Selasa, 11 Juni 2013

Bestfriend? (Part 2)

Saat pelajaran seni budaya, kelas 11-IPA-2 sedang menggambar pemandangan sekolah mereka. Mereka sedang berada di luar untuk membuat mereka semua bisa menggambar dengan leluasa. Mereka mengambil tempat secara berpencar.
Bisma menatap sekelilingnya. Satu-satu ia mendatangi semua teman sekelasnya untuk meminjam pensil, namun tidak ada yang memilikinya. Ia ingin bertanya pada Hanna, namun ia mengurungkan niatnya. Ia mendekati bu Nina untuk meminjam pensil padanya. Dan untungnya bu Nina mau memberikannya pensil.
Hanna melirik sekilas pada kotak pensilnya. Terihat sebuah pensil yang tidak di pakai. Ingin sekali ia menawarkan pensil ini pada Bisma, namun ia mengurungkan niatnya itu. Bisma tidak bertanya padanya. Untuk apa ia menawarkannya?
Bisma berdiri dari duduknya. Kali ini ia mencari rautan. Tapi tidak ada yang memiliki rautan. Ia melirik kotak pensil Hanna dan melihat ada rautan di sana. Namun ia memilih untuk pergi membeli rautan di koperasi sekolah.
Hanna menghela nafas dengan berat. Ia bisa melihat dari sudut matanya kalau Bisma sudah melihat rautannya. Kenapa ia tidak meminjam padanya? Apa Bisma sekarang sangat membencinya sampai ia tidak mau berbicara sedikitpun dengannya lagi?
Bisma kembali berkeliling mendatangi teman-temannya. Sekarang ia mencari penghapus. Semuanya langsung menggeleng dan menyembunyikan kotak pensilnya. Bisma hampir saja marah karena saat ia sudah pergi, mereka mengeluarkan penghapus dari kotak pensilnya dan memakainya. Apa maksudnya?
Pelajaran bahasa Indonesia. Anak kelas 11-IPA-2 diberi tugas untuk berdiskusi tentang apa yang menghalangi atau menghambat masa depan. Lagi-lagi Hanna terpaksa berdiskusi dengan Bisma karena anak-anak lain sudah mendapatkan pasangannya masing-masing. Namun saat berdiskusi, mereka saling diam. Tidak terdengar suara yang keluar dari mulut mereka berdua. Mereka sibuk mengerjakan sendiri.
Sebelum pelajaran bahasa Inggris berlangsung, Rosa dan Rani mendatangi Miss Afni, guru bahasa Inggris mereka. Mereka membicarakan sesuatu lalu Miss Afni mengangguk sambil tersenyum. Dengan wajah puas Rosa dan Rani masuk ke dalam kelas. Anak-anak yang sudah tahu apa yang dibicarakan langsung tersenyum bersemangat.
“good afternoon everybody” sapa Miss Afni ketika masuk ke dalam kelas.
“good afternoon, too, Miss Afni” balas anak-anak dengan semangat.
“Today I will take a score. I determine the couple sing and I also will determine what song should you want to sing” ucap Miss Afni sambil tersenyum. Ia memang guru teramah menurut murid-murid di sekolah ini.
Satu persatu nama di sebutkan dan ditentukan lagu apa yang akan dinyanyikan. Hanna menutup matanya, berdoa agar kesialannya tidak berlaku saat ini. Namun sepertinya doanya tidak dikabulkan.
“Bisma Karisma with Hanna Putri. Guys, you sing Avril Lavigne - Keep Holding On” ucap Miss Afni. “I will give you 10 minutes before you perform in front of the class” lanjutnya.
Bisma dan Hanna menunduk pasrah. Bukan karena tidak hafal lagunya. Mereka sangat tahu lagu ini. Tapi, kenapa mereka harus berpasangan?
“Okay. Times is over. Bisma, Hanna, please come here!” ucap Miss Afni disambut teriakan heboh dari teman-teman sekelas.
Bisma maju ke depan terlebih dahulu. Hanna ikut maju ke depan dan berdiri di sebelah kiri Bisma. Keduanya saling bertatapan bingung. Tapi tiba-tiba saja mereka berdua saling mengangguk seperti sedang menyetujui sesuatu.
Bisma menarik nafas lalu mulai bernyanyi. “You're not alone, together we stand. I'll be by your side, you know I'll take your hand. When it gets cold and it feels like the end. There's no place to go, you know I won't give in. No, I won't give in~”
“Keep holding on. 'Cause you know we'll make it through, we'll make it through. Just stay strong. 'Cause you know I'm here for you, I'm here for you~” lanjut Bisma memegang tangan Hanna. Hanna sedikit terkesiap kaget.
“There's nothing you could say, nothing you could do. There's no other way when it comes to the truth. So keep holding on. 'Cause you know we'll make it through, we'll make it through~”
Hanna menenangkan diri lalu mulai bernyanyi. “So far away, I wish you were here. Before it's too late this could all disappear. Before the door's closed and it comes to an end. With you by my side I will fight and defend. I'll fight and defend, yeah, yeah~”
“Keep holding on. 'Cause you know we'll make it through, we'll make it through. Just stay strong. 'Cause you know I'm here for you, I'm here for you~”
“There's nothing you could say, nothing you could do. There's no other way when it comes to the truth. So keep holding on. 'Cause you know we'll make it through, we'll make it through~”
“Hear me when I say when I say, I believe. Nothing's gonna change, nothing's gonna change destiny. Whatever's meant to be will work out perfectly. Yeah, yeah, yeah, yeah~” Bisma menatap Hanna dengan lembut.
“Keep holding on. 'Cause you know we'll make it through, we'll make it through. Just stay strong. 'Cause you know I'm here for you, I'm here for you~” nyanyi Bisma dan Hanna bersama-sama. Mereka saling menatap. Hanya mereka berdualah yang tahu apa arti tatapan itu.
“There's nothing you could say, nothing you could do. There's no other way when it comes to the truth. So keep holding on. 'Cause you know we'll make it through, we'll make it through~” Bisma menyanyikannya dengan penuh penghayatan.
“Keep holding on. Keep holding on~” nyanyi Hanna.
Bisma mempererat genggamannya. “There's nothing you could say, nothing you could do. There's no other way when it comes to the truth. So keep holding on. 'Cause you know we'll make it through, we'll make it through~” Bisma dan Hanna bernyanyi bersama menutup lagu tersebut.
Beberapa saat kelas menjadi hening. Semua terdiam menatap Bisma dan Hanna. Bisma berdeham membuat semuanya tersadar dan langsung bertepuk tangan dengan meriah.
Hanna menatap tangan Bisma yang masih menggenggam tangannya. Bisma yang menyadari itu langsung melepaskan genggamannya dan berjalan menuju bangkunya. Ia sedikit kaget dengan dirinya sendiri. Kenapa ia tidak bisa mengendalikan diri sendiri?
“Bisma, comeback!” perintah Miss Afni tegas namun wajah ramahnya tidak menghilang.
Bisma kembali berdiri di sebelah Hanna. Mereka berdua menatap Miss Afni dengan penasaran.
“Good job! Kalian menyanyikannya dengan bagus sekali. Tapi kayanya ada yang kurang” ucap Miss Afni.
Laras mengangkat tangannya. “miss, saya tau!”
“apa itu, Laras?” tanya Miss Afni.
“mereka kaya musuhan, miss. Nyanyinya udah bagus. Cuma endingnya gak asik” jawab Laras sambil tersenyum jahil karena dipelototi oleh Hanna.
“kalian lagi musuhan? Pantes kantor sepi. Biasanya kalian berdua selalu keluar masuk kantor tiap hari” ucap Miss Afni menggoda mereka berdua.
“kita gak musuhan, miss” ucap Bisma akhirnya.
“kalo gitu, coba buktikan” saut Miss Afni tersenyum.
Bisma menggaruk kepalanya dengan bingung. Hanna hanya diam menatap sepatunya. Apa yang bisa membuktikan kalau mereka tidak sedang musuhan? Mereka kan memang sedang perang dingin.
“tuh kan, gak bisa ngebuktiin. Yaudah kalo emang musuhan ya ngaku aja” ucap miss Afni akhirnya setelah lama terdiam.
“iya, miss. Saya lagi males bicara sama dia. Sok taat peraturan sih” jawab Bisma akhirnya mengaku.
Hanna mendelik kesal. “siapa yang sok taat peraturan?”
“siapa lagi kalo bukan lo” balas Bisma.
“gue bukan sok taat peraturan. Tapi kita emang pantes dihukum gitu. Lagian dijemurnya cuma sebentar. Mataharinya juga gak ada. Daripada dihukum lebih parah, mending gue lakuin hukuman yang awal” saut Hanna.
“bilang aja lo mau cari muka biar di sayang sama guru. Gak akan pernah bisa, Han. Lo uda dikenal sebagai, ‘murid paling bermasalah’ di antara guru-guru” ucap Bisma tertawa meledek.
“lo yang murid paling bermasalah. Karena lo gue selalu kena masalah. Keluar masuk kantor kepala sekolah”
“lo sendiri yang mau gue ajak ngelanggar peraturan. Harusnya lo liat diri lo sendiri dulu! Jangan langsung nuduh orang”
“kok lo nyolot sih? Gue gini juga karena kebanyakan bergaul sama lo” saut Hanna emosi meninju lengan Bisma.
“lagi-lagi main fisik” saut Bisma merangkul Hanna lalu mendekatkan kepala Hanna ke arah ketiaknya dengan kesal. Selalu itu yang ia lakukan pada Hanna kalau ia sudah merasa kesal dengan gadis itu.
Tiba-tiba terdengar gemuruh sorak sorai dari anak-anak termasuk Miss Afni. Mereka saling ber-highfive ria. Bisma dan Hanna langsung terdiam bingung dengan posisi Hanna masih dalam rangkulan Bisma.
“akhirnya Bisma dan Hanna kembali!! Yeay!!” teriak Rani dengan senang.
“kelas gak akan ngebosenin lagi, yeay!!” sambung Fani tertawa.
Bisma dan Hanna saling bertatapan dan akhirnya mengerti apa yang terjadi. Bisma tertawa geli mengingat ia sempat marah-marah saat pelajaran seni budaya. Ternyata teman-teman sekelasnya sudah merencanakan semuanya, hingga saat menyanyi tadi.
Hanna tertawa kecil melihat teman-temannya bertepuk tangan dengan hebohnya hanya karena sudah berhasil membuat Bisma dan dirinya kembali saling berbicara. Hanna sedikit terkejut melihat kepedulian teman-temannya.
“kalian bisa liat sendiri kan gimana senangnya mereka ngeliat kalian udah saling bicara gini?” ucap Miss Afni yang dijawab dengan anggukan Bisma dan Hanna. “jadi, kalian gak usah lah sok perang dingin segala. Miss tau, pasti dari awal kalian udah resah pengen adu mulut lagi. tapi kalian gengsinya terlalu besar” lanjut Miss Afni membuat Bisma dan Hanna tersenyum malu.
“perhatian!” teriak Miss Afni membuat seluruh penghuni kelas menjadi tenang. “mari saksikan Bisma dan Hanna berbaikan!!” lanjut Miss Afni tertawa.
Bisma mengangkat jari kelingkingnya lalu disambut Hanna dengan jari kelingkingnya juga. Sambil tersenyum geli mereka saling menautkan jari kelingking mereka. Semuanya langsung bertepuk tangan heboh.
“Oke, sepertinya jam pelajaran bahasa Inggris sudah habis. Miss permisi keluar. Good afternoon. Bye~” ucap Miss Afni keluar dari kelas.
Hanna menatap teman-temannya. “ternyata kalian alay yah. Cuma ngeliat kita balik berantem aja hebohnya minta ampun” ucap Hanna meledek.
“seru tau ngeliat kalian adu mulut. Kalo kalian berantemnya gak saling ngomong, jadi gak mau sekolah” saut Ines.
Bisma tertawa geli. “jadi kalian suka liat kita buat rusuh di kelas ini?”
“suka banget, kaka!!” teriak mereka semua dengan gaya berlebihan membuat Bisma dan Hanna tertawa keras.
***
Bisma turun dari motornya sambil merapikan rambutnya. Sesekali ia mengedipkan mata ke arah cewek-cewek yang lewat di dekatnya. Bahkan ia juga tersenyum genit dan menggoda beberapa kakak kelas yang ia sukai.
Terdengar suara deru motor di sebelah Bisma. Bisma sedikit terbatuk-batuk karena terkena asapnya. Dengan gusar ia menghampiri pengendara motor itu. pengendara itu memarkirkan motornya tepat di sebelah Bisma. Bisma menunggu orang itu membuka helmnya.
Pengendara itu membuka helmnya dengan pelan. Keluarlah rambut yang panjang itu. ternyata ia seorang perempuan. Dengan tersenyum meledek ia menatap Bisma. “gimana? Motor baru gue bagus gak?” tanya gadis itu pada Bisma.
Bisma menganga kaget melihat gadis itu. “Hanna! Gila lo makin macho aja” sautnya sambil memerhatikan motor CBR baru milik Hanna.
“emang cuma lo doang yang bisa beli. Gue juga bisa dong” jawab Hanna turun dari motornya. Ia merapikan rambutnya dan langsung merangkul Bisma. “ntar istirahat gue traktir lo makan. Perayaan dikit lah karena gue punya motor baru”
“lama-lama gue ngerasa punya temen cowok, bukan cewek” gumam Bisma.
“sialan lo! udah lo jangan sirik sama gue. Gue bakal pinjemin motor gue ke lo kok” saut Hanna yang mendengar gumaman Bisma sambil tersenyum geli.
“buat apa? gue kan juga punya” saut Bisma meledek Hanna.
“iya deh yang punya motor, yang punya mobil. Gue apa lah di mata lo” ucap Hanna sambil masuk ke dalam kelas.
“bukannya gue maksud sombong ya. Tapi kenyataannya emang gitu”
“terserah apa kata lo aja deh”
“jadi, lo bakal balik duduk di sebelah gue?” tanya Bisma sambil duduk ditempatnya.
“males. Gue udah nyaman banget sama Laras. Lo juga nyaman sama Fani, kan?” jawab Hanna menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum.
“kenapa tuh muka lo? udah balik ke sebelah gue aja” bujuk Bisma dengan wajah sok acuh tak acuh.
“kangen ya sama gue? Ketauan banget ini. Yaudah deh gue balik ketempat lo aja. Laras, gue balik nih. Lo sebangku sama Fani lagi, yaa” teriak Hanna pada Laras. Laras tersenyum jahil sambil mengangguk.
“haha. Kangen sama lo? Ketek gue nih yang kangen sama lo” saut Bisma mendekatkan wajah Hanna dengan ketiaknya.
“lo mainnya ketek mulu. Lama-lama bau ini rambut gue!” saut Hanna berusaha mengacak-acak rambut Bisma menjadi berantakan.
Bisma langsung melepas Hanna. Dengan kesal ia merapikan rambutnya. “capek ini tadi gue ngerapiinnya, malah lo berantakin lagi” saut Bisma.
“biar aja. mau rambut lo rapi kek, berantakan kek, lo tetep...”
“tetep ganteng! Itu yang mau lo bilang, kan? haha” saut Bisma memotong ucapan Hanna.
“tetep jelek, woy!” saut Hanna mendorong kepala Bisma dengan kesal.
***
“Ku kira benar, kau kira salah. Kita berbeda, kita tak sama. Tak pernah searah~” Hanna duduk di balkon kamarnya memainkan gitar kesayangannya sambil bernyanyi.
“Ku bilang iya, kau bilang tidak. Selalu begitu, tak pernah setuju. Tak pernah menyatu~”
“Namun ternyata tak pernah ku kira.  Di sini kita memulai cerita~”
“Perbedaan jadi tidak berarti. Karena hati telah memilih. Di mataku kita berdua satu. Apa pun yang mengganggu. Cinta takkan salah~” Hanna bernyanyi sambil tersenyum membayangkan sesuatu yang hanya ia dan Tuhan yang mengetahuinya.
“Ku ingin yang ini, ku ingin yang lain. Coba tuk mengerti, coba tuk pahami. Saling melengkapi~” tiba-tiba saja Bisma bernyanyi menyambung nyanyian Hanna. Hanna sedikit kaget.
“Namun ternyata tak pernah ku kira.  Di sini kita memulai cerita~” nyanyi Hanna dan Bisma secara bergantian.
“Perbedaan jadi tidak berarti. Karena hati telah memilih. Di mataku kita berdua satu. Apa pun yang mengganggu. Cinta takkan salah~ Perbedaan jadi tidak berarti. Karena hati telah memilih. Di mataku kita berdua satu. Apa pun yang mengganggu. Cinta takkan salah~” nyanyi Bisma dan Hanna saling berhadapan dan tersenyum kecil.
Hanna meletakkan gitarnya. “kebiasaan. Masuk ke kamar orang sembarangan” ucapnya datar.
“tadi gue denger ada suara orang nyanyi. Yaudah gue samperin aja. mumpung suasana hati gue lagi persis sama lagu ini, ikutan nyanyi deh” jelas Bisma memainkan gitar Hanna.
“gue nyanyi ini juga karena suasana hati lagi ngepas sama lagu ini” ucap Hanna pelan.
“lo lagi jatuh cinta? Sama siapa?” tanya Bisma dengan penasaran.
“Lo juga lagi jatuh cinta, kan? sama siapa?” Hanna balas bertanya.
“ditanya malah nanya balik” sungut Bisma.
“gue gak mau jawab sebelum lo jawab pertanyaan gue”
“mending gue sama lo gak usah kasih tau siapa yang kita suka” saut Bisma membuat Hanna mengangguk setuju.
Mereka terdiam cukup lama, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bisma melamun sambil memetik senar gitar. Sementara Hanna melamun sambil memainkan rambutnya.
“Bis, kalo lo udah punya cewek, apa kita bisa bebas deket gini lagi?” tanya Hanna tiba-tiba.
“Hah?” Bisma menatap Hanna dengan bingung.
“orang nganggep kita deket banget, kaya orang pacaran. Kalo lo udah punya pacar, apa pacar lo gak kesel ngeliat kita gini? Gue yakin dia bakal misahin kita” jelas Hanna.
Bisma tersenyum kecil. “lo takut jauh dari gue?”
“bukannya gitu. Gue cuma berandai-andai aja. soalnya hubungan kita ini kan gak jelas. Kadang kompak, ntar berantem. Terus kompak lagi, habis itu berantem lagi. Gue juga gak tau kita ini di sebut musuh atau sahabat”
“jadi lo mau gimana? Berantem terus atau kompak terus?”
“ntahlah. Gue juga bingung”
“kita kaya gini juga karena kondisi. Kalo lo setuju sama omongan gue, kita jadi kompak. Kalo kita beda pendapat, kita jadi berantem. Itu aja masalah kita dari kecil, kan?”
Hanna menganggukkan kepalanya dengan pelan. “lo udah pernah punya pacar?” tanya Bisma.
“belum. Karena orang-orang selalu pada salah paham liat gue sama lo. dan mereka ilfeel sama gue karena gue sering bermasalah” jawab Hanna santai.
“kita emang udah terkenal jadi duo biang masalah kayanya” saut Bisma tertawa geli.
“dijulukin yang aneh-aneh malah seneng. Aneh lo” saut Hanna menjitak kepala Bisma.
“bukannya seneng.  Cuma lucu aja. Apalagi pasangan gue dalam hal bermasalah itu cewek. Kan jarang ada yang gitu” saut Bisma memeletkan lidahnya.
“terserah lo aja deh, Bis” ucap Hanna mencoba tenang. Ada apa dengannya?
***
Hanna memasuki kelas sehabis istirahat. Ia tidak langsung duduk di tempatnya, namun menghampiri Laras terlebih dahulu. Mereka terus mengobrol karena saat ini tidak ada guru yang masuk ke dalam kelas. Tiba-tiba saja mata Hanna menuju ke tangan Bisma.
“eh, apaan tuh yang lo pegang?” saut Hanna dengan ketus.
“ini?” tanya Bisma menunjukkan sebuah pulpen dengan stiker stitch di badan pulpen tersebut.
“itu punya gue! Balikin gak?!” saut Hanna marah.
“gue gak punya pulpen” balas Bisma santai.
“gue punya pulpen lain yang bisa lo pake. Itu pulpen kesayangan gue. Gue gak mau ada yang pake. Lagian lo seenaknya banget ngambil itu pulpen tanpa seizin gue”
Dengan senyum jahilnya, ia memasukkan pulpen itu ke dalam mulutnya, pura-pura ingin menggigitnya.
“Bisma! Jangan digigit!” teriak Hanna menghampiri Bisma.
Bisma langsung bangkit berdiri menjauhi Hanna. Setelah sudah cukup jauh, Bisma kembali memasukkan pulpen itu ke dalam mulutnya yang terbuka dengan tampang jahil.
“jorok, dodol! Minta pulpennya!” saut Hanna mengejar Bisma.
Dengan hebohnya Bisma berlari menjauhi Hanna. Awalnya Hanna tidak ingin mengejar Bisma. Tapi karena terpancing dengan wajah jahil Bisma, akhirnya ia mengejarnya. Semua meja dan bangku di dalam kelas itu ditabraknya. Begitu juga dengan Bisma. Anak-anak sekelas langsung tertawa-tawa melihat Bisma dan Hanna yang saling kejar-mengejar. Bahkan ada yang menyeletuk, ‘kalian kaya pemain di film India, haha”.
“udahlah Bis, siniin pulpennya! Ada pulpen lain yang bisa lo pinjam. Kita gini kaya anak SD tau. malu-maluin aja” saut Hanna berhenti mengejar Bisma. Sekarang posisi dirinya dan Bisma hanya dipisahkan oleh sebuah meja.
“gue mau pake ini” balas Bisma dengan wajah menantang.
Dengan kesal Hanna berjalan ke bangku Bisma, mengambil tas itu dan membuangnya di luar kelas. Begitu ia masuk kembali ke dalam kelas, tasnya sudah ada di tangan Bisma. “Argh!!! Kok gak ada yang jagain barang-barang gue sih?!” teriak Hanna kesal membuat Bisma dan yang lain tertawa keras.
Hanna menghampiri bangku Bisma dan mengambil topi Bisma yang biasa dia pakai dan membuangnya tepat di sebelah tas Bisma. Tiba-tiba ia teringat dengan barang-barang miliknya. Dengan cepat ia masuk ke kelas berusaha agar kotak pensilnya tidak di ambil, namun ternyata kotak pensil itu berhasil di tarik Bisma dari tangannya. “sialan!!!” rutuk Hanna dengan wajah super kesal.
Hanna  kembali ke bangku Bisma dan mengambil pulpen milik Bisma. Tapi kali ini ia tidak membuangnya. Ia menghampiri Bisma sambil memegang pulpen itu. “lo punya pulpen. Ngapain ngambil pulpen gue?”
“gue mau pake punya lo” jawab Bisma santai.
“yaudah ini pulpen untuk gue. Terus topi lo yang diluar gue masukin ke tong sampah” tantang Hanna.
Dengan santainya Bisma memasukkan pulpen Hanna ke dalam mulutnya yang terbuka sambil melirik Hanna.
“Bisma!! Lo jorok banget, sumpah! Jangan digigit itu pulpen!!” teriak Hanna dengan emosi.
“makanya ambil tas gue yang ada di luar” saut Bisma tersenyum tipis.
“kalo gitu gue ikut gigit pulpen punya lo!” ancam Hanna sambil memasukkan pulpen Bisma ke dalam mulutnya. Namun ia tetap membuka lebar mulutnya itu.
“coba kalo berani” tantang Bisma dengan tatapan sepele.
“Argh!” teriak Hanna lalu menjauhkan pulpen Bisma dari mulutnya. Dengan kesal Hanna keluar kelas mengambil tas Bisma. Ia masuk lagi ke dalam kelas dengan wajah datar.
“sama topinya juga, dodol” saut Bisma.
“ambil sendiri lah! Lo kan punya kaki buat jalan ke luar” bantah Hanna.
Lagi-lagi Bisma memasukkan pulpen milik Hanna ke dalam mulutnya yang terbuka lebar dan sedikit menjulurkan lidahnya ke arah pulpen itu. Dengan kesal Hanna langsung keluar kelas dan mengambil topinya Bisma. “ini uda gue ambil! Sekarang balikin itu pulpen!”
“letakin dulu dong tas sama topi gue di bangku gue dengan baik dan benar” saut Bisma sambil tersenyum licik.
“lo duluan yang letakin tas, kotak pensil, sama pulpen gue itu ke tempatnya. Gue gak mau kena tipu sama lo” balas Hanna menatap Bisma dengan tajam.
Dengan santai Bisma meletakkan tas dan kotak pensil Hanna ke atas meja Hanna.
“pulpennya juga! Jangan licik” saut Hanna melihat Bisma masih memegang pulpen miliknya.
“udah gue letakin nih. Sekarang letakin punya gue” saut Bisma sambil meletakkan pulpen Hanna di atas meja.
Hanna meletakkan tas dan topi Bisma ke atas meja Bisma dan dengan cepat ia menyambar pulpen stitch miliknya, takut kalau Bisma akan mengambilnya kembali. Hanna tersenyum senang karena pulpennya telah kembali d tangannya. Teman-temannya langsung bertepuk tangan dan tertawa geli melihat akhir dari pertempuran Bisma dan Hanna.
Bisma duduk di bangkunya sambil tersenyum geli menatap Hanna yang duduk di sebelahnya. “lo dodol sih. Ngambil barang orang, tapi barang lo gak di jagain. Ya gue bisa ngambil dengan gampang dong”
“diem lo!” saut Hanna kesal sambil mengelap pulpennya takut kalau Bisma benar-benar menjilat pulpennya.
“Bisa juga ya lo ngancem Hanna supaya bisa nurutin apa mau lo, haha” saut seorang cowok dari belakang Bisma.
“itu namanya pemanfaatan kesempatan, broo” jawab Bisma sambil tertawa membuat Hanna semakin merengut kesal.
***
“Han, pinjam penghapus dong” bisik Bisma saat sedang ulangan fisika.
“ambil di kotak pensil” balas Hanna berbisik tidak menatap Bisma. Ia sibuk menjawab soal yang sedang ia kerjakan.
“thanks ya” ucap Bisma mengembalikan penghapus Hanna.
“oke” jawab Hanna dengan singkat.
Beberapa menit kemudian Bisma memanggil Hanna kembali. “Han, pinjam rautan. Pensil gue patah”
“udah ambil aja di kotak pensil” saut Hanna sedikit kesal karena konsentrasinya pecah. Padahal tadi ia sudah hampir mendapatkan jawabannya. Dengan terpaksa ia menhitung ulang kembali semuanya dari awal.
“thanks Han. Untung lo punya rautan. Kalo gak gue bingung mau ngerjain soal ini gimana. Pake ngegambar segala lagi” ucap Bisma tersenyum tipis.
Hanna hanya menjawab dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
“Han, pinjam stip-ex lo dong” ucap Bisma pelan.
Dengan geram Hanna mengeluarkan stip-ex miliknya dari dalam kotak pensil dan memberikannya pada Bisma.
“penggaris juga dong, Han” lanjut Bisma sibuk dengan kertasnya.
Hanna menggebrak meja dengan kasar. “lo gak liat gue lagi ngapain?! Berkali-kali udah gue ngitung ulang cuma karena lo pinjam barang ke gue! Emang muka gue kaya koperasi? Tempat jualan alat tulis? Semuanya pinjam ke gue!”
Bisma terdiam menatap Hanna. Ia sedikit melirik ke arah Bu Nina yang sedang menatap Hanna dengan murka. “Han, duduk” bisik Bisma memberi kode pada Hanna.
“apa?!” saut Hanna yang tidak mengerti apa maksud Bisma.
“Hanna! Apa yang kamu lakukan disaat ulangan seperti ini? Membuat rusuh? Silahkan tinggalkan ruangan ini. Segera!” teriak bu Nina marah.
Semuanya terdiam. Dengan takut Hanna menatap bu Nina. “maaf bu. Saya...”
“cepat kamu keluar dari sini!!” saut bu Nina tidak memberikan kesempatan pada Hanna untuk berbicara.
“maafin gue, Han” ucap Bisma menatap Hanna yang sudah berdiri dari bangkunya.
Hanna menatap Bisma dengan tatapan tak percaya. Matanya mulai berkaca-kaca. “kali ini gue gak maafin lo, Bis” ucap Hanna dengan dingin. Ia berjalan cepat meninggalkan ruang ujiannya dengan air mata yang sudah mengalir dipipinya.
“yang lainnya, silahkan lanjutkan mengerjakan soalnya. Atau ada yang mau seperti Hanna?” ucap bu Nina menatap murid-muridnya.
Semuanya tidak menjawab. Mereka kembali mengerjakan soal yang ada dihadapan mereka masing-masing. Bisma melirik bu Nina yang mengambil kertas jawaban Hanna. Timbul rasa bersalah di dalam hati Bisma. Ia bertekad setelah selesai ulangan ini, ia akan menghampiri Hanna.
TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar