Rabu, 27 Maret 2013

Who Will be My Choice? (Part 2)


2 minggu tanpa kemunculan Bisma dikamarnya membuat hidup Nayra kembali terasa kosong. walaupun Dicky tetap berada disisinya, tapi ia tetap merasa hampa. Seperti ada sesuatu yang menghilang dari hidupnya.
Ia juga sudah mulai tidak takut dengan makhluk gaib walau kadang dia masih suka merasa takut kalau saat ia berada ditoilet, kalau tiba-tiba saja ada tangan hantu yang keluar dari lubang WC. Ia tetap tidak pernah bisa lupa dengan kejadian 2 tahun lalu itu.
“Nay, kenapa kau selalu murung sih? Aku heran denganmu belakangan ini. Ekspresimu susah ditebak” ucap Dicky duduk disebelah Nayra.
Nayra menoleh. Kata-kata itu mirip sekali dengan kata-kata Bisma yang saat itu menceritakan gadis yang ia sayangi. Itu membuat Nayra semakin rindu dengan Bisma.
“tuh kan malah melamun. Kau terpesona melihat wajahku ya?” saut Dicky sambil melambaikan tangannya tepat didepan wajah Nayra.
Nayra tersadar dari lamunannya. “apaan sih. Kau pede sekali” saut Nayra memukul lengan Dicky.
“astaga. Apa susah mengakuinya? Haha” saut Dicky menggoda Nayra.
“maaf ky. Aku lagi gak mau bercanda” saut Nayra pergi meninggalkan Dicky.
Dicky menatap punggung Nayra yang berjalan pergi. “ada apa denganmu, Nayra? Aku takut akan ada sesuatu yang terjadi padamu” ucap Dicky pelan.
Dicky hendak bangkit pergi namun melihat sebuah lipatan kertas yang jatuh di tanah. Dengan penasaran ia membuka lipatan kertas itu lalu membacanya. “sosok itu membuat hidupku penuh tanda tanya. Perasaan yang terlarang ini mulai menguasai hatiku. Aku tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Sekarang dia marah padaku dan tidak pernah muncul dihadapanku lagi. aku rindu dengan sosoknya itu. biarlah aku terlihat konyol. Tapi mungkin aku jatuh cinta padanya dan tidak ingin dia pergi dari kehidupanku” baca Dicky.
Dicky mengamati tulisannya. Tulisan itu sangat ia kenali. Sepertinya ia tau siapa yang menulis kata-kata yang ada dikertas ini. “sepertinya dia jatuh cinta dengan orang lain. Pantas saja aku selalu ditolaknya” gumam Dicky tersenyum pahit.
***
Nayra memandangi kamarnya dengan lesu. “Bisma, kapan kau kembali muncul dikamar ini dengan cara mengagetkanku? Aku mau minta maaf. Kata-kataku kemarin memang sangat kasar” gumam Nayra sendiri.
Nayra meletakkan tasnya di atas meja belajarnya, lalu ia membanting tubuhnya di atas ranjang. Ia memejamkan matanya, berusaha mengontrol emosinya. Matanya sudah panas. Ingin sekali ia menangis sekarang juga.
Nayra membuka matanya pelan-pelan lalu melihat sosok makhluk di sebelah lemarinya. “Bisma?!” teriak Nayra langsung bangkit dari tempat tidurnya.
Sosok itu memandangi Nayra dengan tatapan bingung. Nayra menghela nafas kecewa. “ternyata cuma hantu biasa” ucapnya pelan.
“apa aku terlihat mirip dengannya? Jelas aku lebih keren darinya” ucap sosok itu dari belakang Nayra.
Nayra menoleh kaget. “Bisma?!” ucapnya lagi hampir menangis. Ia berlari menghampiri Bisma hendak memeluknya. Namun ia seperti memeluk angin.
“hei, kau kira aku manusia yang bisa kau peluk? Aku ini hantu. Dasar bodoh” saut Bisma melayang-layang dihadapan Nayra.
Nayra memandang Bisma. “aku cuma kangen denganmu, Bisma. Maaf” ucap Nayra pelan. Setetes air keluar dari mata Nayra.
“kau menangis?” saut Bisma kaget.
“seperti yang kau lihat. aku takut kau marah padaku. Aku yakin kau pasti sakit hati mendengar kata-kata kasarku 2 minggu yang lalu. Karena itu kan kau tidak muncul lagi disini?” tanya Nayra sambil menghapus air matanya.
“bukan. Bukan karena itu. 2 minggu ini aku sibuk mengawasi gadis yang kuceritakan kemarin padamu secara diam-diam. Melihat wajahnya setiap hari membuatku lupa waktu” jawab Bisma.
“ya, melihat wajah orang yang kita sukai memang selalu membuat kita lupa waktu” ucap Nayra terdengar kecewa.
“makasih sudah menyambut kedatanganku dengan matamu yang membelalak kaget tadi” saut Bisma tersenyum kecil.
“mulai lagi kau menggodaku” saut Nayra merengut.
Bisma tertawa. “seandainya aku bisa menyentuhmu, mungkin pipimu sudah aku cubit. Haha”
Nayra menatap Bisma dengan sedih. “kalau aku tau cara menghidupkanmu kembali, mungkin sudah kulakukan dari kemarin”
Bisma tersenyum tipis. “jangan menatapku seperti itu. dan jangan berkata seperti itu. kau seperti memberi harapan padaku”
“maaf. Sepertinya aku selalu membuatmu tidak nyaman” saut Nayra menunduk.
“yaudah lah gak usah dipikirkan. Sekarang kau mandi dan segera tidur” ucap Bisma tersenyum.
“kau tetap disini?” tanya Nayra mengangkat kepalanya.
“tentu saja tidak. apa kau mau aku intip saat kau sedang mandi?” saut Bisma mengedipkan matanya.
Nayra melemparkan bantal ke arah Bisma yang tentu saja tembus melewati tubuh Bisma. Nayra mendengus kesal. “kau ini benar-benar mengesalkan”
Bisma tertawa. “yasudah aku pamit keluar. Dah” ucap Bisma melayang ke luar menembus pintu balkon kamar Nayra.
“besok kau harus muncul lagi disini!” teriak Nayra.
Bisma menoleh lalu tersenyum. “ya, aku pasti datang” janjinya.
***
Bisma terbang tanpa tujuan. Akhirnya dia berhenti di sebuah taman tanpa nama. Ia terdiam disana. Matanya mengederkan pandangan ke sekeliling taman dan melihat sebuah bunga warna putih yang menarik perhatiannya. Ia mendekati bunga itu.
“bunga gardenia. Bunga kesukaannya. Aku ingat sekali dulu dia menunjukkan bunga ini padaku” gumam Bisma pelan sambil memandangi bunga itu.
“Tuhan, kalau aku bisa meminta kepadaMu, aku punya satu permintaan. Buatlah aku kembali menjadi manusia untuk sehari saja. Aku ingin bertemu dengan gadis yang kusukai dengan bentuk manusia seutuhnya. Aku ingin menyentuhnya. Tuhan, aku memohon kepadaMu” ucap Bisma sedih.
***
“Dicky!” saut Nayra menepuk pundak Dicky bermaksud untuk mengagetkannya yang sedang sibuk memainkan handphonenya di taman.
“Nayra!” saut Dicky kaget.
“tampangmu lucu sekali, ky. Haha” saut Nayra menertawakan Dicky. ia duduk disamping Dicky dengan santai.
“dasar. Berani sekali kau mengagetkanku seperti ini” saut Dicky mencubit kedua pipi Nayra dengan gemas.
“habis kau melupakanku. Biasanya istirahat seperti ini kau mengajakku ke sini atau ke kantin. Tapi sekarang kau malah menduakanku dengan handphone itu” saut Nayra cemberut.
“aku kira moodmu sedang tidak bagus. Gak taunya malah ceria banget” saut Dicky membela diri. “kau memang susah ditebak” sambungnya lagi.
“apa kau tidak suka melihat perubahanku? Apa kau mau melihatku terus-terusan melamun seperti kemarin?” saut Nayra berdiri lalu berkacak pinggang.
“hei, tampangmu tidak cocok sama sekali jadi sok seperti itu” saut Dicky meledek Nayra.
“yah tampangku memang tidak cocok jadi muka jahat. Kan aku orang yang baik hati dan suka menolong” saut Nayra tersenyum bangga.
“kasian. Apa tidak ada orang yang memujimu ya sampai kau memuji diri sendiri seperti ini?” saut Dicky menggeleng kepalanya pelan.
Nayra menatap Dicky kesal. “Dicky!” teriaknya lalu menggelitiki perut Dicky.
“ampun, Nay. Udah udah” saut Dicky tertawa sambil berusaha menghindari tangan Nayra yang terus menggelitik perutnya.
“makanya jangan ngatain aku lagi. kena kan? haha” saut Nayra tertawa puas. Ia sudah berhenti mengerjai Dicky.
“iya deh Nayra yang baik hati dan suka menolong” ucap Dicky dengan tampang lucu.
“tuh kan ngeledek lagi” saut Nayra cemberut.
“serba salah ya. Tadi dibilang bukan, salah. Sekarang dibilang iya, juga salah” saut Dicky pura-pura bingung.
“ya tapi nada dan tampangmu itu menunjukkan kalo kau lagi meledekku lagi” saut Nayra.
“oke oke. Nayra yang baik hati dan suka menolong” saut Dicky sambil menutup wajahnya. Badannya berguncang-guncang.
“kok malah ngetawain sih? Dicky!!” saut Nayra memukul badan Dicky.
“Nayra jelek, gak sakit tau. wlek” saut Dicky memeletkan lidahnya lalu tertawa lagi.
“nyebelin!” teriak Nayra membuat tawa Dicky semakin keras.
***
Nayra memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang. Ia terlihat begitu egois dan konyol. Menyukai sesosok hantu tampan yang tidak bisa ke alamnya karena belum meminta maaf pada gadis yang ia sukai semenjak ia kecil. Ya, Nayra sudah menyadari perasaannya. Ia benar-benar jatuh cinta dengan hantu itu.
Ia sangat membutuhkan Bisma, seperti ia membutuhkan Dicky disampingnya. Nayra tidak bisa membayangkan kalau Dicky berfikir untuk tidak mau bersahabat dengannya lagi karena merasa sakit hati. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan Dicky. ia ingin Dicky selalu berada disampingnya disaat ia membutuhkan seseorang.
Nayra sadar, Dicky sangat kuat. Dia masih mau berteman dengan Nayra yang sudah menolaknya berkali-kali. Dan Dicky juga sangat baik terhadapnya. Mau selalu berada disampingnya seperti apa yang diharapkan oleh Nayra.
Nayra benar-benar merasa begitu egois. Tidak mau melepaskan Dicky untuk perempuan lain. Tidak mau melihat Dicky dekat dengan perempuan selain dirinya. Sementara dia tidak juga membalas perasaan Dicky dari dulu hingga sekarang.
Sebenarnya Nayra punya alasan kuat, kenapa ia tidak ingin memiliki hubungan lebih dari sahabat dengan Dicky. ia tidak mau kalau saat mereka menjalin hubungan, Dicky akan bersikap lain. Tidak seperti saat mereka masih bersahabat. Nayra juga tidak ingin ia merasa tidak bebas dengan Dicky hanya karena ia merasa harus menjaga diri untuk tidak melakukan hal-hal yang terlihat bodoh dihadapan pacarnya.
Nayra melamun lebih dalam. Muncul sosok Bisma dibenaknya. Sosok yang membuatnya sedih, gembira, sakit hati, terharu, kecewa, dan perasaan yang lainnya. Bisma yang datang secara tiba-tiba dan mengubah hidup Nayra menjadi lebih berwarna dengan cara tiba-tiba juga.
Perasaan terlarang. Nayra merasa itu kata-kata yang tepat untuk menyebutkan perasaannya sekarang pada Bisma. Tidak seharusnya ia mencintai sesosok makhluk yang seharusnya sudah tidak ada didunia ini. Tidak seharusnya ia mencintai pria yang dari dulu mencintai seorang gadis. Gadis yang begitu beruntung dimata Nayra, karena bisa dicintai oleh pria seperti Bisma.
Selain perasaan yang salah itu, Nayra merasa Bisma masih sangat mencintai gadis yang selalu dia ceritakan padanya. Bisa terlihat jelas dimata Bisma ketika ia menceritakan itu pada Nayra. matanya terlihat bersinar bahagia.
Tapi yang membuat Nayra bingung adalah disaat Bisma berkata kalau dia menyukainya. menyukai senyum dan mata lebar Nayra ketika melotot. Ia berkata seperti itu terlihat sangat sungguh-sungguh. Tak bisa dipungkiri lagi kalau Nayra selalu merasa senang saat mendengar Bisma berkata seperti itu. namun ia juga tidak menutup kemungkinan kalau Bisma berkata seperti itu hanya untuk mempermainkan perasaannya. Nayra sangat sadar kalau Bisma sangat mencintai gadis pujaannya itu.
Memikirkan itu semua membuat Nayra merasa pusing. Ia bangkit dan duduk dipinggir ranjangnya sambil memejamkan matanya. Ia merenggangkan kedua tangannya lebar-lebar seakan dengan melakukan itu ia merasa lebih tenang. Dengan perlahan ia membuka matanya.
“Bisma!!!” saut Nayra melotot kaget dan melempar bantal kearah sosok yang membuatnya kaget itu dengan kesal. namun tentu saja bantal yang dilempar Nayra langsung tembus melewati sosok itu.
“sepertinya aku benar-benar jatuh cinta dengan matamu yang suka melotot itu” saut sosok itu tertawa terbahak-bahak.
“itu tidak lucu, Bisma” gerutu Nayra kesal namun dalam hati ia tersipu malu.
“tapi bagiku ini sangat menyenangkan” sautnya masih tertawa.
“sampai kapan kau terus muncul dengan mengagetkanku seperti ini? Apa kau benar-benar berharap aku segera menyusulmu untuk menjadi roh gentayangan juga?” saut Nayra.
Bisma tertawa kecil. “tentu saja tidak. Tapi aku rasa kau tidak akan sampai menjadi roh. Karena yang mengagetkanmu adalah hantu paling keren di dunia” ucap Bisma sombong.
“bisa-bisanya kau percaya diri seperti itu” cibir Nayra.
“akui saja, Nay. Aku bisa membaca pikiran, kau tau?” saut Bisma mengedipkan sebelah matanya dengan jahil.
Nayra terperangah kaget dan panik. “kau benar-benar bisa membaca pikiranku?” sautnya takut.
Bisma yang awalnya ingin memasang tampang serius, langsung tertawa melihat wajah Nayra yang begitu ketakutan. “apa yang sedang kau pikirkan sampai kau pucat pasi begitu aku berkata bisa membaca pikiran? Apa kau sedang memikirkan yang aneh-aneh?” saut Bisma menggoda Nayra.
Nayra tertegun sebentar lalu mulai mengerti apa yang dimaksud Bisma. “sialan. Aku gak lagi mikirin yang gituan” saut Nayra kesal. “kau menipuku ya? Kau tidak bisa membaca pikiranku”
“habis tampangmu begitu lucu kalau aku takut-takuti” sautnya tertawa lagi.
“kalau kau bukan hantu, mungkin kau sudah babak belur sekarang” saut Nayra geram.
“ternyata kau cewek perkasa, Nayra. haha” ucap Bisma meledek Nayra. Nayra hanya bisa mendelik marah.
***
Dicky menatap Nayra dengan tatapan memelas. Sementara Nayra memelototkan matanya tidak setuju. “ayolah, Nay. Aku kan sudah lama jadi sahabatmu. Masa begini saja tidak boleh?” saut Dicky memohon.
“bukannya tidak boleh. Tapi aku sedikit curiga denganmu” saut Nayra was-was.
“kau mencurigai sahabatmu sendiri? apa kau tidak percaya dengan aku yang sangat polos ini?” saut Dicky menghela nafas berat.
“habis permintaanmu sangat aneh. Kau tiba-tiba mau datang ke rumahku. Kau sepertinya merencanakan sesuatu” saut Nayra masih waspada.
“yasudahlah kalau kau tidak mau. Aku tidak jadi ke rumahmu. Dasar pelit!” saut Dicky lalu pergi meninggalkan Nayra. Dicky merasa sedikit kesal.
Nayra menatap punggung Dicky dengan heran. Lalu ia melihat sesuatu yang membuatnya kaget sekaligus takut. Dengan terburu-buru ia mengejar Dicky.
“Dicky! kau tidak sedang dalam masalah kan?” tanya Nayra gugup.
“apa perdulimu? Bahkan kau tidak mempercayaiku lagi” saut Dicky datar tidak mau melihat wajah Nayra.
“aku serius! Kau tidak apa-apa kan?” tanya Nayra. matanya mulai berkaca-kaca.
Akhirnya Dicky menoleh hendak mengomel. Namun ia langsung kaget melihat wajah Nayra. “Nay, kau tidak apa-apa? kenapa nangis?” saut Dicky panik.
“aku.. aku takut kehilangan kamu, ky. Aku melihat ‘sesuatu’ dan ‘sesuatu’ itu berusaha menarikmu ntah apa tujuannya” jawab Nayra menangis.
Dicky menarik Nayra kedalam pelukannya. Ia mengusap-usap kepala Nayra berusaha menenangkannya. “aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji” ucap Dicky sungguh-sungguh. “dan aku tidak merasa ditarik oleh siapapun, Nay” lanjutnya.
Nayra membalas pelukan Dicky dengan erat. “tapi kau terlihat pucat. Dan ‘sesuatu’ itu semakin ingin menarikmu, ky. Aku tidak akan melepaskanmu” saut Nayra masih sesegukan. Nayra merasa takut melihat ‘sesuatu’ itu masih berada didekat Dicky.
Dicky sedikit mengerjap takut. Ia sedikit merasa takut dengan kata-kata Nayra. ‘sesuatu’? apa maksudnya? Apa sesosok hantu? Memang ia tiba-tiba merasa tidak enak badan. Dan badannya terasa lebih lelah dari biasanya. Padahal ia tidak melakukan aktifitas yang membuat tubuh menjadi lelah.
Dicky berusaha membuang pikiran itu. ia tidak ingin terlihat takut ataupun gelisah didepan Nayra. Nayra pasti mengkhawatirkannya jika ia menunjukkan gerakan yang aneh.
“sudahlah. Mana mungkin kau terus memelukku seperti ini sampai kita pulang sekolah. Apa kau mau kita dihukum sama guru?” saut Dicky berusaha bercanda.
Nayra melepas pelukannya dengan enggan. “iya, kamu benar. Kalau begitu aku harus selalu disampingmu supaya ‘sesuatu’ itu tidak akan membawamu pergi” ucap Nayra yakin.
“kau selalu berkata kalau ada ‘sesuatu’ yang mau membawaku pergi. Memangnya itu apa sih? Kau berlebihan” saut Dicky.
“kau tidak lupa kan kalau aku bisa melihat hal-hal gaib? ‘sesuatu’ itu sepertinya berasal dari dunia lain, karena kau tidak bisa melihatnya. ‘dia’ seperti mengawasi kita. Sekarang ‘dia’ melayang-layang beberapa meter di belakangmu” saut Nayra berbisik takut.
Dicky menoleh kebelakang dengan tatapan waspada. Namun ia tidak melihat apa-apa. sepertinya Nayra benar-benar melihat sesosok dari dunia lain lagi. dan seperti biasa,  Dicky merasa sedikit gelisah kalau Nayra melihat makhluk itu.
“baiklah, aku percaya. Tapi saat aku ke toilet, apakah kau harus mengikutiku juga?” saut Dicky sedikit ragu.
“aku harap aku bisa melakukannya” jawab Nayra santai. “dan kau kuizinkan untuk datang ke rumahku setelah pulang sekolah. Dan kau harus tinggal dirumahku sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Aku takut kau ditarik pergi saat kau sedang dirumah tidak bersamaku” lanjutnya.
“apa?! kau sedikit gila. Bagaimana bisa aku harus menginap dirumah teman cewekku selama-lamanya? Mana mungkin mamaku menerimanya” bantah Dicky kaget.
“nanti aku akan menjelaskannya ke orang tuamu. Kau tenang saja”
“tapi bukannya kau hanya sendiri di rumah itu? aku tidak mungkin tinggal seatap denganmu, Nay”
“tidak. Aku tidak sendirian. Kalau pagi sampai sore ada Mbak Mina, pembantuku. Kalau malam ada sesosok yang menemaniku. Kita tidak akan hanya berdua saja, ky”
“sesosok? Apa maksudmu?”
“tidak penting. Yang penting adalah, mulai malam ini kau tinggal dirumahku. Aku yakin orang tuamu pasti mengizinkan” saut Nayra lalu mengenggam tangan Dicky dan menariknya kedalam kelas tidak memberikan Dicky kesempatan untuk menolak idenya.
***
Nayra menghempaskan dirinya ke sofa lalu melirik seseorang dihadapannya. Ia sedikit merasa kesal karena melihat ‘sesuatu’ itu masih mengikuti Dicky.
“kenapa kau melirikku dengan tatapan seperti itu? apa aku ada salah?” saut Dicky heran.
“bukan. Aku kesal dengan sosok yang kukatakan tadi siang. ‘dia’ masih mengikutimu” jawab Nayra.
“sudahlah. Berhenti berkata seperti itu. kau betul-betul membuatku takut” sungut Dicky.
Nayra hanya mengangguk. “kau mau minum apa? biar bisa aku bilang ke mbak Mina” tawar Nayra.
“apa aja boleh. Terserah aja” jawab Dicky lalu duduk disofa yang sama dengan Nayra.
Nayra bangkit dari duduknya. “oke. Aku kebelakang dulu ya. Mbak Mina biasa ada dibelakang. Tunggu disini!” saut Nayra lalu pergi ke belakang.
Dicky berada di rumah Nayra sekarang bukan hanya karena ia ingin datang kerumah cewek itu. tapi ia akan menginap disini. Ntah bagaimana cara Nayra meyakinkan kedua orang tuanya untuk mengizinkan Dicky menginap disini, tapi saat ia sampai dirumah, mamanya langsung menyambutnya dan tidak melarangnya sama sekali saat ia bilang kalau akan menginap dirumah Nayra.
Dicky mulai memerhatikan sekeliling ruang tamu ini. Disini ada banyak pajangan-pajangan dan lukisan yang cukup menarik. Dengar dari Nayra, ayahnya sangat suka mengoleksi berbagai macam lukisan dari banyak negara. Dicky juga melihat banyak guci antik yang cantik milik ibunya Nayra. ini juga ia dengar sendiri dari mulut Nayra.
Dicky merasa kasihan dengan Nayra yang selalu ditinggal pergi kedua orangtuanya keluar negeri. Seperti yang pernah dikatakan Nayra, orang tua Nayra sebisa mungkin menjauh dari Nayra yang bisa melihat hal-hal aneh.
Dicky tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan kedua orang tua Nayra. mereka merasa takut dengan anaknya sendiri. padahal sebenarnya kemampuan Nayra melihat hal gaib adalah suatu kelebihan yang seharusnya jangan ditakuti. Seharusnya kedua orang tuanya membimbingnya untuk bisa mengontrol kelebihannya itu.
Dicky menatap dua foto foto keluarga dirumah ini. Itu adalah foto disaat Nayra masih bayi dan saat Nayra berusia sekitar 3 tahun. Disana tampak wajah ceria kedua orang tua Nayra dan Nayra pun terlihat sangat polos dan cantik. Sepertinya foto ini terjadi sebelum kedua orang tua Nayra mengetahui kalau Nayra bisa melihat makhluk gaib.
Tiba-tiba saja Dicky merasa ada yang menarik tangan kirinya. Dengan kaget Dicky melihat tangan kirinya yang terasa sedikit sakit. Ia berusaha menarik tangan kirinya dengan tangan kanannya sendiri, namun terasa berat. Tangan kirinya terasa seperti ada seseorang yang menariknya. Dicky mulai merasa panik.
Prang!!! Terdengar bunyi gelas pecah. Dicky menoleh kesumber suara dengan tatapan panik. Tangan kirinya terus ditarik hingga ia bangkit dari sofa. Ia sudah berusaha melawan, namun tetap saja ‘sesuatu’ itu menariknya lebih kuat.
“Dicky!!” teriak Nayra takut melihat ‘sesuatu’ itu berusaha menarik Dicky.
“Nay! Tolongin aku. Aku seperti ditarik paksa dengan seseorang” saut Dicky panik.
Nayra berlari menghampiri Dicky dengan mata berkaca-kaca. “’dia’ menarikmu, ky. ‘sesuatu’ itu menarikmu. Dan aku tidak tau bagaimana caranya menolongmu!” teriak Nayra menangis.
Dicky semakin panik. Lama-lama ia keluar dari rumah Nayra dan menuju jalan raya yang terlihat begitu ramai sore ini.
“Nay, aku rasa ‘dia’ ingin membunuhku” gumam Dicky lemah. Namun ia masih berusaha melawan tarikan itu.
“Bisma!! Tolong bantu aku!!” teriak Nayra putus asa. Sekarang ia berharap kalau Bisma akan segera muncul dihadapannya.
Tiba-tiba saja Bisma muncul dihadapan Nayra dengan perasaan bingung. ia tadi sedang berada disuatu tempat dan tiba-tiba saja ditarik oleh sesuatu kesini. ia semakin heran melihat Nayra yang menangis.
Begitu melihat Bisma, Nayra merasa lega. “Bisma, tolong usir makhluk itu. aku mohon” saut Nayra memohon sambil menunjuk Dicky yang meronta-ronta.
Bisma menoleh kearah yang ditunjuk Nayra dan terkejut. “Nay, bagaimana bisa makhluk itu menarik temanmu? ‘dia’ makhluk gabungan arwah-arwah penasaran yang jahat. Arwah-arwah itu selalu menginginkan seseorang menjadi arwah seperti mereka dengan cara membunuhnya!” jelas Bisma panik.
“apa?! jadi Dicky benar-benar akan dibunuh mereka?! Bisma, apa yang harus aku lakukan? Aku harus menolongnya, Bisma!” teriak Nayra frustasi. Air matanya mengalir deras dipipinya.
Bisma menatap Nayra dengan sedih. “biarkan aku yang mengurusnya. Percaya padaku” ucap Bisma tersenyum sekilas lalu pergi menghampiri Dicky dan ‘sesuatu’ itu.
Nayra hanya menatap kejadian di hadapannya dengan takut dan gelisah. Airmatanya masih terus mengalir. Terlihat Bisma sedang berusaha menjauhkan ‘sesuatu’ itu dari Dicky. dan tiba-tiba saja keluar cahaya putih yang begitu menyilaukan mata selama beberapa menit. Setelah cahaya itu menghilang, semuanya menjadi gelap gulita.
***
Nayra mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan diri di tempat yang cukup terang ini. Setelah mulai terbiasa, ia bisa melihat kalau dirinya sedang berada dikamarnya sendiri. ia berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi dan tersentak bangun.
“Dicky!” teriak Nayra takut. Ia menoleh kesana kemari berharap melihat sosok Dicky dikamarnya ini. Namun hasilnya nihil. Ia tidak melihat Dicky dimanapun.
“Dicky! mana janjimu yang tidak mau meninggalkanku? Kau bohong!” teriak Nayra marah. namun ia menangis kecewa.
“hei, aku disini. Bisakah kau tidak berisik? Aku sangat lelah” ucap seseorang dengan lemah dari samping tempat tidur Nayra. suara itu terdengar sangat familier di telinga Nayra.
Nayra menoleh ke samping tempat tidurnya dan melongokkan kepalanya ke bawah. Terlihat Dicky sedang rebahan diatas tempat tidur yang lebih rendah dari tempat tidur Nayra. Dicky menutup matanya seperti kelelahan.
“Dicky!” teriak Nayra lagi dengan senyuman bahagia. Ia menghapus airmatanya lalu turun dari ranjangnya dan menghampiri Dicky kemudian memeluknya dengan erat.
“hei! Apa yang kau lakukan?” saut Dicky membuka matanya kaget.
“aku benar-benar takut kehilanganmu” gumam Nayra.
Dicky tersenyum kecil lalu membalas pelukan Nayra lebih erat. “aku sudah janji denganmu kalau aku tidak akan meninggalkanmu. Jadi aku sekarang baik-baik saja” jawab Dicky.
“syukurlah. Aku kira kau benar-benar berhasil ditarik arwah-arwah itu kejalan raya. Mungkin saja kau akan terbunuh, ky” ucap Nayra pelan karena membayangkan hal itu terjadi.
“gak. Dia gak berhasil menarikku karena sepertinya ada seseorang yang mengusirnya dariku. Tapi aku tidak bisa melihatnya”
Nayra melepas pelukannya lalu menatap Dicky cemas. “Bisma! Dia yang menolongmu, ky. Dimana dia sekarang?” saut Nayra menoleh kesana kemari.
“Bisma? Siapa dia? Temanmu? Kenapa kau tidak pernah cerita apapun tentangnya padaku?” tanya Dicky heran.
Nayra tidak menjawab pertanyaan Dicky. sekarang ia malah mengelilingi kamarnya. “Bisma, kau dimana? Cepatlah muncul. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan. Aku tau kau ada disekitar sini. Aku bisa merasakannya” saut Nayra.
Dicky melihat Nayra dengan bingung. apa maksudnya?
Bisma muncul dihadapan Nayra dengan senyum tipis. “halo, Nay” sapanya.
Nayra tersenyum melihat kedatangan Bisma. “makasih karena kau sudah menolong temanku. Apa yang kau lakukan tadi? Tiba-tiba saja ada cahaya putih keluar dari tubuhmu” balas Nayra.
“bukan apa-apa. aku tau dia berharga sekali untukmu. Aku hanya menolongnya seperti biasa. Makhluk yang menariknya tidak begitu kuat. jadi aku bisa mengalahkannya” jawab Bisma sambil tersenyum. “Cahaya putih? Aku tidak sadar kalau tubuhku mengeluarkan cahaya” lanjutnya dengan bingung.
“okelah. Tapi aku tetap berterimakasih denganmu. Kalau kau tidak muncul, mungkin Dicky tidak akan selamat” saut Nayra balas tersenyum tulus.
“sama-sama, Nay. Aku senang bisa menolongnya” ucap Bisma sama tulusnya.
“seandainya saja kau tidak tembus pandang seperti ini, mungkin sekarang aku sudah memelukmu” saut Nayra pelan.
“tapi nyatanya aku adalah hantu. Kau tidak akan bisa memelukku” ucap Bisma santai sambil tertawa.
Nayra ikut tersenyum. “baru kali ini aku merasa bersyukur karena bisa melihat hantu. Kalau tidak, aku gak mungkin bisa kenal kau, Bisma. Aku senang bisa ketemu denganmu” ucap Nayra jujur.
Bisma tertawa lagi. “aku juga senang karena kau bisa melihatku”
Dicky menatap Nayra dengan bingung. ia mendengar Nayra berbicara sendiri seakan ada seseorang dihadapannya. Ia semakin heran lagi mendengar Nayra mengucapkan terima kasih karena sudah menolongnya. Kenapa Dicky tidak bisa melihat orang yang berbicara dengan Nayra?  kenapa Nayra tertawa sendiri? kenapa Nayra terlihat begitu bahagia? Apakah orang yang menolongnya adalah sesosok hantu? Begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam benak Dicky.

TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar