Hanna berlari tak tentu arah di
koridor sekolahnya. Guru-guru yang melihatnya sedikit heran. Hari ini adalah hari
kedua Ujian Semester Genap. Menentukan naik kelas atau tidaknya murid-murid di
sekolah ini. Dan sekarang ia telah diusir saat ulangan Fisika! Bagaimana
rapornya nanti? Apa ia akan naik kelas?
Bruk!!! Hanna menabrak seseorang dengan cukup keras. Ia menengadah
menatap orang yang ia tabrak. “maaf” ucap Hanna singkat lalu kembali berjalan
cepat menyusuri koridor hingga ia sampai di taman belakang sekolahnya.
Orang yang ditabrak Hanna masih
terdiam di tempatnya. Ia menatap punggung Hanna seakan terpesona. “Duo biang
masalah, Hanna Putri” ucap orang itu tersenyum tipis.
***
“Hanna! Tunggu dulu” saut Bisma
menarik lengan Hanna ketika Hanna hendak bangkit dari duduknya. Bakso yang ia
pesan tadi belum habis. Selera makan Hanna sudah menghilang karena Bisma datang
menghampirinya.
Hanna menyentak tangan Bisma
agar melepas pegangannya pada tangannya.
“Han, gue minta maaf sama lo”
ucap Bisma masih menggenggam tangan Hanna dengan erat.
“gak ada yang perlu dimaafkan”
ucap Hanna dingin tidak mau menatap Bisma.
“gue bakal ngelakuin apa aja
buat nebus kesalahan gue tadi” ucap Bisma masih memohon.
“apa yang bisa lo lakuin kalo
gue gak bisa ikutan ulangan fisika? Lo bisa rubah nilai di rapor gue nanti? Apa
lo bisa buat gue naik kelas?” ucap Hanna tersenyum kecut.
Bisma terdiam. Ia bersimpuh di
depan Hanna yang sedang berdiri. “gue tau gue gak akan bisa ngelakuin itu. tapi
gue bisa minta kesempatan sama bu Nina supaya ngasih lo ujian susulan. Kalo
perlu gue sujud di kaki lo sama di kaki bu Nina”
“mau lo cium kaki gue, mau lo
jilat kaki gue, gue tetep gak maafin lo, Bis. Malu gue!”
“Han, lo serius?”
“gue gak pernah se-serius ini.
Gue gak minat buat deket sama lo lagi. Lupain semuanya. Gue nganggep lo bukan
siapa-siapa gue lagi” ucap Hanna dingin lalu meninggalkan Bisma.
Bisma masih bersimpuh. Ia
terdiam mendengar ucapan Hanna. Apa kedekatan mereka akan berhenti sampai di
sini?
Semua orang yang ada di kantin
ikut terdiam. Duo biang masalah terkena masalah. Sepertinya ribut kali ini akan
lebih parah dari yang sebelumnya.
***
“Hanna!” teriak seseorang
membuat Hanna berbalik.
“siapa ya?” tanya Hanna dengan
pelan karena ia tidak mengenal cowok dihadapannya ini.
“Dicky. anak kelas 11-IPS-1”
ucap cowok itu mengulurkan tangannya.
“Hanna. Kelas...”
“gue udah tau lo siapa. Lo gak
perlu ngenalin diri lagi. Hanna si duo biang masalah” ucap Dicky tersenyum
kecil.
Hanna menipiskan bibirnya.
“kayanya gue udah gak nyandang julukan itu lagi deh”
“loh? kenapa? Ribut sama
Bisma?” tanya Dicky penasaran.
“gak perlu buat di bahas. Byee”
ucap Hanna dengan senyum tipis lalu pergi meninggalkan Dicky.
“I will catch you, Hanna” gumam
Dicky pelan sambil tersenyum senang.
***
“Han, please kasih gue kesempatan”
ucap Bisma menatap Hanna yang duduk di sampingnya. Ujian kedua di hari kedua
akan berlangsung. Pelajaran Bahasa Indonesia. Namun guru yang mengawas belum
juga datang.
Hanna hanya diam sambil membaca
buku Bahasa Indonesia-nya. Orang-orang yang ada di dalam kelas langsung
berbisik-bisik seru.
“gue janji gak akan pinjam
apa-apa dari lo lagi. gue bakal beli alat tulis yang lengkap. Gue gak akan
ganggu lo lagi. maafin gue, ya?” ucap Bisma dengan wajah memelas.
Hanna berdiri dari bangkunya
dengan kasar. Ia keluar dari dalam kelas tanpa menatap Bisma sama sekali. Namun
ketika Hanna keluar, ia melihat Pak Ronald berjalan ke arah ruangannya. Dengan
sedikit terburu-buru ia menghampiri pak Ronald.
“Hanna, apa yang kamu lakukan?
Ujian mau dimulai tapi kamu masih berkeliaran diluar ruang ujian” tegur pak
Ronald.
“pak, saya mohon dengan sangat,
pak. Tolong pindahin saya jauh dari Bisma mulai saat ini sampai seterusnya. Dia
selalu mengganggu saya ketika ujian. Saya jadi gak konsentrasi ngerjainnya”
ucap Hanna dengan wajah memohon.
“apa benar dia mengganggumu?”
tanya pak Ronald heran. Ia merasa sedikit aneh melihat Hanna yang merasa tidak
suka berdekatan dengan Bisma.
“iya, pak. Karena dia saya jadi
diusir sama bu Nina waktu ulangan Fisika. Saya takut nilai saya turun pak. Saya
mau naik kelas” jawab Hanna masih memohon.
Pak Ronald terlihat sedang
berfikir. “baiklah. Kita masuk dulu dan saya akan lihat kondisi ruang ujiannya
gimana. Baru saya bisa memindahkan kamu” ucap pak Ronald berjalan masuk ke
dalam kelas.
Hanna berjalan di belakang pak
Ronald lalu ia duduk di tempatnya. Ia membereskan semua buku-buku yang
berserakan diatas mejanya lalu memasukkannya ke dalam tas.
“kok beres-beres sih? Lo mau
kemana? Lo dikasih ikut ujian sama pak Ronald, kan?” tanya Bisma heran.
Hanna mengacuhkan Bisma. Ia
duduk dengan manis menunggu perintah dari pak Ronald.
“anak-anak. Sekarang kita akan
ujian Bahasa Indonesia. Tapi sebelum itu saya mau memindahkan Hanna ke...” pak
Ronald melihat-lihat susunan bangku di ruangan ini. “ke sebelah Rosa. Jadi
Leni, kamu pindah ke tempat Hanna” lanjutnya.
Hanna memamerkan senyum
lebarnya pada pak Ronald. “makasih pak” ucap Hanna dengan tulus lalu berdiri
dari duduknya.
“yasudah. Cepat kalian bertukar
tempat. Sudah banyak waktu berkurang hanya karena ini” ucap pak Ronald dengan
tegas. “untuk hari ini, besok, dan seterusnya, posisi kalian jangan
berpindah-pindah lagi!”
“siap pak!” jawab semuanya.
Tapi yang paling terdengar suaranya adalah suara Hanna yang penuh semangat.
Bisma sedikit melirik ke belakang
menatap Hanna. “kok lo pindah sih?” ucapnya lirih.
Hanna yang sebenarnya mendengar
ucapan Bisma pura-pura tidak mendengar. Ia sibuk menulis biodatanya di lembar
jawaban.
“sial! Sampe kapan dia gak
kacangin gue lagi?!” ucap Bisma dengan geram.
“ada apa, Bisma?” tanya pak
Ronald yang kebetulan sedang membagi lembar jawaban untuk Bisma.
“eh, gak papa kok pak” jawab
Bisma menerima lembar jawaban.
“Bis, buat luluhin hati cewek,
lo harus terus kasih perhatian sama dia” bisik Leni tanpa melirik Bisma.
Bisma yang sedang mengisi
lembar jawabannya langsung melirik Leni. “apa maksud lo?”
“gue kasih saran buat lo supaya
lo bisa baikan lagi sama Hanna” jawab Leni.
“kasih perhatian sama Hanna?
Emang gue mau pdkt sama dia?” saut Bisma menaikkan kedua bahunya dengan acuh.
“emang kalo kasih perhatian
lebih ke cewek cuma karena mau pdkt sama itu cewek? Basi pemikiran lo, Bis”
desis Leni dengan ketus.
Bisma menatap lembar jawabannya
cukup lama. Lalu tiba-tiba saja ia tersenyum tipis. “thanks buat sarannya, Len”
ucap Bisma. Leni hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
***
“na, lo udah belajar?” saut
Bisma mengejar langkah Hanna.
Hanna hanya diam dan
mempercepat langkahnya untuk sampai ke kelas.
“gue yakin lo pasti bisa
ulangan kimia ini. Lo kan jago banget pelajaran ini. Ajarin gue dulu dong
sebelum ujian di mulai” ucap Bisma lagi mensejajarkan langkahnya dengan langkah
Hanna.
Hanna berhenti mendadak. Bisma
langsung tersenyum senang.
“selamat pagi, pak” ucap Hanna
menunduk hormat pada gurunya yang akan mengawas ujian diruangan mereka hari
ini. Bisma terdiam melihat Hanna berjalan masuk ke dalam kelas tanpa
menghiraukannya sama sekali. Ternyata Hanna belum memaafkannya.
***
“Hanna! Main sama Bisma yuk~”
teriak Bisma dari depan rumah Hanna seperti seorang anak kecil yang mengajak
temannya bermain bersama.
Tidak ada jawaban dari Hanna.
Bisma terus memanggil-manggil nama Hanna sambil menggedor-gedor pintu rumah Hanna
berulang kali membuat sore ini menjadi penuh keributan. Namun tetap saja Hanna
tidak keluar. Ia mundur dari teras rumah Hanna lalu berteriak keras-keras
memanggil Hanna.
Tok!!! Bisma mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya. Ia
melihat ke atas. Terlihat Hanna sedang berdiri di balkon kamarnya sambil
memegang batu kecil. “Hanna! Tega banget ngelempar batu ke kepala gue. Kalo gue
gegar otak, gimana?”
“berisik!” ucap Hanna melempar
kembali batu kecil itu ke arah Bisma. Namun ia sengaja tidak mau mengenai
Bisma.
Bisma menghindar dari lemparan
Hanna lalu kembali melihat ke atas. Hanna sudah menghilang dari balkon itu.
“Hanna! Keluar dong! Masa gue
dibiarin disini sendirian sih?” teriak Bisma memancing Hanna agar keluar.
“gue dobrak nih pintunya kalo
lo gak keluar juga” lagi-lagi Bisma berteriak. Ia menunggu sebentar, namun
Hanna tidak juga muncul. “oke! Gue dobrak ya. Satu, dua, ti....” Bisma berlari
kearah pintu dengan kencang, bersiap mendobrak pintu.
Hanna membuka pintu saat Bisma
mencapai pintu tersebut. Dan Bisma tersungkur di dalam rumah Hanna dengan
sukses. Hanna berusaha menyembunyikan tawanya.
“astaga.. hari ini gue sial
banget ya” sungut Bisma sambil bangkit berdiri.
Hanna memasang wajah acuh tak
acuh saat Bisma menatapnya.
“akhirnya lo mau juga nemuin
gue” ucap Bisma tersenyum lebar.
“siapa yang mau nemuin lo?
Pergi atau gue panggil semua tetangga karena lo mau macem-macem sama gue, biar
lo digebukin satu komplek!” ucap Hanna dingin.
“eh, kok gitu? Gue kan gak ada
niat buat macam-macam” saut Bisma heran.
“oke.. TOLONG!!!” teriak Hanna
membuat Bisma kalang kabut. Dengan cepat ia menarik Hanna masuk ke dalam rumah
lalu menutup pintu rumah Hanna dan menguncinya. Hanna melotot kaget.
“ngapain lo ngunci pintu rumah
gue?!” saut Hanna.
“biar gak ada yang bisa dateng
ke sini” ucap Bisma tersenyum tipis. “karena lo udah nuduh gue mau macem-macem,
gue bakal ngelakuin itu” lanjut Bisma degan senyum jahilnya.
“Bisma! Lo jangan main-main!”
teriak Hanna mundur.
“lo yang mulai duluan. Jadi gue
yang mengakhiri” balas Bisma masih tersenyum.
Bisma memojokkan Hanna hingga
punggung Hanna menyentuh tembok. Hanna menutup matanya ketakutan saat Bisma
mendekatkan wajahnya pada dirinya. Ia bersiap mendorong tubuh Bisma.
“Bisma! Kamu ngapain?” tanya
seorang perempuan setengah baya kebingungan.
Bisma langsung menjauhkan
dirinya dari Hanna. Bisma dan Hanna menatap takut kearah perempuan itu.
“Hanna, lo kok gak bilang kalo
mama lo ada disini?” desis Bisma ketakutan.
“gue juga lupa, dodol” balas
Hanna berbisik.
“mampus gue...” ucap Bisma
berbisik pada dirinya sendiri. “kita cuma main-main tante, hehe” jawab Bisma
takut.
“mainnya kok gitu? Kamu lagi,
Hanna. Ngapain itu pintu ditutup?” tanya mama Hanna dengan tampang ketus.
“aduh, itu maksudnya biar gak
ada maling masuk maa” ucap Hanna memelas.
“saya permisi ya tante” ucap
Bisma membuka kunci pintu lalu berlari keluar. Ia sempat melirik Hanna lalu
tersenyum geli.
“Bisma bego!!!” teriak Hanna
kesal.
“kalian ini memang temenan dari
kecil. Tapi ya jangan keterlaluan. Sekarang kamu jelasin apa yang kamu lakuin
tadi sama Bisma!” ucap mama Hanna dingin.
“Bisma, gue makan juga lo”
desis Hanna menunduk tak berani menatap mata mamanya.
***
“Len, bantuin gue plis” ucap
Bisma di saat istirahat.
“apaan? Bantuin ujian biologi?
Lo tau gue lemah banget sama hal itu” saut Leni.
“bukan. Bantuin gue supaya
rencana gue sukses. Ini mungkin bisa bikin gue sama Hanna baikan lagi” bisik
Bisma.
“emang apaan sih rencana lo?”
“jadi...” Bisma mulai
menceritakan rencananya pada Leni dengan suara yang benar-benar pelan. Ia tidak
mau ada yang menggagalkan rencananya ini. Setelah Bisma selesai menjelaskannya
pada Leni, Leni tersenyum kecil lalu berjalan ke luar kelas.
Bisma berdiri dari bangkunya
dan menghampiri Hanna yang sedang belajar. “Han, kantin yuk!” ajak Bisma.
Hanna diam saja. Matanya ia
tutup namun mulutnya mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan biologi.
Sepertinya Hanna sedang menghafal materi ujian.
Bisma menarik tangan Hanna
dengan lembut. “ayolah, Han. Mau sampe kapan lo marah sama gue?”
Hanna langsung membuka matanya
lalu menyentakkan tangannya dengan kasar. “jangan sentuh gue!” desis Hanna
tajam lalu berjalan keluar dengan langkah cepat.
Bisma tersenyum kecil. Ia
segera menyusul Hanna. Ia melihat Leni berdiri tak jauh dari tempatnya dan
Hanna yang sedang berjalan. Sepertinya Hanna tidak menyadari ada jebakan yang
akan menghampirinya.
Leni mengangkat jempol kanannya
keatas memberikan tanda pada Bisma. Bisma hanya mengangguk sekilas. Terlihat
Hanna masih berjalan cepat tanpa menyadari kalau ada dua buah kulit pisang di
hadapannya. Tanpa bisa dihindari lagi, Hanna menginjak kulit pisang itu dan
langsung terpeleset. Dengan cepat Bisma mendekati Hanna untuk menahan tubuh
gadis itu agar tidak terjatuh. Namun ia kalah cepat dengan seseorang.
Hanna menutup matanya bersiap
menerima rasa sakit. Namun ia malah merasa ada seseorang yang menahannya agar
tidak jatuh. Apa itu Bisma? Dengan perlahan ia membuka matanya dan terlihat
wajah seseorang yang tersenyum padanya.
“hati-hati. Jangan asal jalan.
Liat-liat dulu” ucap seseorang itu tertawa geli. Wajah mereka sangat dekat.
Dengan cepat Hanna melepas
pegangan seseorang itu dan berdiri tegak. Ia sedikit terpesona dengan wajah
cowok di depannya ini. Apalagi saat melihatnya dari dekat tadi. Tiba-tiba saja
ia menyukai mata cowok ini.
“thanks yah. Lo Dicky, kan?”
ucap Hanna memastikan.
“iya. Masih inget ya sama gue,
haha” ucap Dicky tertawa.
“masa iya gue lupa sama lo”
ucap Hanna tersenyum kecil. Tiba-tiba saja ia menatap lantai dan menemukan apa
yang membuatnya terpeleset seperti tadi. “siapa sih yang buang kulit pisang
sembarangan?” omel Hanna.
“paling ada monyet gak tau
aturan yang nyasar di sekolah ini” ucap Dicky tersenyum geli. Lalu ia melirik
sekilas ke arah Bisma dengan tatapan sinis.
“monyet? Ada-ada aja lo. yaudah
yuk ke kantin. Sebagai rasa terima kasih aja sih. Mau kan?” ucap Hanna
tersenyum kecil.
“mau traktir gue nih? Dengan
senang hati” jawab Dicky lalu menggandeng Hanna dengan lembut menuju kantin.
Hanna sedikit risih, namun ia sedikit memakluminya. Mungkin cowok ini tidak
sengaja menggenggam lengannya.
Bisma menatap itu semua dengan
geram. Apalagi ia melihat kesinisan di mata Dicky ketika melihat ke arahnya.
Sepertinya Dicky tau kalau ia yang merencanakan ini semua.
Leni menghampiri Bisma dengan
wajah menyesal. “Bis, sorry ya. Gue gak tau kalo ada orang di dekat Hanna yang
bakalan nolongin dia”
Bisma tersadar lalu menatap
Leni. “no problem, Len. Thanks udah mau bantuin gue” ucap Bisma tersenyum
tipis.
Leni meninggalkan Bisma. Bisma
masih terdiam di tempatnya memikirkan semuanya. Sepertinya Dicky tidak senang
melihatnya bersama Hanna. Pasti ia ingin memisahkan dirinya dengan Hanna. Ia
tidak ingin itu semua terjadi. Bagaimanapun juga ia merasa tidak bisa berbuat
apa-apa tanpa ada Hanna yang selalu ada di sampingnya. Hanya Hanna yang
mebuatnya merasa nyaman. Tidak ada yang lain lagi.
***
Dicky memunculkan wajahnya di
depan kelas Hanna dengan wajah ceria. Ia sibuk mencari-cari Hanna. Namun
matanya menangkap tubuh Bisma yang menutupi Hanna. Sepertinya Bisma sedang
berusaha mencari perhatian dari Hanna.
“Hanna! Kantin yuk” teriak
Dicky dari depan kelas.
Hanna berdiri dari bangkunya
lalu tersenyum tipis. Ia berjalan menghampiri Dicky, menghiraukan Bisma yang
terus membujuknya untuk kembali berbicara dengannya.
“tumben lo nyamperin gue ke
kelas” ucap Hanna.
“yah begitulah. Gue lagi pengen
bareng sama lo. gak lagi sibuk kan?” jawab Dicky tersenyum kecil.
“gak kok. Malah gue bersyukur
lo muncul sekarang. Yaudah yuk jalan” balas Hanna berjalan keluar kelas.
“Hanna! Kenapa lo langsung mau
diajak ke kantin bareng dia? Dia baru lo kenal, Han. Gue yang bertahun-tahun
kenal sama lo malah lo cuekin kaya gini. Buka mata lo, Han!” teriak Bisma
emosi. Namun Hanna tidak memperdulikannya. Dicky menarik Hanna untuk
cepat-cepat menjauh dari Bisma.
“sial! Hanna sinting!” teriak
Bisma menendang meja-meja di dekatnya.
“sabar, bis. Gue yakin Hanna
pasti ngerasa gak betah musuhan lama-lama sama lo” ucap Laras menepuk-nepuk
bahu Bisma.
“gue udah ngelakuin apa aja.
gue udah mohon-mohon sama dia buat maafin gue! Apalagi yang harus gue lakuin?!”
ucap Bisma mengacak-acak rambutnya frustasi.
“gimana kalo lo nyanyiin dia?
Biasanya cewek langsung luluh kalo dinyanyiin” ucap Laras memberi saran.
“nyanyi?” gumam Bisma seperti
memikirkan sesuatu. Wajahnya langsung berubah menjadi cerah. “Yes! Thank you
for your idea, Laras”
“anything for you and Hanna”
jawab Laras tersenyum tipis. “kita semua seneng kalian balik jadi sahabat lagi.
apalagi lebih dari itu”
Bisma menoleh heran. “maksud
lo?”
“you know what I mean, Bisma.
Gue bisa liat itu semua” ucap Laras tersenyum geli. “Rani, toilet yuk! Bentar
lagi Miss Afni masuk” lanjut Laras berbicara pada Rani. Rani hanya mengangguk
dan tersenyum kecil begitu melewati Bisma. Ia memiliki pikiran yang sama dengan
apa yang baru saja diucapkan Laras.
Bisma masih memikirkan
kata-kata Laras. Apa semuanya begitu terlihat jelas?
***
Tiga hari berturut-turut Bisma
tidak memohon-mohon lagi dengan Hanna. Ia sibuk mempersiapkan sesuatu. Sesuatu
yang akan ia persembahkan untuk sahabatnya itu. Walaupun sederhana, ia merasa
kerepotan juga. Apalagi ia harus meminta izin pada kepala sekolah dan
guru-guru. Sesuatu yang sangat susah bagi Bisma.
Hanna menatap punggung Bisma
seakan bisa menembus tubuh itu dari tempat duduknya. Ia merasa kesepian. Bisma
sudah tidak lagi mengejar-ngejarnya berusaha mendapatkan maaf darinya. Tapi
tiba-tiba saja Dicky menjadi teman sepermainannya. Ia mulai sering bersama-sama
dengan Dicky kemana saja. Yang selalu Bisma lakukan saat dulu mereka masih
dekat.
Bisma menoleh sekilas ke
belakang merasa di tatap dengan tajam oleh orang lain. Namun ia tidak tahu
siapa yang menatapnya sedari tadi. Semuanya sibuk mengisi lembar jawaban ujian.
Wajah-wajah mereka penuh semangat, karena ini adalah mata ujian terakhir yang
diujiankan. Setelah ini mereka akan bebas sambil menunggu pembagian rapor
kenaikan kelas.
Tapi Bisma dapat merasakan ada
seseorang yang berwajah tidak semangat. Dan mungkin dia-lah yang sedari tadi
memperhatikannya. Bisma kembali menoleh dan menatap Hanna tajam. Terlihat Hanna
duduk dengan gelisah tanda kalau ia sadar Bisma sedang menatapnya.
Bisma menyunggingkan senyumnya
dengan senang. Ia kembali menatap lembar jawabannya. Tapi pikirannya sudah
pergi entah kemana. Ia tidak sabar menunggu pulang sekolah nanti untuk
menjalani rencana keduanya.
***
Hanna berjalan perlahan-lahan
sepanjang koridor dengan wajah tersenyum namun setengah tidak senang. Di
sebelahnya, Dicky bercerita panjang lebar tentang pengalamannya yang menurutnya
akan membuat Hanna tertawa. Tapi memang karena Hanna sedang tidak bisa diajak
tertawa, Hanna hanya tersenyum kecil menanggapi kata-kata Dicky.
“Tes, tes!! Tolong semua
perhatiannya ke arah sumber suara. Kalau bisa semuanya ke sumber suara ini”
ucap seseorang dengan suara serak-serak basahnya yang begitu khas menggunakan
microphone. Suaranya terdengar jelas ke seluruh penjuru sekolah ini.
Hanna merasa mengenali suara
itu. ingin sekali ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke lapangan basket,
tempat sumber suara tersebut. Namun ia tetap berusaha terus berjalan menuju
gerbang sekolah.
Dicky melirik Hanna. Ia bisa
melihat kegelisahan gadis itu. Pasti Hanna ingin melihat pemilik suara itu,
walaupun ia sudah tahu siapa orang yang memiliki suara khas itu. Tapi
sepertinya Hanna menahan dirinya untuk tidak pergi ke sana. Seperti yang Dicky
harapkan.
“yang namanya Hanna Putri anak
kelas 11-IPA-2, tolong ke sumber suara” ucap suara itu.
Hanna menghentikan langkahnya.
Jantungnya berdetak tidak karuan. Ia merasa begitu senang mendengar suara itu
menyebut namanya dengan sangat lengkap.
Dicky perlahan menyentuh pundak
Hanna membuat gadis itu menoleh. “lanjut jalan?” tanya Dicky dengan senyum
tipisnya.
Hanna menatap Dicky penuh
keraguan. Ia bisa melihat di kedua mata Dicky kalau cowok itu tidak
menginginkan ia kembali ke belakang, menghampiri pemilik suara itu. Tapi...
“apa gue perlu sebutin alamat
rumah lo supaya lo yakin kalo lo yang gue maksud?” ucap suara itu lagi
terdengar begitu lembut.
Dicky menghela nafas dengan
berat. “kalo lo mau kesana, cepat! Gak usah ragu. Punya musuh itu gak enak,
kan?” ucap Dicky tersenyum tulus.
Hanna memegang tangan Dicky
yang ada di pundak kanannya. “gue tetep berteman sama lo, ky. Jangan pernah lo
berpikir kalo gue bakalan berhenti temenan sama lo kalo seandainya gue baikan
sama Bisma” ucap Hanna dengan wajah serius.
“gue gak mikir tentang itu kok.
Gue tau hari-hari lo lebih berwarna sama Bisma. Lo pasti ngerasa bosen banget
sama gue” jawab Dicky tertawa kecil.
“ky, gue gak pernah ngerasa
bosen sama lo” balas Hanna tidak enak.
“udah gak usah banyak
basa-basi. Cepat samperin Bisma sebelum terlambat. Penyesalan selalu ada di
belakang, Han” ucap Dicky menepuk-nepuk pundak Hanna.
Hanna menatap Dicky sedikit
ragu. Namun akhirnya ia mengangguk sambil tersenyum, dan ia berjalan
menghampiri asal suara itu.
Dicky menatap punggung Hanna
sambil tersenyum tipis sampai punggung itu tidak terlihat lagi dari tempatnya
berdiri. Dengan pelan ia melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Tidak
ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Bisma yang pasti akan membuatnya
merasa lebih sakit dari sebelumnya.
***
Bisma tersenyum kecil melihat
Hanna berjalan ke tempatnya. Sekarang ia sedang berada di atas sebuah panggung
kecil yang ia siapkan sejak dua hari yang lalu. Di tangannya terdapat sebuah
gitar kesayangannya. Di depannya terdapat sebuah microphone yang ditempatkan di
sebuah stand mic yang ia pinjam dari
ruang kelas musik.
Orang-orang yang sedang
berkumpul di lapangan basket itu melihat Hanna yang sedang berjalan menuju
kerumunan itu. Tanpa diperintah, semua orang di sana memberi jalan untuk Hanna.
Hanna sedikit risih menjadi pusat perhatian seperti ini.
“oke. Karena orang yang
dimaksud sudah ada dihadapan gue, gue mau nyampein maksud yang akan gue lakuin
ini” ucap Bisma dengan santai. Ia tidak merasa gerogi sama sekali, karena ia
menganggap kalau yang ada dihadapannya ini hanyalah Hanna. Tidak ada orang lain
selain mereka berdua.
“gue ngelakuin ini karena gue
mau minta maaf sama seorang sahabat gue yang udah cuekin gue selama
berhari-hari” ucap Bisma menatap Hanna dengan lembut. “gue akuin, gue emang
salah. Apa salah gue? Kayanya itu terlalu pribadi buat gue ucapin di depan umum
kaya gini” lanjut Bisma tertawa kecil.
“terlalu pribadi? Lo ngelakuin
macem-macem ke sahabat lo ini ya?” celetuk seseorang dari barisan belakang
membuat wajah Hanna merah padam menahan malu dan marahnya.
Bisma tertawa geli. “ya bukan
lah. gue emang tengil, bandel, dan rusuh. Tapi gue gak bejat kaya lo” balas
Bisma.
Semua yang mendengar kata-kata
Bisma tertawa keras. Hanna hanya menunduk diam, merasa yang dikatakan Bisma
tidak ada lucunya sama sekali. Laras menepuk punggungnya. “gak usah nervous”
Hanna tersenyum kecil
menanggapi kata-kata Laras.
“Rencana ini bukan sepenuhnya
ide dari gue. Thanks buat Laras yang udah kasih saran ke gue” ucap Bisma
tersenyum tipis menatap Laras. Setelah Laras balas tersenyum, Bisma mengalihkan
pandangannya kepada Hanna. “dan tanpa basa-basi lagi, gue mau nyanyiin sebuah
lagu untuk sahabat gue ini. Simak yaa” ucap Bisma tersenyum geli mendengar
sahutan anak-anak yang lain.
“I can’t win, I can’t wait. I
will never win this game without you, without you. I am lost, I am vain, I will
never be the same without you, without you~” nyanyi Bisma sambil memainkan
gitarnya dengan santai.
“I won’t love, I won’t fly. I
will never make it past without you, without you. I can’t rest, I can’t lie.
All I need is you and I, without you. Without~ You! You! You! You! You! You!
You! You!” Bisma bernyanyi dengan sesekali menunjuk Hanna dengan senyumannya
yang begitu khas. Hanna tersenyum kecil sedikit merasa malu.
“Can’t erase, so I’ll take
blame. But I can’t accept that we were strange without you, without you~” Bisma
memainkan gitarnya, menuruni panggung kecil itu dan menghampiri Hanna. Hanna
menampakkan wajah kagetnya saat Bisma menarik tangannya ke arah panggung kecil
tersebut. Namun akhirnya ia mau ikut naik ke atas panggung itu.
Bisma menatap Hanna dengan
sangat dalam dan mampu membuat Hanna tiba-tiba saja mendapat serangan jantung. “I
can’t quit now, this can’t be right. I can’t take one more sleep this night
without you, without you~”
“I won’t sob, I won’t cry. If
you’re not here, I’m living life without you, without you~” Hanna bernyanyi
menyambung nyanyian Bisma, membuat Bisma terperangah kaget. Wajah mereka berdua
sangat dekat karena mereka berdua hanya memakai satu microphone.
“I can’t look, I’m so blind. Lost
my heart, I lost my mind without you. Without~ You! You! You! You! You! You!
You! You!” Bisma menyanyi dengan senyum yang mengembang dengan lebar.
“I am lost, I am vain, I will
never be the same without you, without you, without you~” nyanyi mereka berdua
sambil saling menatap satu sama lain. Semua penonton bertepuk tangan dan
berteriak menyebut-nyebut nama mereka berdua.
Hanna menjauhkan wajahnya dari
Bisma dan berdiri canggung. Ia tidak menyadari apa yang telah ia lakukan tadi.
Tiba-tiba saja ia ikut menyanyi bersama Bisma. Namun perasaannya terasa sangat
lega seakan beban yang selama ini ada di dirinya, menghilang begitu saja.
Bisma tersenyum menatap Hanna,
menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.
Ia telah meletakkan gitarnya. Microphone itu sudah ada ditangannya.
“jadi, apa Hanna Putri bersedia memaafkan kesalahan Bisma Karisma?”
“maafin! Maafin! Maafin!”
teriak semua penonton berulang-ulang dengan semangat. Terkhusus anak-anak kelas
11-IPA-2.
Hanna menundukkan kepalanya.
Berusaha berfikir jernih. Jantungnya sudah berdetak tidak karuan karena
genggaman tangan Bisma. Di tambah lagi ia sedang berada di depan ratusan murid
di sekolah ini.
Dengan lembut Bisma mengangkat
wajah Hanna membuat Hanna menatap Bisma tepat di kedua matanya. “apa lo bisa
ngelakuin apa yang lo janjiin kemarin-kemarin pas lo minta maaf sama gue?”
tanya Hanna pelan.
Bisma tersenyum tipis menjawab
pertanyaan Hanna. “gue bisa nepatin janji itu”
Hanna mengangguk dan balas
tersenyum tipis.
“apa arti anggukan lo itu?”
tanya Bisma menggoda Hanna.
“gue maafin lo, dodol” ucap
Hanna tidak jelas lalu meninju lengan Bisma dengan wajah tertunduk malu.
Bisma dan semua penonton yang
melihatnya langsung tertawa. Bisma memeluk Hanna dengan erat. Merasa lega
karena gadis ini mau memaafkannya. Seluruh penonton berteriak-teriak menggoda
Bisma dan Hanna.
“Bis, lepasin kek. Malu gue”
bisik Hanna pada Bisma.
“biarin. Gue mau meluk lo sampe
puas. Ini semua bayaran atas apa yang udah lo lakuin ke gue. gak enak tau
dicuekin sama sahabat sendiri” balas Bisma dengan senyum meledek.
“itu juga karena salah lo,
bego. Coba lo gak banyak omong pas ujian, gue... Hwaaaa!!!”
Bisma tersenyum jahil dan
tiba-tiba saja menggendong Hanna membuat gadis itu menghentikan ucapannya dan
berteriak kaget. Seluruh penonton ikut terkesiap kaget melihat kejadian itu.
“bye, semua!! Thanks udah mau
dengerin nyanyian gue tadi. Gue mau bawa kabur si cewek cerewet ini” teriak
Bisma tanpa microphone.
Seluruh penonton tertawa geli
melihat Hanna yang menggeliat minta dilepas. Namun Bisma masih tetap menahannya
agar Hanna tidak terjatuh lalu berlari ke arah parkiran mobil. Guru-guru yang menyaksikannya
pun tersenyum geli melihat tingkah Bisma dan Hanna.
“memang kalau mereka berdua
berantem, gak ada yang bisa ngehibur kita. Gak ada yang buat rusuh” ucap Miss
Afni pada guru-guru lainnya.
“bener. Saya juga ngerasa
bosen, karena mereka berdua gak ada berbuat ulah seperti biasanya” balas bu Lia
tertawa diikuti guru-guru yang lain.
TO BE CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar