Saat pelajaran seni budaya,
kelas 11-IPA-2 sedang menggambar pemandangan sekolah mereka. Mereka sedang
berada di luar untuk membuat mereka semua bisa menggambar dengan leluasa.
Mereka mengambil tempat secara berpencar.
Bisma menatap sekelilingnya. Satu-satu
ia mendatangi semua teman sekelasnya untuk meminjam pensil, namun tidak ada
yang memilikinya. Ia ingin bertanya pada Hanna, namun ia mengurungkan niatnya.
Ia mendekati bu Nina untuk meminjam pensil padanya. Dan untungnya bu Nina mau
memberikannya pensil.
Hanna melirik sekilas pada
kotak pensilnya. Terihat sebuah pensil yang tidak di pakai. Ingin sekali ia
menawarkan pensil ini pada Bisma, namun ia mengurungkan niatnya itu. Bisma
tidak bertanya padanya. Untuk apa ia menawarkannya?
Bisma berdiri dari duduknya.
Kali ini ia mencari rautan. Tapi tidak ada yang memiliki rautan. Ia melirik
kotak pensil Hanna dan melihat ada rautan di sana. Namun ia memilih untuk pergi
membeli rautan di koperasi sekolah.
Hanna menghela nafas dengan
berat. Ia bisa melihat dari sudut matanya kalau Bisma sudah melihat rautannya.
Kenapa ia tidak meminjam padanya? Apa Bisma sekarang sangat membencinya sampai
ia tidak mau berbicara sedikitpun dengannya lagi?
Bisma kembali berkeliling
mendatangi teman-temannya. Sekarang ia mencari penghapus. Semuanya langsung
menggeleng dan menyembunyikan kotak pensilnya. Bisma hampir saja marah karena
saat ia sudah pergi, mereka mengeluarkan penghapus dari kotak pensilnya dan
memakainya. Apa maksudnya?
Pelajaran bahasa Indonesia.
Anak kelas 11-IPA-2 diberi tugas untuk berdiskusi tentang apa yang menghalangi
atau menghambat masa depan. Lagi-lagi Hanna terpaksa berdiskusi dengan Bisma
karena anak-anak lain sudah mendapatkan pasangannya masing-masing. Namun saat
berdiskusi, mereka saling diam. Tidak terdengar suara yang keluar dari mulut
mereka berdua. Mereka sibuk mengerjakan sendiri.
Sebelum pelajaran bahasa
Inggris berlangsung, Rosa dan Rani mendatangi Miss Afni, guru bahasa Inggris
mereka. Mereka membicarakan sesuatu lalu Miss Afni mengangguk sambil tersenyum.
Dengan wajah puas Rosa dan Rani masuk ke dalam kelas. Anak-anak yang sudah tahu
apa yang dibicarakan langsung tersenyum bersemangat.
“good afternoon everybody” sapa
Miss Afni ketika masuk ke dalam kelas.
“good afternoon, too, Miss
Afni” balas anak-anak dengan semangat.
“Today I will take a score. I
determine the couple sing and I also will determine what song should you want
to sing” ucap Miss Afni sambil tersenyum. Ia memang guru teramah menurut
murid-murid di sekolah ini.
Satu persatu nama di sebutkan
dan ditentukan lagu apa yang akan dinyanyikan. Hanna menutup matanya, berdoa
agar kesialannya tidak berlaku saat ini. Namun sepertinya doanya tidak
dikabulkan.
“Bisma Karisma with Hanna
Putri. Guys, you sing Avril Lavigne - Keep Holding On” ucap Miss Afni. “I will
give you 10 minutes before you perform in front of the class” lanjutnya.
Bisma dan Hanna menunduk
pasrah. Bukan karena tidak hafal lagunya. Mereka sangat tahu lagu ini. Tapi,
kenapa mereka harus berpasangan?
“Okay. Times is over. Bisma, Hanna,
please come here!” ucap Miss Afni disambut teriakan heboh dari teman-teman
sekelas.
Bisma maju ke depan terlebih
dahulu. Hanna ikut maju ke depan dan berdiri di sebelah kiri Bisma. Keduanya
saling bertatapan bingung. Tapi tiba-tiba saja mereka berdua saling mengangguk
seperti sedang menyetujui sesuatu.
Bisma menarik nafas lalu mulai
bernyanyi. “You're not alone, together we stand. I'll be by your side, you know
I'll take your hand. When it gets cold and it feels like the end. There's no
place to go, you know I won't give in. No, I won't give in~”
“Keep holding on. 'Cause you
know we'll make it through, we'll make it through. Just stay strong. 'Cause you
know I'm here for you, I'm here for you~” lanjut Bisma memegang tangan Hanna.
Hanna sedikit terkesiap kaget.
“There's nothing you could say,
nothing you could do. There's no other way when it comes to the truth. So keep
holding on. 'Cause you know we'll make it through, we'll make it through~”
Hanna menenangkan diri lalu
mulai bernyanyi. “So far away, I wish you were here. Before it's too late this
could all disappear. Before the door's closed and it comes to an end. With you
by my side I will fight and defend. I'll fight and defend, yeah, yeah~”
“Keep holding on. 'Cause you
know we'll make it through, we'll make it through. Just stay strong. 'Cause you
know I'm here for you, I'm here for you~”
“There's nothing you could say,
nothing you could do. There's no other way when it comes to the truth. So keep
holding on. 'Cause you know we'll make it through, we'll make it through~”
“Hear me when I say when I say,
I believe. Nothing's gonna change, nothing's gonna change destiny. Whatever's
meant to be will work out perfectly. Yeah, yeah, yeah, yeah~” Bisma menatap
Hanna dengan lembut.
“Keep holding on. 'Cause you
know we'll make it through, we'll make it through. Just stay strong. 'Cause you
know I'm here for you, I'm here for you~” nyanyi Bisma dan Hanna bersama-sama.
Mereka saling menatap. Hanya mereka berdualah yang tahu apa arti tatapan itu.
“There's nothing you could say,
nothing you could do. There's no other way when it comes to the truth. So keep
holding on. 'Cause you know we'll make it through, we'll make it through~”
Bisma menyanyikannya dengan penuh penghayatan.
“Keep holding on. Keep holding
on~” nyanyi Hanna.
Bisma mempererat genggamannya. “There's
nothing you could say, nothing you could do. There's no other way when it comes
to the truth. So keep holding on. 'Cause you know we'll make it through, we'll
make it through~” Bisma dan Hanna bernyanyi bersama menutup lagu tersebut.
Beberapa saat kelas menjadi
hening. Semua terdiam menatap Bisma dan Hanna. Bisma berdeham membuat semuanya
tersadar dan langsung bertepuk tangan dengan meriah.
Hanna menatap tangan Bisma yang
masih menggenggam tangannya. Bisma yang menyadari itu langsung melepaskan
genggamannya dan berjalan menuju bangkunya. Ia sedikit kaget dengan dirinya
sendiri. Kenapa ia tidak bisa mengendalikan diri sendiri?
“Bisma, comeback!” perintah
Miss Afni tegas namun wajah ramahnya tidak menghilang.
Bisma kembali berdiri di
sebelah Hanna. Mereka berdua menatap Miss Afni dengan penasaran.
“Good job! Kalian
menyanyikannya dengan bagus sekali. Tapi kayanya ada yang kurang” ucap Miss
Afni.
Laras mengangkat tangannya.
“miss, saya tau!”
“apa itu, Laras?” tanya Miss
Afni.
“mereka kaya musuhan, miss.
Nyanyinya udah bagus. Cuma endingnya gak asik” jawab Laras sambil tersenyum
jahil karena dipelototi oleh Hanna.
“kalian lagi musuhan? Pantes
kantor sepi. Biasanya kalian berdua selalu keluar masuk kantor tiap hari” ucap
Miss Afni menggoda mereka berdua.
“kita gak musuhan, miss” ucap
Bisma akhirnya.
“kalo gitu, coba buktikan” saut
Miss Afni tersenyum.
Bisma menggaruk kepalanya
dengan bingung. Hanna hanya diam menatap sepatunya. Apa yang bisa membuktikan
kalau mereka tidak sedang musuhan? Mereka kan memang sedang perang dingin.
“tuh kan, gak bisa ngebuktiin.
Yaudah kalo emang musuhan ya ngaku aja” ucap miss Afni akhirnya setelah lama
terdiam.
“iya, miss. Saya lagi males
bicara sama dia. Sok taat peraturan sih” jawab Bisma akhirnya mengaku.
Hanna mendelik kesal. “siapa
yang sok taat peraturan?”
“siapa lagi kalo bukan lo”
balas Bisma.
“gue bukan sok taat peraturan.
Tapi kita emang pantes dihukum gitu. Lagian dijemurnya cuma sebentar.
Mataharinya juga gak ada. Daripada dihukum lebih parah, mending gue lakuin
hukuman yang awal” saut Hanna.
“bilang aja lo mau cari muka
biar di sayang sama guru. Gak akan pernah bisa, Han. Lo uda dikenal sebagai,
‘murid paling bermasalah’ di antara guru-guru” ucap Bisma tertawa meledek.
“lo yang murid paling
bermasalah. Karena lo gue selalu kena masalah. Keluar masuk kantor kepala
sekolah”
“lo sendiri yang mau gue ajak
ngelanggar peraturan. Harusnya lo liat diri lo sendiri dulu! Jangan langsung
nuduh orang”
“kok lo nyolot sih? Gue gini
juga karena kebanyakan bergaul sama lo” saut Hanna emosi meninju lengan Bisma.
“lagi-lagi main fisik” saut
Bisma merangkul Hanna lalu mendekatkan kepala Hanna ke arah ketiaknya dengan
kesal. Selalu itu yang ia lakukan pada Hanna kalau ia sudah merasa kesal dengan
gadis itu.
Tiba-tiba terdengar gemuruh
sorak sorai dari anak-anak termasuk Miss Afni. Mereka saling ber-highfive ria. Bisma dan Hanna langsung
terdiam bingung dengan posisi Hanna masih dalam rangkulan Bisma.
“akhirnya Bisma dan Hanna
kembali!! Yeay!!” teriak Rani dengan senang.
“kelas gak akan ngebosenin
lagi, yeay!!” sambung Fani tertawa.
Bisma dan Hanna saling
bertatapan dan akhirnya mengerti apa yang terjadi. Bisma tertawa geli mengingat
ia sempat marah-marah saat pelajaran seni budaya. Ternyata teman-teman
sekelasnya sudah merencanakan semuanya, hingga saat menyanyi tadi.
Hanna tertawa kecil melihat
teman-temannya bertepuk tangan dengan hebohnya hanya karena sudah berhasil
membuat Bisma dan dirinya kembali saling berbicara. Hanna sedikit terkejut
melihat kepedulian teman-temannya.
“kalian bisa liat sendiri kan
gimana senangnya mereka ngeliat kalian udah saling bicara gini?” ucap Miss Afni
yang dijawab dengan anggukan Bisma dan Hanna. “jadi, kalian gak usah lah sok
perang dingin segala. Miss tau, pasti dari awal kalian udah resah pengen adu
mulut lagi. tapi kalian gengsinya terlalu besar” lanjut Miss Afni membuat Bisma
dan Hanna tersenyum malu.
“perhatian!” teriak Miss Afni
membuat seluruh penghuni kelas menjadi tenang. “mari saksikan Bisma dan Hanna
berbaikan!!” lanjut Miss Afni tertawa.
Bisma mengangkat jari
kelingkingnya lalu disambut Hanna dengan jari kelingkingnya juga. Sambil
tersenyum geli mereka saling menautkan jari kelingking mereka. Semuanya
langsung bertepuk tangan heboh.
“Oke, sepertinya jam pelajaran
bahasa Inggris sudah habis. Miss permisi keluar. Good afternoon. Bye~” ucap
Miss Afni keluar dari kelas.
Hanna menatap teman-temannya.
“ternyata kalian alay yah. Cuma ngeliat kita balik berantem aja hebohnya minta
ampun” ucap Hanna meledek.
“seru tau ngeliat kalian adu
mulut. Kalo kalian berantemnya gak saling ngomong, jadi gak mau sekolah” saut
Ines.
Bisma tertawa geli. “jadi
kalian suka liat kita buat rusuh di kelas ini?”
“suka banget, kaka!!” teriak
mereka semua dengan gaya berlebihan membuat Bisma dan Hanna tertawa keras.
***
Bisma turun dari motornya
sambil merapikan rambutnya. Sesekali ia mengedipkan mata ke arah cewek-cewek
yang lewat di dekatnya. Bahkan ia juga tersenyum genit dan menggoda beberapa
kakak kelas yang ia sukai.
Terdengar suara deru motor di
sebelah Bisma. Bisma sedikit terbatuk-batuk karena terkena asapnya. Dengan
gusar ia menghampiri pengendara motor itu. pengendara itu memarkirkan motornya
tepat di sebelah Bisma. Bisma menunggu orang itu membuka helmnya.
Pengendara itu membuka helmnya
dengan pelan. Keluarlah rambut yang panjang itu. ternyata ia seorang perempuan.
Dengan tersenyum meledek ia menatap Bisma. “gimana? Motor baru gue bagus gak?”
tanya gadis itu pada Bisma.
Bisma menganga kaget melihat
gadis itu. “Hanna! Gila lo makin macho aja” sautnya sambil memerhatikan motor CBR
baru milik Hanna.
“emang cuma lo doang yang bisa
beli. Gue juga bisa dong” jawab Hanna turun dari motornya. Ia merapikan
rambutnya dan langsung merangkul Bisma. “ntar istirahat gue traktir lo makan.
Perayaan dikit lah karena gue punya motor baru”
“lama-lama gue ngerasa punya
temen cowok, bukan cewek” gumam Bisma.
“sialan lo! udah lo jangan
sirik sama gue. Gue bakal pinjemin motor gue ke lo kok” saut Hanna yang
mendengar gumaman Bisma sambil tersenyum geli.
“buat apa? gue kan juga punya”
saut Bisma meledek Hanna.
“iya deh yang punya motor, yang
punya mobil. Gue apa lah di mata lo” ucap Hanna sambil masuk ke dalam kelas.
“bukannya gue maksud sombong
ya. Tapi kenyataannya emang gitu”
“terserah apa kata lo aja deh”
“jadi, lo bakal balik duduk di
sebelah gue?” tanya Bisma sambil duduk ditempatnya.
“males. Gue udah nyaman banget
sama Laras. Lo juga nyaman sama Fani, kan?” jawab Hanna menaikkan kedua alisnya
sambil tersenyum.
“kenapa tuh muka lo? udah balik
ke sebelah gue aja” bujuk Bisma dengan wajah sok acuh tak acuh.
“kangen ya sama gue? Ketauan
banget ini. Yaudah deh gue balik ketempat lo aja. Laras, gue balik nih. Lo sebangku
sama Fani lagi, yaa” teriak Hanna pada Laras. Laras tersenyum jahil sambil
mengangguk.
“haha. Kangen sama lo? Ketek
gue nih yang kangen sama lo” saut Bisma mendekatkan wajah Hanna dengan
ketiaknya.
“lo mainnya ketek mulu.
Lama-lama bau ini rambut gue!” saut Hanna berusaha mengacak-acak rambut Bisma
menjadi berantakan.
Bisma langsung melepas Hanna.
Dengan kesal ia merapikan rambutnya. “capek ini tadi gue ngerapiinnya, malah lo
berantakin lagi” saut Bisma.
“biar aja. mau rambut lo rapi
kek, berantakan kek, lo tetep...”
“tetep ganteng! Itu yang mau lo
bilang, kan? haha” saut Bisma memotong ucapan Hanna.
“tetep jelek, woy!” saut Hanna
mendorong kepala Bisma dengan kesal.
***
“Ku kira benar, kau kira salah.
Kita berbeda, kita tak sama. Tak pernah searah~” Hanna duduk di balkon kamarnya
memainkan gitar kesayangannya sambil bernyanyi.
“Ku bilang iya, kau bilang
tidak. Selalu begitu, tak pernah setuju. Tak pernah menyatu~”
“Namun ternyata tak pernah ku
kira. Di sini kita memulai cerita~”
“Perbedaan jadi tidak berarti.
Karena hati telah memilih. Di mataku kita berdua satu. Apa pun yang mengganggu.
Cinta takkan salah~” Hanna bernyanyi sambil tersenyum membayangkan sesuatu yang
hanya ia dan Tuhan yang mengetahuinya.
“Ku ingin yang ini, ku ingin
yang lain. Coba tuk mengerti, coba tuk pahami. Saling melengkapi~” tiba-tiba
saja Bisma bernyanyi menyambung nyanyian Hanna. Hanna sedikit kaget.
“Namun ternyata tak pernah ku
kira. Di sini kita memulai cerita~”
nyanyi Hanna dan Bisma secara bergantian.
“Perbedaan jadi tidak berarti.
Karena hati telah memilih. Di mataku kita berdua satu. Apa pun yang mengganggu.
Cinta takkan salah~ Perbedaan jadi tidak berarti. Karena hati telah memilih. Di
mataku kita berdua satu. Apa pun yang mengganggu. Cinta takkan salah~” nyanyi Bisma
dan Hanna saling berhadapan dan tersenyum kecil.
Hanna meletakkan gitarnya.
“kebiasaan. Masuk ke kamar orang sembarangan” ucapnya datar.
“tadi gue denger ada suara
orang nyanyi. Yaudah gue samperin aja. mumpung suasana hati gue lagi persis
sama lagu ini, ikutan nyanyi deh” jelas Bisma memainkan gitar Hanna.
“gue nyanyi ini juga karena
suasana hati lagi ngepas sama lagu ini” ucap Hanna pelan.
“lo lagi jatuh cinta? Sama
siapa?” tanya Bisma dengan penasaran.
“Lo juga lagi jatuh cinta, kan?
sama siapa?” Hanna balas bertanya.
“ditanya malah nanya balik”
sungut Bisma.
“gue gak mau jawab sebelum lo
jawab pertanyaan gue”
“mending gue sama lo gak usah
kasih tau siapa yang kita suka” saut Bisma membuat Hanna mengangguk setuju.
Mereka terdiam cukup lama,
sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bisma melamun sambil memetik senar
gitar. Sementara Hanna melamun sambil memainkan rambutnya.
“Bis, kalo lo udah punya cewek,
apa kita bisa bebas deket gini lagi?” tanya Hanna tiba-tiba.
“Hah?” Bisma menatap Hanna
dengan bingung.
“orang nganggep kita deket
banget, kaya orang pacaran. Kalo lo udah punya pacar, apa pacar lo gak kesel
ngeliat kita gini? Gue yakin dia bakal misahin kita” jelas Hanna.
Bisma tersenyum kecil. “lo
takut jauh dari gue?”
“bukannya gitu. Gue cuma
berandai-andai aja. soalnya hubungan kita ini kan gak jelas. Kadang kompak,
ntar berantem. Terus kompak lagi, habis itu berantem lagi. Gue juga gak tau
kita ini di sebut musuh atau sahabat”
“jadi lo mau gimana? Berantem
terus atau kompak terus?”
“ntahlah. Gue juga bingung”
“kita kaya gini juga karena
kondisi. Kalo lo setuju sama omongan gue, kita jadi kompak. Kalo kita beda
pendapat, kita jadi berantem. Itu aja masalah kita dari kecil, kan?”
Hanna menganggukkan kepalanya
dengan pelan. “lo udah pernah punya pacar?” tanya Bisma.
“belum. Karena orang-orang
selalu pada salah paham liat gue sama lo. dan mereka ilfeel sama gue karena gue
sering bermasalah” jawab Hanna santai.
“kita emang udah terkenal jadi
duo biang masalah kayanya” saut Bisma tertawa geli.
“dijulukin yang aneh-aneh malah
seneng. Aneh lo” saut Hanna menjitak kepala Bisma.
“bukannya seneng. Cuma lucu aja. Apalagi pasangan gue dalam hal
bermasalah itu cewek. Kan jarang ada yang gitu” saut Bisma memeletkan lidahnya.
“terserah lo aja deh, Bis” ucap
Hanna mencoba tenang. Ada apa dengannya?
***
Hanna memasuki kelas sehabis
istirahat. Ia tidak langsung duduk di tempatnya, namun menghampiri Laras
terlebih dahulu. Mereka terus mengobrol karena saat ini tidak ada guru yang
masuk ke dalam kelas. Tiba-tiba saja mata Hanna menuju ke tangan Bisma.
“eh, apaan tuh yang lo pegang?”
saut Hanna dengan ketus.
“ini?” tanya Bisma menunjukkan
sebuah pulpen dengan stiker stitch di badan pulpen tersebut.
“itu punya gue! Balikin gak?!”
saut Hanna marah.
“gue gak punya pulpen” balas
Bisma santai.
“gue punya pulpen lain yang
bisa lo pake. Itu pulpen kesayangan gue. Gue gak mau ada yang pake. Lagian lo
seenaknya banget ngambil itu pulpen tanpa seizin gue”
Dengan senyum jahilnya, ia
memasukkan pulpen itu ke dalam mulutnya, pura-pura ingin menggigitnya.
“Bisma! Jangan digigit!” teriak
Hanna menghampiri Bisma.
Bisma langsung bangkit berdiri
menjauhi Hanna. Setelah sudah cukup jauh, Bisma kembali memasukkan pulpen itu
ke dalam mulutnya yang terbuka dengan tampang jahil.
“jorok, dodol! Minta
pulpennya!” saut Hanna mengejar Bisma.
Dengan hebohnya Bisma berlari
menjauhi Hanna. Awalnya Hanna tidak ingin mengejar Bisma. Tapi karena
terpancing dengan wajah jahil Bisma, akhirnya ia mengejarnya. Semua meja dan
bangku di dalam kelas itu ditabraknya. Begitu juga dengan Bisma. Anak-anak
sekelas langsung tertawa-tawa melihat Bisma dan Hanna yang saling
kejar-mengejar. Bahkan ada yang menyeletuk, ‘kalian kaya pemain di film India,
haha”.
“udahlah Bis, siniin pulpennya!
Ada pulpen lain yang bisa lo pinjam. Kita gini kaya anak SD tau. malu-maluin
aja” saut Hanna berhenti mengejar Bisma. Sekarang posisi dirinya dan Bisma
hanya dipisahkan oleh sebuah meja.
“gue mau pake ini” balas Bisma
dengan wajah menantang.
Dengan kesal Hanna berjalan ke
bangku Bisma, mengambil tas itu dan membuangnya di luar kelas. Begitu ia masuk
kembali ke dalam kelas, tasnya sudah ada di tangan Bisma. “Argh!!! Kok gak ada
yang jagain barang-barang gue sih?!” teriak Hanna kesal membuat Bisma dan yang
lain tertawa keras.
Hanna menghampiri bangku Bisma
dan mengambil topi Bisma yang biasa dia pakai dan membuangnya tepat di sebelah
tas Bisma. Tiba-tiba ia teringat dengan barang-barang miliknya. Dengan cepat ia
masuk ke kelas berusaha agar kotak pensilnya tidak di ambil, namun ternyata kotak
pensil itu berhasil di tarik Bisma dari tangannya. “sialan!!!” rutuk Hanna
dengan wajah super kesal.
Hanna kembali ke bangku Bisma dan mengambil pulpen
milik Bisma. Tapi kali ini ia tidak membuangnya. Ia menghampiri Bisma sambil
memegang pulpen itu. “lo punya pulpen. Ngapain ngambil pulpen gue?”
“gue mau pake punya lo” jawab
Bisma santai.
“yaudah ini pulpen untuk gue.
Terus topi lo yang diluar gue masukin ke tong sampah” tantang Hanna.
Dengan santainya Bisma
memasukkan pulpen Hanna ke dalam mulutnya yang terbuka sambil melirik Hanna.
“Bisma!! Lo jorok banget,
sumpah! Jangan digigit itu pulpen!!” teriak Hanna dengan emosi.
“makanya ambil tas gue yang ada
di luar” saut Bisma tersenyum tipis.
“kalo gitu gue ikut gigit
pulpen punya lo!” ancam Hanna sambil memasukkan pulpen Bisma ke dalam mulutnya.
Namun ia tetap membuka lebar mulutnya itu.
“coba kalo berani” tantang
Bisma dengan tatapan sepele.
“Argh!” teriak Hanna lalu
menjauhkan pulpen Bisma dari mulutnya. Dengan kesal Hanna keluar kelas
mengambil tas Bisma. Ia masuk lagi ke dalam kelas dengan wajah datar.
“sama topinya juga, dodol” saut
Bisma.
“ambil sendiri lah! Lo kan
punya kaki buat jalan ke luar” bantah Hanna.
Lagi-lagi Bisma memasukkan
pulpen milik Hanna ke dalam mulutnya yang terbuka lebar dan sedikit menjulurkan
lidahnya ke arah pulpen itu. Dengan kesal Hanna langsung keluar kelas dan
mengambil topinya Bisma. “ini uda gue ambil! Sekarang balikin itu pulpen!”
“letakin dulu dong tas sama
topi gue di bangku gue dengan baik dan benar” saut Bisma sambil tersenyum
licik.
“lo duluan yang letakin tas,
kotak pensil, sama pulpen gue itu ke tempatnya. Gue gak mau kena tipu sama lo”
balas Hanna menatap Bisma dengan tajam.
Dengan santai Bisma meletakkan
tas dan kotak pensil Hanna ke atas meja Hanna.
“pulpennya juga! Jangan licik”
saut Hanna melihat Bisma masih memegang pulpen miliknya.
“udah gue letakin nih. Sekarang
letakin punya gue” saut Bisma sambil meletakkan pulpen Hanna di atas meja.
Hanna meletakkan tas dan topi
Bisma ke atas meja Bisma dan dengan cepat ia menyambar pulpen stitch miliknya,
takut kalau Bisma akan mengambilnya kembali. Hanna tersenyum senang karena
pulpennya telah kembali d tangannya. Teman-temannya langsung bertepuk tangan
dan tertawa geli melihat akhir dari pertempuran Bisma dan Hanna.
Bisma duduk di bangkunya sambil
tersenyum geli menatap Hanna yang duduk di sebelahnya. “lo dodol sih. Ngambil
barang orang, tapi barang lo gak di jagain. Ya gue bisa ngambil dengan gampang
dong”
“diem lo!” saut Hanna kesal
sambil mengelap pulpennya takut kalau Bisma benar-benar menjilat pulpennya.
“Bisa juga ya lo ngancem Hanna
supaya bisa nurutin apa mau lo, haha” saut seorang cowok dari belakang Bisma.
“itu namanya pemanfaatan
kesempatan, broo” jawab Bisma sambil tertawa membuat Hanna semakin merengut
kesal.
***
“Han, pinjam penghapus dong”
bisik Bisma saat sedang ulangan fisika.
“ambil di kotak pensil” balas
Hanna berbisik tidak menatap Bisma. Ia sibuk menjawab soal yang sedang ia
kerjakan.
“thanks ya” ucap Bisma
mengembalikan penghapus Hanna.
“oke” jawab Hanna dengan
singkat.
Beberapa menit kemudian Bisma
memanggil Hanna kembali. “Han, pinjam rautan. Pensil gue patah”
“udah ambil aja di kotak
pensil” saut Hanna sedikit kesal karena konsentrasinya pecah. Padahal tadi ia
sudah hampir mendapatkan jawabannya. Dengan terpaksa ia menhitung ulang kembali
semuanya dari awal.
“thanks Han. Untung lo punya
rautan. Kalo gak gue bingung mau ngerjain soal ini gimana. Pake ngegambar
segala lagi” ucap Bisma tersenyum tipis.
Hanna hanya menjawab dengan
mengangguk-anggukan kepalanya.
“Han, pinjam stip-ex lo dong”
ucap Bisma pelan.
Dengan geram Hanna mengeluarkan
stip-ex miliknya dari dalam kotak pensil dan memberikannya pada Bisma.
“penggaris juga dong, Han”
lanjut Bisma sibuk dengan kertasnya.
Hanna menggebrak meja dengan
kasar. “lo gak liat gue lagi ngapain?! Berkali-kali udah gue ngitung ulang cuma
karena lo pinjam barang ke gue! Emang muka gue kaya koperasi? Tempat jualan
alat tulis? Semuanya pinjam ke gue!”
Bisma terdiam menatap Hanna. Ia
sedikit melirik ke arah Bu Nina yang sedang menatap Hanna dengan murka. “Han,
duduk” bisik Bisma memberi kode pada Hanna.
“apa?!” saut Hanna yang tidak
mengerti apa maksud Bisma.
“Hanna! Apa yang kamu lakukan
disaat ulangan seperti ini? Membuat rusuh? Silahkan tinggalkan ruangan ini.
Segera!” teriak bu Nina marah.
Semuanya terdiam. Dengan takut
Hanna menatap bu Nina. “maaf bu. Saya...”
“cepat kamu keluar dari sini!!”
saut bu Nina tidak memberikan kesempatan pada Hanna untuk berbicara.
“maafin gue, Han” ucap Bisma
menatap Hanna yang sudah berdiri dari bangkunya.
Hanna menatap Bisma dengan
tatapan tak percaya. Matanya mulai berkaca-kaca. “kali ini gue gak maafin lo,
Bis” ucap Hanna dengan dingin. Ia berjalan cepat meninggalkan ruang ujiannya
dengan air mata yang sudah mengalir dipipinya.
“yang lainnya, silahkan
lanjutkan mengerjakan soalnya. Atau ada yang mau seperti Hanna?” ucap bu Nina
menatap murid-muridnya.
Semuanya tidak menjawab. Mereka
kembali mengerjakan soal yang ada dihadapan mereka masing-masing. Bisma melirik
bu Nina yang mengambil kertas jawaban Hanna. Timbul rasa bersalah di dalam hati
Bisma. Ia bertekad setelah selesai ulangan ini, ia akan menghampiri Hanna.
TO BE CONTINUED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar