Jumat, 07 Juni 2013

Bestfriend? (Part 1)

“semuanya ambil satu kertas yang ada di atas meja ini. Kalo udah di ambil, langsung buka dan cari orang yang nomornya sama seperti nomor yang ada di kertas yang kalian ambil. Itu artinya dia adalah teman sebangku kalian” jelas bu Lia, wali kelas 11-IPA-2.
Dengan berbarengan semuanya bangkit dari duduknya dan mengambil satu kertas itu. semuanya berharap mendapatkan teman sebangku yang sesuai dengan kemauannya masing-masing. Setelah diambil, kelas menjadi ribut. Mereka saling berteriak menyebut nomor mereka. Setelah tau siapa teman sebangkunya, ada yang ber-highfive, tapi ada juga yang tersenyum kecut. Lalu mereka duduk di bangku yang sesuai dengan nomor mereka.
Hanna membuka kertasnya dengan cemas. Tertera angka ‘7’ di kertasnya. Ia berteriak memanggil orang yang bernomor sama dengannya. Namun tidak ada yang menyahut. Semuanya sudah duduk ditempatnya. Ia menghitung bangku hingga yang ke-7, dan terlihat di sana ada seorang cowok telah duduk di sana.
“Hanna, kamu no-7 kan? Duduk di sebelah Bisma” ucap bu Lia memerintah Hanna untuk segera duduk di tempatnya.
Dengan kesal Hanna duduk di bangkunya. Diliriknya Bisma dengan tajam.
“ngapain lo liat-liat? Ntar suka lagi” saut Bisma santai.
Hanna mengernyit dengan jijik. “suka sama lo? bertahun-tahun gue sekelas dan sebangku sama lo, gak pernah ada rasa itu”
“gak usah lebay. Kita sekelas baru 8 tahun” balas Bisma tersenyum tipis.
“dan itu udah lama, dodol. Gue bosen liat muka lo terus”
“jangan bohongin diri sendiri deh”
“apa maksud lo?”
“lo tau apa maksud gue, Hanna Putri” ucap Bisma tersenyum licik.
“lo nyebelin banget yah!” saut Hanna menendang kaki Bisma dengan kesal.
“dasar cewek galak. Pantes gak ada yang mau sama lo” ucap Bisma tenang.
“lo gak pernah berubah ya! Selalu mandang gue dengan remeh. Liat aja, gue bakal punya cowok!” saut Hanna meninju lengan Bisma dengan kuat.
“main fisik aja yang lo bisa. Kalo bukan cewek, lo udah gue habisin tau gak” saut Bisma mulai gusar.
“lo lebih lemah dari gue. Buktinya dulu waktu SD lo dikejar anjing, lo sampe nangis terus ngumpet di belakang gue minta ditolongin” saut Hanna mengingat masa kecilnya dengan senyum meledek.
“jangan bahas itu!” saut Bisma langsung berdiri kesal lalu mendekatkan wajah Hanna ke arah ketiaknya.
“Bisma! Bau gilaa” saut Hanna mencoba meleapskan diri.
“Bisma, Hanna!! Apa yang kalian lakukan? Ribut ditengah jam pelajaran. Keluar kalian!” ucap bu Lia dengan tegas.
“tuh kan karena lo kita di keluarin” saut Hanna kesal.
“lo yang mulai” saut Bisma tidak mau kalah.
“jelas-jelas lo yang duluan. Kok malah nyalahin gue?” saut Hanna keras kepala.
“karena emang lo yang salah”
“lo!”
“lo!”
Bu Lia menghampiri tempat duduk Bisma dan Hanna. “berhenti!” teriak bu Lia sambil menarik telinga mereka berdua.
“aduh bu, ampun” ucap Hanna dan Bisma meringis kesakitan. Anak-anak yang lain menertawakan mereka berdua.
“kalian ini selalu saja berantem. Pusing saya lihatnya. Sekarang kalian keluar dan jangan buat keributan sedikit aja” ucap bu Lia melepaskan tangannya dari telinga mereka berdua.
Hanna dan Bisma keluar kelas sambil memegangi telinganya. Sesampainya di luar, mereka berdua duduk melihat anak-anak kelas 1 yang sedang berolahraga.
“Han, kantin yuk! Ngapain coba kita duduk gak jelas di sini” ucap Bisma tersenyum tipis.
Mendadak saja wajah Hanna menjadi cerah. “ide bagus! Lo kasih kode ya kalo bu Lia gak ngeliat keluar, biar gue bisa lari. Terus lo nyusul”
“oke. Siap-siap ya” ucap Bisma sambil mengintip ke dalam kelas. Setelah beberapa saat, ia mengacungkan jempolnya dan Hanna berlari cepat tanpa menimbulkan suara. Setelah memastikan keadaan masih aman, Bisma ikut berlari.
Ternyata bu Lia mendengar suara langkah Bisma. Dengan cepat ia melihat keluar. “Bisma, Hanna! Mau kemana kalian?!” teriak bu Lia marah.
“kantin, bu!” balas Bisma dan Reina berteriak dari jauh sambil tertawa geli. Guru-guru yang berada di kelas lain hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ini memang sudah biasa terjadi.
***
“oke! Hari ini kita belajar di luar buat refreshing. Ibu ngerti pasti kalian suntuk di dalam kelas setiap hari” ucap bu Lia yang langsung disambut dengan teriakan gembira dari anak-anak sekelas.
“diam!” ucap bu Lia tegas. Seketika kelas menjadi hening. “di luar kita akan mengamati pepohonan yang ada di sana. cari tau apa nama pohon itu dan termasuk jenis pohon apa. yang terbanyak dapet nilai paling tinggi. Mengerti?” lanjut bu Lia.
“bu, itu kan kurang kerjaan. Lagian anak SMA kok nyari-nyari pohon” saut Bisma mengomentari.
“kita lihat saja kamu bisa atau tidak ngerjain tugas ini” jawab bu Lia dengan tenang. Ia sudah biasa menghadapi Bisma yang selalu menjadi bahan pembicaraan saat rapat. Karena Bisma adalah cucu pemilik yayasan sekolah ini, jadi ia sedikit bertingkah.
“okelah bu. Liat aja nanti” ucap Bisma dengan angkuh.
“yaudah, sekarang pilih pasangannya masing-masing. Hanya 2 orang!” ucap bu Lia tegas. Anak-anak langsung ribut memanggil teman dekat mereka untuk menjadi pasangan. Bisma hanya duduk bersantai sambil memainkan handphonenya.
“Ami, kita sekelompok ya” ucap Hanna. Ia mengacuhkan Bisma yang ada di sebelahnya.
“maaf, Han. Gue udah sama Rani” jawab Ami tidak enak.
Hanna hanya tersenyum tipis. Ia menghampiri tempat duduk Fani. “Fani, sekelompok yuk!” ajak Hanna.
“yah, maaf Han. Baru aja gue gabung sama Laras” jawab Fani.
Lagi-lagi Hanna tersenyum tipis. “Rosa, udah dapet kelompok?” tanya Hanna.
“belum, Han” jawab Rosa.
Hanna langsung tersenyum senang. “kalo gitu...”
“Rosa! Ayo sekelompok sama gue” potong Rena menghentikan ucapan Hanna.
“sorry yah, Han. Gue sama Rena aja” ucap Rosa tidak enak.
“no problem, sa” jawab Hanna tersenyum. Ia memandangi seluruh isi kelasnya. Masing-masing sudah mendapatkan kelompoknya. Akhirnya Hanna memutuskan untuk memberitahukan pada bu Lia kalau ia tidak mendapatkan pasangan.
 “coba kamu duduk dulu. Biar ibu yang tanya sama mereka apa mereka udah punya pasangan atau gak” ucap bu Lia memberi tanggapan.
Hanna duduk ditempatnya. Bu Lia membuka buku absen dan menyebutkan nama murid-murid berurutan dari atas. Ia menandai nama yang sudah memiliki pasangan. Sampai di nama terakhir, hanya dua orang yang belum ditandai namanya oleh bu Lia.
“Bisma! Kamu belum punya pasangan?” ucap bu Lia pada Bisma.
Bisma memalingkan matanya dari handphonenya. “belum, bu” jawab Bisma singkat.
“Hanna, kamu berpasangan dengan Bisma” ucap bu Lia. Hanna hendak mengeluarkan kata-kata memprotes. Tapi dengan tegas bu Lia memerintahkan kami untuk segera keluar dari dalam kelas. Hanna hanya bisa menghentakkan kaki dengan kesal.
“bisa gak lo lepas itu hp sejam aja? yang lain udah pada dapet banyak, kita baru dapet dua” saut Hanna dengan gusar.
“biasa aja sih” balas Bisma santai tidak memandang Hanna.
“bu!” ucap Hanna sedikit berteriak sambil menghampiri gurunya itu.
“ada apa, Hanna?” tanya bu Lia.                                                                
“kenapa saya harus sekelompok sama dia sih? Gak enak bu. Dia gak mau kerja” keluh Hanna menunjuk Bisma yang masih asik dengan handphonenya.
“mau bagaimana lagi. Cuma dia yang tersisa. Kamu harus bisa terima. Atau gak kamu kerja sendiri aja. Gak usah cantumin nama dia di kertas kamu itu” ucap bu Lia memberi saran.
“baiklah, bu” jawab Hanna pasrah.
“Bis, gue masih kasih kesempatan nih. Lo mau kerja atau lo gak dapet nilai sama sekali?” ucap Hanna kembali menghampiri Bisma.
“gue males” jawab Bisma singkat.
“Arghh!!!” teriak Hanna frustasi. Teman sekelas mereka hanya bisa cekikikan melihat tingkah Hanna.
***
“Bis, pesenin siomay dong!” saut Hanna duduk di sebelah Bisma.
“lo kira gue yang jualan. Sana pesen sendiri!” saut Bisma asik dengan baksonya.
“yaudah deh” saut Hanna. “Bang, siomay satu sama jus jeruk satu! Ntar tagih uangnya ke Bisma aja!” teriak Hanna dari tempat duduknya.
“oke neng!” balas tukang siomay dan tukang minuman bersamaan. Anak-anak kelas 11 dan 12 yang ada di kantin tidak merasa aneh dengan kebiasaan ini. Sementara anak kelas 10 yang masih baru, memerhatikan Hanna keheranan.
“udah berapa hutang lo sama gue. Tiap mesan pasti nyuruh gue yang bayar” protes Bisma.
“lagian lo gak bayar juga. Kan ini sekolahan punya lo. Dan gue juga temen lo. masa gak mau berbagi sama temen sendiri” ucap Hanna tersenyum manis.
“giliran ada maunya baru manis-manisin gue” cibir Bisma.
“gue emang selalu manis. Lo aja yang gak sadar” balas Hanna sambil memakan siomaynya yang baru saja diantar.
“udah jangan ngomong yang aneh-aneh. Gue lagi makan. Lo gak mau kan kalo gue tiba-tiba keselek terus yang ada dimulut gue loncat ke muka lo?” saut Bisma makan dengan lahap.
“ya gak lah. Jorok lo” saut Hanna meminum jus jeruknya.
***
Hanna memantul-mantulkan bola basket miliknya dengan tidak beraturan. Sore ini moodnya sedang tidak baik. Ia juga tidak tahu apa penyebabnya. Rasanya ia ingin melampiaskan semuanya dengan melempar bola ini ke wajah seseorang. Tapi karena sedang tidak ada siapa-siapa di rumahnya, ia hanya melemparkan bola basket itu ke atas pohon dengan sangat kuat.
“awww!!!” teriak Bisma kesakitan. Ternyata bola yang Hanna lemparkan mengenai punggung Bisma.
“Bisma! Ngapain lo nongkrong di atas pohon gitu? Mau jadi monyet?” saut Hanna mendongak ke atas.
Bisma turun dari atas pohon langsung menghampiri Hanna. “lo kalo lempar bola liat-liat dong. Untung gue bisa jaga keseimbangan. Kalo gak gue udah patah tulang karena jatuh dari atas pohon” omel Bisma memegangi punggungnya.
“sorry deh. Lagian lo juga aneh. Sore-sore gini udah ada diatas pohon. Biasa juga pas malam” sungut Hanna. “ Gue lagi bete gak jelas nih. Kemana gitu, yuk!” ajak Hanna.
“gue lagi males jalan. Lo aja bawa mobil gue, sana!” ucap Bisma sambil melemparkan kunci mobil miliknya.
Hanna menangkap kunci itu. “kalo sendirian gue makin bete dong. Mending acak-acak kamar lo aja” saut Hanna memberikan kunci mobilnya dan ia lalu berlari menuju rumah Bisma yang ada di sebelah kanan rumahnya sendiri.
“eh, eh, jangan ngacakin kamar gue. Ntar gue yang kena marah sama mama gue, bukan lo” saut Bisma mencoba menahan Hanna.
“jadi gue mau ngapain? Bosen parah ini. Lagi pengen jalan atau gak ngejahilin orang” keluh Hanna dengan wajah datar.
“yaudah yuk jalan! Kasian juga gue ngeliat tampang lo gitu” saut Bisma menarik hidung Hanna dengan gemas.
“yeay! Let’s go to the beach!” teriak Hanna dengan senang.
“oh, gak. Kita gak sampe pantai. Cukup daratnya aja” saut Bisma naik ke dalam mobil.
“terserah. Yang penting kita jalan-jalan!” teriak Hanna naik ke dalam mobil Bisma dengan wajah ceria.
***
“Han, nitip baju lab ini dong!” saut Bisma mengejar Hanna yang akan keluar kelas.
“loh? emang lo gak bisa bawa sendiri ya?” saut Hanna dengan kesal.
“bukannya gitu. Gue mau ke kantin bentar” jelas Bisma tersenyum meyakinkan.
“yaudah sini-sini. Gue lagi pengen berbuat baik sama lo” saut Hanna mengambil jas lab itu dari tangan Bisma.
“lo emang the best deh. Thanks, Han” ucap Bisma mencium Hanna dari jauh.
“dasar gatal” omel Hanna sambil berjalan.
“Han, kok lo mau sih di suruh Bisma gitu? Bukannya kalian sering berantem ya?” saut laras berjalan di sebelah Hanna.
“biarin aja lah. Gue lagi mau berbuat baik aja” jawab Hanna sekenanya.
“kalian ini aneh ya. Kadang berantem, kadang kompak” saut Laras. “kalian saling suka, ya?” goda Laras.
“apaan sih, ras! Lo ngaco nih. Masih pagi” saut Hanna kesal.
“iya deh, haha” saut Laras tertawa.
Sesampainya di teras laboratorium, semuanya mengabsen kelompoknya masing-masing yang hanya terdiri dari 2 orang. Dengan kesal Hanna menunggu Bisma.
“Hanna, kenapa kamu berdiri di sana?” tanya bu Lia memperhatikan Hanna.
“itu bu. Si Bisma belum sampe sini. Kan saya sekelompok sama dia” jawab Hanna.
“yaudah. kamu tunggu diluar aja” ucap bu Lia sambil masuk ke dalam laboratorium.
Hanna menuju balkon melihat ke lapangan di bawah. Terlihat Bisma sedang santai berjalan di sana. dengan gusar Hanna menepuk-nepukkan tangannya berkali-kali. Bisma yang mendengarnya langsung tersenyum dan balas menepuk tangannya berkali-kali juga. Mereka berdua memang memiliki kode ini untuk memanggil satu sama lain tanpa memanggil nama. Jadi, kalau ada suara tepuk tangan, kedua orang ini selalu mencari asal suara itu. Kalau suara itu dari salah satu di antara mereka, salah satunya akan membalas bertepuk tangan tanda ia mendengar panggilan itu. Aneh kan?
Begitu Bisma sudah sampai, Hanna menyambutnya dengan tatapan galak. “kok lama sih? Liat nih gue ditinggal sendirian di luar”
“siapa suruh lo gak masuk” saut Bisma.
“ini karena lo belum sampe, jadi gue belum boleh masuk karena anggotanya belum lengkap” jawab Hanna sambil memakaikan jas lab itu di badan Bisma. “mana marmutnya?” tanya Hanna.
“sebesar ini lo gak liat? Makanya jangan marah-marah aja” saut Bisma mendekatkan kandag marmut itu ke wajah Hanna.
“yaudah santai. Cepet lo tanda tangan di sebelah nama lo ini. Baik kan gue mau nulisin nama lo?”
“iya, Hanna emang yang paling baik sedunia!” saut Bisma memasang wajah senang namun dipaksa. Lalu ia menandatangani absen itu.
“ini sarung tangan sama masker lo! cepet masuk!” saut Hanna mendorong Bisma ke dalam laboratorium.
Laras menyenggol bahu Fani. “Fan, mereka keliatan cocok ya” ucap Laras tersenyum tipis.
“gue juga mikir gitu. Tapi mereka aneh. Sering berantem, cuma selalu saling melengkapi. Saling benci, tapi mau saling bantu satu sama lain” jawab Fani setuju.
“tapi asik tau liat mereka berantem. Nanti beberapa menit setelah mereka berantem, pasti langsung kompakan. Seru” saut Laras tertawa kecil.
“iya. Gue suka liat pertemanan mereka berdua. Udah bareng-bareng terus sih. Sekelas sampe 8 tahun. Rumahnya sebelahan lagi” balas Fani.
“iya juga. Tapi kenapa sih setiap gue nanya ke Hanna, dia selalu bilang ‘Bisma itu musuh gue. Bukan sahabat gue’?”
“mungkin Hanna belum sadar. Malah gue mikir hubungan mereka lebih dari sahabat. Habis udah keliatan cocok, mesra lagi” saut Fani cekikikan diikuti dengan Laras.
“Fani, Laras! Apa ikan kalian terlihat lucu?” tanya bu Lia yang melihat Fani dan Laras yang sedang tertawa.
“gak bu” jawab mereka bersamaan. Bu Lia hanya mengangguk sekilas dan melanjutkan menjelaskan cara kerja pembedahan hewan hari ini.
***
Hanna menatap marmut yang ada di dalam kandangnya dengan sedih. Sebentar lagi nyawa marmut itu akan pergi. Itu karena binatang ini akan menjadi bahan praktek Biologi hari ini. Mereka akan membedah hewan itu.
“udah gak usah pasang wajah sedih gitu” saut Bisma mendekati Hanna. Mereka sedang berada di ruang laboratorium.
“tapi dia gak ada salah apa-apa. kenapa harus kita bedah? Mending dipelihara. Liat matanya makin kasian” balas Hanna masih memandangi marmut itu.
“dia gak akan masuk neraka kok. Dia pasti tenang di sana” ucap Bisma sedikit bercanda.
“gue gak mau tau ya. Lo aja yang bedah. Gue gak tega” ucap Hanna memberikan kandang itu pada Bisma.
“tapi setelah dibedah, lo ikutan merhatiin organ dalamnya. Ntar kan mau buat laporannya” balas Bisma.
“iya-iya. Udah cepet bius ini marmut. Gue liat dari jauh aja”
Bisma membuka kandang itu. ia menjepit segumpal kapas yang sudah ia berikan alkohol dan mendekatkan kapas itu ke hidung si marmut. Namun setelah berkali-kali diulang, marmut itu masih sadarkan diri.
“Han, lo angkat marmutnya dong! Ini di kasih kapas gini gak mempan. Gue mau suntik pahanya” perintah Bisma.
“yang cepet ya” saut Hanna mengikuti kemauan Bisma.
Dengan hati-hati Bisma menyuntikkan paha marmut itu dengan alkohol. Marmut itu menjerit kesakitan. Hanna langsung memejamkan matanya. Ia tidak tega melihat marmut itu menjerit dan berusaha melepaskan diri dari genggamannya.
“Bis, gue gak tahan” ucap Hanna dengan suara bergetar. Ia sudah menangis.
“yaudah lepasin. Dia udah pingsan” ucap Bisma dengan pelan.
Hanna dengan segera melepaskan marmut itu. Lalu secepat mungkin ia menjauh dari binatang itu. Ia menangis di sudut ruang laboratorium itu. Masih terbayang suara jeritan marmut itu. Hanna tau kalau marmut itu pasti merasa sangat kesakitan.
Setengah jam sudah Hanna duduk di sudut sendirian. Terlihat Bisma mendekatinya. “udah tenang?” ucap Bisma berjongkok dihadapan Hanna.
“lumayan” jawab Hanna singkat.
“udah siap tuh. Sekarang lo perhatiin organ dalamnya, digambar, terus tentuin mana yang paru-paru, jantung, ginjal dan lain-lain. Mumpung jantungnya masih berdetak” ucap Bisma menarik Hanna untuk segera berdiri.
Hanna mengikuti Bisma. Terlihat di sana marmut yang tadi masih bergerak, sudah telentang pasrah. matanya sudah tertutup. Keempat kakinya di tusuk dengan paku. Perutnya sudah tidak berkulit lagi. terlihat disana jantung yang masih berdetak, paru-paru, usus besar, usus kecil, dan lainnya. Hanna menutup mulut dan hidungnya dengan masker. Tercium bau amis darah yang sangat pekat. Perlahan-lahan jantung itu berhenti berdetak.
“Bis, dia udah mati?” desis Hanna pada Bisma yang ada disebelahnya.
“kayanya iya. Sekarang lo pake sarung tangan karet itu, terus tarik itu usus besar, ukur berapa panjangnya. Gitu juga sama usus kecilnya” ucap Bisma tenang.
Dengan patuh Hanna mengikuti semuanya. Ia menyebutkan berapa panjangnya, dan Bisma yang mencatatnya di kertas laporan. Hampir satu jam mereka meneliti, memerhatikan, dan juga menggambar organ dalam marmut itu, hingga bu Lia meneriakkan kalau waktu sudah habis. Semuanya bergegas membereskan peralatan-peralatan yang sudah di pakai. Hanna mencuci penjepit, gunting, dan alas bedah. Sementara Bisma dengan hati-hati memasukkan bangkai marmut itu ke dalam plastik kecil.
“Han, kita kubur dulu yuk sebelum masuk ke kelas selanjutnya” ajak Bisma.
“yaudah ayo” balas Hanna sambil mencuci tangannya hingga bersih.
Bisma dan Hanna berjalan menuju halaman belakang sekolah mereka. Hanna memegang bangkai marmut itu dengan hati-hati, sementara Bisma sedang menggali lubang tempat marmut itu akan dikuburkan.
Setelah bangkai itu dimasukkan ke dalam tanah, Bisma dan Hanna berjongkok menghadap kuburan itu. Mereka berdoa dan mengucapkan terima kasih pada hewan itu karena sudah memberikan ilmu lewat tubuhnya itu dan rela mati demi mereka berdua.
***
“Hanna!” panggil Bisma dari sebelah kiri Hanna. Hanna menoleh dan langsung menjerit histeris karena melihat banyak kecoa di dalam plastik bening yang didekatkan Bisma ke wajahnya.
“Bisma sinting!” teriak Hanna berlari menjauhi Bisma. Dengan geli Bisma mengejar Hanna membuat kelas menjadi gaduh.
Tiba-tiba saja kepala sekolah masuk ke dalam kelas mereka karena mendengar kegaduhan. Dan tepat saat itu juga Hanna berlari ke depan kelas tempat pak Tony berdiri. Dan Bisma yang tidak menyadari kehadiran pak Tony langsung mengejar Hanna sambil menunjukkan kecoa itu hingga membuat Hanna kembali menjerit dengan keras.
“Bisma!! Hanna!! Apa yang kalian lakukan?!” teriak pak Tony marah.
Bisma dan Hanna terdiam kaget memandang wajah pak Tony yang memerah karena emosi. Anak-anak lain juga terdiam dan memandang Bisma dan Hanna dengan kasihan.
“ikut saya ke kantor! Sekarang!” perintah pak Tony dengan keras membuat Hanna lemas.
***
“ini suda keberapa kalinya kalian masuk ke dalam kantor saya?” ucap pak Tony sedikit tenang.
Bisma dan Hanna hanya menggeleng pelan. Mereka sadar kalau mereka sering kali bermasalah dan selalu masuk ke dalam kantor kepala sekolah. Mereka memang terkenal paling nakal dari semua murid di sekolah ini. Tapi itu tidak membuat mereka merasa jera.
“untuk apa kamu membawa kecoa sebanyak ini?” tanya pak Tony sambil menunjukkan plastik yang isinya ada 10 kecoa. Hanna mengernyit dengan jijik.
“itu awalnya buat praktek Biologi, pak. Tapi gak jadi” jawab Bisma.
“lalu kenapa kamu mengejar Hanna dengan membawa kecoa ini?” tanya pak Tony lagi.
“saya cuma mau menjahilinya, pak” jawab Bisma.
“dan kamu, Hanna. Untuk apa kamu menjerit sekuat itu dan membuat kelas sagat gaduh? Suaranya sampai terdengar di sini” ucap pak Tony mengalihkan pandangannya pada Hanna.
“itu karena saya jijik dan gak suka sama kecoa, pak. Saya geli ngeliat kecoa sebanyak itu” jawab Hanna pelan.
“kalau begini, kalian berdua sama-sama salah. Yang satu jahil. Yang satu lagi lebay. Jadi kalian berdua saya hukum berjemur di tengah lapangan upacara hingga istirahat” ucap pak Tony memutuskan.
Bisma hendak memprotes, namun langsung dipotong oleh Hanna. “baik, pak. Kami permisi” Hanna mendorong tubuh Bisma keluar dari kantor itu.
“kenapa sih lo langsung terima hukuman itu?” saut Bisma dengan gusar.
“gue males. Ntar pasti masalahnya jadi tambah ribet” balas Hanna.
“tapi dia gak berhak ngehukum gue kaya gini. Gue yang punya sekolah ini” saut Bisma dengan sombongnya.
“gak ada bedanya lo, gue, atau sama yang lainnya. Gak ada tuh namanya ‘pemilik sekolah’. Semuanya harus sama rata. Lagian kita emang salah” jawab Hanna masih tenang.
“terserah lo aja deh. Kalo emang lo mau dihukum, silahkan berjemur sendirian. Gue males” saut Bisma langsung pergi meninggalkan Hanna.
“Bisma! Ntar lo bakal dapet hukuman yang lebih berat lagi” teriak Hanna.
“bodo amat” balas Bisma singkat.
“gue gak mau tau kalo lo sampe di skors. Gue gak ikutan” teriak Hanna lagi. Bisma hanya mengangkat kedua bahunya menandakan bahwa ia tidak perduli. “Sial!” rutuk Hanna.
***
Esoknya Hanna masuk ke kelas dengan wajah kesal. Mendadak Bisma menjauhinya. Kemarin sore Bisma tidak ada datang ke rumahnya. Biasanya itu adalah rutinitas yang wajib dilakukan Bisma setiap harinya. Ia tidak habis fikir. Apa yang membuat Bisma marah padanya?
“ngapain lo duduk di sini? Sana pindah!” usir Bisma tanpa memandang Hanna.
Dengan gusar Hanna bangkit dari duduknya. “gue juga males duduk sebangku sama lo lagi!” ucap Hanna membuat semua yang ada di kelas sedikit terbengong. Hanya satu yang ada dipikiran mereka semua. ‘kayanya kali ini ribut yang serius!’.
Hanna menatap Laras dengan tatapan memelas. “ras, gue duduk di sebelah lo ya. Fani duduk di sebelah Bisma ya”
Laras menatap Fani yang ada di sebelahnya. Akhirnya Fani tersenyum. “oke, gue pindah”
“thanks banget yah, Fan. Lo emang baik banget” ucap Hanna senang.
Fani hanya mengangguk. Ia mengambil tasnya dan duduk di sebelah Bisma. Bisma hanya diam saja ketika Fani menyapanya.
Bu Lia masuk ke dalam kelas. Ia heran melihat Fani duduk di sebelah Bisma. “ada apa ini? Kenapa Fani dan Hanna bertukar tempat?” tanya bu Lia.
“lagi berantem, bu” ucap anak-anak kompak. Bisma dan Hanna hanya diam karena sedang tidak enak hati.
“Bisma, Hanna! Kalian berantem karena apa?” tanya bu Lia lagi.
“kayanya soal kecoa kemarin, bu” jawab anak-anak kembali bersamaan.
“kecoa? Yang kalian di panggil ke kantor kepala sekolah itu?” tanya bu Lia berharap Bisma dan Hanna yang akan menjawab pertanyaannya.
“betul, bu” jawab anak-anak sambil tertawa kecil melihat kegusaran di wajah bu Lia.
“ya sudahlah. Sepertinya yang namanya Bisma dan Hanna sekarang jadi ada banyak” ucap bu Lia duduk di mejanya. Anak-anak kecuali Bisma dan Hanna tertawa geli.
***
Berhari-hari Bisma dan Hanna tidak saling berbicara. Anak-anak mulai bosan karena sudah lama tidak melihat pertengkaran heboh dan konyol yang seru untuk ditonton. Sebenarnya Bisma dan Hanna juga merindukan hal itu. Tapi mereka sama-sama gengsi untuk saling meminta maaf. Teman-teman yang lain sudah mencoba membujuk Hanna maupun Bisma untuk kembali bersahabat. Namun tanggapan mereka berdua sama, yaitu ‘Tidak mau’ dan berkata kalau ‘mereka tidak pernah bersahabat’.
Akhirnya anak-anak kelas 11-IPA-2 menyusun rencana untuk kembali mempersatukan Bisma dan Hanna. Mereka berbisik-bisik heboh membuat Bisma dan Hanna mau tidak mau merasa penasaran, karena hanya mereka berdua yang tidak di ajak berbisik-bisik bersama.
Keesokan harinya mereka semua memasuki kelas dengan semangat. Hari ini mereka akan menjalankan rencana yang sudah mereka bicarakan kemarin. Semuanya berharap kalau apa yang mereka rencanakan akan berjalan dengan lancar dan berhasil dengan sukses.
TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar