Sabtu, 22 Juni 2013

Bestfriend? (Part 4)

“Han, gimana mama lo kemarin setelah gue kabur waktu itu?” tanya Bisma pada Hanna yang ada di sebelahnya. Mereka berdua sedang berjalan di koridor sekolah menuju kelas mereka.
“kemarin? Maksud lo?” balas Hanna dengan bingung.
“itu loh kejadian tempo hari. Yang waktu lo ngelempar gue pake batu” jelas Bisma membuat kening Hanna berkerut. “otak lo emang punya memori ingatan jangka pendek ya. Baru beberapa hari aja udah langsung lupa” lanjut Bisma meledek.
“Sialan!” Hanna meninju lengan Bisma dengan kesal. “Emangnya salah gue gak bisa inget yang lo maksud? Mungkin hal itu gak terlalu penting buat gue”
“gak terlalu penting? Gue gak yakin” ucap Bisma tersenyum meledek.
“emang kejadian yang mana sih? Jangan buat gue penasaran!” sergah Hanna.
Bisma berhenti berjalan diikuti oleh Hanna dengan bingung. Bisma memasang wajah sangat serius lalu berkata pelan. “yang waktu gue ngunci pintu kamar lo, terus gue nyium lo sampe buat lo ketagihan. Terus mama lo ngeliat semuanya...”
Hanna terdiam beberapa detik untuk mencerna kata-kata Bisma. Tiba-tiba saja ia mengingat apa yang di maksud Bisma. “woy! Gue gak ketagihan! Lagian lo gak nyium gue! sialan lo!” saut Hanna berteriak marah meninju Bisma berkali-kali.
Bisma tertawa keras. Ia berusaha memegang tangan Hanna yang terus memukulnya. “lo mau gue cium beneran?” bisik Bisma tepat di depan wajah Hanna dengan jarak yang sangat dekat.
Hanna melotot marah. “sinting lo!” teriak Hanna menjauhkan wajah Bisma dengan kasar. Dengan kesal Hanna berjalan meninggalkan Bisma.
Bisma memegang perutnya berusaha menahan tawanya yang kembali meledak. Ia sampai terduduk berusaha menahan tawanya itu.
Hanna menghentakkan kakinya dengan kasar. Ia tidak terima dipermainkan seperti itu oleh Bisma. Tiba-tiba saja matanya menangkap sosok Dicky yang sedang memerhatikannya. Namun begitu Hanna melihatnya, cowok itu langsung memalingkan wajahnya. Dengan senyum tipis Hanna menghampiri cowok itu.
“halo, ky” sapa Hanna saat sudah dekat.
Dicky terkejut melihat Hanna yang menyapanya. “halo, Han” balas Dicky tersenyum tipis.
“ngapain lo berdiri disini sendirian? Gak lagi nungguin gue kan?” ucap Hanna tertawa kecil.
“ah, gak. Gue lagi nunggu bu Rita. Tapi gak lewat-lewat. Mungkin udah ada di kantor guru. Gue duluan ya” jawab Dicky tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan Hanna.
Hanna memandang Dicky dari belakang. “kok kesannya Dicky jaga jarak sama gue, ya?” gumamnya pelan. “udah ahh, harus positive thinking!”
“heh! Ngapain lo masih bengong di sini? Udah yuk masuk kelas” saut Bisma merangkul Hanna.
“sok asik lo” saut Hanna berusaha melepas rangkulan Bisma.
“udah gak usah pake ngambek-ngambek lagi. capek berantem terus. Baikan aja deh~” ucap Bisma menarik hidung Hanna dengan gemas.
Hanna mendengus kesal lalu mengusap-usap hidungnya yang mulai memerah. “udah tau capek berantem, tapi malah cari gara-gara” saut Hanna mencubit lengan Bisma dengan kesal.
“lo yang gak bisa diajak bercanda” saut Bisma balas mengacak-acak rambut Hanna.
“eh, gue gak suka diacak-acak rambutnya. Sok romantis lo” saut Hanna ikut mengacak-acak rambut Bisma.
“Lo malah ngikut acak-acak rambut gue. Bilang aja suka gue gituin” ledek Bisma sambil tertawa.
“tuh kan mulai” saut Hanna cemberut.
“iya deh Hanna Putri. Bisma minta maaf yaa” ucap Bisma tersenyum lebar mencubit kedua pipi Hanna.
“yaudah yuk ke kelas! Belnya udah menjerit dari tadi tapi gak kita perdulikan terus” ucap Hanna tersenyum geli menarik lengan Bisma menuju kelas mereka.
Dicky memandang semua kejadian itu dari kejauhan. Ia tersenyum pahit. “apa peluang gue buat bisa ada di samping lo udah gak ada? Apa bisa gue nyerah sama keadaan? Gue rasa gue gak mungkin bisa nyerah secepat itu” bisik Dicky pada dirinya sendiri.
***
Hanna menatap Bisma dengan malas. Bisma dengan santai mengambil botol minum Hanna dan meneguknya sedikit demi sedikit. Hanna memandang Bisma dengan penuh tanda.
Bisma tidak memperdulikan tatapan Hanna. Ia masih asik meminum minuman milik Hanna. Karena sudah tidak tahan lagi, Hanna berdecak kesal. “bisa gak sih kalo minta minum itu izin dulu ke yang punya?”
Bisma menaikkan sebelah alisnya dengan santai lalu kembali meminum minuman Hanna. Melihat hal itu, Hanna berusaha merebut minumnya dari tangan Bisma. Namun dengan senyum licik, Bisma bisa mengalihkan minuman itu sehingga Hanna kesulitan untuk merebutnya.
Dengan kesal Hanna menghampiri tas Bisma dan membongkarnya. Terlihat uang yang lumayan banyak, dan uang tersebut langsung diambil Hanna dengan senyum kemenangan. “yey! Gue dapet duit dong~” ucapnya dengan nada senang.
Bisma melotot melihat semua uangnya sudah ada ditangan Hanna. Dengan sigap ia mengambil tas Hanna dan mengambil dompetnya. “gue juga dapet duit banyak~” ucap Bisma tersenyum meledek sambil melihat isi dompet milik Hanna.
Dengan santai Hanna tersenyum. “tapi duit gue gak sebanyak duit lo yang lagi gue pegang ini~”
“tapi di dompet lo ini ada foto lo waktu kecil kan? Yang lagi...” Bisma sengaja menunda ucapannya sehingga membuat anak-anak satu kelas heboh ingin tahu apa kelanjutan dari kata-kata Bisma.
Hanna melotot tajam ke arah Bisma. “jangan coba-coba ya” desis Hanna.
Bisma terlihat ingin mengambil sesuatu dari dompet Hanna. “gue tunjukin ke anak-anak, atau lo balikin dompet gue” ucap Bisma dengan senyum liciknya yang... AWESOME!
Hanna terdiam sebentar. Ia menimbang-nimbang pilihan dari Bisma. “oke, gue kasih nih dompet lo lagi” ucap Hanna tersenyum tipis memberikan dompet Bisma. Dan Bisma juga mengembalikan dompet milik Hanna.
Saat Bisma memeriksa isi dompetnya, Hanna tertawa keras. Semua uang milik Bisma sudah ada di kantong Hanna. Bisma tersenyum sinis lalu mendekati Hanna dengan pelan tanpa disadari Hanna yang masih tertawa.
Hanna tiba-tiba berteriak keras lalu tertawa geli karena Bisma menggelitiki perutnya. Hanna berusaha membalas, namun tidak pernah ada kesempatan untuk itu. dengan pasrah Hanna berusaha mengeluarkan uang milik Bisma dan memberikannya pada Bisma.
Setelah mendapatkan uangnya kembali, Bisma memberhentikan aktivitasnya dan langsung tersenyum senang. “thank you, Hanna” ucapnya dengan nada meledek membuat Hanna cemberut.
“liat aja. gue bakal balas” ucap Hanna serius namun masih tersenyum tipis.
“lo balas, gue gelitikin lagi” ledek Bisma kembali.
“sialan lo!” saut Hanna menumpahkan minumnya ke rambut Bisma. Hanna tertawa meledek melihat Bisma sedikit basah kuyup. Anak-anak sekelas juga ikut tertawa geli.
“cieee basah.. gak ada kamar mandi yah pak, makanya mandi di sekolah?” tanya Hanna tertawa meledek.
Bisma tersenyum tipis. Ia langsung memeluk Hanna dengan tujuan untuk membuat Hanna ikutan sedikit basah. Hanna berusaha melepaskan diri sambil berteriak-teriak membuat Bisma terkekeh geli. Dan tiba-tiba saja, ada seseorang yang menyiram Hanna dan Bisma dengan air yang cukup banyak. Akibatnya kelas menjadi basah dan licin. Dan akhirnya Hanna dan Bisma pun sama-sama basah.
Hanna terdiam kaget saat setelah disiram. Dengan jengkel ia menatap Bisma. Bisma hanya mengangkat bahunya tanda ia tidak ada niat untuk membuat Hanna basah kuyup seperti sekarang ini.
“Bisma, Hanna!” teriak bu Lia yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kelas. Bisma dan Hanna melotot kaget dan langsung menunduk dengan takut, karena sudah tau apa yang akan dikatakan bu Lia. “Kenapa kalian basah? Kenapa kelas jadi becek? Pasti ini semua ulah kalian! Lagi-lagi berulah. Bereskan kelas ini sekarang juga hingga bersih!” teriak bu Lia lagi. ia benar-benar murka melihat kelasnya sudah hancur lebur.
Bisma dan Hanna menghela nafas. Lagi-lagi mereka harus mengerjakan hukuman tidak penting. Mendadak saja keduanya saling pandang lalu tersenyum licik. Dan tanpa diperintah, kedua orang itu langsung berlari keluar kelas sambil tertawa-tawa.
Bu Lia dan anak-anak yang lain masih sempat terbengong melihat ulah Bisma dan Hanna. Namun beberapa detik kemudian, anak-anak yang lain tertawa geli. Sementara bu Lia mengelus dada berusaha sabar.
***
“Bisma...” panggil seorang perempuan separuh baya itu ketika melihat Bisma berjalan melewatinya.
Bisma menolehkan kepalanya lalu tersenyum. “mama. Ada apa?”
“duduk sini dulu” ucap mama Bisma sambil menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Bisma hanya mengangguk lalu duduk di sebelah mamanya itu. Ia menatap mamanya dengan pandangan bertanya-tanya.
Mama Bisma menghela nafas. “pastikan perasaan kamu sama Hanna, Bis. Setelah itu bilang ke dia” ucapnya pelan.
“untuk apa, ma? Dan apa maksud kata-kata mama?” tanya Bisma dengan heran.
Mama Bisma menutup matanya sebentar. Lalu saat ia membuka matanya, ia tersenyum muram. “turuti saja apa kata mama. Kamu gak mau kecewa, kan?”
Dengan pelan Bisma menggeleng. Ia tetap memandang mamanya dengan tatapan meminta penjelasan. Ia tidak ingin pergi sebelum mendapat keterangan dari mamanya ini. Itu karena permintaan mamanya terdengar sangat aneh.
“baiklah. Mama jelasin semuanya ke kamu” ucap mama Bisma akhirnya menyerah.
***
“Every one can see. There's a change in me. They all say I'm not the same. Kid I used to be~” Hanna bersenandung kecil di balkonnya.
“Don't go out and play. I just dream all day. They don't know what's wrong with me. And I'm too shy to say~” Hanna tersenyum kecil. Ia menyadari lagu itu sama persis dengan yang ia rasakan sekarang ini.
“It's my first love. What I'm dreamin' of. When I go to bed. When I lay my head upon my pillow. Don't know what to do~” Hanna menaikkan sedikit nada bernyanyinya sambil menutup matanya, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya dengan lembut.
“My first love. Thinks that I'm too young. He doesn't even know. Wish that I could show him. What I'm feelin'. 'cause I'm feelin' my first love~” nyanyi Hanna masuk ke dalam kamarnya.
“Mirror on the wall. Does he care at all. Will he ever notice me. Could he ever fall~”
Ia memandang boneka stitch kesukaannya. Kemudian ia kembali melanjutkan nyanyiannya. “Tell me teddy bear. Why love is so unfair. Will I ever find a way. An answer to my prayer~”
“For my first love. What I'm dreamin' of. When I go to bed. When I lay my head upon my pillow. Don't know what to do~” Hanna kembali keluar ke balkonnya.
“My first love. Thinks that I'm too young. He doesn't even know. Wish that I could show him. What I'm feelin'. 'Cause I'm feelin' my first love~ My first love~” nyanyi Hanna dengan kuat mengeluarkan semua emosinya. Ia benar-benar ingin mengungkapkan perasaannya ini pada orang yang ia sukai.
Terdengar suara tepuk tangan dari seberang rumahnya. Hanna menoleh dan melihat Bisma ada di balkon kamarnya dirumahnya sendiri. balkon mereka memang bersebelahan, menghadap ke pekarangan depan rumah masing-masing.
“sejak kapan lo di sana?” tanya Hanna tidak enak.
“sejak lo awal nyanyi” jawab Bisma santai tanpa balas memandang Hanna. “suara lo lumayan juga” lanjutnya.
Hanna menatap ke depan. “thanks” ucapnya singkat.
“kayaknya lo mendalami banget nyanyinya. Lagi ngerasain persis kaya lirik lagunya ya?” tanya Bisma. Kali ini ia menatap Hanna dengan wajah serius.
Hanna menoleh. Ketika ia melihat wajah Bisma yang sedang melihatnya, ia membuang wajahnya kembali menatap ke depan. “lumayan sih”
Bisma menghela nafas berat lalu menatap pekarangan rumahnya. “lo lagi naksir sama siapa? Cowok di kelas kita? Atau kelas lain?”
Hanna sedikit menoleh ke Bisma. “pokoknya ada. Lo gak perlu tau siapa cowok itu”
Bisma masuk ke dalam kamarnya tanpa berkata apa-apa lagi. Hanna menatap kepergian Bisma dengan bingung. “emang gue salah ngomong ya?”
Hanna masuk ke dalam kamarnya lalu turun ke bawah, menghampiri mamanya yang sedang membaca majalah di ruang tengah. “tumben gak ke kantor. Libur?” tanya Hanna heran.
Mama Hanna menatap Hanna dengan heran. Majalah yang ia baca sudah ia letakkan di atas meja dengan keadaan tertutup. “kamu sendiri juga tumben jam segini masih di rumah. Libur?”
Hanna terdiam. Lalu mendadak saja ia menepuk keningnya sendiri kemudian tersenyum lebar pada mamanya. “oh iya. Ini kan hari minggu”
Mama Hanna hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. “bisa-bisanya lupa sama hari. Pasti lagi jatuh cinta”
“apaan sih ma. Gak nyambung” elak Hanna cemberut.
Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan dari pintu depan rumah Hanna. “permisi...” terdengar suara teriakan dari seorang cowok setelah suara ketukan pintu.
Hanna memadang mamanya dengan heran.  Mamanya membalas tatapan itu dengan tatapan menggoda. “mama restuin kok kalo kamu sama dia” ucap mamanya jahil.
“mama ngaco ih!” sungut Hanna sambil berjalan ke depan. Ia membuka pintunya, lalu terlihat wajah Bisma di hadapannya.
“Han, jalan yuk! Gak pake nolak” ucap Bisma menarik tangan Hanna menuju mobilnya.
“eh, tapi ada mama gue di dalam. Masa gak izin dulu” ucap Hanna menolak. Ia sedikit heran dengan sikap Bisma yang terlihat gusar.
“gak papa. Mama lo tadi dengar suara gue pas ngetuk pintu, kan? Dia pasti tau kalo anaknya ngilang karena gue ajak pergi” balas Bisma mendorong Hanna agar masuk ke dalam mobilnya.
“lo kenapa sih? Kok maksa banget?” saut Hanna menatap Bisma yang sudah mengemudikan mobil keluar dari pekarangan rumah Hanna.
“ada sesuatu yang mau gue bicarain” jawab Bisma.
“kenapa harus pergi? Kan bisa di rumah gue, di rumah lo, atau di atas pohon tempat kita biasa nongkrong” saut Hanna tidak terima dengan alasan Bisma.
Bisma hanya diam tidak menanggapi ucapan Hanna. Ia malah menambah kecepatan mobilnya membuat Hanna mencengkeram bajunya sendiri ketakutan. Hanna memilih untuk diam. Sepertinya Bisma sedang tidak suka ditanyai macam-macam.
***
Hanna memandang pemandangan di hadapannya dengan gusar. Bisma membawanya ke atap gedung sekolah. Untung saja cuaca sedang tidak panas terik. Kalau tidak, sudah pasti Hanna akan memarahi Bisma habis-habisan.
“ngapain lo ngajak gue ke sini? Lo aja dari tadi diam terus sampe sekarang” ucap Hanna kesal sambil menatap Bisma yang duduk di sebelahnya dengan mata tertutup.
Bisma menghela nafas. Seperti ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Dari tadi ia diam memikirkan apa yang akan dikatakannya pada Hanna. Akhirnya ia sudah memutuskan untuk berkata yang sejujurnya.
“Han, gue mau pindah ke Aussie” ucap Bisma pelan masih menutup matanya.
Hanna menatap Bisma tak percaya. Ia ingin mengucapkan sesuatu, namun mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara. Matanya sedikit panas.
“2 hari lagi gue berangkat. Gue bakalan pindah sekolah ke sana. Mungkin sampe kuliah. Semua udah diurus sama orangtua gue. Gue juga baru tau soal ini. Mama baru bilang ke gue tadi” Bisma membuka matanya lalu menatap Hanna tepat di matanya.
Hanna masih diam dan hanya menatap Bisma. Ia ingin mendengar semua kata-kata Bisma.
“Lo pasti gak bakalan ngerasa kehilangan gue. Kan udah naksir cowok” ucap Bisma tersenyum tipis.
Hanna menggeleng pelan. Air mulai keluar dari kedua sudut matanya. Ia mulai menangis tanpa suara.
Bisma menatap Hanna dengan heran. Baru kali ini ia melihat Hanna menangis di hadapannya sejak mereka mulai remaja.
“gue gak mau ditinggal..” lirih Hanna masih menangis.
Bisma memeluk Hanna dengan erat. Walaupun mereka sering bertengkar, keduanya memiliki ikatan perasaan yang begitu kuat. Tidak ada yang bisa menjelaskannya, bahkan mereka berdua juga tidak bisa menjelaskannya.
“kalo gue udah sukses, gue balik ke sini kok” ucap Bisma menenangkan Hanna.
“kapan lo suksesnya? Tunggu lo sama gue udah tua?” saut Hanna dalam pelukan Bisma.
“yaelah, doanya jelek banget. Doain gue cepat sukses dong. Biar gue cepat balik ke sini” saut Bisma tak tahan menjitak kepala Hanna.
Hanna menjauhkan diri dari Bisma. “atau gue yang nyusul lo ke Aussie”
Bisma tersenyum tipis. Kemudian ia mengacak-acak rambut Hanna dengan gemas. “jadi hari ini sama besok, kita ngelakuin semuanya berdua. Lupain cowok yang lo taksir itu selama 2 hari ini. Utamain gue dulu”
Hanna menatap Bisma lalu tersenyum mengangguk. “andai lo tau siapa yang gue suka, Bis” gumam Hanna dalam hati.
***
Hanna menatap Bisma yang sedang menutup matanya. Ia dan Bisma sedang duduk-duduk di taman belakang sekolah, di bawah pohon yang cukup rindang untuk cuaca yang terik hari ini.
“If you ever leave me, baby. Leave some morphine at my door. 'Cause it would take a whole lot of medication. To realize what we used to have. We don't have it anymore~” Hanna bernyanyi pelan membuat Bisma membuka matanya dengan terkejut.
“There's no religion that could save me. No matter how long my knees are on the floor, Ooh. So keep in mind all the sacrifices I'm makin'. To keep you by my side. To keep you from walkin' out the door~” lanjut Hanna kali ini memandang Bisma.
“ 'Cause there'll be no sunlight. If I lose you, baby. There'll be no clear skies. If I lose you, baby. Just like the clouds. My eyes will do the same, if you walk away. Everyday it'll rain, rain, ra-a-a-ain~”
Bisma tersenyum pahit, lalu melanjutkan nyanyian Hanna. “I'll never be your mother's favorite. Your daddy can't even look me in the eye. Ooh, if I was in their shoes, I'd be doing the same thing. Sayin' "There goes my little girl. Walkin' with that troublesome guy"~”
Hanna tersenyum tipis mendengar suara Bisma yang begitu khas di telinganya.
“But they're just afraid of something they can't understand. Ooh, but little darlin' watch me change their minds. Yeah for you I'll try, I'll try, I'll try, I'll try. I'll pick up these broken pieces 'til I'm bleeding. If that'll make you mine~” lanjut Bisma menatap Hanna dengan dalam. Matanya menunjukkan sebuah keseriusan.
“ 'Cause there'll be no sunlight. If I lose you, baby. There'll be no clear skies. If I lose you, baby. Just like the clouds. My eyes will do the same, if you walk away. Everyday it'll rain, rain, ra-a-a-ain~” nyanyi Bisma sambil menggenggam tangan Hanna.
“Oh, don't you say (don't you say) goodbye (goodbye). Don't you say (don't you say) goodbye (goodbye). I'll pick up these broken pieces 'til I'm bleeding. If that'll make it right~” nyanyi Hanna diikuti Bisma dengan lirik yang menyelip di lirik utama yang dinyanyikan Hanna.
“ 'Cause there'll be no sunlight. If I lose you, baby. There'll be no clear skies. If I lose you, baby. Just like the clouds. My eyes will do the same, if you walk away. Everyday it'll rain, rain, ra-a-a-ain~” Bisma dan Hanna saling bertatapan, menyanyikan lagu ini dengan penuh penghayatan. Keduanya mengakhiri lagu dengan sempurna.
Setelah selesai bernyanyi, keduanya sama-sama terdiam cukup lama.
“jujur, gue gak mau pergi ke Aussie. Tapi gue gak mungkin bantah perintah orang tua” ucap Bisma pelan sambil memandang langit.
“gue gak masalah kok. Cuma, gue gak nyangka aja kita bakalan pisah” balas Hanna menatap Bisma yang masih memandang langit.
“ayolah, lo jangan mikir kalo seandainya gue gak akan ketemu lo lagi setelah ini” ucap Bisma akhirnya menatap Hanna.
“gak ada yang tau, Bis. Bisa aja waktu gue atau waktu lo uda habis. Atau di masa depan nanti kita gak akan ketemu lagi”
Bisma menghela nafas berat. “berdoa yang terbaik aja”
Hanna mengangguk. “walaupun kita sering berantem gak jelas, sebenernya gue takut kehilangan lo, Bis”
Bisma merangkul Hanna. “lo kira gue gak ngerasa gitu? Kita udah temenan dari kecil. Mana mungkin gak saling takut kehilangan. Gue juga takut buat jauh dari lo”
Hanna memeluk Bisma dengan sedih. “baik-baik di sana. Terus kabarin gue”
Bisma mengangguk pelan. “iya, gue janji, Han” ucapnya lalu mencium puncak kepala Hanna dengan lembut.
***
Dicky menatap Bisma dan Hanna dari kejauhan dengan kesal. Hari ini Bisma dan Hanna terlihat begitu lengket seperti amplop dan perangko yang tidak bisa dipisahkan. Dari pagi mereka selalu bersama-sama.
Tekadnya untuk memisahkan Bisma dan Hanna semakin kuat. Namun ia juga tidak ingin menyakiti hati Hanna. Tapi ia juga tidak ingin sakit hati melihat Bisma dan Hanna terus bersama walau tidak ada hubungan apapun di antara mereka.
Sebenarnya, Dicky sudah memerhatikan Hanna sejak ia kelas 2 SMP. Ia sudah memiliki perasaan yang cukup dalam pada Hanna sejak itu. Ia terus berusaha mendekati Hanna, namun Hanna selalu bersama Bisma dan tidak pernah menyadari kehadirannya. Itulah yang membuat Dicky begitu membenci Bisma.
“Hanna” sapa Dicky menghampiri Hanna yang duduk sendirian di kantin. “tumben” gumam Dicky dalam hati.
“eh, halo ky” sapa Hanna tersenyum tipis. Wajahnya sedikit muram, dan Dicky menyadari itu.
“kok kusut gitu mukanya? Lagi sedih?” tanya Dicky duduk di sebelah Hanna.
Hanna menggeleng pelan lalu kembali tersenyum. “Cuma lagi bete sama guru aja. biasa lah. dihukum mulu. Kaya gak tau aja kerjaan gue kalo di sekolah itu ngapain”
Dicky tertawa pelan. “ngerusuh di sekolah? Buat masalah? Haha. Lo sih gak tobat-tobat”
“males tobat. Mana asik sekolah kalo gak buat masalah” jawab Hanna tertawa.
“hei, Han. Sorry nunggu lama. Toilet penuh banget. Mana pada lama lagi” ucap Bisma mengacak-acak rambut Hanna.
Hanna mengangguk kecil. “gak papa kok. Ada Dicky nih nemenin gue nunggu lo”
Bisma mengalihkan pandangannya pada Dicky. “eh ada lo. thanks udah nemenin Hanna” ucapnya tersenyum tipis.
Dicky menatap Bisma dengan kesal. Ia hanya mengangguk sekilas dengan cuek.
“yuk Han balik ke kelas. Gue lupa kalo ada pr matematika. Dan gue juga belum ngerjain” ucap Bisma menarik Hanna untuk bangkit dari duduknya.
“serius lo ada pr matematika? Gue juga belum ngerjain” balas Hanna panik. “gue males dihukum lagi”
“yaudah makanya cepetan balik ke kelas cari contekan. Gue gak mau hari-hari terakhir gue di sini malah di hukum” saut Bisma tidak sabar.
Hanna berpaling pada Dicky. “ky, gue duluan yah. Bye” ucapnya tersenyum tipis lalu berlari mengejar Bisma.
Dicky terdiam. “hari terakhir? Apa maksud Bisma ngomong gitu? Apa Hanna sedih juga berhubungan sama kata-kata Bisma?” gumam Dicky bertanya-tanya.
***
Hari ini keberangkatan Bisma ke Australia. Hanna pagi ini sudah siap mengantar Bisma ke bandara Soekarno-Hatta. Ia sudah izin untuk tidak masuk sekolah khusus untuk hari ini. Awalnya kedua orangtuanya tidak setuju. Namun mengingat kedekatan antara Bisma dan Hanna membuat keduanya akhirnya mengizinkan Hanna tidak masuk ke sekolah.
Sesampainya di bandara, Bisma bersiap-siap masuk untuk check in. “Han, kita jangan lost contact ya. Pokoknya tetep ada hubungan. Lewat twitter bahkan skype” ucap Bisma menatap Hanna sambil terseyum.
Hanna mengangguk dengan pelan. Ia memeluk Bisma dengan erat. “janji ya kalo kita bakal ketemu lagi”
“iya. Kalo gue gak ke sini, lo yang ke tempat gue. oke?” ucap Bisma mengusap rambut Hanna dengan lembut.
Hannya mengangguk dalam pelukan Bisma. Lagi-lagi ia menangis. “gue bakal kangen banget sama lo, Bis. Siapa lagi teman gue yang bisa gue ajak berantem?”
Bisma tertawa geli mendengar perkataan Hanna. Namun tawanya itu bukanlah tawa yang ikhlas. Ia melakukan itu dengan terpaksa. Semua itu ia lakukan agar Hanna tidak menangis lagi. “yaudah, gue berangkat. Jaga diri baik-baik. Semoga lo bisa jadian sama orang yang lo taksir itu. Gue bantu doa dari sana”
Hanna melepas pelukannya lalu tersenyum. Tentu saja senyum palsu. “gue juga bakalan berdoa supaya lo cepat sukses dan cepat balik ke Indonesia”
Bisma mengangguk lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam bandara. Sudah ada petugas yang menyambutnya untuk memeriksa tiketnya. Namun langkah Bisma terhenti. Ia membalikkan badannya lalu kembali menghampiri Hanna.
“gue sayang dan cinta banget sama lo. Gue mau kita punya hubungan lebih dari ini. Tapi gue rasa kita gak mungkin LDRan. Dan lo juga lagi naksir cowok lain. Jadi, gue bakal move on dari lo. Waktu kita ketemu nanti, mungkin gue udah ngenalin pacar atau istri gue sama lo. Lo juga harus ngenalin suami lo nanti ya” ucap Bisma tersenyum lebar.
Hanna hanya diam mencoba mengerti apa maksud kata-kata Bisma.
“bye, Hanna” ucap Bisma lagi sambil tersenyum ceria. Ia mendaratkan sebuah ciuman tepat di bibir Hanna dengan cepat, lalu masuk ke dalam bandara. Kali ini ia benar-benar masuk tanpa kembali lagi. ketika ia sudah berada di dalam, senyumnya langsung hilang. Ia terduduk sambil menunduk, menyesali keadaan yang sekarang ia alami.
“gue gak mungkin bisa move on dari lo, Han. Gue sayang sama lo dari waktu kita SD. Kenapa lo harus suka sama cowok lain?!” ucap Bisma setengah berteriak.
***
Hanna terduduk lesu di bangkunya. Ia menatap bangku di sebelahnya dengan sedih. Pemiliknya sudah pergi.
Saat melamun, pundak Hanna di sentuh oleh seseorang. Hanna menoleh lalu tersenyum tipis. “hei, ras”
Laras balas tersenyum. “udah lo jangan sedih. Bisma di sana pasti baik-baik aja”
Hanna mengangguk. “pasti kita bakal ketemu lagi” Hanna menunduk. “tapi dia pasti balik bawa istri dan anaknya”
Laras menarik dagu Hanna agar Hanna menatapnya. “bawa istri dan anak? Maksud lo apa, Han?” tanya Laras bingung.
Hanna menghela nafas. “kemarin sebelum dia pergi, dia bilang sama gue kalo dia sebenernya cinta sama gue. tapi dia ngira gue lagi naksir cowok lain. Terus dia gak mau LDRan. Katanya dia mau ngelupain gue terus nyari calon istri di sana” cerita Hanna. “katanya kalo pas ketemu nanti, kita harus saling nunjukin pasangan masing-masing. Padahal...” kata-kata Hanna terhenti. Air matanya kembali keluar.
Laras menatap Hanna dengan iba. “padahal lo juga suka sama dia, kan?” ucap Laras yang tahu apa lanjutan dari kata-kata Hanna.
Hanna mengangguk pelan lalu menangis terisak-isak. “gue bodoh, ras. Waktu dia bilang gitu, bukannya gue bilang kalo gue juga suka sama dia. Tapi gue malah terdiam. Setelah dia pergi, baru gue ngerasa menyesal. Kenapa penyesalan selalu ada di belakang?!”
Laras memeluk Hanna lalu menenangkannya. “udah, lo yang tenang. Gue yakin, dia gak bisa move on dari lo. percaya sama gue, Han”
Hanna mengangguk berusaha meredakan tangisannya. Ia menyesali semua yang telah terjadi kemarin. Ia menyesali kebodohannya sendiri.
***
Dicky berdiri di depan kelas Hanna. Kelas Hanna sudah kosong, karena bel pulang sekolah telah berbunyi. Namun entah kenapa Dicky yakin kalau Hanna belum keluar dari kelasnya. Dan betul saja, Hanna masih duduk di bangkunya sambil menatap bangku di sebelahnya. Tempat Bisma biasa duduk di kelas.
Dicky masuk ke dalam kelas dan menghampiri Hanna. Ia sudah mendengar kabar kalau Bisma pindah ke Australia. Ia akhirnya tau apa maksud kata-kata Bisma 2 hari yang lalu. Dan ia juga dapat menerka kalau Hanna terlihat muram karena hal itu.
“halo, Han” sapa Dicky pelan.
Hanna menoleh pelan lalu ia tersenyum lemah. Matanya terlihat sembab. Keadaannya terlihat begitu buruk. Bahkan ia tidak sanggup membalas sapaan Dicky.
Dicky menarik bangku yang tak jauh darinya lalu duduk tidak jauh dari Hanna. “kenapa lo belum pulang? Sekolahan udah sepi”
Hanna tidak menjawab. Ia hanya memandang kursi kosong di sebelahnya.
Dicky menghela nafas. “gue ikutan sedih liat lo kaya gini. Teman lo gak cuma Bisma, Han. Ada gue. Gue bisa jadi Bisma buat lo”
Hanna memandang Dicky lalu menggeleng pelan. “lo gak boleh jadi siapa-siapa. Lo harus jadi diri lo sendiri” lirih Hanna dengan suara serak.
“gue bisa gantiin posisi Bisma dikehidupan lo. Gue mau jadi partner lo dalam berbuat masalah di sekolah” ucap Dicky bersikeras.
Hanna tersenyum lemah lalu menepuk-nepuk pundak Dicky dengan pelan. “lo jadi diri sendiri aja. Gue berteman sama lo bukan buat jadi pengganti Bisma selama dia pergi. Bukan itu”
“Tell me can you feel my heart beat. Tell me as I kneel down at your feet. I knew there would come a time. When these two hearts would entwine. Just put your hand in mine forever~” Dicky tiba-tiba saja bernyanyi.
Hanna terdiam mendengar suara Dicky. Baru pertama kali ia mendengar suara Dicky. Dan menurutnya, suaranya sangat bagus. Ia terus memandang wajah Dicky.
“For so long I have been an island. When no one could ever reach these shores. And we've got a whole lifetime to share. And I'll always be there, darling, this I swear~” Dicky tersenyum menatap Hanna. Dan Hanna pun balas tersenyum lemah.
Dicky menggenggam kedua tangan Hanna dengan erat. “So please believe me for these words I say are true. And don't deny me a lifetime loving you. If you ask, will I be true' Do I give my all to you'. Then I will say I do~”
“I'm ready to begin this journey. Well, I'm with you with every step you take.  And we've got a whole lifetime to share. And I'll always be there, darling, this I swear~” nyanyi Dicky dengan mengangkat jari telunjuk dan tengahnya sambil tersenyum lebar. Hanna pun ikut tersenyum kecil.
“So please believe me for these words I say are true. And don't deny me a lifetime loving you. If you ask, will I be true. Do I give my all to you. Then I will say I do~” Dicky bernyanyi sambil mengacak-acak rambut Hanna dengan lembut.
“So come on, just take my hand. Oh, come on, let's make a stand for our love. But I know this is so hard to believe, so please~” Dicky menarik tangan Hanna agar memegang tangannya.
“So please believe me for these words I say are true. And don't deny me a lifetime loving you. And if you ask, will I be true. Do I give my all to you. Then I will say I do~” nyanyi Dicky mengakhiri lagunya dengan tersenyum manis.
Dicky memeluk Hanna dengan tiba-tiba membuat Hanna terkejut. “gue gak suka liat lo sedih gini. Gue bakalan berusaha buat lo tersenyum lagi. gue bakalan selalu ada di samping lo. selalu, Han” ucap Dicky serius.
Hanna tersenyum mendengar kata-kata Dicky. “gue percaya sama lo, ky” ucap Hanna lalu balas memeluk Dicky. Perasaan nyaman mulai menyergapnya.
TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar