Reina berjalan pelan di koridor
sekolahnya sendirian. Sudah 3 hari ia tidak masuk sekolah. Ia menoleh ke kiri
dan ke kanan. Banyak orang sedang mengobrol santai sebelum jam pelajaran
dimulai. Suasana sedikit ramai. Reina tersenyum tipis. “bener kata Reza sama
Ilham. Setelah gue belajar ikhlas buat dapetin kemampuan ini, semua suara-suara
itu menghilang dan gak nusuk-nusuk telinga gue lagi. Atau memang gue gak
beneran dapat kemampuan itu?” gumam Reina pelan.
Saat memasuki kelasnya. Terdengar
suara samar-samar yang ditangkap oleh telinganya. Reina menutup matanya
berusaha menajamkan telinganya.
“ini dia cewek munafik udah dateng. Tumben sendirian. Biasanya
ditemenin cowok. Cowoknya kan ada banyak. Dicky, Bisma, Reza, Ilham. Nanti
siapa lagi? Dasar sok laku. Cewek gatal”
Reina membuka matanya. Ia tahu
suara itu milik siapa. Ia menoleh ke sana kemari dan melihat Tamara sedang
menatap sinis padanya. Namun ketika Reina menatapnya, Tamara membuang muka
melihat ke arah lain.
Reina menghela nafas. Ia tak
menyangka kalau Tamara sekarang benar-benar membencinya. Apa yang harus ia
lakukan? Ia ingin sekali memperbaiki persahabatan mereka kembali seperti dulu.
Sebelum ia dekat dengan Bisma. Ia menyesal dulu sempat berkata kalau ia tidak
sudi berteman dengan Tamara lagi. Ia membutuhkan Tamara.
Reina meletakkan tasnya di
bangkunya. Ia bergegas keluar, menuju kelas Bisma. Ada hal penting yang harus
ia lakukan.
***
Bisma keluar dari kelasnya
dengan heran. Baru kali ini Reina menghampirinya langsung ke kelasnya. Pasti
ada sesuatu yang tidak beres. “ada apa, na?” tanya Bisma.
Reina menarik lengan Bisma agak
menjauh dari kelas Bisma. “gue mau minta tolong sama lo, Bis” ucap Reina dengan
tatapan memohon.
Bisma menaikkan sebelah
alisnya. “minta tolong apa? gue usahain gue bisa bantu”
Reina menarik nafasnya. “tolong
ya lo coba pdkt sama Tamara. Gue mohon banget, Bis” ucap Reina dengan wajah
serius.
Bisma memelototkan matanya. “apa?
Gue gak mau” ucap Bisma menolak mentah-mentah.
“Lo tega ngeliat gue musuhan
terus sama Tamara? Gue pengen kami rukun lagi. lagian dia butuh lo, Bis. Dia
jadi sinis gini karena dia iri sama gue yang dekat sama lo. dia ngira kita
punya hubungan khusus. Tolong, Bis” ucap Reina menunduk memohon pada Bisma.
“apa emang sama sekali gak ada
hubungan khusus diantara kita?” tanya Bisma pelan.
Reina menengadah menatap wajah
Bisma. “ya gak ada lah. kita kan cuma temanan. Gak ada yang khusus, kan?”
Bisma mengangguk pelan.
Terlihat raut kecewa di wajahnya. Namun dengan cepat ia menutupinya dengan
senyum tipis. “yaudah, gue mau pdkt sama Tamara”
Wajah Reina langsung cerah. “thanks
Bisma. Lo emang teman gue yang paling baik!” ucap Reina menggoyang-goyangkan
kedua tangan Bisma.
Bisma tertawa geli. “iya
sama-sama”
“kalo gitu gue balik ke kelas
yah. Sukses pdktnya. Semoga rencana ini berhasil buat gue sama Tamara sahabatan
lagi” ucap Reina senang lalu melambaikan tangannya dengan semangat.
“semoga aja” ucap Bisma
memaksakan diri untuk tersenyum ikhlas.
***
“Tamara!” teriak Bisma saat
melihat Tamara keluar dari kelasnya.
Tamara menatap Bisma keheranan.
“lo manggil gue?” tanyanya pelan.
Bisma terkekeh pelan. “di sini
siapa lagi yang namanya Tamara selain lo? udah deh gak usah jadi bego gitu. Yuk
kantin” ucapnya lalu menggandeng tangan Tamara.
Tamara mendelik kaget. Ia tidak
percaya Bisma melakukan ini padanya. Melakukan apa yang selama ini terus ia
harapkan.
Reina melewati mereka berdua.
Terlihat wajah kagetnya ketika melihat tangan Bisma sedang memegang tangan
Tamara dengan erat. Namun dengan cepat ia tersenyum. “ciee.. mesra banget deh.
Inget, ini masih di sekolah” ucap Reina tertawa meninggalkan Bisma dan Tamara.
Tamara menatap punggung Reina
yang menjauh. Apa-apaan ini? Kenapa semua berubah?
Bisma menggoyangkan tangan
Tamara. “lo ngapain bengong? Ayo kantin. Laper nih” ucapnya menarik Tamara
dengan lembut.
Tamara hanya mengangguk. Ia
bingung dengan semua ini. Otaknya belum bisa menerima semua perubahan yang
terlalu mendadak seperti saat ini.
***
Sudah beberapa hari Bisma terus
bersama Tamara. Keduanya sudah sangat dekat dan akrab. Kemana-mana selalu
berdua seperti tidak bisa dipisahkan. Hubungan Reina dan Bisma juga mulai
merenggang. Itu membuat Reina menjadi jengkel dan suka uring-uringan.
Dicky menggaruk kepalanya yang
tidak gatal. Ia sedikit pusing melihat Reina yang terus berjalan bolak-balik di
hadapannya. “lo ngapain sih?” tanya Dicky tak tahan lagi.
Reina terus melakukan
kesibukannya. Ia berjalan bolak-balik sambil menggaruk kepalanya dengan kesal.
“Reina” panggil Dicky. Belum
ada jawaban. Dicky terus mencoba memanggil terus. Namun hasilnya tetap sama.
Reina belum juga menjawab panggilannya.
“Reina Alifa Sadira!” ucap
Dicky menyebutkan nama lengkap Reina dengan keras.
Reina masih diam tak menjawab.
Ia terus berjalan bolak-balik sambil melipat tangannya. Wajahnya sangat kusut.
Kali ini ia benar-benar merasa kesal, karena merasa diacuhkan oleh Bisma.
Dicky mendecak kesal. Ia
bangkit dari duduknya lalu menahan tubuh Reina yang hendak berbalik. Reina
melotot kaget. “apaan sih? Buat kaget aja” dengus Reina cemberut. Ia menjauhkan
diri dari Dicky.
“lo gue tanyain gak jawab
terus. Dipanggil gak nyaut. Gue kesel” saut Dicky berkacak pinggang.
Reina tersenyum salah tingkah.
“sorry. Gue gak sadar”
Dicky menggeleng-gelengkan
kepalanya. “emang lo kenapa sih? Daritadi sibuk mondar-mandir mulu. Ada
pikiran?” tanya Dicky penasaran.
Wajah Reina kembali kusut. “itu
si Bisma sekarang nyuekin gue mulu”
Dicky memiringkan wajahnya.
“terus?”
“iya. Dia nyuekin gue. terus
sekarang sibuk sama Tamaraaaa aja. Tamara mulu. Ke kantin berdua. Ke taman
belakang, berdua. Pulang sekolah, berdua. Pergi sekolah, berdua. Gue kan bete”
saut Reina merengut.
Dicky tersenyum tipis. “terus
lo cemburu?”
Reina menatap Dicky dengan
shock. “cemburu? Gak!” saut Reina tegas.
“terus apa dong namanya kalo
bukan cemburu? Yaudah deh jujur aja, na” goda Dicky.
Reina terdiam. Mana mungkin ia
cemburu. Ia cuma menyukai Dicky, bukan Bisma. Ia ingat dulu selalu memerhatikan
Dicky. ia selalu tahu jadwal-jadwal pelajaran Dicky setiap harinya. Apa iya
sekarang ia sudah tidak menyukai Dicky dan malah menyukai Bisma?
Reina menggeleng kuat. Itu
tidak boleh terjadi! Tamara menyukai Bisma. Ia tidak boleh menyukai orang yang
disukai sahabatnya sendiri. Lagian ia tidak menyukai Bisma. Yang ia sukai hanya
Dicky. Ya, hanya Dicky.
Dicky menatap Reina dengan
heran. “ini anak kenapa lagi?” gumam Dicky pelan.
“gak. Gue gak cemburu sama
hubungan antara Bisma dan Tamara. Gue cuma kesel karena Bisma keseringan
berduaan sama Tamara dan ngacuhin kita berdua” ucap Reina mencari alasan.
Dicky hanya mengangguk-angguk.
Ia tau kalau Reina berbohong. Itu alasan yang sangat tidak masuk akal. Pasti
Reina cemburu. Tapi biarlah. Mungkin Reina tidak ingin mengakuinya. Untuk apa
ia memaksa Reina untuk mengaku? Itu akan membuatnya sakit hati saja.
Dicky sedikit terkejut dengan
pemikirannya sendiri. Sakit hati? Dari mana kata-kata itu berasal? Kenapa ia
harus merasa sakit hati? Ia tidak memiliki rasa sedikit pun dengan Reina, kan?
Reina menyentuh lengan Dicky
membuat Dicky tersadar dari lamunannya. “lo kenapa, ky?” tanya Reina heran.
Dicky menggeleng dengan cepat.
“gak papa kok” ucapnya tersenyum tipis. Ia menarik tangan Reina dengan lembut.
“ayo ke kantin. Mendadak laper” ajaknya.
Reina hanya mengangguk. Ia
berjalan mengikuti tarikan Dicky. Ia tersenyum tipis. Ia baru sadar, sekarang
ia begitu akrab dengan Dicky. Untuk apa ia memikirkan Bisma yang memang ia
perintah untuk mendekati Tamara? “Dasar bodoh” desis Reina mengatai dirinya
sendiri.
***
Bisma memukul stir mobilnya
dengan keras. “kenapa gue harus ngelakuin ini semua?!” teriaknya frustasi. Ia
baru saja mengantar Tamara ke rumahnya. Mereka baru selesai berjalan-jalan di
sebuah mall. Itu atas permintaan Tamara sendiri.
Bisma menyandarkan kepala ke
bangkunya. Ia menutup matanya dengan lelah. “perasaan gak bisa dibohongi. Gue
gak bisa terus bohong kaya gini. Gue capek” ucapnya lirih.
Ia membuka matanya. Setelah
diam sebentar, ia menghidupkan mesin mobilnya dan mengemudikannya menuju
rumahnya.
***
Tamara berdiri di dekat teralis
besi balkonnya. Ia memikirkan semuanya. Ia bisa merasakan kejanggalan kejadian
yang belakangan ini terjadi pada dirinya. Ia tersenyum pahit. “gue tau, na.
Semua ini pasti ulah lo. Gue sadar, Bisma gak mungkin tiba-tiba dekatin gue.
Baik-baikin gue. Pasti lo dalang dibalik ini semua. Gue tau lo sebenernya juga
suka sama Bisma. Lo sanggup ngerelain Bisma buat gue. lo baik banget, na”
Tamara menutup matanya,
membiarkan angin yang berhembus menerpa wajahnya dengan lembut. Ia merasa
tenang. “gue salah. Semuanya hancur cuma karena cowok. Gue sampe tega ngelukai
lo. Gue udah sadar, na. Maaf” ucapnya sedikit menitikkan air mata.
***
Reza menatap Reina dengan
heran. “kok gue gak bisa baca pikiran lo?” tanya Reza.
Reina tersadar dari lamunannya.
“oh ya? Berarti gue udah bisa nutup pikiran dong” ucap Reina senang.
Reza menaikkan kedua bahunya
dengan malas. “maybe” ucapnya singkat.
Reina mendengus kesal. Jawaban
yang membuatnya kesal. Ia meletakkan sendok makannya dan bangkit berdiri dengan
gusar.
“mau kemana lo?” tanya Reza
dengan suara malas.
“kalo gak niat gak usah nanya”
saut Reina ketus. Ia menoleh pada Ilham yang asik makan nasi goreng miliknya.
“ayo ham berangkat”
“tunggu! Gue belum siap makan”
ucap Ilham dengan mulut penuh nasi.
Reina menutup matanya dengan
kesal. “oke. Gue bisa berangkat sendiri. permisi” ucap Reina menghentakkan
kakinya dengan kesal keluar dari rumahnya.
Ilham menatap Reza dengan
kebingungan. “dia kenapa?”
Reza menaikkan kedua bahunya.
“entahlah. Suara pikirannya ada banyak. Banyak pikiran kali. Sampe gak
kedengaran apa-apa”
“biasanya kalo uring-uringan
gitu kan masalah percintaan”
“kayanya dia mulai sadar sama
perasaan dia yang sebenarnya buat siapa. Lo tau kan?”
Ilham mengangguk. “tapi itu
urusan dia. Biar dia yang mutusin. Kita gak usah ngurusin dia lagi lah. dia
udah dewasa”
Kali ini Reza yang mengangguk.
“kita liat aja gimana selanjutnya. Kalo dia gak sanggup, baru kita ikut campur”
***
Reina berteriak kaget ketika
tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tangannya dari belakang. dengan cepat
orang yang menarik Reina itu menutup mulut Reina dengan erat agar suara
teriakan cewek itu tidak terdengar siapa-siapa.
Ketika sudah sampai di belakang
sekolah, mulut Reina di lepas. Dengan kesal Reina melotot pada orang yang
menariknya itu. orang itu memakai saputangan untuk menutupi hidung sampai
mulutnya. “lo mau apa? jangan macam-macam sama gue” saut Reina kasar.
Orang itu melepas saputangan
yang menutupi sebagian wajahnya itu. Dan Reina terdiam membisu melihat wajah
orang itu. “sorry gue gak maksud buat lo takut” ucap orang itu pelan sambil
menunduk.
Reina tersadar. Ia membuka
mulutnya, berusaha mengatakan sesuatu. “Tamara?” ucapnya pelan.
Orang itu yang ternyata adalah
Tamara, mengangguk pelan. Ia masih menunduk. “gue cuma mau minta maaf sama lo,
na. Gue udah sadar kalo emang gue yang salah. Lo udah berkali-kali minta maaf
sama gue, tapi gue selalu acuhin lo. Sampe akhirnya lo malah balik benci sama
gue. Tapi akhirnya lo ngalahin ego lo terus minta ke Bisma buat deketin gue,
kan? Gue tau itu, na. Tanpa ada yang ngasih tau ke gue”
Reina terdiam. Ia tidak percaya
kalau kata-kata itu benar-benar keluar dari mulut Tamara sendiri.
Tamara kembali melanjutkan
ucapannya. “gue mau persahabatan kita utuh lagi, na. Gue bodoh. Cuma karena
cowok kita jadi musuhan gak jelas gini. Sampe buat gue bisa ngelukai lo. maaf,
na. Gue yang buat lo pingsan sampe kepala lo berdarah itu. gue yang ngelakuin,
na”
Tamara menangis terisak-isak.
Ia terduduk di tanah. Ia menyesali semua perbuatannya.
Dengan cepat Reina menarik
Tamara untuk segera bangkit. Reina tersenyum menatap Tamara. “gue juga salah,
ra. Gue gak peka sama lo. Gue tau kalo lo salah paham, tapi gue gak terus
berusaha buat bikin lo gak salah paham. Gue malah makin manas-manasin lo.
maafin gue, ra”
Tamara memeluk Reina dengan
erat. “kita perbaiki semuanya. Sahabat diatas segala-galanya. Gue udah gak
perduli mau Bisma suka sama gue atau gak. Gue bakal terima kalo akhirnya kalian
berdua jadi pasangan”
Reina balas memeluk Tamara.
“gue yakin lo sama Bisma bakal jadi pasangan serasi. Kalian baik-baik aja,
kan?”
Tamara menggeleng kuat. “gue
bisa liat kalo Bisma terpaksa deketin gue. dia ngelakuin itu karena lo yang
minta, na. Dia rela bohongin perasaannya supaya lo bisa senang. Kenapa lo susah
peka sih? Dia sayang banget sama lo”
Reina terdiam sebentar. Ia
memikirkan kata-kata Tamara. “tapi lo tau kan gue suka sama Dicky? Gue gak mau
munafik, ra. Gue pernah bilang sama lo, kalo gue gak akan ada hubungan apapun
sama Bisma. Gue gak mungkin langgar itu”
Tamara melepaskan pelukannya.
Ia menatap Reina dengan tajam. “tanya sama hati lo. Apa lo masih suka sama
Dicky? Kata-kata lo yang dulu, lo lupain aja. Itu udah gak berlaku. Lo suka
sama siapa, itu hak lo. Gak ada yang bisa ngelarang itu”
***
Reina merebahkan diri di
ranjang miliknya. Ia menutup matanya, berusaha bertanya pada hatinya sendiri.
Muncul bayangan wajah Bisma dan Dicky di matanya yang tertutup. Lama-lama kedua
bayangan itu memudar. Masih dalam keadaan menutup mata, Reina menghela nafas.
Ia yakin, diantara keduanya, tidak ada yang menjadi pilihannya.
Tiba-tiba saja bayangan wajah
seseorang muncul membuat Reina terkejut sendiri. Ia membuka matanya secara
mendadak. “Bisma?” ucapnya pelan. Ia duduk di atas ranjangnya itu dengan
kebingungan. “Apa maksudnya?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Ia bangkit dari duduknya lalu
berjalan ke arah balkon. Memikirkan semua yang memenuhi pikirannya. Terkhusus
pada satu orang, yaitu Bisma.
Dengan hati-hati Ilham masuk ke
dalam kamar Reina. Tidak ada Reina di dalam kamar itu. Dengan penasaran Ilham
berjalan menuju balkon kamar adiknya itu. Terlihat Reina sedang berdiri melamun
di sana. Ilham tersenyum tipis. Dengan perlahan ia berjalan mendekati adiknya
itu. Lalu dengan tiba-tiba ia memeluk Reina dari belakang dengan sangat erat.
“Bisma!!!” teriak Reina kuat
berusaha melepaskan diri dari pelukan Ilham.
Ilham melepaskan pelukannya
sambil tertawa geli. “Bisma? Emang gue mirip dia?”
Reina membalikkan badannya.
“Ilham?! Ngapain sih lo ngagetin gue?” saut Reina dengan wajah cemberutnya.
Ilham mencubit pipi Reina
dengan gemas. “iseng aja sih. Abis lo ngelamun gini. Ternyata lagi mikiran
Bisma~” saut Ilham menggoda Reina.
Reina mengerutkan keningnya.
“sok tau lo!” ucapnya terdengar sedang berbohong.
Ilham terkekeh. “kalo gak
mikirin dia, kenapa kagetnya nyebut nama dia? Haha”
“rese lo yaaa” saut Reina
memukuli Ilham dengan kedua tangannya. Namun terlihat senyum samar di wajah
Reina seperti mengatakan kalau yang dikatakan Ilham ada benarnya.
Ilham tertawa geli. Ia hanya
diam tidak membalas pukulan adiknya itu. Tapi lama-lama Reina menghentikan
pukulannya. Ilham berjalan ke pinggir balkon yang dibatasi oleh teralis besi.
Ia menatap langit yang sekarang hanya terihat sebuah bintang dan bulan purnama
yang sangat terang.
Reina mengikuti apa yang
dilakukan Ilham. Ia berdiri tepat di sebelah kakaknya itu.
Ilham mengalihkan tatapannya
pada Reina. “jadi lo udah tau perasaan lo yang sebenarnya?” tanyanya pelan.
Dengan cepat Reina menoleh dan
menatap Ilham dengan tatapan bingung. “perasaan yang sebenarnya?”
Ilham mengangguk kecil. “iya.
Perasaan lo yang sebenarnya. Lo selalu bersikeras kalo lo suka sama Dicky. Tapi
kenyataannya lain, kan?”
Reina mengalihkan tatapannya ke
sembarang arah. Tapi kepalanya masih menghadap Ilham. “tapi gue beneran suka
sama Dicky” ucapnya pelan.
Ilham tersenyum tipis. “itu
awalnya, na. Sekarang perasaan lo udah berubah”
Reina menunduk menatap kedua
tangannya yang ia letakkan di teralis besi balkonnya itu. “kenapa perasaan gue
bisa berubah?”
“karena semua perlakuan Bisma
untuk lo. Lo pasti ingat kejadian waktu lo dihibur Bisma. Dia selalu ada buat
lo, na. Itu yang ngerubah perasaan lo. Lo tau itu”
Reina diam menatap ke arah
langit. Ia tidak bisa menepis kata-kata Ilham. Semua yang dikatakannya memang
benar. Karena itu Reina merasa lain dengan Bisma. Tapi ia tidak mau mengakui
itu. Yang boleh bersama Bisma hanya Tamara. Bukan orang lain, ataupun dirinya
sendiri.
“terima semua keadaan hati lo.
Lo gak bisa bohongin perasaan lo sendiri, na. Itu yang buat lo ngerasa sakit.
Biar semuanya mengalir seperti air. Lo tinggal nerima aja” ucap Ilham menatap
adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
Reina balas menatap Ilham
dengan tatapan kesedihan. “terima semuanya walaupun ada yang tersakiti?”
tanyanya pelan.
Ilham tersenyum kecil. “Tamara?
Gue tau dia udah ikhlasin semuanya. Dia bener-bener tulus, na. Dia bener-bener
udah ngelupain Bisma dan ngerelain lo buat bersatu sama Bisma. Dan itu yang
mendorong dia buat minta maaf ke lo. Dia gak mau cuma karena cowok, ia
kehilangan sahabat terbaiknya”
Reina menggeleng pelan. “gue
gak tau, ham. Gue gak ngerti sama semua ini. Terlalu berbelit-belit. Gue gak
suka”
“lo sendiri yang buat semua itu
ribet, na. Karena lo yang gak bisa terima sama perasaan lo sendiri. Lo terus
berusaha nolak rasa itu” ucap Ilham penuh perhatian. “sekarang semuanya ada
ditangan lo. semuanya bakalan selesai kalo lo kalahin ego lo sendiri” ucapnya
lagi mengelus rambut Reina dengan lembut lalu pergi meninggalkan Reina sendirian.
***
Bisma berdiri di depan kelas
Tamara. Ia ingin menjelaskan semuanya. Ia ingin menghentikan semua ini. Ia
sudah tidak bisa membohongi perasaannya sendiri lebih jauh dari ini.
Reina melirik Tamara yang duduk
di sebelahnya. Keduanya sudah duduk sebangku lagi. Reina bisa melihat ada Bisma
di depan kelas mereka berdua. “ra, ada Bisma tuh di depan. Kayanya mau bicara
sama lo” ucap Reina menyenggol lengan Tamara.
Tamara mengalihkan pandangannya
dari bukunya lalu melihat keluar. Memang terlihat Bisma ada di sana sedang
menatapnya dan memberinya tanda untuk segera keluar. Tamara menggeleng pelan
lalu menatap Reina. “dia manggil lo” ucap Tamara singkat.
Reina menaikkan sebelah
alisnya. “jelas-jelas dia nyari lo. Udah sana samperin. Gak kasian apa sama
dia?”
Tamara menggeleng dengan yakin
membuat Reina mendengus kesal. “apa salahnya nyamperin bentaran doang? Mungkin
ada yang penting. Sana samperin!” saut Reina mendorong tubuh Tamara agar bangkit
dari duduknya.
Dengan malas Tamara berdiri.
“iya-iya gue samperin” saut Tamara dengan suara malas. Dengan langkah yang
lemas ia berjalan menghampiri Bisma.
“ra, ada yang mau gue omongin
sama lo” ucap Bisma saat Tamara sudah ada di depannya. “di taman belakang”
ucapnya lagi lalu menarik Tamara dengan lembut.
Tamara hanya diam mengikuti
langkah Bisma. Ia menatap tangan Bisma yang sedang memegang tangannya. “yang lo
lakukan ini semuanya atas dasar terpaksa. Ini nyakitin hati gue sendiri, dan
hati lo juga. Untuk apa dilanjutin?” ucap Tamara dalam hati. Matanya sedikit
panas dan mulai berair. Namun dengan cepat ia menghapus air itu.
Reina berjalan keluar kelas
lalu menatap punggung Bisma dan Tamara yang menjauh. “mereka mau kemana ya?
Muka Bisma tadi serius banget” gumamnya sendiri.
***
Tamara duduk di bangku yang ada
di belakang sekolahnya itu. ia memperhatikan sekelilingnya. Ada sebagian
anak-anak lain yang duduk-duduk di sana. Tidak terlalu ramai.
Terlihat Bisma hanya diam
berdiri menatap ke sembarang arah. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun tidak
yakin. Ia takut Tamara akan semakin membenci Reina jika Tamara tahu kalau Reina
lah yang menyuruhnya untuk mendekati Tamara.
Tamara menatap Bisma. Ia merasa
kalau ini adalah kesempatannya untuk mengatakan hal yang ingin ia katakan.
“Lo gak perlu ngorbanin
perasaan lo sendiri. Lo pasti tersiksa banget ya harus bohong setiap deket gue”
ucap Tamara pelan.
Bisma menatap Tamara dengan
tatapan kaget. “hah?” ucapnya dengan wajah bodoh.
Tamara terkekeh pelan. “gue
emang suka sama lo. Tapi gue baru sadar kalo gue gak bisa maksain diri buat
jadi pacar lo. Gue gak bisa jadi penghalang antara lo sama Reina. Jadi gue
ngalah untuk kebahagiaan kalian”
Bisma masih terdiam. Ia
berusaha mencerna semua kata-kata Tamara. “jadi lo udah tau kalo gue disuruh
Reina buat deketin lo?”
Tamara mengangguk pelan. “gue
sadar, kali. Semuanya kerasa ganjal. Tiba-tiba aja lo baik ke gue. Dan gue bisa
ngeliat kalo Reina kesel liat kita berduaan terus. Gue bisa liat dari matanya”
“bukannya Reina suka sama
Dicky? mana mungkin dia suka sama gue” saut Bisma masih belum percaya.
“perasaan bisa berubah, Bis.
Tergantung orangnya. Disaat dia sedih, disaat dia butuh support, lo ada di
sana. Itu bisa buat perasaan dia berubah jadi lebih respect ke lo, mengistimewakan
lo dari yang lain” jelas Tamara.
Bisma masih diam. Ia berusaha
mempercayai semua perkataan Tamara. Tapi ia masih merasa ragu.
“sana samperin Reina terus
bilang kalo lo suka sama dia, sayang sama dia, cinta sama dia. Dia pasti terima
lo, karena dia ngerasa hal yang sama kaya lo. Percaya, Bis” ucap Tamara
mendorong Bisma.
Bisma menatap Tamara lalu
tersenyum tipis. “thanks, ra. Makasih udah ngorbanin perasaan lo. Gue tau,
susah buat relain orang yang disukai dekat dan suka sama sahabat sendiri. Gue
ngerasain itu”
Tamara tertawa geli. “jangan
kepedean. Gue udah gak suka lagi sama lo”
Bisma menatap Tamara dengan
jahil. “yakin gak suka lagi? bohong”
Tamara menendang kaki kanan
Bisma. “udah gak usah godain gue. cepet sama samperin Reina. sebelum dia
diambil orang haha”
“oke. Makasih Tamaraaa” teriak
Bisma berlari menuju kelas Reina.
Tamara tersenyum kecil.
“sama-sama, Bisma” ucapnya dengan perasaan yang sangat lega.
***
Reina berjalan ke kantin
sendirian. Ia berencana membeli minum untuk dirinya sendiri. Saat hendak
membeli minum, Reina melihat Dicky sedang berbicara dengan seorang perempuan.
Siapa dia? Kenapa mereka terlihat sangat akrab? Dan kenapa ia tidak merasa
dadanya sesak? Padahal dulu ia selalu marah-marah ketika melihat Dicky
mengobrol dengan perempuan teman sekelasnya. Apa benar perasaan itu sudah
hilang semuanya tanpa bekas?
Seseorang mengejutkan Reina. Ia
berbalik untuk melihat siapa yang membuatnya terkejut. Dan terlihatlah wajah
Bisma yang tersenyum lebar padanya. Jantungnya berdetak tidak karuan. Dadanya
terasa sesak. Apa lagi sekarang? Kenapa semuanya berbalik?
“Reina, ada waktu sebentar?”
tanya Bisma dengan senyum yang masih mengembang. Namun terdengar deru nafasnya
yang tidak beraturan. Mungkin karena ia baru saja berlari-lari.
Reina menoleh ke belakang dan
melihat Dicky yang masih mengobrol dengan perempuan itu. Lalu dengan cepat ia
kembali menatap Bisma. Untuk apa ia menoleh ke sana? Seperti akan berpisah
dengan Dicky saja. “ada. Kenapa?” ucap Reina akhirnya.
Senyum Bisma semakin lebar.
“yuk ikut gue ke tempat biasa” ucapnya dengan semangat lalu menarik Reina agar
mengikutinya.
“tempat biasa? Maksudnya atap
sekolah?” tanya Reina sambil mengikuti langkah kaki Bisma.
Bisma mengangguk lalu tersenyum
pada Reina. “iya. Itu tempat kita berdua”
Lagi-lagi jantung Reina
berdetak dengan cepat. Kenapa? Hanya dengan melihat senyum Bisma, jantungnya
langsung berdetak begitu cepat. Dan tatapan Bisma mampu membuatnya merasa
lemas. Semua yang dilakukan Bisma bisa membuat tubuhnya bereaksi tanpa
diperintah. Apa ia benar-benar sedang jatuh cinta?
“nah, kita udah sampe” ucap Bisma
menyadarkan lamunan Reina. Ya, keduanya sudah sampai di atas atap sekolah
mereka. Terlihat awan bergumpal dengan indahnya. Di bawah, orang-orang berjalan
kesana kemari tanpa memperhatikan keindahan langit di pagi hari ini.
Reina beralih menatap Bisma.
“kita mau ngapain ke sini?”
Bisma berdeham pelan. Ia
menatap Reina sangat dalam. “gue jatuh cinta sama lo” ucap Bisma lalu menatap
ke sembarang arah.
Reina yang awalnya sedang
melihat orang-orang di bawah sana, langsung menoleh dan menatap Bisma dengan
tatapan kaget. “apa?” tanyanya ingin memastikan.
Bisma menggerakkan kepalanya ke
kanan dan ke kiri dengan tidak jelas. “lo pasti dengar apa yang gue bilang
tadi”
Dengan perlahan Reina berjalan mendekati
Bisma. “gue...” ucap Reina menggantung.
Bisma menutup matanya. Entah
kenapa ia menjadi pengecut seperti ini. Yang bisa melakukan ini padanya hanya
Reina.
“gue gak tau, Bis. Gue takut”
ucap Reina pelan dengan helaan nafas yang panjang di akhir kalimatnya.
Kali ini Bisma menatap Reina.
“kenapa? Gue tulus sama lo. apa yang lo takutkan?”
“gue gak mau ada yang
tersakiti, ada yang kecewa. Gue butuh waktu” ucap Reina memandang Bisma dengan
tatapan lemah.
Bisma mengangguk pelan.
“yaudah. Gue nunggu lo sampe lo bilang iya dengan tegas”
Reina tersenyum lemah.
“makasih, Bis. Lo emang yang paling ngertiin gue”
***
“hei. Bengong aja”
Reina menoleh kemudian
tersenyum kecil. Dicky yang tadi menyapanya dan sekarang ia sudah duduk di
sebelah Reina.
“banyak beban?” tanya Dicky
setelah memerhatikan wajah Reina yang terlihat kusut.
Reina menggeleng pelan.
Sepertinya mulutnya sedang malas berfungsi.
“sekarang udah bisu? Bahasanya
pake bahasa isyarat?” tanya Dicky pura-pura terkejut.
Dengan cepat Reina memukul
lengan Dicky dengan kuat. “amit-amit” umpatnya pelan.
Dicky tertawa geli menatap
Reina. lalu tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi serius. “kenapa lo gak
langsung terima Bisma?”
Reina menatap Dicky dengan
kaget. “Bisma cerita ke lo?”
“gue sahabatnya, na. Mana mungkin
gue gak tau apa-apa” ucap Dicky tersenyum tipis pada Reina. “dia sayang banget
sama lo” lanjut Dicky meyakinkan Reina.
Reina menunduk melihat
rerumputan di dekat kakinya. “gue gak yakin sama perasaan gue sendiri”
“gak yakin? Emang ada cowok
lain yang lo suka?”
Jleb!!! Kata-kata Dicky langsung menusuk tepat di jantung Reina.
kenapa Dicky bisa mengatakan apa yang ia rasakan? Apa Dicky juga memiliki
kemampuan khusus sepertinya?
“beneran ada ya, na?” tanya
Dicky sekali lagi.
Cepat-cepat Reina menggeleng kuat.
“gak. Ya ragu aja mau nerima. Belum siap pacaran” jawab Reina mencari alasan.
Dicky mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kemudian ia menepuk pundak kiri Reina. “lo cocok kok sama Bisma.
Cepetan jadian ya” ucapnya tersenyum tulus.
Reina balas tersenyum. Terlihat
ketulusan di mata Dicky. tidak ada yang ganjal dari kedua mata cowok itu, dan
senyumannya juga terlihat biasa saja. Apa Dicky benar-benar tidak memiliki
perasaan apapun padanya? Apa ia tidak kecewa mendengar Reina sudah di tembak
oleh sahabatnya sendiri? Sepolos itukah perasaan Dicky pada Reina?
***
“Reina bodoh!!! Kenapa lo tolak
diaaa?!” teriak Tamara begitu melihat Reina mucul di gerbang sekolah mereka.
Reina menutupi wajahnya dengan
malu. Semua orang menatap ke arah mereka berdua. Dengan cepat ia berlari menuju
kelasnya dengan wajah tetap ditutupi. Dan itu membuat Tamara kembali berteriak
marah.
“hush!! Volume suaranya
dikecilin dong mbak bro~” saut Reina menutup sekilas mulutnya Tamara.
“habis lo nyebelin sih. Malah
bilang, ‘butuh waktu’. Mau sok jual mahal?” saut Tamara dengan wajah kesal.
Tukk!! Reina langsung menjitak kepala Tamara. “bukan mau jual
mahal. Gue masih ragu” saut Reina ikutan kesal.
“ragu apalagi? Bisma
jelas-jelas suka sama lo. gak ada yang perlu lo raguin”
“bukan ragu soal perasaan
Bisma. Gue ragu sama perasaan gue sendiri”
“kenapa? Lo masih bingung?
Dicky udah hilang dari hati lo, na. Sekarang cuma ada Bisma”
“lo ngomong gitu kaya lo tau
aja apa isi hati gue”
“oke kalo lo gak percaya. Lo
udah coba saran gue yang nyuruh lo buat tanya hati lo sendiri?”
Reina mengangguk pelan sebagai
jawaban dari pertanyaan Tamara.
“yaudah. Siapa nama yang muncul
waktu lo tanya itu?”
Reina menatap Tamara dengan
tatapan memelas. “Bisma...” jawabnya tidak yakin.
Terlihat Tamara melirik ke
belakang Reina lalu tersenyum kecil. Reina yang menyadari itu langsung menoleh
ke belakang dan melihat Bisma sedang berdiri di belakangnya dengan senyum yang
terukir di wajahnya.
Tamara mendekatkan wajahnya ke
telinga kanan Reina. “gue tinggal dulu ya. Selamat bersenang-senang” ucap
Tamara tertawa geli meninggalkan Reina dan Bisma berdua di sana.
“Tamara...” desis Reina dengan
kesal.
“kenapa lo gak mau jujur sama
gue?” ucap Bisma tepat di dekat telinga kanan Reina. Ternyata Bisma sudah ada
tepat di belakangnya, meletakkan dagunya di pundak kanan Reina.
Jantung Reina berdetak tidak
karuan. Ia berusaha mengotrol pernapasannya. Terasa begitu sesak. Reina
memejamkan matanya, ingin menghentikan semua reaksi tubuhnya yang diakibatkan
oleh perilaku Bisma terhadapnya.
Bisma menjauhkan diri dari
Reina. Ia memandangi Reina dari belakang. “apa gue begitu menakutkan di mata
lo? Apa gue gak bisa jadi Dicky di mata lo? lo selalu yakin sama perasaan lo ke
Dicky. Kenapa semuanya gak berlaku sama gue, na? Apa beda gue sama Dicky?”
Reina masih menutup matanya
ketakutan. Ia tidak sanggup memandang Bisma. Bisma terlihat begitu menyeramkan.
Sangat agresif.
Bisma menghela nafas dengan
berat. Ia kembali menatap Reina dengan lembut. Lalu dengan cepat ia menarik
Reina ke dalam pelukannya. “maaf gue udah maksa lo. tapi gue sayang banget sama
lo, na” ucap Bisma terdengar begitu menyesal.
Mendengar ucapan Bisma, hati
Reina sedikit luluh. Ia memberanikan diri membuka matanya. Ia merasa nyaman
berada di pelukan Bisma. Tapi kenapa ia harus merasa ragu? Semuanya harusnya
telah membuatnya merasa yakin. Apa baginya semua ini terlalu cepat?
Akhirnya Reina membalas pelukan
Bisma. itu membuat Bisma tersenyum lega. Setidaknya ia menerima sedikit reaksi
balasan dari Reina.
“kita coba yah” ucap Reina
pelan membuat Bisma melepaskan pelukannya dan memasang wajah idiotnya.
“maksud lo?”
Reina tersenyum geli. “iya.
Kita coba dulu. Gue ngerasa ini semua terlalu cepat. Jadi kita jalaninya
pelan-pelan aja”
Bisma mengangguk semangat.
“anything for you, Reina” ucap Bisma kembali memeluk Reina dengan perasaan
senang.
Reina tertawa melihat reaksi
Bisma. terlihat begitu bersemangat dan bahagia. Sama seperti dirinya. Rasanya
begitu lega setelah ia mengambil keputusan yang sepertinya adalah keputusan
terbaik untuk dirinya, bahkan untuk Bisma. Ia mempererat pelukannya pada Bisma.
Ia ingin menikmati semua kehangatan yang sekarang diberikan oleh Bisma. Dan
mungkin itu adalah kehangatan yang akan diberikan Bisma seterusnya hingga
nanti.
Tamara menatap keduanya dengan
senyum bahagia. Ia benar-benar tulus merelakan Bisma bersama Reina. Tidak ada
perasaan iri sama sekali. Kali ini ia menangis bukan karena perasaan kecewanya.
Namun kali ini ia menangis untuk kebahagiaan sahabatnya.
Dicky merangkul Tamara dengan
lembut. Ia tersenyum pada Tamara yang tengah melihatnya dengan tatapan
terkejut. Ia sudah mengetahui semua ceritanya dari Bisma. Ia begitu kagum
dengan Tamara yang bisa merelakan semuanya demi sahabatnya sendiri. Benar-benar
sahabat sejati.
Dari kejauhan juga terlihat
Reza dan Ilham tersenyum melihat adiknya sedang merasakan sebuah kebahagiaan.
Kali ini mereka akan melepaskan adik kecilnya itu. Tidak akan mengkekangnya
seperti dulu lagi. Reina benar-benar sudah tumbuh dewasa. Ia bisa membuat
sebuah keputusan yang berhasil membuat semua orang merasa gembira. Dan sudah
tumbuh rasa kepercayaan pada diri Reza dan Ilham untuk adiknya itu.
Semua berawal dari sebuah kata Missunderstand. Tapi kini semua kesalah
pahaman itu sudah berakhir. Semuanya sudah benar. Dan kini semuanya sudah
merasa kelegaan yang sangat membuat mereka merasa nyaman dan tenang.
Tiba-tiba saja Bisma
menggendong Reina seperti menggendong seorang bayi. Reina langsung berteriak
kaget dan meronta-ronta meminta untuk dilepaskan. Bisma tertawa geli lalu
mencium kening Reina cukup lama. “I love you” ucap Bisma dengan tulus.
Reina terdiam lalu tersenyum
lebar. “I love you too” ucap Reina sama tulusnya dengan Bisma. Kali ini ia
benar-benar merasa begitu lega. Semuanya sudah ia keluarkan. Sudah tidak ada
lagi yang ia pendam.
Bisma tersenyum bahagia memeluk
Reina yang masih dalam gendongannya. Sepertinya keduanya sedang merasakan
kebahagiaan yang teramat sangat sampai tidak menyadari kalau di sekelilingnya
sudah ada banyak orang yang bertepuk tangan untuk keduanya. Dan diantara itu
semua, ada Tamara, Dicky, Reza dan Ilham yang ikut tertawa bahagia, merasakan
bagaimana bahagianya Bisma dan Reina sekarang.
THE END~
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus