Nayra. haha” ucap Bisma meledek Nayra. Nayra hanya bisa mendelik
marah.
***
Dicky menatap Nayra
dengan tatapan memelas. Sementara Nayra memelototkan matanya tidak setuju.
“ayolah, Nay. Aku kan sudah lama jadi sahabatmu. Masa begini saja tidak boleh?”
saut Dicky memohon.
“bukannya tidak
boleh. Tapi aku sedikit curiga denganmu” saut Nayra was-was.
“kau mencurigai
sahabatmu sendiri? apa kau tidak percaya dengan aku yang sangat polos ini?”
saut Dicky menghela nafas berat.
“habis permintaanmu
sangat aneh. Kau tiba-tiba mau datang ke rumahku. Kau sepertinya merencanakan
sesuatu” saut Nayra masih waspada.
“yasudahlah kalau kau
tidak mau. Aku tidak jadi ke rumahmu. Dasar pelit!” saut Dicky lalu pergi
meninggalkan Nayra. Dicky merasa sedikit kesal.
Nayra menatap
punggung Dicky dengan heran. Lalu ia melihat sesuatu yang membuatnya kaget
sekaligus takut. Dengan terburu-buru ia mengejar Dicky.
“Dicky! kau tidak
sedang dalam masalah kan?” tanya Nayra gugup.
“apa perdulimu?
Bahkan kau tidak mempercayaiku lagi” saut Dicky datar tidak mau melihat wajah
Nayra.
“aku serius! Kau
tidak apa-apa kan?” tanya Nayra. matanya mulai berkaca-kaca.
Akhirnya Dicky
menoleh hendak mengomel. Namun ia langsung kaget melihat wajah Nayra. “Nay, kau
tidak apa-apa? kenapa nangis?” saut Dicky panik.
“aku.. aku takut
kehilangan kamu, ky. Aku melihat ‘sesuatu’
dan ‘sesuatu’ itu berusaha menarikmu
ntah apa tujuannya” jawab Nayra menangis.
Dicky menarik Nayra
kedalam pelukannya. Ia mengusap-usap kepala Nayra berusaha menenangkannya. “aku
tidak akan meninggalkanmu. Aku janji” ucap Dicky sungguh-sungguh. “dan aku
tidak merasa ditarik oleh siapapun, Nay” lanjutnya.
Nayra membalas
pelukan Dicky dengan erat. “tapi kau terlihat pucat. Dan ‘sesuatu’ itu semakin ingin menarikmu, ky. Aku tidak akan
melepaskanmu” saut Nayra masih sesegukan. Nayra merasa takut melihat ‘sesuatu’ itu masih berada didekat Dicky.
Dicky sedikit
mengerjap takut. Ia sedikit merasa takut dengan kata-kata Nayra. ‘sesuatu’? apa maksudnya? Apa sesosok
hantu? Memang ia tiba-tiba merasa tidak enak badan. Dan badannya terasa lebih
lelah dari biasanya. Padahal ia tidak melakukan aktifitas yang membuat tubuh
menjadi lelah.
Dicky berusaha
membuang pikiran itu. ia tidak ingin terlihat takut ataupun gelisah didepan
Nayra. Nayra pasti mengkhawatirkannya jika ia menunjukkan gerakan yang aneh.
“sudahlah. Mana
mungkin kau terus memelukku seperti ini sampai kita pulang sekolah. Apa kau mau
kita dihukum sama guru?” saut Dicky berusaha bercanda.
Nayra melepas
pelukannya dengan enggan. “iya, kamu benar. Kalau begitu aku harus selalu
disampingmu supaya ‘sesuatu’ itu
tidak akan membawamu pergi” ucap Nayra yakin.
“kau selalu berkata
kalau ada ‘sesuatu’ yang mau
membawaku pergi. Memangnya itu apa sih? Kau berlebihan” saut Dicky.
“kau tidak lupa kan
kalau aku bisa melihat hal-hal gaib? ‘sesuatu’
itu sepertinya berasal dari dunia lain, karena kau tidak bisa melihatnya. ‘dia’
seperti mengawasi kita. Sekarang ‘dia’ melayang-layang beberapa meter di
belakangmu” saut Nayra berbisik takut.
Dicky menoleh
kebelakang dengan tatapan waspada. Namun ia tidak melihat apa-apa. sepertinya
Nayra benar-benar melihat sesosok dari dunia lain lagi. dan seperti biasa, Dicky merasa sedikit gelisah kalau Nayra
melihat makhluk itu.
“baiklah, aku
percaya. Tapi saat aku ke toilet, apakah kau harus mengikutiku juga?” saut
Dicky sedikit ragu.
“aku harap aku bisa
melakukannya” jawab Nayra santai. “dan kau kuizinkan untuk datang ke rumahku
setelah pulang sekolah. Dan kau harus tinggal dirumahku sampai waktu yang tidak
bisa ditentukan. Aku takut kau ditarik pergi saat kau sedang dirumah tidak
bersamaku” lanjutnya.
“apa?! kau sedikit
gila. Bagaimana bisa aku harus menginap dirumah teman cewekku selama-lamanya?
Mana mungkin mamaku menerimanya” bantah Dicky kaget.
“nanti aku akan
menjelaskannya ke orang tuamu. Kau tenang saja”
“tapi bukannya kau
hanya sendiri di rumah itu? aku tidak mungkin tinggal seatap denganmu, Nay”
“tidak. Aku tidak
sendirian. Kalau pagi sampai sore ada Mbak Mina, pembantuku. Kalau malam ada
sesosok yang menemaniku. Kita tidak akan hanya berdua saja, ky”
“sesosok? Apa
maksudmu?”
“tidak penting. Yang
penting adalah, mulai malam ini kau tinggal dirumahku. Aku yakin orang tuamu
pasti mengizinkan” saut Nayra lalu mengenggam tangan Dicky dan menariknya
kedalam kelas tidak memberikan Dicky kesempatan untuk menolak idenya.
***
Nayra menghempaskan
dirinya ke sofa lalu melirik seseorang dihadapannya. Ia sedikit merasa kesal
karena melihat ‘sesuatu’ itu masih
mengikuti Dicky.
“kenapa kau melirikku
dengan tatapan seperti itu? apa aku ada salah?” saut Dicky heran.
“bukan. Aku kesal
dengan sosok yang kukatakan tadi siang. ‘dia’ masih mengikutimu” jawab Nayra.
“sudahlah. Berhenti berkata
seperti itu. kau betul-betul membuatku takut” sungut Dicky.
Nayra hanya
mengangguk. “kau mau minum apa? biar bisa aku bilang ke mbak Mina” tawar Nayra.
“apa aja boleh. Terserah
aja” jawab Dicky lalu duduk disofa yang sama dengan Nayra.
Nayra bangkit dari
duduknya. “oke. Aku kebelakang dulu ya. Mbak Mina biasa ada dibelakang. Tunggu disini!”
saut Nayra lalu pergi ke belakang.
Dicky berada di rumah
Nayra sekarang bukan hanya karena ia ingin datang kerumah cewek itu. tapi ia
akan menginap disini. Ntah bagaimana cara Nayra meyakinkan kedua orang tuanya
untuk mengizinkan Dicky menginap disini, tapi saat ia sampai dirumah, mamanya
langsung menyambutnya dan tidak melarangnya sama sekali saat ia bilang kalau
akan menginap dirumah Nayra.
Dicky mulai
memerhatikan sekeliling ruang tamu ini. Disini ada banyak pajangan-pajangan dan
lukisan yang cukup menarik. Dengar dari Nayra, ayahnya sangat suka mengoleksi
berbagai macam lukisan dari banyak negara. Dicky juga melihat banyak guci antik
yang cantik milik ibunya Nayra. ini juga ia dengar sendiri dari mulut Nayra.
Dicky merasa kasihan
dengan Nayra yang selalu ditinggal pergi kedua orangtuanya keluar negeri. Seperti
yang pernah dikatakan Nayra, orang tua Nayra sebisa mungkin menjauh dari Nayra
yang bisa melihat hal-hal aneh.
Dicky tidak habis
pikir dengan apa yang dipikirkan kedua orang tua Nayra. mereka merasa takut
dengan anaknya sendiri. padahal sebenarnya kemampuan Nayra melihat hal gaib
adalah suatu kelebihan yang seharusnya jangan ditakuti. Seharusnya kedua orang
tuanya membimbingnya untuk bisa mengontrol kelebihannya itu.
Dicky menatap dua
foto foto keluarga dirumah ini. Itu adalah foto disaat Nayra masih bayi dan
saat Nayra berusia sekitar 3 tahun. Disana tampak wajah ceria kedua orang tua
Nayra dan Nayra pun terlihat sangat polos dan cantik. Sepertinya foto ini
terjadi sebelum kedua orang tua Nayra mengetahui kalau Nayra bisa melihat
makhluk gaib.
Tiba-tiba saja Dicky
merasa ada yang menarik tangan kirinya. Dengan kaget Dicky melihat tangan
kirinya yang terasa sedikit sakit. Ia berusaha menarik tangan kirinya dengan
tangan kanannya sendiri, namun terasa berat. Tangan kirinya terasa seperti ada
seseorang yang menariknya. Dicky mulai merasa panik.
Prang!!! Terdengar bunyi gelas pecah. Dicky menoleh kesumber suara
dengan tatapan panik. Tangan kirinya terus ditarik hingga ia bangkit dari sofa.
Ia sudah berusaha melawan, namun tetap saja ‘sesuatu’ itu menariknya lebih kuat.
“Dicky!!” teriak
Nayra takut melihat ‘sesuatu’ itu
berusaha menarik Dicky.
“Nay! Tolongin aku. Aku
seperti ditarik paksa dengan seseorang” saut Dicky panik.
Nayra berlari menghampiri
Dicky dengan mata berkaca-kaca. “’dia’ menarikmu, ky. ‘sesuatu’ itu menarikmu. Dan aku tidak tau bagaimana caranya
menolongmu!” teriak Nayra menangis.
Dicky semakin panik. Lama-lama
ia keluar dari rumah Nayra dan menuju jalan raya yang terlihat begitu ramai
sore ini.
“Nay, aku rasa ‘dia’
ingin membunuhku” gumam Dicky lemah. Namun ia masih berusaha melawan tarikan
itu.
“Bisma!! Tolong bantu
aku!!” teriak Nayra putus asa. Sekarang ia berharap kalau Bisma akan segera
muncul dihadapannya.
Tiba-tiba saja Bisma
muncul dihadapan Nayra dengan perasaan bingung. ia tadi sedang berada disuatu
tempat dan tiba-tiba saja ditarik oleh sesuatu kesini. ia semakin heran melihat
Nayra yang menangis.
Begitu melihat Bisma,
Nayra merasa lega. “Bisma, tolong usir makhluk itu. aku mohon” saut Nayra
memohon sambil menunjuk Dicky yang meronta-ronta.
Bisma menoleh kearah
yang ditunjuk Nayra dan terkejut. “Nay, bagaimana bisa makhluk itu menarik
temanmu? ‘dia’ makhluk gabungan arwah-arwah penasaran yang jahat. Arwah-arwah
itu selalu menginginkan seseorang menjadi arwah seperti mereka dengan cara membunuhnya!”
jelas Bisma panik.
“apa?! jadi Dicky
benar-benar akan dibunuh mereka?! Bisma, apa yang harus aku lakukan? Aku harus
menolongnya, Bisma!” teriak Nayra frustasi. Air matanya mengalir deras
dipipinya.
Bisma menatap Nayra
dengan sedih. “biarkan aku yang mengurusnya. Percaya padaku” ucap Bisma
tersenyum sekilas lalu pergi menghampiri Dicky dan ‘sesuatu’ itu.
Nayra hanya menatap
kejadian di hadapannya dengan takut dan gelisah. Airmatanya masih terus
mengalir. Terlihat Bisma sedang berusaha menjauhkan ‘sesuatu’ itu dari Dicky. dan tiba-tiba saja keluar cahaya putih
yang begitu menyilaukan mata selama beberapa menit. Setelah cahaya itu menghilang,
semuanya menjadi gelap gulita.
***
Nayra mengerjapkan
matanya berusaha menyesuaikan diri di tempat yang cukup terang ini. Setelah mulai
terbiasa, ia bisa melihat kalau dirinya sedang berada dikamarnya sendiri. ia
berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi dan tersentak bangun.
“Dicky!” teriak Nayra
takut. Ia menoleh kesana kemari berharap melihat sosok Dicky dikamarnya ini. Namun
hasilnya nihil. Ia tidak melihat Dicky dimanapun.
“Dicky! mana janjimu
yang tidak mau meninggalkanku? Kau bohong!” teriak Nayra marah. namun ia
menangis kecewa.
“hei, aku disini. Bisakah
kau tidak berisik? Aku sangat lelah” ucap seseorang dengan lemah dari samping
tempat tidur Nayra. suara itu terdengar sangat familier di telinga Nayra.
Nayra menoleh ke
samping tempat tidurnya dan melongokkan kepalanya ke bawah. Terlihat Dicky
sedang rebahan diatas tempat tidur yang lebih rendah dari tempat tidur Nayra. Dicky
menutup matanya seperti kelelahan.
“Dicky!” teriak Nayra
lagi dengan senyuman bahagia. Ia menghapus airmatanya lalu turun dari
ranjangnya dan menghampiri Dicky kemudian memeluknya dengan erat.
“hei! Apa yang kau
lakukan?” saut Dicky membuka matanya kaget.
“aku benar-benar
takut kehilanganmu” gumam Nayra.
Dicky tersenyum kecil
lalu membalas pelukan Nayra lebih erat. “aku sudah janji denganmu kalau aku
tidak akan meninggalkanmu. Jadi aku sekarang baik-baik saja” jawab Dicky.
“syukurlah. Aku kira
kau benar-benar berhasil ditarik arwah-arwah itu kejalan raya. Mungkin saja kau
akan terbunuh, ky” ucap Nayra pelan karena membayangkan hal itu terjadi.
“gak. Dia gak
berhasil menarikku karena sepertinya ada seseorang yang mengusirnya dariku. Tapi
aku tidak bisa melihatnya”
Nayra melepas
pelukannya lalu menatap Dicky cemas. “Bisma! Dia yang menolongmu, ky. Dimana dia
sekarang?” saut Nayra menoleh kesana kemari.
“Bisma? Siapa dia? Temanmu?
Kenapa kau tidak pernah cerita apapun tentangnya padaku?” tanya Dicky heran.
Nayra tidak menjawab
pertanyaan Dicky. sekarang ia malah mengelilingi kamarnya. “Bisma, kau dimana? Cepatlah
muncul. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan. Aku tau kau ada disekitar sini. Aku
bisa merasakannya” saut Nayra.
Dicky melihat Nayra
dengan bingung. apa maksudnya?
Bisma muncul
dihadapan Nayra dengan senyum tipis. “halo, Nay” sapanya.
Nayra tersenyum
melihat kedatangan Bisma. “makasih karena kau sudah menolong temanku. Apa yang
kau lakukan tadi? Tiba-tiba saja ada cahaya putih keluar dari tubuhmu” balas
Nayra.
“bukan apa-apa. aku
tau dia berharga sekali untukmu. Aku hanya menolongnya seperti biasa. Makhluk yang
menariknya tidak begitu kuat. jadi aku bisa mengalahkannya” jawab Bisma sambil
tersenyum. “Cahaya putih? Aku tidak sadar kalau tubuhku mengeluarkan cahaya” lanjutnya
dengan bingung.
“okelah. Tapi aku
tetap berterimakasih denganmu. Kalau kau tidak muncul, mungkin Dicky tidak akan
selamat” saut Nayra balas tersenyum tulus.
“sama-sama, Nay. Aku senang
bisa menolongnya” ucap Bisma sama tulusnya.
“seandainya saja kau
tidak tembus pandang seperti ini, mungkin sekarang aku sudah memelukmu” saut
Nayra pelan.
“tapi nyatanya aku
adalah hantu. Kau tidak akan bisa memelukku” ucap Bisma santai sambil tertawa.
Nayra ikut tersenyum.
“baru kali ini aku merasa bersyukur karena bisa melihat hantu. Kalau tidak, aku
gak mungkin bisa kenal kau, Bisma. Aku senang bisa ketemu denganmu” ucap Nayra
jujur.
Bisma tertawa lagi. “aku
juga senang karena kau bisa melihatku”
Dicky menatap Nayra
dengan bingung. ia mendengar Nayra berbicara sendiri seakan ada seseorang
dihadapannya. Ia semakin heran lagi mendengar Nayra mengucapkan terima kasih
karena sudah menolongnya. Kenapa Dicky tidak bisa melihat orang yang berbicara
dengan Nayra? kenapa Nayra tertawa sendiri? kenapa Nayra terlihat begitu bahagia? Apakah orang yang menolongnya adalah sesosok hantu? Begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam benak Dicky.
TO BE
CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar