“semuanya ambil satu kertas yang
ada di atas meja ini. Kalo udah di ambil, langsung buka dan cari orang yang
nomornya sama seperti nomor yang ada di kertas yang kalian ambil. Itu artinya
dia adalah teman sebangku kalian” jelas bu Lia, wali kelas 11-IPA-2.
Dengan berbarengan semuanya
bangkit dari duduknya dan mengambil satu kertas itu. semuanya berharap
mendapatkan teman sebangku yang sesuai dengan kemauannya masing-masing. Setelah
diambil, kelas menjadi ribut. Mereka saling berteriak menyebut nomor mereka.
Setelah tau siapa teman sebangkunya, ada yang ber-highfive, tapi ada juga yang tersenyum kecut. Lalu mereka duduk di
bangku yang sesuai dengan nomor mereka.
Hanna membuka kertasnya dengan
cemas. Tertera angka ‘7’ di kertasnya. Ia berteriak memanggil orang yang
bernomor sama dengannya. Namun tidak ada yang menyahut. Semuanya sudah duduk
ditempatnya. Ia menghitung bangku hingga yang ke-7, dan terlihat di sana ada
seorang cowok telah duduk di sana.
“Hanna, kamu no-7 kan? Duduk di
sebelah Bisma” ucap bu Lia memerintah Hanna untuk segera duduk di tempatnya.
Dengan kesal Hanna duduk di
bangkunya. Diliriknya Bisma dengan tajam.
“ngapain lo liat-liat? Ntar suka
lagi” saut Bisma santai.
Hanna mengernyit dengan jijik.
“suka sama lo? bertahun-tahun gue sekelas dan sebangku sama lo, gak pernah ada
rasa itu”
“gak usah lebay. Kita sekelas
baru 8 tahun” balas Bisma tersenyum tipis.
“dan itu udah lama, dodol. Gue
bosen liat muka lo terus”
“jangan bohongin diri sendiri
deh”
“apa maksud lo?”
“lo tau apa maksud gue, Hanna
Putri” ucap Bisma tersenyum licik.
“lo nyebelin banget yah!” saut
Hanna menendang kaki Bisma dengan kesal.
“dasar cewek galak. Pantes gak
ada yang mau sama lo” ucap Bisma tenang.
“lo gak pernah berubah ya!
Selalu mandang gue dengan remeh. Liat aja, gue bakal punya cowok!” saut Hanna
meninju lengan Bisma dengan kuat.
“main fisik aja yang lo bisa.
Kalo bukan cewek, lo udah gue habisin tau gak” saut Bisma mulai gusar.
“lo lebih lemah dari gue.
Buktinya dulu waktu SD lo dikejar anjing, lo sampe nangis terus ngumpet di
belakang gue minta ditolongin” saut Hanna mengingat masa kecilnya dengan senyum
meledek.
“jangan bahas itu!” saut Bisma
langsung berdiri kesal lalu mendekatkan wajah Hanna ke arah ketiaknya.
“Bisma! Bau gilaa” saut Hanna
mencoba meleapskan diri.
“Bisma, Hanna!! Apa yang kalian
lakukan? Ribut ditengah jam pelajaran. Keluar kalian!” ucap bu Lia dengan
tegas.
“tuh kan karena lo kita di
keluarin” saut Hanna kesal.
“lo yang mulai” saut Bisma tidak
mau kalah.
“jelas-jelas lo yang duluan. Kok
malah nyalahin gue?” saut Hanna keras kepala.
“karena emang lo yang salah”
“lo!”
“lo!”
Bu Lia menghampiri tempat duduk
Bisma dan Hanna. “berhenti!” teriak bu Lia sambil menarik telinga mereka
berdua.
“aduh bu, ampun” ucap Hanna dan
Bisma meringis kesakitan. Anak-anak yang lain menertawakan mereka berdua.
“kalian ini selalu saja
berantem. Pusing saya lihatnya. Sekarang kalian keluar dan jangan buat
keributan sedikit aja” ucap bu Lia melepaskan tangannya dari telinga mereka
berdua.
Hanna dan Bisma keluar kelas
sambil memegangi telinganya. Sesampainya di luar, mereka berdua duduk melihat
anak-anak kelas 1 yang sedang berolahraga.
“Han, kantin yuk! Ngapain coba
kita duduk gak jelas di sini” ucap Bisma tersenyum tipis.
Mendadak saja wajah Hanna
menjadi cerah. “ide bagus! Lo kasih kode ya kalo bu Lia gak ngeliat keluar,
biar gue bisa lari. Terus lo nyusul”
“oke. Siap-siap ya” ucap Bisma
sambil mengintip ke dalam kelas. Setelah beberapa saat, ia mengacungkan
jempolnya dan Hanna berlari cepat tanpa menimbulkan suara. Setelah memastikan
keadaan masih aman, Bisma ikut berlari.
Ternyata bu Lia mendengar suara
langkah Bisma. Dengan cepat ia melihat keluar. “Bisma, Hanna! Mau kemana
kalian?!” teriak bu Lia marah.
“kantin, bu!” balas Bisma dan
Reina berteriak dari jauh sambil tertawa geli. Guru-guru yang berada di kelas
lain hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ini memang sudah biasa terjadi.
***
“oke! Hari ini kita belajar di
luar buat refreshing. Ibu ngerti pasti kalian suntuk di dalam kelas setiap
hari” ucap bu Lia yang langsung disambut dengan teriakan gembira dari anak-anak
sekelas.
“diam!” ucap bu Lia tegas.
Seketika kelas menjadi hening. “di luar kita akan mengamati pepohonan yang ada
di sana. cari tau apa nama pohon itu dan termasuk jenis pohon apa. yang
terbanyak dapet nilai paling tinggi. Mengerti?” lanjut bu Lia.
“bu, itu kan kurang kerjaan.
Lagian anak SMA kok nyari-nyari pohon” saut Bisma mengomentari.
“kita lihat saja kamu bisa atau
tidak ngerjain tugas ini” jawab bu Lia dengan tenang. Ia sudah biasa menghadapi
Bisma yang selalu menjadi bahan pembicaraan saat rapat. Karena Bisma adalah
cucu pemilik yayasan sekolah ini, jadi ia sedikit bertingkah.
“okelah bu. Liat aja nanti” ucap
Bisma dengan angkuh.
“yaudah, sekarang pilih pasangannya
masing-masing. Hanya 2 orang!” ucap bu Lia tegas. Anak-anak langsung ribut
memanggil teman dekat mereka untuk menjadi pasangan. Bisma hanya duduk
bersantai sambil memainkan handphonenya.
“Ami, kita sekelompok ya” ucap
Hanna. Ia mengacuhkan Bisma yang ada di sebelahnya.
“maaf, Han. Gue udah sama Rani”
jawab Ami tidak enak.
Hanna hanya tersenyum tipis. Ia
menghampiri tempat duduk Fani. “Fani, sekelompok yuk!” ajak Hanna.
“yah, maaf Han. Baru aja gue
gabung sama Laras” jawab Fani.
Lagi-lagi Hanna tersenyum tipis.
“Rosa, udah dapet kelompok?” tanya Hanna.
“belum, Han” jawab Rosa.
Hanna langsung tersenyum senang.
“kalo gitu...”
“Rosa! Ayo sekelompok sama gue”
potong Rena menghentikan ucapan Hanna.
“sorry yah, Han. Gue sama Rena
aja” ucap Rosa tidak enak.
“no problem, sa” jawab Hanna
tersenyum. Ia memandangi seluruh isi kelasnya. Masing-masing sudah mendapatkan
kelompoknya. Akhirnya Hanna memutuskan untuk memberitahukan pada bu Lia kalau
ia tidak mendapatkan pasangan.
“coba kamu duduk dulu. Biar ibu yang tanya sama
mereka apa mereka udah punya pasangan atau gak” ucap bu Lia memberi tanggapan.
Hanna duduk ditempatnya. Bu Lia
membuka buku absen dan menyebutkan nama murid-murid berurutan dari atas. Ia
menandai nama yang sudah memiliki pasangan. Sampai di nama terakhir, hanya dua
orang yang belum ditandai namanya oleh bu Lia.
“Bisma! Kamu belum punya
pasangan?” ucap bu Lia pada Bisma.
Bisma memalingkan matanya dari
handphonenya. “belum, bu” jawab Bisma singkat.
“Hanna, kamu berpasangan dengan
Bisma” ucap bu Lia. Hanna hendak mengeluarkan kata-kata memprotes. Tapi dengan
tegas bu Lia memerintahkan kami untuk segera keluar dari dalam kelas. Hanna
hanya bisa menghentakkan kaki dengan kesal.
“bisa gak lo lepas itu hp sejam
aja? yang lain udah pada dapet banyak, kita baru dapet dua” saut Hanna dengan
gusar.
“biasa aja sih” balas Bisma santai
tidak memandang Hanna.
“bu!” ucap Hanna sedikit
berteriak sambil menghampiri gurunya itu.
“ada apa,
Hanna?” tanya bu Lia.
“kenapa saya harus sekelompok
sama dia sih? Gak enak bu. Dia gak mau kerja” keluh Hanna menunjuk Bisma yang
masih asik dengan handphonenya.
“mau bagaimana lagi. Cuma dia
yang tersisa. Kamu harus bisa terima. Atau gak kamu kerja sendiri aja. Gak usah
cantumin nama dia di kertas kamu itu” ucap bu Lia memberi saran.
“baiklah, bu” jawab Hanna
pasrah.
“Bis, gue masih kasih
kesempatan nih. Lo mau kerja atau lo gak dapet nilai sama sekali?” ucap Hanna kembali
menghampiri Bisma.
“gue males” jawab Bisma
singkat.
“Arghh!!!” teriak Hanna
frustasi. Teman sekelas mereka hanya bisa cekikikan melihat tingkah Hanna.
***
“Bis, pesenin siomay dong!”
saut Hanna duduk di sebelah Bisma.
“lo kira gue yang jualan. Sana
pesen sendiri!” saut Bisma asik dengan baksonya.
“yaudah deh” saut Hanna. “Bang,
siomay satu sama jus jeruk satu! Ntar tagih uangnya ke Bisma aja!” teriak Hanna
dari tempat duduknya.
“oke neng!” balas tukang siomay
dan tukang minuman bersamaan. Anak-anak kelas 11 dan 12 yang ada di kantin
tidak merasa aneh dengan kebiasaan ini. Sementara anak kelas 10 yang masih
baru, memerhatikan Hanna keheranan.
“udah berapa hutang lo sama
gue. Tiap mesan pasti nyuruh gue yang bayar” protes Bisma.
“lagian lo gak bayar juga. Kan
ini sekolahan punya lo. Dan gue juga temen lo. masa gak mau berbagi sama temen
sendiri” ucap Hanna tersenyum manis.
“giliran ada maunya baru
manis-manisin gue” cibir Bisma.
“gue emang selalu manis. Lo aja
yang gak sadar” balas Hanna sambil memakan siomaynya yang baru saja diantar.
“udah jangan ngomong yang
aneh-aneh. Gue lagi makan. Lo gak mau kan kalo gue tiba-tiba keselek terus yang
ada dimulut gue loncat ke muka lo?” saut Bisma makan dengan lahap.
“ya gak lah. Jorok lo” saut Hanna
meminum jus jeruknya.
***
Hanna memantul-mantulkan bola
basket miliknya dengan tidak beraturan. Sore ini moodnya sedang tidak baik. Ia juga tidak tahu apa penyebabnya.
Rasanya ia ingin melampiaskan semuanya dengan melempar bola ini ke wajah seseorang.
Tapi karena sedang tidak ada siapa-siapa di rumahnya, ia hanya melemparkan bola
basket itu ke atas pohon dengan sangat kuat.
“awww!!!” teriak Bisma
kesakitan. Ternyata bola yang Hanna lemparkan mengenai punggung Bisma.
“Bisma! Ngapain lo nongkrong di
atas pohon gitu? Mau jadi monyet?” saut Hanna mendongak ke atas.
Bisma turun dari atas pohon
langsung menghampiri Hanna. “lo kalo lempar bola liat-liat dong. Untung gue
bisa jaga keseimbangan. Kalo gak gue udah patah tulang karena jatuh dari atas
pohon” omel Bisma memegangi punggungnya.
“sorry deh. Lagian lo juga aneh.
Sore-sore gini udah ada diatas pohon. Biasa juga pas malam” sungut Hanna. “ Gue
lagi bete gak jelas nih. Kemana gitu, yuk!” ajak Hanna.
“gue lagi males jalan. Lo aja
bawa mobil gue, sana!” ucap Bisma sambil melemparkan kunci mobil miliknya.
Hanna menangkap kunci itu.
“kalo sendirian gue makin bete dong. Mending acak-acak kamar lo aja” saut Hanna
memberikan kunci mobilnya dan ia lalu berlari menuju rumah Bisma yang ada di
sebelah kanan rumahnya sendiri.
“eh, eh, jangan ngacakin kamar
gue. Ntar gue yang kena marah sama mama gue, bukan lo” saut Bisma mencoba
menahan Hanna.
“jadi gue mau ngapain? Bosen
parah ini. Lagi pengen jalan atau gak ngejahilin orang” keluh Hanna dengan
wajah datar.
“yaudah yuk jalan! Kasian juga
gue ngeliat tampang lo gitu” saut Bisma menarik hidung Hanna dengan gemas.
“yeay! Let’s go to the beach!”
teriak Hanna dengan senang.
“oh, gak. Kita gak sampe
pantai. Cukup daratnya aja” saut Bisma naik ke dalam mobil.
“terserah. Yang penting kita
jalan-jalan!” teriak Hanna naik ke dalam mobil Bisma dengan wajah ceria.
***
“Han, nitip baju lab ini dong!”
saut Bisma mengejar Hanna yang akan keluar kelas.
“loh? emang lo gak bisa bawa
sendiri ya?” saut Hanna dengan kesal.
“bukannya gitu. Gue mau ke
kantin bentar” jelas Bisma tersenyum meyakinkan.
“yaudah sini-sini. Gue lagi
pengen berbuat baik sama lo” saut Hanna mengambil jas lab itu dari tangan
Bisma.
“lo emang the best deh. Thanks,
Han” ucap Bisma mencium Hanna dari jauh.
“dasar gatal” omel Hanna sambil
berjalan.
“Han, kok lo mau sih di suruh
Bisma gitu? Bukannya kalian sering berantem ya?” saut laras berjalan di sebelah
Hanna.
“biarin aja lah. Gue lagi mau
berbuat baik aja” jawab Hanna sekenanya.
“kalian ini aneh ya. Kadang
berantem, kadang kompak” saut Laras. “kalian saling suka, ya?” goda Laras.
“apaan sih, ras! Lo ngaco nih.
Masih pagi” saut Hanna kesal.
“iya deh, haha” saut Laras
tertawa.
Sesampainya di teras laboratorium,
semuanya mengabsen kelompoknya masing-masing yang hanya terdiri dari 2 orang.
Dengan kesal Hanna menunggu Bisma.
“Hanna, kenapa kamu berdiri di
sana?” tanya bu Lia memperhatikan Hanna.
“itu bu. Si Bisma belum sampe
sini. Kan saya sekelompok sama dia” jawab Hanna.
“yaudah. kamu tunggu diluar
aja” ucap bu Lia sambil masuk ke dalam laboratorium.
Hanna menuju balkon melihat ke
lapangan di bawah. Terlihat Bisma sedang santai berjalan di sana. dengan gusar
Hanna menepuk-nepukkan tangannya berkali-kali. Bisma yang mendengarnya langsung
tersenyum dan balas menepuk tangannya berkali-kali juga. Mereka berdua memang
memiliki kode ini untuk memanggil satu sama lain tanpa memanggil nama. Jadi,
kalau ada suara tepuk tangan, kedua orang ini selalu mencari asal suara itu.
Kalau suara itu dari salah satu di antara mereka, salah satunya akan membalas
bertepuk tangan tanda ia mendengar panggilan itu. Aneh kan?
Begitu Bisma sudah sampai,
Hanna menyambutnya dengan tatapan galak. “kok lama sih? Liat nih gue ditinggal
sendirian di luar”
“siapa suruh lo gak masuk” saut
Bisma.
“ini karena lo belum sampe,
jadi gue belum boleh masuk karena anggotanya belum lengkap” jawab Hanna sambil
memakaikan jas lab itu di badan Bisma. “mana marmutnya?” tanya Hanna.
“sebesar ini lo gak liat? Makanya
jangan marah-marah aja” saut Bisma mendekatkan kandag marmut itu ke wajah
Hanna.
“yaudah santai. Cepet lo tanda
tangan di sebelah nama lo ini. Baik kan gue mau nulisin nama lo?”
“iya, Hanna emang yang paling
baik sedunia!” saut Bisma memasang wajah senang namun dipaksa. Lalu ia
menandatangani absen itu.
“ini sarung tangan sama masker
lo! cepet masuk!” saut Hanna mendorong Bisma ke dalam laboratorium.
Laras menyenggol bahu Fani.
“Fan, mereka keliatan cocok ya” ucap Laras tersenyum tipis.
“gue juga mikir gitu. Tapi
mereka aneh. Sering berantem, cuma selalu saling melengkapi. Saling benci, tapi
mau saling bantu satu sama lain” jawab Fani setuju.
“tapi asik tau liat mereka
berantem. Nanti beberapa menit setelah mereka berantem, pasti langsung
kompakan. Seru” saut Laras tertawa kecil.
“iya. Gue suka liat pertemanan
mereka berdua. Udah bareng-bareng terus sih. Sekelas sampe 8 tahun. Rumahnya
sebelahan lagi” balas Fani.
“iya juga. Tapi kenapa sih
setiap gue nanya ke Hanna, dia selalu bilang ‘Bisma itu musuh gue. Bukan sahabat gue’?”
“mungkin Hanna belum sadar.
Malah gue mikir hubungan mereka lebih dari sahabat. Habis udah keliatan cocok,
mesra lagi” saut Fani cekikikan diikuti dengan Laras.
“Fani, Laras! Apa ikan kalian
terlihat lucu?” tanya bu Lia yang melihat Fani dan Laras yang sedang tertawa.
“gak bu” jawab mereka
bersamaan. Bu Lia hanya mengangguk sekilas dan melanjutkan menjelaskan cara
kerja pembedahan hewan hari ini.
***
Hanna menatap marmut yang ada
di dalam kandangnya dengan sedih. Sebentar lagi nyawa marmut itu akan pergi.
Itu karena binatang ini akan menjadi bahan praktek Biologi hari ini. Mereka
akan membedah hewan itu.
“udah gak usah pasang wajah
sedih gitu” saut Bisma mendekati Hanna. Mereka sedang berada di ruang
laboratorium.
“tapi dia gak ada salah
apa-apa. kenapa harus kita bedah? Mending dipelihara. Liat matanya makin
kasian” balas Hanna masih memandangi marmut itu.
“dia gak akan masuk neraka kok.
Dia pasti tenang di sana” ucap Bisma sedikit bercanda.
“gue gak mau tau ya. Lo aja
yang bedah. Gue gak tega” ucap Hanna memberikan kandang itu pada Bisma.
“tapi setelah dibedah, lo
ikutan merhatiin organ dalamnya. Ntar kan mau buat laporannya” balas Bisma.
“iya-iya. Udah cepet bius ini
marmut. Gue liat dari jauh aja”
Bisma membuka kandang itu. ia
menjepit segumpal kapas yang sudah ia berikan alkohol dan mendekatkan kapas itu
ke hidung si marmut. Namun setelah berkali-kali diulang, marmut itu masih
sadarkan diri.
“Han, lo angkat marmutnya dong!
Ini di kasih kapas gini gak mempan. Gue mau suntik pahanya” perintah Bisma.
“yang cepet ya” saut Hanna
mengikuti kemauan Bisma.
Dengan hati-hati Bisma
menyuntikkan paha marmut itu dengan alkohol. Marmut itu menjerit kesakitan.
Hanna langsung memejamkan matanya. Ia tidak tega melihat marmut itu menjerit
dan berusaha melepaskan diri dari genggamannya.
“Bis, gue gak tahan” ucap Hanna
dengan suara bergetar. Ia sudah menangis.
“yaudah lepasin. Dia udah
pingsan” ucap Bisma dengan pelan.
Hanna dengan segera melepaskan
marmut itu. Lalu secepat mungkin ia menjauh dari binatang itu. Ia menangis di
sudut ruang laboratorium itu. Masih terbayang suara jeritan marmut itu. Hanna
tau kalau marmut itu pasti merasa sangat kesakitan.
Setengah jam sudah Hanna duduk
di sudut sendirian. Terlihat Bisma mendekatinya. “udah tenang?” ucap Bisma
berjongkok dihadapan Hanna.
“lumayan” jawab Hanna singkat.
“udah siap tuh. Sekarang lo
perhatiin organ dalamnya, digambar, terus tentuin mana yang paru-paru, jantung,
ginjal dan lain-lain. Mumpung jantungnya masih berdetak” ucap Bisma menarik Hanna
untuk segera berdiri.
Hanna mengikuti Bisma. Terlihat
di sana marmut yang tadi masih bergerak, sudah telentang pasrah. matanya sudah
tertutup. Keempat kakinya di tusuk dengan paku. Perutnya sudah tidak berkulit
lagi. terlihat disana jantung yang masih berdetak, paru-paru, usus besar, usus
kecil, dan lainnya. Hanna menutup mulut dan hidungnya dengan masker. Tercium
bau amis darah yang sangat pekat. Perlahan-lahan jantung itu berhenti berdetak.
“Bis, dia udah mati?” desis
Hanna pada Bisma yang ada disebelahnya.
“kayanya iya. Sekarang lo pake
sarung tangan karet itu, terus tarik itu usus besar, ukur berapa panjangnya.
Gitu juga sama usus kecilnya” ucap Bisma tenang.
Dengan patuh Hanna mengikuti
semuanya. Ia menyebutkan berapa panjangnya, dan Bisma yang mencatatnya di
kertas laporan. Hampir satu jam mereka meneliti, memerhatikan, dan juga
menggambar organ dalam marmut itu, hingga bu Lia meneriakkan kalau waktu sudah
habis. Semuanya bergegas membereskan peralatan-peralatan yang sudah di pakai.
Hanna mencuci penjepit, gunting, dan alas bedah. Sementara Bisma dengan
hati-hati memasukkan bangkai marmut itu ke dalam plastik kecil.
“Han, kita kubur dulu yuk
sebelum masuk ke kelas selanjutnya” ajak Bisma.
“yaudah ayo” balas Hanna sambil
mencuci tangannya hingga bersih.
Bisma dan Hanna berjalan menuju
halaman belakang sekolah mereka. Hanna memegang bangkai marmut itu dengan
hati-hati, sementara Bisma sedang menggali lubang tempat marmut itu akan
dikuburkan.
Setelah bangkai itu dimasukkan
ke dalam tanah, Bisma dan Hanna berjongkok menghadap kuburan itu. Mereka berdoa
dan mengucapkan terima kasih pada hewan itu karena sudah memberikan ilmu lewat
tubuhnya itu dan rela mati demi mereka berdua.
***
“Hanna!” panggil Bisma dari
sebelah kiri Hanna. Hanna menoleh dan langsung menjerit histeris karena melihat
banyak kecoa di dalam plastik bening yang didekatkan Bisma ke wajahnya.
“Bisma sinting!” teriak Hanna
berlari menjauhi Bisma. Dengan geli Bisma mengejar Hanna membuat kelas menjadi
gaduh.
Tiba-tiba saja kepala sekolah
masuk ke dalam kelas mereka karena mendengar kegaduhan. Dan tepat saat itu juga
Hanna berlari ke depan kelas tempat pak Tony berdiri. Dan Bisma yang tidak
menyadari kehadiran pak Tony langsung mengejar Hanna sambil menunjukkan kecoa
itu hingga membuat Hanna kembali menjerit dengan keras.
“Bisma!! Hanna!! Apa yang
kalian lakukan?!” teriak pak Tony marah.
Bisma dan Hanna terdiam kaget
memandang wajah pak Tony yang memerah karena emosi. Anak-anak lain juga terdiam
dan memandang Bisma dan Hanna dengan kasihan.
“ikut saya ke kantor!
Sekarang!” perintah pak Tony dengan keras membuat Hanna lemas.
***
“ini suda keberapa kalinya
kalian masuk ke dalam kantor saya?” ucap pak Tony sedikit tenang.
Bisma dan Hanna hanya
menggeleng pelan. Mereka sadar kalau mereka sering kali bermasalah dan selalu
masuk ke dalam kantor kepala sekolah. Mereka memang terkenal paling nakal dari
semua murid di sekolah ini. Tapi itu tidak membuat mereka merasa jera.
“untuk apa kamu membawa kecoa
sebanyak ini?” tanya pak Tony sambil menunjukkan plastik yang isinya ada 10
kecoa. Hanna mengernyit dengan jijik.
“itu awalnya buat praktek
Biologi, pak. Tapi gak jadi” jawab Bisma.
“lalu kenapa kamu mengejar
Hanna dengan membawa kecoa ini?” tanya pak Tony lagi.
“saya cuma mau menjahilinya,
pak” jawab Bisma.
“dan kamu, Hanna. Untuk apa
kamu menjerit sekuat itu dan membuat kelas sagat gaduh? Suaranya sampai
terdengar di sini” ucap pak Tony mengalihkan pandangannya pada Hanna.
“itu karena saya jijik dan gak
suka sama kecoa, pak. Saya geli ngeliat kecoa sebanyak itu” jawab Hanna pelan.
“kalau begini, kalian berdua
sama-sama salah. Yang satu jahil. Yang satu lagi lebay. Jadi kalian berdua saya
hukum berjemur di tengah lapangan upacara hingga istirahat” ucap pak Tony
memutuskan.
Bisma hendak memprotes, namun
langsung dipotong oleh Hanna. “baik, pak. Kami permisi” Hanna mendorong tubuh
Bisma keluar dari kantor itu.
“kenapa sih lo langsung terima
hukuman itu?” saut Bisma dengan gusar.
“gue males. Ntar pasti
masalahnya jadi tambah ribet” balas Hanna.
“tapi dia gak berhak ngehukum
gue kaya gini. Gue yang punya sekolah ini” saut Bisma dengan sombongnya.
“gak ada bedanya lo, gue, atau
sama yang lainnya. Gak ada tuh namanya ‘pemilik sekolah’. Semuanya harus sama
rata. Lagian kita emang salah” jawab Hanna masih tenang.
“terserah lo aja deh. Kalo
emang lo mau dihukum, silahkan berjemur sendirian. Gue males” saut Bisma
langsung pergi meninggalkan Hanna.
“Bisma! Ntar lo bakal dapet
hukuman yang lebih berat lagi” teriak Hanna.
“bodo amat” balas Bisma
singkat.
“gue gak mau tau kalo lo sampe
di skors. Gue gak ikutan” teriak Hanna lagi. Bisma hanya mengangkat kedua
bahunya menandakan bahwa ia tidak perduli. “Sial!” rutuk Hanna.
***
Esoknya Hanna masuk ke kelas
dengan wajah kesal. Mendadak Bisma menjauhinya. Kemarin sore Bisma tidak ada
datang ke rumahnya. Biasanya itu adalah rutinitas yang wajib dilakukan Bisma
setiap harinya. Ia tidak habis fikir. Apa yang membuat Bisma marah padanya?
“ngapain lo duduk di sini? Sana
pindah!” usir Bisma tanpa memandang Hanna.
Dengan gusar Hanna bangkit dari
duduknya. “gue juga males duduk sebangku sama lo lagi!” ucap Hanna membuat
semua yang ada di kelas sedikit terbengong. Hanya satu yang ada dipikiran
mereka semua. ‘kayanya kali ini ribut
yang serius!’.
Hanna menatap Laras dengan
tatapan memelas. “ras, gue duduk di sebelah lo ya. Fani duduk di sebelah Bisma
ya”
Laras menatap Fani yang ada di
sebelahnya. Akhirnya Fani tersenyum. “oke, gue pindah”
“thanks banget yah, Fan. Lo
emang baik banget” ucap Hanna senang.
Fani hanya mengangguk. Ia
mengambil tasnya dan duduk di sebelah Bisma. Bisma hanya diam saja ketika Fani
menyapanya.
Bu Lia masuk ke dalam kelas. Ia
heran melihat Fani duduk di sebelah Bisma. “ada apa ini? Kenapa Fani dan Hanna
bertukar tempat?” tanya bu Lia.
“lagi berantem, bu” ucap
anak-anak kompak. Bisma dan Hanna hanya diam karena sedang tidak enak hati.
“Bisma, Hanna! Kalian berantem
karena apa?” tanya bu Lia lagi.
“kayanya soal kecoa kemarin,
bu” jawab anak-anak kembali bersamaan.
“kecoa? Yang kalian di panggil
ke kantor kepala sekolah itu?” tanya bu Lia berharap Bisma dan Hanna yang akan
menjawab pertanyaannya.
“betul, bu” jawab anak-anak
sambil tertawa kecil melihat kegusaran di wajah bu Lia.
“ya sudahlah. Sepertinya yang
namanya Bisma dan Hanna sekarang jadi ada banyak” ucap bu Lia duduk di mejanya.
Anak-anak kecuali Bisma dan Hanna tertawa geli.
***
Berhari-hari Bisma dan Hanna
tidak saling berbicara. Anak-anak mulai bosan karena sudah lama tidak melihat
pertengkaran heboh dan konyol yang seru untuk ditonton. Sebenarnya Bisma dan
Hanna juga merindukan hal itu. Tapi mereka sama-sama gengsi untuk saling
meminta maaf. Teman-teman yang lain sudah mencoba membujuk Hanna maupun Bisma
untuk kembali bersahabat. Namun tanggapan mereka berdua sama, yaitu ‘Tidak mau’
dan berkata kalau ‘mereka tidak pernah bersahabat’.
Akhirnya anak-anak kelas 11-IPA-2
menyusun rencana untuk kembali mempersatukan Bisma dan Hanna. Mereka
berbisik-bisik heboh membuat Bisma dan Hanna mau tidak mau merasa penasaran,
karena hanya mereka berdua yang tidak di ajak berbisik-bisik bersama.
Keesokan harinya mereka semua
memasuki kelas dengan semangat. Hari ini mereka akan menjalankan rencana yang
sudah mereka bicarakan kemarin. Semuanya berharap kalau apa yang mereka
rencanakan akan berjalan dengan lancar dan berhasil dengan sukses.
TO BE CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar