Seorang perempuan
berumur 16 tahun berjalan menyusuri lorong koridor sekolahnya bersama seorang
laki-laki yang beumur sama dengannya. Tiba-tiba saja perutnya mual. Ia menatap
kedepan dengan wajah kaget.
“Nayra, kau terlihat
pucat. Are you okay?” tanya laki-laki yang bernama Dicky.
“ahh.. aku hanya
kaget dan sedikit takut” jawab Nayra sedikit kepinggir seolah ia memberikan
jalan kepada seseorang.
“pasti kau melihat
sesuatu” ucap Dicky sambil melihat sekelilingnya. “kau selalu membuatku takut,
Nay”
“bagaimana denganku
yang sudah mengalami ini selama 16 tahun? Bahkan aku masih merasa takut hingga
sekarang” jawab Nayra lesu.
“yah aku mengerti.
Kamu begitu kuat, Nay” ucap Dicky sambil merangkul Nayra untuk memberinya
semangat.
“terima kasih untuk
pujianmu, ky. Tapi aku selalu menangis meminta agar indra keenamku ini bisa
ditutup” ucap Nayra tersenyum pahit. “kedua orangtuaku takut padaku saat aku
menceritakan kemampuanku. Mereka hanya berbicara padaku saat mereka benar-benar
membutuhkannya. Tidak ada orang yang mau berteman denganku. Miris sekali”
“hei. Kau tidak
ingat denganku? Aku sahabatmu” ucap Dicky sambil menunjuk badannya sendiri.
“yes, except you.
Kau seorang yang pemberani. Masih mau berteman dengan anak aneh yang bisa
melihat makhluk-makhluk gaib. Sejak kita masih SMP, kan?” ucap Nayra tersenyum
sedih.
“aku berteman
denganmu bukan karena aku berani. Tapi karena aku sangat ingin melindungimu.
Aku mencintaimu. Sudah berapa kali aku bilang padamu?” ucap Dicky menggenggam
tangan Nayra dengan erat. Mereka masih berjalan dikoridor menuju kelas mereka.
“Dicky, aku tidak
mau membahas itu lagi. aku takut kau akan menyesal” ucap Nayra pelan.
“menyesal untuk apa?
aku tidak akan pernah takut denganmu. Dengan kemampuanmu. Aku pikir kemampuanmu
adalah anugrah dari Tuhan” balas Dicky.
“maaf, ky. Aku rasa
sebaiknya kita hanya bersahabat saja. Aku belum bisa lebih dari itu” ucap Nayra
hati-hati takut menyakiti hati Dicky. Sudah berapa kali Nayra menyakiti
hatinya, tapi Dicky tetap tidak membencinya. Bahkan selalu ada di saat ia butuh
seseorang.
“aku bisa
menunggumu” ucap Dicky meremas tangan Nayra dan tersenyum. Nayra ingin
menangis. Ia tidak bisa menerima kebaikan Dicky lebih dari ini. ia sudah sangat
jahat pada sahabatnya ini. Sangat jahat.
***
Nayra membanting
tubuhnya yang kelelahan. Ia mencoba mengistirahatkan mata dan jantungnya yang
berkerja lebih keras hari ini. Ntah karena apa hari ini ia melihat begitu
banyak makhluk-makhluk gaib disekitarnya.
“begitu melelahkan
yah?” ucap sesosok sambil tersenyum kecil.
Nayra membuka
matanya dan mencari sosok yang berbicara tadi. “ah, hantu lagi” ucap Nayra
dengan perasaan sangat lelah. “hantu?! Bicara? Sama aku?!” teriak Nayra bangkit
dari tempat tidurnya dan mundur secara cepat. Ia menatap sosok itu dengan wajah
ketakutan. Detakan jantungnya semakin cepat. Namun diantara debaran-debaran
itu, ada debaran yang lain dari yang biasa Nayra rasakan saat bertemu makhluk
gaib lainnya.
“hei. Kau tak usah
takut seperti itu. apa selama ini tidak ada hantu yang berbicara padamu?” ucap
sosok itu santai lalu melayang mendekat ke Nayra.
“pergi! Aku tidak
mau berurusan dengan hantu sepertimu!” ucap Nayra ketakutan. Matanya yang besar
semakin membesar saat sosok itu menyeringai.
“apa aku terlihat
sangat menakutkan? Memang aku ini sudah menjadi hantu. Tapi dulu aku begitu
dipuja banyak cewek” ucap sosok itu membanggakan dirinya.
“bagiku, semua hantu
sangat menakutkan. Tanpa terkecuali. Walaupun kau hantu yang paling keren yang
pernah aku lihat selama 16 tahun ini” ucap Nayra jujur.
“percaya padaku. Aku
tidak akan berbuat apa-apa. I swear” ucapnya sambil tersenyum meyakinkan.
Seakan terhipnotis oleh tatapan sosok itu atau
terhipnotis dengan senyumannya, Nayra berjalan mendekati sosok itu. perasaan
takutnya sedikit demi sedikit mulai hilang. Namun debaran jantungnya belum juga
reda. Apa debaran ini sudah memiliki arti yang berbeda dengan debaran yang
sebelumnya?
“namaku Bisma. Pasti kau tak mengenalku, kan?” ucap
sosok itu yang bernama Bisma. “benar kan, Nayra?” ucapnya lagi.
Nayra terkesiap kaget. “bagaimana kau tau namaku?”
tanyanya kaget.
“aku selalu memperhatikanmu, Nayra. Aku merasa
tertarik denganmu” jawab Bisma tersenyum.
Senyuman itu membuat Nayra melakukan hal diluar
kendalinya. “aku juga tertarik denganmu, Bisma”
***
“are you okay? Kau terlihat uring-uringan hari ini”
tanya Dicky khawatir.
Nayra menoleh ke Dicky dan tersenyum. “aku tidak
apa. Cuma hanya sedikit bingung. itu saja” jawab Nayra lalu menepuk-nepuk
pundak Dicky.
“bingung? ada masalah dirumahmu?” tembak dicky.
“bukan. Cuma bingung soal pelajaran fisika yang tadi
kita pelajari. Aku masih kurang mengerti” jawab Nayra berbohong.
“oh soal itu. kau mau belajar bersamaku?” tawar
Dicky.
“kau kira aku tidak tau apa-apa soal kau? Kau sama
saja sepertiku. Susah mengerti fisika. Sok mengajakku belajar bersama haha”
ucap Nayra menggoda Dicky.
“haha. You know me so well” saut Dicky mengacak-acak
rambut Nayra dengan gemas.
“I know you so well like you know me, Dicky” jawab
Nayra menarik hidung Dicky.
Nayra menatap sekeliling. Tiba-tiba saja matanya
menangkap sosok yang baru saja ia kenal kemarin. “Bisma...” ucapnya pelan.
“kau bicara padaku?” tanya Dicky bingung. ia melihat
arah pandang Nayra dan tidak menemukan apapun disana.
Nayra langsung melihat Dicky. “oh bukan. Aku mau ke
toilet. Duluan lah ke kelas. Aku nanti menyusulmu” jawab Nayra berusaha tenang.
Dicky hanya mengangguk. “gak pakai lama, okay” ucap
Dicky menepuk pundak Nayra beberapa kali lalu berjalan meninggalkan Nayra
sendiri di taman sekolah.
Nayra mulai melihat-lihat sekeliling mencoba mencari
Bisma. Setelah semua sudut ia lihat, Bisma tidak terlihat disana. Nayra
mendesah kecewa. Apa tadi ia hanya salah liat?
“kau mencariku?” tanya Bisma tiba-tiba saja muncul
dihadapan Nayra.
Nayra membesarkan matanya karena kaget. “bisakah kau
tidak datang secara tiba-tiba? Kau ingin aku segera menyusulmu ya?” ucap Nayra
kesal.
“maafkan aku. Aku hanya suka melihat matamu yang
membelalak kaget. Itu saja” jawab Bisma sambil tertawa kecil.
“kau mempermainkanku, Bisma” ucap Nayra salah
tingkah. “bagaimana bisa kau ada disini?” tanya Nayra mencoba mengalihkan
pembicaraan.
“aku hantu. Aku bisa pergi kemana saja yang aku
inginkan. Apa kau lupa?” jawab Bisma.
“aku tidak lupa. Hanya tidak ingat” jawab Nayra
gugup.
“apa artinya berbeda? 3 tahun yang lalu sebelum aku
meninggal, arti kedua kalimat itu sama” ucap Bisma menggoda Nayra.
“berhentilah meledekku” ucap Nayra kesal. “jadi kau
meninggal dan jadi hantu 3 tahun yang lalu? Berapa umurmu saat itu?” tanya
Nayra penasaran.
“kau begitu ingin tau tentangku?” saut Bisma
mengedipkan matanya.
“apa begitu susah untuk menceritakannya?” saut
Nayra.
Bisma tertawa kecil. “ya, aku meninggal 3 tahun yang
lalu. Ntah kenapa aku tidak bisa ke surga dan malah gentayangan di dunia ini.
Mungkin aku punya salah dengan seseorang semasa hidupku” cerita Bisma. “umurku
saat itu sama sepertimu. 16 tahun”
“harusnya umurmu sekarang 19 tahun” gumam Nayra
pelan. “apa kau keberatan kalau menceritakan kenapa kau meninggal?” tanya Nayra
hati-hati. Ntah kenapa ia begitu penasaran dengan kehidupan hantu ini sebelum
ia meninggal.
“apapun yang kau minta akan kucoba untuk
memenuhinya” ucap Bisma tersenyum manis. “tapi tidak sekarang. Nanti sore kita
memiliki banyak waktu untuk berdua saja, kan?” saut Bisma kembali menggoda
Nayra.
Nayra salah tingkah. “astaga Bisma. Aku yakin,
selama kau hidup, kau hanya menggombali cewek-cewek tanpa maksud apapun. Hanya
mempermainkan mereka. Mungkin merekalah yang membuatmu tidak bisa ke surga”
ucap Nayra asal lalu bangkit dari duduknya. Kemudian ia pergi meninggalkan
Bisma.
Bisma tertawa keras. “aku benar-benar tertarik
denganmu, Nayra” teriaknya membuat Nayra yang mendengarnya semakin salah
tingkah.
“Tuhan, apa yang terjadi dengan hamba-Mu ini? Jangan
biarkan aku memiliki perasaan khusus padanya. Dia sudah mati” ucap Nayra dalam
hati takut dengan perasaannya.
***
Nayra membuka pintu balkon kamarnya dan duduk di
teras balkon itu santai. Angin sepoi-sepoi menyibakkan rambutnya yang panjang.
Nayra memejamkan matanya. Ia tersenyum kecil menikmati sore yang begitu hangat
namun sejuk ini.
Beberapa menit kemudian, Nayra membuka matanya. Ia
membelalakkan matanya kaget karena melihat Bisma tepat didepan wajahnya.
“Bisma! Kau sudah dari tadi di posisi itu?” tanya
Nayra mundur ke belakang.
“sejak kau mulai menutup matamu, aku sudah ada
disini” jawab Bisma. “ternyata aku juga suka dengan senyummu. Apa aku jatuh
cinta padamu?” tanya sambil tersenyum kecil.
“Bisma, bagaimana bisa kau jatuh cinta? Bukannya perasaanmu
sudah ikut mati denganmu?” tanya Nayra jengah.
“menurutku, setiap orang yang sudah meninggal,
perasaannya tidak akan ikut meninggal juga. Karena perasaan bukan seperti raga
yang mati. Bukan seperti jantung, paru-paru, ginjal, dan hati” jawab Bisma
melayang-layang sedikit menjauh dari Nayra.
“aku tidak pernah lupa dengan perasaan jatuh cinta,
Nay. Walaupun aku merasakannya 10 tahun yang lalu” lanjut Bisma. Matanya seakan
sedang menerawang ke masa lalu.
“10 tahun yang lalu? Bukankah saat itu umurmu masih
9 tahun? Pantas saja kau jago menggombal wanita. Umur 9 tahun pun sudah jatuh
cinta” ucap Nayra mencoba bercanda.
“ya, itu memang terdengar konyol. Aku jatuh cinta
pada seorang gadis yang memiliki mata besar dan seyum yang sangat manis. Ia
sering tiba-tiba memasang wajah takut. Tapi itulah yang aku suka darinya.
Ekspresinya tidak dapat kutebak” ucap Bisma tersenyum kecil.
“orang-orang takut dengannya. Tapi dia tetap baik
kepada orang itu. ia juga selalu tersenyum saat anak-anak yang lain
menganggunya. Ia tidak menangis. Dan ia tidak pernah merasa kesal degan
teman-teman yang menganggunya itu” lanjut Bisma.
“sepertinya kau benar-benar jatuh cinta dengan gadis
itu” ucap Nayra pelan. Ia sedikit merasa sakit hati melihat senyuman Bisma saat
mengenang gadis itu.
“Aku sangat suka dengannya. Tapi aku malah menyakiti
hatinya” ucap Bisma pelan lalu tersenyum sedih.
“menyakitinya?” tanya Nayra penasaran.
Bisma mengangguk pelan. “aku meninggalkannya pergi.
Saat ia sedang ketakutan. Itu karena aku akan pindah hari itu juga. Aku
menyesal meninggalkannya. Saat itu dia benar-benar ketakutan. Sampai menangis.
Aku tidak tega melihatnya saat itu. tapi mama menarikku untuk segera pergi”
cerita Bisma. “kalau saja aku bisa menangis, mungkin sekarang aku sudah
terisak-isak” tawanya terdengar memaksa.
“apa gadis itu membencimu?” tanya Nayra pelan.
“ntahlah. Sepertinya dia melupakanku. Tapi aku
senang melihatnya tumbuh jadi gadis yang sangat cantik. Dengan matanya yang
besar dan senyumannya yang sangat manis itu, ia semakin terlihat cantik” jawab
Bisma tersenyum tipis.
“kau bertemu dengannya? Bagaimana reaksinya?” tanya
Nayra lagi.
“ya, aku bertemu dengannya. Saat aku sudah menjadi
hantu seperti ini” jawab Bisma pahit.
Nayra menatap Bisma dengan perasaan bersalah.
“maafkan aku. Aku terlalu banyak bertanya soal dirimu”
“tidak apa. aku senang kau mau tau banyak tentang
diriku” ucap Bisma tersenyum kecil. “bagaimana? Kau mau mengetahui bagaimana
aku meninggal, kan?”
Nayra mengangguk dengan ragu. “tapi kalau kau tidak
ingin cerita, aku tidak masalah. Kau tidak usah memaksakan diri” ucap Nayra
cepat.
Bisma menggelengkan kepalanya. “aku meninggal 3
tahun yang lalu. Saat itu aku sedang mencari alamat tempat tinggal gadis yang kuceritakan tadi.
Sudah sebulan lebih aku mencari tempat tinggalnya, dan itu tidak sia-sia. Aku
menemukannya” Bisma memulai bercerita.
“mungkin karena terlalu senang, aku jadi ceroboh.
Sepeda motor yang kukendarai jadi tidak seimbang. Aku terjatuh dari motor.
Memang hanya lecet-lecet, dan aku pun masih sadar. Saat aku mencoba berdiri,
ada mobil yang datang kearahku. Pengemudinya ternyata sedang mabuk. Tanpa bisa
dihindari lagi, mobil itu menabrakku hingga aku meninggal ditempat tanpa sempat
ke rumah sakit dulu” lanjut Bisma mengakhiri ceritanya.
“jadi setelah kau menjadi hantu, kau baru bertemu
dengannya?” tanya Nayra.
“ya. Dan aku sudah menarik kesimpulan. Aku
gentayangan seperti ini selama 3 tahun pasti karena aku masih punya perasaan
menyesal padanya. Atau mungkin dia belum memaafkan aku yang sudah
meninggalkannya waktu itu” ucap Bisma.
“aku rasa gadis itu memaafkanmu. Dari cerita yang kudengar
darimu, sepertinya dia bukan orang pendendam. Dia seorang yang pemaaf” ucap
Nayra mencoba menghibur Bisma.
“dia orang yang sangat baik. Dan mungkin yang kamu
katakan memang benar” ucap Bisma tersenyum kecil.
“kenapa kau tidak coba meminta maaf padanya?” tanya
Nayra.
“aku masih ingin melihatnya. Aku masih kangen
dengannya. Saat aku benar-benar puas melihat senyumannya, baru aku akan meminta
maaf padanya. Dan jika dia memaafkanku, mungkin setelah itu aku bisa pergi ke
surga dengan tenang” jawab Bisma.
Nayra diam membisu. Kenapa ia tiba-tiba merasa ingin
menahan Bisma untuk tidak meminta maaf pada gadis itu? apa ia takut kehilangan
Bisma? Kenapa Bisma bisa membuatnya seperti ini hanya dalam waktu 2 hari? Ada
apa dengannya?
***
“Nay, kantin yuk! Aku laper nih” ajak Dicky menarik
tangan Nayra.
“aku gak mau. Disana ada banyak hantu, ky. Aku takut
membuat selera makanmu hilang saat aku selalu menatap kaget melihat hantu-hantu
itu” jawab Nayra.
Dicky terdiam. “sekarang kau sudah membuatku tidak
ingin makan disana lagi, Nay” ucap Dicky pelan. “yaudah yuk kita ke taman lagi
aja”
“loh? tadi katanya kau lapar? Kok malah ke taman?”
tanya Nayra heran.
“habis kau bilang disana banyak hantu. Aku kan jadi
takut” jawab dicky dengan wajah polosnya.
“kau ini kan laki-laki. Bagaimana bisa kau jadi
takut dan tidak mau makan hanya karena aku bilang disana banyak hantu?” saut
Nayra menarik hidung Dicky.
“aku gak akan takut kalau kau menemaniku” ucap Dicky
tersenyum tipis.
“baiklah. Aku akan menemanimu makan. Aku tidak ingin
melihatmu semakin kurus dari sekarang. Tapi ingat. Pas aku melotot kaget atau
memejamkan mata dengan tiba-tiba, tidak usah kau pikirkan. Kau makan saja.
Oke?” ucap Nayra tersenyum.
Dicky tertawa kecil.”baiklah, aku janji” jawab Dicky
lalu menarik Nayra menuju kantin.
Sebenarnya Dicky sudah terbiasa dengan ekspresi
Nayra saat melihat makhluk gaib. Ia juga sudah tidak takut lagi. namun biarlah
Nayra terus berpikir kalau dirinya masih merasa takut. Ia sangat menikmati
wajah Nayra yang khawatir padanya.
“jadi kau ingin makan apa? biar aku pesan sekalian”
tawar Dicky.
“gak usah. Aku masih kenyang. Tadi pagi aku sudah
sarapan lumayan banyak” jawab Nayra menggeleng.
“oke. Kalo gitu aku akan membelikanmu teh manis
hangat. Kau terlihat pucat” ucap Dicky.
“aku memang selalu seperti ini, ky. Kau tau itu”
saut Nayra.
“pokoknya aku membelikanmu teh hangat” saut Dicky.
“tunggu disini. Jangan pergi kemana-mana!” ucap Dicky beranjak pergi.
“kau kira aku anak kecil yang suka pergi kemana-mana
saat ditinggal papanya, hah?” saut Nayra datar lalu ia tersenyum kecil.
***
“ky, jalan yuk! Kemana gitu” ajak Nayra saat mereka
berdua pulang sekolah.
“tumben banget ngajak jalan. Biasa juga aku yang
ngajak” saut Dicky sedikit kaget.
“itu terdengar seperti menyindirku, ky” ucap Nayra
datar.
“aku Cuma bercanda, haha” saut Dicky tertawa.
“yaudah ayo jalan. Terserah aku kan?” ucap Dicky langsung menarik Nayra ke
motornya.
Sesampainya di tempat tujuan, Nayra memandang Dicky.
“kau mengajakku ke Taman Mini?” tanya Nayra heran.
Dicky mengangguk. “apa ada yang aneh?” tanya Dicky.
“kau benar-benar tidak tau atau pura-pura tidak
tau?” saut Nayra menyipitkan matanya.
Dicky menggeleng dengan tampang polos.
Nayra menghela nafas. “Taman Mini kan banyak makhluk
halus, ky. Dan aku gak suka itu” saut Nayra kesal.
“tapi tadi bilangnya terserah aku. Aku mau kesini
bareng kau, Nayra” saut Dicky sedikit cemberut.
“astaga. Tidak usah pasang wajah seperti itu. aku
mau kesini” saut Nayra mengalah.
“nah kalau gitu kan enak. Ayo kita ke Keong Mas!!” saut
Dicky tertawa lebar dan memerintahkan Nayra untuk kembali naik ke motornya.
***
Setelah selesai menonton film di Keong Mas, Dicky
mengajak Nayra untuk naik sky lift. Nayra hanya mengangguk setuju. Dengan cepat
mereka mengantri lalu naik ke sky lift tersebut.
“sudah lama aku tidak naik ini” ucap Nayra sambil
melihat pemandangan dibawah.
“berterimakasihlah padaku yang sudah mengajakmu
kesini, Nay” ucap Dicky dengan bangga.
“terima kasih, Dicky. haha” ucap Nayra lalu tertawa
melihat ekspresi Dicky.
“bagaimana terapinya? Berjalan mulus?” tanya Dicky.
“terapi? Apa maksudmu?” tanya Nayra bingung.
“terapi terhadap ketakutanmu yang bisa melihat
hantu. Aku dari tadi tidak melihat wajahmu yang ketakutan” jawab Dicky.
“ah, iya benar. Dari tadi aku tidak melihat mereka
sama sekali. Mungkin mereka takut padamu, jadi tidak muncul dihadapanku” saut
Nayra bercanda.
“sialan. Muka baby face begini, apa yang perlu
ditakutkan?” saut Dicky cemberut.
“aku Cuma bercanda, ky” saut Nayra menarik hidung
Dicky sambil tersenyum.
“kau ini. Suka banget narik hidungku” saut Dicky
memegang hidungnya.
Nayra hanya tersenyum. “jadi kau mengajakku kesini
karena mau menjalankan terapi untukku?” tanya Nayra.
“sebenarnya gak. Aku mau kesini berdua denganmu.
Sudah lama sih sebenarnya, hehe” saut Dicky tertawa kecil daan menggaruk
kepalanya tanpa sebab.
“kalau kau mau mengajakku, bilang saja padaku. Aku
mau kok” ucap Nayra tersenyum.
“kemana saja?” tanya Dicky sedikit berharap.
Nayra mengangguk. “kemana saja yang kau mau” ucapnya
lalu tertawa kembali.
Dicky tersenyum senang. “hari ini kau banyak
tertawa. Apa kau tidak mau menceritakannya padaku?” tanya Dicky.
“ntahlah. Aku merasa sangat senang hari ini. Mungkin
karena kau mengajakku kesini” jawab Nayra sedikit menggoda Dicky.
“I'm very glad to know if I the reason you smile”
saut Dicky balik menggoda Nayra.
“dasar. Kau mulai mencoba belajar menggombal ya?”
saut Nayra tertawa.
“itu bukan gombalan. Kau ini selalu saja berpikir
negatif denganku” balas Dicky sedikit kesal.
“heran ya. Kau cemberut terus dari tadi. Kaya aku
dong senyum dari tadi” saut Nayra menarik bibir Dicky untuk melengkung ke atas
mebentuk senyuman.
Dicky tersenyum melihat wajah Nayra. “ini udah
senyum. Yaudah yuk nikmatin pemandangan aja. sayang buat dilewatin” saut Dicky.
“oh iya. Aku sampai lupa” saut Nayra menertawai
dirinya sendiri. lalu ia membuka jendela sky lift ini dan melihat pemandangan disekelilingnya
sambil tersenyum. rambut panjangnya yang tergerai melambai-lambai terkena
angin.
Dicky memandang Nayra sambil tersenyum. “I was
falling in love with you, Nayra” ucapnya dalam hati.
***
“dari mana saja kau, Nayra? Jam segini baru sampai
rumah” saut Bisma begitu melihat Nayra.
“aku habis jalan-jalan bersama temanku, Bisma. Dan sekarang
aku merasa lelah. Aku mau segera tidur” jawab Nayra meletakkan tas sekolahnya
di meja belajarnya.
“temanmu? Laki-laki kan? yang bersamamu waktu
disekolah waktu itu?” tanya Bisma kesal.
“ya dia temanku. Apa ada masalah dengannya?” tanya
Nayra heran.
“banyak! Bagaimana bisa kau pulang sampai malam
begini karena habis jalan dengan cowok? Aku tidak habis pikir denganmu, Nay”
saut Bisma marah.
“dia temanku sejak SMP. Dia baik padaku. Dan aku
percaya padanya” saut Nayra mulai kesal.
“tapi aku tidak suka melihatmu jalan dengannya!”
saut Bisma emosi.
Seketika kamar Nayra terasa panas. Padahal kamarnya
memiliki AC yang sedang menyala.
“kau cemburu padanya? Lucu sekali. Kau hanya hantu. Tidak
berhak melarangku pergi bersama sahabatku sendiri!” saut Nayra sinis.
“aku memang hantu. Tapi aku memiliki perasaan. Aku suka
denganmu, Nayra” saut Bisma semakin emosi. Ia melayang-layang mendatangi Nayra.
Nayra mengerjap ketakutan. Bisma terlihat begitu
menyeramkan dimatanya. Tubuhnya berkeringat. Kamarnya terasa semakin panas. “Bisma.
Berhenti! Aku tidak suka denganmu!” teriak Nayra.
Bisma terdiam ditempat. Kamar ini kembali ke suhu
semula. Wajahnya terlihat muram. “iya, benar. Tidak mungkin seorang manusia
suka dengan hantu sepertiku. Aku memang bodoh” ucap Bisma tersenyum pahit.
Nayra menatap Bisma yang tembus pandang itu dengan
takut. Namun rasa bersalah mulai menghinggapinya. “Bisma, maafkan aku. Aku gak
bermaksud...” saut Nayra pelan.
Bisma memotong ucapan Nayra. “harusnya aku yang
minta maaf. Maaf sudah membuatmu takut padaku. Aku tidak akan mengulangnya lagi”
saut Bisma tersenyum tipis. Lalu ia menghilang dari hadapan Nayra.
“Bisma...” saut Nayra mencoba memanggil Bisma
kembali. Namun itu hanya sia-sia. Bisma tidak kembali lagi. airmata mengalir
dipipinya. Ntah kenapa ia merasa sedih mendengar Bisma berkata seperti itu.
seakan Bisma tidak akan pernah muncul lagi di hadapannya.
TO BE CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar