Senin, 18 Maret 2013

Who Will be My Choice? (Part 1)


Seorang perempuan berumur 16 tahun berjalan menyusuri lorong koridor sekolahnya bersama seorang laki-laki yang beumur sama dengannya. Tiba-tiba saja perutnya mual. Ia menatap kedepan dengan wajah kaget.
“Nayra, kau terlihat pucat. Are you okay?” tanya laki-laki yang bernama Dicky.
“ahh.. aku hanya kaget dan sedikit takut” jawab Nayra sedikit kepinggir seolah ia memberikan jalan kepada seseorang.
“pasti kau melihat sesuatu” ucap Dicky sambil melihat sekelilingnya. “kau selalu membuatku takut, Nay”
“bagaimana denganku yang sudah mengalami ini selama 16 tahun? Bahkan aku masih merasa takut hingga sekarang” jawab Nayra lesu.
“yah aku mengerti. Kamu begitu kuat, Nay” ucap Dicky sambil merangkul Nayra untuk memberinya semangat.
“terima kasih untuk pujianmu, ky. Tapi aku selalu menangis meminta agar indra keenamku ini bisa ditutup” ucap Nayra tersenyum pahit. “kedua orangtuaku takut padaku saat aku menceritakan kemampuanku. Mereka hanya berbicara padaku saat mereka benar-benar membutuhkannya. Tidak ada orang yang mau berteman denganku. Miris sekali”
“hei. Kau tidak ingat denganku? Aku sahabatmu” ucap Dicky sambil menunjuk badannya sendiri.
“yes, except you. Kau seorang yang pemberani. Masih mau berteman dengan anak aneh yang bisa melihat makhluk-makhluk gaib. Sejak kita masih SMP, kan?” ucap Nayra tersenyum sedih.
“aku berteman denganmu bukan karena aku berani. Tapi karena aku sangat ingin melindungimu. Aku mencintaimu. Sudah berapa kali aku bilang padamu?” ucap Dicky menggenggam tangan Nayra dengan erat. Mereka masih berjalan dikoridor menuju kelas mereka.
“Dicky, aku tidak mau membahas itu lagi. aku takut kau akan menyesal” ucap Nayra pelan.
“menyesal untuk apa? aku tidak akan pernah takut denganmu. Dengan kemampuanmu. Aku pikir kemampuanmu adalah anugrah dari Tuhan” balas Dicky.
“maaf, ky. Aku rasa sebaiknya kita hanya bersahabat saja. Aku belum bisa lebih dari itu” ucap Nayra hati-hati takut menyakiti hati Dicky. Sudah berapa kali Nayra menyakiti hatinya, tapi Dicky tetap tidak membencinya. Bahkan selalu ada di saat ia butuh seseorang.
“aku bisa menunggumu” ucap Dicky meremas tangan Nayra dan tersenyum. Nayra ingin menangis. Ia tidak bisa menerima kebaikan Dicky lebih dari ini. ia sudah sangat jahat pada sahabatnya ini. Sangat jahat.
***
Nayra membanting tubuhnya yang kelelahan. Ia mencoba mengistirahatkan mata dan jantungnya yang berkerja lebih keras hari ini. Ntah karena apa hari ini ia melihat begitu banyak makhluk-makhluk gaib disekitarnya.
“begitu melelahkan yah?” ucap sesosok sambil tersenyum kecil.
Nayra membuka matanya dan mencari sosok yang berbicara tadi. “ah, hantu lagi” ucap Nayra dengan perasaan sangat lelah. “hantu?! Bicara? Sama aku?!” teriak Nayra bangkit dari tempat tidurnya dan mundur secara cepat. Ia menatap sosok itu dengan wajah ketakutan. Detakan jantungnya semakin cepat. Namun diantara debaran-debaran itu, ada debaran yang lain dari yang biasa Nayra rasakan saat bertemu makhluk gaib lainnya.
“hei. Kau tak usah takut seperti itu. apa selama ini tidak ada hantu yang berbicara padamu?” ucap sosok itu santai lalu melayang mendekat ke Nayra.
“pergi! Aku tidak mau berurusan dengan hantu sepertimu!” ucap Nayra ketakutan. Matanya yang besar semakin membesar saat sosok itu menyeringai.
“apa aku terlihat sangat menakutkan? Memang aku ini sudah menjadi hantu. Tapi dulu aku begitu dipuja banyak cewek” ucap sosok itu membanggakan dirinya.
“bagiku, semua hantu sangat menakutkan. Tanpa terkecuali. Walaupun kau hantu yang paling keren yang pernah aku lihat selama 16 tahun ini” ucap Nayra jujur.
“percaya padaku. Aku tidak akan berbuat apa-apa. I swear” ucapnya sambil tersenyum meyakinkan.
Seakan terhipnotis oleh tatapan sosok itu atau terhipnotis dengan senyumannya, Nayra berjalan mendekati sosok itu. perasaan takutnya sedikit demi sedikit mulai hilang. Namun debaran jantungnya belum juga reda. Apa debaran ini sudah memiliki arti yang berbeda dengan debaran yang sebelumnya?
“namaku Bisma. Pasti kau tak mengenalku, kan?” ucap sosok itu yang bernama Bisma. “benar kan, Nayra?” ucapnya lagi.
Nayra terkesiap kaget. “bagaimana kau tau namaku?” tanyanya kaget.
“aku selalu memperhatikanmu, Nayra. Aku merasa tertarik denganmu” jawab Bisma tersenyum.
Senyuman itu membuat Nayra melakukan hal diluar kendalinya. “aku juga tertarik denganmu, Bisma”
***
“are you okay? Kau terlihat uring-uringan hari ini” tanya Dicky khawatir.
Nayra menoleh ke Dicky dan tersenyum. “aku tidak apa. Cuma hanya sedikit bingung. itu saja” jawab Nayra lalu menepuk-nepuk pundak Dicky.
“bingung? ada masalah dirumahmu?” tembak dicky.
“bukan. Cuma bingung soal pelajaran fisika yang tadi kita pelajari. Aku masih kurang mengerti” jawab Nayra berbohong.
“oh soal itu. kau mau belajar bersamaku?” tawar Dicky.
“kau kira aku tidak tau apa-apa soal kau? Kau sama saja sepertiku. Susah mengerti fisika. Sok mengajakku belajar bersama haha” ucap Nayra menggoda Dicky.
“haha. You know me so well” saut Dicky mengacak-acak rambut Nayra dengan gemas.
“I know you so well like you know me, Dicky” jawab Nayra menarik hidung Dicky.
Nayra menatap sekeliling. Tiba-tiba saja matanya menangkap sosok yang baru saja ia kenal kemarin. “Bisma...” ucapnya pelan.
“kau bicara padaku?” tanya Dicky bingung. ia melihat arah pandang Nayra dan tidak menemukan apapun disana.
Nayra langsung melihat Dicky. “oh bukan. Aku mau ke toilet. Duluan lah ke kelas. Aku nanti menyusulmu” jawab Nayra berusaha tenang.
Dicky hanya mengangguk. “gak pakai lama, okay” ucap Dicky menepuk pundak Nayra beberapa kali lalu berjalan meninggalkan Nayra sendiri di taman sekolah.
Nayra mulai melihat-lihat sekeliling mencoba mencari Bisma. Setelah semua sudut ia lihat, Bisma tidak terlihat disana. Nayra mendesah kecewa. Apa tadi ia hanya salah liat?
“kau mencariku?” tanya Bisma tiba-tiba saja muncul dihadapan Nayra.
Nayra membesarkan matanya karena kaget. “bisakah kau tidak datang secara tiba-tiba? Kau ingin aku segera menyusulmu ya?” ucap Nayra kesal.
“maafkan aku. Aku hanya suka melihat matamu yang membelalak kaget. Itu saja” jawab Bisma sambil tertawa kecil.
“kau mempermainkanku, Bisma” ucap Nayra salah tingkah. “bagaimana bisa kau ada disini?” tanya Nayra mencoba mengalihkan pembicaraan.
“aku hantu. Aku bisa pergi kemana saja yang aku inginkan. Apa kau lupa?” jawab Bisma.
“aku tidak lupa. Hanya tidak ingat” jawab Nayra gugup.
“apa artinya berbeda? 3 tahun yang lalu sebelum aku meninggal, arti kedua kalimat itu sama” ucap Bisma menggoda Nayra.
“berhentilah meledekku” ucap Nayra kesal. “jadi kau meninggal dan jadi hantu 3 tahun yang lalu? Berapa umurmu saat itu?” tanya Nayra penasaran.
“kau begitu ingin tau tentangku?” saut Bisma mengedipkan matanya.
“apa begitu susah untuk menceritakannya?” saut Nayra.
Bisma tertawa kecil. “ya, aku meninggal 3 tahun yang lalu. Ntah kenapa aku tidak bisa ke surga dan malah gentayangan di dunia ini. Mungkin aku punya salah dengan seseorang semasa hidupku” cerita Bisma. “umurku saat itu sama sepertimu. 16 tahun”
“harusnya umurmu sekarang 19 tahun” gumam Nayra pelan. “apa kau keberatan kalau menceritakan kenapa kau meninggal?” tanya Nayra hati-hati. Ntah kenapa ia begitu penasaran dengan kehidupan hantu ini sebelum ia meninggal.
“apapun yang kau minta akan kucoba untuk memenuhinya” ucap Bisma tersenyum manis. “tapi tidak sekarang. Nanti sore kita memiliki banyak waktu untuk berdua saja, kan?” saut Bisma kembali menggoda Nayra.
Nayra salah tingkah. “astaga Bisma. Aku yakin, selama kau hidup, kau hanya menggombali cewek-cewek tanpa maksud apapun. Hanya mempermainkan mereka. Mungkin merekalah yang membuatmu tidak bisa ke surga” ucap Nayra asal lalu bangkit dari duduknya. Kemudian ia pergi meninggalkan Bisma.
Bisma tertawa keras. “aku benar-benar tertarik denganmu, Nayra” teriaknya membuat Nayra yang mendengarnya semakin salah tingkah.
“Tuhan, apa yang terjadi dengan hamba-Mu ini? Jangan biarkan aku memiliki perasaan khusus padanya. Dia sudah mati” ucap Nayra dalam hati takut dengan perasaannya.
***
Nayra membuka pintu balkon kamarnya dan duduk di teras balkon itu santai. Angin sepoi-sepoi menyibakkan rambutnya yang panjang. Nayra memejamkan matanya. Ia tersenyum kecil menikmati sore yang begitu hangat namun sejuk ini.
Beberapa menit kemudian, Nayra membuka matanya. Ia membelalakkan matanya kaget karena melihat Bisma tepat didepan wajahnya.
“Bisma! Kau sudah dari tadi di posisi itu?” tanya Nayra mundur ke belakang.
“sejak kau mulai menutup matamu, aku sudah ada disini” jawab Bisma. “ternyata aku juga suka dengan senyummu. Apa aku jatuh cinta padamu?” tanya sambil tersenyum kecil.
“Bisma, bagaimana bisa kau jatuh cinta? Bukannya perasaanmu sudah ikut mati denganmu?” tanya Nayra jengah.
“menurutku, setiap orang yang sudah meninggal, perasaannya tidak akan ikut meninggal juga. Karena perasaan bukan seperti raga yang mati. Bukan seperti jantung, paru-paru, ginjal, dan hati” jawab Bisma melayang-layang sedikit menjauh dari Nayra.
“aku tidak pernah lupa dengan perasaan jatuh cinta, Nay. Walaupun aku merasakannya 10 tahun yang lalu” lanjut Bisma. Matanya seakan sedang menerawang ke masa lalu.
“10 tahun yang lalu? Bukankah saat itu umurmu masih 9 tahun? Pantas saja kau jago menggombal wanita. Umur 9 tahun pun sudah jatuh cinta” ucap Nayra mencoba bercanda.
“ya, itu memang terdengar konyol. Aku jatuh cinta pada seorang gadis yang memiliki mata besar dan seyum yang sangat manis. Ia sering tiba-tiba memasang wajah takut. Tapi itulah yang aku suka darinya. Ekspresinya tidak dapat kutebak” ucap Bisma tersenyum kecil.
“orang-orang takut dengannya. Tapi dia tetap baik kepada orang itu. ia juga selalu tersenyum saat anak-anak yang lain menganggunya. Ia tidak menangis. Dan ia tidak pernah merasa kesal degan teman-teman yang menganggunya itu” lanjut Bisma.
“sepertinya kau benar-benar jatuh cinta dengan gadis itu” ucap Nayra pelan. Ia sedikit merasa sakit hati melihat senyuman Bisma saat mengenang gadis itu.
“Aku sangat suka dengannya. Tapi aku malah menyakiti hatinya” ucap Bisma pelan lalu tersenyum sedih.
“menyakitinya?” tanya Nayra penasaran.
Bisma mengangguk pelan. “aku meninggalkannya pergi. Saat ia sedang ketakutan. Itu karena aku akan pindah hari itu juga. Aku menyesal meninggalkannya. Saat itu dia benar-benar ketakutan. Sampai menangis. Aku tidak tega melihatnya saat itu. tapi mama menarikku untuk segera pergi” cerita Bisma. “kalau saja aku bisa menangis, mungkin sekarang aku sudah terisak-isak” tawanya terdengar memaksa.
“apa gadis itu membencimu?” tanya Nayra pelan.
“ntahlah. Sepertinya dia melupakanku. Tapi aku senang melihatnya tumbuh jadi gadis yang sangat cantik. Dengan matanya yang besar dan senyumannya yang sangat manis itu, ia semakin terlihat cantik” jawab Bisma tersenyum tipis.
“kau bertemu dengannya? Bagaimana reaksinya?” tanya Nayra lagi.
“ya, aku bertemu dengannya. Saat aku sudah menjadi hantu seperti ini” jawab Bisma pahit.
Nayra menatap Bisma dengan perasaan bersalah. “maafkan aku. Aku terlalu banyak bertanya soal dirimu”
“tidak apa. aku senang kau mau tau banyak tentang diriku” ucap Bisma tersenyum kecil. “bagaimana? Kau mau mengetahui bagaimana aku meninggal, kan?”
Nayra mengangguk dengan ragu. “tapi kalau kau tidak ingin cerita, aku tidak masalah. Kau tidak usah memaksakan diri” ucap Nayra cepat.
Bisma menggelengkan kepalanya. “aku meninggal 3 tahun yang lalu. Saat itu aku sedang mencari alamat  tempat tinggal gadis yang kuceritakan tadi. Sudah sebulan lebih aku mencari tempat tinggalnya, dan itu tidak sia-sia. Aku menemukannya” Bisma memulai bercerita.
“mungkin karena terlalu senang, aku jadi ceroboh. Sepeda motor yang kukendarai jadi tidak seimbang. Aku terjatuh dari motor. Memang hanya lecet-lecet, dan aku pun masih sadar. Saat aku mencoba berdiri, ada mobil yang datang kearahku. Pengemudinya ternyata sedang mabuk. Tanpa bisa dihindari lagi, mobil itu menabrakku hingga aku meninggal ditempat tanpa sempat ke rumah sakit dulu” lanjut Bisma mengakhiri ceritanya.
“jadi setelah kau menjadi hantu, kau baru bertemu dengannya?” tanya Nayra.
“ya. Dan aku sudah menarik kesimpulan. Aku gentayangan seperti ini selama 3 tahun pasti karena aku masih punya perasaan menyesal padanya. Atau mungkin dia belum memaafkan aku yang sudah meninggalkannya waktu itu” ucap Bisma.
“aku rasa gadis itu memaafkanmu. Dari cerita yang kudengar darimu, sepertinya dia bukan orang pendendam. Dia seorang yang pemaaf” ucap Nayra mencoba menghibur Bisma.
“dia orang yang sangat baik. Dan mungkin yang kamu katakan memang benar” ucap Bisma tersenyum kecil.
“kenapa kau tidak coba meminta maaf padanya?” tanya Nayra.
“aku masih ingin melihatnya. Aku masih kangen dengannya. Saat aku benar-benar puas melihat senyumannya, baru aku akan meminta maaf padanya. Dan jika dia memaafkanku, mungkin setelah itu aku bisa pergi ke surga dengan tenang” jawab Bisma.
Nayra diam membisu. Kenapa ia tiba-tiba merasa ingin menahan Bisma untuk tidak meminta maaf pada gadis itu? apa ia takut kehilangan Bisma? Kenapa Bisma bisa membuatnya seperti ini hanya dalam waktu 2 hari? Ada apa dengannya?
***
“Nay, kantin yuk! Aku laper nih” ajak Dicky menarik tangan Nayra.
“aku gak mau. Disana ada banyak hantu, ky. Aku takut membuat selera makanmu hilang saat aku selalu menatap kaget melihat hantu-hantu itu” jawab Nayra.
Dicky terdiam. “sekarang kau sudah membuatku tidak ingin makan disana lagi, Nay” ucap Dicky pelan. “yaudah yuk kita ke taman lagi aja”
“loh? tadi katanya kau lapar? Kok malah ke taman?” tanya Nayra heran.
“habis kau bilang disana banyak hantu. Aku kan jadi takut” jawab dicky dengan wajah polosnya.
“kau ini kan laki-laki. Bagaimana bisa kau jadi takut dan tidak mau makan hanya karena aku bilang disana banyak hantu?” saut Nayra menarik hidung Dicky.
“aku gak akan takut kalau kau menemaniku” ucap Dicky tersenyum tipis.
“baiklah. Aku akan menemanimu makan. Aku tidak ingin melihatmu semakin kurus dari sekarang. Tapi ingat. Pas aku melotot kaget atau memejamkan mata dengan tiba-tiba, tidak usah kau pikirkan. Kau makan saja. Oke?” ucap Nayra tersenyum.
Dicky tertawa kecil.”baiklah, aku janji” jawab Dicky lalu menarik Nayra menuju kantin.
Sebenarnya Dicky sudah terbiasa dengan ekspresi Nayra saat melihat makhluk gaib. Ia juga sudah tidak takut lagi. namun biarlah Nayra terus berpikir kalau dirinya masih merasa takut. Ia sangat menikmati wajah Nayra yang khawatir padanya.
“jadi kau ingin makan apa? biar aku pesan sekalian” tawar Dicky.
“gak usah. Aku masih kenyang. Tadi pagi aku sudah sarapan lumayan banyak” jawab Nayra menggeleng.
“oke. Kalo gitu aku akan membelikanmu teh manis hangat. Kau terlihat pucat” ucap Dicky.
“aku memang selalu seperti ini, ky. Kau tau itu” saut Nayra.
“pokoknya aku membelikanmu teh hangat” saut Dicky. “tunggu disini. Jangan pergi kemana-mana!” ucap Dicky beranjak pergi.
“kau kira aku anak kecil yang suka pergi kemana-mana saat ditinggal papanya, hah?” saut Nayra datar lalu ia tersenyum kecil.
***
“ky, jalan yuk! Kemana gitu” ajak Nayra saat mereka berdua pulang sekolah.
“tumben banget ngajak jalan. Biasa juga aku yang ngajak” saut Dicky sedikit kaget.
“itu terdengar seperti menyindirku, ky” ucap Nayra datar.
“aku Cuma bercanda, haha” saut Dicky tertawa. “yaudah ayo jalan. Terserah aku kan?” ucap Dicky langsung menarik Nayra ke motornya.
Sesampainya di tempat tujuan, Nayra memandang Dicky. “kau mengajakku ke Taman Mini?” tanya Nayra heran.
Dicky mengangguk. “apa ada yang aneh?” tanya Dicky.
“kau benar-benar tidak tau atau pura-pura tidak tau?” saut Nayra menyipitkan matanya.
Dicky menggeleng dengan tampang polos.
Nayra menghela nafas. “Taman Mini kan banyak makhluk halus, ky. Dan aku gak suka itu” saut Nayra kesal.
“tapi tadi bilangnya terserah aku. Aku mau kesini bareng kau, Nayra” saut Dicky sedikit cemberut.
“astaga. Tidak usah pasang wajah seperti itu. aku mau kesini” saut Nayra mengalah.
“nah kalau gitu kan enak. Ayo kita ke Keong Mas!!” saut Dicky tertawa lebar dan memerintahkan Nayra untuk kembali naik ke motornya.
***
Setelah selesai menonton film di Keong Mas, Dicky mengajak Nayra untuk naik sky lift. Nayra hanya mengangguk setuju. Dengan cepat mereka mengantri lalu naik ke sky lift tersebut.
“sudah lama aku tidak naik ini” ucap Nayra sambil melihat pemandangan dibawah.
“berterimakasihlah padaku yang sudah mengajakmu kesini, Nay” ucap Dicky dengan bangga.
“terima kasih, Dicky. haha” ucap Nayra lalu tertawa melihat ekspresi Dicky.
“bagaimana terapinya? Berjalan mulus?” tanya Dicky.
“terapi? Apa maksudmu?” tanya Nayra bingung.
“terapi terhadap ketakutanmu yang bisa melihat hantu. Aku dari tadi tidak melihat wajahmu yang ketakutan” jawab Dicky.
“ah, iya benar. Dari tadi aku tidak melihat mereka sama sekali. Mungkin mereka takut padamu, jadi tidak muncul dihadapanku” saut Nayra bercanda.
“sialan. Muka baby face begini, apa yang perlu ditakutkan?” saut Dicky cemberut.
“aku Cuma bercanda, ky” saut Nayra menarik hidung Dicky sambil tersenyum.
“kau ini. Suka banget narik hidungku” saut Dicky memegang hidungnya.
Nayra hanya tersenyum. “jadi kau mengajakku kesini karena mau menjalankan terapi untukku?” tanya Nayra.
“sebenarnya gak. Aku mau kesini berdua denganmu. Sudah lama sih sebenarnya, hehe” saut Dicky tertawa kecil daan menggaruk kepalanya tanpa sebab.
“kalau kau mau mengajakku, bilang saja padaku. Aku mau kok” ucap Nayra tersenyum.
“kemana saja?” tanya Dicky sedikit berharap.
Nayra mengangguk. “kemana saja yang kau mau” ucapnya lalu tertawa kembali.
Dicky tersenyum senang. “hari ini kau banyak tertawa. Apa kau tidak mau menceritakannya padaku?” tanya Dicky.
“ntahlah. Aku merasa sangat senang hari ini. Mungkin karena kau mengajakku kesini” jawab Nayra sedikit menggoda Dicky.
“I'm very glad to know if I the reason you smile” saut Dicky balik menggoda Nayra.
“dasar. Kau mulai mencoba belajar menggombal ya?” saut Nayra tertawa.
“itu bukan gombalan. Kau ini selalu saja berpikir negatif denganku” balas Dicky sedikit kesal.
“heran ya. Kau cemberut terus dari tadi. Kaya aku dong senyum dari tadi” saut Nayra menarik bibir Dicky untuk melengkung ke atas mebentuk senyuman.
Dicky tersenyum melihat wajah Nayra. “ini udah senyum. Yaudah yuk nikmatin pemandangan aja. sayang buat dilewatin” saut Dicky.
“oh iya. Aku sampai lupa” saut Nayra menertawai dirinya sendiri. lalu ia membuka jendela sky lift ini dan melihat pemandangan disekelilingnya sambil tersenyum. rambut panjangnya yang tergerai melambai-lambai terkena angin.
Dicky memandang Nayra sambil tersenyum. “I was falling in love with you, Nayra” ucapnya dalam hati.
***
“dari mana saja kau, Nayra? Jam segini baru sampai rumah” saut Bisma begitu melihat Nayra.
“aku habis jalan-jalan bersama temanku, Bisma. Dan sekarang aku merasa lelah. Aku mau segera tidur” jawab Nayra meletakkan tas sekolahnya di meja belajarnya.
“temanmu? Laki-laki kan? yang bersamamu waktu disekolah waktu itu?” tanya Bisma kesal.
“ya dia temanku. Apa ada masalah dengannya?” tanya Nayra heran.
“banyak! Bagaimana bisa kau pulang sampai malam begini karena habis jalan dengan cowok? Aku tidak habis pikir denganmu, Nay” saut Bisma marah.
“dia temanku sejak SMP. Dia baik padaku. Dan aku percaya padanya” saut Nayra mulai kesal.
“tapi aku tidak suka melihatmu jalan dengannya!” saut Bisma emosi.
Seketika kamar Nayra terasa panas. Padahal kamarnya memiliki AC yang sedang menyala.
“kau cemburu padanya? Lucu sekali. Kau hanya hantu. Tidak berhak melarangku pergi bersama sahabatku sendiri!” saut Nayra sinis.
“aku memang hantu. Tapi aku memiliki perasaan. Aku suka denganmu, Nayra” saut Bisma semakin emosi. Ia melayang-layang mendatangi Nayra.
Nayra mengerjap ketakutan. Bisma terlihat begitu menyeramkan dimatanya. Tubuhnya berkeringat. Kamarnya terasa semakin panas. “Bisma. Berhenti! Aku tidak suka denganmu!” teriak Nayra.
Bisma terdiam ditempat. Kamar ini kembali ke suhu semula. Wajahnya terlihat muram. “iya, benar. Tidak mungkin seorang manusia suka dengan hantu sepertiku. Aku memang bodoh” ucap Bisma tersenyum pahit.
Nayra menatap Bisma yang tembus pandang itu dengan takut. Namun rasa bersalah mulai menghinggapinya. “Bisma, maafkan aku. Aku gak bermaksud...” saut Nayra pelan.
Bisma memotong ucapan Nayra. “harusnya aku yang minta maaf. Maaf sudah membuatmu takut padaku. Aku tidak akan mengulangnya lagi” saut Bisma tersenyum tipis. Lalu ia menghilang dari hadapan Nayra.
“Bisma...” saut Nayra mencoba memanggil Bisma kembali. Namun itu hanya sia-sia. Bisma tidak kembali lagi. airmata mengalir dipipinya. Ntah kenapa ia merasa sedih mendengar Bisma berkata seperti itu. seakan Bisma tidak akan pernah muncul lagi di hadapannya.

TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar