Sabtu, 22 Juni 2013

Bestfriend? (Part 3)

Hanna berlari tak tentu arah di koridor sekolahnya. Guru-guru yang melihatnya sedikit heran. Hari ini adalah hari kedua Ujian Semester Genap. Menentukan naik kelas atau tidaknya murid-murid di sekolah ini. Dan sekarang ia telah diusir saat ulangan Fisika! Bagaimana rapornya nanti? Apa ia akan naik kelas?
Bruk!!! Hanna menabrak seseorang dengan cukup keras. Ia menengadah menatap orang yang ia tabrak. “maaf” ucap Hanna singkat lalu kembali berjalan cepat menyusuri koridor hingga ia sampai di taman belakang sekolahnya.
Orang yang ditabrak Hanna masih terdiam di tempatnya. Ia menatap punggung Hanna seakan terpesona. “Duo biang masalah, Hanna Putri” ucap orang itu tersenyum tipis.
***
“Hanna! Tunggu dulu” saut Bisma menarik lengan Hanna ketika Hanna hendak bangkit dari duduknya. Bakso yang ia pesan tadi belum habis. Selera makan Hanna sudah menghilang karena Bisma datang menghampirinya.
Hanna menyentak tangan Bisma agar melepas pegangannya pada tangannya.
“Han, gue minta maaf sama lo” ucap Bisma masih menggenggam tangan Hanna dengan erat.
“gak ada yang perlu dimaafkan” ucap Hanna dingin tidak mau menatap Bisma.
“gue bakal ngelakuin apa aja buat nebus kesalahan gue tadi” ucap Bisma masih memohon.
“apa yang bisa lo lakuin kalo gue gak bisa ikutan ulangan fisika? Lo bisa rubah nilai di rapor gue nanti? Apa lo bisa buat gue naik kelas?” ucap Hanna tersenyum kecut.
Bisma terdiam. Ia bersimpuh di depan Hanna yang sedang berdiri. “gue tau gue gak akan bisa ngelakuin itu. tapi gue bisa minta kesempatan sama bu Nina supaya ngasih lo ujian susulan. Kalo perlu gue sujud di kaki lo sama di kaki bu Nina”
“mau lo cium kaki gue, mau lo jilat kaki gue, gue tetep gak maafin lo, Bis. Malu gue!”
“Han, lo serius?”
“gue gak pernah se-serius ini. Gue gak minat buat deket sama lo lagi. Lupain semuanya. Gue nganggep lo bukan siapa-siapa gue lagi” ucap Hanna dingin lalu meninggalkan Bisma.
Bisma masih bersimpuh. Ia terdiam mendengar ucapan Hanna. Apa kedekatan mereka akan berhenti sampai di sini?
Semua orang yang ada di kantin ikut terdiam. Duo biang masalah terkena masalah. Sepertinya ribut kali ini akan lebih parah dari yang sebelumnya.
***
“Hanna!” teriak seseorang membuat Hanna berbalik.
“siapa ya?” tanya Hanna dengan pelan karena ia tidak mengenal cowok dihadapannya ini.
“Dicky. anak kelas 11-IPS-1” ucap cowok itu mengulurkan tangannya.
“Hanna. Kelas...”
“gue udah tau lo siapa. Lo gak perlu ngenalin diri lagi. Hanna si duo biang masalah” ucap Dicky tersenyum kecil.
Hanna menipiskan bibirnya. “kayanya gue udah gak nyandang julukan itu lagi deh”
“loh? kenapa? Ribut sama Bisma?” tanya Dicky penasaran.
“gak perlu buat di bahas. Byee” ucap Hanna dengan senyum tipis lalu pergi meninggalkan Dicky.
“I will catch you, Hanna” gumam Dicky pelan sambil tersenyum senang.
***
“Han, please kasih gue kesempatan” ucap Bisma menatap Hanna yang duduk di sampingnya. Ujian kedua di hari kedua akan berlangsung. Pelajaran Bahasa Indonesia. Namun guru yang mengawas belum juga datang.
Hanna hanya diam sambil membaca buku Bahasa Indonesia-nya. Orang-orang yang ada di dalam kelas langsung berbisik-bisik seru.
“gue janji gak akan pinjam apa-apa dari lo lagi. gue bakal beli alat tulis yang lengkap. Gue gak akan ganggu lo lagi. maafin gue, ya?” ucap Bisma dengan wajah memelas.
Hanna berdiri dari bangkunya dengan kasar. Ia keluar dari dalam kelas tanpa menatap Bisma sama sekali. Namun ketika Hanna keluar, ia melihat Pak Ronald berjalan ke arah ruangannya. Dengan sedikit terburu-buru ia menghampiri pak Ronald.
“Hanna, apa yang kamu lakukan? Ujian mau dimulai tapi kamu masih berkeliaran diluar ruang ujian” tegur pak Ronald.
“pak, saya mohon dengan sangat, pak. Tolong pindahin saya jauh dari Bisma mulai saat ini sampai seterusnya. Dia selalu mengganggu saya ketika ujian. Saya jadi gak konsentrasi ngerjainnya” ucap Hanna dengan wajah memohon.
“apa benar dia mengganggumu?” tanya pak Ronald heran. Ia merasa sedikit aneh melihat Hanna yang merasa tidak suka berdekatan dengan Bisma.
“iya, pak. Karena dia saya jadi diusir sama bu Nina waktu ulangan Fisika. Saya takut nilai saya turun pak. Saya mau naik kelas” jawab Hanna masih memohon.
Pak Ronald terlihat sedang berfikir. “baiklah. Kita masuk dulu dan saya akan lihat kondisi ruang ujiannya gimana. Baru saya bisa memindahkan kamu” ucap pak Ronald berjalan masuk ke dalam kelas.
Hanna berjalan di belakang pak Ronald lalu ia duduk di tempatnya. Ia membereskan semua buku-buku yang berserakan diatas mejanya lalu memasukkannya ke dalam tas.
“kok beres-beres sih? Lo mau kemana? Lo dikasih ikut ujian sama pak Ronald, kan?” tanya Bisma heran.
Hanna mengacuhkan Bisma. Ia duduk dengan manis menunggu perintah dari pak Ronald.
“anak-anak. Sekarang kita akan ujian Bahasa Indonesia. Tapi sebelum itu saya mau memindahkan Hanna ke...” pak Ronald melihat-lihat susunan bangku di ruangan ini. “ke sebelah Rosa. Jadi Leni, kamu pindah ke tempat Hanna” lanjutnya.
Hanna memamerkan senyum lebarnya pada pak Ronald. “makasih pak” ucap Hanna dengan tulus lalu berdiri dari duduknya.
“yasudah. Cepat kalian bertukar tempat. Sudah banyak waktu berkurang hanya karena ini” ucap pak Ronald dengan tegas. “untuk hari ini, besok, dan seterusnya, posisi kalian jangan berpindah-pindah lagi!”
“siap pak!” jawab semuanya. Tapi yang paling terdengar suaranya adalah suara Hanna yang penuh semangat.
Bisma sedikit melirik ke belakang menatap Hanna. “kok lo pindah sih?” ucapnya lirih.
Hanna yang sebenarnya mendengar ucapan Bisma pura-pura tidak mendengar. Ia sibuk menulis biodatanya di lembar jawaban.
“sial! Sampe kapan dia gak kacangin gue lagi?!” ucap Bisma dengan geram.
“ada apa, Bisma?” tanya pak Ronald yang kebetulan sedang membagi lembar jawaban untuk Bisma.
“eh, gak papa kok pak” jawab Bisma menerima lembar jawaban.
“Bis, buat luluhin hati cewek, lo harus terus kasih perhatian sama dia” bisik Leni tanpa melirik Bisma.
Bisma yang sedang mengisi lembar jawabannya langsung melirik Leni. “apa maksud lo?”
“gue kasih saran buat lo supaya lo bisa baikan lagi sama Hanna” jawab Leni.
“kasih perhatian sama Hanna? Emang gue mau pdkt sama dia?” saut Bisma menaikkan kedua bahunya dengan acuh.
“emang kalo kasih perhatian lebih ke cewek cuma karena mau pdkt sama itu cewek? Basi pemikiran lo, Bis” desis Leni dengan ketus.
Bisma menatap lembar jawabannya cukup lama. Lalu tiba-tiba saja ia tersenyum tipis. “thanks buat sarannya, Len” ucap Bisma. Leni hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
***
“na, lo udah belajar?” saut Bisma mengejar langkah Hanna.
Hanna hanya diam dan mempercepat langkahnya untuk sampai ke kelas.
“gue yakin lo pasti bisa ulangan kimia ini. Lo kan jago banget pelajaran ini. Ajarin gue dulu dong sebelum ujian di mulai” ucap Bisma lagi mensejajarkan langkahnya dengan langkah Hanna.
Hanna berhenti mendadak. Bisma langsung tersenyum senang.
“selamat pagi, pak” ucap Hanna menunduk hormat pada gurunya yang akan mengawas ujian diruangan mereka hari ini. Bisma terdiam melihat Hanna berjalan masuk ke dalam kelas tanpa menghiraukannya sama sekali. Ternyata Hanna belum memaafkannya.
***
“Hanna! Main sama Bisma yuk~” teriak Bisma dari depan rumah Hanna seperti seorang anak kecil yang mengajak temannya bermain bersama.
Tidak ada jawaban dari Hanna. Bisma terus memanggil-manggil nama Hanna sambil menggedor-gedor pintu rumah Hanna berulang kali membuat sore ini menjadi penuh keributan. Namun tetap saja Hanna tidak keluar. Ia mundur dari teras rumah Hanna lalu berteriak keras-keras memanggil Hanna.
Tok!!! Bisma mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya. Ia melihat ke atas. Terlihat Hanna sedang berdiri di balkon kamarnya sambil memegang batu kecil. “Hanna! Tega banget ngelempar batu ke kepala gue. Kalo gue gegar otak, gimana?”
“berisik!” ucap Hanna melempar kembali batu kecil itu ke arah Bisma. Namun ia sengaja tidak mau mengenai Bisma.
Bisma menghindar dari lemparan Hanna lalu kembali melihat ke atas. Hanna sudah menghilang dari balkon itu.
“Hanna! Keluar dong! Masa gue dibiarin disini sendirian sih?” teriak Bisma memancing Hanna agar keluar.
“gue dobrak nih pintunya kalo lo gak keluar juga” lagi-lagi Bisma berteriak. Ia menunggu sebentar, namun Hanna tidak juga muncul. “oke! Gue dobrak ya. Satu, dua, ti....” Bisma berlari kearah pintu dengan kencang, bersiap mendobrak pintu.
Hanna membuka pintu saat Bisma mencapai pintu tersebut. Dan Bisma tersungkur di dalam rumah Hanna dengan sukses. Hanna berusaha menyembunyikan tawanya.
“astaga.. hari ini gue sial banget ya” sungut Bisma sambil bangkit berdiri.
Hanna memasang wajah acuh tak acuh saat Bisma menatapnya.
“akhirnya lo mau juga nemuin gue” ucap Bisma tersenyum lebar.
“siapa yang mau nemuin lo? Pergi atau gue panggil semua tetangga karena lo mau macem-macem sama gue, biar lo digebukin satu komplek!” ucap Hanna dingin.
“eh, kok gitu? Gue kan gak ada niat buat macam-macam” saut Bisma heran.
“oke.. TOLONG!!!” teriak Hanna membuat Bisma kalang kabut. Dengan cepat ia menarik Hanna masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu rumah Hanna dan menguncinya. Hanna melotot kaget.
“ngapain lo ngunci pintu rumah gue?!” saut Hanna.
“biar gak ada yang bisa dateng ke sini” ucap Bisma tersenyum tipis. “karena lo udah nuduh gue mau macem-macem, gue bakal ngelakuin itu” lanjut Bisma degan senyum jahilnya.
“Bisma! Lo jangan main-main!” teriak Hanna mundur.
“lo yang mulai duluan. Jadi gue yang mengakhiri” balas Bisma masih tersenyum.
Bisma memojokkan Hanna hingga punggung Hanna menyentuh tembok. Hanna menutup matanya ketakutan saat Bisma mendekatkan wajahnya pada dirinya. Ia bersiap mendorong tubuh Bisma.
“Bisma! Kamu ngapain?” tanya seorang perempuan setengah baya kebingungan.
Bisma langsung menjauhkan dirinya dari Hanna. Bisma dan Hanna menatap takut kearah perempuan itu.
“Hanna, lo kok gak bilang kalo mama lo ada disini?” desis Bisma ketakutan.
“gue juga lupa, dodol” balas Hanna berbisik.
“mampus gue...” ucap Bisma berbisik pada dirinya sendiri. “kita cuma main-main tante, hehe” jawab Bisma takut.
“mainnya kok gitu? Kamu lagi, Hanna. Ngapain itu pintu ditutup?” tanya mama Hanna dengan tampang ketus.
“aduh, itu maksudnya biar gak ada maling masuk maa” ucap Hanna memelas.
“saya permisi ya tante” ucap Bisma membuka kunci pintu lalu berlari keluar. Ia sempat melirik Hanna lalu tersenyum geli.
“Bisma bego!!!” teriak Hanna kesal.
“kalian ini memang temenan dari kecil. Tapi ya jangan keterlaluan. Sekarang kamu jelasin apa yang kamu lakuin tadi sama Bisma!” ucap mama Hanna dingin.
“Bisma, gue makan juga lo” desis Hanna menunduk tak berani menatap mata mamanya.
***
“Len, bantuin gue plis” ucap Bisma di saat istirahat.
“apaan? Bantuin ujian biologi? Lo tau gue lemah banget sama hal itu” saut Leni.
“bukan. Bantuin gue supaya rencana gue sukses. Ini mungkin bisa bikin gue sama Hanna baikan lagi” bisik Bisma.
“emang apaan sih rencana lo?”
“jadi...” Bisma mulai menceritakan rencananya pada Leni dengan suara yang benar-benar pelan. Ia tidak mau ada yang menggagalkan rencananya ini. Setelah Bisma selesai menjelaskannya pada Leni, Leni tersenyum kecil lalu berjalan ke luar kelas.
Bisma berdiri dari bangkunya dan menghampiri Hanna yang sedang belajar. “Han, kantin yuk!” ajak Bisma.
Hanna diam saja. Matanya ia tutup namun mulutnya mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan biologi. Sepertinya Hanna sedang menghafal materi ujian.
Bisma menarik tangan Hanna dengan lembut. “ayolah, Han. Mau sampe kapan lo marah sama gue?”
Hanna langsung membuka matanya lalu menyentakkan tangannya dengan kasar. “jangan sentuh gue!” desis Hanna tajam lalu berjalan keluar dengan langkah cepat.
Bisma tersenyum kecil. Ia segera menyusul Hanna. Ia melihat Leni berdiri tak jauh dari tempatnya dan Hanna yang sedang berjalan. Sepertinya Hanna tidak menyadari ada jebakan yang akan menghampirinya.
Leni mengangkat jempol kanannya keatas memberikan tanda pada Bisma. Bisma hanya mengangguk sekilas. Terlihat Hanna masih berjalan cepat tanpa menyadari kalau ada dua buah kulit pisang di hadapannya. Tanpa bisa dihindari lagi, Hanna menginjak kulit pisang itu dan langsung terpeleset. Dengan cepat Bisma mendekati Hanna untuk menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh. Namun ia kalah cepat dengan seseorang.
Hanna menutup matanya bersiap menerima rasa sakit. Namun ia malah merasa ada seseorang yang menahannya agar tidak jatuh. Apa itu Bisma? Dengan perlahan ia membuka matanya dan terlihat wajah seseorang yang tersenyum padanya.
“hati-hati. Jangan asal jalan. Liat-liat dulu” ucap seseorang itu tertawa geli. Wajah mereka sangat dekat.
Dengan cepat Hanna melepas pegangan seseorang itu dan berdiri tegak. Ia sedikit terpesona dengan wajah cowok di depannya ini. Apalagi saat melihatnya dari dekat tadi. Tiba-tiba saja ia menyukai mata cowok ini.
“thanks yah. Lo Dicky, kan?” ucap Hanna memastikan.
“iya. Masih inget ya sama gue, haha” ucap Dicky tertawa.
“masa iya gue lupa sama lo” ucap Hanna tersenyum kecil. Tiba-tiba saja ia menatap lantai dan menemukan apa yang membuatnya terpeleset seperti tadi. “siapa sih yang buang kulit pisang sembarangan?” omel Hanna.
“paling ada monyet gak tau aturan yang nyasar di sekolah ini” ucap Dicky tersenyum geli. Lalu ia melirik sekilas ke arah Bisma dengan tatapan sinis.
“monyet? Ada-ada aja lo. yaudah yuk ke kantin. Sebagai rasa terima kasih aja sih. Mau kan?” ucap Hanna tersenyum kecil.
“mau traktir gue nih? Dengan senang hati” jawab Dicky lalu menggandeng Hanna dengan lembut menuju kantin. Hanna sedikit risih, namun ia sedikit memakluminya. Mungkin cowok ini tidak sengaja menggenggam lengannya.
Bisma menatap itu semua dengan geram. Apalagi ia melihat kesinisan di mata Dicky ketika melihat ke arahnya. Sepertinya Dicky tau kalau ia yang merencanakan ini semua.
Leni menghampiri Bisma dengan wajah menyesal. “Bis, sorry ya. Gue gak tau kalo ada orang di dekat Hanna yang bakalan nolongin dia”
Bisma tersadar lalu menatap Leni. “no problem, Len. Thanks udah mau bantuin gue” ucap Bisma tersenyum tipis.
Leni meninggalkan Bisma. Bisma masih terdiam di tempatnya memikirkan semuanya. Sepertinya Dicky tidak senang melihatnya bersama Hanna. Pasti ia ingin memisahkan dirinya dengan Hanna. Ia tidak ingin itu semua terjadi. Bagaimanapun juga ia merasa tidak bisa berbuat apa-apa tanpa ada Hanna yang selalu ada di sampingnya. Hanya Hanna yang mebuatnya merasa nyaman. Tidak ada yang lain lagi.
***
Dicky memunculkan wajahnya di depan kelas Hanna dengan wajah ceria. Ia sibuk mencari-cari Hanna. Namun matanya menangkap tubuh Bisma yang menutupi Hanna. Sepertinya Bisma sedang berusaha mencari perhatian dari Hanna.
“Hanna! Kantin yuk” teriak Dicky dari depan kelas.
Hanna berdiri dari bangkunya lalu tersenyum tipis. Ia berjalan menghampiri Dicky, menghiraukan Bisma yang terus membujuknya untuk kembali berbicara dengannya.
“tumben lo nyamperin gue ke kelas” ucap Hanna.
“yah begitulah. Gue lagi pengen bareng sama lo. gak lagi sibuk kan?” jawab Dicky tersenyum kecil.
“gak kok. Malah gue bersyukur lo muncul sekarang. Yaudah yuk jalan” balas Hanna berjalan keluar kelas.
“Hanna! Kenapa lo langsung mau diajak ke kantin bareng dia? Dia baru lo kenal, Han. Gue yang bertahun-tahun kenal sama lo malah lo cuekin kaya gini. Buka mata lo, Han!” teriak Bisma emosi. Namun Hanna tidak memperdulikannya. Dicky menarik Hanna untuk cepat-cepat menjauh dari Bisma.
“sial! Hanna sinting!” teriak Bisma menendang meja-meja di dekatnya.
“sabar, bis. Gue yakin Hanna pasti ngerasa gak betah musuhan lama-lama sama lo” ucap Laras menepuk-nepuk bahu Bisma.
“gue udah ngelakuin apa aja. gue udah mohon-mohon sama dia buat maafin gue! Apalagi yang harus gue lakuin?!” ucap Bisma mengacak-acak rambutnya frustasi.
“gimana kalo lo nyanyiin dia? Biasanya cewek langsung luluh kalo dinyanyiin” ucap Laras memberi saran.
“nyanyi?” gumam Bisma seperti memikirkan sesuatu. Wajahnya langsung berubah menjadi cerah. “Yes! Thank you for your idea, Laras”
“anything for you and Hanna” jawab Laras tersenyum tipis. “kita semua seneng kalian balik jadi sahabat lagi. apalagi lebih dari itu”
Bisma menoleh heran. “maksud lo?”
“you know what I mean, Bisma. Gue bisa liat itu semua” ucap Laras tersenyum geli. “Rani, toilet yuk! Bentar lagi Miss Afni masuk” lanjut Laras berbicara pada Rani. Rani hanya mengangguk dan tersenyum kecil begitu melewati Bisma. Ia memiliki pikiran yang sama dengan apa yang baru saja diucapkan Laras.
Bisma masih memikirkan kata-kata Laras. Apa semuanya begitu terlihat jelas?
***
Tiga hari berturut-turut Bisma tidak memohon-mohon lagi dengan Hanna. Ia sibuk mempersiapkan sesuatu. Sesuatu yang akan ia persembahkan untuk sahabatnya itu. Walaupun sederhana, ia merasa kerepotan juga. Apalagi ia harus meminta izin pada kepala sekolah dan guru-guru. Sesuatu yang sangat susah bagi Bisma.
Hanna menatap punggung Bisma seakan bisa menembus tubuh itu dari tempat duduknya. Ia merasa kesepian. Bisma sudah tidak lagi mengejar-ngejarnya berusaha mendapatkan maaf darinya. Tapi tiba-tiba saja Dicky menjadi teman sepermainannya. Ia mulai sering bersama-sama dengan Dicky kemana saja. Yang selalu Bisma lakukan saat dulu mereka masih dekat.
Bisma menoleh sekilas ke belakang merasa di tatap dengan tajam oleh orang lain. Namun ia tidak tahu siapa yang menatapnya sedari tadi. Semuanya sibuk mengisi lembar jawaban ujian. Wajah-wajah mereka penuh semangat, karena ini adalah mata ujian terakhir yang diujiankan. Setelah ini mereka akan bebas sambil menunggu pembagian rapor kenaikan kelas.
Tapi Bisma dapat merasakan ada seseorang yang berwajah tidak semangat. Dan mungkin dia-lah yang sedari tadi memperhatikannya. Bisma kembali menoleh dan menatap Hanna tajam. Terlihat Hanna duduk dengan gelisah tanda kalau ia sadar Bisma sedang menatapnya.
Bisma menyunggingkan senyumnya dengan senang. Ia kembali menatap lembar jawabannya. Tapi pikirannya sudah pergi entah kemana. Ia tidak sabar menunggu pulang sekolah nanti untuk menjalani rencana keduanya.
***
Hanna berjalan perlahan-lahan sepanjang koridor dengan wajah tersenyum namun setengah tidak senang. Di sebelahnya, Dicky bercerita panjang lebar tentang pengalamannya yang menurutnya akan membuat Hanna tertawa. Tapi memang karena Hanna sedang tidak bisa diajak tertawa, Hanna hanya tersenyum kecil menanggapi kata-kata Dicky.
“Tes, tes!! Tolong semua perhatiannya ke arah sumber suara. Kalau bisa semuanya ke sumber suara ini” ucap seseorang dengan suara serak-serak basahnya yang begitu khas menggunakan microphone. Suaranya terdengar jelas ke seluruh penjuru sekolah ini.
Hanna merasa mengenali suara itu. ingin sekali ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke lapangan basket, tempat sumber suara tersebut. Namun ia tetap berusaha terus berjalan menuju gerbang sekolah.
Dicky melirik Hanna. Ia bisa melihat kegelisahan gadis itu. Pasti Hanna ingin melihat pemilik suara itu, walaupun ia sudah tahu siapa orang yang memiliki suara khas itu. Tapi sepertinya Hanna menahan dirinya untuk tidak pergi ke sana. Seperti yang Dicky harapkan.
“yang namanya Hanna Putri anak kelas 11-IPA-2, tolong ke sumber suara” ucap suara itu.
Hanna menghentikan langkahnya. Jantungnya berdetak tidak karuan. Ia merasa begitu senang mendengar suara itu menyebut namanya dengan sangat lengkap.
Dicky perlahan menyentuh pundak Hanna membuat gadis itu menoleh. “lanjut jalan?” tanya Dicky dengan senyum tipisnya.
Hanna menatap Dicky penuh keraguan. Ia bisa melihat di kedua mata Dicky kalau cowok itu tidak menginginkan ia kembali ke belakang, menghampiri pemilik suara itu. Tapi...
“apa gue perlu sebutin alamat rumah lo supaya lo yakin kalo lo yang gue maksud?” ucap suara itu lagi terdengar begitu lembut.
Dicky menghela nafas dengan berat. “kalo lo mau kesana, cepat! Gak usah ragu. Punya musuh itu gak enak, kan?” ucap Dicky tersenyum tulus.
Hanna memegang tangan Dicky yang ada di pundak kanannya. “gue tetep berteman sama lo, ky. Jangan pernah lo berpikir kalo gue bakalan berhenti temenan sama lo kalo seandainya gue baikan sama Bisma” ucap Hanna dengan wajah serius.
“gue gak mikir tentang itu kok. Gue tau hari-hari lo lebih berwarna sama Bisma. Lo pasti ngerasa bosen banget sama gue” jawab Dicky tertawa kecil.
“ky, gue gak pernah ngerasa bosen sama lo” balas Hanna tidak enak.
“udah gak usah banyak basa-basi. Cepat samperin Bisma sebelum terlambat. Penyesalan selalu ada di belakang, Han” ucap Dicky menepuk-nepuk pundak Hanna.
Hanna menatap Dicky sedikit ragu. Namun akhirnya ia mengangguk sambil tersenyum, dan ia berjalan menghampiri asal suara itu.
Dicky menatap punggung Hanna sambil tersenyum tipis sampai punggung itu tidak terlihat lagi dari tempatnya berdiri. Dengan pelan ia melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Tidak ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Bisma yang pasti akan membuatnya merasa lebih sakit dari sebelumnya.
***
Bisma tersenyum kecil melihat Hanna berjalan ke tempatnya. Sekarang ia sedang berada di atas sebuah panggung kecil yang ia siapkan sejak dua hari yang lalu. Di tangannya terdapat sebuah gitar kesayangannya. Di depannya terdapat sebuah microphone yang ditempatkan di sebuah stand mic yang ia pinjam dari ruang kelas musik.
Orang-orang yang sedang berkumpul di lapangan basket itu melihat Hanna yang sedang berjalan menuju kerumunan itu. Tanpa diperintah, semua orang di sana memberi jalan untuk Hanna. Hanna sedikit risih menjadi pusat perhatian seperti ini.
“oke. Karena orang yang dimaksud sudah ada dihadapan gue, gue mau nyampein maksud yang akan gue lakuin ini” ucap Bisma dengan santai. Ia tidak merasa gerogi sama sekali, karena ia menganggap kalau yang ada dihadapannya ini hanyalah Hanna. Tidak ada orang lain selain mereka berdua.
“gue ngelakuin ini karena gue mau minta maaf sama seorang sahabat gue yang udah cuekin gue selama berhari-hari” ucap Bisma menatap Hanna dengan lembut. “gue akuin, gue emang salah. Apa salah gue? Kayanya itu terlalu pribadi buat gue ucapin di depan umum kaya gini” lanjut Bisma tertawa kecil.
“terlalu pribadi? Lo ngelakuin macem-macem ke sahabat lo ini ya?” celetuk seseorang dari barisan belakang membuat wajah Hanna merah padam menahan malu dan marahnya.
Bisma tertawa geli. “ya bukan lah. gue emang tengil, bandel, dan rusuh. Tapi gue gak bejat kaya lo” balas Bisma.
Semua yang mendengar kata-kata Bisma tertawa keras. Hanna hanya menunduk diam, merasa yang dikatakan Bisma tidak ada lucunya sama sekali. Laras menepuk punggungnya. “gak usah nervous”
Hanna tersenyum kecil menanggapi kata-kata Laras.
“Rencana ini bukan sepenuhnya ide dari gue. Thanks buat Laras yang udah kasih saran ke gue” ucap Bisma tersenyum tipis menatap Laras. Setelah Laras balas tersenyum, Bisma mengalihkan pandangannya kepada Hanna. “dan tanpa basa-basi lagi, gue mau nyanyiin sebuah lagu untuk sahabat gue ini. Simak yaa” ucap Bisma tersenyum geli mendengar sahutan anak-anak yang lain.
“I can’t win, I can’t wait. I will never win this game without you, without you. I am lost, I am vain, I will never be the same without you, without you~” nyanyi Bisma sambil memainkan gitarnya dengan santai.
“I won’t love, I won’t fly. I will never make it past without you, without you. I can’t rest, I can’t lie. All I need is you and I, without you. Without~ You! You! You! You! You! You! You! You!” Bisma bernyanyi dengan sesekali menunjuk Hanna dengan senyumannya yang begitu khas. Hanna tersenyum kecil sedikit merasa malu.
“Can’t erase, so I’ll take blame. But I can’t accept that we were strange without you, without you~” Bisma memainkan gitarnya, menuruni panggung kecil itu dan menghampiri Hanna. Hanna menampakkan wajah kagetnya saat Bisma menarik tangannya ke arah panggung kecil tersebut. Namun akhirnya ia mau ikut naik ke atas panggung itu.
Bisma menatap Hanna dengan sangat dalam dan mampu membuat Hanna tiba-tiba saja mendapat serangan jantung. “I can’t quit now, this can’t be right. I can’t take one more sleep this night without you, without you~”
“I won’t sob, I won’t cry. If you’re not here, I’m living life without you, without you~” Hanna bernyanyi menyambung nyanyian Bisma, membuat Bisma terperangah kaget. Wajah mereka berdua sangat dekat karena mereka berdua hanya memakai satu microphone.
“I can’t look, I’m so blind. Lost my heart, I lost my mind without you. Without~ You! You! You! You! You! You! You! You!” Bisma menyanyi dengan senyum yang mengembang dengan lebar.
“I am lost, I am vain, I will never be the same without you, without you, without you~” nyanyi mereka berdua sambil saling menatap satu sama lain. Semua penonton bertepuk tangan dan berteriak menyebut-nyebut nama mereka berdua.
Hanna menjauhkan wajahnya dari Bisma dan berdiri canggung. Ia tidak menyadari apa yang telah ia lakukan tadi. Tiba-tiba saja ia ikut menyanyi bersama Bisma. Namun perasaannya terasa sangat lega seakan beban yang selama ini ada di dirinya, menghilang begitu saja.
Bisma tersenyum menatap Hanna, menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.  Ia telah meletakkan gitarnya. Microphone itu sudah ada ditangannya. “jadi, apa Hanna Putri bersedia memaafkan kesalahan Bisma Karisma?”
“maafin! Maafin! Maafin!” teriak semua penonton berulang-ulang dengan semangat. Terkhusus anak-anak kelas 11-IPA-2.
Hanna menundukkan kepalanya. Berusaha berfikir jernih. Jantungnya sudah berdetak tidak karuan karena genggaman tangan Bisma. Di tambah lagi ia sedang berada di depan ratusan murid di sekolah ini.
Dengan lembut Bisma mengangkat wajah Hanna membuat Hanna menatap Bisma tepat di kedua matanya. “apa lo bisa ngelakuin apa yang lo janjiin kemarin-kemarin pas lo minta maaf sama gue?” tanya Hanna pelan.
Bisma tersenyum tipis menjawab pertanyaan Hanna. “gue bisa nepatin janji itu”
Hanna mengangguk dan balas tersenyum tipis.
“apa arti anggukan lo itu?” tanya Bisma menggoda Hanna.
“gue maafin lo, dodol” ucap Hanna tidak jelas lalu meninju lengan Bisma dengan wajah tertunduk malu.
Bisma dan semua penonton yang melihatnya langsung tertawa. Bisma memeluk Hanna dengan erat. Merasa lega karena gadis ini mau memaafkannya. Seluruh penonton berteriak-teriak menggoda Bisma dan Hanna.
“Bis, lepasin kek. Malu gue” bisik Hanna pada Bisma.
“biarin. Gue mau meluk lo sampe puas. Ini semua bayaran atas apa yang udah lo lakuin ke gue. gak enak tau dicuekin sama sahabat sendiri” balas Bisma dengan senyum meledek.
“itu juga karena salah lo, bego. Coba lo gak banyak omong pas ujian, gue... Hwaaaa!!!”
Bisma tersenyum jahil dan tiba-tiba saja menggendong Hanna membuat gadis itu menghentikan ucapannya dan berteriak kaget. Seluruh penonton ikut terkesiap kaget melihat kejadian itu.
“bye, semua!! Thanks udah mau dengerin nyanyian gue tadi. Gue mau bawa kabur si cewek cerewet ini” teriak Bisma tanpa microphone.
Seluruh penonton tertawa geli melihat Hanna yang menggeliat minta dilepas. Namun Bisma masih tetap menahannya agar Hanna tidak terjatuh lalu berlari ke arah parkiran mobil. Guru-guru yang menyaksikannya pun tersenyum geli melihat tingkah Bisma dan Hanna.
“memang kalau mereka berdua berantem, gak ada yang bisa ngehibur kita. Gak ada yang buat rusuh” ucap Miss Afni pada guru-guru lainnya.
“bener. Saya juga ngerasa bosen, karena mereka berdua gak ada berbuat ulah seperti biasanya” balas bu Lia tertawa diikuti guru-guru yang lain.
TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar