Minggu, 31 Maret 2013

Who Will be My Choice? (Part 3)


“Nay? Kau tidak apa-apa?” tanya Dicky sedikit ragu.
Nayra menoleh ke arah Dicky. “iya. Aku tidak apa-apa, ky” jawab Nayra. “Dicky, kenalin, ini teman aku, namanya Bisma. Dan Bisma, ini teman aku, namanya Dicky” lanjut Nayra menunjuk Bisma dan Dicky.
Dicky memandang Nayra bingung. “Bisma? Siapa dia?” tanya Dicky.
“Nay, kau bodoh atau apa? dia tidak bisa melihatku” saut Bisma tertawa.
Nayra menepuk keningnya. “astaga! Aku lupa. Ky, Bisma itu teman aku. Dia udah jadi hantu. Jadi kamu gak bisa liat dia” jelas Nayra.
“kau berteman dengan hantu?” tanya Dicky kaget.
“tenang aja. dia baik kok. Malah dia yang menolongmu untuk terbebas dari roh-roh yang berusaha membunuhmu” ucap Nayra tersenyum.
Dicky mengerutkan keningnya. “terima kasih, Bisma” ucapnya ragu.
“sama-sama, Dicky. salam kenal juga” ucap Bisma tersenyum.
“katanya, sama-sama. Dia senang bisa kenalan denganmu” ucap Nayra menyampaikan maksud Bisma.
“apa dia selalu ada disini setiap malam?” tanya Dicky penasaran.
“tidak. Sebelum aku tidur, dia selalu pergi. Terkadang dia juga tidak muncul dikamarku. Hanya sesekali aja” jawab Nayra.
Dicky hanya mengangguk-angguk.
“Nay, dia akan tinggal disini?” tanya Bisma.
Nayra menoleh. “ya. Dia tinggal disini. Kenapa?” Nayra balik bertanya.
Dicky hanya memandang Nayra. Nayra terlihat seperti orang kurang waras dimatanya, karena ia tidak bisa melihat sosok Bisma.
“bukannya roh yang kau takuti itu sudah aku usir? Buat apa lagi dia tinggal disini?” saut Bisma.
Nayra tampak berpikir. “benar juga. Tapi ini sudah malam. Biarkan dia menginap disini” ucap Nayra.
Bisma memandang Nayra dengan tatapan tidak setuju.
“tenang saja. Dia sahabatku. Tidak mungkin dia macam-macam denganku” lanjut Nayra meyakinkan.
Bisma mengangguk pelan. “oke. Kalo gitu aku pergi. Cepat tidur!” ucap Bisma tersenyum kecil.
“oke, ayah. Aku pasti cepat tidur” ucap Nayra meledek Bisma.
“dasar. Yaudah. Good night, Nayra. aku pamit sama temanmu itu” ucap Bisma lalu melayang menembus pintu balkon Nayra.
“good night, Bisma” balas Nayra tersenyum.
“apa dia sudah pergi?” tanya Dicky.
Nayra mengangguk. “iya. Baru saja. Dia juga bilang kalo pamit sama kamu” jawab Nayra.
“kalian terlihat dekat. Apa kau sudah lama kenal dengannya?” tanya Dicky lagi.
“ya. Sekitar sebulan yang lalu. Tapi pernah dia 2 minggu tidak muncul dikamarku. Dia marah karena aku salah ngomong sama dia” cerita Nayra.
Dicky menerawang. Ia merasa seperti pernah mendengar kata-kata itu. lalu ia teringat dengan kertas yang dijatuhkan Nayra. Dicky terbatuk-batuk.
“kenapa, ky?” tanya Nayra heran.
“ah, bukan apa-apa. cepatlah kau tidur. Aku tidur di sofa ruang tamu aja” saut Dicky tersenyum.
“tapi disana dingin. Ini selimut kau bawa saja” saut Nayra mengambil selimut dari dalam lemari lalu memberikannya kepada Dicky.
“makasih. Besok malam aku tidak perlu menginap disini lagi kan?” saut Dicky mengambil selimutnya.
“iya. Karena Bisma udah mengusir roh-roh itu. sekarang aku merasa lega” ucap Nayra tersenyum.
“oke. Aku kebawah yaa. Ini udah malam. Aku udah ngantuk” saut Dicky membuka pintu kamar Nayra dan keluar. “Good Night, Nayra” ucap Dicky lagi sebelum menutup pintu.
“good night, too, Dicky. have a nice dream” balas Nayra tersenyum.
Dicky menutup pintu kamar Nayra. wajahnya berubah menjadi kusut. Ia menghampiri tasnya yang berada di ruang tamu dan mencari sesuatu. Akhirnya ia menemukan kertas yang dijatuhkan Nayra beberapa hari yang lalu di taman.
Dicky membaca lagi tulisan yang ada dikertas itu. “gak salah lagi. masa iya aku saingan dengan hantu? Gak masuk akal” gerutu Dicky kesal.
***
Nayra merentangkan kedua tangannya sambil menguap. Setelah puas bersantai-santai ditempat tidur, Nayra menghampiri pintu balkon lalu membukanya. Ia berdiri di belakang pagar balkon. “Selamat pagi, Dunia!!” teriaknya ceria.
“selamat pagi juga, Nayra” balas seseorang dari belakang badan Nayra.
Nayra menoleh kaget. “Dicky?! ngapain kau ada disini?” saut Nayra.
“apa kau lupa? Tadi malam aku menginap disini” saut Dicky menggeleng kepala tidak percaya.
Nayra memandang Dicky sambil cengengesan. “aku lupa, hehe”
“baru kali ini aku melihatmu yang baru bangun tidur. Begitu berantakan, haha” saut Dicky meledek Nayra.
Nayra tersadar lalu berteriak. “keluar kau, Dicky! cepat keluar!” teriak Nayra panik mengusir Dicky sambil mendorongnya kearah pintu keluar.
“tidak usah malu, Nay. Aku sahabatmu. Haha” saut Dicky tertawa semakin menggoda Nayra.
“pergi, Dicky!” saut Nayra langsung membanting pintu.  Ia menutup wajahnya yang memerah menahan malu. Nayra berlari ke cermin dan menatap pantulan dirinya. “astaga.. rambut kaya singa. Mata bengkak. Mau ditaruh dimana muka ini?!” saut Nayra kesal sendiri.
***
“hei. Makan yuk!” saut Dicky begitu melihat Nayra di dapur.
“loh? Mbak Mina mana? Kok kau yang buat sarapan?” tanya Nayra bingung.
“aku sengaja minta biar aku aja yang masak. Jadi sekarang mbak Mina ada dibelakang lagi nyapu halaman” jawab Dicky meletakkan sepiring nasi goreng di depan Nayra. lalu ia duduk disebelah Nayra dengan sepiring nasi goreng lainnya.
Nayra mencicipi nasi goreng buatan Dicky. “ky, enak banget! Sejak kapan kau jago masak?” saut Nayra antusias.
“enak? Baguslah haha. Aku gak jago masak. Cuma bisa masak nasi goreng atau ngegoreng aja gitu” balas Dicky tersenyum. Lalu ia menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.
“wah.. kalo bisa sering-sering dong datang kesini terus masakin buat aku. Biar kerjaan Mbak Mina berkurang” saut Nayra bercanda.
“bisa kok. Asal ada yang ngejemput buat kesini” balas Dicky bercanda juga.
“haha. Gampang itu. ntar tiap pulang sekolah kita langsung kesini. Biar kau yang masak yah” saut Nayra mengedipkan matanya.
“oke. Bisa diatur haha” saut Dicky tertawa.
Mereka berdua lalu terdiam menikmati nasi goreng mereka.
***
“Dicky, mau sampai kapan kau disini? Ini sudah sore. Semua hal udah kita lakuin” saut Nayra duduk dipinggir kolam dan memasukkan ke dua kakinya kedalam kolam itu.
Dicky mengikuti apa yang dilakukan Nayra. “tapi aku masih mau disini”
“apa kau tidak bosan? Tidak capek? Aku yang punya rumah pasti nanti sangat capek membereskan apa yang udah kita buat jadi berantakan”
“kalau gitu, gimana kalau kita berdua beresin ini semua?”
Nayra memandang Dicky dengan senyum berbinar. “Good idea! Ayo kita bereskan rumah ini!” teriak nayra langsung berdiri dan masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu ia keluar dengan membawa kemoceng bulu ayam, kain lap, ember yang sudah terisi air sabun, sapu, dan pel.
Dicky tersenyum geli. “oke. Aku bagian ngelap, kau yang nyapu apa yang aku lap atau kubersihkan” ucap Dicky membagi tugas.
“siap pak bos!” teriak Nayra hormat kearah Dicky.
Dicky mulai mengelap semua benda-benda yang berdebu atau merapikan barang-barang yang dibuat berantakan oleh mereka. Sementara Nayra menyapu debu-debu atau sampah yang telah dibuang oleh Dicky.
Tak jarang mereka saling memberi kekotoran mereka. Seperti Nayra yang mengelap mukanya yang berkeringat ke baju Dicky. atau Dicky yang mengelap kain lap penuh debu ke baju Nayra. dan akhirnya mereka berlarian kesana kemari menghindari kekotoran yang lebih banyak dari ini.
Beberapa jam setelah mereka membersihkan rumah ini, mereka saling menatap penuh arti. Lalu mereka saling high-five. “kita berhasil!” teriak mereka berbarengan lalu tertawa bersama.
Wajah mereka yang kotor tidak menghalangi keceriaan wajah mereka. Walau capek, mereka merasa sangat senang.
“Nay, aku pulang yah. Gerah ini belum mandi dari pagi, hehe” ucap Dicky setelah mereka berdua selesai membersihkan muka.
“pantes aku nyium bau-bau gitu. Ternyata dari badanmu, ky. Haha” saut Nayra menggoda Dicky.
Dicky cemberut. “gini-gini aku baik tau sama kamu udah mau bantuin beresin rumahmu”
“gak usah pasang wajah gitu. Lagian kan emang kamu yang buat rumah ini berantakan. Jadi kamu wajar bantuin aku beres-beres. Dan kamu juga yang ngusulin ide ini, jadi jangan bertingkah kaya aku punya hutang budi sama kamu” jelas Nayra memeletkan lidahnya.
“iya deh. Emang aku yang kasih ide. Emang aku yang gak mau pulang” saut Dicky mengalah. “yaudah aku pulang ya, Nay. Jangan kangen sama aku. Dah Nayra!” saut Dicky lagi lalu mencium puncak kepala Nayra sekilas dan kabur begitu saja.
Nayra beberapa detik terdiam di tempat, lalu ia meneriaki Dicky dengan marah. namun diwajahnya ada senyuman senang dan tampak jelas ada rona merah di pipinya. Apa artinya?
***
Nayra merebahkan dirinya dikasur. Sekarang ia sudah bersih dan wangi. Ia hanya bersantai-santai diatas tempat tidurnya sambil memainkan handphonenya. Dari ekor matanya ia dapat melihat sosok Bisma yang melayang mendekatinya perlahan.
Nayra langsung tersenyum geli. “kau tidak berhasil mengagetkanku, Bisma”
“sial! Padahal aku sudah kangen dengan matamu yang membesar kalau sedang kaget” sautnya mendecak kesal.
“Bisma, kenapa kau lebih sering muncul disaat malam?” tanya Nayra berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia merasa salah tingkah kalau Bisma berkata lebih dari itu.
“itu karena malam lebih sepi dari siang. Sejak aku jadi hantu, aku tidak suka keramaian” jawab Bisma santai.
“berarti dulu kamu suka keramaian ya?” tanya Nayra lagi.
Bisma mengangguk. “apalagi kalau yang buat ramai itu, cewek. Makin suka” ucap Bisma tersenyum genit.
“dasar genit! Nyesal aku nanya kamu” saut Nayra hendak melempar bantalnya ke Bisma, namun tidak jadi karena ia tau itu hanya perbuatan yang sia-sia.
“kenapa? Kau cemburu ya? Kau suka padaku?” saut Bisma mulai narsis.
“kau ini hantu paling pede yang pernah aku temui” ucap Nayra sambil menggeleng-geleng kepalanya.
“lebay deh. Bilang aja kalau aku ini hantu yang paling ganteng yang pernah kau temui. Itu baru aku setuju”
Nayra tak tahan untuk melempar bantal kearah Bisma. Namun ia malah ditertawakan oleh Bisma.
“sudah sana pergi! Aku mau tidur” saut Nayra menahan malu. Ia naik ke ranjangnya lagi lalu menutup wajahnya dengan selimut.
“baiklah, Nayra. Nayranya udah malu. Jadi Bisma pergi aja deh. Good night, Nay” ucap Bisma dengan nada meledek. Lalu ia keluar dari kamar Nayra dengan wajah geli.
“good night, too, Bisma” gumam Nayra sambil tersenyum malu dibalik selimutnya.
Setelah Nayra benar-benar tertidur, Bisma kembali lagi ke kamar Nayra. ia menatap Nayra. “Nay, sebenarnya dari tadi siang sampai sore aku disini. Tapi kau tidak menyadari kehadiranku. Aku bisa melihat dengan jelas kalau kau sangat merasa nyaman berada didekat Dicky sampai kau tidak menyadari kalau aku ada disana” gumam Bisma sendirian.
“mungkin aku cemburu melihat kau tertawa lepas sama Dicky. mungkin aku cemburu melihat kau tersenyum malu karena Dicky. dan aku mungkin sangat cemburu melihat kau dicium seperti itu oleh Dicky. aku cuma bisa melihatmu dari jauh, Nay” lanjut Bisma.
“setelah aku pikir-pikir lagi, mana mungkin aku bisa menang dari Dicky. sainganku adalah seorang manusia. Mana mungkin kau memilihku, hantu yang tidak jelas. Pasti kau memilih Dicky, yang pasti bisa membahagiakanmu” ucap Bisma tersenyum sedih.
Bisma menatap dengan dalam wajah Nayra yang kini tidak tertutupi oleh selimut. Lalu ia terbang menembus pintu balkon kamar Nayra menuju kegelapan malam.
***
Nayra duduk di depan televisi dengan bosan. Minggu ini ia tidak pergi kemana-mana. Rumah juga terasa sangat sepi. Itu karena Mbak Mina sudah pulang karena ibunya sakit.
Nayra melamunkan segala hal yang bisa ia pikirkan. Dan sekarang ia memikirkan Bisma dan Dicky. ia mulai berpikir untuk memilih di antara mereka. Karena pada dasarnya Nayra menyukai mereka berdua.
Who Will be My Choice? Kata-kata itu terngiang diotak Nayra. siapa yang akan menjadi pilihannya? Ia pasti tidak mungkin memiliki keduanya. Tapi seperti itulah keinginannya. Ia merasa ia benar-benar orang yang egois.
Nayra memikirkan kata-kata orang di televisi. Bila ia memejamkan mata, dan ada sesosok yang muncul saat itu, itu lah pilihannya. Nayra mencoba melakukannya. Ia memejamkan matanya. Awalnya ia melihat Bisma dan Dicky. lama-lama Dicky memudar dan Bisma semakin kuat dipikirannya.
Nayra membuka matanya dan menghembuskan nafas berat. “Bisma... Bisma yang muncul. Apa itu artinya aku memilih Bisma? Kenapa bukan Dicky?” gumamnya berat.
Ting tong... terdengar suara bel rumah Nayra. Nayra segera bangkit dari duduknya lalu berjalan cepat ke pintu depan. Kemudian ia membuka pintunya.
Nayra mundur perlahan. Matanya tidak bisa berpaling dari sosok dihadapannya. Perasaannya kacau balau tidak menentu. Dadanya terasa sesak.
“Nay... aku kesini mau ngomongin sesuatu sama kamu” ucap sosok itu mendekati Nayra.
Nayra semakin mundur ke belakang. Perasaannya tidak karuan. “kau siapa?” Nayra berusaha bersuara.
“aku Bisma. Apa kau lupa dengan wajahku?” ucap sosok itu.
“tidak. Bisma sudah jadi hantu. Dan kau manusia. Kau bukan Bisma!” saut Nayra takut.
“percayalah. Aku Bisma. Tiba-tiba saja aku berubah jadi manusia. Aku juga kaget. Sepertinya doaku dikabulkan Tuhan. Aku pernah berdoa untuk merubahku menjadi manusia dalam sehari saja. Dan inilah aku. Aku kembali jadi manusia walau cuma sehari” jelas sosok itu mengaku menjadi Bisma.
Nayra memandang cowok dihadapannya dengan tidak percaya. Memang cowok itu memiliki wajah persis dengan Bisma. Sangat persis, tanpa celah. Bedanya hanya Bisma yang ia kenal sudah menjadi hantu, bukan manusia.
“apa yang kau suka dariku?” tanya Nayra tiba-tiba.
Bisma memandang Nayra bingung, lalu menjawab. “aku suka melihat matamu yang melotot ketika melihatku dan aku juga suka senyummu”
Nayra berlari memeluk Bisma. “kau memang Bisma yang kukenal” ucapnya bergetar.
Bisma tersenyum senang. “akhirnya aku bisa menyentuhmu, Nay” ucap Bisma membalas pelukan Nayra dengan erat. Ia juga mengelus rambut Nayra dengan lembut.
“ya, akhirnya aku bisa menyentuhmu, juga” gumam Nayra menangis.
Bisma menjauhkan Nayra dari pelukannya lalu mengusap airmata di pipi Nayra dengan lembut. “jangan nangis, dasar cengeng” ucap Bisma tersenyum.
“ini karena aku senang, bodoh. Kau tidak mengerti ya?” saut Nayra cemberut.
“oh jadi Nayra senang bisa meluk Bisma? Bisa nyentuh Bisma? Nayra so sweet ya” saut Bisma dengan muka genit.
Nayra menutup wajah Bisma dengan tangan Bisma. “dasar genit!” saut Nayra lalu masuk ke dalam lagi.
Bisma tertawa senang. “Nay, jalan yuk. Kapan lagi coba bisa jalan sama orang paling keren?” ajak Bisma.
Nayra melirik sekilas. “malas jalan sama orang yang kepedean tingkat akut” jawab Nayra sedikit ketus.
“yakin? Yaudah deh. Kirain kau akan bosan dirumah seharian gak ada teman. Tapi ternyata kau betah dirumah ini terus” saut Bisma jalan ke depan lagi.
Nayra menoleh ragu. Jujur, sebenarnya ia merasa sangat bosan di dalam rumah ini. Apalagi tidak ada orang yang menemani. Tepat seperti kata Bisma.
Bisma menoleh dan melihat Nayra sudah ada disampingnya. “loh? kenapa? Ada yang mau diomongin?” tanya Bisma pura-pura tidak tahu.
Nayra melempar kunci mobil dan langsung ditangkap dengan sigap oleh Bisma. “ayo jalan! Kemana aja terserah kamu” ucap Nayra cuek lalu berjalan kearah mobil.
Bisma tertawa geli. “Nayra.. Nayra. gak mau keliatan kalah yah” gumamnya.
***
Nayra memandang sekeliling dengan kagum. “keren. Bunga gardenia dimana-mana. Bunga kesukaanku” ucap Nayra tersenyum lebar.
“keren kan? siapa dulu gitu yang nemuin tempat ini. Bisma!” saut Bisma membanggakan dirinya.
Nayra menoleh. “kau tau dari mana kalau aku suka bunga gardenia?” tanya Nayra iseng.
“hah? Aku.. aku gak tau kalau kau suka bunga ini. Aku mengajakmu kesini cuma karena ingin menunjukkan tempat keren ini” jawab Bisma aneh.
Nayra mengangguk. “makasih ya. Aku jadi tau kemana aku harus pergi kalau lagi sedih” ucap Nayra tersenyum tulus.
Bisma balas tersenyum lalu menggenggam tangan Nayra dengan lembut. “Nay, kau suka dengan Dicky?”
Nayra melihat Bisma dengan bingung. “kenapa kau tiba-tiba bertanya soal itu?”
“ya aku hanya ingin tau saja. Do you love him, Nay?” tanya Bisma lagi masih menggenggam tangan Nayra.
Nayra menunduk memandangi rumput. Ia bingung mau menjawab apa. terasa tangan Nayra diremas oleh Bisma. Nayra mendongak menatap mata Bisma yang seakan menunggu jawaban dari mulut Nayra.
“apa ini begitu penting untuk dibicarakan?” ucap Nayra pelan.
Bisma melepaskan genggamannya. “susah ya cuma jawab iya atau tidak?” tanya Bisma sedikit kecewa. Melihat Nayra masih bergeming, Bisma menyerah. “yasudah kalau kau tidak mau berbagi denganku. Aku tidak memaksamu”
“habis kau bertanya soal Dicky disaat kita hanya berdua. Aku kan jadi bingung” saut Nayra spontan.
“maksudnya?” tanya Bisma bingung.
Nayra gelagapan. “bukan. Bukan apa-apa. aku cuma...” Nayra menghentikan ucapannya karena tiba-tiba saja tercium aroma bunga gardenia tepat dihidungnya.
“kau begitu takut ya sama aku? Sampai kau jadi gelagapan seperti itu. aku tau, kau pasti tenang kalau aku kasih bunga ini” ucap Bisma memberikan 2 tangkai bunga gardenia pada Nayra.
Nayra tertawa kecil lalu mengambil bunga itu. “kau seakan tau semua tentangku, Bisma. Aku jadi merasa seperti punya fans, haha”
“sepertinya aku memang fansmu, Nayra. kau idolaku” balas Bisma tertawa.
***
“Nay, ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu” ucap Bisma duduk di teras rumah Nayra. hari sudah gelap. Mereka sudah pulang dari acara jalan-jalan seharian ini.
Nayra duduk disebelah Bisma. “mau ngomong apa? kesannya formal banget pakai izin segala” balas Nayra.
“aku mau ketemu sama gadis yang kusukai itu, dan aku mau minta maaf sama dia” ucap Bisma to the point.
Nayra menoleh kaget. “malam ini?”
Bisma mengangguk. “iya. aku mau berubah jadi manusia lagi memang karena aku mau ketemu sama dia dan minta maaf sama dia dengan sosok manusia. Bukan hantu” ucap Bisma pelan.
“gimana kalau setelah kau minta maaf sama dia, kau jadi tidak muncul lagi di dunia ini?” tanya Nayra. dalam suaranya tersirat makna tidak rela.
“itu yang aku mau, Nay. Aku capek 3 tahun ini berkeliaran di bumi. Aku mau ke surga. Aku capek liat mama sama papaku yang terus menangisi kepergianku. Mereka sampai sekarang belum terima, Nay” ucap Bisma sedih.
Nayra memeluk Bisma dengan erat. “kalau memang itu mau kamu, ayo cepat minta maaf sama gadis itu. aku rasa dia pasti langsung memaafkanmu” saran Nayra. kalau ia boleh jujur, dari dalam lubuk hatinya ia benar-benar tidak rela kalau ia harus kehilangan Bisma dari hidupnya. Tapi mau bagaimana lagi. kita tidak boleh egois, kan? Bisma pasti lebih bahagia pergi ke dunianya daripada terus terjebak di sini.
“makasih sarannya, Nay. Aku tampung” ucap Bisma tersenyum mengelus rambut Nayra dengan lembut.
“apa setelah kamu minta maaf sama gadis itu, kamu langsung pergi? Apa kita tidak bertemu dulu?”
“mungkin kita bisa bertemu dulu. Akan kuusahakan. Karena kau begitu berarti untukku, Nay” ucap Bisma mempererat pelukannya.
***
Nayra berdiri di balik pagar balkonnya sambil menatap langit malam. “langit, apa kau mengerti perasaanku sekarang? Pasti kau tidak mengerti. Kau tidak pernah kesepian sepertiku. Pasti selalu ada bulan dan bintang yang menemanimu. Walau hari ini mereka tidak muncul, tapi mereka pasti akan menemanimu besoknya” ucap Nayra.
“lain denganku. Aku sekarang memang punya bulan dan bintang. Tapi sebentar lagi bintangku akan pergi. Bintangku akan pergi ketempatmu. Dan nanti kau pasti punya teman baru. Jaga dia ya, langit. Dia bintangku. Aku mencintainya. Walaupun aku baru bertemu dengannya sebulan yang lalu, aku merasa seperti sudah mencintainya 10 tahun lamanya. Apa setiap orang yang jatuh cinta nasibnya sama sepertiku?” lanjutnya.
“ya, aku sudah menyadarinya, langit. Aku memilih Bisma. Tapi kenapa aku harus memilih sosok yang sebenarnya sudah tidak ada? Kenapa aku memilih sosok yang sedang menyukai gadis lain? Aku sadar aku pasti tidak bisa bersamanya, tapi aku tetap menyukainya, langit. Apa ini yang namanya cinta? Kenapa harus dia yang membuatku tau bagaimana perasaan cinta?”
Terdengar gemerisik daun yang dipijak. Nayra menunduk melihat ke halaman rumahnya. Terlihat disana ada Bisma yang tersenyum menatapnya.
Dengan cepat Nayra turun dan keluar dari rumahnya. Ia menghampiri Bisma dengan perasaan cemas.
“ternyata kau sempat datang kesini, Bisma” ucap Nayra lega. “bagaimana? Apa dia memaafkanmu?”
Bisma tersenyum lalu memberikan Nayra setangkai bunga gardenia. “aku belum minta maaf dengannya” ucapnya pelan.
Nayra melihat Bisma dengan bingung. “kenapa? Apa kau tidak berani?”
Bisma menggeleng kemudian tersenyum lagi. “bukan. Karena sekaranglah aku ingin minta maaf dengannya”
Nayra menatap Bisma semakin bingung. “apa maksudmu? Apa gadis itu tinggal disekitar sini?”
“bukan. Kau lah gadis itu, Nayra” ucap Bisma memeluk Nayra dengan erat.

TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar