“Nay? Kau tidak
apa-apa?” tanya Dicky sedikit ragu.
Nayra menoleh ke
arah Dicky. “iya. Aku tidak apa-apa, ky” jawab Nayra. “Dicky, kenalin, ini
teman aku, namanya Bisma. Dan Bisma, ini teman aku, namanya Dicky” lanjut Nayra
menunjuk Bisma dan Dicky.
Dicky memandang
Nayra bingung. “Bisma? Siapa dia?” tanya Dicky.
“Nay, kau bodoh atau
apa? dia tidak bisa melihatku” saut Bisma tertawa.
Nayra menepuk
keningnya. “astaga! Aku lupa. Ky, Bisma itu teman aku. Dia udah jadi hantu.
Jadi kamu gak bisa liat dia” jelas Nayra.
“kau berteman dengan
hantu?” tanya Dicky kaget.
“tenang aja. dia
baik kok. Malah dia yang menolongmu untuk terbebas dari roh-roh yang berusaha
membunuhmu” ucap Nayra tersenyum.
Dicky mengerutkan
keningnya. “terima kasih, Bisma” ucapnya ragu.
“sama-sama, Dicky.
salam kenal juga” ucap Bisma tersenyum.
“katanya, sama-sama.
Dia senang bisa kenalan denganmu” ucap Nayra menyampaikan maksud Bisma.
“apa dia selalu ada
disini setiap malam?” tanya Dicky penasaran.
“tidak. Sebelum aku
tidur, dia selalu pergi. Terkadang dia juga tidak muncul dikamarku. Hanya
sesekali aja” jawab Nayra.
Dicky hanya
mengangguk-angguk.
“Nay, dia akan
tinggal disini?” tanya Bisma.
Nayra menoleh. “ya.
Dia tinggal disini. Kenapa?” Nayra balik bertanya.
Dicky hanya
memandang Nayra. Nayra terlihat seperti orang kurang waras dimatanya, karena ia
tidak bisa melihat sosok Bisma.
“bukannya roh yang
kau takuti itu sudah aku usir? Buat apa lagi dia tinggal disini?” saut Bisma.
Nayra tampak
berpikir. “benar juga. Tapi ini sudah malam. Biarkan dia menginap disini” ucap
Nayra.
Bisma memandang
Nayra dengan tatapan tidak setuju.
“tenang saja. Dia
sahabatku. Tidak mungkin dia macam-macam denganku” lanjut Nayra meyakinkan.
Bisma mengangguk
pelan. “oke. Kalo gitu aku pergi. Cepat tidur!” ucap Bisma tersenyum kecil.
“oke, ayah. Aku
pasti cepat tidur” ucap Nayra meledek Bisma.
“dasar. Yaudah. Good
night, Nayra. aku pamit sama temanmu itu” ucap Bisma lalu melayang menembus
pintu balkon Nayra.
“good night, Bisma”
balas Nayra tersenyum.
“apa dia sudah
pergi?” tanya Dicky.
Nayra mengangguk.
“iya. Baru saja. Dia juga bilang kalo pamit sama kamu” jawab Nayra.
“kalian terlihat
dekat. Apa kau sudah lama kenal dengannya?” tanya Dicky lagi.
“ya. Sekitar sebulan
yang lalu. Tapi pernah dia 2 minggu tidak muncul dikamarku. Dia marah karena
aku salah ngomong sama dia” cerita Nayra.
Dicky menerawang. Ia
merasa seperti pernah mendengar kata-kata itu. lalu ia teringat dengan kertas
yang dijatuhkan Nayra. Dicky terbatuk-batuk.
“kenapa, ky?” tanya
Nayra heran.
“ah, bukan apa-apa.
cepatlah kau tidur. Aku tidur di sofa ruang tamu aja” saut Dicky tersenyum.
“tapi disana dingin.
Ini selimut kau bawa saja” saut Nayra mengambil selimut dari dalam lemari lalu
memberikannya kepada Dicky.
“makasih. Besok
malam aku tidak perlu menginap disini lagi kan?” saut Dicky mengambil
selimutnya.
“iya. Karena Bisma
udah mengusir roh-roh itu. sekarang aku merasa lega” ucap Nayra tersenyum.
“oke. Aku kebawah
yaa. Ini udah malam. Aku udah ngantuk” saut Dicky membuka pintu kamar Nayra dan
keluar. “Good Night, Nayra” ucap Dicky lagi sebelum menutup pintu.
“good night, too,
Dicky. have a nice dream” balas Nayra tersenyum.
Dicky menutup pintu
kamar Nayra. wajahnya berubah menjadi kusut. Ia menghampiri tasnya yang berada
di ruang tamu dan mencari sesuatu. Akhirnya ia menemukan kertas yang dijatuhkan
Nayra beberapa hari yang lalu di taman.
Dicky membaca lagi
tulisan yang ada dikertas itu. “gak salah lagi. masa iya aku saingan dengan
hantu? Gak masuk akal” gerutu Dicky kesal.
***
Nayra merentangkan
kedua tangannya sambil menguap. Setelah puas bersantai-santai ditempat tidur,
Nayra menghampiri pintu balkon lalu membukanya. Ia berdiri di belakang pagar
balkon. “Selamat pagi, Dunia!!” teriaknya ceria.
“selamat pagi juga,
Nayra” balas seseorang dari belakang badan Nayra.
Nayra menoleh kaget.
“Dicky?! ngapain kau ada disini?” saut Nayra.
“apa kau lupa? Tadi
malam aku menginap disini” saut Dicky menggeleng kepala tidak percaya.
Nayra memandang
Dicky sambil cengengesan. “aku lupa, hehe”
“baru kali ini aku
melihatmu yang baru bangun tidur. Begitu berantakan, haha” saut Dicky meledek
Nayra.
Nayra tersadar lalu
berteriak. “keluar kau, Dicky! cepat keluar!” teriak Nayra panik mengusir Dicky
sambil mendorongnya kearah pintu keluar.
“tidak usah malu,
Nay. Aku sahabatmu. Haha” saut Dicky tertawa semakin menggoda Nayra.
“pergi, Dicky!” saut
Nayra langsung membanting pintu. Ia
menutup wajahnya yang memerah menahan malu. Nayra berlari ke cermin dan menatap
pantulan dirinya. “astaga.. rambut kaya singa. Mata bengkak. Mau ditaruh dimana
muka ini?!” saut Nayra kesal sendiri.
***
“hei. Makan yuk!”
saut Dicky begitu melihat Nayra di dapur.
“loh? Mbak Mina
mana? Kok kau yang buat sarapan?” tanya Nayra bingung.
“aku sengaja minta
biar aku aja yang masak. Jadi sekarang mbak Mina ada dibelakang lagi nyapu
halaman” jawab Dicky meletakkan sepiring nasi goreng di depan Nayra. lalu ia
duduk disebelah Nayra dengan sepiring nasi goreng lainnya.
Nayra mencicipi nasi
goreng buatan Dicky. “ky, enak banget! Sejak kapan kau jago masak?” saut Nayra
antusias.
“enak? Baguslah
haha. Aku gak jago masak. Cuma bisa masak nasi goreng atau ngegoreng aja gitu”
balas Dicky tersenyum. Lalu ia menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.
“wah.. kalo bisa
sering-sering dong datang kesini terus masakin buat aku. Biar kerjaan Mbak Mina
berkurang” saut Nayra bercanda.
“bisa kok. Asal ada
yang ngejemput buat kesini” balas Dicky bercanda juga.
“haha. Gampang itu.
ntar tiap pulang sekolah kita langsung kesini. Biar kau yang masak yah” saut
Nayra mengedipkan matanya.
“oke. Bisa diatur
haha” saut Dicky tertawa.
Mereka berdua lalu
terdiam menikmati nasi goreng mereka.
***
“Dicky, mau sampai
kapan kau disini? Ini sudah sore. Semua hal udah kita lakuin” saut Nayra duduk
dipinggir kolam dan memasukkan ke dua kakinya kedalam kolam itu.
Dicky mengikuti apa
yang dilakukan Nayra. “tapi aku masih mau disini”
“apa kau tidak
bosan? Tidak capek? Aku yang punya rumah pasti nanti sangat capek membereskan
apa yang udah kita buat jadi berantakan”
“kalau gitu, gimana
kalau kita berdua beresin ini semua?”
Nayra memandang Dicky
dengan senyum berbinar. “Good idea! Ayo kita bereskan rumah ini!” teriak nayra
langsung berdiri dan masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu ia keluar dengan
membawa kemoceng bulu ayam, kain lap, ember yang sudah terisi air sabun, sapu,
dan pel.
Dicky tersenyum
geli. “oke. Aku bagian ngelap, kau yang nyapu apa yang aku lap atau
kubersihkan” ucap Dicky membagi tugas.
“siap pak bos!”
teriak Nayra hormat kearah Dicky.
Dicky mulai mengelap
semua benda-benda yang berdebu atau merapikan barang-barang yang dibuat
berantakan oleh mereka. Sementara Nayra menyapu debu-debu atau sampah yang telah
dibuang oleh Dicky.
Tak jarang mereka
saling memberi kekotoran mereka. Seperti Nayra yang mengelap mukanya yang
berkeringat ke baju Dicky. atau Dicky yang mengelap kain lap penuh debu ke baju
Nayra. dan akhirnya mereka berlarian kesana kemari menghindari kekotoran yang
lebih banyak dari ini.
Beberapa jam setelah
mereka membersihkan rumah ini, mereka saling menatap penuh arti. Lalu mereka
saling high-five. “kita berhasil!”
teriak mereka berbarengan lalu tertawa bersama.
Wajah mereka yang
kotor tidak menghalangi keceriaan wajah mereka. Walau capek, mereka merasa sangat
senang.
“Nay, aku pulang
yah. Gerah ini belum mandi dari pagi, hehe” ucap Dicky setelah mereka berdua
selesai membersihkan muka.
“pantes aku nyium
bau-bau gitu. Ternyata dari badanmu, ky. Haha” saut Nayra menggoda Dicky.
Dicky cemberut.
“gini-gini aku baik tau sama kamu udah mau bantuin beresin rumahmu”
“gak usah pasang
wajah gitu. Lagian kan emang kamu yang buat rumah ini berantakan. Jadi kamu wajar
bantuin aku beres-beres. Dan kamu juga yang ngusulin ide ini, jadi jangan
bertingkah kaya aku punya hutang budi sama kamu” jelas Nayra memeletkan
lidahnya.
“iya deh. Emang aku
yang kasih ide. Emang aku yang gak mau pulang” saut Dicky mengalah. “yaudah aku
pulang ya, Nay. Jangan kangen sama aku. Dah Nayra!” saut Dicky lagi lalu
mencium puncak kepala Nayra sekilas dan kabur begitu saja.
Nayra beberapa detik
terdiam di tempat, lalu ia meneriaki Dicky dengan marah. namun diwajahnya ada
senyuman senang dan tampak jelas ada rona merah di pipinya. Apa artinya?
***
Nayra merebahkan
dirinya dikasur. Sekarang ia sudah bersih dan wangi. Ia hanya bersantai-santai
diatas tempat tidurnya sambil memainkan handphonenya. Dari ekor matanya ia
dapat melihat sosok Bisma yang melayang mendekatinya perlahan.
Nayra langsung
tersenyum geli. “kau tidak berhasil mengagetkanku, Bisma”
“sial! Padahal aku
sudah kangen dengan matamu yang membesar kalau sedang kaget” sautnya mendecak
kesal.
“Bisma, kenapa kau
lebih sering muncul disaat malam?” tanya Nayra berusaha mengalihkan
pembicaraan. Ia merasa salah tingkah kalau Bisma berkata lebih dari itu.
“itu karena malam
lebih sepi dari siang. Sejak aku jadi hantu, aku tidak suka keramaian” jawab
Bisma santai.
“berarti dulu kamu
suka keramaian ya?” tanya Nayra lagi.
Bisma mengangguk.
“apalagi kalau yang buat ramai itu, cewek. Makin suka” ucap Bisma tersenyum
genit.
“dasar genit! Nyesal
aku nanya kamu” saut Nayra hendak melempar bantalnya ke Bisma, namun tidak jadi
karena ia tau itu hanya perbuatan yang sia-sia.
“kenapa? Kau cemburu
ya? Kau suka padaku?” saut Bisma mulai narsis.
“kau ini hantu paling
pede yang pernah aku temui” ucap Nayra sambil menggeleng-geleng kepalanya.
“lebay deh. Bilang
aja kalau aku ini hantu yang paling ganteng yang pernah kau temui. Itu baru aku
setuju”
Nayra tak tahan
untuk melempar bantal kearah Bisma. Namun ia malah ditertawakan oleh Bisma.
“sudah sana pergi!
Aku mau tidur” saut Nayra menahan malu. Ia naik ke ranjangnya lagi lalu menutup
wajahnya dengan selimut.
“baiklah, Nayra.
Nayranya udah malu. Jadi Bisma pergi aja deh. Good night, Nay” ucap Bisma
dengan nada meledek. Lalu ia keluar dari kamar Nayra dengan wajah geli.
“good night, too,
Bisma” gumam Nayra sambil tersenyum malu dibalik selimutnya.
Setelah Nayra
benar-benar tertidur, Bisma kembali lagi ke kamar Nayra. ia menatap Nayra.
“Nay, sebenarnya dari tadi siang sampai sore aku disini. Tapi kau tidak
menyadari kehadiranku. Aku bisa melihat dengan jelas kalau kau sangat merasa
nyaman berada didekat Dicky sampai kau tidak menyadari kalau aku ada disana”
gumam Bisma sendirian.
“mungkin aku cemburu
melihat kau tertawa lepas sama Dicky. mungkin aku cemburu melihat kau tersenyum
malu karena Dicky. dan aku mungkin sangat cemburu melihat kau dicium seperti
itu oleh Dicky. aku cuma bisa melihatmu dari jauh, Nay” lanjut Bisma.
“setelah aku
pikir-pikir lagi, mana mungkin aku bisa menang dari Dicky. sainganku adalah
seorang manusia. Mana mungkin kau memilihku, hantu yang tidak jelas. Pasti kau
memilih Dicky, yang pasti bisa membahagiakanmu” ucap Bisma tersenyum sedih.
Bisma menatap dengan
dalam wajah Nayra yang kini tidak tertutupi oleh selimut. Lalu ia terbang
menembus pintu balkon kamar Nayra menuju kegelapan malam.
***
Nayra duduk di depan
televisi dengan bosan. Minggu ini ia tidak pergi kemana-mana. Rumah juga terasa
sangat sepi. Itu karena Mbak Mina sudah pulang karena ibunya sakit.
Nayra melamunkan
segala hal yang bisa ia pikirkan. Dan sekarang ia memikirkan Bisma dan Dicky.
ia mulai berpikir untuk memilih di antara mereka. Karena pada dasarnya Nayra
menyukai mereka berdua.
Who Will be My Choice? Kata-kata itu terngiang diotak Nayra. siapa
yang akan menjadi pilihannya? Ia pasti tidak mungkin memiliki keduanya. Tapi
seperti itulah keinginannya. Ia merasa ia benar-benar orang yang egois.
Nayra memikirkan
kata-kata orang di televisi. Bila ia memejamkan mata, dan ada sesosok yang muncul
saat itu, itu lah pilihannya. Nayra mencoba melakukannya. Ia memejamkan
matanya. Awalnya ia melihat Bisma dan Dicky. lama-lama Dicky memudar dan Bisma
semakin kuat dipikirannya.
Nayra membuka
matanya dan menghembuskan nafas berat. “Bisma... Bisma yang muncul. Apa itu
artinya aku memilih Bisma? Kenapa bukan Dicky?” gumamnya berat.
Ting tong... terdengar suara bel rumah Nayra. Nayra segera bangkit
dari duduknya lalu berjalan cepat ke pintu depan. Kemudian ia membuka pintunya.
Nayra mundur
perlahan. Matanya tidak bisa berpaling dari sosok dihadapannya. Perasaannya
kacau balau tidak menentu. Dadanya terasa sesak.
“Nay... aku kesini
mau ngomongin sesuatu sama kamu” ucap sosok itu mendekati Nayra.
Nayra semakin mundur
ke belakang. Perasaannya tidak karuan. “kau siapa?” Nayra berusaha bersuara.
“aku Bisma. Apa kau
lupa dengan wajahku?” ucap sosok itu.
“tidak. Bisma sudah
jadi hantu. Dan kau manusia. Kau bukan Bisma!” saut Nayra takut.
“percayalah. Aku
Bisma. Tiba-tiba saja aku berubah jadi manusia. Aku juga kaget. Sepertinya
doaku dikabulkan Tuhan. Aku pernah berdoa untuk merubahku menjadi manusia dalam
sehari saja. Dan inilah aku. Aku kembali jadi manusia walau cuma sehari” jelas
sosok itu mengaku menjadi Bisma.
Nayra memandang
cowok dihadapannya dengan tidak percaya. Memang cowok itu memiliki wajah persis
dengan Bisma. Sangat persis, tanpa celah. Bedanya hanya Bisma yang ia kenal
sudah menjadi hantu, bukan manusia.
“apa yang kau suka
dariku?” tanya Nayra tiba-tiba.
Bisma memandang
Nayra bingung, lalu menjawab. “aku suka melihat matamu yang melotot ketika
melihatku dan aku juga suka senyummu”
Nayra berlari
memeluk Bisma. “kau memang Bisma yang kukenal” ucapnya bergetar.
Bisma tersenyum
senang. “akhirnya aku bisa menyentuhmu, Nay” ucap Bisma membalas pelukan Nayra
dengan erat. Ia juga mengelus rambut Nayra dengan lembut.
“ya, akhirnya aku
bisa menyentuhmu, juga” gumam Nayra menangis.
Bisma menjauhkan
Nayra dari pelukannya lalu mengusap airmata di pipi Nayra dengan lembut.
“jangan nangis, dasar cengeng” ucap Bisma tersenyum.
“ini karena aku
senang, bodoh. Kau tidak mengerti ya?” saut Nayra cemberut.
“oh jadi Nayra
senang bisa meluk Bisma? Bisa nyentuh Bisma? Nayra so sweet ya” saut Bisma
dengan muka genit.
Nayra menutup wajah
Bisma dengan tangan Bisma. “dasar genit!” saut Nayra lalu masuk ke dalam lagi.
Bisma tertawa
senang. “Nay, jalan yuk. Kapan lagi coba bisa jalan sama orang paling keren?”
ajak Bisma.
Nayra melirik
sekilas. “malas jalan sama orang yang kepedean tingkat akut” jawab Nayra
sedikit ketus.
“yakin? Yaudah deh.
Kirain kau akan bosan dirumah seharian gak ada teman. Tapi ternyata kau betah
dirumah ini terus” saut Bisma jalan ke depan lagi.
Nayra menoleh ragu.
Jujur, sebenarnya ia merasa sangat bosan di dalam rumah ini. Apalagi tidak ada
orang yang menemani. Tepat seperti kata Bisma.
Bisma menoleh dan
melihat Nayra sudah ada disampingnya. “loh? kenapa? Ada yang mau diomongin?”
tanya Bisma pura-pura tidak tahu.
Nayra melempar kunci
mobil dan langsung ditangkap dengan sigap oleh Bisma. “ayo jalan! Kemana aja terserah
kamu” ucap Nayra cuek lalu berjalan kearah mobil.
Bisma tertawa geli.
“Nayra.. Nayra. gak mau keliatan kalah yah” gumamnya.
***
Nayra memandang
sekeliling dengan kagum. “keren. Bunga gardenia dimana-mana. Bunga kesukaanku”
ucap Nayra tersenyum lebar.
“keren kan? siapa
dulu gitu yang nemuin tempat ini. Bisma!” saut Bisma membanggakan dirinya.
Nayra menoleh. “kau
tau dari mana kalau aku suka bunga gardenia?” tanya Nayra iseng.
“hah? Aku.. aku gak
tau kalau kau suka bunga ini. Aku mengajakmu kesini cuma karena ingin
menunjukkan tempat keren ini” jawab Bisma aneh.
Nayra mengangguk.
“makasih ya. Aku jadi tau kemana aku harus pergi kalau lagi sedih” ucap Nayra
tersenyum tulus.
Bisma balas
tersenyum lalu menggenggam tangan Nayra dengan lembut. “Nay, kau suka dengan
Dicky?”
Nayra melihat Bisma
dengan bingung. “kenapa kau tiba-tiba bertanya soal itu?”
“ya aku hanya ingin
tau saja. Do you love him, Nay?” tanya Bisma lagi masih menggenggam tangan
Nayra.
Nayra menunduk
memandangi rumput. Ia bingung mau menjawab apa. terasa tangan Nayra diremas
oleh Bisma. Nayra mendongak menatap mata Bisma yang seakan menunggu jawaban
dari mulut Nayra.
“apa ini begitu
penting untuk dibicarakan?” ucap Nayra pelan.
Bisma melepaskan
genggamannya. “susah ya cuma jawab iya atau tidak?” tanya Bisma sedikit kecewa.
Melihat Nayra masih bergeming, Bisma menyerah. “yasudah kalau kau tidak mau
berbagi denganku. Aku tidak memaksamu”
“habis kau bertanya
soal Dicky disaat kita hanya berdua. Aku kan jadi bingung” saut Nayra spontan.
“maksudnya?” tanya
Bisma bingung.
Nayra gelagapan.
“bukan. Bukan apa-apa. aku cuma...” Nayra menghentikan ucapannya karena
tiba-tiba saja tercium aroma bunga gardenia tepat dihidungnya.
“kau begitu takut ya
sama aku? Sampai kau jadi gelagapan seperti itu. aku tau, kau pasti tenang
kalau aku kasih bunga ini” ucap Bisma memberikan 2 tangkai bunga gardenia pada
Nayra.
Nayra tertawa kecil
lalu mengambil bunga itu. “kau seakan tau semua tentangku, Bisma. Aku jadi
merasa seperti punya fans, haha”
“sepertinya aku
memang fansmu, Nayra. kau idolaku” balas Bisma tertawa.
***
“Nay, ada sesuatu
yang mau aku omongin sama kamu” ucap Bisma duduk di teras rumah Nayra. hari
sudah gelap. Mereka sudah pulang dari acara jalan-jalan seharian ini.
Nayra duduk
disebelah Bisma. “mau ngomong apa? kesannya formal banget pakai izin segala”
balas Nayra.
“aku mau ketemu sama
gadis yang kusukai itu, dan aku mau minta maaf sama dia” ucap Bisma to the point.
Nayra menoleh kaget.
“malam ini?”
Bisma mengangguk.
“iya. aku mau berubah jadi manusia lagi memang karena aku mau ketemu sama dia
dan minta maaf sama dia dengan sosok manusia. Bukan hantu” ucap Bisma pelan.
“gimana kalau
setelah kau minta maaf sama dia, kau jadi tidak muncul lagi di dunia ini?”
tanya Nayra. dalam suaranya tersirat makna tidak rela.
“itu yang aku mau,
Nay. Aku capek 3 tahun ini berkeliaran di bumi. Aku mau ke surga. Aku capek
liat mama sama papaku yang terus menangisi kepergianku. Mereka sampai sekarang
belum terima, Nay” ucap Bisma sedih.
Nayra memeluk Bisma
dengan erat. “kalau memang itu mau kamu, ayo cepat minta maaf sama gadis itu.
aku rasa dia pasti langsung memaafkanmu” saran Nayra. kalau ia boleh jujur,
dari dalam lubuk hatinya ia benar-benar tidak rela kalau ia harus kehilangan
Bisma dari hidupnya. Tapi mau bagaimana lagi. kita tidak boleh egois, kan?
Bisma pasti lebih bahagia pergi ke dunianya daripada terus terjebak di sini.
“makasih sarannya,
Nay. Aku tampung” ucap Bisma tersenyum mengelus rambut Nayra dengan lembut.
“apa setelah kamu
minta maaf sama gadis itu, kamu langsung pergi? Apa kita tidak bertemu dulu?”
“mungkin kita bisa
bertemu dulu. Akan kuusahakan. Karena kau begitu berarti untukku, Nay” ucap
Bisma mempererat pelukannya.
***
Nayra berdiri di
balik pagar balkonnya sambil menatap langit malam. “langit, apa kau mengerti
perasaanku sekarang? Pasti kau tidak mengerti. Kau tidak pernah kesepian
sepertiku. Pasti selalu ada bulan dan bintang yang menemanimu. Walau hari ini
mereka tidak muncul, tapi mereka pasti akan menemanimu besoknya” ucap Nayra.
“lain denganku. Aku
sekarang memang punya bulan dan bintang. Tapi sebentar lagi bintangku akan
pergi. Bintangku akan pergi ketempatmu. Dan nanti kau pasti punya teman baru.
Jaga dia ya, langit. Dia bintangku. Aku mencintainya. Walaupun aku baru bertemu
dengannya sebulan yang lalu, aku merasa seperti sudah mencintainya 10 tahun
lamanya. Apa setiap orang yang jatuh cinta nasibnya sama sepertiku?” lanjutnya.
“ya, aku sudah
menyadarinya, langit. Aku memilih Bisma. Tapi kenapa aku harus memilih sosok
yang sebenarnya sudah tidak ada? Kenapa aku memilih sosok yang sedang menyukai
gadis lain? Aku sadar aku pasti tidak bisa bersamanya, tapi aku tetap
menyukainya, langit. Apa ini yang namanya cinta? Kenapa harus dia yang
membuatku tau bagaimana perasaan cinta?”
Terdengar gemerisik daun
yang dipijak. Nayra menunduk melihat ke halaman rumahnya. Terlihat disana ada
Bisma yang tersenyum menatapnya.
Dengan cepat Nayra
turun dan keluar dari rumahnya. Ia menghampiri Bisma dengan perasaan cemas.
“ternyata kau sempat
datang kesini, Bisma” ucap Nayra lega. “bagaimana? Apa dia memaafkanmu?”
Bisma tersenyum lalu
memberikan Nayra setangkai bunga gardenia. “aku belum minta maaf dengannya”
ucapnya pelan.
Nayra melihat Bisma
dengan bingung. “kenapa? Apa kau tidak berani?”
Bisma menggeleng
kemudian tersenyum lagi. “bukan. Karena sekaranglah aku ingin minta maaf
dengannya”
Nayra menatap Bisma
semakin bingung. “apa maksudmu? Apa gadis itu tinggal disekitar sini?”
“bukan. Kau lah
gadis itu, Nayra” ucap Bisma memeluk Nayra dengan erat.
TO BE
CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar